Abad Pertengahan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Abad pertengahan)
Jump to navigation Jump to search
Salib Matilda, sebuah crux gemmata, dibuat untuk Matilda, Abdis Essen (973–1011), yang ditampilkan sedang berlutut di hadapan Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus dalam lukisan email mini di kaki salib. Sosok Kristus ditambahkan lebih belakangan. Salib yang kemungkinan besar dibuat di Köln atau di Essen ini memperlihatkan sejumlah teknik kriya Abad Pertengahan, yakni teknik ukir figuratif, teknik filigrana, teknik pelapisan email, teknik gilap dan tatah permata, dan pemanfaatan kembali kameo dan ukiran permata klasik.

Abad Pertengahan dalam sejarah Eropa, berlangsung dari abad ke-5 sampai abad ke-15 Masehi. Abad Pertengahan bermula sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan masih berlangsung tatkala Eropa mulai memasuki Abad Pembaharuan dan Abad Penjelajahan. Sejarah Dunia Barat secara tradisional dibagi menjadi tiga kurun waktu, yakni Abad Kuno, Abad Pertengahan, dan Zaman Modern. Dengan kata lain, Abad Pertengahan adalah kurun waktu peralihan dari Abad Kuno ke Zaman Modern. Abad Pertengahan masih terbagi lagi menjadi tiga kurun waktu, yakni Awal Abad Pertengahan, Puncak Abad Pertengahan, dan Akhir Abad Pertengahan.

Penurunan jumlah penduduk, kontraurbanisasi, invasi, dan perpindahan suku-suku bangsa, yang bermula sejak Akhir Abad Kuno, masih berlanjut pada Awal Abad Pertengahan. Perpindahan-perpindahan penduduk berskala besar pada Zaman Migrasi meliputi perpindahan suku-suku bangsa Jermani, yang mendirikan kerajaan-kerajaan baru di bekas-bekas wilayah Kekaisaran Romawi Barat. Pada abad ke-7, Afrika Utara dan Timur Tengah—yang pernah menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Bizantin—dikuasai oleh Khilafah Bani Umayyah, sebuah kekaisaran Islam, setelah ditaklukkan oleh para penerus Muhammad. Meskipun pada Awal Abad Pertengahan telah terjadi perubahan-perubahan mendasar dalam struktur kemasyarakatan dan politik, pengaruh Abad Kuno belum benar-benar hilang. Kekaisaran Bizantin yang masih cukup besar tetap sintas di kawasan timur Eropa. Kitab undang-undang Kekaisaran Bizantin, Corpus Iuris Civilis atau "Kitab Undang-Undang Yustinianus", ditemukan kembali di Italia Utara pada 1070, dan kelak mengundang decak kagum dari berbagai kalangan selama Abad Pertengahan. Di kawasan barat Eropa, sebagian besar dari kerajaan yang ada melembagakan segelintir pranata Romawi yang tersisa. Biara-biara didirikan seiring gencarnya usaha mengkristenkan kaum penyembah berhala di Eropa. Orang Franka di bawah pimpinan raja-raja wangsa Karoling, mendirikan Kekaisaran Karoling pada penghujung abad ke-8 dan permulaan abad ke-9. Meskipun berjaya menguasai sebagian besar daratan Eropa Barat, Kekaisaran Karoling pada akhirnya terpuruk akibat perang-perang saudara di dalam negeri dan invasi-invasi dari luar negeri, yakni serangan-serangan orang Viking dari arah utara, orang Hongaria dari arah timur, dan orang Sarasen dari arah selatan.

Pada Puncak Abad Pertengahan, yang bermula sesudah 1000 Masehi, populasi Eropa mengalami peningkatan besar-besaran berkat munculnya inovasi-inovasi di bidang teknologi dan pertanian yang memungkinkan berkembangnya perniagaan. Peningkatan populasi Eropa juga disebabkan oleh perubahan iklim selama Periode Suhu Hangat Abad Pertengahan yang memungkinkan peningkatan hasil panen. Ada dua cara menata masyarakat pada Puncak Abad Pertengahan, yakni Manorialisme dan Feodalisme. Manorialisme adalah pengaturan rakyat jelata menjadi pemukim di desa-desa, dengan kewajiban membayar sewa lahan dan bekerja bakti bagi kaum bangsawan; sementara feodalisme adalah struktur politik yang mewajibkan para kesatria dan bangsawan-bangsawan kelas bawah untuk maju berperang membela junjungan mereka sebagai ganti anugerah hak sewa atas lahan dan manerium. Perang Salib, yang mula-mula diserukan pada 1095, adalah upaya militer umat Kristen Eropa Barat untuk merebut kembali kekuasaan atas Tanah Suci dari umat Muslim. Raja-raja menjadi kepala dari negara-negara bangsa yang tersentralisasi. Sistem kepemimpinan semacam ini mengurangi angka kejahatan dan kekerasan, namun membuat cita-cita untuk menciptakan suatu Dunia Kristen yang bersatu semakin sukar diwujudkan. Kehidupan intelektual ditandai oleh skolastisisme, filsafat yang mengutamakan keselarasan antara iman dan akal budi, dan ditandai pula oleh pendirian universitas-universitas. Teologi Thomas Aquinas, lukisan-lukisan Giotto, puisi-puisi Dante dan Chaucer, perjalanan-perjalanan Marco Polo, dan katedral-katedral bergaya arsitektur Gotik semisal Katedral Chartres, adalah segelintir dari capaian-capaian yang menakjubkan menjelang akhir dari kurun waktu Puncak Abad Pertengahan dan permulaan dari kurun waktu Akhir Abad Pertengahan.

Akhir Abad Pertengahan ditandai oleh berbagai musibah dan malapetaka yang meliputi bencana kelaparan, wabah penyakit, dan perang, yang secara signifikan menyusutkan jumlah penduduk Eropa; antara 1347 sampai 1350, wabah Maut Hitam menewaskan sekitar sepertiga dari penduduk Eropa. Kontroversi, bidah, dan Skisma Barat yang menimpa Gereja Katolik, terjadi bersamaan dengan konflik antarnegara, pertikaian dalam masyarakat, dan pemberontakan-pemberontakan rakyat jelata yang melanda kerajaan-kerajaan di Eropa. Perkembangan budaya dan teknologi mentransformasi masyarakat Eropa, mengakhiri kurun waktu Akhir Abad Pertengahan, dan mengawali kurun waktu Awal Zaman Modern.

Terminologi dan periodisasi[sunting | sunting sumber]

Abad Pertengahan adalah salah satu dari tiga kurun waktu utama dalam skema terlama yang digunakan dalam pengkajian Sejarah Eropa. Ketiga kurun waktu utama tersebut adalah Zaman Klasik atau Abad Kuno, Abad Pertengahan, dan Zaman Modern.[1]

Para pujangga Abad Pertengahan membagi sejarah menjadi sejumlah kurun waktu, misalnya "Enam Zaman" atau "Empat Kekaisaran", dan menganggap zaman hidup mereka sebagai zaman terakhir menjelang kiamat.[2] Bilamana mengulas zaman hidup mereka, maka zaman itu akan mereka sebut sebagai "zaman modern".[3] Pada era 1330-an, tokoh humanis dan penyair, Petrarka, menyebut kurun waktu pra-Kristen sebagai zaman antiqua (kuno) dan kurun waktu Kristen sebagai sebagai zaman nova (baru).[4] Leonardo Bruni adalah sejarawan pertama yang menggunakan periodisasi tripartit dalam karya tulisnya, Sejarah Orang Firenze (1442).[5] Leonardo Bruni dan para sejarawan sesudahnya berpendapat bahwa Italia telah banyak berubah semenjak masa hidup Petrarka, dan oleh karena itu menambahkan kurun waktu ketiga pada dua kurun waktu yang telah ditetapkan oleh Petrarka. Istilah "Abad Pertengahan" pertama kali muncul dalam bahasa Latin pada 1469 sebagai media tempestas (masa pertengahan).[6] Mula-mula ada banyak variasi dalam pemakaian istilah ini, antara lain, medium aevum (abad pertengahan), pertama kali tercatat pada 1604,[7] dan media saecula (kurun pertengahan), pertama kali tercatat pada 1625.[8] Istilah "Abad Pertengahan" adalah terjemahan dari frasa medium aevum.[9] Periodisasi tripartit menjadi periodisasi standar setelah sejarawan Jerman abad ke-17, Christoph Keller, membagi sejarah menjadi tiga kurun waktu: Kuno, Pertengahan, dan Modern.[8]

Tarikh yang paling umum digunakan sebagai tarikh permulaan Abad Pertengahan adalah tarikh 476,[10] pertama kali digunakan oleh Leonardo Bruni.[5][A] Bagi Eropa secara keseluruhan, tarikh 1500 seringkali dijadikan tarikh penutup Abad Pertengahan,[12] akan tetapi tidak ada kesepakatan yang universal mengenai tarikh penutup Abad Pertengahan. Tergantung konteksnya, tarikh peristiwa-peristiwa penting seperti pelayaran pertama Kristoforus Kolumbus ke Benua Amerika pada 1492, penaklukan Konstantinopel oleh orang Turki pada 1453, atau Reformasi Protestan pada 1517, kadang-kadang pula digunakan.[13] Para sejarawan Inggris seringkali menggunakan tarikh peristiwa Pertempuran Bosworth pada 1485 sebagai tarikh penutup Abad Pertengahan.[14] Tarikh yang umum digunakan oleh Spanyol adalah tarikh peristiwa mangkatnya Raja Fernando II pada 1516, mangkatnya Isabel I, Ratu Kastila pada 1504, atau penaklukan Granada pada 1492.[15] Para sejarawan dari negara-negara penutur bahasa-bahasa rumpun Romawi cenderung membagi Abad Pertengahan menjadi dua kurun waktu: kurun waktu "Tinggi" sebagai kurun waktu yang terdahulu dan kurun waktu "Rendah" sebagai kurun waktu yang terkemudian. Para sejarawan penutur bahasa Inggris, mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Jerman, umumnya membagi Abad Pertengahan menjadi tiga kurun waktu: "Awal", "Puncak", dan "Akhir".[1] Pada abad ke-19, seluruh Abad Pertengahan kerap dijuluki "Abad Kegelapan",[16][B] namun sejak diterimanya pembagian Abad Pertengahan menjadi beberapa kurun waktu, pemakaian istilah ini pun dibatasi untuk kurun waktu Awal Abad Pertengahan saja, setidaknya di kalangan sejarawan.[2]

Penghujung zaman Kekaisaran Romawi[sunting | sunting sumber]

Patung empat tetrarka dari penghujung zaman Kekaisaran Romawi, sekarang di Venesia[17]

Luas wilayah Kekaisaran Romawi mencapai puncaknya pada abad kedua Masehi; dalam dua abad berikutnya, Kekaisaran Romawi lambat laun kehilangan kendali atas daerah-daerah di tapal batas wilayahnya.[18] Permasalahan-permasalahan ekonomi, termasuk inflasi, dan tekanan asing di tapal batas wilayah kekaisaran adalah penyebab timbulnya krisis pada abad ke-3. Selama masa krisis ini, kaisar demi kaisar dinobatkan hanya untuk dimakzulkan dengan segera oleh perampas takhta berikutnya.[19] Belanja militer terus meningkat sepanjang abad ke-3, terutama untuk membiayai perang melawan Kekaisaran Sasani yang kembali berkobar pada pertengahan abad ke-3.[20] Bala tentara dilipatgandakan, dan pasukan berkuda serta satuan-satuan ketentaraan yang lebih kecil mengambil alih fungsi legiun Romawi sebagai satuan taktis utama.[21] Kebutuhan akan pendapatan mengakibatkan kenaikan pajak dan penurunan jumlah curialis, atau golongan tuan-tuan tanah, serta penurunan jumlah tuan-tuan tanah yang bersedia memikul beban selaku pejabat di kota asalnya.[20] Meningkatnya kebutuhan akan tenaga birokrat dalam tadbir pemerintah pusat untuk menangani kebutuhan-kebutuhan tentara mengakibatkan munculnya keluhan-keluhan dari masyarakat bahwasanya jumlah pemungut pajak di dalam wilayah kekaisaran lebih besar daripada jumlah pembayar pajak.[21]

Pada 286, Kaisar Dioklesianus (memerintah 284–305) membagi wilayah kekaisaran menjadi wilayah timur dan wilayah barat, masing-masing dengan dengan tadbir pemerintahan sendiri; Kekaisaran Romawi tidak dianggap telah terbagi dua, baik oleh rakyat maupun penguasanya, karena keputusan-keputusan hukum dan tadbir yang dikeluarkan oleh salah satu wilayah juga dianggap sah oleh wilayah yang lain.[22][C] Pada 330, setelah masa perang saudara berakhir, Konstantinus Agung (memerintah 306–337) membangun kembali kota Bizantium sebagai ibu kota wilayah timur yang baru, dan menamainya Konstantinopel.[23] Upaya-upaya pembaharuan yang dilakukan Kaisar Dioklesianus berhasil memperkukuh birokrasi pemerintah, menata kembali sistem perpajakan, dan memperkuat angkatan bersenjata. Tindakan ini mampu menyelamatkan kekaisaran tetapi tidak memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, antara lain pajak yang terlampau tinggi, penurunan angka kelahiran, dan tekanan-tekanan asing di tapal batas wilayah.[24] Perang saudara di antara kaisar-kaisar yang saling bersaing menjadi hal yang lumrah pada pertengahan abad ke-4. Perang-perang saudara ini menguras tenaga militer yang menjaga tapal batas wilayah sehingga memudahkan para penyerang asing menerobos ke dalam wilayah kekaisaran.[25] Hampir sepanjang abad ke-4, masyarakat Romawi menjadi terbiasa hidup dalam suatu tatanan baru yang berbeda dari tatanan kemasyarakatan Romawi pada Abad Kuno, dengan melebarnya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin, serta meredupnya gairah hidup kota-kota kecil.[26] Perkembangan baru lainnya adalah Kristenisasi, atau peralihan keyakinan warga kekaisaran ke agama Kristen, suatu proses yang berjalan sedikit demi sedikit sejak abad ke-2 sampai abad ke-5.[27][28]

Peta perkiraan batas-batas wilayah politik di Eropa pada ca. 450 Masehi

Pada 376, orang Goth yang sedang meluputkan diri dari kejaran orang Hun, mendapatkan izin dari Kaisar Valens (memerintah 364–378) untuk menetap di Provinsi Trakia (bahasa Latin: Provincia Thracia), wilayah Kekaisaran Romawi di Semenanjung Balkan. Proses pemasyarakatan orang Goth di Provinsi Trakia tidak berjalan mulus, dan manakala para pejabat Romawi mengambil tindakan yang keliru, orang-orang Goth mulai melakukan aksi-aksi penyerbuan dan penjarahan.[D] Kaisar Valens, yang berusaha meredakan kekacauan, gugur dalam Pertempuran Adrianopel melawan orang Goth pada 9 Agustus 378.[30] Selain ancaman-ancaman dari konfederasi-konfederasi kesukuan semacam itu yang mendesak dari arah utara, Kekaisan Romawi juga harus menghadapi masalah-masalah yang timbul akibat perpecahan di dalam negeri sendiri, khususnya perpecahan di kalangan umat Kristen.[31] Pada 400, orang Visigoth menginvasi Kekaisaran Romawi Barat, dan meskipun sempat terpukul mundur dari Italia, mereka akhirnya berhasil menduduki dan menjarah kota Roma pada 410.[32] Pada 406, orang Alan, orang Vandal, dan orang Suevi memasuki Galia; selama tiga tahun berikutnya mereka menyebar ke seluruh pelosok Galia, melintasi Pegunungan Pirenia, dan masuk ke wilayah yang kini menjadi negeri Spanyol pada 409.[33] Zaman Migrasi bermula ketika berbagai suku bangsa, mula-mula sebagian besar adalah suku-suku Jermani, berpindah dari satu tempat ke tempat lain di seluruh Eropa. Orang Franka, orang Alemani, dan orang Burgundi pindah dan bermukim di kawasan utara Galia; orang Angli, orang Saksen, dan orang Yuti menetap di Britania;[34] sementara orang Vandal menyeberangi Selat Gibraltar dan menaklukkan Provinsi Afrika (bahasa Latin: Provincia Africa).[35] Pada era 430-an, orang Hun mulai menginvasi Kekaisaran Romawi; Raja orang Hun, Attila (memerintah 434–453), memimpin aksi-aksi invasi ke Semenanjung Balkan pada 442 dan 447, ke Galia pada 451, dan ke Italia pada 452.[36] Ancaman orang Hun terus membayang-bayangi Kekaisaran Romawi sampai konfederasi suku-suku Hun tercerai berai ketika Attila wafat pada 453.[37] Invasi-invasi yang dilakukan oleh suku-suku asing ini sepenuhnya mengubah keadaan politik dan kependudukan Kekaisaran Romawi Barat kala itu.[34]

Pada penghujung abad ke-5, wilayah barat Kekaisaran Romawi terbagi-bagi menjadi satuan-satuan politik yang lebih kecil, dan dikuasai oleh suku-suku yang telah menginvasinya pada permulaan abad itu.[38] Peristiwa pemakzulan kaisar wilayah barat yang terakhir, Romulus Agustulus, pada 476 sudah sejak lama dijadikan sebagai penanda akhir riwayat Kekaisaran Romawi Barat.[11][E] Pada 493, Semenanjung Italia ditaklukkan oleh orang Ostrogoth.[39] Kekaisaran Romawi Timur, yang kerap disebut Kekaisaran Bizantin setelah tumbangnya pemerintah wilayah barat, tidak mampu berbuat banyak untuk menguasai kembali daerah-daerah wilayah barat yang telah lepas dari kendali kekaisaran. Para Kaisar Bizantin tetap menyatakan diri sebagai penguasa atas daerah-daerah itu, namun walau tak seorang pun dari raja-raja baru di wilayah barat berani meninggikan diri menjadi kaisar wilayah barat, kendali Bizantin atas sebagian besar wilayah barat Kekaisaran Romawi tidak dapat dipertahankan; penaklukan kembali daerah-daerah di sepanjang pesisir Laut Tengah dan di Semenanjung Italia (Perang Goth) pada masa pemerintahan Kaisar Yustinianus (memerintah 527–565) adalah satu-satunya pengecualian, meskipun tidak bertahan lama.[40]

Awal Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat-masyarakat baru[sunting | sunting sumber]

Tatanan politik Eropa Barat berubah seiring tamatnya riwayat Kekaisaran Romawi bersatu. Meskipun pergerakan-pergerakan suku-suku bangsa yang terjadi kala itu lazimnya digambarkan sebagai "invasi", pergerakan-pergerakan ini bukan semata-mata merupakan pergerakan militer melainkan juga gerak perpindahan seluruh warga suku-suku bangsa itu ke dalam wilayah kekaisaran. Pergerakan-pergerakan semacam ini dileluasakan oleh penolakan para petinggi Romawi di wilayah barat untuk menyokong angkatan bersenjata maupun untuk membayar pajak-pajak yang mampu memberdayakan angkatan bersenjata guna membendung arus migrasi.[41] Para kaisar abad ke-5 kerap dikendalikan oleh orang-orang kuat dari kalangan militer seperti Stiliko (wafat 408), Esius (wafat 454), Aspar (wafat 471), Ricimer (wafat 472), dan Gundobad (wafat 516), yakni orang-orang peranakan Romawi atau sama sekali tidak berdarah Romawi. Meskipun wilayah barat tidak lagi diperintah oleh kaisar-kaisar, banyak di antara raja-raja yang memerintah di wilayah itu masih terhitung kerabat mereka. Perkawinan campur antara wangsa-wangsa penguasa yang baru dan kaum bangsawan Romawi sudah lumrah terjadi.[42] Akibatnya, budaya asli Romawi pun mulai bercampur dengan adat istiadat suku-suku yang menduduki wilayah barat, termasuk penyelenggaraan sidang-sidang rakyat yang semakin memberi ruang bagi warga suku laki-laki yang merdeka untuk urun rembuk dalam perkara-perkara politik, berbeda dari kebiasaan yang dulu berlaku di negeri Romawi.[43] Barang-barang peninggalan orang Romawi seringkali serupa dengan barang-barang peninggalan suku-suku yang menduduki wilayah barat, dan barang-barang buatan suku-suku itu seringkali dibuat dengan cara meniru bentuk barang-barang buatan Romawi.[44] Sebagian besar budaya tulis dan ilmiah di kerajaan-kerajaan baru itu juga didasarkan pada tradisi-tradisi intelektual Romawi.[45] Salah satu perbedaan penting kerajaan-kerajaan baru ini dari Kekaisaran Romawi adalah kian susutnya penerimaan pajak sebagai sumber pendapatan pemerintah. Banyak dari kerajaan-kerajaan baru ini tidak lagi menafkahi angkatan bersenjata mereka dengan menggunakan dana penerimaan pajak, tetapi dengan anugerah lahan atau hak sewa lahan. Dengan demikian, penerimaan pajak dalam jumlah besar sudah tidak diperlukan lagi, sehingga tatanan perpajakan Romawi akhirnya ditinggalkan.[46] Perang menjadi sesuatu yang lumrah, baik perang antarkerajaan maupun perang di dalam suatu kerajaan. Angka perbudakan menurun karena pasokan berkurang, dan masyarakat pun semakin bercorak pedesaan.[47][F]

Sekeping uang logam yang diterbitkan oleh Teodorik Agung, pemimpin orang Ostrogoth, dicetak di Milan sekitar 491–501 Masehi

