Para rasul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Keduabelas Rasul)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Perjamuan Terakhir, lukisan mural karya Leonardo da Vinci dari penghujung era 1490-an di Gereja Santa Maria della Grazie, Milan, adalah penggambaran peristiwa perjamuan terakhir Yesus bersama kedua belas rasulnya pada malam hari menjelang penyalibannya.
Yesus bersama kedua belas rasulnya, fresko yang menampilkan lambang Ki-Ro () di Katakomba Domitila, Roma.

Dalam eklesiologi dan teologi Kristen, para rasul (bahasa Yunani: ἀπόστολος, apóstolos; jamak: Απόστολοι, apóstoloi; harfiah: utusan), khususnya kedua belas rasul, adalah murid-murid utama Yesus, tokoh sentral dalam agama Kristen. Semasa Yesus hidup dan berkarya pada abad pertama tarikh Masehi, para rasul adalah pengikut-pengikut terdekatnya. Di kemudian hari, pengikut-pengikut terdekat ini menjadi para pembabar utama Kabar Baik yang diwartakan Yesus.

Pada zaman modern, para misionaris gerakan Pentakosta kerap menyebut diri mereka sendiri sebagai rasul. Praktik semacam ini berpangkal dari padanan bahasa Latin untuk kata "rasul", yakni "missio", cikal bakal dari kata "misionaris" dalam bahasa Indonesia. Karena alasan yang sama pula umat Katolik menyandangkan sebutan rasul kepada misionaris-misionaris tertentu, misalnya Santo Patrisius (373–463) dihormati sebagai "Rasul Irlandia", Santo Bonifasius (680–755) dihormati sebagai "Rasul Bangsa Jerman",[1] dan Santo Fransiskus Xaverius (1506–1552) dihormati sebagai "Rasul Hindia".

Meskipun tradisi Kristen kerap menyebutkan bahwa para rasul berjumlah dua belas orang, para penulis Injil mencatat orang yang sama dengan nama yang berbeda sehingga ada nama rasul yang disebut dalam satu Injil tetapi tidak terdapat dalam Injil-Injil lain. Peristiwa penetapan kedua belas rasul oleh Yesus diriwayatkan dalam ketiga Injil sinoptik. Sesudah kebangkitannya, Yesus menyampaikan Amanat Agung kepada sebelas orang rasul (Yudas Iskariot sudah wafat kala itu), yakni amanat untuk mewartakan ajaran-ajarannya kepada segala bangsa. Peristiwa ini lazim disebut pengutusan para rasul. Menurut sebuah tradisi Kristen Timur yang bersumber dari Injil Lukas, ada tujuh puluh orang rasul yang terlibat dalam karya pelayanan Yesus. Dalam Gereja Perdana, Paulus kerap disebut rasul karena diajar dan diutus secara langsung oleh Kristus melalui suatu penglihatan dalam perjalanannya menuju kota Damaskus (Kisah Para Rasul 9:4–5).

Kurun waktu perkembangan agama Kristen semasa hidup para rasul disebut zaman rasuli.[1] Pada abad pertama tarikh Masehi, para rasul membentuk paguyuban-paguyuban Kristen di seantero wilayah Kekaisaran Romawi, bahkan menurut tradisi Kristen, juga di kawasan-kawasan lain di Timur Tengah, Afrika, dan India.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Sinaksis (majelis doa) Kedua Belas Rasul. Ikon Rusia dari abad ke-14, Museum Moskwa.

Istilah "rasul" berasal dari kata Arab, رسول (rasūl), dan digunakan dalam Alkitab bahasa Indonesia sebagai padanan kata Yunani, ἀπόστολος (apóstolos). Kata ἀπόστολος terbentuk oleh pengimbuhan awalan ἀπό- (apó-), yang berarti "dari", pada kata dasar στέλλω (stéllō), yang berarti "aku kirim" atau "aku berangkatkan", dan mula-mula berarti "utusan" atau "duta". Kendati demikian, makna kata apóstolos lebih dalam dari sekadar "utusan", dan lebih dekat dengan makna kata "delegasi" atau "perutusan".[2] Menurut Leksikon Perjanjian Baru Yunani-Inggris, kata apóstolos digunakan oleh umat Kristen sebagai padanan kata Ibrani, שָלִיחַ (syaliakh). Di kemudian hari, makna gerejawi dari kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi missio, cikal bakal dari kata "misionaris" dalam bahasa Indonesia.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, para rasul rata-rata memiliki nama Ibrani, kendati beberapa di antaranya memiliki nama Yunani. Banyak orang Yahudi kala itu memiliki nama Latin atau Yunani sekaligus nama Ibrani.[3]

