Kesatria Kenisah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ksatria Templar)
Jump to navigation Jump to search
  • Kesatria Kenisah
  • Kawanan Prajurit Miskin Kristus
    dan Kenisah Salomo
  • Pauperes commilitones Christi
    Templique Salomonici
Seal of Templars.jpg
Aktif ca. 1119 – ca. 1312
Aliansi Sri Paus
Tipe unit Tarekat Militer Katolik
Peran Melindungi para peziarah Kristen
Pasukan Pembidas
Jumlah personel 15.000–20.000 orang anggota pada puncak kejayaannya, 10% di antaranya adalah para kesatria[2][3]
Bagian dari Bukit Kenisah, Yerusalem, Kerajaan Yerusalem
Julukan
  • Tarekat Kenisah Salomo
  • Tarekat Kristus
Pelindung Santo Bernardus dari Clairvaux
Moto
  • Non nobis, Domine, non nobis, sed Nomini tuo da gloriam
  • (Bukan kepada kami, ya Tuhan, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan)
  • - Mazmur 115:1 -
Pakaian Mantel putih bergambar salib merah
Maskot Dua orang kesatria menunggangi seekor kuda
Pertempuran Perang Salib, termasuk:
Komandan tempur
Mahaguru Pertama Hugues de Payens
Mahaguru Terakhir Jacques de Molay

Kawanan Prajurit Miskin Kristus dan Kenisah Salomo (bahasa Latin: Pauperes commilitones Christi Templique Salomonici), atau Tarekat Kawanan Prajurit Miskin Kristus Kenisah Yerusalem (bahasa Latin: Ordo Pauperum Commilitonum Christi Templi Hierosolymitani), yang diringkas menjadi Tarekat Prajurit Kenisah (bahasa Latin: Ordo militum Templariorum) atau Ahli Kenisah (bahasa Latin: Templarii), dan lebih dikenal dengan sebutan Kesatria Kenisah, adalah tarekat militer Katolik yang diakui keberadaannya pada tahun 1139 dengan bula Sri Paus bertajuk Omne Datum Optimum.[4] Tarekat ini berdiri pada tahun 1119, dan berkiprah sampai kira-kira tahun 1312.[5]

Tarekat yang tergolong sebagai salah satu lembaga terkaya dan adidaya ini tumbuh menjadi badan amal kasih yang paling ternama di seluruh Dunia Kristen, dan mengalami peningkatan pesat dalam jumlah anggota maupun kekuasaannya. Anggota-anggota tarekat ini adalah tokoh-tokoh terkemuka di bidang keuangan Kristen. Para Kesatria Kenisah, yang berseragam mantel putih dengan gambar salib merah, terbilang di antara kesatuan-kesatuan tempur yang paling cakap dalam Perang Salib.[6] Para anggota tarekat yang bukan petarung, yakni 90% anggota tarekat,[2][3] mengelola prasarana ekonomi raksasa yang menjangkau seluruh pelosok Dunia Kristen,[7] mengembangkan teknik-teknik keuangan inovatif yang menjadi cikal bakal lembaga perbankan,[8][9] membina jaringan sendiri yang terdiri atas hampir 1.000 komenda dan benteng di seluruh Eropa dan Tanah Suci, serta boleh dikata membentuk badan usaha multinasional yang pertama di dunia.[10][11]

Kesatria Kenisah erat kaitannya dengan Perang Salib. Setelah Tanah Suci jatuh ke tangan lawan, dukungan bagi tarekat ini turut memudar.[12] Desas-desus mengenai upacara inisiasi rahasia Kesatria Kenisah menimbulkan syak wasangka. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Raja Perancis, Philippe IV, yang terlilit banyak utang pada tarekat ini, untuk menundukkan mereka di bawah kendalinya. Pada tahun 1307, ia memerintahkan penangkapan para Kesatria Kenisah di Perancis, yang selanjutnya disiksa sampai bersedia membuat pengakuan palsu, dan dibakar hidup-hidup dengan tubuh terikat pada tiang pancang.[13] Paus Klemens V membubarkan tarekat ini pada tahun 1312 di bawah tekanan Raja Philippe IV.

Kejatuhan mendadak salah satu paguyuban terkemuka di Eropa ini telah memunculkan spekulasi, legenda, dan tinggalan sejarah dari abad ke abad.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kemunculan[sunting | sunting sumber]

Setelah bangsa Eropa berhasil merebut kota Yerusalem dalam Perang Salib I pada tahun 1099, banyak umat Kristen yang berziarah ke Tanah Suci. Kendati kota Yerusalem relatif aman di bawah kendali umat Kristen, wilayah-wilayah swapraja Tentara Salib di sekitarnya tidaklah demikian. Para pencoleng dan gerombolan penyamun menyatroni para peziarah, yang secara rutin mereka bantai, kadang-kadang dalam jumlah ratusan jiwa, selagi menempuh perjalanan dari bandar Jaffa menuju daerah pedalaman Tanah Suci.[14]

Bendera yang dikibarkan para Kesatria Kenisah dalam pertempuran

Pada tahun 1119, seorang kesatria Perancis bernama Hugues de Payens menghadap Raja Yerusalem, Baudouin II, dan Batrik Yerusalem, Gormondus, dengan maksud mengajukan usulan pembentukan sebuah tarekat rahib-rahib petarung yang dapat dikerahkan untuk melindungi para peziarah. Usulnya disetujui oleh Raja Baudouin II maupun Batrik Gormondus, mungkin sekali dalam Konsili Nablus pada bulan Januari 1120. Raja Baudouin II juga menyerahkan salah satu sayap bangunan istana raja di atas Bukit Kenisah, yakni di dalam Masjid Al-Aqsa yang dirampas dari kaum Muslim, untuk dijadikan markas besar tarekat bentukan Hugues de Payens.[15] Bukit Kenisah dianggap keramat karena diyakini berdiri di atas puing-puing Haikal Sulaiman.[6][16] Oleh karena itu, tarekat baru ini menyebut Masjid Al-Aqsa sebagai Kenisah Salomo, dan menamakan dirinya Kawanan Prajurit Miskin Kristus dan Kenisah Salomo, atau para kesatria Ahli Kenisah. Keanggotaan tarekat terdiri atas kira-kira sembilan orang kesatria, termasuk Godefroy de Saint-Omer dan André de Montbard. Isi pundi-pundi tarekat tidak seberapa banyak, sehingga kelangsungan hidup tarekat bergantung pada derma. Lencana tarekat memuat gambar dua orang kesatria yang menunggangi seekor kuda, lambang dari kemiskinannya.[17]

Markas besar pertama dari Kesatria Kenisah terletak di atas Bukit Kenisah. Para Kesatria Kenisah menyebut markas besarnya sebagai "Kenisah Salomo", dan oleh karena itu menamakan diri mereka sebagai para "Ahli Kenisah".

