Kubah Shakhrah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kubah Shakhrah
مسجد قبة الصخرة
כיפת הסלע
Dome of the Rock
Letak: Kota Lama Yerusalem, Yerusalem, Palestina
Koordinat: 31°46′40,8″LU 35°14′7,44″BT / 31,76667°LU 35,23333°BT / 31.76667; 35.23333Koordinat: 31°46′40,8″LU 35°14′7,44″BT / 31,76667°LU 35,23333°BT / 31.76667; 35.23333
Arsitek: Khalifah Abdul Malik bin Marwan
Khalifah Ummaiyyah
Gaya arsitektur: Umayyah , Abbasiyah , Ottoman
Pengunjung: > 800.000 pengunjung (tahun 2016)
Situs Warisan Dunia UNESCO
Jenis: Sejarah
Kriteria: (i)
Ditetapkan: 1981
Referensi #: UNESCO #148
Wilayah: Palestina
Area: Timur Tengah
Kubah Shakhrah berlokasi di Israel
Kubah Shakhrah
Lokasi dari Kota Tua Yerusalem, Palestina

Kubah Shakhrah (Arab: مسجد قبة الصخرة (baca: Qubbah As-Sakhrah), Ibrani: כיפת הסלע (baca.: Kipat Hasela), Turki: Kubbetüs Sahra, Inggris: Dome of the Rock, arti harfiah: "Kubah Batu") adalah sebuah bangunan persegi delapan berkubah emas yang terletak di tengah kompleks Masjid Al Aqsha. Kompleks ini sendiri berada dalam tembok Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Tempat ini disucikan dalam agama Islam dan Yahudi. Kubah Shakhrah ini selesai didirikan tahun 691 Masehi, menjadikannya bangunan Islam tertua yang masih ada di dunia.[1] Di dalam kubah ini terdapat batu Ash-Shakhrah yang menjadi tempat suci bagi umat Yahudi dan umat Islam.[2]

Bangunan ini terkadang disalahartikan dengan Masjid Al Aqsha. Masjid Al Aqsha adalah nama dari keseluruhan kompleks tersebut, sedangkan Kubah Shakhrah adalah salah satu bangunan yang berdiri di kompleks tersebut, tepatnya berada di bagian tengah kompleks. Bersama Masjid Al Qibli, Kubah Shakhrah merupakan bangunan utama dalam Masjid Al Aqsha dan kerap menjadi lambang yang mewakili keseluruhan kompleks tersebut.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Keramik ubin rinci.

Pra-Islam[sunting | sunting sumber]

Kompleks Masjid Al Aqsha, dikenal dengan Bukit Bait oleh Yahudi, dulunya adalah lokasi Bait Suci kedua yang disucikan umat Yahudi. Tempat ini juga diyakini sebagai tempat berdirinya Bait Suci pertama yang dibangun oleh Nabi Sulaiman (Raja Salomo). Bait Suci kedua dihancurkan pada tahun 70 M oleh Romawi dan setelah Pemberontakan Bar Kokhba pada 135 M, pemerintah Romawi mendirikan Jupiter Capitolinus, kuil untuk pemujaan Dewa Yupiter, di reruntuhan Bait Suci kedua. Di masa Kaisar Konstantinus yang Agung, agama Kristen telah menjadi agama resmi Romawi dan kuil Dewa Yupiter yang berdiri di Bukit Bait diruntuhkan setelah Konsili Nicea I. Pada masa itu, Gereja Makam Kudus dibangun pada tahun 320, tetapi Bukit Bait cenderung diabaikan.[3]

Pada tahun 610, Kekaisaran Sasania Persia mengalahkan Romawi dan merebut Palestina. Umat Yahudi diberi wewenang untuk mendirikan negara bawahan dan mulai membangun Bait Suci. Namun lima tahun kemudian, Romawi kembali mengambil alih Palestina dan umat Kristen menghancurkan Bait Suci yang belum selesai pembangunannya dan menjadikan tempat itu sebagai tempat pembuangan sampah.[4]

Isra dan Mi'raj[sunting | sunting sumber]

Isra' Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Menurut Al Maududi[4] dan mayoritas ulama,[5] Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri[6] menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mikraj, tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis waktu tanggal terjadinya Isra Mi'raj.