Antara abad ke-5 dan abad ke-8, suku-suku bangsa dan tokoh-tokoh baru mengisi kekosongan politik selepas tumbangnya pemerintahan terpusat bangsa Romawi.[45] Orang Ostrogoth, salah satu suku Goth, menetap di Italia Romawi pada penghujung abad ke-5, di bawah pimpinan Teodorik Agung (wafat 526). Orang Ostrogoth mendirikan sebuah kerajaan di daerah itu dan hidup rukun bersama orang-orang Italia, setidaknya sampai masa pemerintahan Teodorik berakhir.[49] Orang-orang Burgundi menetap di Galia, dan setelah kerajaannya dibinasakan oleh orang Hun pada 436, mereka mendirikan sebuah kerajaan baru pada era 440-an. Kerajaan di daerah yang kini berada di antara kota Jenewa dan kota Lyon ini berkembang menjadi Kerajaan Burgundia pada penghujung abad ke-5 dan permulaan abad ke-6.[50] Daerah-daerah lain di Galia diduduki oleh orang Franka dan orang Briton Kelt yang mendirikan kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan Franka berpusat di kawasan utara Galia, dan raja pertamanya diketahui bernama Kilderik (wafat 481). Di makam Kilderik yang ditemukan kembali pada 1653, didapati barang-barang bekal kubur yang menakjubkan, yakni senjata-senjata dan sejumlah besar emas.[51]

Pada masa pemerintahan putra Kilderik, Klovis I (memerintah 509–511), pendiri wangsa Meroving, Kerajaan Franka meluaskan wilayahnya dan menerima agama Kristen. Orang Briton, yang masih berkerabat dengan pribumi Pulau Pretanī (bahasa Latin: Britannia) – Pulau Britania Raya sekarang ini – menetap di daerah yang sekarang disebut Bretagne.[52][G] Orang Visigoth mendirikan kerajaan di Semenanjung Iberia, orang Suevi mendirikan kerajaan di kawasan barat laut Iberia, dan orang Vandal mendirikan kerajaan di Afrika Utara.[50] Pada abad ke-6, orang Lombardi menetap di Italia Utara, menggantikan Kerajaan Ostrogoth dengan sekelompok kadipaten yang sesekali memilih seorang raja untuk memerintah semuanya. Pada akhir abad ke-6, tatanan pemerintahan ini tergantikan oleh sebuah monarki yang bersifat tetap, yakni Kerajaan Orang Lombardi.[53]

Invasi-invasi membawa masuk suku-suku bangsa baru ke Eropa, meskipun beberapa kawasan dibanjiri lebih banyak suku bangsa baru dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain. Sebagai contoh, suku-suku bangsa yang menginvasi Galia lebih banyak menetap di daerah timur laut daripada di daerah barat daya. Orang Slav menetap di kawasan tengah dan kawasan timur Eropa, serta di Semenanjung Balkan. Menetapnya suku-suku bangsa di suatu kawasan menyebabkan pula perubahan bahasa-bahasa di kawasan itu. Bahasa Latin, bahasa Kekaisaran Romawi Barat, lambat laun tergantikan oleh bahasa-bahasa turunan bahasa Latin namun berbeda dari bahasa Latin, yakni bahasa-bahasa yang kini tergolong dalam rumpun bahasa Romawi. Peralihan dari bahasa Latin ke bahasa-bahasa baru ini berjalan selama berabad-abad. Bahasa Yunani masih tetap menjadi bahasa Kekaisaran Bizantin, akan tetapi migrasi-migrasi orang Slav ke Eropa Timur membawa serta bahasa-bahasa rumpun Slav yang menambah keanekaragaman bahasa di wilayah kekaisaran itu.[54]

Daya tahan Bizantium[sunting | sunting sumber]

Mosaik yang menampilkan gambar Kaisar Yustinianus bersama Uskup Ravena, para pengawal, dan para bentara.[55]

Tatkala kerajaan-kerajaan baru bertumbuh di Eropa Barat, Kekaisaran Romawi Timur justru tetap utuh dan mengalami kebangkitan perekonomian yang bertahan sampai dengan abad ke-7. Wilayah timur Kekaisaran Romawi ini juga didera invasi, namun dalam jumlah yang lebih kecil; sebagian besar terjadi di kawasan Balkan. Perdamaian dengan Kekaisaran Sasani, musuh bebuyutan Roma, bertahan hampir sepanjang abad ke-5. Di Kekaisaran Romawi Timur ini pula hubungan negara dan Gereja menjadi semakin akrab, sampai-sampai perkara doktrin Gereja pun menjadi urusan politik negara. Keadaan semacam ini tidak pernah terjadi di Eropa Barat. Salah satu kemajuan yang dicapai di bidang hukum adalah kodifikasi hukum Romawi; upaya kodifikasi yang pertama, yakni penyusunan Kitab Undang-Undang Teodosius (bahasa Latin: Codex Theodosianus), rampung pada 438.[56] Pada masa pemerintahan Kaisar Yustinianus (memerintah 527–565), upaya kodifikasi lainnya dilakukan, yakni penyusunan Kumpulan Hukum Sipil (bahasa Latin: Corpus Juris Civilis).[57] Kaisar Yustinianus juga menitahkan pembangunan Hagia Sofia di Konstantinopel, serta mengerahkan bala tentara Romawi di bawah pimpinan Belisarius (wafat 565)[58] untuk merebut kembali Afrika Utara dari orang Vandal, dan merebut kembali Italia dari orang Ostrogoth.[59] Penaklukan Italia tidak kunjung tuntas akibat merebaknya wabah maut pada 542 yang mendorong Kaisar Yustinianus untuk mengerahkan seluruh kekuatan militer bagi kepentingan pertahanan negara ketimbang bagi usaha-usaha penaklukan sampai masa pemerintahannya berakhir.[59]

Ketika Kaisar Yustinianus mangkat, orang-orang Bizantin telah menguasai sebagian besar wilayah Italia, Afrika Utara, dan sejumlah kecil daerah tempat berpijak di kawasan selatan Spanyol. Upaya Kaisar Yustinianus untuk merebut kembali wilayah-wilayah itu dicela oleh para sejarawan sebagai suatu usaha perluasan wilayah yang melebihi kesanggupan dan membuat Kekaisaran Bizantin menjadi rentan terhadap aksi-aksi penaklukan perdana kaum Muslim. Meskipun demikian, banyak dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para pengganti Yustinianus bukan semata-mata disebabkan oleh pengenaan pajak secara berlebihan guna mendanai perang-perang pada masa pemerintahan Yustinianus, melainkan juga disebabkan oleh sifat sipil yang merupakan sifat asasi kekaisaran itu, sehingga kekaisaran sukar untuk merekrut rakyat menjadi prajurit.[60]

Di wilayah timur Kekaisaran Romawi, penyusupan orang Slav secara perlahan-lahan ke kawasan Balkan menambah jumlah masalah yang harus dihadapi para kaisar pengganti Yustinianus. Proses penyusupan ini berlangsung sedikit demi sedikit, namun pada penghujung era 540-an, suku-suku Slav sudah menduduki Trakia dan Iliria (bahasa Latin: Illiricum), setelah mengalahkan bala tentara kekaisaran di dekat Adrianopel pada 551. Pada era 560-an, orang Avar mulai meluaskan wilayah kekuasan dari pangkalan mereka di tepi utara Sungai Donau; pada penghujung abad ke-6, orang Avar sudah merajalela di Eropa Tengah dan mampu secara rutin memaksa kaisar-kaisar wilayah timur untuk mempersembahkan upeti. Orang Avar terus merajalela sampai 796.[61]

Masalah lain yang harus dihadapi kekaisaran muncul sebagai akibat dari campur tangan Kaisar Maurisius (memerintah 582–602) dalam sengketa alih kepemimpinan di Persia. Campur tangan Kaisar Maurisius dalam urusan politik Persia ini memang membuahkan hubungan damai antara kedua kekaisaran, namun ketika Kaisar Maurisius digulingkan dari takhta, orang-orang Persia kembali menyerang. Pada masa pemerintahan Kaisar Heraklius (memerintah 610–641), orang-orang Persia telah menguasai sebagian besar wilayah Kekaisaran Bizantin, termasuk Mesir, Suriah, dan Anatolia, sebelum akhirnya dapat dipukul mundur oleh Kaisar Heraklius. Pada 628, Kekaisaran Bizantin berhasil mengikat perjanjian damai dengan Persia dan menguasai kembali seluruh wilayahnya yang pernah direbut.[62]

Masyarakat Eropa Barat[sunting | sunting sumber]

Di Eropa Barat, sejumlah keluarga bangsawan lama Romawi mengalami kepunahan, sementara keluarga-keluarga bangsawan Romawi yang tersisa memilih untuk menekuni agama ketimbang melibatkan diri dalam urusan-urusan duniawi. Penghargaan yang tinggi terhadap karya tulis ilmiah dan pendidikan Romawi nyaris lenyap, dan meskipun baca tulis masih dianggap penting, kemampuan ini lebih dianggap sebagai suatu keterampilan praktis daripada sebagai lambang status mulia. Pada abad ke-4, Hieronimus (wafat 420) bermimpi ditegur Allah karena lebih sering membaca karya-karya tulis Sisero daripada Alkitab. Pada abad ke-6, Gregorius dari Tours juga bermimpi ditegur Allah, tetapi bukan karena lebih sering membaca karya-karya tulis Sisero, melainkan karena mempelajari stenografi.[63] Pada penghujung abad ke-6, sarana utama dalam pengajaran agama di Gereja adalah musik dan seni rupa, bukan lagi buku.[64] Sebagian besar karya-karya tulis ilmiah yang dihasilkan kala itu hanya berupa salinan dari karya-karya tulis ilmiah peninggalan Abad Kuno, namun ada pula sejumlah karya tulis baru yang dihasilkan bersama sejumlah gubahan sastra lisan yang kini tidak lagi diketahui. Karya-karya tulis Sidonius Apolinaris (wafat 489), Kasiodorus (wafat ca. 585), dan Boëtius (wafat ca. 525) adalah karya-karya tulis khas dari masa ini.[65]

Kehidupan rakyat jelata juga mengalami perubahan, manakala budaya kaum bangsawan lebih berpusat pada penyelenggaraan pesta-pesta pora di balai-balai perjamuan daripada berkarya di bidang sastra. Busana kaum bangsawan disarati hiasan emas permata. Para penguasa dan raja-raja mendanai rombongan-rombongan pariwara yang terdiri atas para jawara yang menjadi tulang punggung pasukan-pasukan angkatan bersenjata.[H] Ikatan kekerabatan di kalangan bangsawan sangat dijunjung tinggi, demikian pula ikatan kesetiaan, keberanian, dan kehormatan. Ikatan-ikatan ini menjadi penyebab sengketa berlarut-larut yang seringkali timbul di kalangan bangsawan, misalnya sengketa berlarut-larut di Galia pada zaman wangsa Meroving sebagaimana diriwayatkan oleh Gregorius dari Tours. Sebagian besar sengketa berlarut-larut ini diakhiri dalam waktu singkat dengan pembayaran semacam uang ganti rugi.[68] Peran utama kaum perempuan di kalangan bangsawan adalah sebagai istri dan ibu dari kaum lelaki. Peranan perempuan sebagai ibu seorang penguasa sangat dihargai di Galia pada zaman wangsa Meroving. Dalam masyarakat Angli-Saksen, langkanya penguasa kanak-kanak menyebabkan peran perempuan sebagai ibu suri menjadi kurang menonjol, namun kekurangan ini diimbangi oleh peran para abdis biara yang kian lama kian menonjol. Tampaknya di Italia sajalah kaum perempuan senantiasa dianggap bernaung di bawah perlindungan dan kendali seorang kerabat laki-laki.[69]

Hasil rekonstruksi sebuah desa rakyat jelata pada awal Abad Pertengahan di Bayern

Dibanding kaum bangsawan, hal-ihwal kehidupan rakyat jelata lebih jarang diabadikan dalam karya-karya tulis. Sebagian besar informasi mengenai rakyat jelata yang sintas sampai ke tangan para sejarawan berasal dari bidang ilmu arkeologi; segelintir peninggalan tertulis yang menggambarkan peri kehidupan rakyat jelata masih berasal dari kurun waktu sebelum abad ke-9. Sebagian besar penggambaran mengenai masyarakat kelas bawah berasal dari kitab-kitab hukum atau karya-karya tulis para pujangga dari kalangan masyarakat kelas atas.[70] Pola-pola kepemilikan tanah di Eropa Barat tidaklah seragam; di beberapa kawasan, persil-persil tanah milik letaknya sangat terserak dan saling berjauhan, sementara di kawasan-kawasan lain, sudah menjadi kaidah bahwa persil-persil tanah milik terletak berdempetan satu sama lain. Perbedaan-perbedaan ini memunculkan bermacam-macam masyarakat jelata; beberapa di antara masyarakat-masyarakat jelata ini tunduk di bawah kekuasaan tuan-tuan tanah bangsawan, sementara masyarakat-masyarakat jelata lainnya justru sangat mandiri.[71] Cara menempati tanah juga berbeda-beda. Beberapa rakyat jelata menempati permukiman-permukiman dengan jumlah warga mencapai 700 jiwa, sementara yang lain hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas beberapa keluarga; selain itu masih ada lagi yang hidup sendiri-sendiri di lahan garapan masing-masing di pinggiran desa-desa. Ada pula daerah-daerah yang memiliki pola campuran antara dua atau lebih dari tatanan-tananan tersebut.[72] Tidak seperti pada penghujung zaman Romawi, tidak ada perbedaan yang tajam antara status hukum dari rakyat jelata yang merdeka dan kaum bangsawan, malah sebuah keluarga rakyat jelata yang merdeka mungkin saja naik status menjadi bangsawan setelah melewati beberapa generasi dengan cara mengabdi sebagai prajurit pada seorang penguasa besar.[73]

Budaya dan kehidupan perkotaan Romawi benar-benar berubah pada awal Abad pertengahan. Meskipun kota-kota Italia masih tetap dihuni orang, jumlah warganya sangat menyusut. Contohnya Roma yang jumlah warganya menyusut dari ratusan ribu jiwa menjadi sekitar 30.000 jiwa pada penghujung abad ke-6. Kuil-kuil Romawi dialihgunakan menjadi gedung-gedung Gereja, dan tembok-tembok kota masih tetap difungsikan seperti sediakala.[74] Di Eropa Utara, kota-kota juga mengalami penyusutan jumlah warga, sementara monumen-monumen dan bangunan-bangunan publik lainnya di kota-kota dijarah rayah untuk dijadikan bahan bangunan. Berdirinya kerajaan-kerajaan baru seringkali menyebabkan kota-kota yang dijadikan ibu kota mengalami sedikit banyak kemajuan.[75] Meskipun sudah sejak lama membentuk paguyuban-paguyuban di banyak kota Romawi, orang-orang Yahudi selama beberapa waktu mengalami persekusi setelah Kekaisaran Romawi beralih keyakinan ke agama Kristen. Keberadaan orang-orang Yahudi secara resmi ditoleransi, jika bersedia didakwahi ajaran agama Kristen, bahkan adakalanya mereka dianjurkan untuk pindah dan menetap di daerah-daerah baru.[76]

Kemunculan Islam[sunting | sunting sumber]

Penaklukan-penaklukan perdana kaum Muslim
  Perluasan wilayah di bawah pimpinan Muhammad, 622–632
  Perluasan wilayah pada zaman Khilafah Rasyidin, 632–661
  Perluasan wilayah pada zaman Khilafah Bani Umayyah, 661–750

Agama dan kepercayaan di Kekaisaran Bizantin dan Persia senantiasa berubah-ubah pada penghujung abad ke-6 dan permulaan abad ke-7. Agama Yahudi adalah agama yang aktif menarik pemeluk baru, dan sekurang-kurangnya ada satu pemimpin politik Arab yang menjadi pemeluknya.[I] Agama Kristen aktif bersaing dengan agama Majusi dari Persia dalam menarik pemeluk baru, khususnya di kalangan penduduk Jazirah Arab. Semua perkembangan ini dihubungkan menjadi satu oleh kemunculan agama Islam di Arab pada masa hidup Muhammad (wafat 632).[78] Sesudah Muhammad wafat, bala tentara Muslim maju menaklukkan banyak tempat di wilayah Kekaisaran Bizantin dan Persia. Setelah mula-mula menaklukkan Negeri Syam pada 634–635, kaum Muslim kemudian menaklukkan Mesir pada 640–641, Persia antara 637–642, Afrika Utara pada abad ke-7, dan Semenanjung Iberia pada 711.[79] Pada 714, bala tentara Muslim menguasai sebagian besar daratan Semenanjung Iberia yang mereka namakan Al-Andalus.[80]

Aksi-aksi penaklukan kaum Muslim mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-8. Kekalahan bala tentara Muslim dalam Pertempuran Tours pada 732 memberi kesempatan kepada orang Franka untuk merebut kembali kawasan selatan Perancis, namun sebab utama dari tertahannya gerak langkah Islam di Eropa adalah tumbangnya Khilafah Bani Umayyah dan berkuasanya Khilafah Bani Abbas. Bani Abbas memindahkan ibu kota pemerintahan ke Bagdad dan lebih memusatkan perhatiannya pada kawasan Timur Tengah daripada Eropa, manakala kehilangan kendali atas sejumlah daerah kekuasaan kaum Muslim. Keturunan Bani Umayah mengambil alih kekuasaan atas Semenanjung Iberia, kaum Aglabi menguasai Afrika Utara, dan kaum Tuluni menguasai Mesir.[81] Pada pertengahan abad ke-8, muncul tatanan niaga baru di Laut Tengah; hubungan niaga antara orang Franka dan orang Arab menggantikan tatanan perekonomian Romawi yang lama. Orang Franka meniagakan kayu, kulit bulu binatang, pedang, dan budak belian sebagai ganti sutra dan bahan-bahan sandang lainnya, rempah-rempah, serta logam-logam mulia dari orang Arab.[82]

Niaga dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Migrasi dan invasi pada abad ke-4 dan abad ke-5 mengganggu jaringan niaga di sekeliling Laut Tengah. Barang-barang dagangan dari Afrika, yang tak lagi diimpor masuk ke Eropa, mula-mula menghilang dari peredaran di kawasan pedalaman Eropa, dan pada abad ke-7 hanya dapat dijumpai di segelintir kota seperti Roma atau Napoli. Pada penghujung abad ke-7, sebagai akibat dari aksi-aksi penaklukan yang dilakukan kaum Muslim, barang-barang dagangan dari Afrika tidak dapat lagi dijumpai di Eropa Barat. Penggantian barang-barang dagangan dari negeri-negeri seberang dengan barang-barang buatan daerah sendiri menjadi lazim terjadi di seluruh negeri bekas jajahan Romawi pada awal Abad Pertengahan, terutama di negeri-negeri yang tidak terletak di pesisir Laut Tengah, misalnya kawasan utara Galia atau Britania. Barang-barang bukan buatan daerah sendiri yang disebut-sebut dalam peninggalan-peninggalan tertulis biasanya adalah barang-barang mewah. Di kawasan utara benua Eropa, tidak saja jaringan niaganya yang bersifat lokal, malah barang-barang yang diperjualbelikan pun sederhana, hanya ada sedikit tembikar atau barang-barang lain yang rumit pembuatannya. Di kawasan pesisir Laut Tengah, tembikar masih mudah didapatkan dan tampaknya diperjualbelikan dalam jaringan-jaringan niaga taraf menengah, tidak sekadar dibuat sendiri di dalam negeri.[83]

Semua negara Jermani di Eropa Barat mengeluarkan uang logam sendiri dengan meniru bentuk uang-uang logam Romawi dan Bizantin yang beredar kala itu. Uang emas terus-menerus dicetak sampai akhirnya tergantikan oleh uang-uang perak pada penghujung abad ke-7. Satuan dasar uang perak Franka adalah Denarius atau Denier, sementara satuan dasar uang perak Angli-Saksen yang setara Denier disebut Penny. Dari wilayah-wilayah inilah Denier atau Penny beredar ke seluruh Eropa selama berabad-abad, sejak 700 sampai 1000 Masehi. Uang tembaga dan perunggu tidak dicetak, demikian pula uang emas, kecuali di kawasan selatan Eropa. Tidak ada pencetakan uang perak dalam pecahan-pecahan yang lebih besar daripada Denier atau Penny.[84]

Gereja dan biara[sunting | sunting sumber]

Gregorius Agung mendiktekan surat kepada juru tulis, ilustrasi abad ke-11,

Agama Kristen adalah faktor utama yang mempersatukan Eropa Timur dan Eropa Barat sebelum penaklukan-penaklukan yang dilakukan orang Arab, namun penaklukan Afrika Utara meretas hubungan yang terjalin antara kedua kawasan itu. Gereja Bizantin semakin lama semakin berbeda dari Gereja Barat dalam bidang bahasa, adat istiadat, maupun liturgi. Gereja Timur menggunakan bahasa Yunani, bukan bahasa Latin seperti Gereja Barat. Perbedaan-perbedaan teologi dan politik pun mengemuka, dan pada permulaan serta pertengahan abad ke-8, perkara-perkara seperti ikonoklasme, rohaniwan beristri, dan kendali negara atas Gereja semakin memperlebar kesenjangan sehingga pada akhirnya perbedaan-perbedaan budaya dan keagamaan menjadi jauh lebih besar daripada persamaan-persamaannya.[85] Perpecahan resmi, yang disebut Skisma Timur-Barat, terjadi pada 1054, manakala lembaga kepausan dan kebatrikan Konstantinopel mempertentangkan supremasi Sri Paus dan akhirnya saling mengucilkan, sehingga memecah agama Kristen menjadi dua Gereja—pecahan barat menjadi Gereja Katolik Roma dan pecahan timur menjadi Gereja Ortodoks Timur.[86]