Markus 6:7–13 meriwayatkan bahwa mula-mula Yesus mengutus mereka berangkat berpasang-pasangan (bdk. Matius 10:5–42, Lukas 9:1–6) ke kota-kota di Galilea. Menurut nas ini, mereka diamanatkan untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan.[2] Mereka juga diwanti-wanti agar "jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju", dan jika ada mana-mana tempat yang menolak mereka, maka mereka harus keluar dari tempat itu sambil mengebaskan debu dari kaki mereka. Tindakan mengebaskan debu dari kaki ini diartikan oleh para ahli kajian Alkitab sebagai gerakan ancaman pengabaian (Miller 26). Amanat untuk hanya membawa tongkat (dalam Injil Matius dan Injil Lukas, mereka bahkan dilarang membawa tongkat) adakalanya dipakai oleh denominasi-denominasi Kristen yang masih melestarikan suksesi rasuli sebagai dasar bagi tindakan para uskup membawa tongkat jabatan.

Injil-Injil meriwayatkan bahwa kedua belas rasul di kemudian hari diutus untuk mewartakan Injil kepada "segala bangsa",[4] baik kepada orang Yahudi maupun orang non-Yahudi.[5] Paulus menegaskan tentang betapa pentingnya peran para rasul dalam Gereja dengan menyatakan bahwa keluarga Allah dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Efesus 2:19–20).

Meskipun tidak diutus sebagai rasul pada masa hidup Yesus, Paulus, pria Yahudi asal Tarsus yang bernama asli Saulus, mengaku diutus secara khusus oleh Yesus yang sudah bangkit, dan dihormati sebagai "rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi" (Roma 11:13) karena karya pewartaan Injil yang dilakukannya selepas bertobat. Dalam surat-suratnya kepada jemaat-jemaat Kristen di seluruh kawasan Syam, Paulus tidak membatasi pemakaian sebutan "rasul" bagi kedua belas murid utama Yesus saja, dan kerap menyebut pembimbingnya, Barnabas, sebagai rasul.[1] Pemakaian istilah rasul sebagai sebutan khusus bagi kedua belas murid utama Yesus muncul dalam Kitab Wahyu.[6]

Pada abad ke-2 tarikh Masehi, hubungan dekat dengan para rasul dihargai sebagai dasar kewenangan. Gereja-Gereja yang didirikan oleh seorang rasul disebut takhta rasuli. Surat-surat Paulus dijadikan bagian dari Kitab Suci Perjanjian Baru, dan empat kitab Injil sahih diyakini sebagai karya tulis para rasul, demikian pula karya-karya tulis lain dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Berbagai karya tulis Kristen di luar Kitab Suci Perjanjian Baru dinisbahkan kepada para rasul, misalnya Didake (taklimat) dan Constitutiones Apostolorum (ketetapan para rasul). Para uskup merunut garis suksesi mereka sampai pada salah seorang dari antara para rasul, yang konon berangkat menyebar dari Yerusalem dan membentuk paguyuban-paguyuban Kristen di mana-mana. Menurut tradisi, para uskup mewarisi kewenangan mereka dari kedua belas rasul melalui suksesi rasuli.[1] Bapa-bapa Gereja terdahulu yang dipercaya sebagai orang-orang dekat para rasul diberi sebutan Bapa Rasuli, misalnya Paus Klemens I, yang diyakini sebagai orang dekat Santo Petrus. Syahadat Para Rasul, yang populer di Gereja Barat, diyakini sebagai syahadat yang dirumuskan sendiri oleh para rasul.

Kedua belas Rasul[sunting | sunting sumber]

Dipanggil Yesus[sunting | sunting sumber]

Wejangan Bagi Para Rasul, Lukisan James Tissot,.

Ketiga Injil sinoptik meriwayatkan peristiwa pemanggilan murid-murid tertentu. Injil Matius hanya meriwayatkan peristiwa pemanggilan Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Ketiga Injil sinoptik meriwayatkan bahwa keempat murid ini dipanggil segera sesudah Yesus kembali dari padang gurun, tempat ia dicobai iblis.

