Perang Salib Ketiga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Perang Salib Ketiga
Bagian dari Perang Salib
Siege of Acre.jpg
Pengepungan Akko merupakan konfrontasi besar yang pertama dalam Perang Salib Ketiga
Tanggal 1189–1192
Lokasi Sebagian besar Levant dan Anatolia
Hasil Perjanjian Yafo, hasil dari keberhasilan pengepungan dan kemenangan militer Tentara Salib.
  • Gencatan senjata selama tiga tahun.
  • Yerusalem tetap berada di bawah kendali kaum Muslim.
  • Negara-negara Tentara Salib dari kaum Levantin dipulihkan dan diakui kedua belah pihak.
  • Jaminan keselamatan para peziarah dari kaum Kristen maupun Muslim di seluruh Levant.
Perubahan
wilayah
 
  • Sebagian besar pesisir Levantin, dari Tirus sampai Yafo, dikembalikan kepada kendali Tentara Salib.
  • Tentara Salib merebut kembali Tiberias dan beberapa wilayah pedalaman dari kaum Muslim.
  • Penaklukan Siprus dan pendirian Kerajaan Siprus.
Pihak yang terlibat

Ismailiyah Nizari:
Lawan dari kaum Kristen:
Komandan
Tentara Salib: Ayyubiyyah:
Seljuk:
Lawan dari kaum Kristen:
Kekuatan
  • Inggris: 8.000 orang[1]
  • Perancis: 2.000 orang[2] (belum termasuk para Templar dan tentara lainnya dari Kerajaan Yerusalem)
  • Jerman: 15.000-100.000 men[2]
  • Hongaria: 2.000 orang[3]
(Catatan abad pertengahan mengenai jumlah pasukan tidak dapat diandalkan)
Tidak diketahui

Perang Salib Ketiga (11891192), juga dikenal sebagai Perang Salib Para Raja, merupakan suatu upaya para pemimpin Eropa untuk merebut kembali Tanah Suci dari Saladin (Salahuddin Al-Ayyubi). Kampanye ini memperoleh banyak keberhasilan, merebut kota penting Akko dan Yafo, juga membalikkan sebagian besar penaklukan Saladin, tetapi gagal merebut Yerusalem yang menjadi motivasi emosional dan spiritual dari Perang Salib.

Setelah kegagalan Perang Salib Kedua, Dinasti Zengid mengendalikan Suriah yang telah dipersatukan dan terlibat dalam konflik dengan para pemimpin Fatimiyah dari Mesir. Para pasukan Suriah dan Mesir akhirnya bersatu di bawah pimpinan Saladin yang mempekerjakan mereka untuk mengurangi dominasi negara-negara Kristen dan merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187. Karena didorong oleh semangat religius, Raja Henry II dari Inggris dan Raja Philippe II dari Perancis (dikenal sebagai Philippe Auguste) mengakhiri konflik di antara mereka demi memimpin suatu perang salib yang baru. Namun meninggalnya Henry pada tahun 1189 membuat kontingen Inggris berada di bawah komando penggantinya, Richard I dari Inggris (dikenal sebagai Richard sang Hati Singa). Kaisar Romawi Suci Friedrich Barbarossa yang sudah lanjut usia juga menanggapi panggilan untuk mengangkat senjata, memimpin pasukan besar melintasi Anatolia, tetapi ia tenggelam di sebuah sungai di Asia Kecil pada tanggal 10 Juni 1190 sebelum mencapai Tanah Suci. Kematiannya menyebabkan kesedihan yang luar biasa di kalangan Tentara Salib Jerman, dan kebanyakan dari pasukan tersebut pulang ke asalnya.

Setelah para tentara salib menghalau kaum Muslim dari Akko, Philippe bersama dengan penggantinya Friedrich, yaitu Luitpold V, Adipati Austria (dikenal sebagai Luitpold yang Budiman), meninggalkan Tanah Suci pada bulan Agustus 1191. Pada tanggal 2 September 1192, Richard dan Saladin merampungkan suatu perjanjian yang memberikan kendali atas Yerusalem kepada kaum Muslim tetapi mengizinkan para pedagang dan peziarah Kristen untuk mengunjungi kota tersebut. Richard meninggalkan Tanah Suci pada tanggal 2 Oktober. Keberhasilan Perang Salib Ketiga memungkinkan para tentara salib untuk mempertahankan negara-negara yang cukup besar di Siprus dan pesisir Suriah. Namun kegagalan untuk merebut kembali Yerusalem kemudian menyebabkan terjadinya Perang Salib Keempat.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan
  1. ^ H. Chisholm, The Encyclopædia Britannica : A Dictionary of Arts, Sciences, Literature and General Information, 294
  2. ^ a b J. Phillips, The Fourth Crusade and the Sack of Constantinople, 66
  3. ^ Hunyadi, Zsolt (2011), A keresztes háborúk világa, p. 41.
Bibliografi
  • Beha-ed-Din, The Life of Saladin.
  • De Expugnatione Terrae Sanctae per Saladinum, translated by James A. Brundage, in The Crusades: A Documentary Survey. Marquette University Press, 1962.
  • La Continuation de Guillaume de Tyr (1184–1192), edited by Margaret Ruth Morgan. L'Académie des Inscriptions et Belles-Lettres, 1982.
  • Ambroise, The History of the Holy War, translated by Marianne Ailes. Boydell Press, 2003.
  • Chronicle of the Third Crusade, a Translation of Itinerarium Peregrinorum et Gesta Regis Ricardi, translated by Helen J. Nicholson. Ashgate, 1997.
  • Peter W. Edbury, The Conquest of Jerusalem and the Third Crusade: Sources in Translation. Ashgate, 1996.
  • Francesco Gabrieli, (ed.) Arab Historians of the Crusades, English translation 1969, ISBN 0-520-05224-2
  • Gillingham, John (1978). Richard the Lionheart. London: Weidenfeld & Nicolson. ISBN 0-297-77453-0. 
  • Harris, Jonathan (2014), Byzantium and the Crusades, Bloomsbury, 2nd ed. ISBN 978-1-78093-767-0.
  • Nicolle, David (2005). The Third Crusade 1191: Richard the Lionheart and the Battle for Jerusalem. Osprey Campaign 161. Oxford: Osprey. ISBN 1-84176-868-5. 
  • Oman, Charles William Chadwick. (1924) A History of the Art of War in the Middle Ages Vol. I, 378–1278 AD. London: Greenhill Books; Mechanicsburg, Pennsylvania: Stackpole Books, reprinted in 1998.
  • Steven Runciman, A History of the Crusades, vol. II: The Kingdom of Jerusalem, and vol. III: The Kingdom of Acre. Cambridge University Press, 1952–55.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]