Kemiskinan para Ahli Kenisah tidak berlangsung lama. Mereka mendapatkan perhatian dan dukungan dari Santo Bernardus dari Clairvaux, seorang tokoh Gereja yang terkemuka. Abas berkebangsaan Perancis yang memprakarsai pembentukan tarekat rahib-rahib Sistersien ini adalah kemenakan dari André de Montbard, salah seorang kesatria pendiri tarekat. Bernardus benar-benar prihatin akan kemaslahatan mereka dan berusaha menggugah simpati masyarakat terhadap mereka lewat risalahnya yang berjudul De Laude Novae Militiae (Perihal Pujian Terhadap Keprajuritan Baru).[18][19] Pada tahun 1129, dalam Konsili Troyes, Bernardus berhasil meyakinkan sekelompok petinggi Gereja untuk menyetujui dan menyokong keberadaan tarekat ini secara resmi atas nama Gereja. Bermodalkan restu resmi ini, Ahli Kenisah menjadi badan amal ternama di seluruh Dunia Kristen. Sumbangan mengalir deras, baik berupa uang, lahan, perusahaan, maupun tenaga putra-putra kalangan ningrat yang berhasrat membantu perjuangan di Tanah Suci. Sumbangan besar lainnya tiba pada tahun 1139, yakni bula Sri Paus Inosensius II, Omne Datum Optimum, yang mengecualikan tarekat ini dari kewajiban menaati undang-undang lokal. Berkat bula ini, para Ahli Kenisah bebas melintasi tapal-tapal batas antarnegara, tidak wajib membayar pajak apa pun, dan tidak tunduk di bawah kewenangan siapa pun selain Sri Paus.[20]

Dengan misi yang jelas dan sumber daya memadai, tarekat ini berkembang pesat. Para Ahli Kenisah acap kali dikerahkan sebagai pasukan pembidas dalam pertempuran-pertempuran yang sangat penting selama Perang Salib, yakni sebagai barisan kesatria berzirah lengkap bertunggangan kuda perang yang akan dikerahkan untuk menerjang musuh, selaku ujung tombak pasukan utama, dalam rangka menerobos barisan pertahanan lawan. Salah satu kejayaan mereka yang paling masyhur diraih dalam Pertempuran Montgisard pada tahun 1177, manakala sekitar 500 orang Kesatria Kenisah membantu beberapa ribu prajurit pejalan kaki mengalahkan bala tentara Saladin yang berkekuatan lebih dari 26.000 prajurit.[10]

"Seorang Kesatria Kenisah sememangnya kesatria yang tidak kenal takut, dan terlindung dalam segala segi, karena jiwanya dilindungi zirah iman, sebagaimana raganya dilindungi zirah baja. Dengan demikian ia berperlindungan ganda, sehingga tidak perlu takut akan roh jahat maupun manusia."

  • ―Bernardus dari Clairvaux, ca. 1135,
  • De Laude Novae Militiae – Perihal Pujian Terhadap Keprajuritan Baru[21]

Meskipun misi utama tarekat ini bersifat militer, jumlah petarung dalam keanggotaannya relatif sedikit. Anggota-anggota selain petarung bekerja membantu para kesatria dan mengelola prasarana keuangan. Kendati tiap-tiap anggotanya disumpah untuk hidup miskin, para Ahli Kenisah diberi kepercayaan untuk mengelola harta kekayaan di luar sumbangan langsung. Bangsawan yang berminat turut serta berjuang dalam Perang Salib dapat menitipkan seluruh harta kekayaannya untuk dikelola oleh para Ahli Kenisah selama kepergiannya. Dengan bertimbunnya kekayaan yang terkumpul melalui cara ini di seluruh Dunia Kristen dan negara-negara Tentara Salib, para Ahli Kenisah mulai menerbitkan surat kredit pada tahun 1150 bagi para peziarah yang berangkat ke Tanah Suci. Peziarah cukup menyetorkan barang-barang berharga miliknya ke praeceptoria (markas cabang) Ahli Kenisah di negara asalnya sebelum berangkat, menerima selembar dokumen berisi pernyataan nilai setorannya, dan menggunakan dokumen tersebut untuk mencairkan dana dengan nilai yang sama setibanya di Tanah Suci. Inovasi semacam ini merupakan salah satu bentuk awal dari kegiatan perbankan, dan mungkin merupakan sistem resmi pertama yang mendukung penggunaan cek. Selain bermanfaat meningkatkan keamanan diri para peziarah karena menjadikan mereka kurang diminati untuk dijadikan korban oleh para pencuri, inovasi ini juga kian menggelembungkan pundi-pundi tarekat.[6][22]

Bermodalkan gabungan derma dan kesepakatan usaha, para Ahli Kenisah membina jaringan keuangan yang membentang ke seluruh pelosok Dunia Kristen. Mereka membeli berbidang-bidang tanah di Eropa maupun di Timur Tengah, membeli dan mengelola lahan-lahan usaha tani dan kebun-kebun anggur, membangun katedral-katedral dan puri-puri batu berukuran raksasa, terjun dalam usaha manufaktur, impor dan ekspor, memiliki armada kapal sendiri, dan bahkan pernah menguasai seluruh Pulau Siprus. Tarekat Kesatria Kenisah kiranya layak disebut badan usaha multinasional yang pertama di dunia.[10][11][23]

Kemunduran[sunting | sunting sumber]

Pertempuran Hittin tahun 1187, titik balik dalam Perang Salib

Pada pertengahan abad ke-12, arah angin dalam Perang Salib mulai berubah. Dunia Islam semakin bersatu di bawah pimpinan tokoh-tokoh yang cakap memimpin semacam Saladin. Selisih pendapat muncul di antara faksi-faksi Kristen di Tanah Suci sehubungan dengan Tanah Suci itu sendiri. Kesatria Kenisah kadang-kadang bersitegang dengan dua tarekat militer lainnya, yakni Kesatria Balai Penyantunan dan Kesatria Teuton. Silang sengketa antarkawan sekubu selama berpuluh-puluh tahun membuat pihak Kristen menjadi lemah, baik di bidang politik maupun di bidang militer. Setelah Kesatria Kenisah dikerahkan dalam beberapa kali aksi militer yang berakhir dengan kekalahan di pihak Kristen, antara lain Pertempuran Hittin, Yerusalem akhirnya kembali jatuh ke tangan bala tentara Muslim yang dipimpin oleh Saladin pada tahun 1187. Kaisar Romawi Suci, Friedrich II, berhasil merebut kembali kota Yerusalem dari tangan kaum Muslim dalam Perang Salib VI pada tahun 1229, tanpa pengerahan Kesatria Kenisah, tapi hanya sanggup menguasai kota itu selama satu dasawarsa lebih beberapa tahun. Pada tahun 1244, wangsa Al-Ayyubi bersama para prajurit bayaran Khawarizmi berhasil merebut kembali kota Yerusalem. Semenjak saat itu, kota Yerusalem lepas dari kekuasaan bangsa Eropa sampai akhirnya direbut oleh bangsa Inggris dari Kekaisaran Turki Osmanli pada tahun 1917, dalam Perang Dunia I.[24]

