Gereja Ortodoks Oriental

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Gereja Ortodoks Oriental
Christ and the Abbot Menas Louvre E11565 n02.jpg
Ikon abad ke-6 dari Bawit, Mesir Tengah; sekarang tersimpan di Museum Louvre
Klasifikasi Kristen Timur
Teologi Miafisitisme
Struktur organisasi Episkopal
Struktur Persekutuan
Gereja-Gereja
Autokefalos
Liturgi Ritus Armenia, Ritus Suriah Barat, Ritus Aleksandria
Umat 86 juta jiwa

Gereja Ortodoks Oriental[a] adalah persekutuan Gereja terbesar ke-4 di dunia, dengan jumlah umat sekitar 76 juta jiwa. Sebagai salah satu lembaga keagamaan tertua di dunia, Gereja Ortodoks Oriental telah memainkan peranan penting dalam sejarah dan budaya Abisinia, Armenia, Mesir, Sudan, serta beberapa daerah di Timur Tengah dan India. Sebagai persekutuan Gereja-Gereja autokefalos Kristen Timur, para uskupnya sederajat berdasarkan tahbisan uskup, dan ajaran-ajarannya terangkum dalam pernyataan bahwa persekutuan ini hanya mengakui kesahihan dari ketiga konsili oikumene yang terdahulu.[5] Meskipun Paus Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria (sekarang dijabat oleh Paus Tawadros II) dianggap sebagai tokoh yang dituakan, jabatan ini tidak memiliki kewenangan pemerintahan terpusat sebagaimana lembaga kepausan dalam Gereja Katolik.

Persekutuan Ortodoks Oriental terdiri atas enam Gereja autokefalos (swakepala): Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria, Gereja Ortodoks Suryani Antiokhia, Gereja Apostolik Armenia, Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia, Gereja Tewahedo Ortodoks Eritrea, dan Gereja Suriah Ortodoks Malankara.[6] Sebagai satu kesatuan, Gereja-Gereja ini memandang dirinya sebagai Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik yang didirikan oleh Yesus Kristus melalui Amanat Agung, dan bahwasanya para uskup adalah para pengganti rasul-rasul Kristus. Sebagian besar Gereja dalam persekutuan ini adalah anggota Dewan Gereja-Gereja Sedunia. Semua anggota persekutuan ini menganut teologi yang kurang lebih identik, dengan paham Miafisitisme sebagai ciri khasnya. Ada tiga ritus berbeda yang dipraktikkan dalam persekutuan ini: Ritus Armenia yang dipengaruhi Gereja Barat, Ritus Suriah Barat yang dipraktikkan dua Gereja Suryani, serta Ritus Aleksandria yang dipraktikkan umat Koptik, Ethiopia, dan Eritrea.

Sebelum Konsili Kalsedon diselenggarakan pada 451 M, Gereja-Gereja Ortodoks Oriental juga menjalin persekutuan dengan Gereja Katolik, dan Gereja Ortodoks Timur. Sebab utama pecahnya persekutuan dengan kedua Gereja ini adalah perbedaan-perbedaan di bidang Kristologi. Sebagai akibat dari perpecahan ini, Gereja Ortodoks Oriental berkembang sendiri di bawah kepemimpinan Kebatrikan Aleksandria di Mesir, yang mula-mula adalah salah satu dari Pentarki dan satu-satunya takhta keuskupan selain Takhta Suci yang melestarikan gelar "Paus". Kebatrikan Ortodok Suryani dalam persekutuan ini diakui sebagai Gereja yang berwenang mengayomi sebagian Umat Kristen Santo Tomas di India sampai sekarang.

Mayoritas umat Kristen Ortodoks Oriental berdiam di Mesir, Ethiopia, Eritrea, serta Armenia. Selain itu, ada sejumlah paguyuban kecil umat Suryani di Timur Tengah – jumlahnya lambat laun berkurang akibat persekusi – dan India. Banyak pula paguyuban Ortodoks Oriental yang terbentuk di berbagai belahan dunia melalui diaspora, peralihan agama, dan karya misi.

