Lompat ke isi

Penyaliban

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Penggambaran Yesus yang disalibkan di antara dua pencuri pada abad ke-15
Lukisan Christ at the Cross karya Carl Bloch tahun 1870

Penyaliban adalah metode eksekusi hukuman mati di mana terpidana diikat atau dipaku pada kayu salib besar, balok atau tiang pancang dan dibiarkan tergantung hingga akhirnya meninggal, yang dapat berlangsung dalam hitungan menit hingga hari.[1][2] Metode ini merupakan salah satu bentuk eksekusi terkejam yang pernah ada di dunia. Dimana terpidana diikat atau dipaku pada salib kayu besar, balok, atau tiang pancang dan dibiarkan tergantung hingga akhirnya mati, kematian merupakan suatu hal yang sangat diinginkan oleh orang yang disalib.[1][2] Esensi dari penyaliban bukanlah kematian itu sendiri, melainkan penderitaan saat menjelang kematian. Metode ini digunakan sebagai hukuman oleh bangsa Persia, Kartago, dan Romawi, di antara bangsa-bangsa lain. Penyaliban telah digunakan di beberapa negara hingga abad ke-21.[3]

Penyaliban Yesus merupakan inti dari Kekristenan dan salib (dalam Katolik Roma biasanya digambarkan dengan Yesus dipaku padanya) adalah simbol keagamaan utama Kekristenan. Kematian-Nya adalah contoh penyaliban yang paling menonjol dalam sejarah, yang pada gilirannya telah menyebabkan banyak budaya di dunia modern mengaitkan metode eksekusi ini erat dengan Yesus dan dengan spiritualitas Kristen. Tokoh-tokoh lain dalam Kekristenan secara tradisional diyakini juga telah mengalami penyaliban, termasuk Santo Petrus, yang menurut tradisi Gereja disalibkan terbalik, dan Santo Andreas, yang menurut tradisi Gereja disalibkan pada salib berbentuk X. Saat ini, sejumlah kecil umat Kristen secara sukarela menjalani penyaliban non-mematikan sebagai praktik pengabdian.

Berbeda dengan cara eksekusi terpidana mati pada masa sekarang, proses penyaliban memerlukan waktu yang relatif lama sehingga saat-saat penderitaanpun menjadi panjang. Dibandingkan hukuman gantung, kursi listrik, suntikan mati, kamar gas, tembak mati, pancung, dan sebagainya, yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja menjelang kematian, penyaliban membutuhkan waktu berjam-jam.

Kebudayaan menyalib

[sunting | sunting sumber]

Penyaliban adalah salah satu bentuk hukuman yang diterapkan dalam Kekaisaran Romawi, dan orang yang paling terkenal karena hukuman salib oleh pemerintah Romawi adalah Yesus Kristus. Pada zaman Yesus, para pemberontak dan pelaku kriminal dihukum dengan cara disalib.

Cara penyaliban

[sunting | sunting sumber]

Kedua tangan mereka biasa diikat dan kaki mereka diberi pijakan kayu dan mereka dijemur panas matahari dan menjadi tontonan orang-orang sebagai peringatan. Namun penyaliban Yesus sering kali dilukiskan kedua tangan dan kedua kaki Yesus dipakukan pada kayu salib, yang menyebabkan Yesus kehilangan banyak darah ditambah dengan dijemur matahari[butuh rujukan].

Pandangan Yahudi

[sunting | sunting sumber]

Dalam adat istiadat Yahudi, ada tertulis bahwa orang yang digantung di atas pohon itu terkutuk.

"Seorang yang digantung terkutuk oleh Allah." (Ulangan 21:23)

Pandangan Kristen

[sunting | sunting sumber]

Dalam agama Kristen diyakini bahwa Yesus Kristus disalib untuk menebus manusia, dan melalui Dia yang disalib, manusia yang berdosa digantikan atau ditebus dari penghukuman, sehingga semua dosa yang telah dilakukan digantikan melalui pengorbanan-Nya.

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu. (Galatia 3:13–14)

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Granger Cook, John (2018). "Cross/Crucifixion". Dalam Hunter, David G.; van Geest, Paul J. J.; Lietaert Peerbolte, Bert Jan (ed.). Brill Encyclopedia of Early Christianity Online. Leiden and Boston: Brill Publishers. doi:10.1163/2589-7993_EECO_SIM_00000808. ISSN 2589-7993.
  2. 1 2 Templat:Cite Josephus
  3. Roger Bourke, Prisoners of the Japanese: Literary imagination and the prisoner-of-war experience (St Lucia: University of Queensland Press, 2006), Chapter 2 "A Town Like Alice and the prisoner of war as Christ-figure", pp. 30–65.