Kekristenan dan agama lain

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
World-Day-of-Prayer-for-Peace Assisi 2011.jpg

Kekristenan dan agama-agama lain mendokumentasi hubungan Kekristenan dengan agama-agama dunia lainnya, termasuk perbedaan dan persamaan.

Pandangan kristen tentang pluralisme agama[sunting | sunting sumber]

Pandangan Kristen Klasik[sunting | sunting sumber]

Orang-orang Kristen Injili percaya bahwa pluralisme agama adalah bid'ah dan bertentangan dengan Alkitab.[1] Beberapa orang Kristen berpendapat bahwa pluralisme agama adalah tidak sah atau konsep yang berkontradiksi terhadap diri sendiri. Bentuk pluralisme agama maksimum mengklaim bahwa semua agama sama-sama benar, atau bahwa satu agama dapat berlaku untuk beberapa dan agama lain untuk orang lain. Beberapa, tetapi tidak berarti semua, orang-orang Kristen terus berpegang bahwa pluralisme semacam itu secara logis mustahil.[2] Katolik Roma percaya bahwa meskipun mereka mewadahi wahyu dari Allah kepada manusia yang sepenuhnya dan paling lengkap, denominasi Kristen lainnya juga telah menerima wahyu asli dari Allah, meskipun parsial dan tidak lengkap.[butuh klarifikasi]

Pandangan Kristen Calvinist[sunting | sunting sumber]

Meskipun Calvinis percaya Tuhan dan kebenaran Allah tidak bisa jamak, mereka juga percaya bahwa tata cara orang-orang sipil yang dapat menahan manusia dari kejahatan dan mendorong ke arah yang baik,adalah juga tata cara-tata cara Allah (terlepas dari agama, atau tiadanya agama, dari orang-orang yang memegang kekuasaan). Orang-orang Kristen diwajibkan untuk berdamai dengan semua orang, sejauh itu terserah orang-orang lain, dan menyerahkan pemerintahan untuk Tuhan, dan untuk berdoa bagi musuh-musuh.

Hubungan dengan Sikhisme[sunting | sunting sumber]

Sikh juga percaya pada satu Tuhan, seperti orang-orang Kristen. Namun, tidak ada surga/neraka dalam agama Sikh.

Hubungan dengan Yudaisme[sunting | sunting sumber]

Secara historis, hubungan antara Kekristenan dan Yudaisme telah lama terpecah. Di masa lalu, orang-orang Kristen sering mengajarkan bahwa "orang Yahudi" membunuh Kristus, dan mereka menanggung "pembunuhan" itu sebagai kesalahan kolektif (sebuah interpretasi yang sekarang ditolak oleh denominasi-denominasi utama). Seballiknya, orang-orang Yahudi cenderung untuk menghubungkan Kekristenan dengan berbagai pogrom, atau di waktu yang lebih baik, dengan bahaya asimilasi. Anti-Semitisme memiliki sejarah panjang dalam Kekristenan (lihat Kristen dan anti-Semitisme), dan memang jauh dari tamat (misalnya, di Rusia kontemporer). Namun, sejak Holocaust, banyak dialog yang bertujuan untuk  rekonsiliasi Kristen–Yahudi telah diadakan, dan hubungan telah sangat ditingkatkan. Saat ini, banyak penginjil konservatif mendukung Zionisme Kristen, yang menimbulkan protes dari orang-orang Kristen Arab, sebagian didasarkan pada keyakinan Millennialist bahwa negara modern Israel merupakan penggenapan dari nubuatan Alkitab.

Hubungan dengan Islam[sunting | sunting sumber]

Islam sepaham dengan sejumlah keyakinan agama Kristen. Mereka berbagi pandangan yang sama tentang tauhid, penghakiman, surga, neraka, roh, malaikat, dan kebangkitan di masa depan. Yesus diakui dan dihormati oleh umat Islam sebagai nabi besar. Namun, Islam merendahkan Yesus ke status yang lebih rendah dari Allah "dalam kumpulan orang-orang yang terdekat dengan Allah" dalam Al-qur'an, sementara Kekristenan aliran utama (Trinitarian) mengajarkan tanpa pertanyaan bahwa Yesus adalah Anak Allah, salah satu dari tiga Hipostasis (bahasa Inggris umum: pribadi) Kristen Trinitas, secara ilahi bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus.

