Pengepungan Yerusalem (1099)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pengepungan Yerusalem
Bagian dari Perang Salib Pertama
Counquest of Jeusalem (1099).jpg
Direbutnya Yerusalem oleh Tentara Salib (lukisan seniman abad ke-19)
Tanggal 7 Juni – 15 Juli 1099
Lokasi Yerusalem
Hasil Kemenangan tentara salib[1]
Pihak yang terlibat
Tentara Salib:

Blason pays fr FranceAncien.svg Kerajaan Perancis
Holy Roman Empire Arms-single head.svg Kekaisaran Romawi Suci
Blason sicile famille Hauteville.svg Kadipaten Puglia
Henry II Arms.svg Kerajaan Inggris

Fatimid Flag.png Kekhalifahan Fatimiyah
Komandan
Blason Languedoc.svg Raymond IV dari Toulouse

Armoiries de Jérusalem.svg Godefroy dari Bouillon
Blason Nord-Pas-De-Calais.svg Robert II dari Flandria
Blason duche fr Normandie.svg Robert II dari Normandia
Blason sicile famille Hauteville.svg Tancred dari Hauteville
[1][2][3][4]

Fatimid Flag.png Iftikhar al-Dawla[4][5]
Kekuatan
1.200-1.300 ksatria
11.000-12.000 infanteri
[2][6][4]
400 prajurit kavaleri, dan satu garnisun pasukan Muslim yang cukup besar termasuk orang Nubian
[4][7]
Korban
Banyak[1] Banyak[8]

Pengepungan Yerusalem berlangsung dari 7 Juni hingga 15 Juli 1099 semasa Perang Salib Pertama. Keberhasilan pengepungan ini merupakan puncak dari Perang Salib Pertama, menyebabkan para tentara salib merebut kota Yerusalem dari Kekhalifahan Fatimiyah dan meletakkan landasan bagi berdirinya Kerajaan Yerusalem.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Setelah keberhasilan pengepungan Antiokhia pada bulan Juni 1098, Tentara Salib tetap berada di tempat tersebut sampai akhir tahun. Legatus kepausan Adhemar dari Le Puy telah meninggal dunia, dan Bohemond dari Taranto mengklaim Antiokhia untuk dirinya sendiri. Baudouin dari Boulogne tetap berada di Edessa, yang telah ditaklukan sebelumnya pada tahun 1098. Timbul perbedaan pendapat di antara para pangeran mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya; Raymond dari Toulouse dengan kecewa kemudian meninggalkan Antiokhia untuk menaklukan benteng di Maarrat al-Nu'man dalam Pengepungan Maarat. Sampai akhir tahun, sejumlah kecil ksatria dan infantri mengancam untuk maju ke Yerusalem tanpa mereka. Akhirnya, pada 13 Januari 1099, Raymond mulai bergerak menuju selatan, menyusuri pesisir Laut Tengah, dengan diikuti oleh Robert dari Normandia dan Tancred—keponakan Bohemond—yang sepakat untuk menjadi vasalnya.

Dalam perjalanannya, Tentara Salib mengepung Arqa, namun mereka tak mampu merebutnya, dan menghentikan pengepungan pada 13 Mei. Kaum Fatimiyyah telah berupaya untuk berdamai agar para tentara salib tidak melanjutkan perjalanan menuju Yerusalem, tetapi tawaran ini diabaikan. Iftikhar al-Dawla, gubernur Yerusalem dari Fatimiyyah, menyadari keinginan Tentara Salib sehingga ia mengusir semua penduduk Kristen di Yerusalem.[9] Sementara itu, pergerakan Tentara Salib ke Yerusalem sudah tak terhalang lagi.