Tatanan kepengurusan Gereja di Kekaisaran Romawi nyaris tetap utuh di tengah-tengah pergerakan dan invasi yang melanda wilayah barat, akan tetapi lembaga kepausan tidak begitu dihargai, dan hanya segelintir uskup di wilayah barat yang menghormati Uskup Roma selaku pemimpin agama atau pemimpin politik. Banyak di antara para paus yang menjabat sebelum tahun 750 lebih memperhatikan urusan-urusan Kekaisaran Bizantin dan sengketa-sengketa teologi di wilayah timur. Register, atau arsip salinan surat-surat, yang ditulis oleh Paus Gregorius Agung (masa kepausan 590–604) masih lestari hingga sekarang, lebih dari 850 pucuk surat, sebagian besar di antaranya berkaitan dengan perkara-perkara di Italia atau Konstantinopel. Satu-satunya negeri di Eropa Barat yang tunduk pada wibawa lembaga kepausan adalah Britania, yakni negeri yang didatangi rombongan dakwah utusan Paus Gregorius pada 597 untuk mengajak orang-orang Angli-Saksen menjadi pemeluk agama Kristen.[87] Para misionaris Irlandia gencar berdakwah di Eropa Barat antara abad ke-5 dan abad ke-7, pertama-tama di Inggris dan Skotlandia, kemudian ke daratan Eropa. Di bawah pimpinan rahib-rahib seperti Kolumba (wafat 597) dan Kolumbanus (wafat 615), para misionaris Irlandia membangun biara-biara, mengajar dalam bahasa Latin dan bahasa Yunani, serta menghasilkan karya-karya tulis sekuler maupun keagamaan.[88]

Pada Awal Abad Pertengahan, terjadi pertumbuhan monastisisme di Eropa Barat. Bentuk monastisisme dipengaruhi oleh tradisi-tradisi dan gagasan-gagasan yang berasal dari Bapa-Bapa Gurun di Mesir dan Suriah. Sebagian besar biara Eropa adalah jenis biara yang mengutamakan pendalaman rohani dalam kehidupan berguyub. Monastisisme semacam ini disebut senobitisme, dirintis oleh Pakomius (wafat 348) pada abad ke-4. Cita-cita mulia monastisisme menyebar dari Mesir ke Eropa Barat pada abad ke-5 dan abad ke-6 melalui sastra hagiografi semisal Riwayat Antonius (bahasa Latin: Vita Antonii).[89] Benediktus dari Nursia (wafat 547) menyusun Peraturan Benediktus (bahasa Latin: Regulae Benedicti) bagi monastisisme Gereja Barat pada abad ke-6. Peraturan ini berisi perincian kewajiban administratif dan rohani yang harus dilaksanakan oleh suatu paguyuban para rahib yang dipimpin oleh seorang abas.[90] Para rahib dan biara-biara sangat mempengaruhi kehidupan beragama dan perpolitikan pada Awal Abad Pertengahan. Biara-biara seringkali menjadi lembaga-lembaga perwalian pemilik tanah bagi keluarga-keluarga yang memiliki kekuasaan besar, menjadi pusat-pusat propaganda dan dukungan bagi kerajaan di wilayah yang baru direbut, dan menjadi pangkalan-pangkalan bagi misi dakwah dan penyebaran agama Kristen.[91] Biara-biara merupakan lembaga utama, bahkan adakalanya merupakan satu-satunya lembaga, yang menyelenggarakan pendidikan dan pemberantasan buta aksara di suatu kawasan. Banyak dari naskah Latin klasik yang sintas sampai sekarang adalah naskah-naskah salinan yang dibuat di biara-biara pada Awal Abad Pertengahan.[92] Para rahib juga menghasilkan karya-karya tulis baru di bidang sejarah, teologi, dan bidang-bidang lain, misalnya Beda (wafat 735), pujangga asal kawasan utara Inggris yang berkarya pada penghujung abad ke-7 dan permulaan abad ke-8.[93]

Eropa pada zaman wangsa Karoling[sunting | sunting sumber]

Peta perkembangan kekuasaan orang Franka sejak 481 sampai 814

Kerajaan Franka di kawasan utara Galia terpecah menjadi Kerajaan Austrasia, Kerajaan Neustria, dan Kerajaan Burgundia pada abad ke-6 dan abad ke-7, ketiga-tiganya diperintah oleh raja-raja dari wangsa Meroving, anak cucu Raja Klovis. Abad ke-7 adalah kurun waktu yang dipenuhi gejolak peperangan antara Kerajaan Austrasia dan Kerajaan Neustria.[94] Perang antara kedua kerajaan ini dimanfaatkan oleh Pipin (wafat 640), Pembesar Istana Kerajaan Austrasia yang merupakan orang kuat di belakang penguasa Austrasia. Anggota-anggota keluarganya di kemudian hari mewarisi jabatan ini, dan bertugas selaku penasihat dan wali raja. Cicit Pipin yang bernama Karel Martel (wafat 741) memenangkan Pertempuran Poitiers pada 732, yang menghambat pergerakan bala tentara Muslim sehingga tidak melampaui batas Pegunungan Pirenia.[95][J] Wilayah Britania Raya terbagi-bagi menjadi negara-negara kecil yang dikuasai oleh Kerajaan Northumbria, Kerajaan Mercia, Kerajaan Wessex, dan Kerajaan Anglia Timur, yang didirikan oleh orang-orang Angli-Saksen dari daratan Eropa. Kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di wilayah yang kini disebut Wales dan Skotlandia masih dikuasai oleh suku-suku pribumi, yakni orang Britani dan orang Pikti.[97] Wilayah Irlandia terbagi-bagi menjadi satuan-satuan politik yang lebih kecil lagi dan diperintah oleh raja-raja. Satuan-satuan politik di Irlandia ini dikenal dengan sebutan kerajaan-kerajaan kesukuan. Diperkirakan kala itu ada 150 raja pribumi di Irlandia, dengan bobot kekuasaan yang berbeda-beda.[98]

Kapel istana Karel Agung di Aachen, rampung dibangun pada 805.[99]

Keturunan Karel Martel, yakni wangsa Karoling, mengambil alih pemerintahan Kerajaan Austrasia dan Kerajaan Neustria melalui suatu usaha kudeta pada 753 yang dipimpin oleh Pipin III (memerintah 752–768). Menurut keterangan dari sebuah naskah tawarikh yang ditulis pada masa itu, Pipin meminta dan mendapatkan wewenang untuk melakukan kudeta dari Paus Stefanus II (menjabat 752–757). Kudeta yang dilakukan Pipin disokong dengan kegiatan propaganda yang mencitrakan raja-raja wangsa Meroving sebagai penguasa-penguasa yang tidak cakap memerintah bahkan lalim, menggembar-gemborkan segala prestasi yang pernah diraih oleh Karel Martel, dan menyebarluaskan kisah-kisah tentang betapa salehnya keluarga Pipin. Di akhir hayatnya pada 768, Pipin mewariskan kerajaannya kepada kedua putranya, Karel (memerintah 768–814) dan Karloman (memerintah 768–771). Ketika Karloman mangkat secara wajar, Karel menghalangi penobatan putra Karloman yang masih belia, dan malah menobatkan dirinya sendiri menjadi raja atas wilayah gabungan Austrasia dan Neustria. Karel, yang lebih dikenal dengan nama Karel Agung (bahasa Latin: Carolus Magnus, bahasa Perancis: Charlemagne), melancarkan serangkaian upaya sistematis untuk memperluas wilayah pada 774 dengan mempersatukan sebagian besar negeri di Eropa, dan pada akhirnya berhasil menguasai wilayah-wilayah yang kini menjadi wilayah negara Perancis, kawasan utara Italia, dan wilayah Sachsen. Dalam perang yang baru berakhir selepas tahun 800 ini, Karel Agung mengganjari sekutu-sekutunya dengan harta pampasan perang dan kekuasaan atas berbidang-bidang tanah pertuanan.[100] Pada 774, Karel Agung menaklukkan orang Lombardi, sehingga lembaga kepausan terbebas dari ancaman penaklukan oleh orang Lombardi dan mulai mendirikan negara-negara kepausan.[101][K]

Penobatan Karel Agung menjadi kaisar pada hari Natal tahun 800 dianggap sebagai titik balik dalam sejarah Abad Pertengahan. Penobatan ini menandai kebangkitan kembali Kekaisaran Romawi Barat, karena kaisar yang baru ini memerintah atas sebagian besar wilayah yang dahulu kala dikuasai oleh para Kaisar Romawi Barat.[103] Penobatan ini juga menjadi awal perubahan sifat hubungan antara Karel Agung dan Kekaisaran Bizantin, karena dengan menyandang gelar kaisar, raja-raja wangsa Karoling menyatakan dirinya setara dengan para penguasa Bizantium.[104] Kekaisaran Karoling yang baru berdiri ini memiliki sejumlah perbedaan baik dengan Kekaisaran Romawi lama maupun dengan Kekaisaran Bizantin kala itu. Wilayah kekuasaan orang Franka bercorak pedesaan dan hanya memiliki beberapa kota kecil. Sebagian besar warganya adalah para petani yang menetap di lahan-lahan kecil. Kegiatan niaga hanya berskala kecil, dan sebagian besar dilakukan dengan kepulauan Inggris dan Skandinavia, jauh berbeda dari jaringan niaga Kekaisaran Romawi lama yang berpusat di Laut Tengah.[103] Tadbir pemerintahan Kekaisaran Karoling diselenggarakan oleh suatu majelis keliling yang senantiasa berpindah-pindah mengikuti perjalanan jelajah kaisar, serta kurang lebih 300 pegawai kekaisaran yang disebut bupati (bahasa Latin: comes, bahasa Perancis: comte, bahasa Jerman: graf), yang menadbir pemerintahan kabupaten (bahasa Latin: comitatus, bahasa Perancis: comitat, bahasa Jerman: grafschaft), yakni satuan wilayah pemerintahan di Kekaisaran Karoling. Rohaniwan dan uskup-uskup setempat diberdayakan menjadi pamong praja maupun pegawai kekaisaran yang disebut para missi dominici. Para missi dominici bekerja sebagai penilik keliling dan petugas penanggulangan masalah.[105]

Abad Pembaharuan Karoling[sunting | sunting sumber]

Istana Karel Agung di Aachen menjadi pusat kebangkitan budaya yang adakalanya disebut "Abad Pembaharuan Karoling". Angka melek aksara meningkat, seiring berkembangnya seni rupa, arsitektur, dan tatanan hukum, demikian pula dengan kajian-kajian mengenai liturgi dan kitab suci. Alcuin (wafat 804), rahib Inggris yang diundang ke Aachen, datang membawa pendidikan ala biara-biara Northumbria. Cancellaria, yakni jawatan setia usaha atau kepaniteraan pada masa pemerintahan Karel Agung, menggunakan ragam aksara baru yang kini disebut aksara minuskul Karoling.[L] Kebijakan kepaniteraan Karel Agung ini telah memunculkan suatu ragam tulis umum yang mendorong kemajuan komunikasi di hampir seluruh Benua Eropa. Karel Agung mendukung perubahan-perubahan dalam liturgi Gereja, serta mewajibkan penerapan tata ibadat Gereja Roma dan penggunaan kidung Gregorian sebagai musik liturgi Gereja di wilayah kekuasaannya. Salah satu kegiatan utama para cendekiawan kala itu adalah menyalin, memperbaiki, dan menyebarluaskan karya-karya tulis lama, baik karya tulis keagamaan maupun karya tulis sekuler, demi kemajuan pendidikan. Mereka juga menghasilkan sejumlah karya tulis keagamaan dan buku-buku pelajaran yang baru.[107] Para ahli bahasa kala itu mengubah suai bahasa Latin dari ragam klasik warisan Kekaisaran Romawi menjadi ragam yang lebih luwes agar selaras dengan kebutuhan Gereja dan pemerintah. Pada masa pemerintahan Karel Agung, bahasa Latin yang digunakan sudah sangat menyimpang dari ragam klasiknya sehingga di kemudian hari disebut sebagai bahasa Latin Abad Pertengahan.[108]

Retaknya Kekaisaran Karoling[sunting | sunting sumber]

Pembagian wilayah Kekaisaran Karoling pada 843, 855, dan 870

Karel Agung berniat meneruskan adat waris Franka dengan membagi wilayah kerajaannya kepada seluruh ahli warisnya, akan tetapi niatnya itu tidak terkabul karena hanya tinggal Ludwig Si Saleh (memerintah 814–840) yang masih hidup pada 813. Sebelum mangkat pada 814, Karel Agung menobatkan Ludwig menjadi penggantinya. Masa pemerintahan Ludwig sepanjang 26 tahun ditandai beberapa kali pembagi-bagian wilayah Kekaisaran Karoling di antara putra-putranya dan, setelah 829, pecah beberapa kali perang saudara memperebutkan kekuasaan atas berbagai bagian wilayah Kekaisaran Karoling. Selama berlangsungnya perang-perang saudara ini, Ludwig bersekutu dengan salah seorang putranya untuk melawan putranya yang lain. Ludwig akhirnya mengakui putra sulungnya yang bernama Lothar I (wafat 855) sebagai kaisar dan menyerahkan wilayah Italia kepadanya. Ludwig membagi wilayah kekaisaran selebihnya kepada Lothar dan Karel Si Gundul (wafat 877), putra bungsunya. Lothar menguasai Negeri Franka Timur yang terletak di kedua tepi Sungai Rhein dan membentang sampai ke sebelah timur, sementara Karel menguasai Negeri Franka Barat beserta wilayah kekaisaran di sebelah barat daerah Rheinland dan Pegunungan Alpen. Ludwig Si Jerman (wafat 876), anak tengah Karel yang tak kunjung jera memberontak, diizinkan menguasai daerah Bayern di bawah suzerenitas abangnya. Pembagian wilayah ini malah menimbulkan pertikaian. Cucu kaisar yang bernama Pipin II dari Aquitania (wafat sesudah 864), bangkit memberontak hendak mengusai Aquitania, sementara Ludwig Si Jerman berusaha menguasai seluruh Negeri Franka Timur. Ludwig Si Saleh mangkat pada 840, meninggalkan Kekaisaran Karoling dalam keadaan kacau balau.[109]

Perang saudara selama tiga tahun pun berkecamuk setelah Ludwig Si Saleh mangkat. Dengan Perjanjian Verdun (843), diciptakan sebuah kerajaan baru bagi Lothar yang terletak di antara Sungai Rhein dan Sungai Rhone sebagai tambahan bagi wilayah Italia yang dikuasainya. Selain itu, Lothar juga diakui sebagai Kaisar. Ludwig Si Jerman menguasai Bayern dan daerah-daerah di kawasan timur Negeri Franka yang sekarang termasuk dalam wilayah negara Jerman. Karel Si Gundul mendapatkan daerah-daerah di kawasan barat Negeri Franka yang meliputi hampir seluruh wilayah negara Perancis sekarang ini.[109] Cucu-cucu dan cicit-cicit Karel Agung membagi-bagi lagi wilayah kerajaan-kerajaan mereka kepada anak cucu mereka, sehingga keutuhan wilayah Kekaisaran Karoling pada akhirnya sirna.[110][M] Pada 987, wangsa Karoling tersingkir dari tampuk kekuasaan di Negeri Franka Barat, manakala Hugo Capet (memerintah 987–996) dinobatkan menjadi raja.[N][O] Di Negeri Franka Timur, wangsa Karoling telah punah manakala Raja Ludwig Si Kecil mangkat pada 911,[113] dan Konrad I (memerintah 911–918), yang tidak memiliki pertalian apa-apa dengan wangsa Karoling, terpilih menjadi raja.[114]

Perpecahan Kekaisaran Karoling terjadi bersamaan dengan invasi, migrasi, dan penyerangan oleh seteru dari luar. Kawasan pantai Samudra Atlantik dan pesisir utara dirongrong oleh orang Viking, yang juga menyerbu serta mendiami Kepulauan Britania dan Islandia. Pada 911, Kepala Suku Viking yang bernama Rollo (wafat ca. 931) mendapatkan izin dari Raja Orang Franka, Karel Si Polos (memerintah 898–922) untuk bermukim di daerah yang kini bernama Normandie di negara Perancis.[115][P] Kawasan timur Negeri Franka, khususnya Jerman dan Italia, terus-menerus dirongrong oleh orang Magyar yang baru dapat dikalahkan dalam Pertempuran Lechfeld pada 955.[117] Perpecahan Khilafah Bani Abbas mengakibatkan Dunia Islam terpecah-belah menjadi satuan-satuan politik yang lebih kecil, beberapa di antaranya mulai berusaha memperluas wilayah kekuasaan sampai ke Italia, Sisilia, dan melewati Pegunungan Pirenia sampai ke kawasan selatan Negeri Franka.[118]

Kerajaan-kerajaan baru dan kebangkitan Kekaisaran Bizantin[sunting | sunting sumber]

Eropa pada 814 M

Usaha raja-raja pribumi untuk melawan serangan kaum pendatang menghasilkan pembentukan entitas-entitas politik baru. Di Pulau Britania yang dihuni orang Angli-Saksen, Raja Alfred Agung (memerintah 871–899) menyepakati sebuah perjanjian dengan para penyerang Viking pada penghujung abad ke-9, yang menghasilkan pendirian permukiman-permukiman orang Dani di Northumbria, Mercia, dan sejumlah daerah di Anglia Timur.[119] Pada pertengahan abad ke-10, para pengganti Raja Alfred Agung berjaya menaklukkan Northumbria, dan memulihkan kekuasaan orang Angli-Saksen atas sebagian besar kawasan selatan Pulau Britania.[120] Di kawasan utara Pulau Britania, Cináed mac Ailpín (wafat ca. 860) mempersatukan orang Pikti dan orang Skoti ke dalam Kerajaan Alba.[121] Pada awal abad ke-10, wangsa Otto telah berhasil menjadi wangsa yang terkemuka di Jerman, dan memimpin perjuangan mengusir para penyerang Magyar. Perjuangan ini mencapai puncaknya dengan penobatan Otto I (memerintah 936–973) menjadi Kaisar Romawi Suci pada 962.[122] Pada 972, ia berhasil mendapatkan pengakuan atas gelar kaisarnya dari Kekaisaran Bizantin, yang ia kukuhkan melalui pernikahan putranya, Otto II (memerintah 967–983), dengan Teofania (wafat 991), kemenakan dari Kaisar Bizantin yang sedang memerintah dan putri dari mendiang Kaisar Bizantin sebelumnya, Romanos II (memerintah 959–963).[123] Menjelang akhir abad ke-10, Italia telah berhasil dimasukkan ke dalam mandala kekuasaan wangsa Otto setelah negeri itu dilanda kekacauan.[124] Kaisar Otto III (memerintah 996–1002) di kemudian hari bermastautin di Italia.[125] Negeri Franka Barat semakin terpecah-belah. Meskipun secara nominal masih diperintah oleh raja-raja, sebagian besar kekuasaan politik di negeri itu telah beralih ke tangan para kepala daerah.[126]

Ukiran gading berlanggam seni Ottonian buatan abad ke-10 menampilkan sosok Yesus yang sedang menerima persembahan sebuah gedung gereja dari Kaisar Otto I

Usaha dakwah agama Kristen di Skandinavia pada abad ke-9 dan ke-10 membantu memperkuat pertumbuhan kerajaan-kerajaan di kawasan itu, misalnya Kerajaan Swedia, Kerajaan Denmark, dan Kerajaan Norwegia, yang lama-kelamaan semakin besar kekuatannya dan semakin luas pula wilayah kekuasaannya. Sejumlah raja beralih keyakinan menjadi pemeluk agama Kristen, meskipun tidak semuanya beralih keyakinan pada tahun 1000. Orang-orang Skandinavia juga melakukan perluasan wilayah dan melakukan kolonisasi di seluruh Eropa. Selain di Irlandia, Inggris, dan Normandia, orang-orang Skandinavia juga mendirikan permukiman di kawasan-kawasan yang kini menjadi wilayah negara Rusia dan wilayah negara Islandia. Para pedagang dan penjarah dari Swedia menjelajahi sungai-sungai yang mengaliri stepa Rusia, bahkan pernah mencoba merebut Konstantinopel pada 860 dan 907.[127] Negeri Kristen Spanyol mula-mula hanya mencakup wilayah yang tak seberapa luas di kawasan utara Semenanjung Iberia, namun lambat laun meluas ke kawasan selatan pada abad ke-9 dan ke-10, serta membentuk Kerajaan Asturias dan Kerajaan León.[128]

