Asy'ariyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Asy'ariyah adalah mazhab teologi yang disandarkan kepada Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari (w.323 H/935 M).[1] Asy'ariyah mengambil dasar keyakinannya dari Kullabiyah, yaitu pemikiran dari Abu Muhammad bin Kullab dalam meyakini sifat-sifat Allah. Kemudian mengedepankan akal (rasional) di atas tekstual ayat (nash) dalam memahami Al-Qur'an dan hadis.[2]

Keyakinan[sunting | sunting sumber]

Abul Hasan al-Asy'ari dalam masalah keyakinan terhadap sifat Allah mengikuti pendapat Ibnu Kullab, seorang tokoh ahli kalam (filsafat) dari Bashrah di zamannya. Imam Al-Asy'ari kemudian berpindah pemahaman tiga kali sepanjang hayatnya.[3]

Ulama Asy'ariyah selanjutnya seperti Imam al-Haramian Al-Juwaini dan selainnya melakukan takwil terhadap sifat Allah dan menggunakan prinsip pokok (ushul) akidah Muktazilah ke dalam mazhabnya. Metode Takwil disebutkan oleh Ibnu Faurak dalam kitab Takwil, Muhammad bin Umar ar-Razi dalam kitabnya Ta’sisut Taqdis, juga ada pada Abul Wafa Ibnu Aqil dan Abu Hamid al-Ghazali, takwil-takwil tersebut bersumber dari Bisyr al-Marisi, seorang tokoh Mu’tazilah.

Asy'ariyah awalnya hanya menetapkan tujuh sifat ma’ani saja bagi Allah yang ditetapkan menurut akal (aqliyah) yaitu hayah, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, bashir, dan kalam.[4] Kemudian ditambahkan oleh As-Sanusi menjadi dua puluh sifat, dan tidak menetapkan satu pun sifat fi’liyah (seperti istiwa, nuzul, cinta, ridha, marah, dst).

Dalam masalah penggunaan akal dalam penafsiran wahyu misalnya, Abu al-Hasan sendiri menyarankan agar dalam penafsiran Alquran lebih merujuk kepada penjelasan Rasulullah dan penafsiran yang mutawatir di kalangan para sahabat.[5][6]

Metodologi akidah[sunting | sunting sumber]

Asy'ariyah menggunakan tiga jenis metodologi yang berbeda untuk menjelaskan akidah di dalam dakwah. Ketiga jenis metodologi ini yaitu metodologi tekstual. metodologi rasional, dan metodologi dialektika.Metodologi tekstual meliputi kegiatan penerimaan wahyu tanpa mempermasalahkan isi dari wahyu tersebut. Metodologi rasional digunakan untuk mengaitkan antara akidah dengan pemahaman yang maksimal melalui akal. Sedangkan metodologi dialektika meliputi kegiatan diskusi dan pertukaran pikiran. Jenis metodologi dialektika secara khusus digunakan dalam mazhab Asy'ariyah untuk memenangkan debat dengan mazhab pemikiran yang berlawanan dengannya, yaitu Muktazilah.[7]

Metodologi tekstual dalam mazhab Asy'ariyah untuk menerima wahyu didasarkan kepada Al-Qur'an dan hadits. Kemudian, metodologi rasional menerapkan ilmu logika. Mazhab Asy'ariyah menggunakan logika bukan untuk menyusun kebenaran, melainkan untuk memberikan penjelasan atas suatu kebenaran. Metodologi rasional merupakan ciri utama dari mazhab Asy'ariyah.[8]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Aliran Asya’irah ini berkembang dengan pesatnya di Iraq. Kemudian, ia berkembang di Mesir pada zaman Salahuddin al-Ayubi, di Syiria dengan sokongan Nuruddin Zanki,di Maghribi dengan sokongan Abdullah bin Muhammad, di Turki dengan sokongan Utsmaniah dan di daerah-daerah yang lain. Ideologi ini juga disokong oleh sarjana-sarjana di kalangan mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Antara mereka adalah al-Asfaraini, al-Qafal, al-Jirjani dan lain-lain hingga sekarang.

