Epistemologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Epistemologi (dari bahasa Yunani ἐπιστήμη epistēmē; artinya "pengetahuan", dan λόγος, logos, artinya "ilmu") adalah cabang dari filsafat yang berkaitan dengan hakikat atau teori pengetahuan. Dalam bidang filsafat, epistemologi meliputi pembahasan tentang asal mula, sumber, ruang lingkup, nilai validitas, dan kebenaran dari pengetahuan. Epistemologi mempelajari tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan.[1] Epistemologi menjadi banyak diperbincangkan dalam berbagai bidang, epistemologi dipusatkan menjadi empat bidang yakni 1) Analisis filsafat yang terkait hakikat dari pengetahuan dan bagaimana hal ini memiliki keterkaitan dengan konsepsi seperti kebenaran, keyakinan, dan justifikasi, 2) Berbagai masalah skeptisisme, 3) Sumber-sumber dan ruang lingkup pengetahuan dan justifikasi atas keyakinan, dan 4) Kriteria bagi pengetahuan dan justifikasi.[2]

Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti, "Apa yang membuat kebenaran yang terjustifikasi dapat dijustifikasi?",[3] "Apa artinya apabila mengatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu?",[4] dan pertanyaan yang mendasar, "Bagaimana kita tahu bahwa kita tahu?".[2][5]

Istilah 'Epistemologi' diperkenalkan di bidang filosofis oleh filsuf Skotlandia James Frederick Ferrier pada tahun 1854.[6] Namun, menurut Brett Warren, Raja James VI dari Skotlandia sebelumnya telah mempergunakan konsep filosofis ini dan menggunakannya sebagai personifikasi, dengan istilah Epistemon, pada tahun 1591.[7]

Epistemon[sunting | sunting sumber]

Dalam suatu perdebatan filosofis, Raja James VI dari Skotlandia menulis karakter Epistemon sebagai personifikasi dari sebuah konsep filosofis untuk menanggapi suatu debat dengan argumen apakah persepsi-persepsi yang dikembangkan oleh agama kuno persepsi yang dilakukan oleh para penyihir semestinya dihukum di tengah keberadaan masyarakat Kristen. Argumen King James menampilkan bahwa melalui karakter Epistemon, yang mendasarkan argumennya pada ide-ide teologis terkait penalaran dan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat, sementara itu lawannya Philomathes mengambil sikap filosofis pada aspek hukum di dalam masyarakat, tetapi berusaha untuk memperoleh pengetahuan yang lebih besar dari Epistemon, istilah Yunani untuk ilmuwan. Pendekatan filosofis ini menandakan Philomath yang mencari pengetahuan yang lebih besar melalui epistemologi dengan menggunakan teologi. Dialog ini digunakan oleh Raja James untuk mendidik masyarakat tentang berbagai konsep, termasuk konsep sejarah dan etimologi dari subjek yang diperdebatkan.

Epistemologi[sunting | sunting sumber]

Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Yunani klasik epistēmē yang berarti pengetahuan (knowledge) dan logos yang berarti penjelasan atau ilmu. Jadi epistemologi adalah "the theory of knowledge"[8] atau teori pengetahuan. Penggunaan secara istilah, epistemologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mengkaji dan membahas mengenai hakikat ilmu atau ilmu tentang pengetahuan (pengetahuan ilmiah).[9] Istilah secara terminologis, kata epistemologi dalam bahasa Inggris: "epistemology" yang merupakan bagian filsafat yang berhubungan dengan pengetahuan.[10] Epistemologi dalam kamus Webster New International Dictionary daring, epistemology didefinisikan sebagai studi atau teori mengenai sifat dan dasar pengetahuan terutama dengan mengacu pada batas dan validitasnya.[11] Sedangkan, secara istilah terminologis bahasa Indonesia, kata epistemologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring didefinisikan sebagai cabang ilmu filsafat tentang dasar dan batas pengetahuan.[12] Jadi, dapat disimpulkan bahwa epistemologi merupakan bagian atau cabang filsafat yang memperlajari dan membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batasan, sifat, metode, dan kebenaran pengetahuan.[13]

