Generalisasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Generalisasi adalah proses penalaran yang membentuk kesimpulan secara umum melalui suatu kejadian, hal, dan sebagainya.[1] Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif.[2] Contoh: (1) Tamara Bleszynski adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik. (2) Omaz Mo adalah bintang sinetron, dan ia juga berparas cantik. (3) Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik. Pernyataan "semua bintang sinetron berparas cantik" hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya. Contoh kesalahannya: Mpok Nori juga bintang sinetron, tetapi tidak berparas cantik.

Pengertian[sunting | sunting sumber]

Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif. Terdapat prinsip tersirat dalam penalaran induktif, yaitu asumsi tentang jalannya alam dan keteraturan alam semesta; apa yang terjadi sekali, akan terjadi lagi dalam kesamaan keadaan yang cukup, sesering keadaan yang sama berulang. Asumsi ini berlaku untuk setiap penalaran induktif.[3] Dasar pola berpikir adalah observasi, pengetahuan yang didapat dari observasi ini yang kemudian menjadi pengetahuan-pengetahuan khusus. observasi mendahului adanya induksi.[4]

Generalisasi merupakan pernyataan yang mengandung karakter untuk seluruh atau kebanyakan objek yang diselidiki. Generalisasi termasuk penalaran induktif yang memiliki kebenaran probabilitas berdasarkan informasi dari beberapa objek.[5] Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak belakang dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki. Maka dari itu, hukum dari fenomena yang diselidiki berlaku juga untuk fenomena sejenis yang belum diselidiki. Hukum yang dihasilkan dari penalaran secara generalisasi maupun seluruh penalaran induktif tidak pernah mencapai kebenaran pasti, tetapi hanya sebatas kebenaran kemungkinan besar (probabilitas). Berbeda dengan penalaran deduktif yang kesimpulannya tersirat di premis-premis yang valid dan akan menghasilkan proposisi universal dengan kesimpulan yang pasti.[6] Generalisasi juga diartikan sebagai suatu cara untuk memperluas cakupan referensi dan penerapan suatu hasil sehingga menempatkannya dalam konteks yang lebih luas dengan menghilangkan batasan tertentu.[7] Generalisasi berarti memahami di bawah nama umum beberapa objek yang memiliki beberapa kesamaan dari masing-masing objek dan nama umum tersebut berfungsi untuk menjadi indikasi.[8]

Esensi dari arti generalisasi terdapat pada kata general itu sendiri yang diartikan sebagai identik atau serupa pada suatu kelompok objek. Proses generalisasi adalah menemukan sifat "general" yang terdapat pada objek dan membentuk kelas yang dibawanya.[9] Pada generalisasi yang terjadi yaitu berdasarkan sifat atau ciri sama yang terdapat pada beberapa fenomena tertentu maka disimpulkan bahwa semua fenomena tertentu itu memiliki sifat atau ciri yang sama itu. Generalisasi yang sering terjadi yaitu induksi enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan generalisasi berupa proposisi universal.[10] Untuk membuat generalisasi, logika Aristoteles menekankan pada prinsip relasi formal antar proposisi.[11] Generalisasi dari sejumlah sampel yang diperiksa dan dianggap mewakili kelas yang diberikan biasanya dikenal dengan nama induksi enumerasi sederhana, hal ini adalah dasar dari generalisasi. Setiap orang membuat kesimpulan dengan enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan tidak valid secara logis karena dalam menyimpulkan dari premis "Beberapa S" ke kesimpulan "Seluruh S" ada distribusi S yang tidak sah. Misalnya, fakta bahwa gagak yang diamati semuanya berwarna hitam, maka disimpulkan bahwa semua gagak berwarna hitam.[12]

Generalisasi harus memenuhi tiga syarat: pertama, generalisasi tidak boleh terbatas secara numerik, artinya proposisi harus benar secara universal dan berlaku untuk setiap subjek yang memenuhi; kedua, generalisasi tidak boleh terbatas secara spasio-temporal, artinya tidak boleh terbatas ruang dan waktu dan berlaku kapan dan dimana saja; ketiga, generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.[13] Selain itu, generalisasi memiliki empat tahap: persepsi generalisasi (perception of generality), ekspresi generalisasi (expression of generality), ekspresi simbolis generalisasi (symbolic expression of generality), dan manipulasi generalisasi (manipulation of generality).[14]

