Friedrich I, Kaisar Romawi Suci

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Friedrich Barbarossa
Sebuah patung emas Friedrich I, yang diberikan kepada ayah angkatnya Comte Otto dari Cappenberg pada tahun 1171. Patung tersebut digunakan sebagai relik di Biara Cappenberg dan konon di dalam akta hadiah dibuat sama "seperti rupa kaisar".
Sebuah patung emas Friedrich I, yang diberikan kepada ayah angkatnya Comte Otto dari Cappenberg pada tahun 1171. Patung tersebut digunakan sebagai relik di Biara Cappenberg dan konon di dalam akta hadiah dibuat sama "seperti rupa kaisar".
Kaisar Romawi Suci
Memerintah 2 Januari 1155 – 10 Juni 1190
Penobatan 18 Juni 1155, Roma
Pendahulu Lothar III
Pengganti Heinrich VI
Raja Italia
Memerintah 1155–1190
Koronasi skt. 1155, Pavia
Pendahulu Konrad III
Pengganti Heinrich VI
Raja Jerman
resminya Raja Romawi
Memerintah 1152–1190
Koronasi 9 Maret 1152, Aachen
Pendahulu Konrad III
Pengganti Heinrich VI
Raja Bourgogne
Memerintah 1152–1190
Koronasi 30 Juni 1178, Arles
Lahir 1122
Mangkat 10 Juni 1190 (berusia 67–68)
Sungai Saleph, Armenia Kilikia
Makam Gereja Santo Petrus, Antiokhia
Pasangan
Anak
Wangsa Wangsa Hohenstaufen
Ayah Friedrich II dari Swabia
Ibu Judith dari Bayern
Agama Katolik Roma

Friedrich I (1122 – 10 Juni 1190), juga dikenal sebagai Friedrich Barbarossa, merupakan seorang Kaisar Romawi Suci dari tahun 1155 sampai kematiannya. Ia terpilih sebagai Raja Jerman di Frankfurt pada tanggal 4 Maret 1152 dan dimahkotai di Aachen pada tanggal 9 Maret 1152. Ia menjadi Raja Italia pada tahun 1155 dan dimahkotai sebagai Raja Romawi oleh Paus Adrianus IV pada tanggal 18 Juni 1155. Dua tahun kemudian, istilah sacrum ("suci") pertama kali muncul di dalam dokumen yang berhubungan dengan Kekaisarannya.[1] Ia kemudian secara resmi dimahkotai sebagai Raja Borgogne, di Arles pada tanggal 30 Juni 1178. Ia mendapat julukan Barbarossa dari kota-kota Italia utara yang ingin dikuasainya: Barbarossa berarti "berjenggot merah" di dalam Bahasa Italia;[2] di Jerman, ia dikenal sebagai (Bahasa Jerman: Kaiser Rotbart), yang memiliki arti yang serupa.

Sebelum pemilihan kekaisaran, Friedrich adalah ahli waris gelar Adipati Swabia (1147–1152, sebagai Friedrich III). Ia adalah putra Adipati Friedrich II dari Wangsa Hohenstaufen dan Judith, putri Heinrich IX dari Bayern, dari saingannya, Wangsa Guelf. Oleh karena itu, Friedrich adalah keturunan dari dua keluarga terkemuka di Jerman, yang membuatnya terpilih sebagai Raja-pemilih Kekaisaran.

Para sejarahwan menganggapnya sebagai salah satu Kaisar Romawi Suci terhebat dari abad pertengahan. Ia menggabungkan kualitas-kualitas yang membuatnya hampir seperti manusia super di jamannya: panjang umurnya, ambisinya, keterampilannya yang luar biasa di dalam organisasi, ketangkasannya di medan perang serta politiknya yang bagus. Dari sumbangan-sumbangannya untuk masyarakat Eropa Tengah dan budaya termasuk membentuk kembali Corpus Juris Civilis, atau hukum pemerintahan Romawi, yang mengimbangi kuasa kepausan yang mendominasi negara Jerman sejak penyimpulan Kontroversi Penobatan.

Tahun-tahun awal[sunting | sunting sumber]

Friedrich lahir pada tahun 1122. Pada tahun 1147 ia menjadi Adipati wilayah Jerman selatan, Swabia (Herzog von Schwaben), dan tak lama setelah itu, ia melakukan perjalanan pertamanya ke Timur, yang ditemani oleh pamandanya, raja Jerman Konrad III, pada Perang Salib Kedua. Ekspedisi tersebut menjadi sebuah bencana,[3] namun Friedrich dapat membedakan dirinya dan memenangkan kepercayaan raja sepenuhnya. Ketika Konrad meninggal pada bulan Februari 1152, hanya Friedrich dan uskup-raja Bamberg yang menjadi saksi kematiannya. Keduanya menegaskan setelah itu bahwa Konrad menyerahkan lambang kerajaan untuk Friedrich dan menunjukkan bahwa ia memilih Friedrich daripada putra Konrad yang hanya berusia enam tahun, calon Friedrich IV dari Swabia, menggantikannya sebagai raja.[4] Friedrich dengan penuh semangat mengejar mahkota dan di Frankfurt pada tanggal 4 Maret 1152 Raja-pemilih kerajaan menunjuknya sebagai raja Jerman yang berikutnya.[4] Ia dimahkotai sebagai Raja Romawi di Aachen beberapa hari kemudian, pada tanggal 9 Maret 1152.[5] Ayahanda Friedrich berasal dari Wangsa Hohenstaufen, dan ibundanya dari Wangsa Guelf, dua wangsa yang paling berkuasa di Jerman. Wangsa Hohenstaufen sering disebut Ghibellin, yang diambil dari Italianisasi kastil Waiblingen, kedudukan keluarga di Swabia; Wangsa Welf, di dalam Italianisasi disebut Wangsa Guelf.[6]