Dinasti Seljuk pada abad 11-14 M. Khalifah Aip Arsalan beserta Perdana menterinya, Nizam al-Mulk sangat mendukung aliran Asy’ariyah. Sehingga pada masa itu, penyebaran paham Asy’ariyah mengalami kemajuan yang sangat pesat utamanya melalui lembaga pendidikan bernama Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk.

Konsep ketuhanan[sunting | sunting sumber]

Asy'ariyah menetapkan sifat Tuhan menjadi tujuh saja menggunakan metodologi rasional. Masing-masing yaitu kekuasaan, kehendak, pengetahuan, kehidupan, pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan. Sifat maknawi ini merupakan sifat pengadaan atau takwin kepada Tuhan.[9] Adapun sifat Khabariyah bagi Allah merekapun menakwilnya.[10]

Tokoh penting[sunting | sunting sumber]

Abu Hamid Al-Ghazali[sunting | sunting sumber]

Abu Hamid Al-Ghazali (1058–111 M) adalah salah satu pengikut Asy'ariyah yang membuat banyak karya tulis. Pemikirannya yang berpengaruh berkaitan dengan teologi. Beberapa karyanya ini berjudul Iljam al-Awam 'An Ilm al-Kalam, Al-Munqidz Minaddalal, dan Ihya' Ulum al-Din. Karya-karyanya ini merupakan bidang kajian di pesantren.[11]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ data.bnf. "ʿAlī ibn Ismāʿīl Abū al-Ḥasan al- Ašʿarī (0873-0935)". Diakses tanggal 6 Oktober 2020. 
  2. ^ Sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Haramain Al-Juwaini dan Imam Al-Ghazali. Ar-Razi menjelaskan dalam Asasut Taqdis, “Jika nash bertentangan dengan akal maka harus mendahulukan akal.”
  3. ^ Ibnu Katsir menyatakan dalam muqadimah Kitab Al-Ibanah bahwa para ulama menyebutkan bahwa Syaikh Abul Hasan memiliki tiga fase pemahaman: Pertama ia di atas manhaj Mu’tazilah. Kemudian fase kedua yaitu menetapkan sifat aqliyah yang tujuh: hayah, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, bashir, dan kalam, serta menakwilkan sifat-sifat Allah yang khabariyah. Pada fase terakhir ia menetapkan semua sifat Allah tanpa takyif dan tanpa tasybih sebagaimana disebutkan dalam Al-Ibanah, kitab terakhir yang ditulisnya.” (Muqadimah Kitab Al-Ibanah, hal. 12-13, cet. Darul Bashirah).
  4. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-08-13. Diakses tanggal 2014-04-22. 
  5. ^ Mulu, Beti (2008). "Al-Asy'Ariyah (Sejarah Timbul, Abu Hasan al-Asy'ari dan Pokok-Pokok Ajarannya)". Al-'Adl. 1 (1): 85–99. doi:10.31332/aladl.v1i1.816. ISSN 2615-5540. 
  6. ^ Fahad 2013, hlm. 11.
  7. ^ Harun 2019, hlm. 3-4.
  8. ^ Harun 2019, hlm. 4.
  9. ^ Nuruddin, Muhammad (2021). Hal-Hal yang Membingungkan Seputar Tuhan. Depok: Keira. hlm. 88. ISBN 978-623-7754-64-0. 
  10. ^ Fahad 2013, hlm. 4.
  11. ^ Fajri, Rahmat (2019). Teologi dan Motivasi Kerja: Telaah tentang Calvinisme dan Asy’ariyah di Indonesia (PDF). Yogyakarta: Penerbit Kutub. hlm. 33. ISBN 978-623-92891-1-9. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]