Allah (Kristen)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Allah menurut Kekristenan adalah Keberadaan Mahakekal yang mencipta dan memelihara segala sesuatu. Umat Kristen percaya bahwa Allah itu transenden (sepenuhnya tidak terikat dan terpisah dari jagat bendawi) sekaligus imanen (terlibat di dalam dunia).[1][2] Ajaran-ajaran Kristen tentang imanensi Allah, keterlibatan Allah, dan cinta kasih Allah kepada umat manusia juga mencakup kepercayaan tentang kesehakikatan Allah dengan jagat ciptaan-Nya,[3] tetapi mengakui bahwa hakikat keilahian Allah manunggal dengan kodrat kemanusiaan di dalam pribadi Yesus Kristus lewat peristiwa yang disebut "inkarnasi".

Pandangan-pandangan Kristen purba tentang Allah dijabarkan di dalam surat-surat Paulus maupun syahadat-syahadat yang menandaskan keesaan Allah dan keilahian Yesus, nyaris senapas dengan pernyataan Paulus di dalam 1 Korintus (1 Korintus 8:5-6) bahwa "sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi, dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian, namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup."[4][5][6] Meskipun ditentang kaum Ebioni, sebuah sempalan Kristen Yahudi, pandangan yang mengapoteosis Yesus ini[7] justru diterima umat Kristen asal bangsa-bangsa lain yang lebih banyak jumlahnya.[8] Inilah pangkal perbedaan pandangan umat Kristen asal bangsa-bangsa lain tentang Allah dari ajaran-ajaran Yahudi pada masa itu.[4]

Wacana teologis seputar sifat-tabiat Allah sudah mencuat semenjak awal sejarah Kekristenan. Pada abad ke-2, Ireneus mengemukakan dalam karya tulisnya bahwa "kemahabesaran-Nya tidak kekurangan apa-apa, malah menampung segala sesuatu".[9] Pada abad ke-8, Yohanes dari Damsyik menjabarkan delapan belas sifat-tabiat Allah yang masih diterima luas sampai sekarang.[10] Seiring bergulirnya waktu, para teolog mengembangkan daftar-daftar sistematis dari sifat-tabiat Allah. Ada yang mengacu kepada pernyataan-pernyataan di dalam Alkitab (misalnya doa Bapa Kami yang menyatakan bahwa Sang Bapa ada di surga), dan ada pula yang didasarkan atas penalaran teologis.[11][12] Kerajaan Allah adalah frasa yang menonjol dalam injil-injil sinoptis, dan meskipun para sarjana nyaris secara bulat sepakat bahwa frasa tersebut merupaan unsur utama dari ajaran-ajaran Yesus, hanya ada sedikit kesepakatan mengenai tafsir persis dari frasa tersebut di kalangan sarjana.[13][14]

Artikel ini mengutamakan pembahasan tentang Allah dari sudut pandang Kristen Nikea. Meskipun tidak memuat doktrin resmi mengenai Tritunggal seperti Syahadat Nikea, Kitab Suci Perjanjian Baru "berulang kali berbicara tentang Bapa, Putra, dan Roh Kudus... dengan cara yang mengarahkan orang menuju pemahaman tentang Allah yang Tritunggal." Tritunggal bukanlah triteisme, karena tidak menyiratkan bahwa ada tiga ilah terpisah.[15] Sekitar tahun 200, Tertulianus merumuskan salah satu versi doktrin Tritunggal yang secara jelas meneguhkan keilahian Yesus dan mendekati doktrin definitif yang dirumuskan Konsili Ekumene tahun 381.[16][17] Doktrin Tritunggal dapat diringkas menjadi "Allah Yang Mahaesa wujud di dalam Tiga Pribadi dan Satu Hakikat, sebagai Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus."[18][19] Penganut doktrin Tritunggal, yang merupakan golongan Kristen mayoritas, menjunjung tinggi doktrin ini sebagai inti sari iman mereka.[20][21] Denominasi-denominasi yang menolak doktrin Tritunggal memaknai Bapa, Putra, dan Roh Kudus dengan berbagai macam cara.[22]

Penggunaan kata "Allah"[sunting | sunting sumber]

Kamus Belanda-Melayu pertama yang disusun A.C. Ruyl, Justus Heurnius, dan Caspar Wiltens (terbit tahun 1650) mencantumkan kata "Allah" sebagai terjemahan kata Belanda "Godt"

Kata "Allah" sudah digunakan bangsa Arab sejak zaman Pra-Islam.[23] Umat agama-agama Ibrahimi penutur bahasa Arab menggunakan kata "Allah" untuk menyebut Sembahannya.[24] Umat Kristen Arab sekarang ini bahkan tidak memiliki sebutan selain "Allah",[25] sama seperti umat Kristen Asyur yang hanya mengenal kata Aram "Alaha" (ܐܠܗܐ) untuk menyebut Sang Sembahan. Sebagai contoh, umat Kristen Arab memakai istilah Allahul Ab (الله الأب) untuk Allah Bapa, Allahul Ibn (الله الابن) untuk Allah Putra, dan Allahur Ruhul Quds (الله الروح القدس) untuk Allah Roh Kudus.

