Empirisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman indra manusia.[1] Dalam empirisme, kebenaran hanya dapat diperoleh melalui pengalaman.[2] Pola pikir empirisme mengandalkan bukti empiris.[3] Empirisme termasuk salah satu jenis aliran ontologi.[4] Dalam empirisme, manusia dapat memperoleh pengetahuan dari pengalaman dengan cara mengadakan pengamatan dan pengindraan.[5] Empirisme merupakan salah satu dari tiga aliran filsafat ilmu di dunia Barat.[6] Pemikiran filsafat pada empirisme memilik sifat yang bertentangan dengan rasionalisme.[7] Pemikiran empirisme dipelopori oleh Thomas Hobbes sebagai reaksi terhadap rasionalisme.[8]

Perkembangan pemikiran empirisme berlangsung secara pesat di Inggris dan wilayah di sekitarnya pada masa renaisans selama abad ke-17 hingga abad ke-18.[9] Empirisme pertama kali dikembangkan di Inggris oleh John Locke (1632–1704), tetapi lebih mempengaruhi tokoh-tokoh pemikir di Amerika Serikat, khususnya di bidang pelestarian lingkungan hidup dan psikologi lingkungan.[10] Tokoh-tokoh pendukungnya berasal dari penganut filsafat Barat, antara lain Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume.[11]

Pemikiran empirisme oleh para tokohnya telah memberikan sumbangsih bagi pengembangan bidang keilmuan. Para tokoh ini antara lain ialah John Locke (ilmu sosial dan metode ilmiah), George Berkeley (fisika, matematika, dan teologi), dan David Hume (ilmu sejarah dan sains).[12] Empirisme juga menjadi dasar bagi pengembangan filsafat dalam positivisme.[13] Selain itu, empirisme juga menjadi salah satu aliran utama dalam filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagi pengembangan berbagai model pendidikan yang ada di dunia.[14]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pemahaman empirisme telah dikemukakan oleh Aristoteles dengan pendapat bahwa persepsi adalah dasar dari ilmu pengetahuan.[15] Empirisme muncul pertama kali di Inggris sebagai pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran rasionalisme yang dikemukakan oleh René Descartes. Gagasan awal empirisme dikemukakan oleh Thomas Hobbes (1588–1679) dengan pendapat bahwa permulaan dari segala pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi. Hukum-hukum mekanisme dianggap sebagai dasar dari proses-proses yang berlangsung di dunia, termasuk di dalamnya adalah manusia. Kemudian, gagasan lain mengenai empirisme dikemukakan oleh John Locke (1632–1704) yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan yang diterima oleh akal berasal dari pengalaman. Pemikiran empirisme dikembangkan lagi oleh George Berkeley yang berpendapat bahwa substansi yang bersifat materiil itu tidak ada sama sekali, yang ada hanyalah ciri-ciri yang dapat diamati.[16]

Ketika dunia memasuki masa Revolusi Industri, manusia mulai mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menetapkan kebijakan dalam mengatasi berbagai masalah sosial di masyarakat. Mistisisme serta kepercayaan tentang klenik dan sihir telah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Masalah sosial mulai diselesaikan dengan penyusunan dan pengujian berbagai teori yang bersifat ilmiah. Tolok ukur yang digunakan ialah empirisme dan metode ilmiah.[17]

Ajaran pokok[sunting | sunting sumber]

Ajaran pokok dari empirisme dapat dibagi berdasarkan pandangannya mengenai sumber pengetahuan, metode berpikir dan model penalaran yang digunakan. Sumber pengetahuan dalam pandangan empirisme hanya dari pengalaman. Metode berpikir yang digunakannya ialah melalui bukti empiris dan percobaan. Sedangkan model penalaran yang digunakannya ialah penalaran induktif.[18]

Ajaran pokok empirisme berlawanan dengan rasionalisme, karena rasionalisme menganggap pengenalan pengetahuan oleh indra bersifat tidak jelas. Sedangkan empirisme meyakini bahwa indra merupakan alat pengenalan pengetahuan yang sempurna dan paling jelas.[19] Dalam artian lain, empirisme mengutamakan penggunaan unsur aposteriori, sementara rasionalisme mengutamakan penggunaan unsur apriori.[20] Perbedaan lain antara empirisme dan rasionalisme terletak pada jenis pola pikir yang digunakan. Empirisme menggunakan pola pikir induktif, sementara rasionalisme menggunakan pola pikir deduktif.[21]