Meskipun Yesus hanya mengajak dengan kalimat singkat, keempat-empatnya serta-merta menurut dan langsung menelantarkan jala mereka. Menurut pandangan tradisional, tindakan menuruti panggilan secara serta-merta ini adalah salah satu bukti dari kuasa ilahi Yesus, meskipun tidak dinyatakan demikian dalam Injil. Menurut pandangan lain, orang-orang yang serta-merta menuruti panggilan Yesus adalah kawan-kawan lamanya, sebagaimana yang tersirat dalam Injil Yohanes, bahwasanya Petrus (Simon) dan Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis, dan mulai mengikuti Yesus segera sesudah Yesus dibaptis.

Dengan mengekstrapolasi tindakan penelantaran jala yang dilakukan Simon dan Andreas, William F. Albright dan Charles C. Mann menyimpulkan bahwa Matius hendak menegaskan betapa pentingnya tindakan melepas ikatan-ikatan duniawi pada saat memeluk agama Kristen, karena profesi nelayan adalah profesi yang menguntungkan, kendati perlu modal awal yang besar, dan tindakan meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan profesi itu sudah tentu merupakan suatu pengorbanan besar. Tindakan Simon dan Andreas meninggalkan benda yang secara efektif merupakan harta duniawi utama mereka di kemudian hari dijadikan suri teladan oleh para zahid Kristen.

Para Penjala Manusia karya Adriaen van de Venne, cat minyak pada panel, 1614

Matius meriwayatkan pertemuan Yesus dengan Yakobus dan Yohanes, dua orang adik-beradik yang juga berprofesi sebagai nelayan, tak lama sesudah merekrut Simon dan Andreas. Matius dan Markus menerangkan bahwa Yakobus dan Yohanes adalah putra-putra Zebedeus. Lukas menambahi keterangan Matius dan Markus dengan penjelasan bahwa Yakobus dan Yohanes adalah rekan-rekan sekerja Simon dan Andreas dalam satu kelompok nelayan yang sama. Matius meriwayatkan bahwa ketika berjumpa dengan Yesus, Yakobus dan Yohanes sedang sibuk menisik jala mereka, tetapi tanpa ragu-ragu menuruti ajakan Yesus untuk menjadi pengikutnya.

Riwayat Matius ini paralel dengan riwayat Markus dan Lukas, tetapi Matius menyiratkan bahwa Yakobus dan Yohanes juga meninggalkan ayah mereka (karena ayah mereka saat itu berada di atas perahu yang mereka tinggalkan). Menurut Warren Carter, riwayat ini memperlihatkan pandangan Matius bahwasanya Yesus adalah salah satu tokoh yang menolak tatanan kemasyarakatan tradisional yang bersifat patriarkis, tatanan yang menjadikan ayah sebagai penguasa anak-anaknya. Kendati demikian, kebanyakan ahli menafsirkan bahwa Matius hanya sekadar ingin menampilkan Yakobus dan Yohanes sebagai pengikut-pengikut yang lebih berbakti dibanding Simon dan Andreas.

Ketiga Injil sinoptik meriwayatkan pula bahwa ketika sedang mengajar, Yesus melihat seorang pemungut cukai sedang duduk di rumah cukai, lalu mengajaknya menjadi murid. Si pemungut cukai, yang disebut dengan nama Matius dalam Matius 9:9 dan dengan nama Lewi dalam Markus 2:14 serta Lukas 5:27, menyatakan kesediaannya dan mengundang Yesus untuk bersantap bersama handai tolannya. Para pemungut cukai dipandang sebagai orang-orang bejat dalam masyarakat Yahudi, sehingga kaum Farisi mempertanyakan kepatutan perilaku Yesus yang mau saja diundang bersantap bersama-sama dengan orang-orang bereputasi buruk itu. Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan kalimatnya yang terkenal, "bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Markus 2:17).

Pengganti Yudas[sunting | sunting sumber]

Yudas Iskariot mengkhianati Yesus, lantas bunuh diri lantaran merasa bersalah sebelum peristiwa kebangkitan Yesus (menurut salah satu Injil), sehingga jumlah para rasul berkurang menjadi sebelas orang. Setelah Yesus naik ke surga, dan selagi menanti-nanti turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus, Petrus memberi anjuran kepada saudara-saudara bahwa:

...Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu. Dahulu ia termasuk bilangan kami, dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini... Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur, "Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya" dan "Biarlah jabatannya diambil orang lain". Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.