Meskipun secara khusus digunakan umat Islam (baik Arab maupun non-Arab) dan umat Kristen Arab untuk menyebut Sang Sembahan,[26] istilah "Allah" juga digunakan agama Sabiʼah, agama Bábiyah, agama Baháʼí, umat Yahudi Sefardi, umat Kristen di Malta, dan umat Kristen di Indonesia.[24][27][28][29] Pemakaian kata "Allah" oleh umat Kristen dan umat Sikh di Semenanjung Malaysia telah menyulut kontroversi hukum dan politik.[30][31][32][33]

Umat Kristen di Malaysia dan Indonesia menggunakan kata "Allah" sebagai padanan kata Ibrani "Elohim" dalam terjemahan-terjemahan Alkitab bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia (dua ragam baku bahasa Melayu) yang dipakai denominasi-denominasi Kristen arus utama.[34] Kata "Allah" sudah dipakai Fransiskus Xaverius saat berusaha menerjemahkan nas-nas Alkitab ke dalam bahasa Melayu pada abad ke-16.[35][36] Kamus Belanda-Melayu pertama yang dihasilkan Albert Cornelius Ruyl, Justus Heurnius, dan Caspar Wiltens pada tahun 1650 (hasil revisi edisi tahun 1623 dan edisi Latin tahun 1631) mencantumkan kata "Allah" sebagai padanan kata Belanda "Godt".[37] Albert Cornelius Ruyl juga menerjemahkan Injil Matius ke dalam bahasa Melayu pada tahun 1612 (salah satu terjemahan Alkitab pertama ke dalam bahasa non-Eropa[38] setahun sesudah penerbitan Alkitab Versi Raja James[39][40]) yang dicetak di Negeri Belanda pada tahun 1629. Ia selanjutnya menerjemahkan Injil Markus yang diterbitkan pada tahun 1638.[41][42]

Pada tahun 2007, Pemerintah Malaysia mengeluarkan larangan pemakaian kata "Allah" di luar konteks Islam. Larangan ini dibatalkan Mahkamah Agung Malaysia pada tahun 2009 karena dinilai tidak konstitusional. Meskipun kata "Allah" sudah dipakai umat Kristen untuk menyebut Sang Sembahan dalam bahasa Melayu selama empat abad lebih, kontroversi baru muncul sesudah kata "Allah" dipakai di dalam The Herald, surat kabar Katolik Malaysia. Pemerintah mengajukan banding, dan Mahkamah Agung menangguhkan implementasi pembatalan tahun 2009 sampai sidang gelar perkara dilaksanakan. Pada bulan Oktober 2013, Mahkamah Agung mengesahkan larangan pemerintah tahun 2007.[43] Pada awal tahun 2014, Pemerintah Malaysia menyita lebih dari 300 Alkitab yang menggunakan kata "Allah" sebagai sebutan bagi Sembahan Kristen di Semenanjung Malaysia.[44] Umat Kristen di Negara Bagian Sabah dan Negara Bagian Sarawak tidak dilarang menggunakan kata "Allah",[45][46] baik karena sudah berjalan lama maupun karena Alkitab yang menggunakan kata tersebut sudah bertahun-tahun beredar bebas tanpa pembatasan di Malaysia Timur.[45] Menanggapi kritik-kritik yang disuarakan sejumlah media massa, Pemerintah Malaysia mengeluarkan "10 butir solusi" demi mencegah timbulnya informasi yang simpang-siur dan menyesatkan.[47][48] Sepuluh butir solusi tersebut sejalan dengan semangat 18 pokok kesepakatan Sarawak dan 20 pokok kesepakatan Sabah.[33]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Sama seperti umat Yahudi dan Islam, umat Kristen mengaitkan diri dengan Abraham, bapa leluhur yang menerima pewahyuan langsung dari Allah. Abraham diyakini sebagai orang pertama yang percaya akan keesaan Allah dan menjalin hubungan ideal dengan Allah. Agama-agama Ibrahimi meyakini bahwa Allah berinteraksi dengan keturunan Abraham selama beribu-ribu tahun. Perjanjian yang diikat Allah dengan keturunan Abraham termaktub di dalam Alkitab Ibrani yang dikenal umat Kristen sebagai Kitab Suci Perjanjian Lama.[49]

Perkembangan teologi tentang Allah[sunting | sunting sumber]

Selayang pandang[sunting | sunting sumber]

Folio naskah Papirus 46 yang memuat salinan nas 2 Korintus 11:33-12:9, diperkirakan berasal dari rentang waktu antara tahun 175 sampai 225 Masehi

Pandangan-pandangan Kristen purba mengenai Allah (sebelum injil-injil ditulis) tercermin dalam pernyataan Rasul Paulus di dalam surat pertamanya kepada umat Kristen di Korintus (1 Korintus 8:5-6), yang diperkirakan ditulis dalam rentang waktu antara tahun 53 sampai tahun 54, kira-kira dua puluh tahun sesudah peristiwa penyaliban Yesus:[4]

Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

Selain menandaskan bahwa hanya ada satu Allah, pernyataan Rasul Paulus tersebut (mungkin sekali didasarkan atas pernyataan-pernyataan iman Kristen yang sudah terumuskan sebelum Paulus masuk Kristen) juga mengandung sejumlah unsur penting lain. Paulus membedakan kepercayaan Kristen dari kepercayaan Yahudi pada zamannya dengan menyerangkaikan penyebutan Yesus dan penyebutan Allah Bapa, maupun dengan menyebut Yesus sebagai "Tuhan" dan Kristus.[4][5][6]

Lewat khotbah yang disampaikannya di hadapan Majelis Areopagus, sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Kitab Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 17:24-27), Paulus kian memperkental ciri khas pemahaman Kristen purba sekaligus mendalami hubungan antara Allah dan umat Kristen:[50]

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.

Surat-surat Paulus juga berulang kali menyebut-nyebut Roh Kudus. Tema "Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu" (1 Tesalonika 4:8) terus-menerus mengemuka di dalam surat-suratnya.[51] Di dalam Injil Yohanes (Yohanes 14:26) Yesus juga berbicara tentang "Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku".[52]

Menjelang akhir abad pertama tarikh Masehi, Klemens dari Roma berulang kali menyebut-nyebut "Bapa, Putra, dan Roh Kudus", dan menghubungkan Sang Bapa dengan karya penciptaan di dalam imbauannya kepada umat Kristen di Korintus (1 Klemens 19.2) agar "hendaklah pandangan kita tunak tertuju kepada Allah, khalik sarwa sekalian alam".[53] Pada pertengahan abad ke-2, di dalam Melawan Bidat-Bidat (Buku 4, bab 5), Ireneus menegaskan bahwa Sang Mahapencipta adalah "satu-satunya Allah" dan "khalik langit dan bumi".[53] Semua pandangan tersebut sudah lama mengemuka sebelum Tertulianus menjabarkan konsep Tritunggal secara resmi di dalam karya tulisnya pada abad ke-3.[53]

Rentang waktu antara akhir abad ke-2 sampai awal abad ke-4 (kira-kira dari tahun 180 sampai 313) umumnya disebut "zaman Gereja Raya" maupun zaman Pranikea. Pada rentang waktu inilah terjadi perkembangan signifikan teologi Kristen, serta konsolidasi dan formalisasi sejumlah ajaran Kristen.[54]

Semenjak abad ke-2, syahadat-syahadat Gereja Barat diawali dengan penegasan kepercayaan kepada "Allah Bapa Yang Mahakuasa", yakni "Allah dalam kemahaberdayaan-Nya selaku Bapa dan Khalik sarwa sekalian alam".[55] Penegasan ini tidak menafikan keyakinan bahwa "Bapa Kekal sarwa sekalian alam juga adalah Bapa Yesus Kristus" maupun keyakinan bahwa Allah "berkenan mengadopsi [orang beriman] menjadi anaknya oleh kasih karunia".[55] Syahadat-syahadat Gereja Timur (yang dikenal sekarang ini baru terumuskan kemudian hari) diawali dengan penegasan iman akan "Allah Yang Mahaesa", dan nyaris selalu diperjelas dengan tambahan kalimat "Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala sesuatu yang kasatmata maupun yang tak kasatmata" atau kalimat lain yang senada.[55]

Agustinus dari Hipo, Tomas Aquinas, dan tokoh-tokoh lain menyifatkan Allah dengan istilah Latin "ipsum esse", yang kurang lebih berarti "keberadaan itu sendiri".[56][57] Lantaran bersifat swaada, Allah Kristen bukanlah "suatu keberadaan" melainkan "keberadaan itu sendiri", dan dapat dijelaskan dengan kalimat-kalimat seperti "tidak bergantung kepada apa-apa di luar diri sendiri untuk dapat mengada" atau "tidak bergantung kepada prasyarat yang wajib dipenuhi segala sesuatu untuk dapat mengada".

Seiring bergulirnya waktu, para teolog dan filsuf mengembangkan pemahaman-pemahaman yang setepat-tepatnya tentang sifat-tabiat Allah dan mulai menyusun berbagai daftar-daftar sistematis mengenai atribut-atribut-Nya (sifat-tabiat Allah). Daftar-daftar tersebut berbeda-beda isinya, tetapi secara tradisional atribut-atribut Allah digolongkan menjadi dua kelompok, yakni kelompok atribut yang didasarkan atas pengingkaran (Allah tidak terpengaruh) dan kelompok atribut yang secara positif didasarkan atas persangatan (Allah itu mahabaik).[12] Menurut Ian Ramsey, ada tiga kelompok atribut Allah, dan atribut-atribut seperti mahasahaja dan mahasempurna memiliki dinamika logis yang berbeda dari atribut-atribut semacam mahabaik, karena ada bentuk-bentuk nisbi dari kelompok atribut semacam mahabaik (ada pembanding) tetapi tidak demikian halnya dengan kelompok atribut semacam mahasempurna (tidak ada pembanding).[58]

