Akal sehat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Akal sehat, akal budi, atau nalar wajar adalah penilaian praktis yang masuk akal tentang masalah sehari-hari, atau kemampuan dasar untuk mengerti, memahami, dan menilai dengan cara yang umumnya dimiliki hampir semua orang.[1]

Jenis akal sehat pertama, pikiran sehat, dapat digambarkan sebagai "kemampuan untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya dan melakukan sesuatu sebagaimana mestinya".[butuh rujukan] Jenis kedua terkadang digambarkan sebagai kearifan rakyat, "yang menandakan pengetahuan yang tidak memberikan renungan dan tidak bergantung kepada pelatihan khusus atau pemikiran perundingan." Kedua jenis ini saling berkaitan karena orang yang memiliki akal sehat berhubungan dengan gagasan akal sehat, yang muncul dari pengalaman hidup orang yang cukup masuk akal untuk dipahami.[2]

Dalam konteks psikologi, Jan Smedslund mendefinisikan akal sehat sebagai "sistem yang tersirat dan dimiliki oleh pengguna bahasa yang cakap" dan mencatat, "sebuah dalil yang dimiliki akal sehat dalam konteks yang diberikan jika dan hanya jika semua pengguna bahasa yang cakap terlibat setuju bahwa dalil dalam konteks yang diberikan adalah benar dan penolakannya adalah salah."[3]

Pemahaman sehari-hari tentang akal sehat berasal dari perbincangan filsafat sejarah yang melibatkan beberapa bahasa Eropa. Istilah yang berkaitan dalam bahasa lain termasuk bahasa Latin sensus communis, Yunani αἴσθησις κοινὴ (aísthēsis koinḕ), dan Prancis bon sens, tetapi ini bukan terjemahan langsung dalam semua konteks. Demikian pula terdapat perbedaan makna dalam bahasa Inggris yang menyiratkan sedikit banyak pendidikan dan kearifan: "pikiran sehat" terkadang dipandang setara dengan "akal sehat", dan terkadang tidak.[4]

Aristoteles, orang pertama yang diketahui telah membahas "akal sehat", menggambarkannya sebagai kemampuan binatang termasuk manusia memproses persepsi indra, ingatan, dan imajinasi (φρονεῖν, phroneîn) dengan akal sehat untuk mencapai banyak jenis penilaian dasar. Dalam skemanya, hanya manusia yang memiliki pikiran beralasan nyata (νοεῖν, noeîn), yang membawa mereka ke luar akal sehat mereka.

"Akal sehat" juga memiliki sekurang-kurangnya dua arti filosofis secara khusus. Salah satunya adalah kemampuan jiwa hewani (ψῡχή, psūkhḗ) yang dikemukakan Aristoteles, yang memungkinkan indra individu yang berbeda untuk memahami ciri khas hal-hal fisik secara kolektif, seperti gerakan dan ukuran, yang dimiliki semua hal-hal fisik dalam gabungan yang berbeda, memungkinkan orang dan binatang lain untuk membedakan dan mengidentifikasi hal-hal fisik. Akal sehat ini berbeda dari persepsi indra dasar dan pemikiran rasional manusia, tetapi bekerja sama dengan keduanya. Penggunaan istilah khusus kedua istilah ini dipengaruhi Romawi dan digunakan untuk kepekaan alami manusia terhadap manusia lain dan masyarakat.[5] Keduanya mengacu kepada jenis kesadaran dasar dan kemampuan menilai bahwa kebanyakan orang diharapkan untuk memiliki hal tersebut secara alami, bahkan jika tidak dapat dijelaskan sebabnya. Semua makna "akal sehat" ini, termasuk makna sehari-hari, saling berkaitan dalam sejarah yang rumit dan telah berkembang selama perdebatan politik dan filosofis penting dalam peradaban Barat modern, terutama tentang ilmu pengetahuan, politik, dan ekonomi.[6] Makna ini saling memengaruhi dan telah menjadi sangat penting dalam bahasa Inggris karena bertentangan dengan bahasa Eropa Barat yang lain, dan istilah bahasa Inggris telah mendunia.[7]