Secara harfiah, dalam ungkapan Prancis "doctrine de la Science" atau doktrin sains, yang kemunculannya istilah katanya diikuti dalam bahasa Jerman: "Wissenschaftslehre" yang artinya "pengajaran sains". Pada periode Jena (1794-1799), Istilah inilah yang digunakan oleh tokoh pemikir yang bernama Johann Fichte dan Bernard Bolzano untuk berbagai proyeknya. Fichte menggunakan istilah "Wissenschaftslehre" sebagai suatu tindakan bebas dalam memposisikan diri, menetapkan, dan primordial sebagai suatu kondisi dari semua pengetahuan dan pengalaman. Penggunaan istilah pada praktik subjektif yang secara eksklusif menjadi langkah awal dari setiap teori sains.[14] Gagasan Bolzano (1837) membahas "Wissenschaftslehre" dengan kemiripan gagasan oleh Fichte, yang dalam hal itu mengunggulkan sains sebagai sesuatu yang mendahului dan lebih unggul dari filsafat. Itu sangat berbeda, bagaimanapun, dalam hal itu menghilangkan gagasan tentang pemosisian diri saya yang mendukung kecenderungan total ke arah 'aritmetisasi' bidang sains itu sendiri.[15] Kemudian kata "epistemologi " pertama kali muncul pada tahun 1847, dalam ulasan di New York's Eclectic Magazine. Ini pertama kali digunakan sebagai terjemahan dari kata Wissenschaftslehre seperti yang muncul dalam novel filosofis oleh penulis Jerman Jean Paul.

James Frederick Ferrier merupakan seorang filsuf Skotlandia. Ferrier membahas epistemologi pertama kali dalam aliran filosofis Anglophone di Skotlandia pada tahun 1854,[6] penerapan dilakukan sebagai studi dalam Institutes of Metaphysics yakni penerapan epistemologi sebagai model 'ontologi', ia menetapkan bahwa epistemologi merupakan cabang filsafat yang bertujuan untuk menemukan makna dari pengetahuan, dan menyebutnya 'awal yang sesungguhnya' dari filsafat.

Pengetahuan[sunting | sunting sumber]

Dalam matematika, diketahui bahwa 2 + 2 = 4, tetapi ada juga cara untuk mengetahui bagaimana menambahkan dua angka, dan mengetahui orang (misalnya, diri sendiri), tempat (misalnya, satu kampung), benda (misalnya mobil), atau aktivitas (misalnya, penambahan). Beberapa filsuf berpikir ada perbedaan penting antara "tahu bahwa" (tahu konsep), "mengetahui bagaimana" (memahami operasi), dan "kedekatan-dengan-pengetahuan" (tahu dengan hubungan), dengan epistemologi yang terutama berkaitan dengan yang pertama ini.[16]

Meskipun perbedaan ini tidak eksplisit dalam bahasa inggris, perbedaan-perbedaan ini didefinisikan secara eksplisit dalam bahasa lain (Catatan: beberapa bahasa yang berhubungan dengan bahasa Inggris berhasil mempertahankan kata ini, misalnya dalam bahasa Skotlandia: "wit" dan "ken"). Di Prancis, Portugis, Spanyol, Jerman, dan Belanda, istilah untuk tahu (orang) masing-masing diterjemahkan dengan menggunakan connaître, conhecer, conocer dan kennen, sedangkan untuk mengetahui (cara melakukan sesuatu) diterjemahkan dengan menggunakan savoir, saber, dan weten. Yunani Modern memiliki kata kerja γνωρίζω (gnorízo) dan ξέρω (kséro). Italia memiliki kata kerja conoscere dan sapere dan kata benda untuk pengetahuan yang conoscenza dan sapienza. Jerman memiliki kata kerja wissen dan kennen. Wissen menyiratkan mengetahui sebuah fakta, kennen menyiratkan mengetahui dalam arti mengenal dan memiliki pengetahuan kerja; ada juga kata benda yang berasal dari kennen, yaitu Erkennen, yang telah dikatakan menyiratkan pengetahuan dalam bentuk pengakuan atau pengakuan. Kata itu sendiri berarti proses: anda harus pergi dari satu negara ke negara lain, dari suatu keadaan yang "tidak-erkennen" untuk sebuah negara yang benar erkennen. Kata kerja ini tampaknya menjadi yang paling tepat dalam hal menggambarkan "episteme" dalam salah satu dari bahasa-bahasa Eropa modern, maka dalam istilah Jerman hal ini disebut sebagai "Erkenntnistheorie". Teori interpretasi dan makna linguistik ini tetap kontroversial hingga saat ini.