Oleh karena itu, antara peristiwa kenaikan Yesus dan hari raya Pentakosta, rasul-rasul yang tersisa memilih rasul yang kedua belas dengan cara membuang undi, cara tradisional bangsa Israel untuk mencari tahu kehendak Allah (lihat Amsal 16:33). Undi jatuh pada Matias.[7]

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus tampaknya merujuk kepada kedua belas rasul untuk pertama kalinya:

Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas, dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya, Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

Paulus, rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi[sunting | sunting sumber]

Kendati bukan salah seorang dari kedua belas murid utama Yesus, dalam surat-suratnya, Paulus menyebut dirinya sebagai seorang "rasul" yang "lahir sebelum waktunya" (misalnya dalam Roma 1:1 dan 1 Korintus 15:8). Paulus dipanggil menjadi rasul secara langsung oleh Yesus yang sudah bangkit dalam suatu penglihatan ketika Paulus sedang menempuh jalan menuju Damaskus (Kisah Para Rasul 9:1–9). Bersama Barnabas, Paulus diberi peran menjadi rasul dalam Gereja Perdana (Kisah Para Rasul 13:2). Ia menyebut dirinya sendiri sebagai "rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi" (Roma 11:13).

Catholic Encyclopedia menerangkan bahwa "serta-merta tampak jelas bahwasanya dalam lingkup pemahaman Kristen, setiap orang yang diutus Allah, atau diutus Kristus, kepada umat manusia dapat disebut 'rasul'", dengan demikian telah terjadi perluasan cakupan makna kata "rasul" sehingga tidak lagi semata-mata berarti kedua belas murid utama Yesus sebagaimana maknanya yang mula-mula.[2]

Karena Paulus mengaku menerima Injil melalui wahyu dari Yesus Kristus sesudah wafat dan kebangkitannya[8] (alih-alih sebelum wafat dan kebangkitan Yesus sebagaimana kedua belas rasul), ia seringkali harus menegaskan kewenangan rasulinya (1 Korintus 9:1) dan memaklumkan bahwa ia telah bertemu dan ditetapkan menjadi rasul oleh Yesus dalam perjalanannya menuju kota Damaskus.

Menurut Paulus, Yakobus, Petrus, dan Yohanes menyambut baik keberadaannya selaku orang yang diutus Tuhan kepada bangsa-bangsa non-Yahudi (khususnya orang-orang yang tidak bersunat), malah statusnya selaku rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi disetarakan dengan status Petrus selaku rasul bagi bangsa Yahudi (khususnya orang-orang yang bersunat).[9] Paulus mengaku bahwa, "Yakobus, Kefas, dan Yohanes, yakni orang-orang yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat, dan mereka kepada orang-orang yang bersunat" (Galatia 2:9).

Kendati ditetapkan Tuhan menjadi rasul melalui peristiwa ajaib, Paulus menganggap dirinya lebih rendah daripada rasul-rasul lain, karena ia adalah mantan penyaniaya umat Kristen (1 Korintus 15:9). Lagi pula kedua belas rasul sendiri tidak membatasi karya misi mereka suatu menjadi suatu kegiatan dakwah yang ditujukan bagi umat Yahudi saja, karena Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi, dikenal sebagai orang non-Yahudi pertama yang memeluk agama Kristen serta dibaptis oleh Petrus, dan Amanat Agung yang disampaikan Yesus pascakebangkitannya jelas-jelas berisi perintah kepada kedua belas rasul untuk mewartakan injil kepada "segala bangsa".

Akhir hayat[sunting | sunting sumber]

Menurut tradisi Kristen, kedua belas rasul, sesudah Matias terpilih menggantikan Yudas, gugur sebagai martir, kecuali Yohanes yang bertahan hidup sampai lanjut usia. Hanya kematian Yakobus bin Zebedeus yang diriwayatkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.[10]

Matius 27:5 meriwayatkan bahwa Yudas Iskariot melemparkan uang perak, yang diterimanya sebagai upah mengkhianati Yesus, ke dalam kenisah, lalu gantung diri. Kisah Para Rasul 1:18 meriwayatkan bahwa Yudas membeli sebidang lahan, lalu "jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar".