Pengepungan[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 7 Juni para tentara salib tiba di Yerusalem, yang mana baru saja direbut kembali dari Seljuk oleh Fatimiyah setahun sebelumnya. Banyak dari tentara salib yang menangis saat melihat kota yang telah sekian lama dinantikan dalam perjalanan.[10] Sebagaimana dengan Antiokhia, para tentara salib melakukan pengepungan atas kota ini, di mana para tentara salib sendiri mungkin lebih banyak menderita daripada penduduk kota karena kurangnya makanan dan air di sekitar Yerusalem. Kota ini telah disiapkan dengan baik untuk menghadapi pengepungan, dan gubernur Fatimiyah Iftikhar al-Dawla telah mengusir sebagian besar kaum Kristen. Dari sekitar 5.000 ksatria yang ambil bagian dalam Perang Salib sang Pangeran, hanya sekitar 1.500 ksatria yang masih tersisa bersama dengan 12.000 pasukan berjalan kaki yang masih sehat (mungkin awalnya ada 30.000). Godefroy, Robert dari Flandria, dan Robert dari Normandia (yang kemudian juga meninggalkan Raymond untuk bergabung dengan Godefroy) mengepung dinding-dinding utara sampai ke selatan di Menara Daud, sementara Raymond mendirikan kampnya di sisi barat dari Menara Daud sampai Gunung Sion. Suatu serangan langsung atas dinding-dinding tersebut pada tanggal 13 Juni menemui kegagalan. Tanpa air atau makanan, baik manusia maupun hewan dengan cepat mati kehausan dan kelaparan; para tentara salib menyadari bahwa waktu tidak berpihak kepada mereka. Secara kebetulan, segera setelah serangan pertama, dua kapal perang layar Genoa[11] berlabuh di pelabuhan Yafo, dan para tentara salib mampu mensuplai diri mereka kembali untuk waktu yang singkat. Para tentara salib juga mulai mengumpulkan kayu dari Samaria dalam rangka membangun mesin-mesin kepung. Mereka tetap masih kekurangan makanan dan air; sampai akhir Juni ada kabar bahwa sepasukan Fatimiyah bergerak ke utara dari Mesir.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c (Jerman) Valentin, François (1867). Geschichte der Kreuzzüge. Regensburg. 
  2. ^ a b (Inggris) Skaarup, Harold A. (2003). Siegecraft - No Fortress Impregnable. Lincoln. 
  3. ^ (Jerman) Dittmar, Heinrich (1850). Die Geschichte der Welt vor und nach Christus, Vol. 3. Heidelberg. 
  4. ^ a b c d (Inggris) Watson, Bruce (1993). Sieges: a comparative study. Westport. 
  5. ^ (Inggris) Nicolle, David (2003). The First Crusade, 1096-99: conquest of the Holy Land. Oxford. 
  6. ^ (Inggris) Mikaberidze, Alexander (2011). Conflict and Conquest in the Islamic World. Santa Barbara. 
  7. ^ (Inggris) Haag, Michael (2008). Templars: History and Myth: From Solomon's Temple to the Freemasons. London. 
  8. ^ The "massacre" at the sack of Jerusalem has become a commonplace motive in popular depictions, but the historical event is difficult to reconstruct with any certainty. Arab sources give figures of between 30,000 and 70,000 casualties (in an anonymous Syrian chronicle, and in Ibn al-Athir, respectively). These figures are rejected as unrealistic by Thorau (2007), who argues it is very unlikely that the city at the time had a total population of this order; medieval chroniclers tend to substantially exaggerate both troop strength and casualty figures; they cannot be taken at face value naively, and it is less than straightforward to arrive at realistic estimates based on them. Peter Thorau, Die Kreuzzüge, C.H.Beck, München 2007, ISBN 3406508383. Dittmar, Heinrich (1850). Die Geschichte der Welt vor und nach Christus, Vol. 3. Heidelberg. [halaman dibutuhkan] Valentin, François (1867). Geschichte der Kreuzzüge. Regensburg. [halaman dibutuhkan] Mackintosh, Sir James (1830). The history of England, Volume 1. Philadelphia. [halaman dibutuhkan]
  9. ^ Thomas F. Madden, The New Concise History of the Crusades at 33 (Rowman & Littlefield Pub., Inc., 2005). The Syriac Chronicle to 1234 is one source claiming that Christians were expelled from Jerusalem before the crusaders' arrival. "The First and Second Crusades from an Anonymous Syriac Chronicle." Trans. A.S. Tritton. Journal of the Royal Asiatic Society, 1933, p. 73. Presumabaly this was done to prevent their collusion with the crusaders.
  10. ^ Tyerman 2006, hlm. 153–157.
  11. ^ Jean Rchards "The Crusades 1071–1291" p 65

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • (Inggris) Rodney Stark, God's Battalions: The Case for the Crusades, New York, 2009.
  • (Inggris) Hans E. Mayer, The Crusades, Oxford, 1965.
  • (Inggris) Jonathan Riley-Smith, The First Crusade and the Idea of Crusading, Philadelphia, 1999.
  • (Inggris) Frederic Duncalf, Parallel source problems in medieval history, New York, London : Harper & Brothers, 1912. via Internet Archive. See Chapter III for background, sources and problems related to the siege of Jerusalem.
  • (Inggris) Sir Archibald Alison, Essays, Political, Historical, and Miscellaneous – vol. II, London, 1850.
  • (Inggris) The Siege and Capture of Jerusalem: Collected Accounts Primary sources from the Internet Medieval Sourcebook.
  • (Inggris) Climax of the First Crusade Detailed examanination by J. Arthur McFall originally appeared in Military History magazine.

Koordinat: 31°47′00″LU 35°13′00″BT / 31,7833°LU 35,2167°BT / 31.7833; 35.2167