Selayang pandang[sunting | sunting sumber]

Ciri khas Gereja-Gereja Ortodoks Oriental adalah hanya mengakui tiga konsili oikumene terdahulu yang diselenggarakan semasa agama Kristen masih menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi, yaitu Konsili Nikea yang pertama pada 325, Konsili Konstantinopel yang pertama pada 381, dan Konsili Efesus pada 431. Kristen Ortodoks Oriental memiliki banyak kesamaan di bidang teologi dan tradisi gerejawi dengan Gereja Ortodoks Timur; antara lain, kemiripan dalam ajaran tentang keselamatan,[7] tradisi kesejawatan antaruskup, penghormatan terhadap Teotokos, dan penggunaan syahadat Nikea.[8]

Perbedaan utama di bidang teologi antara persekutuan Ortodoks Oriental dan persekutuan Ortodoks Ortodoks Timur adalah perbedaan Kristologi. Kristen Ortodoks Oriental menolak rumusan iman Kalsedoni, dan sebagai gantinya mengadopsi rumusan iman Miafisit, yakni percaya akan kemanunggalan kodrat insani dan kodrat ilahi Kristus. Menurut sejarahnya, para waligereja Ortodoks Oriental yang terdahulu beranggapan bahwa rumusan iman Kalsedoni menyiratkan penyangkalan terhadap konsep Tritunggal, atau pembenaran terhadap paham Nestorianisme.

Perbedaan-perbedaan lain meliputi perbedaan-perbedaan kecil dalam ajaran sosial dan perbedaan pandangan mengenai gerakan oikumene. Gereja-Gereja Ortodoks Oriental pada umumnya dianggap lebih konservatif sehubungan dengan isu-isu sosial dan lebih antusias terkait hubungan oikumene dengan Gereja-Gereja non-Ortodoks. Paham kreasionisme populer di kalangan rohaniwan Ortodoks Oriental, namun hanya sekadar suatu opini yang terbatas dalam sekalangan kecil rohaniwan Ortodoks Timur.

Pecahnya persekutuan antara Gereja Ortodoks Oriental dan Gereja Ortodoks Timur tidak terjadi serta merta, tetapi perlahan-lahan dalam kurun waktu 2-3 abad seusai Konsili Kalsedon.[9] Pada akhirnya kedua belah pihak membentuk lembaga masing-masing yang terpisah satu sama lain, dan untuk seterusnya Gereja Ortodoks Oriental tidak lagi ikut serta dalam penyelenggaraan konsili-konsili oikumene.

Gereja-Gereja Ortodoks Oriental melestarikan suksesi apostolik kuno mereka sendiri.[10] Pemerintahan masing-masing Gereja diselenggarakan oleh Sinode Suci yang dipimpin oleh seorang uskup primus inter pares selaku primat. Para primat menyandang gelar-gelar batrik, katolikos, dan paus. Di antara para batrik, Paus Aleksandria adalah tokoh yang dituakan, dan kadangkala dianggap sebagai "wajah" dari Gereja Ortodoks Oriental. Kebatrikan Aleksandria, bersama Kebatrikan Roma dan Kebatrikan Antiokhia, adalah salah satu dari takhta-takhta keuskupan terkemuka dalam Gereja perdana. Kebatrikan ini mengayomi sekumpulan besar umat Kristen Koptik dan, tidak seperti Kebatrikan Antiokhia, masih menjadi pusat dari populasi umat yang besar.

Dengan kata lain, Paus Aleksandria tidak memiliki wewenang untuk memerintah atas Gereja-Gereja Ortodoks Oriental non-Koptik. Persekutuan Ortodoks Oriental tidak memiliki sosok pemimpin magisterial sebagaimana Gereja Katolik, maupun sosok pemimpin yang berwenang menyelenggarakan sinode-sinode oikumene seperti Gereja Ortodoks Timur.