Epistemologi[sunting | sunting sumber]

Pandangan epistemologis pada pemikiran empirisme didasari oleh prinsip bahwa segala sesuatu yang ada di dalam pikiran terlebih dahulu telah ada dalam bentuk data-data indrawi.[22] Epistemologi empirisme didasarkan kepada karya-karya dari John Locke dan David Hume. Dalam pemikiran keduanya, fenomenalisme-nominalisme dijadikan sebagai dasar dari ilmu. Sesuatu hal dianggap sebagai pengetahuan jika merupakan sebuah fenomena yang dapat dialami secara langsung. Status sebagai pengetahuan tidak dapat diberikan kepada pernyataan yang tidak mengacu kepada objek yang independen. Empirisme meyakini bahwa keseluruhan struktur ilmu dapat diketahui menggunakan metode induksi.[23]

Teori korespondensi[sunting | sunting sumber]

Teori korespondensi merupakan teori yang mengemukakan bahwa pengetahuan dapat menjadi benar dan menjadi kebenaran ketika sesuai dengan kenyataan. Suatu gagasan, konsep atau teori hanya dipandang benar jika sesuai dengan kenyataan. Mengungkapkan kenyataan dipandang sebagai hal yang utama, karena kebenaran akan diketahui secara alami setelah kenyataan diungkapkan. Teori korespondensi berkaitan dengan empirisme karena pengalaman dan pengamatan indrawi dijadikan sebagai sumber utama dalam memperoleh pengetahuan. Kegiatan pengamatan, percobaan atau pengujian secara empiris menjadi sesuatu yang berharga dalam pandangan teori korespondensi untuk mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Teori korespondensi juga mengutamakan penggunaan pengetahuan dan cara kerja aposteriori.[24]

Tokoh pemikir[sunting | sunting sumber]

Aristoteles[sunting | sunting sumber]

Aristoteles menggunakan pendekatan empirisme untuk menetapkan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Ia mengandalkan kemampuan indra khususnya penglihatan (mata) dan pendengaran (telinga). Penggunaan pendekatan ini kemudian disebut sebagai metode induktif atau metode empirisme. Setiap kasus kejadian yang meliputi fenomena alam maupun fenomena sosial, diberikan kesimpulan umum atau generalisasi sehingga diperoleh pengetahuan ilmiah. Metedo ini menciptakan satu alat bantu bagi penemuan pengetahuan ilmiah yang disebut statistika.[25]

John Locke[sunting | sunting sumber]

John Locke menjadi peletak dasar empirisme dalam proses berpikir.[26] Pada tahun 1669, ia menulis sebuah buku berjudul Essay Concerming Human Understanding yang memiliki premis utama berupa pernyataan bahwa semua pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pemikiran Locke ini menolak pendapat Plato mengenai adanya ide bawaan sebelum perolehan pengalaman. Ia menolak semua gagasan yang bendukung adaanya ide bawaan.[27]

Empirisme yang dikembangkan oleh John Locke juga berkaitan dengan pendidikan.[28] Pemikiran empirisme John Locke berkaitan dengan pandangannya mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh manusia saat lahir. Ia meyakini bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan tidak memiliki pengetahuan sama sekali. Locke juga meyakini bahwa perkembangan anak khususnya dalam pendidikan sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan.[29]

Thomas Hobbes[sunting | sunting sumber]

Thomas Hobbes berpendapat bahwa pengenalan terhadap segala sesuatu selalu diawali oleh pengalaman indrawi. Kebenaran hanya dimiliki oleh sesuatu yang dapat dirasakan oleh indra.[30] Ia meyakini bahwa pengenalan intelektual merupakan hasil penjumlahan dari data-data indrawi yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Hobbes menganggap sistem materi tersusun dari dunia dan materi sebagai objek pengenalannya. Keberadaan objek pengenalan berlangsung secara terus-menerus karena adanya hukum mekanisme. Dalam sejarah filsafat modern, pemikiran Hobbes merupakan sistem materialistis yang pertama.[31]

David Hume[sunting | sunting sumber]

David Hume adalah salah satu tokoh empirisime yang berasal dari Inggris.[32] Pemikiran empiris yang dikemukakannya bersifat radikal. Ia mengartikan substansi pengetahuan sebagai perulangan dari pengalaman sehingga keseluruhan pengetahuan merupakan total pengalaman. Pandangan David Hume cenderung skeptisisme karena ia hanya mengakui hasil pengetahuan oleh indra secara luas. Ia mengangggap pengalaman sebagai sebuah khayalan dan anggapan semata.[33]