Dalam makalahnya On Denoting dan kemudian buku Problems of Philosophy Bertrand Russell menekankan perbedaan antara "pengetahuan dengan keterangan" dan "pengetahuan oleh kedekatan". Gilbert Ryle juga dikreditkan dengan menekankan perbedaan antara mengetahui bagaimana dan mengetahui bahwa dalam The Concept of Mind. Dalam Personal Knowledge, Michael Polanyi berpendapat mengenai relevansi epistemologis pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu; dengan menggunakan contoh dari keseimbangan yang terlibat dalam mengendarai sepeda, ia menunjukkan bahwa pengetahuan teoretis dari fisika yang terlibat dalam menjaga keadaan keseimbangan tidak dapat menjadi pengganti untuk pengetahuan praktis tentang bagaimana berkendara, dan bahwasanya adalah penting untuk memahami bagaimana kedua hal ini terjadi dan bekerja. Contoh ini pada dasarnya sejalan dengan pendapat Ryle, yang menyatakan bahwa kegagalan untuk mengakui perbedaan antara ilmu dan pengetahuan mengarah pada suatu regresi tak terhingga.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Epistemologi merupakan suatu cabang utama filsafat yang khusus mengkaji tentang teori ilmu pengetahuan.[17] Dari segi sejarah, pembahasan filsafat merupakan induk utama ilmu pengetahuan. Atas dasar pokok filsafat inilah lahir cabang ilmu lain, seperti matematika, logika atau logika, kedokteran, dan lain-lain. Epistemologi asal kata dari "epistēmē" dalam bahasa Yunani yang berarti pengetahuan. Aliran ini secara garis besar dibagi menjadi dua aliran pokok yakni idealisme dan realism. Pertama, idealisme atau dikenal sebagai rasionalism adalah aliran yang merujuk pada peranan dari akal, ide, kategori, dan bentuk sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kedua, realisme atau dikenal empirism adalah aliran yang merujuk peranan indera baik itu penglihat, pendengar, peraba, pencium, dan pengecap sebagai sumber sekaligus alat mendapatkan ilmu pengetahuan. Para tokoh pemikiran aliran-aliran ini, ada kalanya saling mempertahankan keyakinan pemikirnya dan kadang sangat eksklusif dalam mengungkap kebenaran.[18]

Awal mula[sunting | sunting sumber]

Sokrates[sunting | sunting sumber]

Abad Yunani kuno didominasi oleh tiga tokoh pemikiran yakni Sokrates, Plato dan Aristoteles menggunakan metode maieutika dialektis kritis induktif. Metode Socrates atau disebut pula metode dialektika (maieutika tekhne) atau metode kebidanan[19] berasal dari Socrates (470-399 SM) yang merupakan seorang filsuf Yunani pada abad ke-5 SM dan kemudian ditampilkan dalam dialog yang ditulis oleh muridnya Plato.[20] Socrates mencapai ketenaran karena melibatkan orang lain dalam percakapan yang tujuannya adalah untuk mendefinisikan ide-ide secara luas (universal) seperti kebajikan, keindahan, keadilan, keberanian, dan persahabatan dengan mendiskusikan ambiguitas dan kompleksitas.[21] Suatu hal dapat diberi pengertian dengan melakukan pengamatan terhadap tingkah laku yang berkaitan.[22]

Jadi, ia memunculkan pengetahuan yang bersifat umum sebagai pengetahuan yang benar, dan pengetahuan yang khusus sebagai pengetahuan yang kebenarannya relatif.

Plato[sunting | sunting sumber]

Kedatangan Plato (428-347 SM) mengumumkan metode Sokrates tersebut sehingga menjadi teori ide, yaitu teori Dinge an sich versi Plato. Plato mengemukan bahwa pengetahuan sejati yang dikenal dengan sebutan episteme merupakan pengetahuan itu tunggal, tetap, tidak berubah-ubah.[23] Ia mengkaji epistemologi dengan berupaya memahami apa yang harus diketahui, dan bagaimana pengetahuan (tidak seperti sekadar opini yang benar) itu baik bagi yang mengetahui.[24] Maka, menurut Aristoteles pengetahuan itu merupakan hasil dari suatu pengamatan, banyak dan berubah-ubah.[25]

Aristoteles[sunting | sunting sumber]

Begitu berikutnya datang Aristoteles (382-322 SM), ia mengembangkan dari Plato menjadi teori tentang ilmu. Menurut Aristoteles pengetahuan merupakan hasil dari suatu kegiatan pengamatan manusia yang dilakukan dengan mengamati kenyataan dan melepaskan unsur universal dari partikular. Hal ini menjadi abstraksi di mana manusia meninggalkan bidang inderawi dan melewati taraf dugaan sampai akhirnya memperoleh sebuah episteme sebenarnya atau sejatinya.[26] Kemudian barulah logika epistemologi dapat dikatakan terwujud berkat karyanya yang di sebut To Organom, memuat teori metode silogisme deduktif. Lima pemaparan logis Aristoteles dalam manual disebut Organom mencakup Kategori, Tentang Interpretasi, Analisis Sebelumnya, Analisis Posterior (Analisis Bayes), Topik, dan Tentang Sanggahan Canggih.[27] Kemudian muncullah dekadensi logika. Perkembangan logika selalu beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah mewujudkan kegiatan berpikir kompleks yang harus diperhatikan pada setiap langkahnya.