Skisma Kalsedoni[sunting | sunting sumber]

Skisma antara Gereja Ortodoks Oriental dan Gereja-Gereja Kalsedoni didasarkan pada perbedaan-perbedaan dalam Kristologi. Konsili Nikea pertama, yang diselenggarakan pada 325, memaklumkan bahwa Yesus Kristus adalah Allah, dengan kata lain "sehakikat" dengan Allah Bapa. Di kemudian hari, konsili oikumene ketiga, Konsili Efesus, memaklumkan bahwa Yesus Kristus, sekalipun memiliki kodrat ilahi serta kodrat insani, hanyalah satu pribadi (hipostasis) belaka. Dengan demikian Konsili Efesus secara terang-terangan menolak paham Nestorianisme, yakni ajaran bahwa Kristus adalah dua pribadi yang berbeda, satu pribadi ilahi (Sang Sabda) dan satu pribadi insani (Yesus), yang bersemayam dalam satu tubuh. Gereja-Gereja yang kelak membentuk persekutuan Ortodoks Oriental sangat anti terhadap Nestorianisme, dan oleh karena itu sangat mendukung keputusan-keputusan yang dihasilkan di Efesus.

Dua puluh tahun selepas Efesus, Konsili Kalsedon meneguhkan kembali pandangan bahwa Yesus Kristus adalah satu pribadi tunggal, tetapi pada saat yang sama memaklumkan pula bahwa pribadi tunggal ini memiliki "dua kodrat yang sempurna", satu kodrat insani dan satu kodrat ilahi. Pihak-pihak penentang Kalsedoni memandang maklumat ini sebagai suatu pembenaran terhadap Nestorianisme, atau bahkan sebagai suatu muslihat halus untuk mengubah haluan Gereja menuju Nestorianisme. Akibatnya, pada dasawarsa-dasawarsa sesudah Konsili Kalsedon, pihak-pihak ini lambat laun terpisahkan dari persekutuan dengan Gereja-Gereja yang menerima keputusan Konsili Kalsedon, dan membentuk persekutuan sendiri yang kini disebut Gereja Ortodoks Oriental.

Kadang-kadang umat Kristen Kalsedoni menyebut umat Kristen Ortodoks Oriental sebagai Kaum Monofisit – dengan kata lain, mendakwa umat Kristen Ortodoks Oriental sebagai pengikut ajaran Eutikes (ca. 380 – ca. 456), yakni percaya bahwa Yesus Kristus sama sekali bukanlah seorang manusia, melainkan sosok ilahi semata-mata. Monofisitisme dikutuk sebagai bidah bersama-sama dengan Nestorianisme, dan mendakwa sebuah Gereja sebagai Kaum Monofisit sama saja dengan mendakwanya telah terperosok ke dalam suatu bidah yang merupakan kebalikan dari bidah Nestorianisme. Meskipun demikian, umat Kristen Ortodoks Oriental sendiri menolak sebutan itu sebagai suatu sebutan yang tidak akurat, karena mereka telah mengutuk secara resmi baik ajaran Nestorius maupun ajaran Eutikes. Mereka justru menyebut dirinya sebagai Kaum Miafisit, yakni kaum yang percaya bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat, insani sekaligus ilahi.[11]

Sekarang ini, Gereja-Gereja Ortodoks Oriental menjalin persekutuan paripurna satu sama lain, tetapi tidak dengan Gereja Ortodoks Timur atau Gereja-Gereja lain. Dialog lamban menuju pemulihan persekutuan antara kedua persekutuan Ortodoks ini dimulai pada pertengahan abad ke-20.[12] Gereja Ortodoks Oriental juga telah menjalin dialog dengan Gereja Katolik dan Gereja-Gereja lain.[13] Pada 2017, praktik saling mengakui baptisan telah dipulihkan antara Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria dan Gereja Katolik.[14]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pascakonsili Kalsedon (451 M)[sunting | sunting sumber]

Skisma antara Gereja Ortodoks Oriental dan seluruh Gereja lain terjadi pada abad ke-5. Salah satu faktor yang turut menimbulkan perpecahan adalah penolakan Paus Dioskoros dari Aleksandria dan tiga belas uskup Mesir lainnya terhadap asas-asas kristologi yang diundangkan oleh Konsili Kalsedon, yakni bahwasanya Yesus memiliki dua kodrat: yang satu ilahi dan yang lain insani. Mereka hanya menyetujui rumusan "berasal dari dua kodrat" menolak rumusan "memiliki dua kodrat."