Pengaruh pemikiran[sunting | sunting sumber]

Sains modern[sunting | sunting sumber]

Dalam sains modern, hukum normatif dipisahkan dari hukum empiris. Hukum normatif ini diartikan sebagai hubungan yang mengaitkan antara manusia dengan Tuhan. Kondisi ini membuat sains modern bersifat bebas nilai dan netral. Dalam empirisme, hukum normatif ini hanya dikaitkan dengan manusia saja. Hukum normatif tidak berkaitan dengan agama sehingga disebut sebagai kontrak sosial. Pandangan ini membuat Tuhan dan agama dianggap sebagai tidak ada dalam kesadaran manusia modern. Hasil akhir dari pemikiran ini ialah sains modern yang mengandalkan rasionalitas dan metode ilmiah untuk mengetahui tentang kenyataan. Selain itu, suatu fenomena dipahami secara objektif dan bebas nilai melalui reduksionisme, universalisme dan kebebasan mutlak.[34]

Secara epistemologis, empirisme merupakan salah satu paham pemikiran yang menjadi dasar bagi konstruksi pengetahuan pada sains modern.[35] Pengamatan dan pengalaman digunakan untuk melakukan pengujian hipotesis ilmiah. Pengetahuan empiris ini sepenuhnya mengandalkan semua jenis indra manusia untuk membentuk pengetahuan dari keadaan dunia di sekeliling manusia. Isi dari pengetahuan empiris ini meliputi gagasan-gagasan yang telah sesuai dengan fakta empiris.[36]

Filsafat pendidikan pragmatisme[sunting | sunting sumber]

Filsafat pendidikan pragmatisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang muncul di Amerika. Aliran filsafat ini memperoleh pengaruh pemikiran dari empirisme Inggris. Pandangan utamanya ialah manusia dapat mengetahui sesuatu yang telah dialaminya. Tokoh pemikirnya antara lain Herakleitos, Charles Sanders Peirce, William James, dan John Dewey.[37] Di dunia Barat, pendidikan yang beraliran pragmatisme merupakan hasil penggabungan antara empirisme dan positivisme.[38]

Positivisme[sunting | sunting sumber]

Empirisme merupakan bagian utama dari positivisme.[39] Pengaruh empirisme pada positivisme salah satunya pada penggunaan metode verifikasi. Penamaan positivisme sendiri berasal dari kata "positif" yang berkaitan dengan kata "faktual". Kata "faktual" ini berkaitan dengan segala fakta yang memilik bukti empiris. Pengenalan indrawi dan pengamatan kemudian digunakan di dalam positivisme untuk pengenalan pengetahuan dalam penelitian. Fenomena yang dapat diamati selalu dikaitkan dengan fakta, sehingga fakta melingkupi segala hal yang dapat teramati. Pengamatan terhadap fakta-fakta empiris dilakukan dalam rangka mencapai kesimpulan yang dapat digunakan untuk verifikasi kebenaran dari suatu pernyataan. Suatu pernyataan yang tidak dapat diverifikasi akan dianggap sebagai metafisika dalam pandangan positivisme. Dalam positivisme, pernyataan metafisika ini tidak dianggap sebagai ilmu pengetahuan.[40]

Empirisme dimanfaatkan di dalam positivisme untuk menanggapi keterbatasan filsafat yang bersifat spekulasi. Keterbatasan ini misalnya dikemukakan oleh Immanuel Kant. Aliran positivisme diperkenalkan oleh Comte de Claude Henri de Rouvray Saint-Simon (1760–1825) dan dikembangkan oleh Auguste Comte (1798–1857).[41] Pada rumpun ilmu sosial, paradigma positivisme menggabungkan antara empirisme dan rasionalisme.[42] Penggabungan antara empirisme dan rasionalisme juga menjadikan realitas sosial dalam pandangan positivisme menjadi bersifat dualistik karena mengkaji keberadaan subjek maupun objek. Pendekatan positivisme ini kemudian membentuk klaim kebenaran objektif yang diperoleh melalui proses ilmiah.[43]