Di Eropa Timur, Bizantium memulihkan kemakmurannya pada masa pemerintahan Kaisar Basilius I (memerintah 867–886) dan para penggantinya, Kaisar Leo VI (memerintah 886–912) dan Kaisar Konstantinus VII (memerintah 913–959). Ketiga-tiganya berasal dari wangsa Makedonia. Perniagaan kembali bergairah, dan para kaisar berusaha menyeragamkan tata laksana administrasi pemerintahan di seluruh provinsi Kekaisaran Bizantin. Militer kekaisaran ditata kembali sehingga memungkinkan Kaisar Yohanes I (memerintah 969–976) dan Kaisar Basilius II (memerintah 976–1025) menggeser maju seluruh tapal batas wilayah kekaisaran. Lingkungan istana Kekaisaran Bizantin menjadi pusat kebangkitan pendidikan klasik. Proses kebangkitan pendidikan klasik ini dikenal dengan sebutan Abad Pembaharuan Makedonia. Para pujangga seperti Yohanes Geometres (aktif berkarya pada awal abad ke-10) menggubah madah-madah baru, syair-syair baru, dan menghasilkan karya-karya tulis baru dari ragam-ragam sastra lainnya.[129] Usaha dakwah agama Kristen yang dilakukan rohaniwan-rohaniwan Gereja Timur maupun Gereja Barat berhasil membuat orang Moravia, orang Bulgaria, orang Bohemia, orang Polandia, orang Magyar, dan orang Slav dari Rus' Kiev berganti keyakinan menjadi pemeluk agama Kristen. Perpindahan agama ini turut berjasa dalam pembentukan negara politik di negeri-negeri kediaman suku-suku bangsa itu, yakni negara Moravia, negara Bulgaria, negara Bohemia, negara Polandia, negara Hongaria, dan negara Rus' Kiev.[130] Wilayah negara Bulgaria, yang didirikan sekitar tahun 680, pada puncak kejayaannya membentang dari Budapest sampai ke Laut Hitam, dan dari Sungai Dnieper di Ukraina sekarang ini sampai ke Laut Adriatik.[131] Pada 1018, bangsawan-bangsawan terakhir Bulgaria telah takluk di bawah Kekaisaran Bizantin.[132]

Seni rupa dan arsitektur[sunting | sunting sumber]

Sebuah halaman dari Kitab Kells, sebuah naskah kitab Injil beriluminasi yang dibuat di Kepulauan Britania pada akhir abad ke-8 atau awal abad ke-9[133]

Hanya segelintir gedung batu berukuran besar yang dibangun selepas pendirian basilika-basilika zaman Konstantinus pada abad ke-4 sampai dengan abad ke-8, namun ada banyak bangunan batu dalam ukuran yang lebih kecil dibangun antara abad ke-6 dan abad ke-7. Pada permulaan abad ke-8, Kekaisaran Karoling menghidupkan kembali arsitektur basilika.[134] Salah satu tampilan dari basilika zaman Kekaisaran Karoling adalah penambahan transep,[135] yakni dua sayap bangunan yang dibangun berhadapan pada kedua sisi bangunan induk sehingga membentuk ruang melintang yang memisahkan panti umat dari panti imam sekaligus membuat keseluruhan bangunan tampak seperti sebuah salib raksasa.[136] Tampilan-tampilan baru lainnya pada arsitektur rumah ibadat meliputi menara persimpangan dan pintu masuk megah yang lazimnya dibangun pada sisi barat gedung gereja.[137]

Karya-karya seni rupa Karoling dibuat bagi segelintir tokoh di kalangan istana, dan bagi biara-biara maupun gereja-gereja yang mereka tunjangi. Kegiatan seni rupa Karoling didominasi oleh usaha-usaha untuk menghadirkan kembali keagungan dan ciri khas Yunani-Romawi dari seni rupa Bizantin dan Kekaisaran Romawi, namun dipengaruhi pula oleh seni rupa Insular dari Kepulauan Britania. Seni rupa insular memadukan kekuatan langgam hias Kelt Irlandia dan Jermani Angli-Saksen dengan wujud-wujud budaya khas Laut Tengah seperti buku, dan menciptakan banyak ciri khas seni rupa sepanjang Abad Pertengahan. Karya-karya seni keagamaan yang sintas dari kurun waktu Awal Abad Pertengahan sebagian besar berwujud naskah-naskah beriluminasi dan ukiran-ukiran gading, yang mula-mula ditampilkan pada barang-barang hasil pengolahan logam yang semenjak saat itu sudah dilebur.[138][139] Benda-benda yang dibuat dari logam mulia merupakan wujud karya seni yang paling dihargai, namun hampir semuanya sudah lenyap kecuali beberapa buah salib seperti Salib Raja Lothar, beberapa buah relikuarium, serta temuan-temuan seperti benda-benda kubur buatan Angli-Saksen di Sutton Hoo, harta karun Gourdon di Perancis dari zaman wangsa Meroving, harta karun Guarrazar di Spanyol dari zaman Visigoth, dan harta karun Nagyszentmiklós di dekat wilayah Kekaisaran Bizantin. Ada pula peninggalan peniti-peniti berukuran besar dalam bentuk fibula maupun penanular yang merupakan barang perlengkapan pribadi yang penting di kalangan elit, salah satu contohnya adalah Peniti Tara dari Irlandia.[140] Kitab-kitab berdekorasi tinggi kebanyakan adalah kitab-kitab Injil dan sejumlah besar diantaranya masih ada, antara lain Kitab Kells Insuler, Kitab Injil Lindisfarne, dan Kodeks Aureus dari St. Emmeram, yang menjadi salah satu dari beberapa "penjilidan perhiasan" dari emas yang dihiasi dengan perhiasan.[141] Pemerintahan Karel Agung tampaknya bertanggung jawab atas penerimaan pahatan monumental figuratif dalam seni rupa Kristen,[142] dan pada akhir periode tersebut, figur yang hampir berukuran orang hidup seperti Salib Gero menjadi umum di gereja-gereja penting.[143]

Militer dan perkembangan teknologi[sunting | sunting sumber]

Pada Kekaisaran Romawi berikutnya, pengembangan militer utama adalah upaya untuk menciptakan pasukan kavaleri efektif serta pengembangan berkelanjutan dari jenis pasukan yang sangat dikhususkan. Pembentukan katafrak berzirah keras sebagai kavaleri adalah fitur penting dari militer Romawi abad ke-5. Berbagai suku penginvasi memiliki jenis berbeda pada jenis prajurit—dari penginvasi Angli-Saksen Britania yang utamanya infanteri sampai bangsa Vandal dan Visigoth, yang memiliki sejumlah besar kavaleri dalam ketentaraan mereka.[144] Pada awal periode invasi, stirrup tak diperkenalkan dalam perang, yang membatasi pemakaian kavaleri sebagai pasukan kejut karena ini tak memungkinkan untuk menempatkan pasukan kuda penuh dan penunggang selain ledakan yang disulut oleh penunggang tersebut.[145] Perubahan terbesar dalam urusan militer pada periode invasi adalah adopsi busur komposit Hunnik menggantikan busur komposit Skitia.[146] Pengembangan lainnya adalah peningkatan pemakaian pedang laras panjang[147] dan penggantian progresif dari zirah skala oleh zirah surat dan zirah lamela.[148]

Pengaruh infanteri dan kavaleri ringan mulai berkurang pada masa Karoling awal, dengan pertumbuhan dominasi kavaleri berat elit. Pemakaian levi-levi jenis militia dari populasi bebas menurun di sepanjang periode Karoling.[149] Meskipun kebanyakan tentara Karoling adalah penunggang, sebagian besar pada masa awalnya tampak adalah infanteri penunggang, ketimbang kavaleri sebenarnya .[150] Satu pengecualian adalah Inggris Angli-Saksen, dimana tentara masih terdiri dari levi-levi regional, yang dikenal sebagai fyrd, yang dipimpin oleh kalangan elit lokal.[151] Dalam teknologi militer, salah satu perubahan utama adalah pengembalian busur silang, yang dikenal pada zaman Romawi dan dikembalikan sebagai senjata militer pada bagian akhir Abad Pertengahan Awal.[152] Perubahan lainnya adalah pengenalan stirrup, yang meningkatkan keefektifan kavaleri sebagai pasukan kejut. Kemajuan teknologi yang memiliki implikasi di luar militer adalah sepatu kuda, yang membolehkan kuda untuk dipakai di tanah berbatu.[153]

Puncak Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat dan perekonomian[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi naskah Perancis Abad Pertengahan dari tiga kelas masyarakat abad pertengahan: orang yang berdoa (rohaniwan), orang yang bertarung (kesatria), dan orang yang bekerja (petani).[154] Hubungan antara kelas-kelas tersebut diatur oleh feodalisme dan manorialisme.[155] (Li Livres dou Sante, abad ke-13)

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode perluasan populasi yang menegangkan. Perkiraan populasi Eropa bertumbuh dari 35 sampai 80 juta antara tahun 1000 dan 1347, meskipun sebab-sebabnya masih belum jelas: pengaruh teknik pertanian, penurunan perbudakan, iklim lebih bersahabat dan kurangnya invasi semuanya telah disugestikan.[156][157] Sekitar 90 persen populasi Eropa masih menjadi petani desa. Beberapa orang tak bermukim lama di kebun terisolasi namun berkumpul dalam komunitas kecil, biasanya dikenal sebagai manor atau desa.[157] Kaum petani sering menjadi subyek dari tuan tanah bangsawan dan memberikan mereka sewaan dan jasa lainnya, dalam sistem yang dikenal sebagai manorialisme. Masih ada beberapa petani bebas di sepanjang masa ini dan seterusnya,[158] dengan jumlah mereka di wilayah Eropa Selatan melebihi jumlah mereka di wilayah utara. Praktik mengirim lahan dalam produksi dengan menawarkan insektif kepada petani yang menempatinya, juga berkontribusi pada perluasan populasi.[159]

Bagian masyarakat lainnya meliputi bangsawan, rohaniwan, dan pejabat kota. Bangsawan, baik bangsawan bergelar dan kesatria sederhana, mengeksploitasi manor dan petani, meskipun mereka tak memiliki hak lahan namun meraih hak untuk pendapatan dari sebuah manor atau lahan lainnya oleh seorang tuan tanah melalui sistem feodalisme. Pada abad ke-11 dan ke-12, lahan tersebut, atau fief, dianggap menjadi warisan, dan di kebanyakan wilayah, mereka tak lama terbagi antara seluruh pewaris seperti halnya kasus dalam periode abad pertengahan awal. Sebagai gantinya, kebanyakan fief dan lahan diserahkan kepada putra sulung.[160][Q] Dominasi bangsawan terhimpun atas kontrol lahannya, layanan militernya sebagai kavaleri berat, kontrol istana, dan berbagai imunitas dari perpajakan atau imposisi lainnya.[R] Istana-istana, awalnya berkayu namun kemudian berbatu, mulai dibangun pada abad ke-9 dan ke-10 dalam menanggapi wabah pada masa itu, dan menyediakan perlindungan dari pasukan penginvasi serta membolehkan para tuan tanah bertahan dari para pesaing. Kontrol kastil membolehkan para bangsawan untuk berdekatan dengan raja atau tuan tanah lainnya.[162] Kaum bangsawan terstratifikasi; para raja dan bangsawan berpangkat tertinggi mengkontrol sejumlah besar rakyat jelata dan sebidang lahan besar, serta bangsawan lainnya. Sebaliknya, bangsawan rendah memiliki otoritas atas wilayah lahan yang lebih kecil dan orang yang sedikit. Kesatria adalah bangsawan tingkat terendah; mereka mengkontrol namun tak memiliki lahan, dan melayani bangsawan lainnya.[163][S]

Rohaniwan terbagi dalam dua jenis: rohaniwan sekuler, yang hidup dalam keduniawian, dan rohaniwan reguler, yang hidup di bawah aturan keagamaan dan biasanya menjadi biarawan.[165] Sepanjang periode tersebut, biarawan masih meliputi bagian yang sangat kecil dari populasi, biasanya kurang dari satu persen.[166] Kebanyakan rohaniwan reguler menari diri dari kebangsawanan, kelas sosial yang sama dijadikan sebagai landasan perekrutan untuk kelas atas dari rohaniwan sekuler. Para imam paroki lokal seringkali ditarik dari kelas petani.[167] Pejabat kota sempat menjadi posisi tak lazim, karena mereka tak masuk dalam tiga divisi masyarakat tradisional yakni bangsawan, rohaniwan dan petani. Pada abad ke-12 dan ke-13, pangkat pejabat kota diperluas secara besar-besaran karena kota-kota yang berdiri bertumbuh dan pusat-pusat populasi baru didirikan.[168] Meskipun demikian, sepanjang Abad Pertengahan populasi kota mungkin tak pernah mencapai 10 persen dari total populasi.[169]

Ilustrasi abad ke-13 dari seorang Yahudi (ditandai dengan topi Yahudi) dan Kristen Petrus Alphonsi sedang berdebat

Yahudi juga menyebar di Eropa pada masa tersebut. Komunitas didirikan di Jerman dan Inggris pada abad ke-11 dan ke-12, namun Yahudi Spanyol, yang lama menetap di Spanyol di bawah kekuasaan kaum Muslim, berada di bawah kekuasaan Kristen dan makin mengalami tekanan untuk berpindah ke agama Kristen.[76] Kebanyakan Yahudi bermukim di kota-kota, karena mereka tak boleh memiliki lahan atau menjadi petani.[170][T] Di samping Yahudi, terdapat beberapa non-Kristen lain di tepi Eropa—pagan Slav di Eropa Timur dan Muslim di Eropa Selatan.[171]

Wanita pada Abad Pertengahan resmi diwajibkan menjadi pendamping dari beberapa laki-laki, entah ayah, suami atau kerabat mereka yang lain. Janda, yang seringkali diijinkan mengkontrol kehidupan mereka sendiri, masih dibatasi secara legal. Pekerjaan wanita umumnya terdiri dari rumah tangga atau tugas terinklinsit secara domestik lainnya. Wanita petani biasanya bertanggung jawab atas perawatan rumah tangga, pengasuhan anak, serta berkebun dan beternak hewan di dekat rumah. Mereka dapat memberi pemasukan rumah tangga dengan memintal atau membuat bir di rumah. Pada masa panen, mereka juga diminta untuk membantu pekerjaan ladang.[172] Wanita kota, seperti halnya wanita desa, bertanggung jawab atas rumah tangga, dan juga melakukan perdagangan. Perdagangan yang terbuka untuk wanita beragam tergantung pada negara dan periodenya.[173] Wanita bangsawan bertanggung jawab atas penjalanan rumah tangga, dan secara khusus dapat memegang lahan saat kerabat laki-laki sedang tidak ada, namun mereka biasanya dibatasi dari keikutsertaan dalam urusan militer dan pemerintahan. Satu-satunya peran yang terbuka untuk wanita di Gereja adalah menjadi biarawati, karena mereka tak boleh menjadi imam.[172]

Di Italia Tengah dan Utara, dan di Flandria, kebangkitan kota meningkatkan pemerintahan sendiri yang menunjang pertumbuhan dan menciptakan lingkungan bagi jenis-jenis asosiasi dagang baru. Kota-kota perdagangan di pantai Baltik masuk dalam perjanjian yang dikenal sebagai Liga Hansa, dan republik-republik maritim Italia seperti Venesia, Genoa, dan Pisa meluaskan perdagangan mereka di sepanjang Laut Tengah.[U] Pameran dagang besar dihimpun dan merebak di utara Perancis pada masa itu, membolehkan para pedagang Italia dan Jerman untuk berdagang satu sama lain serta para pedagang lokal.[175] Pada akhir abad ke-13, rute darat dan luar baru ke Timur Jauh dipionirkan, terutama yang dideskripsikan dalam Perjalanan Marco Polo yang ditulis oleh salah satu pedagang, Marco Polo (w. 1324).[176] Disamping kesempatan dagang baru, pengaruh pertanian dan teknologi membolehkan peningkatan dalam ladang penanaman, yang membolehkan jaringan dagang untuk meluas.[177] Peningkatan dagang mendatangkan metode-metode kesepakatan uang yang baru, dan pencetakan emas kembali dilakukan di Eropa, mula-mula di Italia dan kemudian di Perancis dan negara-negara lainnya. Bentuk kontrol komersial baru timbul, membolehkan pembagian di kalangan pedagang. Metode akunting dicanangkan, terutama melalui pemakaian penjilidan buku entri ganda; Surat-surat kredit juga timbul, membolehkan transmisi uang yang mudah.[178]

Bangkitnya kekuasaan negara[sunting | sunting sumber]

Eropa dan Laut Tengah pada tahun 1190

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode formatif dalam sejarah negara Barat modern. Para raja di Perancis, Inggris, dan Spanyol mengkonsolidasikan kekuasaan mereka, dan menghimpun lembaga-lembaga pemerintahan.[179] Kerajaan-kerajaan baru seperti Hongaria dan Polandia, setelah mereka berpindah ke agama Kristen, menjadi kekuatan-kekuatan Eropa Tengah.[180] Bangsa Magyar mendiami Hongaria pada sekitar tahun 900 di bawah Raja Árpád (wafat sekitar tahun 907) setelah serangkiaian invasi pada abad ke-9.[181] Kepausan, yang lama memegang ideologi merdeka dari raja-raja sekuler, mula-mula memegang klaimnya atas otoritas temporal pada seluruh dunia Kristen; Monarki Kepausan mencapai puncaknya pada awal abad ke-13 di bawah kepausan Innosensius III (menjabat 1198–1216).[182] Perang Salib Utara dan pergerakan kerajaan-kerajaan Kristen dan tatanan militer ke wilayah-wilayah yang sebelumnya pagan di Baltik dan timur laut Finlandia mengirim asimilasi paksa pada sejumlah suku bangsa asli ke dalam budaya Eropa.[183]

Pada awal Abad Pertengahan Tinggi, Jerman dikuasai oleh dinasti Ottonia, yang berjuang untuk menguasai para adipati berkuasa yang memerintah atas kadipaten-kadipaten yang telah berdiri sejak periode Migrasi. Pada 1024, mereka digantikan oleh dinasti Salia, yang dikenal karena bentrok dengan kepausan di bawah Kaisar Henry IV (memerintah 1084–1105) atas pelantikan Gereja sebagai bagian dari Kontroversi Penobatan.[184] Para penerusnya melanjutkan perjuangan melawan kepausan serta bangsawan Jerman. Periode tak stabil menyusul kematian Kaisar Henry V (memerintah 1111–25), yang wafat tanpa pewaris, sampai Frederick I Barbarossa (memerintah 1155–90) memegang tahta kekaisaran.[185] Meskipun ia secara efektif berkuasa, masalah-masalah dasar masih ada, dan para penerusnya meneruskan perjuangan pada abad ke-13.[186] Cucu Barbarossa Frederick II (memerintah 1220–1250), yang juga menjadi pewaris tahta Sisilia melalui ibunya, berulang kali bentrok dengan kepausan. Pemerintahannya dikenal karena para cendekiawannya dan ia seringkali dituduh menjadi bidah.[187] Ia dan para penerusnya menghadapi beberapa kesulitan, termasuk invasi bangsa Mongol ke Eropa pada pertengahan abad ke-13. Bangsa Mongol mula-mula merebut kepangeranan-kepangeranan Rus Kiev dan kemudian menginvasi Eropa Timur pada 1241, 1259, dan 1287.[188]

Tapestri Bayeux (detail) menampilkan William si Penakluk (tengah), para saudara tirinya Robert, Count of Mortain (kanan) dan Odo, Uskup Bayeux di Kadipaten Normandy (kiri)

Di bawah wangsa Capet, monarki Perancis perlahan mulai meluaskan otoritasnya atas kebangsawanan, bertumbuh dari Île-de-France menjadi kontrol atas wilayah selain negara tersebut pada abad ke-11 dan ke-12.[189] Mereka menghadapi persaingan kuat dengan para Adipati Normandy, yang pada 1066 berada di bawah William si Penakluk (menjabat 1035–1087), menguasai Inggris (memerintah 1066–87) dan membuat kekaisaran antar selat yang berlangsung sepanjang Abad Pertengahan, dalam berbagai bentuk.[190][191] Bangsa Norman juga bermukim di Sisilia dan selatan Italia, saat Robert Guiscard (w. 1085) mendarat disana pada 1059 dan mendirikan sebuah kadipaten yang kemudian menjadi Kerajaan Sisilia.[192] Di bawah dinasti Angevin dari Henry II (memerintah 1154–89) dan putranya Richard I (memerintah 1189–99), para raja Inggris memerintah atas Inggris dan sebagian besar Perancis,[193][V] mengirim keluarga tersebut melalui pernikahan Henry II dengan Eleanor dari Aquitaine (wafat 1204), pewaris sebagian besar selatan Perancis.[195][W] Adik Richard John (memerintah 1199–1216) kehilangan Normandy dan sisa wilayah Perancis utara pada 1204 dari Raja Perancis Philip II Augustus (memerintah 1180–1223). Ini berujung pada keretakan antar bangsawan Inggris, sementara pengeluaran finansial John untuk membayar upaya gagalnya untuk merebut kembali Normandy berujung pada Magna Carta tahun 1215, sebuah piagam yang mengkonfirmasikan hak-hak dan pemberian kebebasan di Inggris. Di bawah Henry III (memerintah 1216–72), putra John, pelonggaran makin diberikan kepada kaum bangsawan, dan kekuasaan kerajaan menurun.[196] Monarki Perancis masih dapat melawan kaum bangsawan pada akhir abad ke-12 dan ke-13, membawakan teritorial lebih dalam kerajaan tersebut di bawah kekuasaan pribadi raja dan mensentralisasikan pemerintahan kerajaan.[197] Di bawah Louis IX (memerintah 1226–70), prestise kerajaan bertumbuh pada puncak barunya saat Louis bertugas sebagai mediator untuk sebagian besar Eropa.[198][X]