Macam-macam generalisasi[sunting | sunting sumber]

Generalisasi sempurna[sunting | sunting sumber]

Generalisasi sempurna adalah generalisasi di mana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Generalisasi sempurna dikenal juga dengan istilah induksi lengkap, diawali dengan hal partikular yang mencakup keseluruhan jumlah dari fenomena yang diselidiki. Generalisasi macam ini memiliki kesimpulan yang sangat kuat dan tidak dapat diperdebatkan serta diragukan. Tetapi tidak efektif dan efisien.[15] Arti penalaran pada generalisasi ini sangat lemah, sebab pernyataan hanya mengenai apa yang diketahuinya dan tidak mengembangkan pengetahuannya, tetapi hanya sebatas menyimpulkan.[16]

Contoh: Sensus penduduk.

Generalisasi tidak sempurna[sunting | sunting sumber]

Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi di mana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Generalisasi tidak sempurna disebut juga dengan induksi tidak lengkap yang dilakukan dengan memerhatikan hanya sebagian hal partikular.[17] Generalisasi macam ini tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti sebagaimana generalisasi sempurna, tetapi jauh lebih efektif dan efisien. Dalam penelitian ilmiah sering kali tidak dimungkinkan untuk menggunakan generalisasi sempurna dan lebih mungkin serta lebih lazim untuk menggunakan generalisasi tidak sempurna.[18]

Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana satin. Sebagian bangsa Indonesia suka bergotong-royong, maka disimpulkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.

Generalisasi Empirik[sunting | sunting sumber]

Generalisasi empirik merupakan generalisasi yang tidak disertai dengan penjelasan mengapa fenomena berlaku dan hanya mendasarkan penyimpulannya pada fenomena tertentu. Prinsip dari penalaran generalisasi ini dapat dirumuskan dengan: apa yang terjadi berulang dalam kondisi tertentu diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi.[19] Misalnya, dua kali dirasakan apel yang masam dalam kondisi keras dan hijau. Maka ketika melihat apel ketiga dengan kondisi keras dan hijau, dapat disimpullkan apel itu masam. Generalisasi yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari yaitu generalisasi empirik. Generalisasi empirik terjadi ketika memerhatikan beberapa objek dan menyimpulkan persamaan yang ada pada objek tersebut. Ketika telah ditarik kesamaan yang ada maka akan menghasilkan sifat umum yang perlu didukung oleh referensi lain agar menjadi generalisasi yang memiliki kebenaran yang kuat.[20]

Generalisasi dengan Penjelasan[sunting | sunting sumber]

Apabila generalisasi yang ada disertai dengan penjelasan maka disebut dengan generalisasi dengan penjelasan (explained generalization), kebenaran yang dihasilkan dari generalisasi ini lebih kuat dan memiliki kebenaran yang hampir setingkat dengan generalisasi sempurna. Hukum alam pada awalnya dirumuskan melalui generalisasi empirik, setelah diketahui hubungan kausalnya, maka lahir generalisasi dengan penjelasan yang menjadi dasar penjelasan ilmiah. Misal, manusia telah lama mengetahui benda yang dilemparkan ke atas akan jatuh ke bawah, namun hal tersebut baru dapat diterangkan setelah ditemukannya hukum gravitasi oleh Isaac Newton.[21]

Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna[sunting | sunting sumber]

Meskipun generalisasi tidak sempurna hanya merupakan kesimpulan yang ditarik dari beberapa fenomena, namun generalisasi tidak sempurna dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah[22]:

  1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili. Tidak ada ukuran pasti berapa jumlah sampel yang diperlukan untuk dapat menghasilkan kesimpulan yang terpercaya. Semakin banyak jumlah sampel yang digunakan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
  2. Sampel harus bervariasi. Semakin banyak variasi sampel, semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
  3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/tidak umum. Hal yang menyimpang harus diperhatikan juga, tertutama jika penyimpangan terjadi cukup besar bahkan mungkin untuk tidak diadakannya generalisasi. Semakin cermat faktor penyimpang dipertimbangkan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
  4. Kesimpulan konsisten dengan sampel. Kesimpulan yang dihasilkan harus merupakan konsekuensi logis dari sampel yang dikumpulkan dan tidak boleh membeikan penafsiran menyimpang dai data yang ada.