Pemerataan pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendekatan empirisme digunakan untuk menganalisis permasalahan pemerataan pendidikan melalui penggabungan antara metodologi dan substansi. Dugaan yang diberikan sebagai penyebab tidak meratanya kesempatan dalam memperoleh pendidikan adalah adanya perbedaan kelas sosial dengan kepentingan yang berbeda-beda. Kelas sosial ini umumnya terbagi menjadi kaum populis dan kaum elite. Kaum populis memperoleh pendidikan dengan bekerja keras, sementara kaum elite memperoleh pendidikan dengan mempertahankan status quo.[44]

Demokrasi modern[sunting | sunting sumber]

Demokrasi modern berkaitan erat dengan empirisme dalam hal bentuk maupun sentimen. Gagasan visioner atau rasionalitas tunggal digantikan oleh konsep tentang jumlah pengamatan terbanyak. Empirisme juga mengganti karakter kualitatif dari rasionalisme menjadi jumlah kasus individu yang dikumpulkan.[45]

Keterbatasan[sunting | sunting sumber]

Empirisme mempunyai tiga kelemahan yang berkaitan dengan ciri-cirinya. Pertama, empirisme hanya mengandalkan pengalaman yang tidak berhubungan langsung dengan kenyataan objektif jika berperan sebagai konsep. Pengertian dari pengalaman bersifat kurang jelas untuk berperan sebagai sumber pengetahuan yang sistematis. Kedua, keterbatasan dan ketidaksempurnaan indra manusia membuat empirisme tidak mampu membedakan antara sesuatu yang bersifat khayalan dan fakta. Ketiga, empirisme tidak memberikan kepastian mengenai pengetahuan, karena adanya kelemahan dari indra manusia.[46]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Muliadi (2020). Busro, ed. Filsafat Umum (PDF). Bandung: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. hlm. 94. ISBN 978-623-7166-42-9. 
  2. ^ Sudiantara, Yosephus (2020). Filsafat Ilmu: Bagian Pertama, Inti Filsafat Ilmu Pengetahuan (PDF). Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. hlm. 10. ISBN 978-623-7635-46-8. 
  3. ^ Rustono, dkk. (2018). Panduan Penulisan Karya Ilmiah (PDF). Semarang: Unnes Press. hlm. 6. ISBN 978-602-285-162-2. 
  4. ^ Endraswara, Suwardi (20177). Suwandi, S., Rohmadi, M., dan Ulya, C., ed. "Memburu Logi-Logi dalam Penelitian Sastra" (PDF). Memburu Logi-Logi dalam Penelitian Sastra. Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret: 13. ISBN 978-602-73739-1-4. 
  5. ^ Nurjan, S., dan Mafrudi, B. (2020). Epistemologi Sains Islam (PDF). Ponorogo: Unmuh Ponorogo Press. hlm. 60. ISBN 978-602-0791-80-7. 
  6. ^ Machmud, A., Yuliawati, T., dan Adirestuty, F. (2019). Ekonomi, Keuangan, dan Bisnis Islam: Solusi Keadilan dan Kesejahteraan (PDF) (edisi ke-2). Jakarta: Salemba Diniyah. hlm. 3. ISBN 978-602-1144-14-5. 
  7. ^ Yusro, S., dkk. Cara Kerja Ilmu-Ilmu (PDF). Jakarta Selatan: Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran. hlm. 25. ISBN 978-602-517-240-3. 
  8. ^ Atmadja, I. D. G., dan Budiartha, I. N. P. (2018). Teori-Teori Hukum (PDF). Malang: Setara Press. hlm. 89. 
  9. ^ Vera, S., dan Hambali, R. Y. A. (2021). "Aliran Rasionalisme dan Empirisme dalam Kerangka Ilmu Pengetahuan". Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin. 1 (2): 69. doi:10.15575/jpiu.12207. 
  10. ^ Husamah, Restian, A., dan Widodo, R. (2015). Pengantar Pendidikan. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang. hlm. 86. ISBN 978-979-796-360-6. 
  11. ^ Kristiawan, Muhammad (2016). Hendri, L., dan Juharmen, ed. Filsafat Pendidikan: The Choice Is Yours (PDF). Yogyakarta: Penerbit Valia Pustaka Jogjakarta. hlm. 116. ISBN 978-602-71540-8-7. 