Bagi para waligereja yang kelak menjadi pemimpin Gereja Ortodoks Oriental ini, rumusan "memiliki dua kodrat" setali tiga uang dengan dengan Nestorianisme, yang dijabarkan dengan suatu istilah yang tidak dapat dirukunkan dengan pemahaman kristologi mereka. Nestorianisme dipahami sebagai pandangan bahwa Kristus memiliki dua kodrat yang terpisah, insani dan ilahi, masing-masing dengan tindakan-tindakan dan pengalaman-pengalaman yang berbeda; bertolak belakang dengan rumusan yang diajukan oleh Kiril dari Aleksandria, yakni "satu kodrat Allah Sang Sabda yang menjelma",[15] (atau menurut terjemahan lain,[16] "satu kodrat penjelmaan Sang Sabda") yang menitikberatkan keesaan penjelmaan di atas segala-galanya. Tidak sepenuhnya jelas apakah Nestorius sendiri menganut paham Nestorianisme.

Oleh karena itu Gereja-Gereja Ortodoks Oriental kerap dijuluki Monofisit, meskipun mereka berkeberatan karena julukan ini bersangkut-paut dengan Monofisitisme Eutikes; mereka lebih suka disebut Gereja-Gereja "Miafisit". Gereja-Gereja Ortodoks Oriental menolak apa yang mereka pandang sebagai bidah monofisit yang diajarkan Apolinaris dari Laodikea dan Eutikes, rumusan iman diofisit dari Konsili Kalsedon, dan kristologi khas Antiokhia yang diajarkan Teodorus dari Mopsuestia, Nestorius dari Konstantinopel, Teodoretus dari Sirus, dan Ibas dari Edessa.

Kristologi, sekalipun penting, bukanlah satu-satunya alasan bagi Gereja Aleksandria untuk menolak keputusan-keputusan Konsili Kalsedon; isu-isu politik, gerejawi, dan kekaisaran cukup seru diperdebatkan pada masa itu.

Pada tahun-tahun sesudah Konsili Kalsedon, para Batrik Konstantinopel masih menjalin persekutuan dengan para Batrik Non-Kalsedoni dari Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem, (lihat Henotikon) sementara Roma tetap menolak bersekutu dengan mereka dan persekutuannya dengan Konstantinopel mulai goyah. Baru pada 518 Kaisar Bizantium Yustinus I (yang menerima rumusan iman Kalsedoni), menuntut agar Gereja dalam Kekaisaran Romawi menerima keputusan Konsili Kalsedon.[17] Yustinus memerintahkan agar para uskup Non-Kalsedoni diganti, termasuk para Batrik Antiokhia dan Aleksandria. Besar kecilnya pengaruh Uskup Roma atas keputusan kaisar ini telah menjadi sebuah pokok pedebatan. Kaisar Yustinianus I juga berusaha menggiring para rahib yang masih menolak keputusan Konsili Kalsedon ke dalam persekutuan dengan Gereja utama. Waktu terjadinya peristiwa ini tidak diketahui, tetapi diyakini berlangsung antara tahun 535 dan 548. St. Abraham dari Farsyut diperintahkan menghadap ke Konstantinopel dan dia memutuskan untuk membawa serta empat orang rahib. Sesampainya di Konstantinopel, Yustinianus mengancam menurunkan mereka dari jabatan masing-masing jika tidak menerima keputusan Konsili Kalsedon. Abraham mengabaikan ancaman itu dan berpegang teguh pada keyakinannya semula. Ratu Teodora mencoba membujuk Yustinianus untuk mengurungkan niatnya, namun tampaknya tidak berhasil. Abraham sendiri menegaskan dalam surat kepada para rahibnya bahwa dia lebih suka tetap tinggal di pengasingan daripada beralih pada keyakinan yang berlawanan dengan keyakinan Athanasius.