Dalam peristiwa ini, diyakini Muhammad menggunakan Batu Fondasi sebagai pijakan untuk naik langit,[5] batu yang sama yang menjadi titik tersuci dalam kepercayaan Yahudi, juga yang menjadi kiblat bagi umat Yahudi dan Islam sebelum akhirnya kiblat umat Islam berpindah ke Ka'bah. Dalam kepercayaan Yahudi, batu ini juga yang menjadi tempat Nabi Ibrahim (Abraham) hendak mengorbankan anaknya, Ishaq.

Masa kekhalifahan[sunting | sunting sumber]

Qubbat As-Sakhrah muncul dalam uang kertas Mandat Palestina.

Kepemimpinan Yerusalem diambil alih oleh umat Islam di tahun 638 Masehi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab. Patriark Gereja Makam Kudus, Sophronius, menyerahkan kota itu selepas kepungan yang singkat.

Umar memasuki Masjid Al Aqsha dengan berjalan. Tidak ada pertumpahan darah dan tidak ada pembunuhan oleh tentara Islam. Siapa pun yang ingin meninggalkan Baitul Maqdis dengan segala harta benda mereka, dibenarkan berbuat demikian. Siapa pun yang ingin terus tinggal, akan dijamin keselamatan nyawa, harta benda, dan tempat beribadat mereka. Semua ini terkandung dalam Perjanjian Umariyya.

Umar kemudian menemani Sophronious ke Gereja Makam Kudus dan ditawarkan untuk shalat di dalamnya. Umar menolak karena ditakutkan dapat membuat umat Islam memiliki alasan untuk mengubah gereja tersebut menjadi masjid di kemudian hari.[6] Umar lebih memilih untuk shalat di Masjid Al Aqsha yang saat itu berupa puing-puing dan memerintahkan pembersihan[7] dan memberi akses pada umat Yahudi ke dalam kompleks tersebut.[8]

Salah seorang mantan Yahudi yang masuk Islam, Ka'ab Al Ahbar, memberi masukan kepada Umar agar mendirikan tempat ibadah di sebelah utara Batu Fondasi agar saat shalat, umat Islam dapat menghadap Ka'bah sekaligus batu tersebut. Namun Umar menolak gagasan tersebut dan shalat di bagian selatan masjid, membelakangi batu tersebut.[9] Saat membangun tempat ibadah, Umar sengaja membuat agar masjid yang dibangunnya, Batu Fondasi, dan Ka'bah tidak berada dalam satu garis lurus. Batu itu sendiri dibiarkan terbuka.

Pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah, dilakukan pembangunan besar-besaran terhadap kompleks Masjid Al Aqsha. Masjid yang dibangun Umar (Masjid Al Qibli) dibangun ulang dan menggeser mihrab masjid tersebut sejauh 40 meter ke arah barat, sehingga antara Batu Fondasi, mihrab Masjid Al Qibli, dan Ka'bah berada dalam satu garis lurus. Pemerintah saat itu juga memerintahkan pendirian bangunan yang menaungi Batu Fondasi, yang disebut Kubah Shakhrah (secara harfiah bermakna "Kubah Batu").

Pembangunan awal[sunting | sunting sumber]

Diyakini Kubah Shakhrah dibangun di masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik dan putranya, Al Walid I. Merujuk kepada Sibt bin Jauzi, Kubah Shakhrah mulai dibangun pada 687. Dilaporkan besarnya biaya pembangunan mencapai tujuh kali pemasukan pajak tahunan dari Mesir.[10] Kaligrafi Kufi ditambahkan di bagian dalam kubah. Tanggal yang tercatat adalah 70 H (691-692 M) dipercaya oleh para sejarawan sebagai waktu diselesaikannya kubah tersebut.[11] Pada dokumen ini, nama Abdul Malik dihapus dan diganti dengan nama Al Ma'mun, Khalifah Abbasiyah.