Perspektif modern[sunting | sunting sumber]

Epistemologi Barat[sunting | sunting sumber]

René Descartes, yang dianggap sebagai pendiri filsafat Barat modern,[28] mengungkapkan pandangannya bahwa organisme adalah mesin yang dibangun di atas bagian-bagian berbeda yang masih memiliki kerangka konseptual yang dominan. Alam semesta fisik, termasuk organisme hidup, adalah mesin bagi Descartes, dan pada prinsipnya dapat dipahami sepenuhnya dengan menganalisis bagian-bagian terkecilnya.Pandangan mekanistik terkait dengan ekonomi kontemporer dicirikan oleh metode fragmentasi dan reduksionis, yang merupakan simbol dari sebagian besar ilmu sosial. Sistem kehidupan terdiri dari manusia dan sumber daya alamnya yang terus berinteraksi satu sama lain, yang sebagian besar adalah organisme hidup. Pandangan dunia mekanis yang terfragmentasi menyangkal sistem kehidupan yang lengkap dan menekankan pentingnya gaya hidup yang selaras dengan lingkungan ekologi dan sosial.[29]

Epistemologi Timur[sunting | sunting sumber]

Pandangan ilmu pengetahuan di dunia Timur lebih memperhatikan keselarasan ekologi dan sosial, keserasian dan kesatuan antara manusia dengan lingkungan luar. Manusia sebagai makhluk hidup adalah individu sebagai salah satu bagian kecil dunia (mikrokosmos) yang berada di alam semesta yang sngat luas (makrokosmos).[30] Pandangan dunia Timur melihat dunia dari perspektif hubungan dan integrasi. Organisme adalah sistem yang mengatur diri sendiri, yang berarti bahwa struktur dan tatanan fungsionalnya tidak ditentukan oleh lingkungan, tetapi ditentukan oleh sistem itu sendiri. Misalnya, sistem menetapkan tren skalanya berdasarkan prinsip pengawasan internal yang tidak terpengaruh oleh lingkungan. Pandangan sistem kehidupan sebagai jaringan membawa perspektif baru yang disebut hierarki alami.[29]

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang telah dicapai telah melahirkan beberapa disiplin ilmu lain telah muncul dari filosofi induk, yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Ontologi (Teori hakikat), Epistemologi (Teori Ilmiah) dan Aksiologi (Teori nilai).[31]

Aliran epistemologi[sunting | sunting sumber]

Rasionalisme[sunting | sunting sumber]

Rasionalisme adalah aliran yang mementingkan akal pikiran sebagai sumber pengetahuan.[32] Rasionalisme adalah aliran filsafat ilmu yang menyatakan bahwa kebenaran dapat diperoleh hanya melalui hasil pembuktian, logika dan analisis terhadap fakta.[33] Segala sumber pengetahuan dalam rasionalisme berasal dari akal pikiran atau harus bersifat rasional.[32] Pengembangan pola berpikir rasional dalam pembelajaran didapat melalui proses pembelajaran dengan metode pembelajaran yang menggunakan tahapan ilmiah yaitu mengamati, mengumpulkan data, menentukan hipotesis, menganalisis data, menarik kesimpulan, mengkomunikasikan hal yang telah didapatkan.

Tokoh pemikir aliran ini yakni Rene Descartes (1596-1650), seorang tokoh pemikir filsafat modern. Dalam ungkapnya yang terkenal yakni Cogito Ergo Sum "Saya berpikir, maka saya ada". Hal ini mendapatkan kecaman dari beberapa tokoh pemikir dan dianggap eksponen (berulang-ulang).[34] Kemudian ia membangkitkan pemikiran di filsafat Barat dengan mengataan bahwa kebenaran itu adalah tindakan akal. Karena dengan rasio, seseorang dapat mencapai kebenaran, yang berarti tidak boleh mempercayai hal-hal diluar rasion manusia. Untuk mencapai kebenaran, maka diperlukan tiga ide bawaan (innate ideas) meliputi Ide pemikiran, Ide Allah sebagai wujud sempurna, dan Ide keluasan.[28] 3 kategori ide bawaan tersebutlah yang menjadi aksioma pengetahuan dalam filsafat rasionalisme yang kebenaran sudah tidak diragukan lagi.[35]

Empirisme[sunting | sunting sumber]

Empirisme adalah aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia diperoleh melalui sebuah pengalaman[36] atau pengamatan indra. Indra diperoleh dari alam empiris dan terkumpul dalam diri manusia menjadi suatu pengalaman. Adapun tokoh aliran empiris antara lain:

John Locke (1632-1704) menjadikan dasar aliran empirisme sebagai suatu proses berpikir.[37] Pada tahun 1669, dalam bukunya berjudul Essay Concerming Human Understanding dengan premis utama, dinyatakan bahwa semua pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pemikiran Locke bertentangan dengan ide bawaan (innate ideas) sebagai sumber pengetahuan yang dikemukakan Descrates sehingga ia menolak adanya ide bawaan tersebut.[38] Pengalaman menurut pandangan Locke dibagi menjadi dua, antara lain: pengalaman dari luar berupa sensasi (sensation) dan pengalaman dalam berupa batin atau refleksi (reflexion). Melalui proses asosiasi dari kedua pengalaman itu akan membentuk ide yang lebih kompleks.