Sepanjang perkembangan gagasan Kristen tentang Allah, Alkitab "telah menjadi pengaruh yang dominan, baik dalam teori maupun dalam kenyataan" di Dunia Barat.[59]

Nama[sunting | sunting sumber]

Caturaksara YHWH, nama Allah dalam bahasa Ibrani, lukisan pada dinding di belakang mimbar gereja lama Ragunda, Swedia

Di dalam teologi Kristen, nama Allah senantiasa memiliki makna dan signifikansi yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah label atau sebutan belaka. Nama Allah bukanlah hasil reka cipta manusia, melainkan diwahyukan Allah kepada manusia.[60][61] Menghormati nama Allah adalah salah satu perintah Dasatitah, yang menurut ajaran-ajaran Kristen bukanlah sekadar peringatan kepada manusia agar menjauhi tindakan menyebut nama Allah dengan sembarangan, melainkan suatu amanat untuk memuliakan nama Allah lewat amal saleh dan puji-pujian.[62] Amanat ini tercermin dalam kalimat permohonan pertama Doa Bapa Kami yang ditujukan kepada Allah Bapa, yaitu "Dikuduskanlah Nama-Mu".[63]

Menurut pandangan para Bapa Gereja purba, nama Allah adalah representasi segenap tatanan "kebenaran ilahi" yang diwahyukan kepada umat beriman "yang percaya kepada Nama-Nya" (Yohanes 1:12) atau yang "berjalan demi nama Tuhan Allah kita" (Mikha 4:5).[64][65] Menurut Kitab Wahyu (Wahyu 3:12), orang-orang yang padanya tertulis nama Allah sudah ditentukan menjadi ahli surga. Injil Yohanes (Yohanes 17:6) menghadirkan ajaran-ajaran Yesus sebagai manifestasi nama Allah kepada murid-murid Sang Mesias.[64]

Injil Yohanes (Yohanes 12:27) menyajikan pengorbanan Yesus Sang Anak Domba Allah maupun keselamatan yang dianugerahkan melalui pengorbanan itu sebagai pemuliaan nama Allah, dengan riwayat tentang suara dari surga yang menanggapi permohonan Yesus ("Bapa, muliakanlah nama-Mu") dengan perkataan "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi", yang mengacu kepada peristiwa pembaptisan dan peristiwa penyaliban Yesus.[66]

Nama Allah biasanya ditulis dalam bentuk tunggal (misalnya Keluaran 20:7 dan Mazmur 8:1), umumnya dengan istilah-istilah yang sangat umum maknanya, ketimbang dengan sebutan khusus bagi Allah.[67] Meskipun demikian, penyebutan-penyebutan nama Allah secara umum dapat saja menyempal ke bentuk-bentuk khusus yang mengungkap beragam sifat-tabiat Allah.[67] Kitab Suci memuat banyak sebutan untuk nama Allah, tetapi nama-nama utama di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama adalah Allah Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, El Syadai, dan Yahweh. Teos (θεός), Kirios (κύριος), dan Pater (πατήρ) adalah nama-nama hakiki di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.[67]

Sifat-tabiat[sunting | sunting sumber]

Wacana teologis yang menyoroti sifat-tabiat Allah sudah mengemuka sedari awal sejarah Kekristenan. Pada abad ke-2, Ireneus mengangkat isu ini dan mengetengahkan beberapa atribut Allah. Sebagai contoh, di dalam karya tulisnya, Melawan Bidat-Bidat (Buku IV, Bab 19), Ireneus mengemukakan bahwa "kemahabesaran-Nya tidak kekurangan apa-apa, malah menampung segala sesuatu".[9] Ireneus menyimpulkan atribut-atribut Allah berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya dari tiga sumber, yakni kitab suci, mistisisme yang ada pada masa itu, dan amalan-amalan ibadah yang umum dijalankan umat Kristen.[9] Sekarang ini, beberapa atribut yang dikaitkan dengan Allah masih tetap didasarkan atas nas-nas Alkitab, misalnya nas Doa Bapa Kami yang menyatakan bahwa Bapa ada di surga. Atribut-atribut selebihnya disimpulkan melalui penalaran teologis.[11]

Pada abad ke-8, Yohanes dari Damsyik mengetengahkan delapan belas atribut Allah dalam karya tulisnya, Paparan Tepat Iman Ortodoks (Buku 1, Bab 8).[10] Kedelapan belas atribut tersebut dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan waktu (kekal), ruang (tidak terbatas), materi, dan kualitas. Daftar artibut Allah yang disusun Yohanes dari Damsyik masih dihargai sampai sekarang. Beberapa di antaranya dimunculkan kembali dengan bentuk-bentuk lain di dalam berbagai daftar atribut Allah yang disusun pada zaman modern.[10] Pada abad ke-13, Tomas Aquinas mengemukakan delapan atribut Allah, yakni mahasahaja, mahasempurna, mahabaik, mahatakterpahami, mahahadir, mahatakberubah, mahakekal, dan mahaesa.[10] Salah satu di antara daftar-daftar artibut Allah lainnya adalah daftar tahun 1251 yang disusun Konsili Lateran IV yang diadopsi Konsili Vatikan I tahun 1870 dan Katekismus Kecil Westminster pada abad ke-17.[10]