Abad ke-20[sunting | sunting sumber]

pada abad ke-20 skisma Kalsedoni dipandang tidak segawat dulu lagi, dan dari beberapa pertemuan antara pihak-pihak yang berwenang dari Tahta Suci dan kalangan Ortodoks Oriental, keluar deklarasi-deklarasi pendamai dalam bentuk pernyataan bersama oleh Batrik Suryani (Mar Ignatius Zakka I Iwas) dan Paus (Yohanes Paulus II) pada 1984.

Menurut kanon-kanon Gereja Ortodoks Oriental, empat uskup masing-masing dari Roma, Aleksandria, Efesus (kelak dipindahkan ke Konstantinopel), dan Antiokhia diberi status Batrik oleh Konsili Nikea Pertama. Dengan kata lain, kota-kota tempat keempat uskup itu berdiam merupakan pusat-pusat apostolik Agama Kristen. Tiap batrik bertanggung jawab atas uskup-uskup dan Gereja-Gereja di wilayahnya masing-masing dalam Gereja Universal, (kecuali Batrik Yerusalem). Dengan demikian, Uskup Roma selalu dihormati sebagai pemimpin berdaulat dalam wilayahnya sendiri, sekaligus sebagai "yang pertama di antara yang setara", karena adanya keyakinan tradisional bahwa Rasul Petrus dan Rasul Paulus wafat sebagai syuhada di Roma.

Alasan teknis terjadinya skisma adalah Uskup Roma dan Uskup Konstantinopel mengekskomunikasi uskup-uskup Non-Kalsedoni pada 451 karena menolak ajaran "memiliki dua kodrat", dan dengan demikian menyatakan bahwa mereka berada di luar persekutuan Kristen. Deklarasi-deklarasi yang dihasilkan belakangan ini menyiratkan bahwa Tahta Suci kini menganggap dirinya berada dalam persekutuan yang tidak paripurna dengan batrik-batrik lainnya.

Jabatan tertinggi dalam Gereja Ortodoks Oriental adalah batrik. Keenam Gereja Ortodoks Oriental memiliki batriknya masing-masing. Gelar Paus, yang digunakan oleh Paus Shenouda III dari Aleksandria (Paus Gereja Ortodoks Koptik) bermakna 'Bapa' dan bukan sebuah gelar yurisdiksional. Meskipun demikian, Paus Koptik dihormati sebagai "yang pertama di antara yang setara", sama seperti kedudukan Batrik Oikumene dalam persekutuan Gereja-Gereja Ortodoks Timur, dan oleh karena itu dia berperan sebagai presiden dalam pertemuan-pertemuan pan-yurisdiksional Gereja-Gereja Ortodoks Oriental.

Sebaran geografis[sunting | sunting sumber]

Sebaran umat Kristen Ortodoks Oriental di seluruh dunia menurut negara:
  Agama utama (lebih dari 75%)
  Agama utama (50–75%)
  Agama minoritas utama (20–50%)
  Agama minoritas utama (5–20%)
  Agama minoritas (1–5%)
  Agama minoritas kecil (di bawah 1%), tetapi berstatus autokefalia

Menurut data Encyclopædia of Religion and Ethics, Kristen Ortodoks Oriental adalah mazhab Kristen "terpenting dari segi jumlah umat yang hidup di Timur Tengah", yang bersama dengan persekutuan-persekutuan Kristen Timur lainnya mencerminkan keberadaan umat Kristen pribumi di Timur Tengah, jauh sebelum agama Islam lahir dan menyebar di kawasan itu.[19] Kristen Ortodoks Oriental adalah agama yang dominan di Armenia (94%), Republik Nagorno-Karabakh yang berpenduduk suku bangsa Armenia dan belum diakui kemerdekaannya (95%),[20][21] dan Ethiopia (43%, total populasi umat Kristen adalah 62%), khususnya di dua daerah di Ethiopia: Amhara (82%) dan Tigray (96%), serta di ibu kota Addis Ababa (75%).[22] Kristen Ortodoks Oriental juga merupakan salah satu dari dua agama yang dominan di Eritrea (50%).