David Hume (1711-1776), seorang tokoh pemikir asal Inggris[39] yang meneruskan tradisi empirisme. Hume berpendapat bahwa ide yang sederhana adalah salinan (copy) dari sensasi-sensasi sederhana atau ide-ide sederhana atau kesan-kesan yang kompleks. Pemikiran empiris yang dikemukakannya bersifat radikal. Ia mengartikan substansi pengetahuan sebagai perulangan dari pengalaman sehingga keseluruhan pengetahuan merupakan total pengalaman. Pandangan David Hume cenderung skeptisisme karena ia hanya mengakui hasil pengetahuan oleh indra secara luas. Ia mengangggap pengalaman sebagai sebuah khayalan dan anggapan semata.[40] Aliran ini kemudian berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama pada abad ke-19 dan abad ke-20.

Positivisme[sunting | sunting sumber]

Tokoh aliran ini di antaranya August Comte, yang memiliki pandangan sejarah perkembangan pemikiran umat manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap, yaitu: 1) Tahap Teologis, yaitu manusia masih percaya pengetahuan atau pengenalan yang mutlak. Manusia pada tahap ini masih dikuasai oleh takhayul-takhayul sehingga subjek dengan objek tidak dibedakan. 2) Tahap Metafisis, yaitu pemikiran manusia berusaha memahami dan memikirkan kenyataan, tetapi belum mampu membuktikan dengan fakta. 3) Tahap Positif, yang ditandai dengan pemikiran manusia untuk menemukan hukum-hukum dan saling hubungan lewat fakta. Oleh karena itu, pada tahap ini pengetahuan manusia dapat berkembang dan dibuktikan lewat fakta. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Susunan tingkatan ini dapat terus dikembangkan sehingga masing-masing sains yang baru akan tergantung pada tahap sebelumnya. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.[41]

Skeptisisme[sunting | sunting sumber]

Skeptisisme adalah alirah yang menekankan doktrin sebagai pengetahuan bukan hal yang pasti, sebuah metode penilaian yang ditangguhkan, keraguan yang terstruktur, atau karakteristik dari kritik skeptis.[42] Sedangkan dalam filsafat, skeptisisme dapat merujuk pada metode penyelidikan yang menekankan pengawasan kritis, kehati-hatian, dan ketelitian intelektual. Skeptisisme dimulai dengan klaim bahwa seseorang tidak mengetahui proposisi yang biasanya ia pikir telah ketahui.[43] Menyatakan bahwa indra adalah bersifat menipu atau menyesatkan. Namun, pada zaman modern berkembang menjadi skeptisisme medotis (sistematis) yang mensyaratkan adanya bukti sebelum suatu pengalaman diakui benar. Tokoh skeptisisme adalah Rene Descartes (1596-1650).

Pragmatisme[sunting | sunting sumber]

Pragmatisme adalah aliran yang menegaskan bahwa pemikiran manusia menurut pada suatu tindakan.[44] Dengan kata lain kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan sebagai sarana bagi suatu perbuatan. Kebenaran pengetahuan harusnya dilakukan dengan suatu perbuatan terencana. Sering kali, Orang yang mempunyai sifat pragmatis, suatu perbuatan yang yang dilakukan akan diharapkan langsung tercapai tanpa berpikir dengan tanpa proses waktu tertentu, sehingga hasil dari kebenarannya kadang salah atau meleset.[45] Adapun tokoh pemikir yang memperkenal pragmatisme antara lain:

Charles Sanders Peirce (1839-1914), dikenal sebagai "penemu" atau pelopor aliran pragmatisme berasal dari Amerika.[46] Peirce juga merupakan seorang ahli logika yang mengenalkan kembali semiotika sebagai bagian dari linguistik.[47] Pierce menyatakan bahwa yang terpenting inti dari pragmatisme adalah pernyataan apapun memilik manfaat (makna ), pernyataan itu harus memiliki bantalan praktis, terencana.[48] Kebenaran pengetahuan yang digambarkan suatu hal yang peroleh mengenai akibat yang dapat saksikan dan diamati.