Dua atribut yang memosisikan Allah di atas dunia tetapi sekaligus mengakui keterlibatan-Nya di dalam dunia adalah transenden dan imanen.[1][2] Transenden berarti Allah itu mahakekal dan mahaananta, tidak dikendalikan jagat ciptaan dan mengatasi peristiwa-peristiwa insani. Imanen berarti Allah itu terlibat di dalam dunia. Ajaran-ajaran Kristen sudah lama meyakini bahwa Allah memperhatikan hal-ihwal umat manusia.[1][2] Meskipun demikian, berbeda dari agama-agama panteistis, keberadaan Allah menurut agama Kristen tidak berasal dari hakikat jagat ciptaan.[3]

Mengikuti kebiasaan yang sudah mentradisi, beberapa teolog semisal Louis Berkhof membedakan atribut-atribut yang terkomunikan (atribut-atribut yang juga dapat dimiliki manusia) dan atribut-atribut yang tak terkomunikan (atribut-atribut yang hanya ada pada Allah).[68] Meskipun demikian, teolog-teolog lain semisal Donald Macleod beranggapan bahwa segala bentuk penggolongan atribut Allah adalah rekaan manusia belaka dan tidak berdasar.[69]

Para teolog pada umumnya sepakat bahwa menganggap hakikat Allah ada dengan sendirinya dan terlepas dari atribut-atribut-Nya, atau atribut-atribut merupakan karakteristik tambahan terhadap keberadaan Allah adalah tindakan yang keliru. Atribut-atribut Allah adalah kualitas-kualitas hakiki yang ada secara permanen di dalam Keberadaan Allah dan ada bersama-sama dengan Allah. Perubahan dalam bentuk apa pun pada atribut-atribut Allah akan diartikan sebagai perubahan di dalam keberadaan hakiki Allah.[70]

Menurut Hick, penyusunan daftar atribut Allah harus bertitik tolak dari "swaada" (aseitas), yang mengisyaratkan bahwa Allah itu kekal dan keberadaan-Nya tidak bergantung kepada syarat apa pun. Atribut-atribut berikutnya menurut Hick adalah Khalik, karena Allah adalah sumber segala sesuatu yang menjadi unsur pembentuk makhluk ciptaan-Nya (creatio ex nihilo), dan adalah pemelihara segala sesuatu yang sudah dijadikan-Nya; Pribadi; Rahim, Baik; dan Kudus.[71] Berkhof juga bertitik tolak dari swaada, tetapi atribut-atribut selanjutnya menurut Berkhof adalah tidak berubah, ananta (yang mengisyaratkan bahwa Allah itu mahasempurna, mahakekal, dan mahahadir), dan esa. Berkhof selanjutnya menelaah sederet atribut intelektual, yakni mahatahu, mahabijaksana, serta mahabenar, dan atribut-atribut moral, yakni mahabaik (mencakup atribut mahapengasih, mahapemurah, maharahim, dan mahasabar), mahakudus, serta mahasadik, sebelum akhirnya menelaah atribut mahaberdaulat.[70]

Gregorius dari Nisa adalah salah seorang teolog pertama yang mengemukakan pandangannya (berseberangan dengan pandangan Origenes) bahwa Allah itu mahaananta. Dalil utamanya untuk kemahaanantaan Allah termaktub di dalam karya tulisnya, Melawan Eunomius, yakni bahwasanya kebaikan Allah itu tidak terhingga, dan karena kebaikan Allah itu hakiki sifatnya, maka Allah juga tidak terhingga.[72]

Penggambaran[sunting | sunting sumber]

Lambang Tangan Allah pada gambar peristiwa kenaikan Yesus di dalam naskah Sakramentarium Drogo, sekitar tahun 850

Umat Kristen purba percaya bahwa kalimat di dalam Injil Yohanes (Yohanes 1:18) bahwa "tidak seorangpun yang pernah melihat Allah" dan banyak pernyataan serupa lainnya tidak hanya berlaku untuk Allah, tetapi juga berlaku untuk segala macam usaha untuk menggambarkan Allah.[73]

Meskipun demikian, kemudian hari lambang Tangan Allah berulang kali ditemukan di sinagoga Dura Europos, satu-satunya sinagoga kuno dengan hiasan-hiasan yang masih lestari dari pertengahan abad ke-3, dan kemungkinan besar diadopsi seni rupa Kristen purba dari seni rupa Yahudi. Lambang ini menjadi lumrah dalam seni rupa Abad Kuno Akhir di Dunia Timur maupun Dunia Barat, dan terus menjadi cara utama untuk melambangkan tindakan atau persetujuan Allah Bapa di Dunia Barat sampai sekitar akhir zaman seni rupa Keromawian.