Di Iberia, negara-negara Kristen, yang terbentang di bagian barat laut semenanjung tersebut, mulai menekan negara-negara Islam di selatan, sebuah periode yang dikenal sebagai Reconquista.[200] Pada sekitar 1150, umat Kristen di wilayah utara terhimpun dalam lima kerajaan besar yakni León, Kastila, Aragon, Navarre, and Portugal.[201] Iberia Selatan masih berada di bawah kekuasaan negara-negara Islam, yang awalnya berada di bawah Kekhalifahan Córdoba, pecah pada tahun 1031 menjadi sejumlah negara yang dikenal sebagai taifa,[200] yang bertarung dengan Kristen sampai Kekhalifahan Almohad mendirikan kembali pemerintahan tersentralisasi atas Iberia Selatan pada 1170an.[202] Pasukan Kristen maju kembali pada awal abad ke-13, memuncak dalam penaklukan Sevilla pada tahun 1248.[203]

Perang Salib[sunting | sunting sumber]

Krak des Chevaliers dibangun pada masa Perang Salib untuk Knights Hospitaller.[204]

Pada abad ke-11, Turki Seljuk merebut sebagian besar Timur Tengah, menduduki Persia pada 1040, Armenia pada 1060an, dan Yerusalem pada 1070. Pada 1071, tentara Turki mengalahkan tentara Bizantin di Pertempuran Manzikert dan menangkap Kaisar Bizantin Romanus IV (r. 1068–71). Bangsa Turk kemudian bebas untuk menginvasi Asia Kecil, yang menimbulkan ledakan berbahaya bagi Kekaisaran Bizantin dengan merebut sebagian besar populasinya dan jantung ekonominya. Meskipun Bizantin menyatukan kembali dan memulihkan beberapa wilayah, mereka tak pernah sepenuhnya mendapatkan kembali Asia Kecil dan seringkali bersifat defensif. Bangsa Turk juga memiliki kesulitan, kehilangan kekuasaan atas Yerusalem dari Kekhalifahan Fatimiyah dari Mesir dan mengalami serangkaian perang saudara internal.[205] Pasukan Bizantin juga menghadapi kebangkitan dari Bulgaria, yang pada akhir abad ke-12 dan ke-13 menyebar di seluruh Balkan.[206]

Perang salib bertujuan untuk merebut Yerusalem dari kekuasaan Muslim. Perang Salib Pertama diproklamasikan oleh Paus Urbanus II (menjabat 1088-99) di Konsili Clermont pada 1095 dalam menanggapi sebuah permintaan dari Kaisar Bizantin Alexios I Komnenos (memerintah 1081–1118) untuk bantuan melawan laju Muslim lanjutan. Urbanus menjanjikan indulgensi untuk siapapun yang ikut serta. Sepuluh ribu orang dari seluruh tingkat masyarakat dikerahkan dari sepanjang Eropa dan merebut Yerusalem pada 1099.[207] Salah satu fitur dari perang salib adalah pogrom melawan Yahudi lokal yang seringkali terjadi saat pasukan salibis meninggalkan negara-negara mereka ke wilayah Timur. Ini secara khusus menjadi brutal saat Perang Salib Pertama,[76] saat komunitas Yahudi di Koln, Mainz, dan Worms dihancurkan, dan komunitas lainnya di kota-kota antar sungai Seine dan Rhine mengalami penghancuran.[208] Pertumbuhan perang salib lainnya menjadi fondasi dari jenis baru tatanan monastik, ordo militer Templar dan Hospitaller, yang memadukan kehidupan monastik dengan penugasan militer.[209]

Pasukan salibis mengkonsolidasikan penaklukan mereka melalui negara-negara salibis. Pada abad ke-12 dan ke-13, terdapat serangkaian konflik antara negara-negara tersebut dan negara-negara Islam di sekitarnya. Banding dari negara-negara tersebut kepada kepausan berujung pada perang salib lanjutan,[207] seperti Perang Salib Ketiga, yang menyerukan perebutan kembali Yerusalem, yang telah direbut oleh Saladin (w. 1193) pada 1187.[210][Y] Pada 1203, Perang Salib Keempat terbentang dari Tanah Suci sampai Konstantinopel, dan kota tersebut direbut pada 1204, menghimpun sebuah Kekaisaran Latin Konstantinopel[212] dan sangat membangkitkan Kekaisaran Bizanti. Kekaisaran Bizantin merebut lagi kota tersebut pada 1261, namun tak meraih meraih kembali kekuatan lama mereka.[213] Pada 1291, seluruh negara salibis ditaklukkan atau disingkirkan dari dataran utama, meskipun Kerajaan Yerusalem tituler masih bertahan di pulau Siprus selama beberapa tahun setelahnya.[214]

Para Paus menyerukan agar perang-perang salib dilakukan di tempat lainnya di samping Tanah Suci: Spanyol, selatan Perancis, dan sepanjang Baltik.[207] Perang salib Spanyol berpadu dengan Reconquista Spanyol dari kaum Muslim. Meskipun Templar dan Hospitaller ikut serta dalam perang salib Spanyol, ordo-ordo militer relijius Spanyol serupa dihimpun, kebanyakan menjadi bagian dari dua ordo utama Calatrava dan Santiago pada permulaan abad ke-12.[215] Eropa Utara juga masih berada di luar pengaruh Kristen sampai abad ke-11 atau pada masa berikutnya, dan menjadi tempat perang salib sebagai bagian dari Perang Salib Utara pada abad ke-12 sampai ke-14. Perang salib tersebut juga membentuk sebuah ordo militer, Order of the Sword Brothers. Ordo lainnya, Teutonic Knights, meskipun dihimpun di negara-negara salibis, kebanyakan memfokuskan kegiatannya di Baltik setelah 1225, dan pada 1309 memindahkan markas besarnya ke Marienburg di Prusia.[216]

Kehidupan ilmiah[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-11, perkembangan dalam filsafat dan teologi berujung pada peningkatan kegiatan intelektual. Terdapat perdebatan antara realis dan nominalis atas konsep "universal". Sumber filsafat distimulasikan oleh penemuan kembali Aristoteles dan pemahamannya dalam empirisme dan rasionalisme. Para cendekiawan seperti Peter Abelard (w. 1142) dan Peter Lombard (w. 1164) mengenalkan logika Aristotelian ke dalam teologi. Pada akhir abad ke-11 dan awal abad ke-12, sekolah-sekolah katedral menyebar di sepanjang Eropa Barat, menandakan peralihan pembelajaran dari biara ke katedral dan kota.[217] Sekolah katedral digantikan oleh universitas yang didirikan di kota-kota besar Eropa.[218] Filsafat dan teologi berpadu dalam skolastisisme, sebuah upaya oleh para cendekiawan abad ke-12 dan ke-13 untuk merekonsiliasikan teks-teks otoritatif, terutama Aristoteles dan Alkitab. Gerakan tersebut berniat untuk memakai kesepakatan sistemik untuk kebenaran dan akal budi[219] dan berpincak dalam pemikiran Thomas Aquinas (w. 1274), yang menulis Summa Theologica, atau Penjelasan Teologi.[220]

Seorang cendekiawan abad pertengahan membuat ukuran-ukuran presise dalam sebuah ilustrasi naskah abad ke-14

Kekesatriaan dan etos cinta negara berkembang dalam ranah kerajaan dan bangsawan. Budaya tersebut terekspresi dalam bahasa-bahasa vernakular ketimbang Latin, dan terdiri dari puisi, cerita, legenda, dan lagu populer yang disebarkan oleh para troubadour, atau penyair pengembara. Seringkali, cerita-cerita tersebut ditulis dalamd chansons de geste, atau "lagu-lagu perbuatan besar", seperti Lagu Roland atau Lagu Hildebrand.[221] Catatan sejarah sekuler dan agama juga diproduksi.[222] Geoffrey dari Monmouth (wafat sekitar tahun 1155) mengkomposisikan Historia Regum Britanniae, sebuah kumpulan cerita dan legenda tentang Arthur.[223] Karya-karya lainnya merupakan sejarah yang lebih jelas, seperti Gesta Friderici Imperatoris karya Otto von Freising (w. 1158) yang menjelaskan perbuatan Kaisar Frederick Barbarossa, atau Gesta Regum karya William dari Malmesbury (wafat sekitar 1143) tentang raja-raja Inggris.[222]

Kajian-kajian hukum maju pada abad ke-12. Hukum sekuler dan hukum kanon, atau hukum gerejawi, dikaji pada Abad Pertengahan Tinggi. Hukum sekuler, atau hukum Romawi, sangat dimajukan oleh penemuan Corpus Juris Civilis pada abad ke-11, dan pada tahun 1100, hukum Romawi diajarkan di Bologna. Ini berujung pada pencatatan dan standarisasi kitab-kitab hukum di seluruh Eropa Barat. Hukum kanon juga dikaji, dan sekitar tahun 1140, seorang biarawan bernama Gratian (dikenal pada abad ke-12), seorang guru di Bologna, menulis apa yang menjadi teks standar dari hukum kanon—Decretum.[224]

Sejumlah hasil pengaruh Yunani dan Islam pada periode ini dalam sejarah Eropa adalah penggantian penomoran Romawi dengan sistem nomor posisional desimal dan penemuan aljabar, yang membuat matematika menjadi makin maju. Astronomi menjadi maju setelah penerjemahan Almagest karya Ptolemi dari bahasa Yunani ke bahasa Latin pada akhir abad ke-12. Pengobatan juga dikaji, khususnya di selatan Italia, dimana pengobatan Islam mempengaruhi sekolah di Salerno.[225]

Teknologi dan militer[sunting | sunting sumber]

Potret Kardinal Hugh dari Saint-Cher oleh Tommaso da Modena, 1352, penggambaran lensa pertama yang diketahui[226]

Pdan ke-13, Eropa memproduksi pertumbuhan ekonomi dan inovasi dalam metode produksi. Kemajuan teknologi besar meliputi penemuan kincir angin, jam mekanikal pertama, pabrik minuman berdistilasi, dan pemakaian astrolabe.[227] Lensa cekung ditemukan sekitar tahun 1286 oleh seorang artisan Italia yang tidak diketahui, mungkin bekerja di dalam atau dekat Pisa.[228]

Pengembangan sistem rotasi tiga bidang untuk penanaman tanaman[157][Z] meningkatkan pemakaian lahan dari satu setengah pemakaian setiap tahun di bawah sistem dua bidang lama menjadi dua per tiga di bawah sistem baru, dengan peningkatan produksi yang dihasilkan.[229] Pengembangan bajak berat yang membolehkan tanah yang keras untuk dijadikan kebun makin efisien, dibantu oleh penyebaran kerah kuda, yang berujung pada pemakaian kuda-kuda bajak menggantikan kerbau. Kuda lebih cepat ketimbang kerbau dan mengurangi pakan, fakta-faktor yang membantu implementasi sistem tiga bidang.[230]

Pembangunan katedral dan istana memajukan teknologi pembangunan, berujung pada pembangunan gedung-gedung batu besar. Struktur-struktur ansilari meliputi balai kota, rumah, jembatan dan peternakan baru.[231] Pembangunan kapal dengan pemakaian metode rib and plank lebih banyak ketimbang sistem lama Romawi mortise and tenon. Penunjangan lain untuk perkapalan meliputi pemakaian layar lateen dan stern-post rudder, keduanya meningkatkan kecepatan pada kapal yang berlayar.[232]

Dalam urusan militer, pemakaian infanteri dengan peran khusus meningkat. Bersama dengan kavaleri berat yang masih dominan, tentara sering meliputi pasukan busur silang penunggang dan infanteri, serta sapper dan teknisi.[233] Busur silang, yang telah dikenal pada Akhir Zaman Kuno, makin dipakai karena peningkatan dalam perang pengepungan pada abad ke-10 dan ke-11.[152][AA] Peningkatan pemakaian busur silang pada abad ke-12 dan ke-13 berujung pada pemakaian helm wajah tertutup, zirah tubuh berat, serta zirah kuda.[235] Bubuk meriam dikenal di Eropa pada pertengahan abad ke-13 dengan pemakaian tercatat dalam perang Eropa oleh Inggris melawan Skotlandia pada 1304, meskipun ini dipakai sebagai sebuah peledak dan bukannya senjata. Meriam dipakai untuk pengepungan pada 1320an, dan senapan genggam dipakai pada 1360an.[236]

Arsitektur, seni rupa, dan seni musik[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-10, pendirian gereja-gereja dan biara-biara berujung pada pengembangan arsitektur baru yang menghimpun bentuk-bentuk Romawi vernakular, dimana istilah "Roman" muncul. Saat tersedia, gedung-gedung bata dan batu Romawi didaur ulang untuk material-material mereka. Dari permulaan tentatif yang dikenal sebagai langgam Romanik perdana, gaya tersebut berkembang dan menyebar ke seluruh Eropa dalam bentuk homogen. Tepat sebelum tahun 1000, terdapat arus besar pembangunan gereja batu di seluruh Eropa.[237] Gedung-gedung berlanggam Romanik memiliki dinding batu masif, diatapi oleh lengkungan semi-melingkar, jendela kecil, dan, di sebagian Eropa, kubah batu melengkung.[238] Portal besar dengan pahatan berwarna dalam relief tinggi menjadi fitur utama dari bagian depan, khususnya di Perancis, dan capital dari kolom-kolom seringkali diukir dengan adegan naratif dari monster khayalan dan hewan.[239] Menurut sejarawan seni C. R. Dodwell, "secara virtual seluruh gereja di Barat didekorasi dengan lukisan dinding", dimana beberapa masih ada.[240] Diiringi pengembangan dalam arsitektur gereja, bentuk istana Eropa khas dikembangkan, dan menjadi krusial dalam politik dan perang.[241]

Seni rupa Romanik, khususnya pengerjaan metah, sangat tersofistikasi dalam seni rupa Mosan, dimana tokoh-tokoh artistik khas yang meliputi Nikolas dari Verdun (w. 1205) menjadi tampak, hampir gaya klasik terlihat dalam karya-karya seperti tempat baptis di Liège,[242] berkontras dengan hewan-gewan dari Batang Lilin Gloucester kontemporer. Alkitab dan Mazmur beriluminasi besar menjadi bentuk khas dari naskah mewah, dan lukisan tembok berkembang di gereja-gereja, seringkali menampilkan adegan Penghakiman Akhir di tembok barat, Yesus di Tahta di ujung timur, dan adegan Alkitab naratif di bagian bawah, atau di contoh terbaik yang masih ada, di Saint-Savin-sur-Gartempe, di atap kubah barel.[243]

Bagian dalam Gothik dari Katedral Laon, Perancis

Dari awal abad ke-12, para pembangun Perancis mengembangkan gaya Gothik, ditandai dengan memakai kubah rusuk, lengkungan berujung, buttress melayang, dan jendela kaca besar. Ini biasanya dipakai di gereja-gereja dan katedral-katedral, dan masih dipakai sampai abad ke-16 di sebagian besar Eropa. Contoh-contoh klasik dari arsitektur Gothik meliputi Katedral Chartres dan Katedral Reims di Perancis serta Katedral Salisbury di Inggris.[244] Kaca menjadi unsur krusial dalam rancangan gereja, yang masih memakai lukisan dinding ekstensif, sekarang hampir semuanya lenyap.[245]

Pada periode ini, praktik iluminasi naskah secara bertahap beralih dari biara ke pekerjaan awam, sehingga menurut Janetta Benton "pada tahun 1300, kebanyakan biarawan membawa buku-buku mereka ke toko-toko",[246] dan buku jam dikembangkan sebagai bentuk buku devosional untuk kaum awam. Pengerjaan metal masih menjadi bentuk seni paling prestisius, dengan email Limoges menjadi opsi yang relatif diterima dan populer untuk obyek-obyek seperti relikui dan salib.[247] Di Italia, inovasi Cimabue dan Duccio, disusul oleh master Trecento Giotto (w. 1337), makin meningkatkan sofistikasi dan status lukisan panel dan fresko.[248] Peningkatan kekayaan pada abad ke-12 menghasilkan produksi yang lebih besar dari seni sekuler; beberapa obyek ukiran gading seperti potongan permainan, komb, dan fitur relijius kecil masih ada.[249]

Kehidupan Gereja[sunting | sunting sumber]

Fransiskus Asisi, yang digambarkan oleh Bonaventura Berlinghieri pada tahun 1235, mendirikan Ordo Fransiskan.[250]

Reformasi monastik menjadi masalah penting pada abad ke-11, karena kalangan elit mulai mengkhawatirkan para biarawan tak mengikuti aturan yang mengikat mereka pada kehidupan relijius yang ketat. Pertapaan Cluny, yang didirikan di wilayah Mâcon, Perancis pada tahun 909, didirikan sebagai bagian dari Reformasi Kluniak, sebuah gerakan besar dari reformasi monastik dalam menanggapi kekhawatiran ini.[251] Cluny dengan cepat mendirikan reputasi untuk austeritas dan ketelitian. Ini menunjang kualitas tinggi kehidupan spiritual dengan menempatkan dirinya sendiri di bawah perlindungan kepausan dan memilih abbasnya sendiri tanpa campur tangan kaum awam, sehingga menunjang kemerdekaan ekonomi dan politik dari para penguasa lokal.[252]

Reformasi monastik menginspirasi perubahan dalam Gereja sekuler. Gagasan adalah bahwa ini berdasarkan atas pembawaan kepada kepausan oleh Paus Leo IX (menjabat 1049–1054), dan memberikan ideologi kebebasan klerikal yang berujung pada Kontroversi Penobatan pada akhir abad ke-11. Ini melibatkan Paus Gregorius VII (menjabat 1073–85) dan Kaisar Henry IV, yang awalnya bentrok atas pelantikan episkopal, sebuah sengketa yang berujung pada sebuah pertikaian atas gagasan penobatan, perkawinan rohaniwan, dan simoni. Kaisar memandang perlindungan Gereja sebagai salah satu tanggung jawab serta ingin memberikan hak untuk memilih pilihannya sendiri sebagai uskup di lahannya, namun kepausan menginginkan kemerdekaan Gereja dari para penguasa sekuler. Masalah-masalah ini masih belum terpecahkan setelah kompromi tahun 1122 yang dikenal sebagai Konkordat Worms. Persengketaan tersebut mewakili tahap signifikan dalam pembuatan monarki kepausan terpisah dari dan setara dengan otoritas awam. Ini juga memiliki konsekuensi permanen dari para pangeran Jerman berkuasa atas pengeluaran para kaisar Jerman.[251]

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode gerakan agama besar. Disamping Perang Salib dan reformasi monastik, masyarakat didorong untuk ikut dalam bentuk-bentuk kehidupan relijius yang baru. Ordo-ordo monastik baru dibentuk, yang meliputi Kartusian dan Sistersien. Sistersia secara khusus menyebar cepat pada tahun-tahun awal mereka di bawah panduan Bernard dari Clairvaux (w. 1153). Ordo-ordo baru tersebut dibentuk dalam menanggapi perasaan dari kaum awam bahwa monastisisme Benediktin tak selalu memenuhi kebutuhan kaum awam, yang sepanjang dengan orang-orang ingin untuk memasuki kehidupan relijius yang ingin kembali ke monastisisme eremit yang lebih sederhana dari gereja perdana, atau hidup dalam kehidupan Rasuli.[209] Peziarahan agama juga didorong. Situs-situs peziarahan lama seperti Roma, Yerusalem, dan Compostela meraih peningkatan jumlah pengunjung, dan situs-situs baru seperti Biara Monte Sant'Angelo dan Bari makin dikenal.[253]

Pada abad ke-13, ordo-ordo mendikanFransiskan dan Dominikan—yang menyatakan sumpah hidup miskin dan meminta-minta, disepakati oleh kepausan.[254] Kelompok-kelompok keagamaan seperti Waldensian dan Humiliati juga berniat untuk kembali ke kehidupan gereja perdana pada pertengahan abad ke-12 dan awal abad ke-13, namun mereka dikecam sebagai bidah oleh kepausan. Yang lainnya bergabung dengan Katar, gerakan bidah lain yang dikecam oleh kepausan. Pada 1209, sebuah perang salib diserukan untuk melawan kaum Katar, Perang Salib Albigensian, yang berpadu dengan Inkuisisi abad pertengahan, untuk menyingkirkan mereka.[255]

Akhir Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Perang, bencana kelaparan, dan wabah penyakit[sunting | sunting sumber]

Tahun-tahun pertama abad ke-14 ditandai oleh bencana-bencana kelaparan, berpuncak pada Bencana Kelaparan Besar 1315–17.[256] Sebab-sebab Bencana Kelaparan Besar tersebut meliputi transisi lambat dari Periode Hangat Abad Pertengahan dan Zaman Es Kecil, yang membuat populasi menurun karena suaca buruk yang menyebabkan gagal panen.[257] Tahun 1313–14 dan 1317–21, Eropa mengalami hujan terus menerus, mengakibatkan persebaran gagal panen.[258] Perubahan iklim—yang mengakibatkan penurunan temperatur tahunan rata-rata untuk Eropa pada abad ke-14—disertai dengan penurunan ekonomi.[259]

Eksekusi beberapa pemimpin jacquerie, dari sebuah naskah abad ke-14 dari Chroniques de France ou de St Denis