John Dewey (1859-1952), dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh besar dalam pemikiran pragmatisme modern.[49] Pemikiran pragmatisme yang dikembangkan oleh Dewey dikenal juga sebagai eksperientalisme. Penamaan ini berasal dari pemikirannya yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia merupakan tujuan dari pendidikan. Ia menyebutnya sebagai pertumbuhan karena menganggap segala sesuatu di dunia ini memiliki sifat selalu berubah.[50] Pemikiran pragmatisme John Dewey menjadi salah satu pemikiran yang mempengaruhi dimulainya pendidikan massal.[51]

Willian James (1824-1910), dikenal sebagai bapak aliran pragmatisme. James mengemukakan bahwa pragmatisme merupakan suatu upaya dalam mempersatukan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat sehingga lebih ilmiah dan berguna untuk kehidupan praktis. Kemudian, ia mengembangkan dan menerapkan ke kehidupan yang kegunaannya menopang kehidupan. Kebenaran pada metode yang diterap menggunakan kriteria kebenaran yang mengikuti kaidah keseharian manusia.[52] Studi pragmatisme berkaitan perhatiannya terhadap agama menjadi kontribusi terbesar bagi James adalah perhatiannya pada agama. James mengemukakan bahwa suatu kebenaran dievaluasi didasarkan tindakan atau perilaku manusia sehingga seseorang memiliki keniscayaan agama dan dibenarkan apabila pembedannya positif dalam hidup orang lain.[53]

Kemanfaatan epistemologi[sunting | sunting sumber]

Manfaat mempelajari epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradapan. Hal ini disebabkan dengan epistemologi membantu dalam membangun masyarakat baik modern maupun tradisonal tanpa mengesampingkan peranan kunci dari epistemologi agar mencegah terjadi kemacetan peradaban, kreasi baru, dan temuan orisinal.[54] Tiga alasan yang menjadi pertimbangan dalam mempelajari epistemologi meliputi strategis, kebudayaan, dan pendidikan. Pertama, pertimbangan strategis terhadap epistemologi ialah agar dapat memahami pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia baik dari segi manfaat dan perolehan ilmu. Kedua, pertimbangan kebudayaan terhadap epistemologi ialah agar dapat memahami dan mengungkapkan makna yang terkandung pada ekspresi budaya, baik itu makna budaya yang berupa tulisan, lisan maupun simbol. Ketiga, pertimbangan pendidikan terhadap epistemologi bersifat usaha sadar pada pandangan secara sentral, di mana pendidikan dicirikan dengan proses mulai dari penetapan visi misi, kurikulum, capaian pelajaran yang ingin raih, penentuan mata pelajaran yang akan dikaji, hingga evaluasi hasil pembelajaran. Dari proses inilah akan menuntun, mempertajam, dan membantu dalam memahami ilmu pengetahuan secara terstuktur.[55]

Pendekatan ilmiah[sunting | sunting sumber]