Menurut sejarawab abad ke-18, Edward Gibbon, umat Kristen Perdana (paruh kedua abad ke-2 sampai paruh pertama abad ke-3) meyakini bahwa hanya Petrus, Paulus, dan Yakobus bin Zebedeus yang gugur sebagai martir.[11] Klaim-klaim tentang kemartiran rasul-rasul selebihnya, bahkan seluruh klaim tentang kemartiran para rasul, tidak didasarkan atas bukti sejarah maupun bukti alkitabiah.[12][13]

Makam para rasul[sunting | sunting sumber]

Relikui para rasul. Difoto ketika dipamerkan di Utah, Amerika Serikat, pada tahun 2017.[1]

Banyak gereja yang mengaku menyimpan relikui para rasul, banyak di antaranya berlokasi di Italia.[15]

Dalam Injil Yohanes[sunting | sunting sumber]

Injil Yohanes, tidak seperti ketiga Injil lainnya, tidak menyajikan suatu daftar formal dari para rasul, akan tetapi menyebut jumlah mereka yakni Dua Belas dalam Yohanes 6:67, 6:70, dan 6:71. Hanya sepuluh orang rasul yang disebutkan namanya, yakni:

  • Petrus
  • Andreas (diidentifikasi sebagai saudara dari Petrus)
  • Anak-anak Zebedeus (bentuk jamak berarti sekurang-kurangnya ada dua Rasul)
  • Filipus
  • Natanael
  • Tomas yang disebut pula Didimus (Yohanes 11:16, 20:24, 21:2)
  • Yudas Iskariot
  • Yudas (yang bukan Iskariot) (Yohanes 14:22)

Tokoh yang bernama Natanael dalam Injil Yohanes secara tradisional diidentifikasi sebagai orang yang sama dengan tokoh yang oleh Injil-Injil Sinoptik disebut Bartolomeus, dan banyak orang sepakat bahwa anak-anak Zebedeus adalah sebutan bagi Yakobus dan Yohanes, sedangkan Yudas (yang bukan Iskariot) adalah sebutan bagi Tadeus, yang dikenal pula sebagai Santo Yudas. Nama-nama yang tidak terdapat dalam Injil Yohanes adalah Yakobus anak Alfeus, Matius, dan Simon orang Kanaan/Zelot. Yakobus yang Adil, menurut Kitab Kisah Para Rasul, adalah pemimpin Gereja Yerusalem, dan Injil Matius merupakan Injil yang paling bercorak Yahudi dari semua Injil, dan boleh jadi penulis Injil Yohanes sengaja tidak mencantumkan nama kedua tokoh tersebut sebagai bentuk penentangannya terhadap Kekristenan Yahudi. Pada abad ke-2, adanya dua nama Simon dalam daftar Injil-Injil Sinoptik memberi peluang untuk menganggap Simon Magus adalah salah satu dari kedua Simon tersebut, dan oleh karena itu adalah salah satu dari kedua belas Rasul; dan mungkin saja karena alasan ini maka Injil Yohanes tidak mencantumkan nama Simon yang lain itu. Simon yang kedua itu mungkin pula adalah Simeon dari Yerusalem, pemimpin Gereja Yerusalem yang kedua, sesudah Yakobus.

Dalam Injil-Injil sinoptik[sunting | sunting sumber]

Menurut daftar yang terdapat dalam Injil-Injil Sinoptik (Matius 10:1-4, Markus 3:13-19, Lukas 6:12-16) dan Kisah Para Rasul 1:13, dua belas orang dipilih oleh Yesus menjelang permulaan pelayanan-Nya dan mereka ini juga disebutNya Rasul. Urutannya dalam 4 bagian Perjanjian Baru adalah:

Dua belas Rasul Yesus Kristus
Injil Matius[17] Injil Markus[18] Injil Lukas[19] Injil Yohanes Kisah Para Rasul[20]
Simon Petrus Simon Petrus Simon Petrus Simon Petrus[21] Petrus
Andreas Andreas Andreas Andreas Andreas
Yakobus Yakobus Yakobus salah satu anak Zebedeus Yakobus
Yohanes Yohanes Yohanes salah satu anak Zebedeus Yohanes
Filipus Filipus Filipus Filipus Filipus
Bartolomeus Bartolomeus Bartolomeus Nathanael Bartolomeus
Tomas Tomas Tomas Tomas ("juga dipanggil Didimus")[22][23][24] Tomas
Matius Matius Matius N/A Matius
Yakobus anak Alfeus Yakobus anak Alfeus Yakobus anak Alfeus N/A Yakobus bin Alfeus
Tadeus Tadeus Yudas ("anak Yakobus")[25] Yudas ("bukan Iskariot")[26] Yudas bin Yakobus
Simon orang Zelot Simon orang Zelot Simon orang Zelot N/A Simon orang Zelot
Yudas Iskariot Yudas Iskariot Yudas Iskariot Yudas ("anak Simon orang Zelot")[27] (Yudas diganti oleh Matias)