Beberapa faktor probabilitas yang dinyatakan oleh Soekandijo tentang generalisasi, yaitu: semakin besar fakta yang dijadikan dasar penalaran, semakin tinggi probabilitas konklusinya; semakin besar faktor kesamaan pada premis, semakin rendah probabilitas konklusinya; semakin besar jumlah faktor disanaloginya, semakin tinggi probabilitas konklusinya; dan semakin luas konklusinya maka semakin rendah probabilitasnya.[23]

Generalisasi yang Salah[sunting | sunting sumber]

Tingkat kepercayaan atau kebenaran generalisasi tergantung dengan terpenuhi atau tidaknya jawaban atas pengujian yang dilakukan sebelumnya. Terdapat kecenderungan umum untuk membuat generalisasi berdasarkan sampel yang sedikit sehingga tidak mencukupi syarat untuk menjadi generalisasi. Hal ini disebut dengan generalisasi tergesa-gesa.[21] Kekeliruan ini menggunakan sampel yang tidak mencukupi yang biasanya dapat diterima tetapi tidak cukup untuk menetapkan kesimpulan argumen. Sebab, buan hal yang lazim untuk menarik kesimpulan berdasarkan satu bukti pendukung atau dapat disebut sebagai kekeliruan dari fakta yang sepi (fallacy of lonely fact).[24] Generalisasi yang tergesa-gesa (hasty generalization) digunakan untuk menyatakan stereotip yang salah dengan menganggap beberapa objek tertentu lebih mirip daripada kejadian yang sebenarnya. Misalnya, orang yang berpikir dengan kekeliruan generalisasi tergesa-gesa menganggap orang-orang Italia hanya memakan spageti, seluruh orang New York adalah orang yang tidak acuh, atau semua orang yang membaca Karl Marx ingin menggulingkan rezim pemerintahan. [25] Generalisasi tergesa-gesa merupakan penarikan kesimpulan tentang seluruh objek dari suatu fenomena dengan pengetahuan terbatas hanya dari satu atau sedikit objek dari fenomena tersebut.

Kekeliruan yang selanjutnya disebut dengan kekeliruan kebetulan (fallacy of accident), kesalahan ketika generalisasi secara keliru diterapkan pada kasus tertentu di mana generalisasi tidak berlaku. Kekeliruan ini disebut juga dengan secundum quid, kekeliruan dengan mengabaikan kualifikasi dengan gagasan keliru bahwa apa yang benar dengan kualifikasi tertentu juga benar tanpa kualifikasi tersebut. Terdiri dari penggunaan prinsip tanpa memerhatikan keadaan yang mengubah penerapannya.[26] Generalisasi mungkin saja tidak berlaku untuk beberapa kejadian tertentu yang disebabkan oleh keadaan khusus atau keadaan aksiden. Jika keadaan khusus ini diabaikan dan diasumsikan generalisasi berlaku secara universal, maka terjadi kekeliruan kecelakaan.[27] Misalnya, apakah hutang harus dibayar? Secara general, iya, tetapi terdapat situasi luar biasa di mana kewajiban tersebut berakhir.[28] Hukum mengatakan tidak boleh berkendara lebih dari 60 km/jam, sehingga meskipun ayah anda tidak bisa bernafas, tidak boleh berkendara diatas 60 km/jam. Karena menunggang kuda adalah olahraga yang menyehatkan, Harry Brown harus melakukan lebih sering karena baik untuk kesehatan jantungnya.[29]

Kekeliruan kebetulan terjadi ketika objek yang mengalami pengecualian (dalam kondisi khusus) kemudian disimpulkan sebagai substansinya.[30] Kekeliruan kebalikan dari kekeliruan kebetulan atau disebut dengan (converse accident) yaitu pengecualian untuk generalisasi diterapkan untuk kasus di mana generalisasi harus diterapkan. Misalnya, disebabkan pasien yang sakit parah diizinkan untuk menggunakan heroin, maka harus mengizinkan semua orang untuk menggunakan heroin.[31]

Generalisasi Ilmiah[sunting | sunting sumber]

Perbedaan utama dalam generalisasi ilmiah dengan generalisasi biasa yaitu terletak pada metode, kualitas data, serta ketepatan perumusannya. Hal-hal penting dari generalisasi ilmiah, yaitu[32]:

  1. Pengamatan dilaukan dengan cermat dalam kondisi terbaik oleh orang yang ahli dalam observasi dan mengenal baik subjek yang diselidiki; hasil dari pengamatan dicatat dengan cepat, lengkap, akurat, dan dicek oleh observer lain.
  2. Pengamatan harus bersifat eksperimental: dalam kondisi bervariasi dan dapat diamati satu per satu.
  3. Penggunaan instrumen untuk mengukur dan mencatat sehingga meminimalisir kemungkinan kesalahan dan mendapatkan presisi yang lebih besar.
  4. Pemeriksaan yang cermat, perbandingan, dan klasifikasi fakta.
  5. Pernyataan generalisasi dalam istilah yang jelas, sederhana, dan tepat serta jika memungkinkan dalam rumus matematika.
  6. Pencarian menyeluruh, dalam variasi waktu, tempat, dan kondisi seluas mungkin untuk fakta yang tidak akan konsisten dengan generalisasi. Tidak lupa juga publisitas, dunia ilmiah diundang untuk mengkaji ulang, mengkritisi, dan menguji serta bergabung dalam pencarian fakta yang tidak konsisten.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Generalisasi". KBBI Daring. Diakses tanggal 26 Januari 2018. 
  2. ^ Ramdhani, Sendi (2018-12-30). "KEMAMPUAN GENERALISASI MAHASISWA PADA PERKULIAHAN KAPITA SELEKTA MATEMATIKA SMA". Jurnal Analisa. 4 (2): 83–89. doi:10.15575/ja.v4i2.3926. ISSN 2549-5143. 
  3. ^ Mill, John Stuart (31 Agustus 2008). A System of Logic, Ratiocinative and Inductive: Being a Connected View of the Principles of Evidence and the Methods of Scientific Investigation (PDF) (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-3rd ed.). London: Project Gutenberg Ebook. hlm. 317. ISBN 978-3-337-91102-7. OCLC 1155551354. 
  4. ^ Suyanto, Bagong; Sutinah (2015-01-01). Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Prenada Media. hlm. 6. ISBN 978-623-218-182-3. 
  5. ^ Bassham, Gregory (2010). Critical Thinking: A Student's Introduction (PDF) (edisi ke-4th ed). New York: McGraw-Hill. hlm. 68. ISBN 978-0-07-340743-2. OCLC 434126370. 
  6. ^ Khairani, Ita (2013-06-01). "PENGARUH KEMAMPUAN PENALARAN VERBAL TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS WACANA NARASI SISWA KELAS VIII SMP SWASTA PAB 5 KECAMATAN PATUMBAK KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN PEMBELAJARAN 2007/2008". BAHAS (e-Journal) (dalam bahasa Inggris) (86 TH 39). doi:10.24114/bhs.v0i86. ISSN 2442-7594. 
  7. ^ Mason, John (1996). Expressing Generality and Roots of Algebra. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 65–86. ISBN 978-0-7923-4168-0. 
  8. ^ Whately, Richard; Newman, John Henry (1836). Elements of Logic: Comprising the Substance of the Article in the Encyclopaedia Metropolitana with Additions. Saint Mary's College of California (edisi ke-6th ed). London: B. Fellowes. hlm. 434. 
  9. ^ Davydov, V. V. (1990). Soviet Studies in Mathematics Education Volume 2 (PDF). Diterjemahkan oleh Teller, Joan. Reston Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. hlm. 26. 
  10. ^ Weruin, Urbanus Ura (2017-11-02). "Logika, Penalaran, dan Argumentasi Hukum". Jurnal Konstitusi. 14 (2): 374. doi:10.31078/jk1427. ISSN 2548-1657. 
  11. ^ Kadri, Trihono (2018). Rancangan Penelitian. Yogyakarta: Deepublish. hlm. 23. ISBN 978-602-475-438-9. 
  12. ^ Stebbing, L. S. (1942). A Modern Introduction to Logic (edisi ke-3rd ed). London: Methuen & Co. hlm. 245. 
  13. ^ Siahaan, Leroy Holman. "Hubungan Antara Kemampuan Berpikir Logis dan Pengetahuan Tentang Paragraf dengan Keterampilan Menulis Esai Bahasa Inggris". Jurnal Sosioreligi. 14 (2): 87–94. 