Pemerintahan Heinrich IV dan Heinrich V membuat status kekaisaran Jerman berantakan, wewenangnya sangat berkurang di bawah Kontroversi Penobatan. Selama seperempat abad setelah kematian Heinrich V pada tahun 1125, monarki Jerman sebagian besar hanya gelar nominal tanpa kekuasaan apapun.[7] Raja dipilih oleh para pangeran, tidak diberi sumber di luar wilayah mereka, dan ia dicegah untuk bertindak dengan wewenang yang sesungguhnya. Gelar kerajaan selanjutnya diteruskan dari satu keluarga ke yang lainnya untuk menghalangi perkembangan kepentingan wangsa di mahkota Jerman. Ketika Friedrich I dari Hohenstaufen terpilih seagai raja pada tahun 1152, kekuasaan raja telah ditunda secara efektif selama lebih dari dua puluh lima tahun, dan untuk maju ke tingkat yang cukup lebih dari delapan puluh tahun. Satu-satunya tuntutan nyata atas kekayaan di kota-kota Italia utara, yang masih berada di dalam kendali raja Jerman.[8] Garis Salier punah dengan kematian Heinrich V pada tahun 1125. Pangeran-pangeran Jerman menolak untuk memberkan mahkota kepada keponakannya, adipati Swabia, yang khawatir ia akan mencoba untuk mendapatkan kembali kekuasaan kekaisaran yang dipegang oleh Heinrich V. Sebaliknya mereka memilih Lothar III (1125–1137), yang terlihat di dalam sengketa yang berlangsung lama dengan Wangsa Hohenstaufen, dan yang menikah ke dalam Wangsa Guelf. Salah satu dari anggota Wangsa Hohenstaufen naik takhta sebagai Konrad III dari Jerman (1137–1152). Ketika Friedrich Barbarossa menggantikan pamandanya pada tahun 1152, tampaknya terdapat prospek yang sangat baik untuk mengakhiri permusuhan, karena ia juga berasal dari Guelf dari pihak ibundanya.[4] Adipati Sachsen Welf, Heinrich der Löwe, tidak begitu senang, namun tetap menjadi musuh bebuyutan monarki Hohenstaufen. Barbarossa memiliki kadipaten-kadipaten Swabia dan Franconia, kekuatan kepribadiannya sendiri, dan sangat sedikit dari yang lainnya untuk membangun sebuah kerajaan.[9]

Jerman yang ingin disatukan oleh Friedrich adalah sebuah tambal sulam yang masing-masing lebih dari 1600 negara, yang memiliki pangerannya sendiri-sendiri. Beberapa dari wilayah tersebut besar seperti Bayern dan Sachsen. Banyak yang terlalu kecil untuk ditunjukkan di dalam peta.[10] Gelar-gelar yang diberikan kepada raja Jerman adalah "Caesar", "Augustus", dan "Kaisar Romawi". Pada saat Friedrich akan mengambil gelar-gelar tersebut, mereka tidak lebih dari sebuah slogan propaganda dengan sedikit makna lainnya.[11] Friedrich adalah seorang pragmatis yang berurusan dengan pangeran-pangeran dengan mencari kepentingan bersama. Tidak seperti Henry II dari Inggris, Friedrich tidak berusaha mengakhiri feodalisme abad pertengahan, melainkan mencoba untuk megembalikannya, meskipun berada di luar kemampuannya. Para pemain besar di dalam perang sipil Jerman yang menjadi Paus, Kaisar, Ghibellin dan Guelf, namun tidak ada satupun yang muncul sebagai pemenangnya.[12]

Mulai berkuasa[sunting | sunting sumber]

Penny atau denier Kaisar Friedrich I Barbarossa, yang ditempa di Nijmegen.

Bersemangat untuk mengembalikan Kekaisaran ke posisi yang ditempati oleh Charlemagne dan Otto I, Kaisar Romawi Suci, raja yang baru menyaksikan dengan jelas bahwa pemulihan ketertiban di Jerman adalah awal yang diperlukan untuk menegakkan hak kekaisaran di Italia. Mengeluarkan perintah umum untuk perdamaian, ia membuat konsesi mewah untuk para bangsawan.[13] Di luar negeri, Friedrich campur tangan di dalam perang saudara Denmark di antara Svend III Grathe dan Valdemar I dari Denmark[14] dan memulai beberapa negosiasi dengan Kaisar Romawi Timur, Manouel I Komnenos.[15] Mungkin pada sekitar saat itu raja memperoleh persetujuan kepausan untuk membatalkan pernikahannya yang tidak membuahkan keturunan dengan Adela dari Vohburg, dengan alasan pertalian darah (kakek moyangnya adalah saudara nenek moyang Adela, yang menjadikan mereka sepupu keempat, setelah dihapus). Ia kemudian gagal berupaya untuk mendapatkan calon mempelai dari istana Konstantinopel. Pada kenaikan takhtanya, Friedrich telah membicarakan kabar-kabar pemilihannya kepada Paus Eugenius III, namun mengabaikan untuk meminta konfirmasi kepausan. Pada bulan Maret 1153, Friedrich menyimpulkan perjanjian Constance dengan Paus, dimana ia berjanji, sebagai imbalan atas penobatannya, untuk membela kepausan, untuk tidak berdamai dengan raja Ruggeru II dari Sisilia atau musuh-musuh Gereja lainnya tanpa persetujuan dari Eugenius, dan untuk membantu Eugenius mendapatkan kembali wewenang kota Roma.[16]

Kampanye Italia pertama: 1154–55[sunting | sunting sumber]

Frederick melakukan enam ekspedisi ke Italia. Yang pertama, dimulai pada awal bulan Oktober 1154,[17] rencananya adalah untuk meluncurkan kampanye melawan Bangsa Norman di bawah Raja Gugghiermu I dari Sisilia.[15] Ia berjalan ke bawah dan segera menemui perlawanan terhadap wewenangnya. Mendapat penyerahan Milan, ia berhasil mengepung Tortona pada awal tahun 1155, dan meratakannya ke tanah.[18] Ia pindah ke Pavia, dimanaia menerima Mahkota besi Lombardia dan gelar Raja Italia.[19] Bergerak melalui Bologna dan Toskana, ia segera mendekati kota Roma. Di sana, Paus Adrianus IV berjuang dengan pasukan komune kota republik yang dipimpin oleh Arnaldus, murid Petrus Abelardus.[2] Sebagai tanda dari itikad baiknya, Friedrich membubarkan para duta besar dari Senat Romawi yang dipulihkan,[15] dan pasukan kerajaan menekan kaum republik. Arnaldus ditangkap dan dihukum gantung atas pengkhianatan dan pemberontakannya. Meskipun ajaran ortodoks mengenai teologi, Arnaldus tidak dihukum karena tuduhan bidah.[20]

Begitu Friedrich mendekati gerbang Roma, Paus maju untuk bertemu dengannya. Di tenda kerajaan raja menerimanya, dan setelah mencium kaki paus, Friedrich diharapkan untuk menerima ciuman tradisional perdamaian.[21] Namun Friedrich menolak untuk memegang sanggurdi Paus ketika memimpinnya ke tenda, sehingga Adrianus menolak untuk memberinya ciuman sampai protokol ini dipenuhi.[2] Friedrich ragu-ragu dan Adrianus IV mengundurkan diri; setelah seharian bernegosiasi, Friedrich setuju untuk melakukan ritual yang diperlukan, yang dilaporkan bergumam, "Pro Petro, non Adriano -- Untuk Petrus, bukan Adrianus."[21] Roma masih gempar atas nasib Arnaldus dari Brescia, sehingga tidak berbaris melalui jalan-jalan Roma, Friedrich an Adrianus mundur ke Vatikan.