Kesatria Kenisah terpaksa memindahkan markas besar mereka ke kota-kota lain di sebelah utara Tanah Suci, misalnya ke bandar Akko, yang mereka kuasai sepanjang abad berikutnya. Akko akhirnya jatuh ke tangan kaum Muslim pada tahun 1291, disusul oleh benteng-benteng terakhir Kesatria Kenisah yang terletak di daratan Asia, yakni Tartus (di Suriah sekarang ini) dan Atlit (di Israel sekarang ini), sehingga markas besar Kesatria Kenisah terpaksa dipindahkan lagi ke Limassol di Pulau Siprus.[25] Kesatria Kenisah juga berusaha mempertahankan keberadaan satu garnisun di Arwad, pulau kecil di perairan lepas pantai Tartus. Pada tahun 1300, Kesatria Kenisah sempat beberapa kali terlibat dalam aksi militer gabungan bersama bangsa Mongol[26] melalui satu pasukan invasi baru yang ditempatkan di Arwad. Meskipun demikian, Kesultanan Mamluk Mesir berhasil merebut Pulau Arwad pada tahun 1302 atau 1303, dalam peristiwa Pengepungan Arwad. Dengan lepasnya Arwad dari genggaman Kesatria Kenisah, hilang pula satu-satunya tempat berpijak yang tersisa bagi Tentara Salib di Tanah Suci.[10][27]

Karena misi militer Tarekat Kesatria Kenisah menjadi semakin tidak penting lagi, dukungan pun mulai berkurang. Kendati demikian, Tarekat Kesatria Kenisah tidak serta-merta terpuruk akibat penurunan dukungan, karena selama 200 tahun keberadaannya, para Ahli Kenisah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari di seluruh Dunia Kristen.[28] Ratusan gedung perkumpulan Ahli Kenisah, yang tersebar di seluruh Eropa dan Timur Dekat, menghadirkan mereka di seluruh pelosok Dunia Kristen.[3] Ahli Kenisah masih tetap menjalankan banyak perusahaan, dan banyak orang Eropa yang setiap hari masih berhubungan langsung dengan jaringan Ahli Kenisah, misalnya dengan bekerja di lahan-lahan usaha tani maupun kebun-kebun anggur milik Ahli Kenisah, atau menjadikan tarekat ini sebagai semacam bank penyimpanan barang-barang berharga milik pribadi. Tarekat ini tetap tidak diwajibkan untuk tunduk pada pemerintah setempat, sehingga membuatnya menjadi semacam “negara dalam negara” di mana saja ia berada – angkatan bersenjata tetap Kesatria Kenisah masih bebas berlalu-lalang melintasi tapal-tapal batas antarnegara, sekalipun tidak lagi memiliki misi yang jelas. Keadaan semacam ini memicu ketegangan dengan sejumlah bangsawan Eropa, lebih-lebih ketika para Ahli Kenisah menampakkan tanda-tanda bahwa mereka berminat mendirikan negara kerahiban sendiri, sama seperti negara kerahiban yang didirikan Kesatria Teuton di Prusia[22] dan negara kerahiban yang didirikan Kesatria Balai Penyantunan di Rodos.[29]

Penangkapan, dakwaan, dan pembubaran[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1305, Sri Paus yang baru terpilih, Klemens V, dari kediamannya di Avignon, menyurati Mahaguru Kesatria Kenisah, Jacques de Molay, dan Mahaguru Kesatria Balai Penyantunan, Foulques de Villaret, dalam rangka membahas peluang melebur kedua tarekat. Kedua-dua tarekat tidak mengaminkan gagasan ini, tetapi Sri Paus tidak menyerah begitu saja. Pada tahun 1306, ia mengundang kedua mahaguru ke Perancis untuk membicarakan kembali rencana ini. Jacques De Molay tiba lebih dahulu pada permulaan tahun 1307, dan Foulques de Villaret tiba beberapa bulan kemudian. Sementara menunggu kedatangan Mahaguru Kesatria Balai Penyantunan, Jacques De Molay dan Sri Paus membahas dakwaan-dakwaan kriminal yang muncul dua tahun sebelumnya dari seorang mantan Ahli Kenisah yang tengah hangat-hangatnya diperbincangkan oleh Raja Perancis, Philippe IV, dan menteri-menterinya. Secara umum keduanya sepakat bahwa dakwaan-dakwaan itu hanyalah fitnah belaka, tetapi Sri Paus tetap mengajukan permintaan bantuan penyidikan secara tertulis kepada Raja Philippe. Menurut beberapa sejarawan, Raja Philippe, yang sudah terlilit banyak sekali utang pada Kesatria Kenisah demi mendanai perang melawan Inggris, memutuskan untuk memanfaatkan desas-desus yang beredar di tengah masyarakat demi kepentingan pribadi. Ia mulai menekan Gereja untuk menindaki tarekat itu, dengan harapan dapat lolos dari utang-utangnya.[30]

Puri Convento de Cristo di Portugal, benteng Kesatria Kenisah yang dibangun pada tahun 1160, dan pernah menjadi markas besar Ahli Kenisah cabang Portugal yang berganti nama menjadi Tarekat Kristus. Pada tahun 1983, puri ini ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.[31]

Saat fajar menyingsing pada hari Jumat, tanggal 13 Oktober 1307 (tarikh ini kadang-kadang dikait-kaitkan dengan asal-usul takhayul hari Jumat tanggal 13),[32][33] Jacques de Molay dan sejumlah Ahli Kenisah Perancis ditangkap secara serentak atas perintah Raja Philippe IV. Surat perintah penangkapan diawali dengan kalimat "Dieu n'est pas content, nous avons des ennemis de la foi dans le Royaume" (Allah tidak berkenan, kita biarkan musuh-musuh iman bercokol di dalam kerajaan).[34] Dimunculkanlah pernyataan-pernyataan bahwa dalam upacara pelantikan anggota baru Tarekat Kesatria Kenisah, para calon anggota dipaksa meludahi salib, menyangkali Kristus, dan melakukan ciuman yang tidak senonoh. Para anggotanya juga didakwa menyembah berhala, dan tarekatnya dikabarkan menganjurkan praktik-praktik homoseksual.[35] Ahli Kenisah diperkarakan dengan banyak dakwaan lain, misalnya penggelapan uang, penipuan, dan menyembunyikan rahasia.[36] Banyak terdakwa disiksa sampai mengaku melakukan perbuatan-perbuatan yang didakwakan. Kendati dibuat di bawah tekanan, pengakuan-pengakuan ini menimbulkan kehebohan di kota Paris. "Moi, Raymond de La Fère, 21 ans, reconnais que [j'ai] craché trois fois sur la Croix, mais de bouche et pas de cœur" (saya, Raymond de La Fère, umur 21 tahun, mengaku bahwa [saya sudah] tiga kali meludahi salib, tetapi hanya dari mulut saja, dan bukan dari dalam hati), demikian bunyi pernyataan salah seorang terdakwa yang dipaksa untuk mengaku pernah meludahi salib. Para Ahli Kenisah didakwa memuja berhala di markas besar perdana mereka di Bukit Kenisah, antara lain sesosok berhala yang disebut Bafomet, dan sebuah kepala mumi yang diduga sebagai kepala jenazah Yohanes Pembaptis menurut salah satu teori para ahli.[37]