Kristen Ortodoks Oriental adalah agama minoritas di Mesir (<20%),[23] Sudan (3–5%), Suriah (2–3% dari total umat Kristen yang mencapai 10%), Lebanon (10% dari total umat Kristen di Lebanon yang mencapai 40%, atau 200.000 umat Armenia dan umat Gereja Timur Asiria), dan di Kerala, India (7% dari total umat Kristen di Kerala yang mencapai 20%).[24] Dari segi total jumlah umat, Gereja Ethiopia merupakan Gereja terbesar di antara seluruh Gereja Ortodoks Oriental, dan Gereja terbesar kedua (di bawah Gereja Ortodoks Rusia) di antara seluruh Gereja Timur maupun Oriental.

Gereja-Gereja yang juga cukup penting adalah Kebatrikan Konstantinopel Armenia di Turki, dan Gereja Apostolik Armenia di Iran. Gereja-Gereja Ortodoks Oriental ini merupakan kelompok minoritas Kristen terbesar di kedua negara berpenduduk mayoritas muslim itu, yakni Turki[25] dan Iran.[26]

Gereja-Gereja dalam persekutuan Ortodoks Oriental[sunting | sunting sumber]

Katedral Ortodoks Koptik Aswan di Mesir
Kepala Gereja Ortodoks Koptik Paus Tawadros II (tengah) menyambut Kepala Gereja Ortodoks Suryani Batrik Ignasius Afrem II (kiri) dan Katolikos Tertinggi Gereja Apostolik Armenia Aram I (kanan) di Lebanon.

Persekutuan Ortodoks Oriental adalah sekelompok Gereja Kristen Ortodoks Oriental yang menjalin persekutuan paripurna satu sama lain. Persekutuan ini terdiri atas:

Ada sejumlah organisasi yang dianggap nonkanonik, tetapi umat dan rohaniwannya mungkin saja menjalin atau tidak menjalin persekutuan dengan Gereja Ortodoks Oriental yang lebih besar. Contoh-contohnya adalah Gereja Ortodoks Keltik, Gereja Britania Kuno, dan Gereja Ortodoks Britania. Organisasi-organisasi ini sudah pernah diakui maupun ditolak secara resmi, namun umatnya jarang menghadapi putusan pengucilan manakala tidak lagi diakui. Para waligereja dari Gereja-Gereja ini lazimnya disebut episcopus vagans atau singkatnya vagans.

Sengketa internal[sunting | sunting sumber]

Dalam Gereja-Gereja Ortodoks Oriental masih berlangsung sengketa-sengketa internal. Sengketa-sengketa ini menimbulkan kerusakan persekutuan, baik kerusakan besar maupun kecil.

Apostolik Armenia[sunting | sunting sumber]

Sengketa yang paling kurang divisif adalah sengketa yang timbul di dalam Gereja Apostolik Armenia, antara Kekatolikosan Etchmiadzin dan Kekatolikosan Rumah Besar Kilikia. Keterpisahan dua jawatan katolikos ini timbul karena pusat Gereja ini seringkali berpindah lokasi akibat pergolakan politik dan militer.

Keterpisahan ini semakin parah pada masa kekuasaan Uni Soviet. Sujumlah uskup dan rohaniwan menganggap Takhta Suci Etchmiadzin sebagai boneka tawanan Komunis. Para simpatisan mereka membentuk jemaat-jemaat yang lepas dari Etchmiadzin, dan memaklumkan kesetiaannya pada Takhta Keuskupan Antelias di Lebanon. Keterpisahan ini disahihkan pada 1956, manakala Takhta Keuskupan Antelias (Kilikia) melepaskan diri dari Takhta Suci Etchmiadzin. Katolikos Kilikia mengakui supremasi Katolikos Segenap Bangsa Armenia, namun mengatur rohaniwan dan keuskupan-keuskupan yang diayominya secara mandiri. Meskipun demikian, sengketa ini sama sekali tidak memutuskan jalinan persekutuan di antara keduanya.