Keesokan harinya, tanggal 18 Juni 1155, Adrianus IV memahkotai Friedrich I Kaisar Romawi Suci di Basilika Santo Petrus, di tengah-tengah aklamasi tentara Jerman.[22] Bangsa Romawi memulai kerusuhan, dan Friedrich menghabiskan hari pemahkotaannya dengan meredakan pemberontakan, yang mengakibatkan lebih dari 1,000 orang Romaw tewas serta ratusan lainnya menderita luka-luka. Keesokan harinya, Friedrich, Adrianus, dan pasukan Jerman melakukan perjalanan ke Tivoli. Dari sana, kombinasi musim panas Italia yan tidak sehat dan efek ketidakhadirannya selama setahun di Jerman membuatnya terpaksa menunda kampanyenya yang direncanakan melawan bangsa Norman Sisilia.[22] Dalam perjalanan mereka ke utara, mereka menyerang Spoleto dan menemui beberapa duta besar Manouel I Komnenus, yang membanjiri Friedrich dengan hadiah-hadiah yang mahal. Di Verona, Friedrich menyatakan kemarahannya dengan pemberontak Milan sebelum akhirnya kembali ke Jerman.[23]

Gangguan sekali lagi merajalela di Jerman, terutama di Bayern, namun perdamaian umum dipulihkan dengan langkah-langkah Friedrich yang kuat namun damai. Kadipaten Bayern dipindahkan dari Heinrich  II Jasomirgott, markgraf Austria, ke sepupu Frederick yang lebih muda, Heinrich der Löwe, Adipati Sachsen, dari Wangsa Guelf, yang ayahandanya sebelumnya memegang kedua kadipaten tersebut.[24] Heinrich II Jasomirgott dilantik sebagai Adipati Austria untuk kompensasi kerugiannya di Bayern. Sebagai bagian dari kebijakan umum mengenai konsesi kekuasaan resmi untuk para pangeran Jerman dan mengakhiri perang saudara di dalam kerajaan, Friedrich meredakan Heinrich dengan mengeluarkan Privilegium Minus untuknya, yang menjaminnya hak yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai Adipati Austria. Tindakan ini merupakan konsesi besar dari pihak Friedrich, yang menyadari bahwa Heinrich harus ditampung, bahkan sampai ke titik berbagi beberapa kekuasaan dengannya. Friedrich tidak dapat memusuhi Heinrich secara langsung.[25]

Pada tanggal 9 Juni 1156 di Würzburg, Friedrich menikahi Béatrice, putri sekaligus ahli waris Renaud III, sehingga menambah harta miliknya kerajaan yang cukup besar dari Provinsi Bourgogne. Di dalam upayanya untuk menciptakan sikap hormat, Kaisar Friedrich mengumumkan Landfrieden,[26] yang ditulis di antara tahun 1152 dan 1157, yang memberlakukan hukuman dari berbagai kejahatan, serta sistem untuk mengadili banyak perselisihan. Ia juga menyatakan dirinya sendiri satu-satunya Augustus di dunia Romawi, yang berhenti mengenali Manouel I di Konstantinopel.[27]

Kampanye Italia yang kedua, ketiga dan keempat: 1158–1174[sunting | sunting sumber]

Friedrich Barbarossa sebagai seorang tentara perang salib, miniatur dari sebuah salinan Historia Hierosolymitana, 1188.

Mundurnya Friedrich pada tahun 1155 memaksa Paus Adrianus IV berdamai dengan Raja Gugghiermu I dari Sisilia, dan menjaminnya wilayah-wilayah yang dianggap Friedrich sebagai miliknya.[28] Hal ini merugikan Friedrich, dan ia lebih tidak senang lagi ketika Legatus kepausan memilih untuk menafsirkan sepucuk surat dari Adrianus kepada Friedrich dengan cara yang menyiratkan bahwa mahkota kekaisaran adalah hadiah dari Paus dan bahwa sebenarnya kekaisaran itu sendiri adalah sebuah perdikan dari Kepausan.[29] Muak dengan Paus, dan masih ingin menghancurkan bangsa Normandi selatan Italia, pada bulan Juni 1158, Friedrich berangkat ke ekspedisi Italia yang kedua, yang ditemani oleh Heinrich der Löwe dan tentara Sachsennya.[30] Ekspedisi ini mengakibatkan peberontakan dan penangkapan Milan,[31] Parlemen Roncaglia yang menyaksikan pembentukan pejabat-pejabat kekaisaran dan reformasi gerejawi di kota-kota Italia utara,[32] dan awal perjuangan panjang dengan Paus Aleksander III.

Kematian Paus Adrianus IV pada tahun 1159 menyebabkan pemilihan kedua saingan paus, Aleksander III dan Anti-Paus Vittore IV, dan keduanya mencari dukungan Friedrich.[33] Friedrich yang sibuk dengan Pengepungan Crema, tampaknya tidak mendukung Aleksander III, dan setelah menjarah Crema meminta agar Aleksander muncul di hadapan kaisar di Pavia dan menerima dekrit kekaisaran.[34] Aleksander menolaknya, dan Friedrich mengakui Vittore IV sebagai paus yang sah pada tahun 1160.[35] Sebagai balasannya, Aleksander III mengekskomunikasikan baik Friedrich I dan Vittore IV.[36] Friedrich berusaha untuk mengadakan rapat dewan bersama dengan Raja Louis VII dari Perancis pada tahun 1162 untuk memutuskan masalah siapa yang harus menjadi paus.[35] Louis mendekati tempat pertemuan tersebut, namun ketika ia menyadari bahwa Friedrich telah menumpuk suara untuk Aleksander, Louis memutuskan untuk tidak menghadiri rapat tersebut. Akibatnya, masalah ini tidak terselesaikan pada waktu itu.[37]

Hasil perjuangan politik dengan Paus Aleksander adalah aliansi yang dibentuk di antara negara Norman Sisilia dan Paus Aleksander III melawan Friedrich.[38] Sementara itu, Friedrich harus berurusan dengan pemberontakan lainnya di Milan, dimana kota itu menyerah pada tanggal 6 Maret 1162; banyak yang dihancurkan tiga minggu kemudian atas perintah kaisar.[39] Nasib Milan menyebabkan Brescia, Piacenza, dan banyak kota-kota di Italia lainnya menyerah.[40] Kembali ke Jerman menjelang akhir tahun 1162, Friedrich mencegah eskalasi konflik di antara Heinrich der Löwe dari Sachsen dan sejumlah pangeran tetangga yang mulai lelah atas kekuasaan dan pengaruh Friedrich serta wilayah-wilayah yang dimenangkannya. Ia juga menghukum berat beberapa warga Mainz atas pemberontakan mereka melawan Uskup Agung Arnaldus. Di kunjungan Friedrich yang ketiga pada tahun 1163, rencana-rencananya untuk menaklukkan Sisilia dirusak oleh pembentukan liga yang kuat terhadap dirinya, yang dibawa bersama oposisi pajak kekaisaran.