Sri Paus menuruti desakan Raja Philippe IV, dan mengeluarkan bula Pastoralis Praeeminentiae pada tanggal 22 November 1307, yang berisi amanat kepada seluruh kepala monarki Kristen di Eropa untuk menangkap semua Ahli Kenisah dan menyita seluruh aset mereka.[38] Sri Paus meminta agar penentuan bersalah tidaknya para terdakwa dilakukan lewat sidang pengadilan yang digelar oleh lembaga kepausan, dan begitu lepas dari siksaan para penyidik, banyak Ahli Kenisah yang menarik kembali pengakuan mereka. Beberapa terdakwa cukup berpengalaman di bidang hukum untuk membela diri sendiri di hadapan sidang pengadilan, namun pada tahun 1310, setelah menugaskan Uskup Agung Sens, Philippe de Marigny, untuk memimpin penyidikan, Raja Philippe mementahkan kebijakan Sri Paus ini, dengan menggunakan pengakuan-pengakuan yang sudah didapatkan melalui penyiksaan sebagai dasar untuk membakar hidup-hidup lusinan Ahli Kenisah dalam keadaan terikat pada tiang pancang di kota Paris.[39][40][41]

Karena Raja Philippe mengancam akan mengambil tindakan militer jika kemauannya tidak dituruti, Paus Klemens akhirnya setuju untuk untuk membubarkan Tarekat Kesatria Kenisah dengan mengacu pada skandal publik yang telah ditimbulkan oleh pengakuan-pengakuan para Ahli Kenisah. Dalam Konsili Vienne pada tahun 1312, Sri Paus mengeluarkan serangkaian bula, antara lain Vox in excelso, yang secara resmi membubarkan Tarekat Kesatria Kenisah, dan Ad providam, yang mengalihkan kepemilikan sebagian besar aset Tarekat Kesatria Kenisah kepada Tarekat Kesatria Balai Penyantunan.[42]

Para Ahli Kenisah dibakar hidup-hidup

Mahaguru Jacques de Molay, yang sudah uzur, menarik kembali pengakuan yang telah dibuatnya di bawah paksaan. Geoffroi de Charney, praeceptor (kepala praeceptoria) Normandie, juga menarik kembali pengakuannya dan bersikeras tidak bersalah. Kedua pimpinan Tarekat Kesatria Kenisah ini dinyatakan bersalah sebagai ahli bidah kambuhan, dan dipidana mati dengan cara dibakar hidup-hidup dengan tubuh terikat pada tiang pancang di kota Paris pada tanggal 18 Maret 1314. Jacques De Molay dikabarkan tetap tegar sampai putus nyawa. Ia meminta agar tubuhnya diikat pada tiang pancang dengan posisi muka menghadap ke arah Katedral Notre Dame, dan dengan kedua tangan tertangkup dalam sikap berdoa.[43] Menurut legenda, ia berseru dari tengah-tengah kobaran api bahwa tidak lama lagi Paus Klemens dan Raja Philippe akan berjumpa dengannya di hadirat Allah. Kata-kata terakhirnya yang terabadikan dalam perkamen adalah "Dieu sait qui a tort et a péché. Il va bientot arriver malheur à ceux qui nous ont condamnés à mort" (Allah tahu siapa yang salah dan sudah berdosa. Malapetaka akan segera menimpa orang-orang yang menghukum mati kami).[34] Paus Klemens wafat sebulan kemudian, dan Raja Philippe mangkat akibat kecelakaan saat berburu sebelum tahun 1314 berakhir.[44][45][46]

Para Ahli Kenisah yang tersisa di seluruh Eropa ditangkapi dan diperiksa oleh penyidik lembaga kepausan (nyaris tidak ada yang dipidana), bergabung dengan tarekat-tarekat militer Katolik yang lain, atau pun dipensiunkan dan dizinkan hidup dengan tenang sampai akhir hayat mereka. Berdasarkan maklumat Sri Paus, tanah dan bangunan Tarekat Kesatria Kenisah dialihkan kepemilikannya kepada Tarekat Kesatria Balai Penyantunan, kecuali yang berlokasi di wilayah Kerajaan Kastila, Kerajaan Aragon, dan Kerajaan Portugal.[47] Portugal adalah negeri pertama di Eropa yang menjadi lokasi markas cabang Kesatria Kenisah, dua atau tiga tahun setelah pembentukannya di Yerusalem, bahkan tarekat ini hadir pada masa-masa pembentukan negara Portugal.[48][49]

Raja Portugal, Dinis I, menolak meniru langkah negara-negara berdaulat lain, yang tunduk di bawah pengaruh Gereja Katolik, untuk melakukan pengejaran dan persekusi terhadap para mantan Kesatria Kenisah, yang telah membuat tarekat itu tercerai-berai. Di bawah perlindungan Raja Portugal, organisasi-organisasi Ahli Kenisah cukup berganti nama menjadi Tarekat Kristus. Anugerah lencana kesatria Tarekat Kristus dari Raja Portugal merupakan cikal bakal dari anugerah lencana kesatria Tarekat Utama Kristus dari Takhta Suci.[50][51][52][53][54][55][56][57][58]

Perkamen Chinon[sunting | sunting sumber]

Pada bulan September 2001, selembar dokumen bertarikh 17–20 Agustus 1308 yang dikenal dengan sebutan "Perkamen Chinon", ditemukan di dalam kumpulan Arsip Rahasia Vatikan oleh Barbara Frale, setelah keliru disimpan dalam berkas arsip yang salah pada tahun 1628. Dokumen ini memuat notula sidang pengadilan para Ahli Kenisah, dan menerangkan bahwa Paus Klemens memberikan absolusi kepada para Ahli Kenisah dari segala macam dosa bidah pada tahun 1308, sebelum membubarkan tarekat ini secara resmi pada tahun 1312.[59] Sama seperti Perkamen Chinon lain, tertanggal 20 Agustus 1308, yang ditujukan kepada Raja Philippe IV, dokumen ini juga menyebutkan bahwa semua Ahli Kenisah yang sudah mengaku bersalah menjadi ahli bidah "diizinkan kembali menerima sakramen-sakramen dan kembali ke pangkuan Gereja". Perkamen Chinon lain ini juga sudah terkenal di kalangan sejarawan,[60][61][62] setelah dipublikasikan oleh Étienne Baluze pada tahun 1693[63] dan oleh Pierre Dupuy pada tahun 1751.[64]