Arsitektur dan mosaiknya mengikuti pola gereja dan istana Romawi.[12] Dua teknisi yang bertanggung jawab atas proyek tersebut adalah Raja bin Haywah, seorang ulama dari Beit She'an, dan Yazid bin Salam, Muslim non-Arab asli Yerusalem.[12][13] Strukturnya berbentuk segi delapan dengan diameter kubahnya sekitar 20 meter.[14]

Masa Abbasiyah dan Fatimiyah[sunting | sunting sumber]

Bangunan awal dari Kubah Shakhrah sebenarnya adalah kubah terbuka tanpa dinding. Pada masa Abbasiyahlah mulai dibangun dinding penutup. Bangunan ini mengalami kerusakan pada gempa bumi tahun 808 dan 816.[15] Kemudian kubahnya hancur karena gempa bumi tahun 1015 dan dibangun ulang pada tahun 1022-1023, sedangkan mosaik di bagian atas bangunan diperbaiki pada 1027-1028.[16]

Perang Salib[sunting | sunting sumber]

Denah lantai Kubah Shakhrah di tengah-tengahnya terdapat Sakhrah, kontruksi bangunan ini menginspirasi Ordo Bait Allah.

Setelah kemenangan umat Kristen pada Perang Salib Pertama pada tahun 1099, kepemimpinan Yerusalem beralih ke tangan umat Kristen. Umat Muslim berlindung di Masjid Al Aqsha, tetapi hal tersebut tidak menolong. Gesta Francorum menyatakan “(Orang-orang kita) membunuh dan menyembelih bahkan di Bait Salomo (Masjid Al Aqsha), pembantaian begitu besar sampai orang-orang kita mengarungi darah setinggi mata kaki.” Fulcher, pendeta yang turut serta dalam Perang Salib pertama, menyatakan, “Di Bait (Suci) 10.000 orang terbunuh. Memang, jika Anda di sana, Anda akan melihat kaki Anda diwarnai darah dari orang-orang yang terbunuh sampai mata kaki. Tapi apa lagi yang harus saya hubungkan? Tak satupun dari mereka dibiarkan hidup, baik wanita maupun anak-anak tidak diampuni.”[17] Setelah peristiwa ini, Kerajaan Kristen Yerusalem didirikan. Masjid Qibli diubah menjadi istana kerajaan dengan nama Templum Solomonis atau Kuil Sulaiman (Salomo) dan Kubah Shakhrah diubah menjadi gereja dengan nama Templum Domini (Kuil atau Bait Tuhan).

Ayyubiyyah dan Mamluk[sunting | sunting sumber]

Kepemimpinan Yerusalem diambil alih kembali oleh umat Islam di bawah kepemimpinan Shalahuddin pada hari Jumat, 2 Oktober 1187[butuh rujukan] dan kompleks Masjid Al Aqsha dikembalikan kegunaannya seperti sedia kala. Salib di atas Kubah Shakhrah diganti menjadi bulan sabit emas. Keponakan Salahuddin al-Malik al-Mu'azzam Isa (615-24/1218-27) melakukan perbaikan lain di kompleks Al Aqsha dan menambah serambi muka pada Masjid Al Qibli.

Kesultanan Utsmaniyah 1517 - 1917[sunting | sunting sumber]

Pada masa kekuasaan Suleiman Al Qanuni (1520–1566), bagian luar Kubah Shakhrah dilapisi ubin dan pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun. Bagian dalam kubah dihias dengan megah dengan mosaik, tembikar, dan marmer, yang membutuhkan waktu beberapa abad hingga selesai. Bagian dalam juga dihias dengan kaligrafi ayat Al Qur'an. Surah Yasin dihiaskan di ubin atas dan dikerjakan pada abad keenam belas pada masa Sultan Suleiman. Surah Al Isra' yang menerangkan peristiwa isra' mi'raj juga dipasangkan di atasnya. Pada tahun 1620, dibangun juga monumen yang bernama Kubah Nabi, sebuah kubah mandiri yang didirikan di dekat Kubah Shakhrah. Renovasi berskala besar dilakukan selama era kekuasaan Mahmud II tahun 1817.