Catatan:

  • Setiap daftar dimulai dengan Simon Petrus dan diakhiri dengan Yudas Iskariot (kecuali di Kisah Para Rasul karena Yudas sudah mati).
  • Juga di tiap daftar, tampaknya ada pembagian 3 grup yang masing-masing terdiri dari 4 orang, meskipun urutan tidak selalu sama, di mana Petrus rupanya mengepalai grup 1, Filipus grup 2 dan Yakobus bin Alfeus grup 3.
  1. Simon: yang diberi nama Petrus (Bahasa Yunani: petros, petra; Bahasa Aram: kēfas; artinya "Batu Karang") oleh Yesus, dikenal pula dengan sebutan Simon bar Yonah (Bahasa Aram) atau Simon bin Yunus, Kefas (Bahasa Aram), dan Simon Petrus. Pekerjaannya sebelum mengikut Yesus adalah nelayan dari Betsaida "di Galilea" (Yohanes 1:44; bdk. 12:21)
  2. Andreas: saudara Simon, nelayan dari Betsaida, dan murid Yohanes Pembaptis, adalah Rasul Yang Pertama Kali Dipanggil.
  3. Yakobus dan
  4. Yohanes: anak-anak Zebedeus, yang disebut Yesus Boanerges
  5. Filipus: dari Betsaida "di Galilea" (Yohanes 1:44, 12:21)
  6. Bartolomeus: dalam Bahasa Aram "bar-Talemai", "putra Talemai" atau "orang Ptolemais". Rasul ini diidentifikasikan dengan Natanael yang disebut dalam Injil Yohanes 1:45-1:51.
  7. Matius: si pemungut cukai, dianggap sama dengan Lewi anak Alfeus
  8. Tomas: namanya berasal dari kata bahasa Aram T'oma' = kembar, juga dikenal sebagai Didimus, dan kata bahasa Yunani Didymous = kembar
  9. Yakobus anak Alfeus: umumnya dikenal sebagai Yakobus Kecil. Kadang-kadang juga dikenal sebagai Yakobus Si Orang Benar[28]
  10. Yudas Tadeus (dalam Injil Matius dan Markus) atau Yudas anak Yakobus dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Secara tradisional disebut Santo Yudas atau Rasul Yudas. Ada manuskrip-manuskrip Injil Matius yang sebagai Lebbaeus. Ada juga beberapa manuskrip Latin dari masa selanjutnya menamakannya "Yudas orang Zelot", namun ini dianggap sebagai naskah yang keliru)
  11. Simon orang Zelot: Injil Lukas menulis "Simon yang disebut orang Zelot". Ada yang menyamakannya dengan Simeon dari Yerusalem, sementara beberapa orang lain meragukannya dengan alasan bahwa tokoh bernama Simeon disebut-sebut pada waktu kelahiran Yesus sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, sebagai seorang pria uzur yang tak lama lagi akan meninggal dunia.[29]
  12. Yudas Iskariot: nama Iskariot dapat berarti kota-kota Yudea di Keriot atau pun berarti sikarii (para pejuang pergerakan nasional Yahudi), atau berarti Isakhar. Juga disebut (misalnya dalam Yohanes 6:71 dan 13:26) sebagai "Yudas, anak Simon". Dia digantikan sebagai rasul dalam Kitab Kisah Para Rasul oleh Matias.

Pemanggilan[sunting | sunting sumber]

Hanya Injil Matius, Markus, dan Lukas yang mencatat pemanggilan kedua belas rasul.

Yesus memanggil murid-murid yang pertama[sunting | sunting sumber]

Matius 4:18-22 dan Markus 1:16-20 menceritakan bagaimana Yesus memanggil Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes.

Yesus memanggil kedua belas rasul[sunting | sunting sumber]

Matius 10:1-4, Markus 3:13-19, dan Lukas 6:12-16 menuliskan nama kedua belas rasul yang dipanggil Yesus, tanpa merinci pemanggilan masing-masing (kecuali empat yang di atas).

Penjala ikan menjadi penjala manusia[sunting | sunting sumber]

Lukas 5:1-11 menuliskan pemanggilan Simon, Yakobus, dan Yohanes setelah sebelumnya Yesus melakukan mujizat.