Menurut pandangan mutakhir Gereja Katolik Roma, persekusi terhadap para Kesatria Kenisah pada Abad Pertengahan merupakan suatu ketidakadilan, karena tidak ada kesalahan yang didapati pada tarekat ini maupun pada aturannya, sementara Paus Klemens terpaksa membubarkannya karena sudah menimbulkan skandal publik yang sangat menghebohkan, dan karena ditekan oleh kerabatnya sendiri, Raja Philippe IV, yang kala itu sangat berkuasa.[65][66]

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Salib Ksastria Ordo Bait Allah

Kaum Templar diatur sebagai sebuah ordo monastik, mengikuti aturan yang diciptakan untuk mereka oleh Bernard dari Clairvaux, seorang anggota Ordo Sistersian. Kaum Templar sangat berhubungan dan dengan cepat menjadi penggerak utama dalam politik internasional pada masa Perang Salib. Suatu saat pernah mereka diberikan sejumlah bula Kepausan istimewa (lihat Omne Datum Optimum) yang mengizinkan mereka mengumpulkan pajak dan menerima sumbangan persepuluhan di wilayah yang berada di bawah kuasa mereka, hingga membantu peningkatan kekuasaannya.

Ada empat divisi persaudaraan dalam Templar:

  • ksatria, dilengkapi sebagai kavaleri berat;
  • sersan, dilengkapi sebagai kavaleri ringan dan diambil dari kelas sosial yang lebih rendah dari kesatria;
  • petani, yang menangani harta milik Ordo;
  • pendeta tentara, yang ditahbiskan sebagai imam dan merawat kebutuhan rohani Ordo.

Setiap kesatria dibantu oleh sepuluh orang. Sebagian bruder memusatkan tugasnya dalam perbankan, karena Ordo ini seringkali dipercayakan dengan harta berharga para peserta Perang Salib. Namun kebanyakan Ksatria Templar ini memusatkan tugasnya pada peperangan. Ini memang sebuah ordo militer yang secara langsung hanya bertanggung jawab kepada Paus. Sebagian menganggapnya sebagai pendahulu dari tentara profesional modern dan satuan-satuan pasukan elit khusus. Kaum Templar menggunakan kekayaan mereka untuk membangun banyak perbentengan di seluruh Tanah Suci. Mereka adalah satuan-satuan yang terlatih paling baik dan paling berdisiplin pada masa itu.

Perbankan[sunting | sunting sumber]

Hampir secara kebetulan kaum Templar terjun ke dunia perbankan. Ketika orang-orang bergabung dengan ordo ini, sering mereka menyumbangkan uang dalam jumlah besar atau harta milik lainnya kepada ordo ini karena semua harus mengambil sumpah kemiskinan. Ditambah dengan bantuan besar-besaran dari Paus, kekuatan finansial mereka sudah terjamin sejak awal. Karena kaum Templar menyimpan uang tunai di kantor-kantor cabang dan greja-gereja mereka, wajarlah bila pada 1135 Ordo ini mulai meminjamkan uang kepada para peziarah Spanyol yang ingin berkunjung ke Tanah suci. Keterlibatan para Ksatria ini dalam perbankan berkembang di kemudian hari menjadi basis yang baru bagi uang, karena kaum Templar semakin terlibat dalam kegiatan perbankan. Salah satu petunjuk dari koneksi politik mereka yang kuat ialah bahwa keterlibatan kaum Templar dengan riba tidak menimbulkan pertikaian di kalangan Ordo itu maupun Gereja pada umumnya. Tuduhan ini biasanya dihindarkan, dengan dikeluarkannya peraturan bahwa kaum Templar mempunyai hak atas produksi harta milik yang digadaikan.

Koneksi politik kaum Templar dan kesadaran akan sifat komersial dan urban dari komunitas seberang lautan sudah barang tentu menyebabkan Ordo ini memperoleh posisi kekuatan yang penting, baik di Eropa maupun di Tanah Suci. Sukses mereka membangkitkan keprihatinan di kalangan banyak ordo lainnya dan belakangan juga di kalangan kaum bangsawan dan raja-raja Eropa pula, yang pada saat itu berusaha memonopoli kekuasaan atas uang dan perbankan setelah masa kacau yang panjang di mana masyarakat sipil, khususnya Gereja dan ordo awamnya, telah mendominasi aktivitas finansial. Harta milik kaum Templar meluas di Eropa maupun di Timur Tengah, termasuk untuk beberapa waktu di seluruh Pulau Siprus.

Kehancuran[sunting | sunting sumber]

Dua Ksatria Ordo Bait Allah dibakar pada salib, dari naskah abad ke-15 Perancis

Keruntuhan kaum Templar mungkin dimulai oleh masalah pinjaman. Filipus IV, Raja Perancis membutuhkan uang tunai untuk peperangannya dan meminta bantuan uang dari kaum Templar. Mereka menolak. Raja berusaha meminta Paus mengucilkan kaum Templar karena penolakan ini, tetapi Paus Bonifasius VIII menolak. Filipus mengirim penasihatnya Guillaume de Nogaret, dalam upaya menculik Paus. Paus Bonifasius VIII meninggal hanya sebulan kemudian karena terkejut atas usaha itu dan perlakuan yang buruk. Paus berikutnya, Paus Benediktus XI, mencabut pengucilan atas Filip IV tetapi menolak untuk membebaskan Nogaret. Timbul kecurigaan bahwa Paus meninggal karena diracuni oleh agen Nogaret. Paus berikutnya, Paus Klemens V, setuju atas tuntutan-tuntutan Filipus IV terhadap kaum Templar, dan belakangan memindahkan takhta kepausan ke Avignon. Pada 13 Oktober(hari Jumat tanggal 13) yang sial tahun 1307, keseluruhan Ksatria Templar di Perancis secara berbarengan ditawan oleh agen-agen Filipus, kemudian disiksa agar mengakui adanya ajaran sesat di kalangan Ordo itu. Pada umumnya orang berpendapat bahwa Filipus, yang merebut perbendaharaan dan menghancurkan sistem perbankan biara, iri terhadap kekayaan dan kekuasaan kaum Templar, dan berusaha mengendalikannya untuk dirinya sendiri. Kejadian-kejadian ini dan aset-aset perbankan kaum Templar yang asli untuk para deposan yang mendadak berpindah-pindah, adalah dua dari banyak perubahan ke arah sistem persetujuan militer untuk mendukung uang Eropa, dan menyingkirkan kekuasaan ini dari Ordo-ordo Gereja. Menyaksikan nasib kaum Templar, para Hospitaller St. Yohanes dari Yerusalem dan Rhodes dan Malta juga merasa harus meninggalkan usaha perbankan mereka. Banyak dari harta kaum Templar di luar Perancis dialihkan oleh Paus kepada para Ksatria Hospitaller, dan banyak Ksatria Templar yang masih tersisa juga diterima menjadi anggota Hospitaller.