  12. ^ Juanda, Anda (2016). Akbar, Reza Oktiana, ed. Aliran-Aliran Filsafat Landasan Kurikulum dan Pembelajaran (PDF). Bandung: CV. Confident. hlm. 157. ISBN 978-602-0834-27-6. 
  13. ^ Hardani, dkk. (2020). Abadi, Husnu, ed. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif (PDF). Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu. hlm. 22. ISBN 978-623-7066-33-0. 
  14. ^ Siddiq, M., dan Salama, H. (2018). "Paradigma dan Metode Pendidikan Anak dalam Perspektif Aliran Filsafat Rasionalisme, Empirisme, dan Islam". Jurnal Al-Thariqah. 3 (2): 45. doi:10.25299/althariqah.2018.vol3(2).2308. ISSN 2549-8770. 
  15. ^ Alizamar, dan Couto, N. (2016). Psikologi Persepsi dan Desain Komunikasi: Sebuah Kajian Psikologi Persepsi dan Prinsip Kognitif untuk Kependidikan dan Desain Komunikasi (PDF). Yogyakarta: Media Akademi. hlm. 2. ISBN 978-602-74482-5-4. 
  16. ^ Aprita, S., dan Adhitya, R. (2020). Filsafat Hukum (PDF). Depok: Rajawali Pers. hlm. 15. ISBN 978-623-231-448-1. 
  17. ^ Taufiqurakhman (2014). Kebijakan Publik: Pendelegasian Tanggungjawab Negara kepada Presiden Selaku Penyelenggara Pemerintahan (PDF). Jakarta Pusat: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Moestopo Beragama. hlm. 26. ISBN 978-602-9006-07-0. 
  18. ^ Ibrahim, Duski (2017). Filsafat Ilmu: Dari Penumpang Asing untuk Para Tamu (PDF). Palembang: NoerFikri. hlm. 112. ISBN 978-602-6318-97-8. 
  19. ^ Sumanto, Edi (2015). Sartono, Oki Alek, ed. Filsafat Jilid I (PDF). Bengkulu: Penerbit Vanda. hlm. 35–36. ISBN 978-602-6784-91-9. 
  20. ^ Idris, S., dan Ramly, F. (2016). Tabrani, ed. Dimensi Filsafat Ilmu dalam Diskursus Integrasi Ilmu (PDF). Yogyakarta: Darussalam Publishing. hlm. 18. ISBN 978-602-71602-6-2. 
  21. ^ Siyoto, Sandu (2015). Ayup, ed. Dasar Metodologi Penelitian (PDF). Karanganyar: Literasi Media Publishing. hlm. 3. ISBN 978-602-1018-18-7. 
  22. ^ Al Munir, M. Ied (2004). "Tinjauan terhadap Metode Empirisme dan Rasionalisme" (PDF). Jurnal Filsafat. 28 (3): 240. 
  23. ^ Kristanti, A., dan Maliki, M. (2008). "Debat Ketiga: Memikirkan Kembali Keilmuan Hubungan Internasional". Global. 9 (2): 194. 
  24. ^ Wahana, Paul (2016). Filsafat Ilmu Pengetahuan (PDF). Yogyakarta: Pustaka Diamond. hlm. 131. ISBN 978-979-195-391-7. 
  25. ^ Sujalu, A. P., dkk. (2021). Ilmu Alamiah Dasar (PDF). Sleman: Zahir Publishing. hlm. 57. ISBN 978-623-6995-56-3. 
  26. ^ Wardhana, Made (2016). Filsafat Kedokteran (PDF). Vaikuntha International Publication. hlm. 48. ISBN 978-602-73078-5-8. 
  27. ^ Sesady, Muliati (2019). Wahid, Abdul, ed. Pengantar Filsafat (PDF). Bantul: TrustMedia Publishing. hlm. 122. 
  28. ^ Gesmi, I., dan Hendri, Y. (2018). Buku Ajar Pendidikan Pancasila (PDF). Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia. hlm. 10. ISBN 978-602-5891-37-3. 
  29. ^ Winarti, Agus (2018). Pendidikan Orang Dewasa: Konsep dan Aplikasi (PDF). Bandung: CV Alfabeta. hlm. 12. ISBN 978-602-289-369-1. 
  30. ^ Waris (2014). Rofiq, Ahmad Choirul, ed. Pengantar Filsafat (PDF). Ponorogo: STAIN Po Press. hlm. 57. 
  31. ^ Suaedi (2016). Januarini, Nia, ed. Pengantar Filsafat Ilmu (PDF). Bogor: PT Penerbit IPB Press. hlm. 8. ISBN 978-979-493-888-1. 
  32. ^ Wasitaatmadja, F. F., Hamdayama, J., dan Herdiwanto, H. (2018). Spiritualisme Pancasila (PDF). Jakarta Timur: Prenadamedia Group. hlm. 106. ISBN 978-602-422-267-3. 