Di dalam penggambaran peristiwa-peristiwa tertentu, misalnya peristiwa pembaptisan Kristus, yang mengindikasikan representasi Allah Bapa, motif Tangan Allah dipakai, dengan tingkat kebebasan yang kian meningkat sejak zaman Karoling sampai akhir zaman Keromawian. Sesudah ditemukannya sinagoga Dura Europos yang diperkirakan dibangun pada abad ke-3, motif ini sekarang tampaknya dipinjam dari seni rupa Yahudi, dan ditemukan di dalam seni rupa Kristen nyaris sejak permulaan sejarahnya.[74]

Pemakaian citra-citra religius secara umum terus meningkat sampai penghujung abad ke-7. Ketika naik takhta pada tahun 695, Kaisar Yustinianus II menerakan gambar Kristus pada sisi kepala uang emas keluarannya, yang menyebabkan Dunia Islam berhenti memakai uang-uang logam keluaran Romawi Timur.[75] Meskipun demikian, peningkatan pembuatan citra-citra religius tidak mencakup pembuatan gambar Allah Bapa.

Kerajaan Allah dan eskatologi[sunting | sunting sumber]

Kedaulatan dan kerajaan[sunting | sunting sumber]

Allah Bapa bersemayam di atas singgasana, Westfalen, Jerman, akhir abad ke-15

Penyifatan hubungan Allah dengan manusia di dalam Kekristenan mencakup gagasan tentang "Kerajaan Allah". Gagasan ini sudah mengemuka di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, dan dapat dipandang sebagai suatu konsekuensi dari penciptaan dunia oleh Allah.[13][76] "Mazmur-Mazmur Raja" (Mazmur 45), 93, 96, 97, 98, 99) menyediakan suatu latar belakang bagi gagasan ini dengan maklumat "Tuhan adalah Sang Raja".[13] Meskipun demikian, di dalam agama Yahudi kemudian hari mengemuka suatu gagasan yang lebih bersifat "nasional" mengenai kedaulatan Allah sebagai raja. Dalam pandangan ini, Sang Mesias yang dijanjikan dapat dipandang sebagai tokoh pembebas sekaligus pendiri negara Israel yang baru.[77]

Istilah "Kerajaan Allah" tidak muncul di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, meskipun frasa "kerajaan-Nya" dan "kerajaan-Mu" digunakan dalam beberapa kasus yang berkenaan dengan Allah.[78] Akan tetapi Kerajaan Allah (sama dengan "Kerajaan Surga" dalam Injil Matius) merupakan frasa yang menonjol dalam injil-injil sinoptik (muncul 75 kali), dan hampir semua sarjana sepakat bahwa frasa ini adalah unsur utama dari ajaran-ajaran Yesus.[13][14] Meskipun demikian, R. T. France menunjukkan bahwa kendati konsep "Kerajaan Allah" mengandung makna intuitif bagi umat Kristen awam, sukar sekali didapati kesepakatan di kalangan sarjana mengenai arti frasa tersebut di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.[14] Ada sarjana yang menganggapnya sebagai suatu cara hidup Kristen, ada yang menganggapnya sebagai suatu metode pewartaan injil sedunia, ada yang menganggapnya sebagai penemuan kembali karunia-karunia karismatik, dan ada pula yang menghubungkannya bukan dengan situasi kini melainkan dengan dunia yang akan datang.[14] R. T. France menegaskan bahwa frasa Kerajaan Allah kerap ditafsirkan dengan berbagai macam cara supaya bersesuaian dengan agenda teologis penafsirnya.[14]

Akhir zaman[sunting | sunting sumber]

Tafsiran-tarsiran istilah "Kerajaan Allah" telah memunculkan satu serentang panjang perdebatan eskatologis di kalangan sarjana dengan beragam pandangan, tetapi belum ada mufakat yang berhasil mereka capai.[79][80][81] Sejak zaman Agustinus sampai dengan Reformasi Protestan, kedatangan Kerajaan Allah sudah erat dikaitkan dengan pembentukan Gereja, tetapi pandangan semacam ini kemudian hari ditinggalkan, dan pada permulaan abad ke-20, tafsir apokaliptis Kerajaan Allah mulai kuat bertapak.[79][81][82] Menurut pandangan yang juga disebut "eskatologi konsisten" ini, Kerajaan Allah bukan bermula pada abad pertama melainkan merupakan suatu peristiwa apokaliptis di masa depan yang belum terjadi.[79]

Malaikat meniup "sangkakala terakhir" (1 Korintus 15:52), Langenzenn, Jerman, abad ke-19

Pada pertengahan abad ke-20, eskatologi terealisasi yang sebaliknya menganggap Kerajaan Allah tidak bersifat apokaliptis melainkan sebagai manifestasi dari kedaulatan ilahi atas dunia (direalisasikan oleh karya pelayanan Yesus) telah menarik sekelompok pendukung di lingkungan kesarjanaan.[79] Menurut pandangan ini, Kerajaan Allah sekarang sudah terwujud.[80]

Trinitarianisme[sunting | sunting sumber]

Sejarah dan landasan[sunting | sunting sumber]