Banyak raja dan kaum bangsawan yang mendukung para Ksatria itu saat itu, dan baru membubarkan ordo tersebut di wilayah mereka ketika mereka diperintahkan oleh Paus Klemens V. Robert si Bruce, Raja Skotlandia, telah di-ekskomunikasi karena alasan-alasan lain, dan karena itu tidak mau mendengarkan perintah Paus. Di Portugal, nama Ordo ini diubah menjadi Ordo Kristus, dan diyakini telah ikut berperan dalam penemuan-penemuan pelayaran Portugis yang pertama. Pangeran Henry si Pelayar memimpin ordo Portugis ini selama 20 tahun hingga kematiannya. Di Spanyol, di mana raja Aragon juga menentang penyerahan warisan kaum Templar kepada kaum Hospitaller (seperti yang diperintahkan oleh Clemens V), Ordo Motesalah yang mengambil alih aset-aset kaum Templar.

Tuduhan ajaran sesat[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi naskah (sekitar 1350) mengacu kepada tuduhan sodomi yang ditimpakan kepada kaum Templar.

Perdebatan berlanjut tentang apakah tuduhan tentang ajaran sesat memang layak dikenai menurut ukuran masa itu. Di bawah siksaan, sebagian kaum Templar mengaku bahwa mereka menyembah kepala manusia dan sebuah agama misteri yang dikenal sebagai Bafomet. Para pemimpin mereka belakangan menyangkal pengakuan-pengakuan ini dan karena itu mereka dihukum mati. Sebagian pakar menolak semua ini dan menganggapnya sebagai pengakuan yang dipaksakan, sesuatu yang biasa terjadi pada masa Inkuisisi.

Yang lainnya berpendapat bahwa tuduhan-tuduhan ini sebenarnya disebabkan oleh kesalahpahaman tentang ritual-ritual rahasia yang diadakan di balik pintu tertutup yang berasal pada pergumulan pahit Tentara Salib melawan kaum Saracen. Hal ini mencakup penyangkalan terhadap Kristus dan meludahi Salib tiga kali, serta mencium bokong orang lain. Menurut sebagian pakar, dan dokumen-dokumen Vatikan yang baru-baru ini ditemukan, tindakan-tindakan ini dimaksudkan sebagai simulasi terhadap kemungkinan penghinaan dan siksaan yang akan dialami oleh seorang Tentara Salib bila mereka ditangkap oleh kaum Sarasin. Menurut alur penalaran ini, mereka diajarkan bagaimana melakukan kemurtadan hanya dengan pikiran saja dan bukan dengan hati.

Mengenai tuduhan penyembahan kepala dan bahwa kaum Templar berusaha mencampurkan kekristenan dengan Islam, sebagian pakar berpendapat bahwa yang pertama merujuk kepada ritual yang dilakukan dengan relikui Santa Eufemia, salah satu dari 11 hamba perempuan Santa Ursula, Hugues de Payens, dan Yohanes Pembaptis dan bukan penyembahan berhala. Kata yang terakhir konon berasal dari para kapelan yang menciptakan istilah Bafomet melalui kode Atbash untuk memistikkan istilah Sophia (kata Yunani untuk "hikmat"). Meskipun semakin diterima, penafsiran ini kontroversial karena penafsiran yang lebih luas diterima ialah bahwa Bafomet adalah sebuah penghinaan dalam bahasa Perancis kuno terhadap nama Nabi Muhammad s.a.w..

Teori persekongkolan berkaitan dengan tekanan terhadap para Ksatria Templar yang seringkali melampaui motif yang disebutkan, yaitu merampas harta milik dan memperkuat kekuatan geopolitik. Menurut posisi Gereja Katolik penganiayaan ini tidak adil, bahwa kaum Templar itu tidak mempunyai kesalahan, dan bahwa Paus pada saat itu dimanipulasi untuk menindas mereka. Jawaban Gereja pada waktu itu memperkuat posisi ini. Proses kepausan yang dimulai oleh Paus Klemens V untuk menginvestigasi baik Ordo secara keseluruhan maupun para anggotanya secara individu sama sekali tidak menemukan seorangpun kesatria yang bersalah menyebarkan ajaran sesat di luar Perancis. Sebanyak 54 kesatria dihukum mati di Perancis oleh penguasa Perancis dengan tuduhan pengaja-pengajar sesat setelah menyangkal kesaksian-kesaksian awal mereka yang disampaikan di hadapan Komisi Kepausan. Hukuman mati ini didorong oleh keinginan Filipus untuk mencegah lebih banyak kaum Templar memiliki gagasan-gagasn yang berani. Upaya ini gagal sama sekali, karena banyak orang lain yang memberikan kesaksian menolak tuduhan-tuduhan ajaran sesat ini dalam investigasi kepausan yang diadakan kemudian.

Pada akhirnya hanya tiga orang yang dituduh sesat langsung oleh Komisi Kepausan yaitu Jacques de Molay dan dua bawahan langsungnya. Mereka diharuskan menolak ajaran sesat mereka secara terbuka di muka umum. De Molay memperoleh keberanian kembali dan menyatakan bahwa Ordo dan ia bersama kedua rekannya tidak bersalah. Keduanya ditangkap oleh penguasa Perancis dan dituduh sebagai penyesat kambuhan, lalu dibakar pada salib pada 1314. Komisi Kepausan menemukan bahwa Ordo itu secara keseluruhan tidak sesat, meskipun ada bukti-bukti terisolasi tentang penyebaran ajaran sesat. Malah Komisi ini mendukung bahwa Ordo itu harus dipertahankan. Namun Klemens V, karena menghadapi pendapat umum yang kian meningkat dan menentang Ordo itu, merasa bahwa satu-satunya pilihan adalah menekan Ordo tersebut, artinya menarik persetujuan paus atasnya.

Sebuah bukti yang menunjukkan bahwa Klemens V sama sekali tidak rela bekerja sama dengan Filipus ialah bahwa Paus memutuskan harta dan tanah Ordo itu dialihkan kepada Ordo Hospitaller (meskipun sebagian tanah kaum Tempar dikuasai oleh Filipus dan para bangsawan Eropa lainnya selama bertahun-tahun. Hal ini bertentangan dengan kehendak Filipus agar harta mereka yang di Perancis dialihkan kepadanya.