Pada tahun 1164 Friedrich mengambil apa yang diduga sebagai Relikui "Alkitab Majus" (Tiga Raja atau Orang-orang majus dari Timur) dari Basilika Sant'Eustorgio di Milan dan memberikan sebagai hadiah (atau sebagai jarahan) kepada Keuskupan Agung Köln, Rainald dari Dassel. Relikui tersebut memiliki makna religius yang besar dan dapat diandalkan untuk menarik para peziarah dari seluruh Dunia Kristiani. Sekarang benda itu diimpan di dalam Kuil Tiga Raja di dalam Katedral Köln. Setelah kematian anti-paus Vittore IV, Friedrich mendukung anti-paus Paskalis III, namun ia diusir dari Roma tak lama kemudian, yang mengakibatkan kembalinya Paus Aleksander III pada tahun 1165.[41]

Sementara itu Friedrich memusatkan dirinya pada pemulihan perdamaian di Rheinland, dimana ia mengadakan sebuah perayaan megah Kanonisasi (Charlemagne) di Aachen, di bawah wewenang anti-paus Paskalis III. Prihatin atas gosip bahwa Aleksander III akan mulai beraliansi dengan Kaisar Bizantium, Manouel I Komnenos,[42] pada bulan Oktober 1166 Friedrich memulai kampanye keempatnya di Italia, dengan harapan dapat mengamankan tuntutan Paskalis III dan penobatan istrinya, Béatrice I sebagai Permaisuri Romawi Suci. Kali ini, Heinrich der Löwe menolak untuk bergabung dengan Friedrich ke Italia, dan cenderung untuk menangani sengketanya sendiri dengan tetangga-tetangga dan melanjutkan ekspansinya ke wilayah-wilayah Slavik di timur laut Jerman. Pada tahun 1167 Friedrich mulai mengepung Ancona, yang mulai mengakui wewenang Manouel I;[43] di saat yang sama, pasukannya meraih kemenangan besar atas bangsa Romawi di Pertempuran Monte Porzio.[44] Besar hati dengan kemenangan ini, Friedrich mengangkat pengepungan Ancona dan bergegas ke Roma, dimana ia memahkotai istrinya sebagai permaisuri dan juga menerima penobatan kedua dari Paskalis III.[44] Sayangnya, kampanyenya dihentikan oleh wabah epidemi mendadak (malaria atau pes), yang mengancam pasukan kerajaan dan mendorong kaisar sebagai buronan ke Jerman,[45][46] dimana ia tinggal selama enam tahun berikutnya. Selama periode ini, Friedrich memutuskan untuk menuntut ke berbagai keuskupan yang bertentangan, menegaskan wewenang kekaisaran atas Bohemia, Polandia, dan Hongaria, memulai hubungan persahabatan dengan Manouelnbsp;I, dan mencoba untuk lebih memahami Henry II dari Inggris dan Louis VII dari Perancis. Banyak comte Swabia, termasuk sepupunya Adipati muda Swabia, Friedrich IV, yang meninggal pada tahun 1167, sehingga ia dapat mengatur wilayah kuat yang baru di dalam Kadipaten Swabia di bawah pemerintahannya di masa itu. Akibatnya, putranya yang lebih muda Friedrich V menjadi Adipati Swabia yang baru pada tahun 1167,[47] dan putra sulungnya Heinrich VI dimahkotai sebagai Raja Romawi pada tahun 1169, bersama dengan ayahandanya yang juga mempertahankan gelar yang sama.[45]

Tahun-tahun kemudian[sunting | sunting sumber]

Friedrich Barbarossa, di tengah, yang diapit oleh kedua putranya, Raja Heinrich VI (kiri) dan Adipati Friedrich VI (kanan). Dari Historia Welforum.

Meningkatnya sentimen anti-Jerman yang menyapu Langobardi, memuncak pada pemulihan Milan pada tahun 1169.[48] Pada tahun 1174 Friedrich melaksanakan ekspedisinya yang kelima ke Italia. (Diduga pada saat itulah Tafelgüterverzeichnis yang terkenal, sebuah catatan mengenai wilayah-wilayah kerajaan dibuat.[49]) Ia ditentang oleh pro-kepausan Liga Langobardi (yang sekarang merupakan gabungan dari Venesia, Sisilia, dan Konstantinopel), yang sebelumnya telah dibentuk untuk melawannya.[50] Kota-kota di Italia utara menjadi sangat kaya melalui perdagangan, yang mewakili titik balik yang nyata di dalam transisi feodalisme abad pertengahan. Sementara benua feodalisme tetap kuat secara sosial dan ekonomi, yang sangat menurunkan politik di masa Friedrich Barbarossa. Ketika kota Italia utara menyebabkan Friedrich kalah di Alessandria pada tahun 1175, dunia Eropa terkejut.[51][52] Dengan penolakan Heinrich der Löwe untuk membantu di Italia, kampanye tersebut gagal total. Friedrich menderita kekalahan berat di Pertempuran Legnano di dekat Milan pada tanggal 29 Mei 1176, dimana ia terluka dan selama beberapa waktu diduga tewas.[53] Pertempuran ini menandai titik balik di dalam tuntutan Friedrich kepada kerajaan.[54] Ia tidak punya pilihan lain selain memulai negosiasi damai dengan Aleksander III dan Liga Langobardi. Di dalam Perjanjian Anagni pada tahun 1176, Friedrich mengakui Aleksander III sebagai paus, dan di dalam Traktat Venesia pada tahun 1177, Friedrich dan Aleksander III secara resmi berdamai.[55]