Lewi pemungut cukai mengikut Yesus[sunting | sunting sumber]

Markus 2:13-17 dan Lukas 5:27-32 menuliskan Lewi anak Alfeus (yang dalam Matius 9:9-13 disebut Matius) si pemungut cukai yang mengikuti panggilan Yesus.

Pengutusan[sunting | sunting sumber]

Yesus mengutus kedua belas murid[sunting | sunting sumber]

Matius 10:5-15, Markus 6:6-13, dan Lukas 9:1-6 menceritakan bagaimana Yesus mengutus kedua belas muridnya kepada orang-orang Israel untuk memberitakan bahwa "Kerajaan Sorga sudah dekat", menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menahirkan orang kusta, dan mengusir setan. Yesus menasihati supaya mereka tidak membawa bekal apa-apa melainkan hanya menerima tawaran tumpangan di rumah orang lain. Tidak dituliskan kapan pengutusan ini berakhir.

Rasul-rasul lain[sunting | sunting sumber]

Matias[sunting | sunting sumber]

Sesudah Yudas Iskariot mengkhianati Kristus dan bunuh diri karena rasa bersalahnya sebelum kebangkitan Yesus, jumlah para rasul tinggal sebelas orang. Menurut Kisah Para Rasul 1:16–20, Petrus berkata, "Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu… Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini… Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain.'" Jadi antara kenaikan Kristus dan hari Pentakosta, para rasul yang tersisa memilih rasul yang kedua belas dengan cara membuang undi, cara tradisional Yahudi untuk mengetahui kehendak Allah. Undian tersebut jatuh pada Matias, yang kemudian menjadi yang terakhir dari Kedua belas Rasul dalam Perjanjian Baru.

Ayat ini adalah salah satu di antara ayat-ayat Alkitab yang digunakan Gereja Katolik Roma untuk mempertahankan ajarannya mengenai Suksesi Apostolik.

Yesus sendiri[sunting | sunting sumber]

Penulis Surat kepada Orang Ibrani (dalam Ibrani 3:1) menyebut Yesus "Rasul dan Imam Besar yang kita akui" dan yang "dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar daripada Musa".

Paulus dari Tarsus[sunting | sunting sumber]

Paulus adalah rasul khusus yang mengabarkan Injil kepada bangsa bukan Yahudi.

Barnabas[sunting | sunting sumber]

Dalam Kisah Para Rasul 14:13, misionaris bernama Barnabas disebut pula rasul.

Yakobus yang Adil[sunting | sunting sumber]

Yakobus ini biasa diidentifikasikan sebagai saudara Yesus (lihat Yakobus yang Adil untuk penjelasan lebih lanjut). Dia tidak disebut sebagai rasul dalam Injil-Injil, namun Gereja Ortodoks mengidentifikasikan dia sebagai pemimpin dari ketujuhpuluh orang dalam Lukas 10:1-20. Kelak dalam Kisah Para Rasul dia dikisahkan menjadi pemimpin Gereja Yerusalem, dan dia disebut pula sebagai rasul oleh Paulus dalam Galatia 1:19.

Andronikus dan Yunias[sunting | sunting sumber]

Dalam Roma 16:7 Paulus mengatakan bahwa Andronikus dan Yunias adalah "orang-orang yang terpandang di antara para rasul".

Ada dua pertanyaan yang menarik di sini. Yang pertama, apakah Yunias seorang wanita? Yang kedua, apakah kalimat itu bermakna bahwa mereka dikenal-baik oleh para rasul, ataukah mereka sendiri termasuk para rasul. Dari kedua pertanyaan tersebut, terbit kemungkinan adanya seorang rasul perempuan, yang mungkin merupakan contoh netralitas gender dalam Gereja purba.[30]

