Perang Salib Kelima

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Perang Salib Kelima
Bagian dari Perang Salib
Capturing Damiate.jpg
Para tentara Salib dari Frisia berhadapan dengan Menara Damietta di Mesir.
Tanggal 1213–1221
Lokasi Levant dan Mesir
Hasil Kemenangan mutlak Dinasti Ayyubiyyah
Perjanjian perdamaian selama 8 tahun antara Dinasti Ayyubiyyah dan Tentara Salib
Pihak yang terlibat


Komandan
Blason Empire Latin de Constantinople.svg Jean dari Brienne
Armoiries de Jérusalem.svg Bohémond IV
Armoiries Chypre.svg Hugues I
Seljuqs Eagle.svg Kaykaus I
Holy Roman Empire Arms-single head.svg Friedrich II
Austria coat of arms simple.svg Luitpold VI
Blason Comtes de Tyrol.svg Albert IV
Armoiries Bavière.svg Ludwig I
COA family de Méranie.svg Otto I
Cross of the Knights Templar.svg Peire dari Montagut
Den tyske ordens skjold.svg Hermann dari Salza
Cross of the Knights Hospitaller.png Guérin dari Montaigu
Coa Hungary Country History Andrew II (1205-1235).svg András II
Counts of Holland Arms.svg Willem I
Arms of the Kingdom of France (Ancien).svg Philippe II
Blason Rouergue.svg Henri I dari Rodez
Pelagio Galvani
Flag of Ayyubid Dynasty.svg Al-Kamil
Al-Muazzam
Al-Mujahid
Al-Muzaffar Mahmud
Al-Aziz Muhammad
Bahramshah
Kekuatan
32.000 orang Tak diketahui
Korban
Tak diketahui Tak diketahui

Perang Salib Kelima (1217–1221) adalah upaya kaum Eropa Barat untuk merebut kembali Yerusalem dan seluruh wilayah Tanah Suci lainnya dengan pertama-tama menaklukkan Dinasti Ayyubiyyah yang berkuasa di Mesir.

Paus Innosensius III dan penggantinya, Paus Honorius III, mengorganisir Tentara Salib yang dipimpin oleh Raja András II dari Hongaria dan Adipati Luitpold VI dari Austria; suatu serangan terhadap Yerusalem pada akhirnya menyebabkan kota itu tetap berada dalam kendali kaum Muslim. Kemudian pada 1218 sepasukan tentara Jerman yang dipimpin oleh Oliver dari Köln, dan sepasukan tentara campuran Belanda, Flandria, dan Frisia, yang dipimpin oleh Willem I, Comte Holandia bergabung dalam perang salib ini. Untuk menyerang Damietta di Mesir, mereka menjalin aliansi dengan Kesultanan Rûm Seljuk di Anatolia, yang mana melakukan penyerangan terhadap Dinasti Ayyubiyyah di Suriah, dengan maksud agar Tentara Salib tidak bertempur di dua front.

Setelah menduduki pelabuhan Damietta, para Tentara Salib bergerak ke selatan menuju Kairo pada bulan Juli 1221, tetapi kemudian berbalik setelah kekurangan perbekalan menyebabkan mereka terpaksa mengundurkan diri. Suatu serangan saat malam hari oleh Sultan Al-Kamil menyebabkan kerugian besar pada pihak Tentara Salib, dan akhirnya pasukan tersebut menyerah. Al-Kamil lalu menyepakati perjanjian damai selama delapan tahun dengan Eropa.

Persiapan[sunting | sunting sumber]

Paus Innosensius III telah merencanakan suatu perang salib sejak tahun 1208 untuk merebut Yerusalem kembali. Pada bulan April 1213 ia mengeluarkan bulla kepausan Quia maior yang menyerukan kepada seluruh Dunia Kristen untuk bergabung dalam suatu perang salib yang baru. Hal ini kemudian diikuti dengan bulla lainnya, yaitu Ad Liberandam pada tahun 1215.[1]

Perancis[sunting | sunting sumber]

Pesan mengenai perang salib ini disampaikan di Perancis oleh Robert dari Courçon. Tidak seperti Perang Salib lainnya, tidak banyak ksatria Perancis yang ikut serta karena mereka sedang berperang dalam Perang Salib Albigensian di Perancis selatan melawan sekte Kathar yang dipandang sesat.

Pada tahun 1215 Paus Innosensius III menyelenggarakan Konsili Lateran IV. Bersama dengan Patriark Latin Yerusalem, Raoul dari Mérencourt, ia membahas tentang bagaimana merebut kembali Tanah Suci di samping urusan gerejawi lainnya. Paus Innosensius menginginkan supaya perang ini dipimpin oleh pihak kepausan, sebagaimana mestinya seperti pada Perang Salib Pertama, untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam Perang Salib Keempat, yang mana diambil alih oleh pihak Venesia. Paus Innosensius merencanakan supaya para tentara salib bertemu di Brindisi pada tahun 1216, dan melarang perdagangan dengan kaum Muslim, untuk memastikan bahwa para tentara salib akan memiliki kapal dan senjata. Setiap tentara salib akan menerima indulgensi, termasuk mereka yang hanya ikut menolong membayar biaya-biaya seorang tentara salib namun tidak pergi berperang.

Hongaria dan Jerman[sunting | sunting sumber]

Oliver dari Köln telah mengkhotbahkan mengenai perang salib ini di Jerman, dan Kaisar Friedrich II berupaya untuk bergabung pada tahun 1215. Friedrich merupakan penguasa terakhir dari monarki tersebut yang diinginkan Paus Innosensius untuk bergabung, sebab ia telah menantang Kepausan (dan melakukannya lagi pada tahun-tahun mendatang). Paus Innosensius meninggal dunia pada tahun 1216 dan digantikan oleh Paus Honorius III, yang mana melarang Friedrich untuk berpartisipasi, sebaliknya ia mengorganisir bala tentara salib di bawah pimpinan Raja András II dari Hongaria dan Adipati Luitpold VI dari Austria. András memiliki tentara kerajaan yang terbesar dalam sejarah perang salib (20.000 ksatria dan 12.000 garnisun-kastil).[butuh rujukan]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Christopher Tyerman (2006), God's war: a new history of the Crusades, Harvard University Press, ISBN 0-674-02387-0 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • R. L. Wolff/H. W. Hazard (Hrsg.): The later Crusades, 1189–1311 (A History of the Crusades, volume II). University of Wisconsin Press, Madison/Wisconsin 1969, S. 377 dyb., Here online.
  • Jonathan Riley-Smith (Hrsg.): Illustrierte Geschichte der Kreuzzüge. Frankfurt/New York 1999, S. 478 (Index, s.v. Damiette).
  • Barbara Watterson. The Egyptians. Blackwell Publishing, 1998, hlm. 260.
  • Heinrich von Zeißberg. Allgemeine Deutsche Biographie (ADB). Einzelband Nr. 18: Lassus – Litschower. 1. Auflage. Leipzig, Verlag von Dunder & Humblot, 1883, hlm. 389.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]