Adegan itu sama seperti yang terjadi di antara Paus Gregorius VII dan Heinrich IV, Kaisar Romawi Suci di Canossa satu abad sebelumnya. Konflik itu diselesaikan dengan Pakta Worms: Apakah Kaisar Romawi Suci memiliki wewenang untuk menunjuk paus atau uskup? Kontroversi Penobatan dari satu abad sebelumnya mengantar perdamaian tendensius dengan Pakta Worms dan ditegaskan di dalam Konsili Pertama Lateran. Sekarang muncul kembali di dalam bentuk yang sedikit berbeda. Friedrich harus merendahkan dirinya di hadapan Aleksander III di Venesia.[56] Kaisar mengakui kedaulatan paus atas Negara-negara Kepausan, dan sebagai imbalannya Aleksander mengakui kekuasaan kaisar atas Gereja Kerajaan. Juga di dala Perdamaian Venesia, gencatan senjata dibuat dengan kota-kota Langobardi, yang mulai diberlakukan pada bulan Agustus 1178.[57] Alasan untuk perdamaian permanen yang tidak dibentuk sampai dengan tahun 1183, namun di dalam Perjanjian Constance, Friedrich mengakui hak mereka untuk memilih secara bebas hakim-hakim di kota mereka. Dengan langkah ini, Friedrich memulihkan dominasi nominal di Italia, yang menjadi sarana utamanya dengan menerapkan tekanan pada kepausan.[58]

Di dalam sebuah langkah untuk menguatkan pemerintahannya setelah ekspedisi yang gagal di Italia, Friedrich secara resmi dinobatkan sebagai Raja Bourgogne di Arles pada tanggal 30 Juni 1178. Meskipun secara tradisional raja-raja Jerman otomatis menjadi ahli waris mahkota kerajaan Arles sejak jaman Konrad II, namun Friedrich merasa butuh untuk dinobatkan oleh Uskup Agung Arles, terlepas dari tuntutannya atas gelar tersebut dari tahun 1152.

Friedrich tidak dapat memaafkan Heinrich der Löwe karena telah menolak untuk membantunya pada tahun 1176.[59] Pada tahun 1180, Heinrich berhasil membangun negara yang kuat yang terdiri dari Sachsen, Bayern dan wilayah-wilayah substansial di utara dan timur Jerman. Ambil kesempatan dari permusuhan pangeran-pangeran Jerman lainnya terhadap Heinrich, Friedrich membuat Heinrich diadili secara in absentia oleh pengadilan para uskup dan pangeran pada tahun 1180, yang menyatakan bahwa hukum kekaisaran berada di atas hukukm tradisional Jerman, dan mencabut Heinrich dari wilayah-wilayahnya dan menjadikannya tertuduh.[60] Ia kemudian menyerbu Sachsen dengan tentara kekaisaran untuk mendesak sepupunya menyerah. Sekutu-sekutu Heinrich meninggalkannya, dan akhirnya ia mnyerah pada bulan November 1181. Heinrich menghabiskan tiga tahun di dalam eksil di istana ayah mertuanya, Henry II dari Inggris di Normandia sebelum ia diijinkan kembali ke Jerman dan menjabat sebagai Adipati Brunswick.[61] Keinginan Friedrich untuk membalas dendamnya telah terpenuhi. Heinrich der Löwe menjalani kehidupannya selanjutnya dengan tenang, ia mensponsori seni dan arsitektur. Kemenangan Friedrich atas Heinrich tidak membuatnya menang sebanyak sistem feodalistik Jerman karena akan memiliki sistem feodal Inggris. Sementara di Inggris sumpah setia jatuh ke garis langsung dari tuan-tuan kepada bawahan mereka, bangsa Jerman hanya bersumpah langsung kepada tuannya, sehingga di dalam kasus Heinrich, bawahannya di dalam rantai feodal tidak berutang apa-apa terhadap Friedrich. Jadi Friedrich tidak mendapatkan kesetiaannya.[62]

Friedrich dihadapkan dengan realitas gangguan di antara negara Jerman, dimana perang saudara terjadi terus menerus yang dilancarkan di antara para pembela dan tokoh-tokoh yang ambisius yang menginginkan mahkota untuk diri mereka sendiri. Persatuan Italia di bawah kekuasaan Jerman lebih dianggap mitos dari kebenaran. Meskipun proklamasi-proklamasi hegemoni Jerman, paus merupakan tokoh yang paling berkuasa di Italia.[63] Ketika Friedrich kembali ke Jerman setelah kekalahannya di Italia utara, ia merasa getir dan lelah. Pangeran-pangeran Jerman yang jauh di bawah kendali kerajaan, yang mengintensifkan diri mereka pada kekayaan dan kekuasaan di Jerman yang mengelilingi posisi mereka. Disana mulai terjadi keinginan sosial umum untuk "menciptakan Jerman yang lebih besar" dengan menaklukkan bangsa Slavik ke timur.[64]

Meskipunnegara kota Italia telah mencapai kemerdekaan dari Friedrich sebagai hasil dari kegagalan ekspedisi kelimanya di Italia,[65] kaisar tidak menyerah pada kekuasaan Italia. Pada tahun 1184, ia menyelenggarakan perayaan besar-besaran keika kedua putra sulungnya dinobatkan sebagai ksatria, dan ribuan ksatria diundang dari seluruh Jerman.[66] Kemudian pada tahun 1184, Friedrich sekali lagi pindah ke Italia, kali ini bergabung dengan bangsawan lokal untuk mengurangi kekuatan kota-kota Toskana.[67] Pada tahun 1186, ia merekayasa pernikahan putranya Heinrich dengan Custanza, Ratu Sisilia, ahli waris Kerajaan Sisilia, yang ditentang oleh Paus Urbanus III.[68]

Perang Salib Ketiga dan Kematian[sunting | sunting sumber]

Barbarossa yang terbenam di Göksu. Dari naskah Gotha Sächsische Weltchronik

Paus Urbanus III meninggal tak lama setelah itu, dan digantikan oleh Gregorius VIII, yang lebih peduli dengan laporan yang mengkhawatirkan dari Tanah Suci daripada memperebutkan kekuasaan dengan Barbarossa. Setelah berdamai dengan paus yang baru, Friedrich berumpah untuk mengambil salib di Parlemen Mainz pada tahun 1188.[50] Friedrich memulai Perang Salib Ketiga (1189–92), sebuah ekspedisi besar yang berhubungan dengan Perancis, yang dipimpin oleh Raja Philippe II dari Perancis, dan Inggris dipimpin oleh Raja Richard sang Hati Singa. Friedrich mengatur pasukan besar sejumlah 100,000 orang (termasuk 20,000 ksatria) dan berangkat melalui jalan darat ke Tanah Suci;[69] Beberapa sejarahwan menduga jumlah ini berlebihan, dan bahwa jumlah yang benar hampir 15,000 orang, termasuk 3,000 ksatria.[70]