  14. ^ Putri, Tiara; Susanti, Ely; Simarmata, Ruth Helen; Hapizah; Nurhasanah (2020). "Generalization in Exponential Problems as a Part of Developing Mathematical Abstraction". Proceedings of the 4th Sriwijaya University Learning and Education International Conference (SULE-IC 2020). Paris, France: Atlantis Press. doi:10.2991/assehr.k.201230.179. 
  15. ^ Suladi, Suladi (2014). Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf (PDF). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 97. 
  16. ^ Munim, Abdul (2009-09-02). "Dialektika Induksi dan Deduksi dalam Pemikiran Hukum Islam". Islamica: Jurnal Studi Keislaman. 4 (1): 1–16. doi:10.15642/islamica.2009.4.1.1-16. ISSN 2356-2218. 
  17. ^ Mustofa, Imron (2016-12-29). "Jendela Logika dalam Berfikir; Deduksi dan Induksi sebagai Dasar Penalaran Ilmiah". EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam (dalam bahasa Inggris). 6 (2): 1–21. doi:10.54180/elbanat.2016.6.2.1-21. ISSN 2579-8995. 
  18. ^ Fadilla, ST. Nur (2020). "Kemampuan Inferensi dalam Pmebelajaran Fisika Bagi Peserta Didik SMA Negeri 22 Makassar" (PDF). Skripsi. Universitas Muhammadiyah Makassar. 
  19. ^ Aritonang, Lerbin R. (Desember 2006). "Ilmu dan Moralitas" (PDF). Akademika. 8 (2): 80–108. ISSN 1411-2159. 
  20. ^ Mason, John (2010). Thinking mathematically (PDF). Leone Burton, Kaye Stacey (edisi ke-2nd ed). Harlow: Pearson. hlm. 232. ISBN 978-0-273-72891-7. OCLC 495598223. 
  21. ^ a b Judrah, Muhammad (2015). "GENERALISASI EMPIRIK; PROPOSISI, POSTULAT, AKSIOMA DAN TEORI". Jurnal Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam & Pendidikan (dalam bahasa Inggris). 7 (1): 117–122. doi:10.47435/al-qalam.v7i1.186. ISSN 2715-5684. 
  22. ^ Mundiri (2017). Logika. Depok: Rajawali Pers. hlm. 146. ISBN 978-979-769-938-3. OCLC 963195783. 
  23. ^ Dwirahayu, Gelar; Kustiawati, Dedek; Bidari, Imania (2018-08-28). "PENGARUH HABITS OF MIND TERHADAP KEMAMPUAN GENERALISASI MATEMATIS". Jurnal Penelitian dan Pembelajaran Matematika. 11 (2). doi:10.30870/jppm.v11i2.3757. ISSN 2528-682X. 
  24. ^ Damer, T. Edward (2009). Attacking faulty reasoning : a practical guide to fallacy-free arguments (edisi ke-6th ed). Australia: Wadsworth/Cengage Laerning. hlm. 161. ISBN 978-0-495-09506-4. OCLC 239216648. 
  25. ^ Gensler, Harry (2010). Introduction to Logic (PDF) (edisi ke-2nd ed). Hoboken: Taylor & Francis. hlm. 64. ISBN 978-0-203-85500-3. OCLC 609858999. 
  26. ^ Bunnin, Nicholas; Yu, Jiyuan (2008-04-15). The Blackwell Dictionary of Western Philosophy (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 250. ISBN 978-0-470-99721-5. 
  27. ^ Copi, Irving M. (2014). Introduction to logic (PDF) (edisi ke-14th ed). Pearson. hlm. 138. ISBN 978-1-292-02482-0. OCLC 857280881. 
  28. ^ Hamblin, Charles L. (1970). Fallacies. London: Methuen & Co. hlm. 28. ISBN 0-916475-24-7. OCLC 987417059. 
  29. ^ Walton, Douglas N. (1990). "IGNORING QUALIFICATIONS (SECUNDUM QUID) AS A SUBFALLACY OF HASTY GENERALIZATION". Logique et Analyse. 33 (129/130): 113–154. ISSN 0024-5836. 
  30. ^ Bäck, Allan (2009). "Mistakes of Reason: Practical Reasoning and the Fallacy of Accident". Phronesis. 54 (2): 101–135. ISSN 0031-8868. 
  31. ^ Multazam, Mochammad Tanzil (2016). "Introduction to Logic for Beginner / Pengantar Logika untuk Pemula": 1417456 Bytes. doi:10.6084/M9.FIGSHARE.4001307. 
  32. ^ Mander, A. E. (1936). Clearer Thinking: (Logic for Everyman). London: Watts & Co. hlm. 82–83. OCLC 499296027.