Pada awal sejarah Kekristenan, konsep keselamatan erat dikaitkan dengan laku menyeru "Bapa, Putra, dan Roh Kudus".[83][84] Sejak abad pertama, umat Kristen sudah menyeru Allah dengan nama "Bapa, Putra, dan Roh Kudus" di dalam doa, pembaptisan, komuni, eksorsisme, kidung madah, khotbah, syahadat, absolusi, dan pemberkatan.[83][84] Kenyataan ini tercermin di dalam kalimat "sebelum ada doktrin Tritunggal, umat Kristen sudah berdoa menyeru Tritunggal Mahakudus".[83]

Ukiran pada Sarkofagus Dogmatis, penggambaran Tritunggal tertua, tahun 350 Masehi,[85] Museum Vatikan

Istilah "Tritunggal" tidak muncul secara eksplisit di dalam Alkitab, tetapi golongan Trinitarian yakin bahwa konsep Tritunggal yang baru dikembangkan kemudian hari sesungguhnya konsisten dengan ajaran-ajaran Alkitab.[20][21] Kitab Suci Perjanjian Baru memuat sejumlah pemakaian rumusan liturgis dan doksologis tiga-serangkai, misalnya nas 2 Korintus 1:21-22 yang menyatakan bahwa "Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita".[20][86] Ihwal Kristus menerima "kewenangan dan keilahian yang setara" dinyatakan di dalam nas Matius 28:18, bahwasanya "kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi", demikian pula di dalam nas Yohanes 3:35,Yohanes 13:3, dan Yohanes 17:1.[86] Ihwal Roh berasal "dari Allah" maupun "dari Kristus" dinyatakan dalam nas Galatia 4:6, Kisah Para Rasul 16:7, Yohanes 15:26, dan Roma 8:14-17.[86]

Konsep umum Tritunggal terungkap di dalam karya-karya tulis Kristen purba sejak permulaan abad ke-2, mulai dari pandangan Ireneus yang dikemukakannya di dalam risalah Melawan Bidat-Bidat (Buku I Bab X) sebagai berikut:[83]

"Gereja ... percaya akan satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Khalik langit, dan bumi, dan samudra, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya; dan akan satu Yesus Kristus, Putra Allah, yang menjadi manusia demi keselamatan kita; dan akan Roh Kudus".

Sekitar tahun 213, di dalam risalah Melawan Prakseas (Bab 3) Tertulianus menyajikan suatu representasi resmi dari konsep Tritunggal, bahwasanya Allah ada sebagai satu "hakikat" tetapi memiliki tiga "Pribadi", yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus.[87][88] Dalam rangka membela koherensi Tritunggal, Tertulianus mengemukakan (Melawan Prakseas 3) bahwa "Keesaan yang menurunkan Tritunggal dari diri-Nya sendiri jauh dari rusak, malah sesungguhnya disokong olehnya."

Tertulianus juga membahas tentang bagaimana Roh Kudus keluar dari Bapa dan Putra.[87]

Konsili Nikea I tahun 325 dan Konsili Konstantinopel I tahun 381 mendefinisikan dogma Tritunggal "dan garis-garis besar yang sangat sederhana dalam rangka menghadapi bidat-bidat", dan versi dogma Tritunggal yang dipakai Gereja sejak saat itu adalah versi yang berasal dari tahun 381.[19] Pada abad ke-5, di Gereja Barat, Santo Agustinus memperluas teologi Tritunggal di dalam karya tulisnya, De Trinitate (Ihwal Tritunggal), sementara pengembang utama teologi Tritunggal di Gereja Timur adalah Yohanes dari Damsyik yang berkiprah pada abad ke-8.[89] Teologi Tritunggal akhirnya mencapai bentuk klasiknya dalam karya tulis Tomas Aquinas pada abad ke-13.[89][90]

Bernhard Lohse (1928-1997) menegaskan bahwa doktrin Tritunggal tidak berasal dari sumber-sumber non-Kristen seperti ajaran filsafat Plato atau agama Hindu, dan bahwasanya segala upaya untuk membuktikan adanya keterkaitan dengan sumber-sumber semacam itu sudah tergoyahkan.[91] Mayoritas umat Kristen dewasa ini adalah golongan Trinitarian yang menganggap kepercayaan akan Tritunggal sebagai tolok ukur ortodoksi atau kepercayaan yang benar.[83]

Doktrin Tritunggal[sunting | sunting sumber]

Diagram Tritunggal, terdiri atas Pater (Bapa), Filius (Putra), dan Spiritus Sanctus (Roh Kudus)

Sebagian besar umat Kristen menganggap doktrin Tritunggal sebagai asas pokok iman mereka.[18][19] Doktrin Tritunggal dapat dirangkum dalam kalimat berikut ini:[18]

"Allah Yang Mahaesa wujud dalam Tiga Pribadi dan Satu Hakikat."