Sungai Saleph, yang sekarang dikenal sebagai Göksu

Para tentara perang salib melewati Hongaria, Serbia, dan Bulgaria sebelum memasuki wilayah Bizantium dan tiba di Konstantinopel pada musim gugur tahun 1189. Masalah menjadi rumit oleh aliansi rahasia di antara Kaisar Konstantinopel dan Saladin, yang diperingatkan oleh sebuah catatan yang diberikan dari Sibylle, mantan ratu Yerusalem.[71] Ketika berada di Hongaria, Barbarossa secara pribadi meminta Pangeran Géza, saudara Raja Béla III dari Hongaria, untuk bergabung di Perang Salib. Raja setuju dan pasukan Hongaria sebesar 2,000 orang yang dipimpin oleh Géza mengawal pasukan kaisar Jerman. Pasukan-pasukan tersebut datang dari Eropa barat yang didorong melalui Anatolia, dimana mereka menang di dalam mengambil Akşehir dan mengalahkan bangsa Turki di Pertempuran Ikonium, dan memasuki Kerajaan Armenia Kilikia. Pendekatan pasukan Jerman sangat memprihatinkan Salahuddin Ayyubi dan para pemimpin Muslim lainnya, yang mulai mengerahkan pasukan mereka sendiri untuk menghadapi pasukan Barbarossa.[2]

Pada tanggal 10 Juni 1190, Kaisar Friedrich Barbarossa tenggelam di dekat Kastil Silifke di sungai Göksu.[72] Terdapat beberapa catatan yang bertentangan mengenai hal tersebut. Beberapa sejarahwan menduga ia mungkin mengalami serangan jantung yang merumitkan masalah. Beberapa orang Friedrich menempatkannya di dalam sebuah tong cuka untuk mengawetkan jenazahnya.

Kematian Friedrich menyebabkan kerusuhan di dalam pasukannya. Tanap seorang pemimpin, mereka menjadi panik dan diserang dari seluruh sisi oleh bangsa Turki, banyak orang Jerman yang terabikan, terbunuh atau bunuh diri. Hanya 5,000 tentara dari jumlah seluruh pasukan aslinya yang tiba di Akko. putra Barbarossa, Friedrich VI dari Swabia, meneruskan dengan sisa-sisa tentara Jerman bersama dengan tentara Hongaria di bawah pimpinan Pangeran Géza, dengan tujuan untuk memakamkan kaisar di Yerusalem, namun upaya-upaya untuk mengawetkan jenazahnya di dalam cuka gagal. Oleh karena itu, dagingnya kemudian dimakamkan di dalam Gereja Santo Petrus di Antiokhia, tulang-tulangnya di dalam Katedral Tirus, dan hatinya serta bagian-bagian lain di dalam tubuhnya di Tarsus.[2]

Kematian mendadak Friedrich meninggalkan tentara Perang Salib di bawah pimpinan saingannya, Philippe II dan Richard, yag telah melakukan perjalanan ke Palestina secara terpisah melalui laut, dan akhinya menyebabkan pembubarannya. Richard melanjutkan ke Timur dimana ia mengalahkan Saladin di banyak pertempuran, yang memenangkan wilayah yang menjanjikan di sepanjang pantai Palestina, namun akhirnya gagal memenangkan perang dengan menaklukkan Yerusalem itu sendiri sebelum ia terpaksa kembali ke wilayahnya sendiri di utara barat Eropa, yang dikenal sebagai Kekaisaran Plantagenêt. Ia kembali ke rumah setelah menandatangani Traktat Ramla yang setuju bahwa Yerusalem akan tinggal di bawah kendali Muslim dan memungkinkan para peziarah Kristen dan pedagang mengunjungi kota tersebut. Traktat itu juga mengurangi Kerajaan Yerusalem ke jalur pantai geopolitk yang membentang dari Tirus ke Jaffa.

Friedrich dan kode Yustinianus[sunting | sunting sumber]

Peningkatan kekayaan kota-kota perdagangan Italia utara menyebabkan munculnya studi mengenai Corpus Juris Civilis, sistem hukum Latin yang telah punah seabad sebelumnya. Para sarjana hukum memperbaharui penerapannya. Dispekulasikan bahwa Paus Gregorius VII pribadi mendukung aturan Yustinianus ini dan memiliki salinannya. Sejarahwan Norman Cantor menjelaskan Corpus Juris Civilis (Badan Hukum Perdata Yustinianus) sebagai "kode hukum terhebat yang pernah disusun".[73] Digambarkan hukum negara sebagai refleksi dari hukum moral alam (seperti yang terlihat oleh orang-orang dari sistem Yustinianus), prinsip risionalitas di alam semesta. Pada saat Friedrich naik takhta, sistem hukum ini mapan di kedua sisi Alpen. Ia merupakan tokoh pertama yang memanfaatkan ketersediaan para pengacara kelas profesional baru. Hukum Perdata memungkinkan Friedrich untuk menggunakan pengacara tersebut untuk mengelola kerajaannya dengan cara logis dan konsisten. Hal ini juga memberikan kerangka untuk melegitimasikan tuntutannya ke hak unuk memerintah baik Jerman dan Italia utara. Di masa tua Heinrich V dan Heinrich VI, tuntutan Hak ilahi raja-raja telah sangat dirusak oleh Kontroversi Penobatan. Gereja memenangkan argumen di dala pikiran rakyat jelata. Tidak ada hak ilahi bagi raja Jerman yang uga mengendalikan gereja dengan melantik baik para uskup dan paus. Institusi kode Yustinianus mungkin dipergunakan oleh Friedrich untuk menuntut kekuasaan ilahi.[74]

Di Jerman, Friedrich merupakan seorang tokoh realis politik, dengan mengambil apa yang ia dapat dan meninggalkan sisanya. Di Italia, ia cenderung seorang reaksioner romantik, yang menikmati semangat zaman antik, contohnya oleh kebangkitan studi klasik dan hukum Romawi. Melalui pemulihan penggunaan kode Yustinianus Friedrich menanggap dirinya sebagai kaisar Romawi yang baru.[75] Hukum Romawi memberi tujan rasional bagi keberadaan Friedrich dan ambisi kekaisarannya. Penyeimbangan tuntutan Gereja memiliki wewenang karena wahyu ilahi. Gereja menentang Friedrich karena alasan ideologis, tidak sedikit diantaranya adalah sifat humanis yang ditemukan di dalam kebangkitan sistem hukum Romawi kuno.[76] Ketika Pippin yang Pendek berupaya untuk menjadi raja Franka pada abad ke-8, gereja membutuhkan perlindungan militer, sehingga Pippin merasa nyaman bersekutu dengan paus. Namun Friedrich ingin mengenyampingkan paus dan menuntut mahkota Romawi kuno hanya karena ia merasa sebagai kaisar terhebat dari era pra-Kristen. Paus Adrianus IV menentang pandangan ini dan berkampanye propaganda dengan gencar yang dirancang untuk mengurangi kekuasaan Friedrich dan ambisinya, dan sebagian besar dari upayanya berhasil.[77]