Ketegangan tersebut disusul pada 1347 dengan Wabah Hitam, sebuah pandemik yang menyebar ke seluruh Eropa pada tiga tahun berikutnya.[260][AB] Jumlah korban tewas mungkin sekitar 35 juta orang di Eropa, sekitar sepertiga populasi. Kota-kota secara khusus diserang hebat karena kondisi kumuh mereka.[AC] Sebagian besar wilayah banyak yang ditinggal, dan di beberapa tempat, ladang-ladang dibiarkan tak terurus. Upah meningkat karena para tuan tanah kekurangan jumlah buruh yang tersedia pada ladang mereka. Masalah selanjutnya adalah penyewaan rendah dan tuntutan rendah untuk makanan, keduanya terpotong dalam pendapatan pertanian. Para buruh kota juga merasa bahwa mereka memiliki hak untuk meraih yang lebih besar, dan kebangkitan masyarakat pecah di sepanjang Eropa.[263] Salah satu kebangkitan tersebut adalah jacquerie di Perancis, Pemberontakan Petani di Inggris, dan pemberontakan di kota-kota Firenze Italia dan Ghent dan Bruges di Flandria. Trauma wabah berujung pada peningkatan pietas di seluruh Eropa, dimanifestasikan oleh pendirian yayasan-yayasan baru, mortifikasi diri flagelan, dan penindasan Yahudi.[264] Keadaan-keadaan tersebut kemudian digejolakkan dengan kembalinya wabah sepanjang sesi abad ke-14; ini masih menyerang Eropa secara periodikal pada sisa Abad Pertengahan.[260]

Masyarakat dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Masyarakat seluruh Eropa terganggu oleh dislokasi yang disebabkan oleh Wabah Hitam. Lahan-lahan yang menjadi produktif secara marginal telah telah tiada, karena para korban selamat dapat mengakuisisi wilayah yang lebih fertil.[265] Meskipun buruh tani berkurang di Eropa Barat, ini menjadi sangat umum di Eropa Timur, karena para tuan tanah menempatkannya di wilayah kekuasaan mereka yang sebelumnya bebas.[266] Kebanyakan petani di Eropa Barat mengurusi perubahan kerja yang mereka miliki sebelumnya kepada para tuan tanah mereka dalam penyewaan tunai.[267] Persentase buruh tani di kalangan petani menurun dari lebih dari 90 menjadi 50 persen pada akhir periode tersebut.[164] Tuan tanah juga menjadi lebih peka terhadap kepentingan umum dengan para tuan tanah lainnya, dan mereka bergabung bersama untuk menuntut hak-hak dari pemerintah mereka. Pada sebagian pendapat tuan tanah, pemerintah berniat untuk melegistasi kembalinya kondisi ekonomi yang ada sebelum Wabah Hitam.[267] Non-rohaniwan menjadi makin melek aksara, dan penduduk kota mulai meniru kepentingan bangsawan dalam hal kekesatriaan.[268]

Komunitas Yahudi diusir dari Inggris pada tahun 1290 dan dari Perancis pada tahun 1306. Meskipun beberapa diijinkan kembali ke Perancis, kebanyakan tidak, dan beberapa Yahudi beremigrasi ke wilayah timur, bermukim di Polandia dan Hongaria.[269] Yahudi diusir dari Spanyol pada 1492, dan berpindah ke Turki, Perancis, Italia dan Holland.[76] Pebangkitan perbankan di Italia pada abad ke-13 berlanjut sepanjang abad ke-14, sebagian dipenuhi oleh peningkatan perang pada masa itu dan kebutuhkan kepausan untuk menggerakan uang antar kerajaan. Beberapa firma perbankan meminjamkan uang kepada pihak kerajaan, dalam resiko besar, karena beberapa bangkrut saat para raja menarik pinjaman mereka.[270][AD]

Kebangkitan negara[sunting | sunting sumber]

Peta Eropa pada tahun 1360

Negara-negara berbasis kerajaan yang kuat berkembang di seluruh Eropa pada Abad Pertengahan Akhir, terutama di Inggris, Perancis, dan kerajaan-kerajaan Kristen di Semenanjung Iberia: Aragon, Kastila, dan Portugal. Konflik-konflik panjang dari periode tersebut menguatkan kontrol kerajaan atas kerajaan-kerajaan mereka dan sangat menyulitkan kaum petani. Para raja diuntungkan dari perang yang melebarkan legislasi kerajaan dan meningkatkan lahan yang mereka kontrol langsung.[271] Pembayaran untuk perang mensyaratkan agar metode-metode perpajakan menjadi lebih efektif dan efisien, dan tingkat perpajakan seringkali meningkat.[272] Persyaratan untuk mengambil konsen terhadap para pembayar pajak membolehkan badan-badan perwakilan seperti Parlemen Inggris dan Estates General Perancis meraih kekuasaan dan otoritas.[273]

Joan dari Arc dalam sebuah gambar abad ke-15

Sepanjang abad ke-14, raja-raja Perancis berniat untuk meluaskan pengaruh mereka di pengeluaran pemegangan teritorial dari kaum bangsawan.[274] Mereka menghadapi kesulitan saat berniat untuk menkonfiskasikan pemegangan raja-raja Inggris di selatan Perancis, berujung pada Perang Ratusan Tahun,[275] yang berlangsung dari 1337 sampai 1453.[276] Pada awal perang, Inggris yang berada di bawah kekuasaan Edward III (memerintah 1327–77) dan putranya Edward, Pangeran Hitam (w. 1376),[AE] memenangkan pertempuran-pertempuran Crécy dan Poitiers, merebut kota Calais, dan memenangkan kontrol atas sebagian besar Perancis.[AF] Hasilnya hampir menyebabkan disintegrasi kerajaan Perancis pada tahun-tahun awal perang.[279] Paabad ke-15, Perancis nyaris kembali menghadapi pembubaran, namun pada akhir 1420an, kesuksesan militer Joan dari Arc (wafat 1431) memimpin kemenangan Perancis dan merebut wilayah Inggris terakhir di selatan Perancis pada 1453.[280] Harga meningkat, karena populasi Perancis pada akhir Perang tampaknya telah menjadi permulaan konflik. Sebaliknya, perang tersebut memiliki efek positif pada identitas nasional Inggris, dimana berbagai identitas lokal masuk ke dalam gagasan Inggris nasional. Konflik dengan Perancis tersebut juga membantu pembentukan budaya nasional di Inggris yang terpisah dari budaya Perancis, yang sebelumnya telah menjadi pengaruh dominan.[281] Dominasi busur panjang Inggris dimulai pada tahap-tahap awal Perang Ratusan Tahun,[282] dan meriam muncul pada medan tempur di Crécy pada 1346.[236]

Di Jerman modern, Kekaisaran Romawi Suci melanjutkan pemerintahan, namun alam eletif dari takhta kekaisaran menandakan bahwa tak ada dinasti yang membuat sebuah negara yang kuat dapat terbentuk.[283] Di sebelah timur, kerajaan-kerajaan Polandia, Hongaria, dan Bohemia bertumbuh kuat.[284] Di Iberia, kerajaan-kerajaan Kristen kembali meraih kekuasaan dari kerajaan-kerajaan Muslim di semenanjung tersebut;[285] Portugal mengkonsekrasikan perluasan wilayah seberang laut pada abad ke-15, sementara kerajaan lainnya dihadapikan oleh kesulitan atas sukses kerajaan dan perhatian lainnya.[286][287] Setelah kekalahan Perang Ratusan Tahun, Inggris mengalami perang saudara panjang yang dikenal sebagai Perang Mawar, yang berlangsung pada 1490an[287] dan baru berakhir saat Henry Tudor (memerintah 1485–1509 sebagai Henry VII) menjadi raja dan mengkonsolisasikan kekuasaan dengan kemenangannya atas Richard III (m. 1483–85) di Bosworth pada 1485.[288] Di Skandinavia, Margaret I dari Denmark (memerintah di Denmark 1387–1412) mengkonsolidasikan Norwegia, Denmark, dan Swedia dalam Uni Kalmar, yang berlangsung sampai 1523. Kekuatan besar di sekitaran Laut Baltik adalah Liga Hansa, sebuah konfederasi komersial dari negara-negara kota yang berdagang dari Eropa Barat ke Rusia.[289] Skotlandia timbul dari dominasi Inggris di bawah Robert the Bruce (memerintah 1306–29), yang menyatakan pengakuan kepausan dari kekerabatannya pada 1328.[290]

Keruntuhan Bizantium[sunting | sunting sumber]

Meskipun para kaisar Palaeologi merebut kembali Konstantinopel dari bangsa Eropa Barat pada 1261, mereka tak pernah dapah merebut kembali kontrol sebagian besar bekas wilayah kekaisaran. Mereka biasanya hanya menguasai sebagian kecil Semenanjung Balkan di dekat Konstantinopel, kota itu sendiri, dan beberapa wilayah pantai di Laut Hitam dan sekitaran Laut Aegea. Bekas wilayah Bizantium di Balkan terbagi antara Kerajaan Serbia baru, Kekaisaran Bulgaria Kedua dan kota-negara Venesia. Kekuasaan para kaisar Bizantin diancam oleh sebuah suku Turki baru, Utsmaniyah, yang menghimpun diri mereka sendiri di Anatolia pada abad ke-13 dan cepat meluas sepanjang abad ke-14. Utsmaniyah meluas ke Eropa, membuat Bulgaria menjadi negara vasal pada 1366 dan merebut Serbia setelah kekalahannya di Pertempuran Kosovo pada 1389. Bangsa Eropa Barat mengerahkan pasukan Kristen di Balkan dan menyerukan perang salib baru pada 1396; tentara besar dikirim ke Balkan, dimana pasukan tersebut kalah di Pertempuran Nicopolis.[291] Konstantinopel akhirnya direbut oleh Utsmaniyah pada 1453.[292]

Sengketa dalam Gereja[sunting | sunting sumber]

Guy dari Boulogne memahkotai Paus Gregorius XI dalam sebuah miniatur dari Chroniques Froissart

Pada abad ke-14, persengketaan kepemimpinan Gereja berujung pada Kepausan Avignon tahun 1309–76,[293] juga disebut "Pembuangan Babel Kepausan" (merujuk pada zaman pembuangan Babel yang dialami umat Yahudi),[294] dan kemudian Skisma Besar, yang berlangsung dari 1378 sampai 1418, saat terdapat dua dan kemudian tiga paus pesaing, masing-masing didukung oleh beberapa negara.[295] Para pejabat gereja dikumpulkan di Konsili Konstans pada 1414, dan pada tahun berikutnya, konsili tersebut mendepak salah satu paus pesaing, meninggalkan dua pengklaim. Pendepakan lanjutan berlanjut, dan pada November 1417, konsili tersebut memilih Martinus V (menjabat 1417–31) sebagai paus.[296]

Disamping skisma, Gereja Barat dihadapkan oleh kontroversi teologi, beberapa berujung pada bidah. Yohanes Wycliffe (wafat 1384), seorang teolog Inggris, dikecam sebagai bidah pada 1415 karena mengajarkan bahwa kaum awam harus mengakses teks Alkitab serta memegang pandangan tentang Ekaristi yang berlawanan dengan doktrin Gereja.[297] Pengajaran Wycliffe mempengaruhi dua gerakan bidah besar dari Abad Pertengahan Akhir: Lollardy di Inggris dan Husitisme di Bohemia.[298] Gerakan Bohemia diinisiasikan dengan pengajaran Jan Hus, yang dibakar di perapian pada 1415 setelah dikecam sebagai heretik oleh Konsili Konstans. Gereja Husite, meskipun menjadi target sebuah perang salib, bertahan sampai setelah Abad Pertengahan.[299] Bidah lainnya timbul, seperti tuduhan melawan Kesatria Templar yang mengakibatkan penekanan mereka pada 1312 dan perpecahan kekayaan besar mereka antara Raja Perancis Philip IV (m. 1285–1314) dan Hospitaller.[300]

Kepausan kemudian merefinisasikan praktik dalam Misa pada Abad Pertengahan Akhir, menyatakan bahwa hanya rohaniwan yang diijinkan untuk mengangkat anggur dalam Ekaristi. Ini kemudian menjauhkan awam sekuler dari rohaniwan. Kaum awam masih mempraktikkan peziarahan, pemuliaan relik, dan keyakinan akan kekuatan Jahat. Para mistikus seperti Meister Eckhart (w. 1327) dan Thomas à Kempis (w. 1471) menulis karya-karya yang mengajarkan kaum awam untuk berfokus pada kehidupan spiritual dalam mereka, yang menjadi karya landasan bagi Reformasi Protestan. Disamping mistisisme, keyakinan akan penyihir dan sihir menjadi merebak, dan pada akhir abad ke-15, Gereja mulai memegang kekhawatiran umum atas sihir dengan mengecam sihir pada 1484 dan publikasi pada tahun 1486 dari Malleus Maleficarum, sebuah buku pegangan paling populer untuk para pemburu penyihir.[301]

Ilmuwan, cendekiawan, dan penjelajahan[sunting | sunting sumber]

Pada Akhir Abad Pertengahan, para teolog seperti Yohanes Duns Scotus (wafat 1308)[AG] dan William dari Ockham (wafat ca. 1348),[219] berujung pada sebuah reaksi melawan skolastisisme, yang menempatkan aplikasi akal budi kepada iman. Upaya mereka menimbulkan gagasan Platonik dari "alam semesta". Insistensi Ockham bahwa akal budi beroperasi secara terpisah dari iman membolehkan sains terpisah dari teologi dan filsafat.[302] Kajian-kajian hukum ditandai oleh kemajuan dari hukum Romawi dalam wilayah yurisprudensi yang sebelumnya diperintah oleh hukum adat. Pengecualian tunggal untuk tren ini adalah di Inggris, dimana hukum umum masih didahulukan. Negara-negara lain mengkitabkan hukum-hukum mereka; kitab-kitab hukum diundangkan di Kastila, Polandia, dan Lituania.[303]

Para rohaniwan mempelajari astronomi dan geometri, Perancis, awal abad ke-15

Pendidikan masih banyak berfokus pada pelatiohan rohaniwan masa depan. Pembelajaran dasar dari huruf dan angka masih menjadi penanganan dari keluarga atau seorang imam desa, namun pelajaran-pelajaran menengah dari trivium—tata bahasa, retorika, logika—dipelajari di sekolah-sekolah katedral atau sekolah-sekolah yang disediakan oleh kota-kota. Sekolah-sekolah menengah komersial merebak, dan beberapa kota Italia memiliki lebih dari satu wirausaha semacam itu. Universitas-universitas juga merebak di sepanjang Eropa pada abad ke-14 dan ke-15. Tingkat melek aksara kaum awam meningkat, namun masih rendah; satu perkiraan menyatakan bahwa tingkat melek aksara adalah sepuluh persen laki-laki dan satu persen perempuan pada tahun 1500.[304]

Pada awal abad ke-15, negara-negara di semenanjung Iberia mulai mensponsori penjelajahan di luar perbatasan Eropa. Pangeran Henry si Navigator dari Portugal (w. 1460) mengirim penjelajahan-penjelajahan yang menemukan Kepulauan Kanari, Azores, dan Tanjung Verde pada masa hidupnya. Setelah kematiannya, penjelajahan berlanjut; Bartolomeu Dias (w. 1500) datang ke sekitaran Tanjung Harapan pada tahun 1486 dan Vasco da Gama (w. 1524) berlayar ke sekitaran Afrika sampai India pada tahun 1498.[305] Monarki-monarki Spanyol terpadu dari Kastilia dan Aragon mensponsori perjalanan penjelajahan oleh Christopher Columbus (w. 1506) pada tahun 1492 yang menemukan benua Amerika.[306] Takhta Inggris di bawah Henry VII mensponsori perjalanan John Cabot (w. 1498) pada tahun 1497, yang mendarat di Pulau Tanjung Breton.[307]

Perkembangan teknologi dan militer[sunting | sunting sumber]

Kalender pertanian, s. 1470, dari sebuah naskah Pietro de Crescenzi

Salah satu pengembangan besar dalam bidang militer pada Abad Pertengahan Akhir adalah peningkatan pemakaian infanteri dan kavaleri ringan.[308] Inggris juga mengerahkan pasukan busur panjang, namun negara lainnya tak dapat membuat pasukan serupa dengan kesuksesan yang sama.[309] Zirah masih dimajukan, disertai oleh peningkatan kekuatan busur silang, dan zirah plat dikembangkan untuk melindungi para prajurit dari busur-busur silang serta senapan genggam yang dikembangkan.[310] Senjata tongkat meraih ketenaran baru dengan pengembangan infanteri Flemish dan Swiss yang bersenjatakan dengan tombak dan busur panjang lainnya.[311]

Dalam pertanian, peningkatan pemakaian domba dengan wol berserat panjang membolehkan pengolahan yang lebih kuat. Selain itu, alat tenun menggantikan alat tradisional untuk menenun wol, melipatgandakan produksi menjadi tiga kali lipat.[312][AH] Kurangnya penyempurnaan teknologi yang masih sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari adalah pemakaian kancing sebagai penutup untuk garmen, yang membolehkan untuk fitting yang lebih baik tanpa merenda busana pada pemakainya.[314] Kincir angin disempurnakan dengan pembuatan kincir menara, membolehkan bagian atas dari kincir angin berputar di sekitaran wajah pengarahan dari angin yang berhembus.[315] Tanur tiup muncul pada sekitar tahun 1350 di Swedia, meningkatkan jumlah besi yang diproduksi dan menunjang mutunya.[316] Hukum paten pertama pada 1447 di Venesia melindungi hak para penemu atas penemuan mereka.[317]

Seni rupa dan arsitektur pada Akhir Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Gambar suasana bulan Februari dalam naskah beriluminasi buatan abad ke-15, Très Riches Heures du Duc de Berry

Secara keseluruhan, kurun waktu Akhir Abad Pertengahan di Eropa bertepatan dengan kurun waktu budaya Trecento dan kurun waktu budaya Awal Abad Pembaharuan di Italia. Eropa Utara dan Spanyol masih menggunakan gaya seni Gotik, yang semakin halus dan rumit pada abad ke-15, sampai menjelang akhir dari kurun waktu tersebut. Gotik Internasional adalah sebuah gaya khas yang mencapai sebagian besar Eropa pada dekade-dekade sekitar 1400, menghasilkan mahakarya seperti Très Riches Heures du Duc de Berry.[318] Seluruh seni rupa sekuler Eropa masih meningkat dalam kuantitas dan kualitas, dan pada abad ke-15, kelas-kelas saudagar Italia dan Flandria menjadi patron-patron menonjol, mengkomisikan potret-potret kecil dari diri mereka sendiri dalam minyak serta tingkat pertumbuhan barang-barang mewah seperti perhiasan, ukiran gading, kotak cassone, dan tembikar maiolica. Barang-barang tersebut juga meliputi perangkat Hispano-Moresque yang dibuat oleh sebagian besar pembuat tembikar Mudéjar di Spanyol. Meskipun kerajaan memiliki kumpulan plat tingkat tinggi, sedikit yang masiha da kecuali untuk Royal Gold Cup.[319] Pabrik sutra Italia dikembangkan, sehingga gereja-gereja dan kalangan elit Barat tak perlu mengimpor dari Bizantium atau dunia Islam. Di Perancis dan Flandria, dewangga yang menampilkan set-set seperti Gadis dan Unicorn menjadi industri mewah besar.[320]

Skema-skema pahatan eksternal besar dari gereja-gereja Gotik Timur memberikan jalan untuk pemahatan lebih di dalam bangunan tersebut, karena makam-makam menjadi makin banyak dan fitur-fitur lainnya seperti mimbar-mimbar gereja terkadang diukir, seperti dalam mimbar karya Giovanni Pisano di Gereja Santo Andreas. Melukis atau mengukir meja altar kayu menjadi hal umum, khususnya saat gereja-gereja membuat beberapa kapel sampingan. Lukisan Belanda Awal karya para seniman seperti Jan van Eyck (wafat 1441) dan Rogier van der Weyden (wafat 1464) bersaing di Italia, sesuai yang tertulis dalam naskah-naskah beriluminasi utara, yang pada abad ke-15 mulai dikoleksi sejumlah besar kalangan elit sekuler, yang juga mengekomisikan buku-buku sekuler, khususnya sejarah. Dari sekitar tahun 1450, buku-buku cetak makin populer, meskipun masih mahal. Terdapat sekitar 30,000 edisi berbeda dari incunabula, atau karya-karya yang dicetak sebelum tahun 1500,[321] dimana naskah-naskah beriluminasi hanya dikomisikan oleh kaum kerajaan dan sedikit orang lainnya. Cukil-Cukil kayu yang sangat kecil, hampir semuanya keagamaan, dipegang oleh para petani di bagian Eropa Utara dari pertengahan abad ke-15. Engravir yang lebih mahal disuplai ke pasar yang lebih kaya dengan beragam gambar.[322]

Anggapan-anggapan modern[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi Bumi Bulat dari Abad Pertengahan dalam salinan abad ke-14 dari naskah L'Image du monde

Abad Pertengahan kerap diolok-olok sebagai "zaman kebodohan dan takhayul" manakala "kata-kata para pemuka agama lebih dihargai daripada pengalaman dan pemikiran pribadi."[323] Olok-olok semacam ini berasal dari Abad Pembaharuan dan Abad Pencerahan, manakala para ilmuwan membanding-bandingkan budaya ilmiah mereka dengan budaya ilmiah Abad Pertengahan. Para ilmuwan Abad Pembaharuan menganggap Abad Pertengahan adalah kurun waktu kemerosotan dari budaya dan peradaban tinggi dunia klasik; sementara para ilmuwan Abad Pencerahan menganggap akal budi lebih unggul daripada iman, dan oleh karena itu menganggap Abad Pertengahan sebagai zaman kebodohan dan takhayul.[13]