Untuk penjelasan selengkapnya mengenai isu ini, lihat artikel Yunia.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Apostle." Cross, F. L., (penyunting) The Oxford Dictionary of the Christian Church. New York: Oxford University Press. 2005. ISBN 0-19-280290-9
  2. ^ a b c "Catholic Encyclopedia: Apostles". 
  3. ^ Karena bukan hal yang tidak lumrah bagi orang Yahudi kala itu, beberapa orang di antaranya memiliki dua nama diri, satu nama Ibrani/Aram dan satu nama Yunani. Karena alasan inilah daftar nama dua belas rasul Yesus berisi 14 alih-alih 12 nama diri. Empat nama Yunani dalam daftar ini adalah Andreas (bahasa Yunani: Ἀνδρέας, Andreas), Filipus (bahasa Yunani: Φίλιππος, Filipos), Tadeus (bahasa Yunani: Θαδδαῖος, Tadaios), dan Lebeus (bahasa Yunani: Λεββαίος, Lebaios). Referensi: John P. Meier, A Marginal Jew.
  4. ^ Matius 28:19, Markus 13:10, Markus 16:15
  5. ^ Bdk. Kisah Para Rasul 15:1–31, Galatia 2:7–9, Kisah Para Rasul 1:4–8, Kisah Para Rasul 10:1–11:18.
  6. ^ Wahyu 21:14
  7. ^ "Who were the 12 disciples?". Diakses tanggal 2017-09-19. 
  8. ^ bdk. Galatia 1:12; Kisah Para Rasul 9:3–19, Kisah Para Rasul 9:26–27, Kisah Para Rasul 22:6–21, Kisah Para Rasul 26:12–23
  9. ^ Galatia 2:7–9
  10. ^ "Who were the 12 disciples?". 
  11. ^ Gibbon, Edward (1826). "Chapter XVI. The Conduct of the Roman Government toward the Christians, from the Reign of Nero to that of Constantine". The history of the decline and fall of the Roman empire. II. New York: J. & J. Harper for Collins & Hanney. hlm. 20. 27. Pasa masa hidup Tertulianus dan Klemens dari Aleksandria, kehormatan sebagai martir disandangkan pada Santo Petrus, Santo Paulus, dan Santo Yakobus. Kehormatan ini lambat laun disandangkan pula kepada rasul-rasul selebihnya oleh orang-orang Yunani, yang dengan cermat menetapkan tempat mereka berdakwah dan wafat secara mengenaskan di sejumlah negeri nun jauh di luar tapal batas wilayah Kekaisaran Romawi. Baca Mosheim, hlm. 81. dan Tillemont, Memoires Ecclesiastiques, tom. i. bagian 3. 
  12. ^ Were the Disciples Martyred for Believing the Resurrection? A Blast From the Past, ehrmanblog.org (behind paywall).
  13. ^ Wills, Garry (10 Maret 2015). The Future of the Catholic Church with Pope Francis. Penguin Publishing Group. hlm. 49. ISBN 978-0-698-15765-1. (Candida Moss menata bukti-bukti sejarah untuk membuktikan bahwa "kita tidak tahu bagaimana para rasul wafat, apatah lagi wafat sebagai martir.")6  Mengutip Moss, Candida (5 Maret 2013). The Myth of Persecution: How Early Christians Invented a Story of Martyrdom. HarperCollins. hlm. 136. ISBN 978-0-06-210454-0. 
  14. ^ Banyak keterangan mengenai lokasi penyimpanan relikui lainnya bersumber dari laman ini http://www.saintsinrome.com/?m=0
  15. ^ "Welcome". 
  16. ^ Sebagaimana yang dinyatakan dalam artikel wiki Santo Filipus
  17. ^ Matius 10:2-4:TB
  18. ^ Markus 3:16-19:TB
  19. ^ Lukas 6:14-16:TB
  20. ^ Kisah Para Rasul 1:13:TB
  21. ^ Yohanes 6:67-71:TB
  22. ^ Yohanes 11:16:TB
  23. ^ Yohanes 20:24:TB
  24. ^ Yohanes 21:2:TB
  25. ^ Lukas 16:6:TB
  26. ^ Yohanes 14:22:TB
  27. ^ Yohanes 6:67-71:TB
  28. ^ Catholic Encyclopedia: Saudara-saudara Yesus: "Identitasnya [Yakobus Saudara Tuhan] dengan Yakobus Muda (Markus 15:40) dan Rasul Yakobus, anak Alfeus (Matius 10:3; Markus 3:18), sekalipun diragukan oleh banyak kritikus Protestan, dapat pula dianggap pasti."
  29. ^ Catholic Encyclopedia: Saudara-saudara Yesus: "beberapa orang menyamakannya [Simeon dari Yerusalem] dengan Rasul Simon orang Kana (Matthew 10:4; Mark 3:18) atau Zelot (Lukas 6:15; Kisah Para Rasul 1:13)."
  30. ^ (Lihat Crossan, J. D. dan Reed, J. L., In Search of Paul, HarperSanFrancisco, 2004, pp 115-116, ISBN 0-06-051457-4.)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]