Secara operasional dan eksplisit, konsep epistemologi dikaji dalam penerapan metode ilmiah. Metode ilmiah secara metodologis mencakup tindak pikiran, pola, teknis, dan tahapan sebagai dasar pengembangan pengetahuan yang telah ada sebelumnya ataupun perolehan pengetahuan yang baru.[56] Adapun prosedur untuk perolehan dan pengembangan tersebut, metode ilmiah, yaitu: a) Penyusunan hasil pengetahuan mencakup kerangka pikiran logis dengan argumen konsisten, b) Deduksi dari kerangka pemikiran diuraikan berdasar hipotesis, c) Pernyataan dari hipotesis diverifikasi, lalu diuji kebenarannya secara faktual.[57]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Priatna, Tedi (2020). Filsafat Ilmu Untuk Pendidikan (PDF). Bandung, Jawa Barat: Trussmedia Grafika. hlm. 16. ISBN 978-602-6266-00-2. 
  2. ^ a b Abdurrahman, Misno (2020). Falsafah Ekonomi Syariah. Yogyakarta: Bidang Pustaka Madani. hlm. 42. ISBN 978-623-6786-26-0. 
  3. ^ Steup, Matthias (8 September 2017). Zalta, Edward N., ed. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 
  4. ^ Carl J. Wenning. "Scientific epistemology: How scientists know what they know" (PDF). 
  5. ^ "The Epistemology of Ethics". 1 September 2011. 
  6. ^ a b "James Frederick Ferrier: Scottish philosopher". britannica.com. Encyclopædia Britannica Daring. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  7. ^ King James; Warren, Brett. The Annotated Daemonologie. A Critical Edition. In Modern English. 2016. hlm. x-xi. ISBN 1-5329-6891-4. 
  8. ^ Rohman, Arif; Rukiyati; Purwastuti, Andriani (2014). Epistemologi dan Logika: Filsafat untuk Pengembangan Pendidikan (PDF). Sleman, Yogakarta: Aswaja Pressindo. hlm. 13. ISBN 978-602-18653-6-1. 
  9. ^ Suaedi (2019). Pengantar Filsafat Ilmu (PDF). Bogor: IPB Press. hlm. 46. ISBN 978-979-493-888-1. 
  10. ^ "epistemology". oxfordlearnersdictionaries.com (dalam bahasa Inggris). Oxford English Dictionary Daring. Diakses tanggal 2021-12-29. 
  11. ^ "epistemology". merriam-webster.com. Webster New International Dictionary Daring. Diakses tanggal 2021-12-29. 
  12. ^ "epistemologi". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses tanggal 2021-12-29. 
  13. ^ Muliadi (2020). Busro, ed. Filsafat Umum (PDF). Bandung: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. hlm. 17. ISBN 978-623-7166-42-9. 
  14. ^ James, David; Zoller, Gunter (2016). "Fichte's Later Presentations of the Wissenschaftslehre". The Cambridge Companion (dalam bahasa Inggris). 10 (5): 139—167. doi:10.1017/9781139027557.007. 63610360. 
  15. ^ Hailperin, Theodore (1996). Sentential Probability Logic: Origins, Development, Current Status, and Technical Applications. Betlehem: Lehigh University Press. hlm. 84–85. ISBN 9780934223454. 
  16. ^ John Bengson (Editor), Marc A. Moffett (Editor): Essays on Knowledge, Mind, and Action. New York: Oxford University Press. 2011
  17. ^ Hanurawan, Fattah (2016). "FILSAFAT ILMU DALAM BIDANG PENDIDIKAN". fppsi.um.ac.id. FPPSI-UM. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  18. ^ Al-Jauharie, Imam Khanafie (2020). Tema-Tema Pokok Filsafat Islam (edisi ke-2). Pekalongan, Jawa Tengah: Broadview Press. hlm. 100. ISBN 978-602-60961-1-1. 
  19. ^ Ibrahim, Duski (2017). FIlsafat Ilmu: Dari Penumpang Asing untuk Para Tamu (PDF). Palembang: NoerFikri. hlm. 51. ISBN 978-602-6318-97-8. 
  20. ^ Waris (2014). Rofiq, Ahmad Choirul, ed. Pengantar Filsafat (PDF). Ponorogo: STAIN Po Press. hlm. 10. 
  21. ^ Ann S. Maigue, Mary Grace (2020). "The Socratic Method As An Approach In Teaching Social Studies: A Literature Review" (PDF). Global Scientific Journals. 8 (12): 770–775. ISSN 2320-9186. 
  22. ^ Nawawi, Nurnaningsih (2017). Sabri, Muhammad, ed. Tokoh Filsuf dan Era Keemasan Filsafat Edisi Revisi (PDF). Makassar: Pusaka Almaida. hlm. 5. ISBN 978-602-6253-53-8. 
  23. ^ Sudiantara, Yosephus (2020). Filsafat Ilmu: Bagian Pertama, Inti Filsafat Ilmu Pengetahuan (PDF). Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. hlm. 25. ISBN 978-623-7635-46-8. 
  24. ^ "Epistemology". plato.stanford.edu. Stanford Encyclopedia of Philosophy. 2005. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  25. ^ Al-Jauharie, Imam Khanafie (2020). Tema-Tema Pokok Filsafat Islam (edisi ke-2). Pekalongan, Jawa Tengah: Broadview Press. hlm. 101. ISBN 978-602-60961-1-1. 
  26. ^ Sudiantara, Yosephus (2020). Filsafat Ilmu: Bagian Pertama, Inti Filsafat Ilmu Pengetahuan (PDF). Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. hlm. 26. ISBN 978-623-7635-46-8. 
  27. ^ "Aristotle: Logic". iep.utm.edu. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  28. ^ a b Fikri, Mursyid (2018). "Rasionalisme Descartes dan Implikasinya Terhadap Pemikiran Pembaharuan Islam Muhammad Abduh" (PDF). Jurnal Tarbawi. 3 (2): 128–144. doi:10.26618/jtw.v3i02.1598. ISSN 2527-4082. 