Sebuah legenda yang dikenal luas mengatakan bahwa ketika ia dibakar pada salib Jacques de Molay, Guru Besar dari para Ksatria templar, mengutuk Raja Filipus dan Paus Clemens V bahwa mereka akan menemui peradilan kekal dalam tempo satu tahun. Paus Clemens V meninggal hanya satu bulan kemudian, sementara Filipus IV tujuh bulan sesudahnya. Para komentator sangat gembira dengan perkembangan itu dan seringkali menyampaikan cerita ini dalam laporan mereka.


Budaya pop[sunting | sunting sumber]

Para Ksatria Templar mempunyai sejumlah pengaruh dalam budaya pop, dan kebanyakan kurang akurat:

Novel dan komik[sunting | sunting sumber]

Film & video games[sunting | sunting sumber]

Daftar pemimpin dari tahun 1118 sampai dengan tahun 1314[sunting | sunting sumber]

  1. Huguens de Payns (1118-1136)
  2. Robert de Craon (Robertus Burgundio) (1136-1146)
  3. Everard des Barres (Ebrardus de Barris) (1146-1149)
  4. Bernard de Tremelay (1149-1153)
  5. André de Montbard (1153-1156)
  6. Bertrand de Blanchefort (1156-1169)
  7. Philippe de Milly (Philippus de Neapoli/de Nablus) (1169-1171)
  8. Odo (Eudes) de St Amand (Odon de Saint-Chamand) (1171-1179)
  9. Arnaud de Toroge (Arnaldus de Turre Rubea/de Torroja )(1179-1184)
  10. Gérard de Ridefort (1185-1189)
  11. Robert de Sablé (Robertus de Sabloloi) (1191-1193)
  12. Gilbert Horal (Gilbertus Erail/Herail /Arayl /Horal/Roral) (1193-1200)
  13. Phillipe de Plessis Plaissie`/ Plesse` /Plessiez (1201-1208)
  14. Guillaume de Chartres (Willemus de Carnoto) (1209-1219)
  15. Pierre (Pedro) de Montaigu (Petrus de Monteacuto) (1219-1230)
  16. Armand de Périgord (Hermannus Petragoricensis aka Hermann de Pierre-Grosse) (1232-1244)
  17. Richard de Bures (1245-1247)
  18. Guillaume de Sonnac (Guillelmus de Sonayo) (1247-1250)
  19. Renaud de Vichiers (Rainaldus de Vicherio) (1250-1256)
  20. Thomas Bérard (1256-1273)
  21. Guillaume de Beaujeu (Guillelmus de Belloico) (1273-1291)
  22. Thibaud Gaudin (Thiband Ggandin) (1291-1292)
  23. Jacques de Molay (1292-1314)

Templars List

Tempat yang memiliki hubungan sejarah dengan Knights Templar[sunting | sunting sumber]

Denah lantai Bait Yerusalem dan beberapa garis konstruksi; yang menginspirasi konstruksi mereka

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Rujukan

  1. ^ Archer, Thomas Andrew; Kingsford, Charles Lethbridge (1894). The Crusades: The Story of the Latin Kingdom of Jerusalem. T. Fisher Unwin. hlm. 176. ; Burgtorf, Jochen (2008). The central convent of Hospitallers and Templars : history, organization, and personnel (1099/1120–1310). Leiden: Brill. hlm. 545–46. ISBN 978-90-04-16660-8. 
  2. ^ a b Burman 1990, hlm. 45.
  3. ^ a b c Barber 1992, hlm. 314–26

    Pada masa Jacques de Molay, mahaguru membawahi sekurang-kurangnya 970 rumah perkumpulan, termasuk komenda-komenda dan puri-puri di timur dan barat, yang diurus oleh tidak kurang dari 7.000 orang anggota, belum termasuk karyawan dan tanggungan, yang jumlahnya tentu mencapai tujuh atau delapan kali lipat dari jumlah anggota.

  4. ^ Barber 1994.
  5. ^ Barber, Malcolm (1995). The new knighthood : a history of the Order of the Temple (edisi ke-Canto). Cambridge, UK: Cambridge University Press. hlm. xxi–xxii. ISBN 978-0-521-55872-3. 
  6. ^ a b c History Channel, Decoding the Past: The Templar Code, 7 November 2005, video dokumenter ditulis oleh Marcy Marzuni.
  7. ^ Selwood, Dominic (2002). Knights of the Cloister. Templars and Hospitallers in Central-Southern Occitania 1100–1300. Woodbridge: The Boydell Press. ISBN 978-0851158280. 
  8. ^ Martin 2005, hlm. 47.
  9. ^ Nicholson 2001, hlm. 4.
  10. ^ a b c d History Channel, Lost Worlds: Knights Templar, 10 Juli 2006, video dokumenter ditulis dan disutradarai oleh Stuart Elliott.
  11. ^ a b Ralls, Karen (2007). Knights Templar Encyclopedia. Career Press. hlm. 28. ISBN 978-1-56414-926-8. 
  12. ^ Miller, Duane (2017). 'Knights Templar' in War and Religion, Vol. 2. Santa Barbara, California: ABC–CLIO. hlm. 462–64. Diakses tanggal 28 Mei 2017. 
  13. ^ Barber 1993.
  14. ^ Burman 1990, hlm. 13, 19.
  15. ^ Selwood, Dominic (2013-04-20). "Birth of the Order". Diakses tanggal 20 April 2013. 
  16. ^ Barber 1994, hlm. 7.
  17. ^ Read 2001, hlm. 91.
  18. ^ Selwood, Dominic (2013-05-28). "The Knights Templar 4: St Bernard of Clairvaux". Diakses tanggal 29 Mei 2013. 
  19. ^ Selwood, Dominic (1996). 'Quidam autem dubitaverunt: the Saint, the Sinner and a Possible Chronology', dalam Autour de la Première Croisade. Paris: Publications de la Sorbonne. hlm. 221–30. ISBN 978-2859443085. 
  20. ^ Burman 1990, hlm. 40.
  21. ^ Stephen A. Dafoe. "In Praise of the New Knighthood". TemplarHistory.com. Diakses tanggal 20 March 2007. 
  22. ^ a b Martin 2005.
  23. ^ Benson, Michael (2005). Inside Secret Societies. Kensington Publishing Corp. hlm. 90. 
  24. ^ Martin 2005, hlm. 99.
  25. ^ Martin 2005, hlm. 113.
  26. ^ Demurger, hlm. 139 "Selama empat tahun, Jacques de Molay dan tarekatnya mengerahkan segala daya dan upaya, bersama kekuatan-kekuatan tempur Kristen lainnya di Siprus dan Armenia, bagi usaha penaklukkan kembali Tanah Suci, yang dirangkaikan dengan aksi penyerangan yang dilakukan Ghazan, Khan Mongol penguasa Persia.
  27. ^ Nicholson 2001, hlm. 201

    Ahli Kenisah mempertahankan sebuah pangkalan pertahanan di Pulau Arwad (dikenal pula dengan nama Pulau Ruad, sebelumnya bernama Pulau Arados) di lepas pantau Tortosa (Tartus) sampai dengan bulan Oktober 1302 atau 1303, yakni tahun ketika pulau itu direbut oleh pihak Mamluk.