Seorang pemimpin yang karismatik[sunting | sunting sumber]

Para sejarahwan membandingkan Friedrich dengan Henry II dari Inggris. Keduanya dianggap sebagai pemimpin terbesar dan paling karismatik di masa mereka. Masing-masing memiliki kombinasi yang langka dari kualitas yang membuatnya tampak luar biasa di masanya: umur panjang, ambisi yang tak terbatas, keterampilan pengorganisasian yang luar biasa, dan kehebatan di medan pertempuran. Keduanya tampan dan mahir di dalam keterampilan. Keduanya naik takhta di puncak kedewasaan. Masing-masing memiliki unur pembelajaran, tanpa menganggap intelektual praktis melainkan lebih cenderung untuk kepraktisan. Setiap individu menemukan dirinya di dalam kepemilikan lembaga hukum yang baru yang dimanfaatkan dengan kreatif di dalam pemerintahan. Baik Henry dan Friedrich dipandang cukup dan secara resmi taat dengan ajaran Gereja, tanpa dipindahkan ke esktrem spiritualitas terlihat pada beberapa santo yang hebat yang berasal dari abad ke-12. Di dalam membuat keputusan akhir, masing-masing bergantung hanya pada penilaian mereka sendiri,[78] dan keduanya tertarik untuk mengumpulkan kekuatan sebanyak yang mereka dapat.[79]

Sesuai dengan pandangan Friedrich ini, pamandanya, Otto dari Freising, menulis sebuah catatan dari pemerintahan Friedrich yang berjudul Gesta Friderici I imperatoris (Akta Kaisar Friedrich). Otto meninggal setelah menyelesaikan dua buku pertama, meninggalkan dua yang terakhir kepada Rahewin, rektornya. Teks tersebut sangat tergantung pada preseden klasik.[80] Misalnya, deskripsi fisik Friedrich oleh Rahewin yang direproduksikan kata demi kata (kecuali untuk rincian rambut dan jenggotnya) sebuah deskripsi raja lain yang dituliskan hampir delapan ratus tahun sebelumnya oleh Sidonius Apollinaris:[81]

Karakternya adalah seperti mereka yang iri akan kekuasaannya yang dapat meremehkan pujiannya. Proporsionalnya bagus. Ia lebih pendek dari pria yang sangat jangkung, namun lebih tinggi dan lebih mulia daripada pria yang tingginya sedang. Rambutnya emas, yang melengkung sedikit di atas dahinya ... Matanya tajam dan menusuk, janggutnya kemerahan [barba subrufa], bibirnya halus ... Seluruh wajahnya cerah dan ceria. Giginya bahkan seperti salju berwarna putih ... Kesederhanaan bukan kemarahan yang menyebabkannya kesipuan. Bahunya agak luas dan perawakannya kuat ...

Karisma Friedrich bahwa ebih dari seperempat abad memulihkan wewenang kekaisaran di negara-negara Jerman. Musuh tangguh yang menyerangnya hampir di setiap sisi, namun pada akhirnya ia muncul sebagai pemenangnya. Ketik Friedrich naik takhta, prospek kebangkitan kekuasaan kekaisaran Jerman sangat tipis. Para pangeran Jerman yang hebat telah meningkatkan kekuasaan dan tanah kepemilikan mereka. Raja hanya ditinggalkan dengan domein keluarga tradisional dan sisa-sisa kekuasaa atas para uskup dan biara-biara. Akibat buruk Kontroversi Penobatan meninggalkan negara Jerman di dalam kekacauan yang tidak ada habisnya. Negara-negara saingan berperang terus menerus. Kondisi-kondisi tersebut memungkinkan Friedrich menjadi baik prajurit dan sesekali pembuat perdamaian, untuk keuntungannya.[9]

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Pernikahan pertama Friedrich dengan Adela dari Vohburg tidak menghasilkan keturunan dan dibatalkan.[82]

Dari pernikahan keduanya dengan Béatrice I,[82] ia memiliki keturunan sebagai berikut:

  1. Beatrice (1162–1174). Ia dijodohkan dengan Raja Guglielmo II dari Sisilia namun meninggal sebelum mereka dapat menikah.
  2. Friedrich V dari Swabia (Pavia, 16 Juli 1164 – 28 November 1170).
  3. Heinrich VI, Kaisar Romawi Suci (Nijmegen, November 1165 – Messina, 28 September 1197).[82]
  4. Konrad (Modigliana, Februari 1167 – Akko, 20 Januari 1191), kemudian mengganti namanya menjadi Friedrich VI dari Swabia setelah kematian kakandanya.[82]
  5. Gisela (Oktober/November 1168 – 1184).
  6. Otto I dari Bourgogne (Juni/Juli 1170 – terbunuh, Besançon, 13 Januari 1200).[82]
  7. Konrad II dari Swabia dan Rothenburg (Februari/Maret 1172 – terbunuh, Durlach, 15 Agustus 1196).[82]
  8. Renaud (Oktober/November 1173 – semasa bocah).
  9. Wilhelm (Juni/Juli 1176 – semasa bocah).
  10. Philipp dari Swabia (Agustus 1177 – terbunuh, Bamberg, 21 Juni 1208) Raja Jerman tahun 1198.[82]
  11. Agnes (1181 – 8 Oktober 1184). Ia dijodohkan dengan Raja Imre, Raja Hongaria namun meninggal sebelum mereka dapat menikah.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Peter Moraw, Heiliges Reich, in: Lexikon des Mittelalters, Munich & Zurich: Artemis 1977–1999, vol. 4, pp. 2025–28.
  2. ^ a b c d e Canduci (2010), p. 263
  3. ^ Comyn (1851), p. 199
  4. ^ a b c Comyn (1851), p. 200
  5. ^ Le Goff (2000), p. 266
  6. ^ Dahmus (1969), pp. 300–302
  7. ^ Bryce (1913), p. 166
  8. ^ Cantor (1969), pp. 302–303
  9. ^ a b Cantor (1969), pp. 428–429
  10. ^ Dahmus (1969), p. 359
  11. ^ Brown (1972)
  12. ^ Davis (1957), pp. 318–319
  13. ^ Comyn (1851), p. 202
  14. ^ Comyn (1851), p. 201
  15. ^ a b c Comyn (1851), p. 230
  16. ^ Falco (1964), pp. 218 et seq.
  17. ^ Comyn (1851), p. 227
  18. ^ Comyn (1851), p. 228
  19. ^ Comyn (1851), p. 229
  20. ^ Cantor (1969), pp. 368–369
  21. ^ a b Comyn (1851), p. 231
  22. ^ a b Comyn (1851), p. 232
  23. ^ Comyn (1851), p. 233
  24. ^ Comyn (1851), p. 203
  25. ^ Davis (1957), p. 319
  26. ^ "Peace of the Land Established by Frederick Barbarossa Between 1152 and 1157 A.D.". The Avalon Project. Yale Law School. 
  27. ^ Comyn (1851), p. 234
  28. ^ Wikisource-logo.svg Ua Clerigh, Arthur (1913). "Pope Adrian IV". Di Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  29. ^ Comyn (1851), p. 235
  30. ^ Comyn (1851), p. 236
  31. ^ Comyn (1851), p. 238
  32. ^ Comyn (1851), p. 240
  33. ^ Comyn (1851), p. 241
  34. ^ Comyn (1851), p. 242
  35. ^ a b Comyn (1851), p. 243
  36. ^ Dahmus (1969), p. 295
  37. ^ Munz (1969), p. 228
  38. ^ Davis (1957), pp. 326–327
  39. ^ Comyn (1851), p. 245
  40. ^ Comyn (1851), p. 246
  41. ^ Comyn (1851), p. 247
  42. ^ Comyn (1851), p. 248
  43. ^ Comyn (1851), p. 249
  44. ^ a b Comyn (1851), p. 250
  45. ^ a b Comyn (1851), p. 251
  46. ^ See entry for the contemporary chroniclers, Ottone and Acerbo Morena.
  47. ^ Comyn (1851), p. 252
  48. ^ Comyn (1851), p. 253
  49. ^ Leyser (1988), p. 157
  50. ^ a b Kampers, Franz. "Frederick I (Barbarossa)". The Catholic Encyclopedia. Vol. 6. New York: Robert Appleton Company, 1909. 21 May 2009.
  51. ^ Le Goff (2000), p. 104
  52. ^ Reprint of B. Arthaud. La civilization de l'Occident medieval, Paris, 1964.
  53. ^ Comyn (1851), p. 257
  54. ^ Davis (1957), pp. 332 et seq.
  55. ^ Brown (1972), pp. 164–165
  56. ^ Comyn (1851), p. 260
  57. ^ See Yale Avalon project.
  58. ^ Le Goff (2000), pp. 96–97
  59. ^ Comyn (1851), p. 263
  60. ^ Davis (1957), p. 333
  61. ^ Comyn (1851), p. 264
  62. ^ Cantor (1969), pp. 433–434
  63. ^ Le Goff (2000), pp. 102–103
  64. ^ Cantor (1969), p. 429
  65. ^ Comyn (1851), p. 262
  66. ^ Dahmus (1969), p. 240
  67. ^ Comyn (1851), p. 265
  68. ^ Comyn (1851), p. 266
  69. ^ J. Phillips, The Fourth Crusade and the Sack of Constantinople, 66
  70. ^ Konstam, Historical Atlas of the Crusades, 162
  71. ^ The Crusade of Frederick Barbarossa: Letters, Fordham University.
  72. ^ Comyn (1851), p. 267
  73. ^ Cantor, Norman F. (1993). The Civilization of the Middle Ages. New York: HarperCollins. p. 309. ISBN 0060170336. Diakses tanggal 24 September 2016. 
  74. ^ Cantor (1969), pp. 340–342
  75. ^ Davis (1957), p. 332
  76. ^ Davis (1957), p. 324
  77. ^ Davis (1957), p. 325
  78. ^ Cantor (1969), pp. 422–423
  79. ^ Cantor (1969), p. 424
  80. ^ Cantor (1969), p. 360
  81. ^ Sidonius Apollinaris, Epistles 1.2, a description of Theodoric II of the Visigoths (453–66). See Mierow and Emery (1953) p. 331.
  82. ^ a b c d e f g Gislebertus (of Mons), Chronicle of Hainaut, transl. Laura Napran, (Boydell Press, 2005), 55 note245.
  83. ^ Kershaw (2001), p. 335

Sumber pertama[sunting | sunting sumber]

Sumber kedua[sunting | sunting sumber]

  • Brady, Charles Townsend (1901). Hohenzollern; a Story of the Time of Frederick Barbarossa. New York: The Century Co. 
  • Brown, R. A. (1972). The Origins of Modern Europe. Boydell Press. 
  • Bryce, James (1913). The Holy Roman Empire. MacMillan. 
  • Canduci, Alexander (2010). Triumph & Tragedy: The Rise and Fall of Rome's Immortal Emperors. Pier 9. ISBN 978-1-74196-598-8. 
  • Cantor, N. F. (1969). Medieval History. Macmillan and Company. 
  • Comyn, Robert (1851). History of the Western Empire, from its Restoration by Charlemagne to the Accession of Charles V I. 
  • Crowley, John William (2006). Little, Big. New York: Perennial. ISBN 978-0-06-112005-3. 
  • Dahmus, J. (1969). The Middle Ages, A Popular History. Garden City, NY: Doubleday. 
  • Davis, R. H. C. (1957). A History of Medieval Europe. Longmans. 
  • Falco, G. (1964). The Holy Roman Republic. New York: Barnes and Co. 
  • Freed, John (2016). Frederick Barbarossa: The Prince and the Myth. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 978-0-300-122763. 
  • Jarausch, K. H. (1997). After Unity; Reconfiguring German Identities. New York: Berghahn Books. ISBN 1-57181-041-2. 
  • Kershaw, Ian (2001). Hitler, 1936–45: Nemesis. Penguin. 
  • Le Goff, J. (2000). Medieval Civilization, 400–1500. New York: Barnes and Noble. 
  • Leyser, Karl J. (1988). Frederick Barbarossa and the Hohenstaufen Polity. University of California Press. 
  • Munz, Peter (1969). Frederick Barbarossa: a Study in Medieval Politics. Ithaca and London: Cornell University Press. 
  • Novobatzky, Peter; Shea, Ammon (2001). Depraved and Insulting English. Orlando: Harcourt. 
  • Walford, Edward; Cox, John Charles; Apperson, George Latimer (1885). "Digit folklore, part II". The Antiquary XI: 119–123. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Friedrich I, Kaisar Romawi Suci
Lahir: 1122 Wafat: 1190
Gelar pemerintahan
Didahului oleh:
Konrad III
Raja Jerman
resminya Raja Romawi

1152–1190
Diteruskan oleh:
Heinrich VI
Raja Italia
1155–1190
Didahului oleh:
Lothar III
Raja Arles
1152–1190
Kaisar Romawi Suci
1155–1190
Didahului oleh:
Friedrich II
Adipati Swabia
1147–1152
Diteruskan oleh:
Friedrich IV
Didahului oleh:
Béatrice I
Comte Palatinus Bourgogne
1156–1190
bersama dengan Béatrice I
Diteruskan oleh:
Otto I