  29. ^ a b Trisnaningsih, Sri (2011). "Epistemologi Modern Dalam Tradisi Barat Dan Timur" (PDF). UPN JATIM: 1–5. ISSN 0853-9553. 
  30. ^ Amirullah (2015). "Krisis Ekologi: Problematika Sains Modern" (PDF). Lentera: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi. 18 (1): 1–21. doi:10.21093/lj.v17i1.425. 
  31. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :1
  32. ^ a b Wahana, Paulus (2016). FIlsafat Ilmu Pengetahuan (PDF). Yogyakarta: Pustaka Diamond. hlm. 31. ISBN 978-979-1953-917. 
  33. ^ Kristiawan, Muhammad (2016). Filsafat Pendidikan: The Choice Is Yours. Sleman: Penerbit Valia Pustaka Jogjakarta. hlm. 241. ISBN 978-602-71540-8-7. 
  34. ^ Burhanuddin, Nunu (2019). Filsafat Ilmu. Jakarta Timur: Kencana. hlm. 42. ISBN 978-602-422-298-7. 
  35. ^ Atabik, Ahmad (2014). "TEORI KEBENARAN PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU: Sebuah Kerangka Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama" (PDF). Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan. Kudus, Jawa Tengah: Institut Agama Islam Negeri Kudus. 2 (1): 253–271. doi:10.21043/fikrah.v2i2.565. ISSN 2476-9649. 
  36. ^ Wardhana, Made (2016). Filsafat Kedokteran (PDF). Vaikuntha International Publication. hlm. 23. ISBN 978-602-73078-5-8. 
  37. ^ Wardhana, Made (2016). Filsafat Kedokteran (PDF). Vaikuntha International Publication. hlm. 48. ISBN 978-602-73078-5-8. 
  38. ^ Sesady, Muliati (2019). Wahid, Abdul, ed. Pengantar Filsafat (PDF). Bantul: TrustMedia Publishing. hlm. 122. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-12-24. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  39. ^ Wasitaatmadja, F. F., Hamdayama, J., dan Herdiwanto, H. (2018). Spiritualisme Pancasila (PDF). Jakarta Timur: Prenadamedia Group. hlm. 106. ISBN 978-602-422-267-3.  [pranala nonaktif permanen]
  40. ^ Widodo, Sembodo Ardi (2015). Pendidikan dalam Perspektif Aliran-Aliran Filsafat (PDF). Bantul: Idea Press. hlm. 96. ISBN 978-602-0850-25-2. 
  41. ^ Nugroho, Irham (2016). "Positivisme Auguste Comte: Analisa Epistemologis Dan Nilai Etisnya Terhadap Sains" (PDF). Cakrawala. Magelang, Jawa Tengah: Universitas Muhammadiyah Magelang. xi (2): 173. doi:10.31603/cakrawala.v11i2.192. 
  42. ^ "Definition of SKEPTICISM". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-12. 
  43. ^ "Skepticism". plato.stanford.edu. 2001. Diakses tanggal 2021-12-17. 
  44. ^ Wilardjo, Setia Budhi (2009). "Aliran-aliran dalam Filsafat Ilmu Berkait dengan Ekonomi". Value Added: Majalah Ekonomi dan Bisnis. 6 (1): 1–21. 
  45. ^ "Pragmatisme Mahasiswa". bunghatta.ac.id. Universitas Bung Hatta. 2008. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  46. ^ Hamidah (2017). Rosyidi, Abdul Wahab, ed. Filsafat Pembelajaran Bahasa: Perspektif Strukturalisme dan Pragmatisme (PDF). Bantul: Naila Pustaka. hlm. vii. ISBN 978-602-1290-43-9. 
  47. ^ Asriningsari, A., dan Umaya, N. M. (2010). Semiotika: Teori dan Aplikasi pada Karya Sastra (PDF). Semarang: UPGRIS Press. hlm. 27. ISBN 978-602-804-712-8. 
  48. ^ Atkin, Albert. "Charles Sanders Peirce: Pragmatism". iep.utm.edu (dalam bahasa Inggris). Internet Encyclopedia of Philosophy Daring. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  49. ^ Widodo, Sembodo Ardi (2015). Pendidikan dalam Perspektif Aliran-Aliran Filsafat (PDF). Bantul: Idea Press. hlm. 1. ISBN 978-602-0850-25-2. 
  50. ^ Kristiawan, Muhammad (2016). Hendri, L., dan Juharmen, ed. Filsafat Pendidikan: The Choice Is Yours (PDF). Yogyakarta: Penerbit Valia Pustaka Jogjakarta. hlm. 100. ISBN 978-602-71540-8-7. 
  51. ^ Fauziah, P., dkk. (2019). Homeschooling: Kajian Teoritis dan Praktis. Yogyakarta: UNY Press. hlm. 29. ISBN 978-602-498-048-1. 
  52. ^ Hasbullah (2020). "Pemikiran Kritis John Dewey Tentang Pendidikan". Jurist-Diction. 10 (1): 1–21. doi:10.18592/jt%20ipai.v10i1.3770. 
  53. ^ "Pragmatism (William James)". encyclopedia.com. Diakses tanggal 2021-12-30. 
  54. ^ Qomar, Muljamil (2005). Epistemologi pendidikan Islam dari metode rasional hingga metode kritik. Ciracas, Jakarta: Erlangga. hlm. 34. ISBN 9789797810740. 
  55. ^ Waston (2019). Filsafat Ilmu dan Logika. Surakarta, Jawa Tengah: Muhammadiyah University Press. hlm. 27. ISBN 978-602-361-236-9. 
  56. ^ Saifullah (2013). "REFLEKSI EPISTIMOLOGI DALAM METODOLOGI PENELITIAN (Suatu Kontemplasi atas Pekerjaan Penelitian)" (PDF). De Jure: Jurnal Hukum dan Syar'iah. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim. 5 (2): 179–180. doi:10.18860/j-fsh.v5i2.3009. 
  57. ^ Habibah, Sulhatul (2017). "Implikasi Filsafat Ilmu terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi" (PDF). DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora. Jawa Timur: Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. 4 (1): 173–174. ISSN 2550-0953.