  28. ^ Nicholson 2001, hlm. 5.
  29. ^ Nicholson 2001, hlm. 237.
  30. ^ Barber 2006.
  31. ^ "Convent of Christ in Tomar". World Heritage Site. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 Desember 2006. Diakses tanggal 20 Maret 2007. 
  32. ^ "Friday the 13th". snopes.com. Diakses tanggal 26 Maret 2007. 
  33. ^ David Emery. "Why Friday the 13th is unlucky". urbanlegends.about.com. Diakses tanggal 26 Maret 2007. 
  34. ^ a b "Les derniers jours des Templiers". Science et Avenir: 52–61. July 2010. 
  35. ^ Riley-Smith, Johnathan (1995). The Oxford Illustrated History of the Crusades. Oxford: Oxford Press. hlm. 213. 
  36. ^ Barber 1993, hlm. 178.
  37. ^ Edgeller, Johnathan (2010). Taking the Templar Habit: Rule, Initiation Ritual, and the Accusations against the Order (PDF). Texas Tech University. hlm. 62–66. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 30 April 2011. 
  38. ^ Martin 2005, hlm. 118.
  39. ^ Martin 2005, hlm. 122.
  40. ^ Sobecki 2006, hlm. 963.
  41. ^ Barber 1993, hlm. 3.
  42. ^ Martin 2005, hlm. 123–24.
  43. ^ Martin 2005, hlm. 125.
  44. ^ Martin 2005, hlm. 140.
  45. ^ Malcolm Barber telah mengkaji ulang legenda ini dan menyimpulkan bahwa sumbernya adalah La Chronique métrique attribuée à Geffroi de Paris, penyunting A. Divèrres, Strasbourg, 1956, hlmn. 5711–5742. Geffroi de Paris "agaknya adalah salah seorang saksi mata pelaksanaan hukuman mati. Ia meriwayatkan bahwa Jacques de Molay tidak terlihat gentar, bahkan mengumumkan kepada para hadirin bahwa Allah akan membalas kematian mereka". Barber 2006, hlm. 357, footnote 110
  46. ^ Dalam The New Knighthood, Malcom Barber merujuk pada salah satu variasi dari legenda ini, yakni kisah tentang seorang Ahli Kenisah, yang tidak dijabarkan jati dirinya, tampil di hadapan Paus Klemens V dan mengecamnya, dan ketika akan dieksekusi mati beberapa waktu kemudian, Ahli Kenisah itu memperingatkan bahwa Sri Paus dan Raja Perancis akan "dituntut pertanggungjawabannya di hadirat Allah dalam jangka waktu setahun lebih sehari". Kisah ini terdapat dalam karya tulis Ferretto dari Vicenza, Historia rerum in Italia gestarum ab anno 1250 ad annum usque 1318 (Riwayat Peristiwa-Peristiwa yang Berlangsung di Italia dari Tahun 1250 sampai dengan tahun 1318)(Barber 1994, hlm. 314–15)
  47. ^ Moeller 1912.
  48. ^ [1] Templários no condado portucalense antes do reconhecimento formal da ordem: O caso de Braga no início do séc. XII - Revista da Faculdade de Letras / Ahli Kenisah di Kabupaten Portukale sebelum keberadaan tarekatnya diakui secara resmi: [Contoh] kasus [keberadaan Ahli Kenisah di] Braga pada permulaan abad ke-12, CIÊNCIAS E TÉCNICAS DO PATRIMÓNIO, Porto 2013, Jilid XII, hlmn. 231-243. Penulis: Paula Pinto Costa, FLUP/CEPESE (Universitas Porto)
  49. ^ Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Order of the Knights of Christ". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  50. ^ José Vicente de Bragança, The Military Order of Christ and the Papal Croce di Cristo
  51. ^ Martin 2005, hlm. 140–42.
  52. ^ Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Order of the Knights of Christ". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  53. ^ Matthew Anthony Fitzsimons; Jean Bécarud (1969). The Catholic Church today: Western Europe. University of Notre Dame Press. hlm. 159. 
  54. ^ Helen J. Nicholson (1 Januari 2004). The Crusades. Greenwood Publishing Group. hlm. 98. ISBN 978-0-313-32685-1. 
  55. ^ "Note of Clarification from the Secretariat of State". news.va. Pontifical Council for Social Communication. 16 Oktober 2012. Diakses tanggal 27 November 2012. Vatican City,(VIS)- 
  56. ^ Noonan, Jr., James-Charles (1996). The Church Visible: The Ceremonial Life and Protocol of the Roman Catholic Church. Viking. hlm. 196. ISBN 978-0-670-86745-5. 
  57. ^ Robert Ferguson (26 Agustus 2011). The Knights Templar and Scotland. History Press Limited. hlm. 39. ISBN 978-0-7524-6977-5. 
  58. ^ Jochen Burgtorf; Paul F. Crawford; Helen J. Nicholson (28 Juni 2013). The Debate on the Trial of the Templars (1307–1314). Ashgate Publishing, Ltd. hlm. 298. ISBN 978-1-4094-8102-7. 
  59. ^ "Long-lost text lifts cloud from Knights Templar". msn.com. 12 Oktober 2007. Diakses tanggal 12 Oktober 2007. 
  60. ^ Charles d' Aigrefeuille, Histoire de la ville de Montpellier, Jld. 2, hlm. 193 (Montpellier: J. Martel, 1737–1739).
  61. ^ Sophia Menache, Clement V, hlm. 218, 2002 edisi sampul lunak ISBN 0-521-59219-4 (Cambridge University Press, pertama kali terbit pada 1998).
  62. ^ Germain-François Poullain de Saint-Foix, Oeuvres complettes de M. de Saint-Foix, Historiographe des Ordres du Roi, hlm. 287, jld. 3 (Maestricht: Jean-Edme Dupour & Philippe Roux, Imprimeurs-Libraires, associés, 1778).
  63. ^ Étienne Baluze, Vitae Paparum Avenionensis, 3 Jilid (Paris, 1693).
  64. ^ Pierre Dupuy, Histoire de l'Ordre Militaire des Templiers (Foppens, Brusselles, 1751).
  65. ^ "Knights Templar secrets revealed". CNN. 12 Oktober 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 Oktober 2007. Diakses tanggal 12 Oktober 2007. 
  66. ^ Frale, Barbara (2004). "The Chinon chart – Papal absolution to the last Templar, Master Jacques de Molay". Journal of Medieval History. 30 (2): 109–34. doi:10.1016/j.jmedhist.2004.03.004. Diakses tanggal 1 April 2007. 

Kepustakaan

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]