  33. ^ Widodo, Sembodo Ardi (2015). Pendidikan dalam Perspektif Aliran-Aliran Filsafat (PDF). Bantul: Idea Press. hlm. 96. ISBN 978-602-0850-25-2. 
  34. ^ Soelaiman, Darwis A. (2019). Filsafat Ilmu Pengetahuan: Perspektif Barat dan Islam (PDF). Banda Aceh: Penerbit Bandar Publishing. hlm. 112–113. ISBN 978-623-7499-37-4. 
  35. ^ Kanafi, Imam (2016). "Islamic Green Knowledge: Paradigma Epistemologi Integratif untuk Islamic Syudies Kontemporer" (PDF). Proceeding of International Conference On Islamic Epistemology: 13. ISBN 978-602-361-048-8. 
  36. ^ Rukiyati, dan Purwastuti, L. A. (2015). Mengenal Filsafat Pendidikan (PDF). Yogyakarta: UNY Press. hlm. 31. ISBN 978-602-7981-55-3. 
  37. ^ Thabrani, Abdul Muis (2015). Rafik, Ainur, ed. Filsafat dalam Pendidikan (PDF). Jember: IAIN Jember Press. hlm. 94. ISBN 978-602-414-018-2. 
  38. ^ Harisah, Afifuddin (2018). Filsafat Pendidikan Islam: Prinsip dan Dasar Pengembangan (PDF). Sleman: Deepublish. hlm. 124. 
  39. ^ Hidayat, R., dan Patras, Y. E. (2015). Berani Bicara Pendidikan: The Findings of Educational Research (PDF). Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan. hlm. 21. ISBN 978-602-70002-1-6. 
  40. ^ Trinarso, A. P., dkk. (2014). Prasetyono, E., dan Widyawan, A., ed. Mendidik Manusia Indonesia dan Mempersiapkan Generasi Pemimpin Nasional (PDF). Surabaya: Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya. hlm. 70–71. ISBN 978-602-17055-1-3. 
  41. ^ Isharyanto (2016). Ilmu Negara (PDF). Karanganyar: Oase Pustaka. hlm. 67. ISBN 978-602-6259-57-8. 
  42. ^ Pratama, F. F., dan Mutia, D. (2020). "Paradigma Kualitatif sebagai Landasan Berpikir Pendidikan Kewarganegaraan". Jurnal Kewarganegaraan. 17 (1): 52. doi:10.24114/jk.v17i1.18701. 
  43. ^ Haboddin, M., dkk. (2016). Metodologi Ilmu Pemerintahan (PDF). Pusat Kajian Inovasi Pemerintahan dan Kerjasama AntarDaerah. hlm. 180. ISBN 978-602-17392-6-6. 
  44. ^ Arwildayanto, Suking, A., dan Sumar, W. T. (2018). Kuswandi, Engkus, ed. Analisis Kebijakan Pendidikan: Kajian Teoretis, Eksploratif, dan Aplikatif (PDF). Bandung: CV Cendekia Press. hlm. 59. ISBN 978-602-51920-9-8. 
  45. ^ Suharyono, ed. (2020). Filsafat Uang (PDF). Jakarta Selatan: Lembaga Penerbitan Universitas Nasional. hlm. 51. ISBN 978-623-7376-32-3. 
  46. ^ Sativa (2011). "Empirisme, Sebuah Pendekatan Penelitian Arsitektural". Inersia. 7 (2): 119–120. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Achinstein, Peter, and Barker, Stephen F. (1969), The Legacy of Logical Positivism: Studies in the Philosophy of Science, Johns Hopkins University Press, Baltimore, MD.
  • Aristotle, "On the Soul" (De Anima), W. S. Hett (trans.), pp. 1–203 in Aristotle, Volume 8, Loeb Classical Library, William Heinemann, London, UK, 1936.
  • Aristotle, Posterior Analytics.
  • Barone, Francesco (1986), Il neopositivismo logico, Laterza, Roma Bari.
  • Berlin, Isaiah (2004), The Refutation of Phenomenalism, Isaiah Berlin Virtual Library.
  • Bolender, John (1998), "Factual Phenomenalism: A Supervenience Theory"', SORITES, no. 9, pp. 16–31.
  • Chisolm, R. (1948), "The Problem of Empiricism", Journal of Philosophy 45, 512–517.
  • Dewey, John (1906), Studies in Logical Theory.
  • Encyclopedia Britannica, "Empiricism", vol. 4, p. 480.
  • Hume, D., A Treatise of Human Nature, L.A. Selby-Bigge (ed.), Oxford University Press, London, UK, 1975.