Ethiopia[sunting | sunting sumber]

Sesudah Abune Merkorios mengundurkan diri dan Abune Paulos terpilih pada 1992, sejumlah uskup Gereja Ortodoks Ethiopia di Amerika Serikat bersikeras menganggap pemilihan Abune Paulos tidak sah, dan melepaskan diri dari tadbir Gereja Ortodoks Ethiopia di Addis Ababa.[27]

India[sunting | sunting sumber]

Umat Kristen India yang beriman Ortodoks Oriental terbagi ke dalam dua Gereja: Gereja Suriah Ortodoks Malankara dan Gereja Ortodoks Suriah Yakubi Malankara. Kedua Gereja ini pernah bersatu sebelum 1912, dan kembali bersatu pada 1958 setelah adanya prakarsa-prakarsa persatuan, namun kembali pecah pada 1975. Gereja Ortodoks Malankara yang juga dikenal dengan sebutan Gereja Ortodoks India, adalah sebuah Gereja autokefalos. Gereja ini dikepalai oleh Katolikos Timur dan Metropolit Malankara. Gereja Yakubi Malankara yang bernama resmi Gereja Ortodoks Suriah Yakubi Malankara adalah sebuah Gereja autonomos dalam Gereja Ortodoks Suryani di India. Gereja ini dikepalai oleh Katolikos India.

Gereja Suriah Mandiri Malabar juga beriman Ortodoks Oriental, tetapi tidak menjalin hubungan persekutuan dengan Gereja-Gereja Ortodoks Oriental lainnya.

Anggapan-anggapan keliru[sunting | sunting sumber]

Gereja Timur Asiria kadang-kadang secara keliru disebut sebagai sebuah Gereja Ortodoks Oriental, padahal kemunculannya bermula dari sengketa-sengketa yang timbul sebelum Konsili Kalsedon, dan menganut suatu paham kristologi yang berbeda dari yang dianut oleh Gereja Ortodoks Oriental. Gereja Timur yang bersejarah itu adalah Gereja di Iran Raya yang menyatakan diri lepas dari Gereja negara Kekaisaran Romawi antara 424–427, bertahun-tahun lamanya sebelum penyelenggaraan Konsili Kalsedon. Ditilik dari teologinya, Gereja Timur ini memiliki pertalian dengan ajaran diofisit Nestorianisme, dan dengan demikian menolak ajaran Konsili Efesus yang menyatakan paham Nestorianisme sebagai bidah pada 431. Kristologi Gereja-Gereja Ortodoks Oriental pada hakikatnya berkembang sebagai suatu reaksi perlawanan terhadap kristologi Nestorianisme yang menitikberatkan perbedaan antara kodrat insani dan kodrat ilahi Kristus.