Pasca Utsmaniyah[sunting | sunting sumber]

Kubah Shakhrah mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi Yerikho 1927. Pada tahun 1955, program perbaikan ekstensif dilakukan pemerintah Yordania dengan bantuan dana dari Turki dan Arab. Perbaikan tersebut meliputi penggantian sejumlah besar ubin yang berasal dari masa pemerintahan Suleiman Al Qanuni, yang telah terlepas akibat hujan deras. Sebelum tahun 1959, bagian kubah tersebut ditutupi dengan timah hitam. Pada tahun 1965, timah hitam tersebut diganti dengan perunggu aluminium berlapis emas.

Nilai keagamaan[sunting | sunting sumber]

Bagian dalam Kubah Shakhrah yang menampilkan Batu Fondasi (shakhrah) (1995)

Yahudi[sunting | sunting sumber]

Dalam kepercayaan Yahudi, Batu Fondasi dan wilayah di sekitarnya adalah tempat paling suci dalam agama Yahudi. Diyakini pula bahwa di batu itu juga Nabi Ibrahim (Abraham) hendak menyembelih putranya, Ishaq. Beberapa kelompok Yahudi, semisal Gerakan Setia Bait Suci dan Eretz Yisrael berkeinginan untuk membangun Bait Suci Ketiga di tempat Kubah Shakhrah berdiri. Meski begitu, sebagian kelompok Yahudi mennetang hal tersebut dan menyatakan bahwa Bait Suci Ketiga hanya dapat dibangun oleh Mesias sendiri di masa mendatang.

Islam[sunting | sunting sumber]