Sejumlah pihak justru beranggapan bahwa umumnya akal budi sangat dijunjung tinggi pada Abad Pertengahan. Sejarawan ilmu pengetahuan, Edward Grant, pernah mengemukakan dalam tulisannya bahwa "munculnya gagasan-gagasan rasional yang revolusioner pada Abad Pencerahan hanya mungkin terjadi jika pada Abad Pertengahan sudah ada tradisi panjang yang menetapkan pemberdayaan akal budi sebagai salah satu aktivitas manusia yang terpenting".[324] Selain itu David Lindberg pernah menulis bahwa, bertentangan dengan keyakinan umum, "ilmuwan Akhir Abad Pertengahan jarang sekali menerima ancaman dari Gereja dan tentunya merasa bebas (khususnya di bidang ilmu pengetahuan alam) untuk menuruti akal budi dan hasil pengamatan ke arah mana pun ia dituntun".[325]

Olok-olok terhadap Abad Pertengahan juga terungkap dalam beberapa anggapan tertentu. Salah satu kesalahpahaman mengenai Abad Pertengahan, yang pertama kali digembar-gemborkan pada abad ke-19[326] dan masih lazim dijumpai sekarang ini, adalah prasangka bahwa semua orang pada Abad Pertengahan percaya kalau Bumi itu datar.[326] Anggapan ini keliru, karena para dosen di universitas-universitas Abad Pertengahan pada umumnya berpendapat bahwa bukti-bukti menunjukkan kalau Bumi itu bulat.[327] Lindberg dan Ronald Numbers, ilmuwan-ilmuwan lain dari abad ke-19, menyatakan bahwa "nyaris tidak ada ilmuwan Kristen pada Abad Pertengahan yang tidak mengakui bahwa Bumi itu bulat, dan bahkan sudah memperkirakan panjang keliling Bumi".[328] Kesalahpahaman-kesalahpahaman lain seperti "Gereja melarang otopsi dan bedah jenazah pada Abad Pertengahan", "pertumbuhan agama Kristen mematikan ilmu pengetahuan kuno", atau "Gereja pada Abad Pertengahan menghambat perkembangan filsafat alam", semuanya dikutip oleh Ronald Numbers sebagai contoh dari mitos-mitos yang tersebar luas dan masih saja dianggap sebagai kebenaran sejarah, sekalipun tidak didukung oleh kajian sejarah mutakhir.[329]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Inilah tahun ketika para Kaisar Romawi Barat yang terakhir tersingkir dari Italia.[11]
  2. ^ Sebuah buku rujukan yang diterbitkan pada 1883 menyamakan Abad Kegelapan dengan Abad Pertengahan, namun sejak 1904, dipelopori oleh William Paton Ker, istilah "Abad Kegelapan" pada umumnya dibatasi untuk bagian permulaan dari Abad Pertengahan. Sebagai contoh, Encyclopædia Britannica edisi tahun 1911 memberikan definisi Abad Kegelapan dengan cara yang sama. Lihat Abad Kegelapan untuk uraian sejarah selengkapnya mengenai istilah ini.
  3. ^ Tatanan yang pada akhirnya terdiri atas dua kaisar bersama senior dan dua kaisar bersama junior ini disebut Tetrarki.[22]
  4. ^ Para kepala pasukan Romawi di daerah itu agaknya mengambil bahan makanan dan perlengkapan-perlengkapan lain yang semestinya diserahkan secara cuma-cuma kepada orang Goth dan malah menjualnya kepada mereka. Pemberontakan dipicu oleh tindakan salah seorang kepala pasukan Romawi yang mencoba menyandera para pemimpin Goth namun gagal menangkap semuanya.[29]
  5. ^ Kadang-kadang tahun 480 Masehi dijadikan sebagai tarikh alternatif, yakni tahun mangkatnya Yulius Nepos, pengganti Romulus Agustulus; Yulius Nepos tetap menyatakan diri sebagai kaisar wilayah barat meskipun hanya menguasai Dalmatia.[11]
  6. ^ Kata "slave" (budak belian) dalam bahasa Inggris berasal dari sebutan bagi orang Slav dalam bahasa Latin, yakni slavicus.[48]
  7. ^ Nama Britania berasal dari nama pemukiman orang Briton ini.[52]
  8. ^ Rombongan-rombongan pariwara semacam ini disebut comitatus oleh para sejarawan, meskipun bukan sebutan yang berasal dari zaman itu. Sebutan ini diadaptasi pada abad ke-19 dari sebuah kata yang digunakan oleh Tacitus, sejarawan abad ke-2, sebagai sebutan bagi kawan-kawan akrab penguasa atau raja.[66] Comitatus terdiri atas para pemuda yang mengabdikan diri kepada penguasa mereka. Jika majikan mereka mangkat, mereka diharapkan untuk bertempur sampai mati menyusul majikannya.[67]
  9. ^ Dzu Nawas, penguasa wilayah yang kini disebut Yaman, menjadi pemeluk agama Yahudi pada 525 dan oleh karena itu mulai memersekusi umat Kristen sehingga mengakibatkan kerajaannya diserang dan ditaklukkan oleh Kerajaan Aksum yang berpusat di Ethiopia.[77]
  10. ^ Bala tentara Muslim telah berhasil merebut kerajaan orang Visigoth di Spanyol, dengan mengalahkan Raja Orang Visigoth yang terakhir, Ruderik (wafat 711 atau 712), dalam Pertempuran Guadalete pada 711, dan merampungkan usaha penaklukan kerajaan itu pada 719.[96]
  11. ^ Negara-negara kepausan bertahan sampai sebagian besar di antaranya direbut oleh Kerajaan Italia pada 1870.[102]
  12. ^ Minuskul Karoling adalah hasil pengembangan aksara unsial buatan Akhir Abad Kuno, yang merupakan ragam penulisan aksara Latin dalam ukuran yang lebih kecil dan bentuk yang lebih luwes daripada ukuran dan bentuk klasik.[106]
  13. ^ Wilayah Kekaisaran Karoling sempat dipersatukan kembali, meskipun tidak bertahan lama, oleh Karel III yang dijuluki "Si Gemuk", pada 884. Meskipun demikian, kerajaan-kerajaan bagian dari Kekaisaran Karoling tidak digabung menjadi satu, dan tetap menyelenggarakan pemerintahan sendiri-sendiri. Karel Si Gemuk dimakzulkan pada 887, dan wafat pada bulan Januari 888.[111]
  14. ^ Wangsa Karoling pernah digulingkan dari takhta oleh Raja Odo (memerintah 888–898) yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati Paris.[112] Meskipun para anggota dinasti Karoling menjadi para raja di wilayah barat setelah Odo wafat, keluarga Odo juga mensuplai raja-raja—saudara Robert I menjadi raja pada 922–923, dan kemudian keponakan Robert Raoul menjadi raja dari 929 sampai 936—sebelum dinasti Karoling mengklaim kembali takhta tersebut lebih dari sekali.[113]
  15. ^ Hugo Capet adalah cucu dari Robert I, seorang raja dari masa sebelumnya.[113]
  16. ^ Permukiman ini akhirnya bertambah luas dan mengerahkan pasukan untuk menaklukkan Inggris, Sisilia, dan kawasan selatan Italia.[116]
  17. ^ Susunan warisan ini dikenal sebagai primogenitur.[161]
  18. ^ Kavaleri berat diperkenalkan ke Eropa dari katafrak Persia abad ke-5 dan ke-6, namun tambahan stirrup pada abad ke-7 membolehkan pasukan kuda penuh dan penunggang dipakai dalam serangan.[162]
  19. ^ Di Perancis, Jerman dan Negara-negara Dataran Rendah, terdapat jenis tambahan dari "bangsawan", ministerialis, yang merupakan kesatria tak bebas. Mereka merupakan keturunan dari buruh tani yang bertugas sebagai prajurit atau pejabat pemerintah, yang kenaikan status membolehkan para keturunan mereka untuk memegang fief serta menjadi kesatria meskipun secara teknis masih menjadi buruh tani.[164]
  20. ^ Beberapa petani Yahudi masih berada di lahan di bawah kekuasaan Bizantin di wilayah Timur serta beberapa di Kreta di bawah kekuasaan Venesia, namun itu menjadi sebuah pengecualian di Eropa.[170]
  21. ^ Dua kelompok—Jerman dan Italia—memegang kesepakatan berbeda terhadap aransemen dagang mereka. Kebanyakan kota Jerman bekerjasama dalam Liga Hansa, berlawanan dengan negara-kota Italia yang mengadakan keadaan saling berkegantungan.[174]
  22. ^ Pengelompokan lahan ini seringkali disebut Kekaisaran Angevin.[194]
  23. ^ Eleanor sebelumnya menikahi Louis VII dari Perancis (memerintah 1137–80), namun pernikahan mereka kandas pada 1152.[195]
  24. ^ Louis dikanonisasikan pada 1297 oleh Bonifasius VIII.[199]
  25. ^ Ordo-ordo militer relijius seperti Kesatria Templar dan Knights Hospitaller dibentuk dan ingin memainkan peran dalam pada negara-negara salibis.[211]
  26. ^ Ini menyebar ke Eropa Utara pada tahun 1000, dan telah mencapai Polandia pada abad ke-12.[229]
  27. ^ Busur silang terlalu lama untuk diisi kembali, yang membatasi pemakaian mereka di medan tempur terbuka. Dalam pengepungan, kelambatan tersebut tak sebesar kemajuannya, karena pasukan busur silang harus bersembunyi di balik benteng untuk pengisian kembali.[234]
  28. ^ Konsensus sejarah untuk 100 tahun terakhir telah menyatakan bahwa Wabah Hitam adalah bentuk wabah bubonik, namun beberapa sejarawan mulai menantang pandangan tersebut pada tahun-tahun terkini.[261]
  29. ^ Satu kota, Lübeck di Jerman, kehilangan 90 persen dari populasinya akibat Wabah Hitam.[262]
  30. ^ Seperti yang terjadi dalam firma-firma Bardi dan Peruzzi pada 1340an saat Raja Edward III dari Inggris menarik pinjaman mereka kepada mereka.[270]
  31. ^ Julukan Edward diyakini datang dari zirah hitamnya, dan pertama kali dipakai oleh John Leland pada 1530an atau 1540an.[277]
  32. ^ Calais masih berada di tangan Inggris sampai 1558.[278]
  33. ^ Kata "dunce" berasal dari nama Duns Scotus.[302]
  34. ^ Alat tersebut masih sederhana, karena tidak memasukkan roda untuk memisahkan dan menekan serat. Penyempurnaan ini belum ditemukan sampai abad ke-15.[313]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Power Central Middle Ages hlm. 304
  2. ^ a b Mommsen "Petrarch's Conception of the 'Dark Ages'" Speculum hlmn. 236–237
  3. ^ Singman Daily Life hlm. x
  4. ^ Knox "Sejarah Gagasan Abad Pembaharuan"
  5. ^ a b Bruni History of the Florentine people hlm. xvii
  6. ^ Miglio "Curial Humanism" Interpretations of Renaissance Humanism hlm. 112
  7. ^ Albrow Global Age hlm. 205
  8. ^ a b Murray "Should the Middle Ages Be Abolished?" Essays in Medieval Studies hlm. 4
  9. ^ Flexner (ed.) Random House Dictionary hlm. 1194
  10. ^ "Middle Ages" Dictionary.com
  11. ^ a b c Wickham Inheritance of Rome hlm. 86
  12. ^ Lihat Making of Polities Europe 1300–1500 karya Watts, atau Economic History of Later Medieval Europe 1000–1500 oleh Epstein, atau tarikh penutup yang digunakan dalam Oxford History of Medieval Europe oleh Holmes (ed.)
  13. ^ a b Davies Europe hlmn. 291–293
  14. ^ Lihat Companion to Medieval England 1066–1485 oleh Saul
  15. ^ Kamen Spain 1469–1714 hlm. 29
  16. ^ Mommsen "Petrarch's Conception of the 'Dark Ages'" Speculum hlm. 226
  17. ^ Tansey, dkk. Gardner's Art Through the Ages hlm. 242
  18. ^ Cunliffe Europe Between the Oceans hlmn. 391–393
  19. ^ Collins Early Medieval Europe hlm. 3–5
  20. ^ a b Heather Fall of the Roman Empire hlm. 111
  21. ^ a b Brown World of Late Antiquity hlmn. 24–25
  22. ^ a b Collins Early Medieval Europe hlm. 9
  23. ^ Collins Early Medieval Europe hlm. 24
  24. ^ Cunliffe Europe Between the Oceans hlmn. 405–406
  25. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 31–33
  26. ^ Brown World of Late Antiquity hlm. 34
  27. ^ Brown World of Late Antiquity hlmn. 65–68
  28. ^ Brown World of Late Antiquity hlmn. 82–94
  29. ^ Collins Early Medieval Europe hlm. 51
  30. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 47–49
  31. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 56–59
  32. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 80–83
  33. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn . 59–60
  34. ^ a b Cunliffe Europe Between the Oceans hlm. 417
  35. ^ Collins Early Medieval Europe hlm. 80
  36. ^ James Europe's Barbarians hlmn. 67–68
  37. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 117–118
  38. ^ Wickham Inheritance of Rome hlm. 79
  39. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 107–109
  40. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 116–134
  41. ^ Brown, World of Late Antiquity, hlmn. 122–124
  42. ^ Wickham, Inheritance of Rome, hlmn. 95–98
  43. ^ Wickham, Inheritance of Rome, hlmn. 100–101
  44. ^ Collins, Early Medieval Europe, hlm. 100
  45. ^ a b Collins, Early Medieval Europe, hlmn. 96–97
  46. ^ Wickham, Inheritance of Rome, hlmn. 102–103
  47. ^ Backman, Worlds of Medieval Europe, pp. 86–91
  48. ^ Coredon Dictionary of Medieval Terms hlm. 261
  49. ^ James Europe's Barbarians hlmn. 82–88
  50. ^ a b James Europe's Barbarians hlmn. 77–78
  51. ^ James Europe's Barbarians hlmn. 79–80
  52. ^ a b James Europe's Barbarians hlmn. 78–81
  53. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 196–208
  54. ^ Davies Europe hlmn. 235–238
  55. ^ Adams History of Western Art hlmn. 158–159
  56. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 81–83
  57. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 200–202
  58. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 126, 130
  59. ^ a b Bauer History of the Medieval World hlmn. 206–213
  60. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlmn. 8–9
  61. ^ James Europe's Barbarians hlmn. 95–99
  62. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 140–143
  63. ^ Brown World of Late Antiquity hlmn. 174–175
  64. ^ Brown World of Late Antiquity hlm. 181
  65. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlmn. 45–49
  66. ^ Coredon Dictionary of Medieval Terms hlm. 80
  67. ^ Geary Before France and Germany hlmn. 56–57
  68. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 189–193
  69. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 195–199
  70. ^ Wickham Inheritance of Rome hlm. 204
  71. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 205–210
  72. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 211–212
  73. ^ Wickham Inheritance of Rome hlm. 215
  74. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlmn. 24–26
  75. ^ Gies and Gies Life in a Medieval City hlmn. 3–4
  76. ^ a b c d Loyn "Jews" Middle Ages hlm. 191
  77. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 138–139
  78. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 143–145
  79. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 149–151
  80. ^ Reilly Medieval Spains hlmn. 52–53
  81. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlm. 15
  82. ^ Cunliffe Europe Between the Oceans hlmn. 427–428
  83. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 218–219
  84. ^ Grierson "Coinage and currency" Middle Ages
  85. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 218–233
  86. ^ Davies Europe hlmn. 328–332
  87. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 170–172
  88. ^ Colish Medieval Foundations hlmn. 62–63
  89. ^ Lawrence Medieval Monasticism hlmn. 10–13
  90. ^ Lawrence Medieval Monasticism hlmn. 18–24
  91. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 185–187
  92. ^ Hamilton Religion in the Medieval West hlmn. 43–44
  93. ^ Colish Medieval Foundations hlmn. 64–65
  94. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 246–253
  95. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 347–349
  96. ^ Bauer History of the Medieval World hlm. 344
  97. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 158–159
  98. ^ Wickham Inheritance of Rome hlm. 164–165
  99. ^ Stalley Early Medieval Architecture hlm. 73
  100. ^ Bauer History of the Medieval World hlm. 371–378
  101. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlm. 20
  102. ^ Davies Europe hlm. 824
  103. ^ a b Backman Worlds of Medieval Europe hlm. 109
  104. ^ Backman Worlds of Medieval Europe hlmn. 117–120
  105. ^ Davies Europe hlm. 302
  106. ^ Davies Europe hlm. 241
  107. ^ Colish Medieval Foundations hlm. 66–70
  108. ^ Loyn "Language and dialect" Middle Ages hlm. 204
  109. ^ a b Bauer History of the Medieval World hlmn. 427–431
  110. ^ Backman Worlds of Medieval Europe hlm. 139
  111. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 356–358
  112. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 358–359
  113. ^ a b c Collins Early Medieval Europe hlmn. 360–361
  114. ^ Collins Early Medieval Europe hlm. 397
  115. ^ Backman Worlds of Medieval Europe hlmn. 141–144
  116. ^ Davies Europe hlmn. 336–339
  117. ^ Backman Worlds of Medieval Europe hlmn. 144–145
  118. ^ Bauer History of the Medieval World hlmn. 147–149
  119. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 378–385
  120. ^ Collins Early Medieval Europe hlm. 387
  121. ^ Davies Europe hlm. 309
  122. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 394–404
  123. ^ Davies Europe hlmn. 317
  124. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 435–439
  125. ^ Whitton "Society of Northern Europe" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlm. 152
  126. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 439–444
  127. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 385–389
  128. ^ Wickham Inheritance of Rome hlmn. 500–505
  129. ^ Davies Europe hlmn. 318–320
  130. ^ Davies Europe hlmn. 321–326
  131. ^ Crampton Concise History of Bulgaria hlm. 12
  132. ^ Curta Southeastern Europe hlmn. 246–247
  133. ^ Nees Early Medieval Art hlm. 145
  134. ^ Stalley Early Medieval Architecture hlmn. 29–35
  135. ^ Stalley Early Medieval Architecture hlmn. 43–44
  136. ^ Cosman Medieval Wordbook hlm. 247
  137. ^ Stalley Early Medieval Architecture hlmn. 45, 49
  138. ^ Kitzinger Early Medieval Art hlmn. 36–53, 61–64
  139. ^ Henderson Early Medieval hlmn. 18–21, 63–71
  140. ^ Henderson Early Medieval hlmn. 36–42, 49–55, 103, 143, 204–208
  141. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 41–49
  142. ^ Lasko Ars Sacra pp. 16–18
  143. ^ Henderson Early Medieval pp. 233–238
  144. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 28–29
  145. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 30
  146. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 30–31
  147. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 34
  148. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 39
  149. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 58–59
  150. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 76
  151. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 67
  152. ^ a b Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 80
  153. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 88–91
  154. ^ Whitton "Society of Northern Europe" Oxford Illustrated History of Medieval Europe p. 134
  155. ^ Gainty and Ward Sources of World Societies p. 352
  156. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 5–12
  157. ^ a b c Backman Worlds of Medieval Europe p. 156
  158. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 164–165
  159. ^ Epstein Economic and Social History pp. 52–53
  160. ^ Barber Two Cities pp. 37–41
  161. ^ Cosman Medieval Wordbook p. 193
  162. ^ a b Davies Europe pp. 311–315
  163. ^ Singman Daily Life p. 3
  164. ^ a b Singman Daily Life p. 8
  165. ^ Hamilton Religion on the Medieval West p. 33
  166. ^ Singman Daily Life p. 143
  167. ^ Barber Two Cities pp. 33–34
  168. ^ Barber Two Cities pp. 48–49
  169. ^ Singman Daily Life p. 171
  170. ^ a b Epstein Economic and Social History p. 54
  171. ^ Singman Daily Life p. 13
  172. ^ a b Singman Daily Life pp. 14–15
  173. ^ Singman Daily Life pp. 177–178
  174. ^ Epstein Economic and Social History p. 81
  175. ^ Epstein Economic and Social History pp. 82–83
  176. ^ Barber Two Cities pp. 60–67
  177. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 160
  178. ^ Barber Two Cities pp. 74–76
  179. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 283–284
  180. ^ Barber Two Cities pp. 365–380
  181. ^ Davies Europe p. 296
  182. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 262–279
  183. ^ Barber Two Cities pp. 371–372
  184. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 181–186
  185. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 143–147
  186. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 250–252
  187. ^ Denley "Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe pp. 235–238
  188. ^ Davies Europe p. 364
  189. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 187–189
  190. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 59–61
  191. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 189–196
  192. ^ Davies Europe p. 294
  193. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 263
  194. ^ Barlow Feudal Kingdom pp. 285–286
  195. ^ a b Loyn "Eleanor of Aquitaine" Middle Ages p. 122
  196. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 286–289
  197. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 289–293
  198. ^ Davies Europe pp. 355–357
  199. ^ Hallam and Everard Capetian France hlm. 401
  200. ^ a b Davies Europe p. 345
  201. ^ Barber Two Cities p. 341
  202. ^ Barber Two Cities pp. 350–351
  203. ^ Barber Two Cities pp. 353–355
  204. ^ Kaufmann and Kaufmann Medieval Fortress pp. 268–269
  205. ^ Davies Europe pp. 332–333
  206. ^ Davies Europe pp. 386–387
  207. ^ a b c Riley-Smith "Crusades" Middle Ages pp. 106–107
  208. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 397–399
  209. ^ a b Barber Two Cities hlmn. 145–149
  210. ^ Payne Dream and the Tomb pp. 204–205
  211. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 353–356
  212. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 156–161
  213. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 299–300
  214. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades p. 122
  215. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 205–213
  216. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 213–224
  217. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 232–237
  218. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 247–252
  219. ^ a b Loyn "Scholasticism" Middle Ages pp. 293–294
  220. ^ Colish Medieval Foundations pp. 295–301
  221. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 252–260
  222. ^ a b Davies Europe p. 349
  223. ^ Saul Companion to Medieval England pp. 113–114
  224. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 237–241
  225. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 241–246
  226. ^ Ilardi, Renaissance Vision, pp. 18–19
  227. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 246
  228. ^ Ilardi, Renaissance Vision, pp. 4–5, 49
  229. ^ a b Epstein Economic and Social History p. 45
  230. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 156–159
  231. ^ Barber Two Cities p. 68
  232. ^ Barber Two Cities p. 73
  233. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 125
  234. ^ Singman Daily Life p. 124
  235. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 130
  236. ^ a b Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom hlmn. 296–298
  237. ^ Benton Art of the Middle Ages p. 55
  238. ^ Adams History of Western Art pp. 181–189
  239. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 58–60, 65–66, 73–75
  240. ^ Dodwell Pictorial Arts of the West p. 37
  241. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 295–299
  242. ^ Lasko Ars Sacra pp. 240–250
  243. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 91–92
  244. ^ Adams History of Western Art pp. 195–216
  245. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 185–190; 269–271
  246. ^ Benton Art of the Middle Ages p. 250
  247. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 135–139, 245–247
  248. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 264–278
  249. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 248–250
  250. ^ Hamilton Religion in the Medieval West hlm. 47
  251. ^ a b Rosenwein Rhinoceros Bound hlmn. 40–41
  252. ^ Barber Two Cities hlmn. 143–144
  253. ^ Morris "Northern Europe" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlm. 199
  254. ^ Barber Two Cities hlmn. 155–167
  255. ^ Barber Two Cities hlmn. 185–192
  256. ^ Loyn "Famine" Middle Ages hlm. 128
  257. ^ Backman Worlds of Medieval Europe hlmn. 373–374
  258. ^ Epstein Economic and Social History hlm. 41
  259. ^ Backman Worlds of Medieval Europe hlm. 370
  260. ^ a b Schove "Plague" Middle Ages hlm. 269
  261. ^ Epstein Economic and Social History hlmn. 171–172
  262. ^ Singman Daily Life hlm. 189
  263. ^ Backman Worlds of Medieval Europe hlmn. 374–380
  264. ^ Davies Europe hlmn. 412–413
  265. ^ Epstein Economic and Social History hlmn. 184–185
  266. ^ Epstein Economic and Social History hlmn. 246–247
  267. ^ a b Keen Pelican History of Medieval Europe hlmn. 234–237
  268. ^ Vale "Civilization of Courts and Cities" Oxford Illustrated History of Medieval Europe hlmn. 346–349
  269. ^ Loyn "Jews" Middle Ages hlm. 192
  270. ^ a b Keen Pelican History of Medieval Europe hlmn. 237–239
  271. ^ Watts Making of Polities hlmn. 201–219
  272. ^ Watts Making of Polities hlmn. 224–233
  273. ^ Watts Making of Polities hlmn. 233–238
  274. ^ Watts Making of Polities hlm. 166
  275. ^ Watts Making of Polities hlm. 169
  276. ^ Loyn "Hundred Years' War" Middle Ages hlm. 176
  277. ^ Barber Edward hlmn. 242–243
  278. ^ Davies Europe hlm. 545
  279. ^ Watts Making of Polities hlmn. 180–181
  280. ^ Watts Making of Polities hlmn. 317–322
  281. ^ Davies Europe hlm. 423
  282. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom hlm. 186
  283. ^ Watts Making of Polities hlmn. 170–171
  284. ^ Watts Making of Polities hlmn. 173–175
  285. ^ Watts Making of Polities hlm. 173
  286. ^ Watts Making of Polities hlmn. 327–332
  287. ^ a b Watts Making of Polities hlm. 340
  288. ^ Davies Europe hlmn. 425–426
  289. ^ Davies Europe hlm. 431
  290. ^ Davies Europe hlmn. 408–409
  291. ^ Davies Europe hlmn. 385–389
  292. ^ Davies Europe hlm. 446
  293. ^ Thomson Western Church hlmn. 170–171
  294. ^ Loyn "Avignon" Middle Ages hlm. 45
  295. ^ Loyn "Great Schism" Middle Ages hlm. 153
  296. ^ Thomson Western Church hlmn. 184–187
  297. ^ Thomson Western Church hlmn. 197–199
  298. ^ Thomson Western Church hlm. 218
  299. ^ Thomson Western Church hlmn. 213–217
  300. ^ Loyn "Knights of the Temple (Templars)" Middle Ages hlmn. 201–202
  301. ^ Davies Europe hlmn. 436–437
  302. ^ a b Davies Europe hlmn. 433–434
  303. ^ Davies Europe hlmn. 438–439
  304. ^ Singman Daily Life hlm. 224
  305. ^ Davies Europe hlm. 451
  306. ^ Davies Europe hlmn. 454–455
  307. ^ Davies Europe hlm. 511
  308. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom hlm. 180
  309. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom hlm. 183
  310. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom hlm. 188
  311. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom hlm. 185
  312. ^ Epstein Economic and Social History hlmn. 193–194
  313. ^ Singman Daily Life hlm. 36
  314. ^ Singman Daily Life hlm. 38
  315. ^ Epstein Economic and Social History hlmn. 200–201
  316. ^ Epstein Economic and Social History hlmn. 203–204
  317. ^ Epstein Economic and Social History hlm. 213
  318. ^ Benton Art of the Middle Ages hlmn. 253–256
  319. ^ Lightbown Secular Goldsmiths' Work hlm. 78
  320. ^ Benton Art of the Middle Ages hlmn. 257–262
  321. ^ British Library Staff "Incunabula Short Title Catalogue" British Library
  322. ^ Griffiths Prints and Printmaking hlmn. 17–18; 39–46
  323. ^ Lindberg "Medieval Church Encounters" When Science & Christianity Meet hlm. 8
  324. ^ Grant God and Reason hlmn. 9
  325. ^ Quoted in Peters "Science and Religion" Encyclopedia of Religion hlm. 8182
  326. ^ a b Russell Inventing the Flat Earth hlmn. 49–58
  327. ^ Grant Planets, Stars, & Orbs hlmn. 626–630
  328. ^ Lindberg and Numbers "Beyond War and Peace" Church History hlm. 342
  329. ^ Numbers "Myths and Truths in Science and Religion: A historical perspective" Arsip materi kuliah