  • Hume, D. "An Enquiry Concerning Human Understanding", in Enquiries Concerning the Human Understanding and Concerning the Principles of Morals, 2nd edition, L.A. Selby-Bigge (ed.), Oxford University Press, Oxford, UK, 1902.
  • James, William (1911), The Meaning of Truth.
  • Keeton, Morris T. (1962), "Empiricism", pp. 89–90 in Dagobert D. Runes (ed.), Dictionary of Philosophy, Littlefield, Adams, and Company, Totowa, NJ.
  • Leftow, Brian (ed., 2006), Aquinas: Summa Theologiae, Questions on God, pp. vii et seq.
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "Development of Aristotle's Thought", vol. 1, p. 153ff.
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "George Berkeley", vol. 1, p. 297.
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "Empiricism", vol. 2, p. 503.
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "Mathematics, Foundations of", vol. 5, p, 188–189.
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "Axiomatic Method", vol. 5, p. 192ff.
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "Epistemological Discussion", subsections on "A Priori Knowledge" and "Axioms".
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "Phenomenalism", vol. 6, p. 131.
  • Macmillan Encyclopedia of Philosophy (1969), "Thomas Aquinas", subsection on "Theory of Knowledge", vol. 8, pp. 106–107.
  • Marconi, D (2004), "Fenomenismo"', in Gianni Vattimo and Gaetano Chiurazzi (eds.), L'Enciclopedia Garzanti di Filosofia, 3rd edition, Garzanti, Milan, Italy.
  • Markie, P. (2004), "Rationalism vs. Empiricism" in Edward D. Zalta (ed.), Stanford Encyclopedia of Philosophy, Eprint.
  • Maxwell, Nicholas (1998), The Comprehensibility of the Universe: A New Conception of Science, Oxford University Press, Oxford.L
  • Mill, J.S., "An Examination of Sir William Rowan Hamilton's Philosophy", in A.J. Ayer and Ramond Winch (eds.), British Empirical Philosophers, Simon and Schuster, New York, NY, 1968.
  • Morick, H. (1980), Challenges to Empiricism, Hackett Publishing, Indianapolis, IN.
  • Peirce, C.S., "Lectures on Pragmatism", Cambridge, MA, March 26 – May 17, 1903. Reprinted in part, Collected Papers, CP 5.14–212. Reprinted with Introduction and Commentary, Patricia Ann Turisi (ed.), Pragmatism as a Principle and a Method of Right Thinking: The 1903 Harvard "Lectures on Pragmatism", State University of New York Press, Albany, NY, 1997. Reprinted, pp. 133–241, Peirce Edition Project (eds.), The Essential Peirce, Selected Philosophical Writings, Volume 2 (1893–1913), Indiana University Press, Bloomington, IN, 1998.
  • Rescher, Nicholas (1985), The Heritage of Logical Positivism, University Press of America, Lanham, MD.
  • Rock, Irvin (1983), The Logic of Perception, MIT Press, Cambridge, MA.
  • Rock, Irvin, (1997) Indirect Perception, MIT Press, Cambridge, MA.
  • Runes, D.D. (ed., 1962), Dictionary of Philosophy, Littlefield, Adams, and Company, Totowa, NJ.
  • Sini, Carlo (2004), "Empirismo", in Gianni Vattimo et al. (eds.), Enciclopedia Garzanti della Filosofia.
  • Solomon, Robert C., and Higgins, Kathleen M. (1996), A Short History of Philosophy, pp. 68–74.
  • Sorabji, R. (1972), Aristotle on Memory.
  • Thornton, Stephen (1987), Berkeley's Theory of Reality, Eprint
  • Ward, Teddy (n.d.), "Empiricism", Eprint Diarsipkan 2012-07-14 di Archive.is.
  • Wilson, Fred (2005), "John Stuart Mill", in Edward N. Zalta (ed.), Stanford Encyclopedia of Philosophy, [http://plato.stanford.edu/entries/mill/
  • randy.ambon

Pranala luar[sunting | sunting sumber]