Kedua agama itu menganut keyakinan yang sama akan kelahiran Yesus dari seorang perawan, mukjizat dan penyembuhan, dan bahwa Ia naik ke surga secara jasmaniah. Namun, Yesus tidak diterima sebagai anak oleh umat Islam, yang benar-benar mempertahankan bahwa Ia adalah seorang manusia yang dicintai oleh Allah dan dimuliakan oleh Allah Swt ke jajaran yang paling benar. Mereka percaya pada Tuhan sebagai satu pribadi, bukan sebagai Trinitas yang diterima oleh sebagian besar orang-orang Kristen. Orang-orang Muslim juga tidak menerima penyaliban Yesus. Karena umat Islam percaya hanya dalam penyembahan kepada Allah monoteistik yang tidak pernah menjadi manusia, mereka tidak menerima penggunaan ikon, dan melihat ini sebagai syirik (menyembah berhala). Pengaruh Muslim memainkan peran dalam inisiasi ikonoklasme dan penaklukan mereka menyebabkan ikonoklasme dalam Kekaisaran Bizantium. Untuk alasan yang sama, mereka tidak menyembah atau berdoa kepada Muhammad, Yesus, atau nabi-nabi yang lain; melainkan hanya kepada Allah.

Hubungan dengan agama Hindu[sunting | sunting sumber]

Budha, Hindu dan Kristen berbeda pada keyakinan mendasar tentang surga, neraka dan reinkarnasi, dan hal-hal lain. Dari perspektif Hindu, surga (bahasa Sanskerta svarga) dan neraka (Naraka) adalah tempat sementara, di mana setiap jiwa harus hidup, baik untuk perbuatan baik yang dilakukan atau bagi mereka dosa-dosa yang dilakukan.

Ada pula kesamaan yang signifikan dalam teologi Kristen dan Hindu, terutama kedua agama itu mengakui pandangan Allah Tritunggal. Trinitas Kudus agama Kristen, yang terdiri dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus, kadang-kadang dilihat sebagai analog yang mirip dengan Trimurti agama Hindu, dan anggotanya -- Brahma, Wisnu, dan Siwa—yang dipandang sebagai tiga pokok manifestasi dari Brahman, atau Ketuhanan.

Hubungan dengan agama Buddha[sunting | sunting sumber]

Agama Buddha dan Protestan masuk ke dalam konflik politik di abad ke-19 di Sri Lanka dan di Tibet sekitar tahun 1904 (Ekspedisi Francis Younghusband). Berbagai peristiwa telah memperkenalkan berbagai aliran teologi dan meditasi Buddha kepada beberapa generasi spiritual Western pencari (termasuk beberapa penganut agama Katolik). Hubungan yang baik terjalin antara kedua agama, kecuali mungkin di Korea Selatan. Republik Rusia Kalmykia mengakui baik agama Buddha Tibet/Lamaist dan Ortodoks Rusia sebagai agama resmi.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Zoroastrianism: A Shadowy but Powerful Presence in the Judaeo-Christian World, Mary Boyce, London, 1987, and Encyclopedia Americana, Danbury, Connecticut, 1988, vol 29, pp. 813–815, article by J. Duchesne-Guillemin.
  2. ^ Encyclopedia Americana, Danbury, Connecticut, 1988, vol 29, pp. 813–815, article by J. Duchesne-Guillemin.
  3. ^ S. A. Nigosian, The Zoroastrian Faith, 97
  4. ^Peake's Commentary on the Bible, Matthew Black and H.H. Rowley, ed., Revised edition, Nelson, New York, 1982, section 607b
  5. ^ Zaehner, R.C. The Dawn and Twilight of Zoroastrianism. G.P. Putnam's Sons, New York, 1961, pp. 57–58.
  6. ^ The Oxford History of the Biblical World, M. Coogan, ed., 1998.
  7. ^ R. Nash, Christianity and the Hellenistic World as quoted in Baker's Encyclopedia of Christian Apologetics, Norman Geisler; Baker Books, Grand Rapids, Mich.; 1999, p. 492.

Pustaka tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Ankerl, Guy (2000) [2000]. Global communication without universal civilization. INU societal research. Vol.1: Coexisting contemporary civilizations : Arabo-Muslim, Bharati, Chinese, and Western. Geneva: INU Press. ISBN 2-88155-004-5. 
  • Ingham, Michael, Bp. (1997). Mansions of the Spirit: the Gospel in a Multi-Faith World. Toronto, Ont.: Anglican Book Centre. ISBN:1-55126-185-5
  • Zuckermann, Ghil'ad [2006]. "'Etymythological Othering' and the Power of 'Lexical Engineering' in Judaism, Islam and Christianity. A Socio-Philo(sopho)logical Perspective", Explorations in the Sociology of Language and Religion, edited by Tope Omoniyi and Joshua A. Fishman, Amsterdam: John Benjamins, pp. 237–258. ISBN:90-272-2710-1