Sejak Zaman Pencerahan, istilah "akal sehat" telah sering digunakan untuk efek retoris, terkadang merendahkan, dan terkadang menarik secara positif sebagai kekuasaan. Ini dapat disamakan secara negatif dengan prasangka dan takhayul yang kasar dan sering kali dibandingkan secara positif sebagai standar untuk selera yang baik dan sumber aksioma paling dasar yang dibutuhkan untuk ilmu pengetahuan dan logika.[8] Pada permulaan abad ke-18, istilah filosofis lama ini mendapat makna bahasa Inggris yang modern: "Kebenaran yang nyata dan jelas dengan sendirinya atau kearifan lazim yang tidak memerlukan kecanggihan untuk dipahami dan tidak ada bukti untuk diterima dengan tepat karena hal ini sesuai dengan kemampuan intelektual (akal sehat) dasar dan pengalaman seluruh tubuh sosial dengan baik."[9] Ini dimulai dengan kritikan Descartes terhadap hal tersebut dan yang kemudian dikenal sebagai perselisihan antara "rasionalisme" dan "empirisme". Dalam baris pembuka salah satu bukunya yang paling terkenal, Wacana Tentang Metode, Descartes menetapkan makna modern yang paling umum dan kontroversi-kontroversinya ketika ia menyatakan bahwa setiap orang mempunyai akal sehat (bon sens), tetapi jarang digunakan dengan baik. Oleh sebab itu, metode logika skeptis yang dijelaskan oleh Descartes perlu diikuti dan akal sehat tidak boleh terlalu diandalkan.[10] Pada Zaman Pencerahan abad ke-18 berikutnya, akal sehat dipandang dengan lebih positif sebagai dasar pemikiran modern. Ini berbeda dengan metafisika yang serupa dengan Kartesianisme, berkaitan dengan Ancien Régime. Pamflet polemik Thomas Paine, Akal Sehat (1776) telah digambarkan sebagai pamflet politik paling berpengaruh pada abad ke-18, yang memengaruhi revolusi Amerika dan Prancis.[8] Pada masa kini, konsep akal sehat dan cara terbaik menggunakannya tetap berkaitan dengan banyak topik paling abadi dalam epistemologi dan tata susila dengan tumpuan khusus yang sering diarahkan pada filsafat ilmu sosial modern.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "common sense." Merriam-Webster Online Dictionary: "sound and prudent judgment based on a simple perception of the situation or facts." "common sense." Cambridge Dictionary: "the basic level of practical knowledge and judgment that we all need to help us live in a reasonable and safe way." (van Holthoorn & Olson 1987, hlm. 9): "common sense consists of knowledge, judgement, and taste which is more or less universal and which is held more or less without reflection or argument." C.S. (Lewis 1967, hlm. 146) wrote that what common sense "often means" is "the elementary mental outfit of the normal man."
  2. ^ Maroney, Terry A. (2009). "Emotional Common Sense as Constitutional Law". Vanderbilt Law Review. 62: 851. 
  3. ^ Smedslund, Jan (September 1982). "Common sense as psychosocial reality: A reply to Sjöberg". Scandinavian Journal of Psychology. 23 (1): 79–82. doi:10.1111/j.1467-9450.1982.tb00416.x. 
  4. ^ Misalnya, Thomas Reid contrasted common sense and good sense to some extent. See (Wierzbicka 2010, hlm. 340).
  5. ^ The Shorter Oxford English Dictionary of 1973 gives four meanings of "common sense": An archaic meaning is "An internal sense which was regarded as the common bond or centre of the five senses"; "Ordinary, normal, or average understanding" without which a man would be "foolish or insane", "the general sense of mankind, or of a community" (two sub-meanings of this are good sound practical sense and general sagacity); A philosophical meaning, the "faculty of primary truths."
  6. ^ See the body of this article concerning (for example) Descartes, Hobbes, Adam Smith, and so on. Thomas Paine's pamphlet named "Common Sense" was an influential publishing success during the period leading up to the American revolution.
  7. ^ See for example (Rosenfeld 2011, hlm. 282); (Wierzbicka 2010); and (van Kessel 1987, hlm. 117): "today the Anglo-Saxon concept prevails almost everywhere".
  8. ^ a b (Hundert 1987)
  9. ^ Rosenfeld, Sophia (2014). Common Sense: A Political History. [S.l.]: Harvard Univ Press. hlm. 23. ISBN 9780674284166. 
  10. ^ (Descartes 1901) Bagian I Discourse on Method. CATATAN: istilah dalam bahasa Prancis "bon sens" terkadang dialihbahasakan sebagai "pikiran sehat". Baris pembuka dalam terjemahan bahasa Indonesia berbunyi:

    "Pikiran sehat dari semua hal di antara manusia adalah hal yang paling tersebar sama. Oleh sebab setiap orang berpikir dirinya begitu berlimpah dengan pikiran sehat yang diberikan sehingga mereka yang paling sulit dipuaskan dalam segala hal, biasanya tidak menginginkan ukuran mutu yang lebih besar ini daripada yang sudah mereka miliki dan bukan tidak mungkin bahwa semua keliru dalam hal ini: keyakinan lebih tepat dianggap sebagai bukti bahwa kekuatan menilai dengan benar dan membedakan kebenaran daripada kesalahan, yang sebenarnya disebut pikiran sehat atau nalar pada dasarnya sama pada semua orang. Akibatnya, keberagaman pendapat kita tidak muncul dari beberapa orang yang dikaruniai dengan bagian nalar yang lebih besar daripada yang lain, tetapi bahwa kita mengendalikan pemikiran kita dengan cara yang berbeda semata-mata dari ini dan janganlah memusatkan perhatian kita pada objek yang sama. Oleh sebab memiliki pemikiran yang kuat tidaklah cukup, syarat utama adalah untuk menerapkannya dengan benar. Pemikiran yang terhebat karena mereka mampu memiliki keunggulan tertinggi, begitu juga terbuka terhadap penyimpangan terbesar dan mereka yang melakukan perjalanan dengan sangat perlahan mungkin akan mencapai kemajuan yang jauh lebih besar asalkan mereka selalu berada di jalan yang lurus daripada mereka yang sewaktu berlari meninggalkannya."

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]