Menurut beberapa ulama, batu yang sekarang berada dalam naungan Kubah Shakhrah adalah tempat pijakan Nabi Muhammad naik ke langit saat peristiwa isra' mi'raj,[5] sedangkan beberapa lagi menyatakan bahwa tempat pijakan tersebut berada di Masjid Al Qibli.[18][19] Saat Umar diberi usulan oleh Ka'ab untuk membangun masjid di sebelah utara Batu Fondasi agar dapat menghadap ke arah Ka'bah dan batu tersebut secara bersamaan saat shalat, Umar justru menanggapi bahwa perbuatan itu menyerupai Yahudi[20] dan membangun masjid di sebelah selatan batu tersebut. Lebih lanjut, Umar menyengaja agar mihrab masjid yang dibangunnya tidak segaris dengan Batu Fondasi dan Ka'bah. Hal ini karena berdasarkan yurisprudensi Islam, setelah arah kiblat berpindah, maka Kab'ah di Mekkah telah menjadi lebih penting daripada Batu Fondasi tersebut.[9] Meski begitu, Masjid Al Aqsha secara keseluruhan sendiri disebutkan memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki masjid lain sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits, sehingga meskipun sudah tidak lagi menjadi kiblat shalat umat Islam, kompleks Al Aqsha secara umum dan Kubah Shakhrah secara khusus tetap dipandang suci oleh umat Islam.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Rizwi Faizer (1998). "The Shape of the Holy: Early Islamic Jerusalem". Rizwi's Bibliography for Medieval Islam. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2002-02-10. 
  2. ^ http://MuhammadEdgarHamas (2015-06-10). "Mari Mengenal Kedudukan As-Shakhrah, Jantung Masjid Al-Aqsha". dakwatuna.com. Diakses tanggal 2016-11-23. 
  3. ^ Robert Shick, ‘A Christian City with a Major Muslim Shrine: Jerusalem in the Umayyad Period,’ in Arietta Papaconstantinou (ed.), Conversion in Late Antiquity: Christianity, Islam, and Beyond: Papers from the Andrew W. Mellon Foundation Sawyer Seminar, University of Oxford, 2009-2010 pp.299-317 p.300, Routledge 2016 p.300.
  4. ^ Karmi, Ghada (1997). Jerusalem Today: What Future for the Peace Process?. Garnet & Ithaca Press. hlm. 116. ISBN 0-86372-226-1. 
  5. ^ a b Braswell, G. Islam – Its Prophets, People, Politics and Power. Nashville, TN: Broadman and Holman Publishers. 1996. p. 14
  6. ^ Steven Runciman, A History of the Crusades, vol. 1 The First Crusade (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 3-4.
  7. ^ Michael D. Coogan The Oxford History of the Biblical World, Oxford University Press, 2001 p.443-
  8. ^ Daniel Frank, Search Scripture Well: Karaite Exegetes and the Origins of the Jewish Bible Commentary in the Islamic , East BRILL, 2004 p.209.
  9. ^ a b Mosaad, Mohamed. Bayt al-Maqdis: An Islamic Perspective pp.3–8
  10. ^ Jacob Lassner: Muslims on the sanctity of Jerusalem: preliminary thoughts on the search for a conceptual framework. In: Jerusalem Studies in Arabic and Islam. Band 31 (2006), p. 176.
  11. ^ Necipoğlu 2008, hlm. 22.
  12. ^ a b Avner, Rina (2010). "The Dome of the Rock in light of the development of concentric martyria in Jerusalem" (PDF). Muqarnas. Volume 27: An Annual on the Visual Cultures of the Islamic World. Leiden: Brill. hlmn. 31–50 [43–44]. ISBN 978-900418511-1. JSTOR 25769691. 
  13. ^ "Islamic Art and Architecture 650–1250". google.ca. hlm. 20. 
  14. ^ "Dome of the Rock". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 4 April 2012. 
  15. ^ Amiran, D.H.K.; Arieh, E.; Turcotte, T. (1994). "Earthquakes in Israel and adjacent areas: macroseismic observations since 100 B.C.E.". Israel Exploration Journal 44 (3/4): 260-305 [267]. JSTOR 27926357. 
  16. ^ Necipoğlu 2008, hlm. 31.
  17. ^ Fulcher of Chartres, "The Siege of the City of Jerusalem", Gesta Francorum Jerusalem Expugnantium.
  18. ^ "Me'raj – The Night Ascension". Al-islam.org. Diakses tanggal 31 October 2012. 
  19. ^ "Meraj Article". Duas.org. Diakses tanggal 31 October 2012. 
  20. ^ Aiman, Abu (2007). Rahasia Di Balik Penggalian Al-Aqsha. PT. Cahaya Insan Suci. Cet. I. Hlm. 67. ISBN 979-1238-54-0. Diakses 6 Agustus 2010.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Biblical Archaeology Review; Was the Temple Mount Once a Cemetry; May/June 1985 vol.XI No. 3
  • Dan Bahat; CARTA's HISTORICAL ATLAS OF JERUSALEM A Brief Illustrated Survey; Carta, The Israel Map & Publishing Co. Ltd; Jerusalem; revised and expanded 1976.
  • M. Irfan Zidny, M.A. ; MASJIDIL AQSHA Pusat Para Nabi dan Awal Mi'raj Rasul; Penerbit Antar Kota, Jakarta, 1986
  • Necipoğlu, Gülru (2008). "The Dome of the Rock as palimpsest: 'Abd al-Malik's grand narrative and Sultan Süleyman's glosses" (PDF). Di Necipoğlu, Gülru; Bailey, Julia. Muqarnas: An Annual on the Visual Culture of the Islamic World. Volume 25. Leiden: Brill. hlmn. 17–105. ISBN 978-900417327-9. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]