Ada banyak yurisdiksi gerejawi yang tumpang-tindih di India. Sebagian besar dari yurisdiksi-yurisdiksi itu mewarisi khazanah liturgi Suryani dan berpusat di negara bagian Kerala. Gereja Kristen Suriah Yakubi (Malankara), yang berstatus autonomia (swatantra) di bawah naungan Gereja Ortodoks Suryani, seringkali secara keliru dianggap sama dengan Gereja Suriah Ortodoks Malankara yang berstatus autokefalia (swakepala) karena kemiripan namanya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dikenal pula dalam sejumlah nama lain seperti Kristen Oriental Lama, Kristen Anti-Kalsedoni, Kristen Non-Kalsedoni, Kristen Pra-Kalsedoni, Kristen Miafisit, atau Kristen Monofisit[1][2][3][4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Bradley, Jeremy; Media, Demand. "Difference Between Oriental & Eastern Orthodox Churches". Synonym.com. Demand Media. Diakses tanggal 3 Juni 2016. 
  2. ^ "Coptic Orthodox Church of Alexandria". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica, Inc. Diakses tanggal 3 Juni 2016. 
  3. ^ "Monophysite Christianity". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica, Inc. Diakses tanggal 3 Juni 2016. 
  4. ^ Frend, W.H.C. (2005). "Monophysitism". Dalam Jones, Lindsay. Encyclopedia of Religion. 9 (edisi ke-Ke-2). Farmington Hills, MI: Thomas Gale. hlmn. 6153–6155. ISBN 0-02-865742-X. 
  5. ^ Hindson, Ed; Mitchell, Dan (2013). The Popular Encyclopedia of Church History. Harvest House Publishers. hlm. 108. ISBN 978-0-7369-4806-7. 
  6. ^ https://www.oikoumene.org/en/church-families/orthodox-churches-oriental
  7. ^ The Transfiguration: Our Past and Our Future | Keuskupan Ortodoks Koptik Los Angeles
  8. ^ Syahadat Nikea dalam Gereja Koptik
  9. ^ "Chalcedonians". TheFreeDictionary. Diakses tanggal 11 Juni 2016. 
  10. ^ Krikorian 2010, hlmn. 45, 128, 181, 194, 206.
  11. ^ Davis, SJ, Leo Donald (1990). The First Seven Ecumenical Councils (325-787): Their History and Theology (Theology and Life Series 21). Collegeville, MN: Michael Glazier/Liturgical Press. hlm. 342. ISBN 978-0-8146-5616-7. 
  12. ^ Sumber-Sumber Rujukan Ortodoks Suriah – Deklarasi Bersama Kristen Ortodoks Oriental Timur Tengah
  13. ^ "Dialogue with the Assyrian Church of the East and its Effect on the Dialogue with the Roman Catholic". Coptic Orthodox Church of Alexandria Diocese of Los Angeles, Southern California, and Hawaii. Diakses tanggal 2 Juni 2016. 
  14. ^ http://w2.vatican.va/content/francesco/en/speeches/2017/april/documents/papa-francesco_20170428_egitto-tawadros-ii.html
  15. ^ Paus Shenouda III dari Aleksandria (1999). "NATURE OF CHRIST" (PDF). http://www.copticchurch.net. Gereja Ortodoks Koptik Santo Markus. Diakses tanggal 30 November 2014.  Pranala luar di |website= (bantuan)
  16. ^ CYRIL OF ALEXANDRIA; Pusey, P. E. (Terj.). "FROM HIS SECOND BOOK AGAINST THE WORDS OF THEODORE". The Tertullian Project. Diakses tanggal 30 November 2014. 
  17. ^ CATHOLIC ENCYCLOPEDIA: Pope St. Hormisdas
  18. ^ Dari deklarasi bersama Paus Yohanes Paulus II dan Batrik Mar Ignatius Zakka I Iwas, 23 Juni, 1984
  19. ^ Encyclopedia of Religion. "Christianity: Christianity in the Middle East" (edisi ke-Ke-2). Farmington Hills, MI: Thomson Gale. 2005. hlmn. 1672–1673. 
  20. ^ Resolusi Dewan Keamanan PBB atas konflik Nagorno-Karabakh
  21. ^ "Statement of the Co-Chairs of the OSCE Minsk Group". OSCE. Diakses tanggal 25 Juni 2011. 
  22. ^ Ethiopia: Sensus 2007
  23. ^ "The World Factbook: Egypt". CIA. Diakses tanggal 7 Oktober 2010. 
  24. ^ "Church in India - Syrian Orthodox Church of India - Roman Catholic Church - Protestant Churches in India". Syrianchurch.org. Diakses tanggal 14 Oktober 2013. 
  25. ^ "Foreign Ministry: 89,000 minorities live in Turkey". Today's Zaman. 15 Desember 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 Mei 2011. Diakses tanggal 16 Mei 2011. 
  26. ^ Ahmadinejad: Religious minorities live freely in Iran (PressTV, 24 September 2009)
  27. ^ Goldman, Ari L. (22 September 1992). "U.S. Branch Leaves Ethiopian Orthodox Church". The New York Times. Diakses tanggal 29 April 2016. 

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]