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Adams, Laurie Schneider (2001). A History of Western Art (edisi ke-ke-3). Boston, Massachusetts: McGraw Hill. ISBN 0-07-231717-5. 
  • Albrow, Martin (1997). The Global Age: State and Society Beyond Modernity. Stanford, CA: Stanford University Press. ISBN 0-8047-2870-4. 
  • Backman, Clifford R. (2003). The Worlds of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512169-8. 
  • Barber, Malcolm (1992). The Two Cities: Medieval Europe 1050–1320. London: Routledge. ISBN 0-415-09682-0. 
  • Barber, Richard (1978). Edward, Prince of Wales and Aquitaine: A Biography of the Black Prince. New York: Scribner. ISBN 0-684-15864-7. 
  • Barlow, Frank (1988). The Feudal Kingdom of England 1042–1216 (edisi ke-Ke-4). New York: Longman. ISBN 0-582-49504-0. 
  • Bauer, Susan Wise (2010). The History of the Medieval World: From the Conversion of Constantine to the First Crusade. New York: W. W. Norton. ISBN 978-0-393-05975-5. 
  • Benton, Janetta Rebold (2002). Art of the Middle Ages. World of Art. London: Thames & Hudson. ISBN 0-500-20350-4. 
  • British Library Staff (8 Januari 2008). "Incunabula Short Title Catalogue". British Library. Diakses tanggal 8 April 2012. 
  • Brown, Peter. The World of Late Antiquity AD 150–750. Library of World Civilization. New York: W. W. Norton & Company. ISBN 0-393-95803-5. 
  • Brown, Thomas (1998). "The Transformation of the Roman Mediterranean, 400–900". Dalam Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlm. 1–62. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Bruni, Leonardo (2001). Hankins, James, ed. History of the Florentine People. 1. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-00506-8. 
  • Colish, Marcia L. (1997). Medieval Foundations of the Western Intellectual Tradition 400–1400. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 0-300-07852-8. 
  • Collins, Roger (1999). Early Medieval Europe: 300–1000 (edisi ke-ke-2). New York: St. Martin's Press. ISBN 0-312-21886-9. 
  • Coredon, Christopher (2007). A Dictionary of Medieval Terms & Phrases (edisi ke-Cetak ulang). Woodbridge, Britania Raya: D. S. Brewer. ISBN 978-1-84384-138-8. 
  • Cosman, Madeleine Pelner (2007). Medieval Wordbook: More the 4,000 Terms and Expressions from Medieval Culture. New York: Barnes & Noble. ISBN 978-0-7607-8725-0. 
  • Crampton, R. J. (2005). A Concise History of Bulgaria. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 0-521-61637-9. 
  • Cunliffe, Barry (2008). Europe Between the Oceans: Themes and Variations 9000 BC-AD 1000. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 978-0-300-11923-7. 
  • Curta, Florin (2006). Southeastern Europe in the Middle Ages 500–1250. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 0-521-89452-2. 
  • Davies, Norman (1996). Europe: A History. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 0-19-520912-5. 
  • Denley, Peter (1998). "The Mediterranean in the Age of the Renaissance, 1200–1500". Dalam Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlm. 235–296. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Dodwell, C. R. (1993). The Pictorial Arts of the West: 800–1200. Pellican History of Art. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 0-300-06493-4. 
  • Eastwood, Bruce (2007). Ordering the Heavens: Roman Astronomy and Cosmology in the Carolingian Renaissance. History of Science and Medicine Library. Boston, Massachusetts: Brill. ISBN 978-90-04-16186-3. 
  • Epstein, Steven A. (2009). An Economic and Social History of Later Medieval Europe, 1000–1500. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-70653-7. 
  • Flexner, Stuart Berg (ed.). The Random House Dictionary of the English Language: Unabridged (edisi ke-Ke-2). New York: Random House. ISBN 0-394-50050-4. 
  • Gainty, Denis; Ward, Walter D. (2009). Sources of World Societies: Volume 2: Since 1500. Boston, Massachusetts: Bedford/St. Martin's. ISBN 0-312-68858-X. 
  • Geary, Patrick J. (1988). Before France and Germany: The Creation and Transformation of the Merovingian World. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 0-19-504458-4. 
  • Gies, Joseph; Gies, Frances (1973). Life in a Medieval City. New York: Thomas Y. Crowell. ISBN 0-8152-0345-4. 
  • Grant, Edward (2001). God and Reason in the Middle Ages. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-80279-6. 
  • Grant, E. (1994). Planets, Stars, & Orbs: The Medieval Cosmos, 1200–1687. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-43344-0. 
  • Grierson, Philip (1989). "Coinage and currency". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 97–98. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Griffiths, Antony (1996). Prints and Printmaking. London: British Museum Press. ISBN 0-7141-2608-X. 
  • Hallam, Elizabeth M.; Everard, Judith (2001). Capetian France 987–1328 (edisi ke-Ke-2). New York: Longman. ISBN 0-582-40428-2. 
  • Hamilton, Bernard (2003). Religion in the Medieval West (edisi ke-Ke-2). London: Arnold. ISBN 0-340-80839-X. 
  • Heather, Peter (2006). The Fall of the Roman Empire: A New History of Rome and the Barbarians. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-532541-6. 
  • Henderson, George (1977). Early Medieval (edisi ke-Revisi). New York: Penguin. OCLC 641757789. 
  • Holmes, George, ed. (1988). The Oxford History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 0-19-285272-8. 
  • Ilardi, Vincent (2007). Renaissance Vision from Spectacles to Telescopes. Philadelphia: American Philosophical Society. ISBN 978-0-87169-259-7. 
  • James, Edward (2009). Europe's Barbarians: AD 200–600. The Medieval World. Harlow, Britania Raya: Pearson Longman. ISBN 978-0-582-77296-0. 
  • Jordan, William C. (2003). Europe in the High Middle Ages. Penguin History of Europe. New York: Viking. ISBN 978-0-670-03202-0. 
  • Kamen, Henry (2005). Spain 1469–1714 (edisi ke-Ke-3). New York: Pearson/Longman. ISBN 0-582-78464-6. 
  • Kaufmann, J. E.; Kaufmann, H. W. (2001). The Medieval Fortress: Castles, Forts and Walled Cities of the Middle Ages (edisi ke-2004). Cambridge, Massachusetts: De Capo Press. ISBN 0-306-81358-0. 
  • Keen, Maurice (1988) [1968]. The Pelican History of Medieval Europe. London: Penguin Books. ISBN 0-14-021085-7. 
  • Kitzinger, Ernst (1955). Early Medieval Art at the British Museum (edisi ke-Ke-2). London: British Museum. OCLC 510455. 
  • Knox, E. L. "History of the Idea of the Renaissance". Europe in the Late Middle Ages. Boise State University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 February 2012. Diakses tanggal 25 Desember 2012. 
  • Lasko, Peter (1972). Ars Sacra, 800–1200. Penguin History of Art (sekarang Yale). New York: Penguin. ISBN 0-14-056036-X. 
  • Lawrence, C.H (2001). Medieval Monasticism: Forms of Religious Life in Western Europe in the Middle Ages (edisi ke-Ke-3). Harlow, Britania Raya: Longman. ISBN 0-582-40427-4. 
  • Lightbown, Ronald W. (1978). Secular Goldsmiths' Work in Medieval France: A History. Reports of the Research Committee of the Society of Antiquaries of London. London: Thames and Hudson. ISBN 0-500-99027-1. 
  • Lindberg, David C.; Numbers, Ronald L. (1986). "Beyond War and Peace: A Reappraisal of the Encounter between Christianity and Science". Church History. 55 (3): 338–354. doi:10.2307/3166822. JSTOR 3166822. 
  • Lindberg, David C. (2003). "The Medieval Church Encounters the Classical Tradition: Saint Augustine, Roger Bacon, and the Handmaiden Metaphor". Dalam Lindberg, David C. and Numbers, Ronald L. When Science & Christianity Meet. Chicago, IL: University of Chicago Press. ISBN 0-226-48214-6. 
  • Lock, Peter (2006). Routledge Companion to the Crusades. New York: Routledge. ISBN 0-415-39312-4. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Avignon". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 45. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Eleanor of Aquitaine". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 122. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Famine". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 127–128. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Great Schism". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 153. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Hundred Years' War". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 176. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Jews". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 190–192. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Knights of the Temple (Templars)". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 201–202. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Language and dialect". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 204. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Scholasticism". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 293–294. ISBN 0-500-27645-5. 
  • "Mediaeval". The Compact Edition of the Oxford English Dictionary: Complete Text Arranged Micrographically: Volume I A-0. Glascow: Oxford University Press. 1971. hlm. M290. LCCN 72177361. OCLC 490339790. 
  • "Middle Ages". Dictionary.com. 2004. Diakses tanggal 7 April 2012. 
  • Miglio, Massimo (2006). "Curial Humanism seen through the Prism of the Papal Library". Dalam Mazzocco, Angelo. Interpretations of Renaissance Humanism. Brill's Studies in Intellectual History. Leiden: Brill. hlm. 97–112. ISBN 978-90-04-15244-1. 
  • Mommsen, Theodore (April 1942). "Petrarch's Conception of the 'Dark Ages'". Speculum. 17 (2): 226–242. doi:10.2307/2856364. JSTOR 2856364. 
  • Morris, Rosemary (1998). "Northern Europe invades the Mediterranean, 900–1200". Dalam Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlm. 175–234. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Murray, Alexander (2004). "Should the Middle Ages Be Abolished?". Essays in Medieval Studies. 21: 1–22. doi:10.1353/ems.2005.0010. 
  • Nees, Lawrence (2002). Early Medieval Art. Oxford History of Art. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-284243-5. 
  • Nicolle, David (1999). Medieval Warfare Source Book: Warfare In Western Christendom. London: Brockhampton Press. ISBN 1-86019-889-9. 
  • Numbers, Ronald (11 May 2006). "Myths and Truths in Science and Religion: A historical perspective" (PDF). Lecture archive. The Faraday Institute for Science and Religion. Diakses tanggal 25 Januari 2013. 
  • Payne, Robert (2000). The Dream and the Tomb: A History of the Crusades (edisi ke-Jilid lunak perdana). New York: Cooper Square Press. ISBN 0-8154-1086-7. 
  • Peters, Ted (2005). "Science and Religion". Dalam Jones, Lindsay. Encyclopedia of Religion. 12 (edisi ke-Ke-2). Detroit, Michigan: MacMillan Reference. hlm. 8182. ISBN 978-0-02-865980-0. 
  • Power, Daniel (2006). The Central Middle Ages: Europe 950–1320. The Short Oxford History of Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-925312-8. 
  • Reilly, Bernard F. (1993). The Medieval Spains. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 0-521-39741-3. 
  • Riley-Smith, Jonathan (1989). "Crusades". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 106–107. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Rosenwein, Barbara H. (1982). Rhinoceros Bound: Cluny in the Tenth Century. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press. ISBN 0-8122-7830-5. 
  • Russell, Jeffey Burton (1991). Inventing the Flat Earth-Columbus and Modern Historians. Westport, CT: Praeger. ISBN 0-275-95904-X. 
  • Saul, Nigel (2000). A Companion to Medieval England 1066–1485. Stroud, Britania Raya: Tempus. ISBN 0-7524-2969-8. 
  • Schove, D. Justin (1989). "Plague". Dalam Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 267–269. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Singman, Jeffrey L. (1999). Daily Life in Medieval Europe. Daily Life Through History. Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 0-313-30273-1. 
  • Stalley, Roger (1999). Early Medieval Architecture. Oxford History of Art. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-284223-7. 
  • Tansey, Richard G.; Gardner, Helen Louise; De la Croix, Horst (1986). Gardner's Art Through the Ages (edisi ke-ke-8). San Diego, California: Harcourt Brace Jovanovich. ISBN 0-15-503763-3. 
  • Thomson, John A. F. (1998). The Western Church in the Middle Ages. London: Arnold. ISBN 0-340-60118-3. 
  • Vale, Malcolm (1998). "The Civilization of Courts and Cities in the North, 1200–1500". Dalam Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlm. 297–351. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Watts, John (2009). The Making of Polities: Europe, 1300–1500. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-79664-4. 
  • Whitton, David (1998). "The Society of Northern Europe in the High Middle Ages, 900–1200". Dalam Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlm. 115–174. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Wickham, Chris (2009). The Inheritance of Rome: Illuminating the Dark Ages 400–1000. New York: Penguin Books. ISBN 978-0-14-311742-1. 

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Ames, Christine Caldwell (February 2005). "Does Inquisition Belong to Religious History?" [Apakah Inkuisisi Adalah Bagian dari Sejarah Keagamaan?]. American Historical Review. 110 (1): 11–37. doi:10.1086/531119. 
  • Cantor, Norman F. (1991). Inventing the Middle Ages: The Lives, Works, and Ideas of the Great Medievalists of the Twentieth Century [Mereka Cipta Abad Pertengahan: Riwayat Hidup, Karya, dan Gagasan Para Ahli Abad Pertengahan dari Abad Kedua Puluh]. New York: W. Morrow. ISBN 978-0-688-09406-5. 
  • Davis, R. H. C., ed. (1981). The Writing of History in the Middle Ages: Essays Presented to Richard William Southern [Penulisan Sejarah pada Abad Pertengahan: Esai-Esai yang Dipersembahkan kepada Richard William Southern]. 0-19-822556-3: Oxford University Press. ISBN 0-19-822556-3. 
  • Fleischman, Suzanne (Oktober 1983). "On the Representation of History and Fiction in the Middle Ages" [Perihal Representasi Sejarah dan Fiksi pada Abad Pertengahan]. History and Theory. 23 (3): 278–310. JSTOR 2504985. 
  • Gurevich, Aron (1992). Howlett, Janet (penerjemah), ed. Historical Anthropology of the Middle Ages [Antropologi Historis Abad Pertengahan]. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-31083-1. 
  • Spiegel, Gabrielle M. (January 1990). "History, Historicism, and the Social Logic of the Text in the Middle Ages" [Sejarah, Historisisme, dan Logika Sosial Teks pada Abad Pertengahan]. Speculum. 65 (1): 59–86. doi:10.2307/2864472. JSTOR 2864472. 
  • Smith, Julia (2005). Europe After Rome: A New Cultural History, 500–1000 [Eropa Selepas Roma: Sebuah Sejarah Budaya Baru, 500–1000]. Oxford, UK: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-924427-0. 
  • Stuard, Susan Mosher (1987). Women in Medieval History and Historiography [Perempuan dalam Sejarah dan Historiografi Abad Pertengahan]. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-1290-7. 
  • Sullivan, Richard E. (April 1989). "The Carolingian Age: Reflections on its Place in the History of the Middle Ages" [Abad Karoling: Renungan-Renungan Perihal Letaknya dalam Sejarah Abad Pertengahan]. Speculum. 64 (2): 267–306. doi:10.2307/2851941. JSTOR 2851941. 
  • Van Engen, John (Juni 1986). "The Christian Middle Ages as an Historiographical Problem" [Abad Pertengahan Kristen Sebagai Suatu Permasalahan Historiografis]. American Historical Review. 91 (3): 519–552. doi:10.2307/1869130. JSTOR 1869130. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]