Singkatnya, doktrin Tritunggal adalah sebuah misteri yang "mustahil dinalar manusia tanpa bantuan" maupun "diungkapkan secara jelas dan meyakinkan lewat penalaran sesudah diwahyukan", tetapi "tidak bertentangan dengan akal budi" karena "tidak menyalahi prinsip-prinsip penalaran".[90]

Doktrin Tritunggal diuraikan di dalam Syahadat Atanasius dari abad ke-4, yang memuat petikan berikut ini:[19][20]

Kami menyembah Allah yang Tritunggal, dan Tritunggal yang Mahaesa,
tanpa mencampuradukkan pribadi-pribadi maupun membagi-bagi hakikat.
Karena ada satu Pribadi Bapa, satu lagi Pribadi Putra, dan satu lagi Pribadi Roh Kudus.
Namun Keallahan Bapa, Putra, dan Roh Kudus semuanya satu,
setara kemuliaan-Nya, sama-sama kekal keagungan-Nya.
Sebagaimana Bapa, demikian pula Putra, dan demikian pula Roh Kudus.

Bagi umat Kristen Trinitarian (Kristen Katolik, Kristen Ortodoks, dan kebanyakan denominasi Kristen Protestan), Bapa sama sekali bukan suatu ilah yang terpisah dari Putra dan Roh Kudus, kedua hipostasis ("pribadi") lainnya dari Keallahan menurut agama Kristen.[92]

Bapa[sunting | sunting sumber]

Allah Bapa memberi tempat kepada Kristus untuk bertakhta di sisi kanan-Nya, lukisan karya Pieter de Grebber, 1654

Kemunculan teologi Ttitunggal mengenai Allah Bapa pada awal sejarah Kekristenan didasarkan atas dua gagasan utama. Yang pertama adalah gagasan bahwa Yahweh di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama sama dengan Allah yang diajarkan Yesus di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan yang kedua adalah gagasan bahwa Yesus berbeda tetapi bersatu dengan Bapanya.[93][94] Contoh nas tentang kesatuan Sang Putra dengan Sang Bapa adalah nas Matius 11:27, "tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak", yang menandaskan pengetahuan Sang Bapa dan Sang Putra satu sama lain.[95]

Konsep kebapaan Allah sudah mengemuka di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, tetapi bukan merupakan tema utama.[93][96] Meskipun sudah dipakai di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, pandangan mengenai Allah selaku Bapa baru menjadi sorotan utama di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, karena kerap disinggung Yesus.[93][96] Pandangan semacam ini termanifestasi di dalam doa Bapa Kami yang memadukan kebutuhan-kebutuhan duniawi akan makanan sehari-hari dengan konsep saling mengampuni.[96] Penekanan Yesus pada hubungan istimewanya dengan Sang Bapa menggarisbawahi perbedaan sekaligus kesatuan hakikat Yesus dengan Sang Bapa, yang menjadi cikal bakal gagasan tentang kesatuan Bapa dan Putra di dalam Tritunggal.[96]

Pandangan tentang Allah selaku Bapa diturunkan Yesus kepada murid-muridnya, dan akhirnya disampaikan kepada segenap Gereja, sebagaimana tercermin di dalam permohonan Yesus kepada Allah Bapa bagi para pengikutnya pada akhir Wejangan Perpisahan, semalam sebelum ia disalibkan.[97]

Putra[sunting | sunting sumber]

Gambar Kristus pada lukisan kaca patri jendela Gereja Katedral Santo Petrus dan Paulus, Sankt-Peterburg, Rusia

Sedari awal sejarah Kekristenan, sejumlah gelar telah diberikan kepada Yesus, antara lain Mesias (Kristus) dan Putra Allah.[98][99] Dari sudut pandang teologis, gelar-gelar tersebut adalah atribut-atribut yang berlainan. Gelar "Mesias" mengacu kepada penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama di dalam diri Yesus, sementara gelar "Putra Allah" mengacu kepada hubungannya selaku Sang Putra dengan Sang Bapa.[98][99] Allah Putra berbeda dari Mesias maupun Putra Allah, dan teologi tentang Allah Putra sebagai bagian dari doktrin Tritunggal baru dibakukan secara resmi seabad lebih sesudah teologi tentang Mesias dan Putra Allah dibakukan.[99][100][101]

Menurut injil-injil, Yesus dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria.[102] Riwayat-riwayat Alkitab tentang kiprah Yesus mencakup riwayat pembabtisannya, mukjizat-mukjizat yang ia perbuat, serta kbotbah, pengajaran, dan penyembuhan yang ia berikan. Riwayat-riwayat di dalam injil-injil lebih menyoroti wafat Yesus, dengan mengkhususkan kira-kira sepertiga dari isinya bagi liputan peristiwa-peristiwa yang berlangsung di Yerusalem selama tujuh hari atau sepekan terakhir kehidupan Yesus.[103] Inti kepercayaan Kristen adalah bahwasanya lewat wafat dan kebangkitan Yesus, umat manusia yang berdosa dapat didamaikan dengan Allah, dan oleh karena itu ditawari keselamatan dan janji kehidupan yang kekal.[104] Kepercayaan akan kodrat penebusan dari wafat Yesus sudah dianut sebelum surat-surat Paulus ditulis, bahkan sudah muncul sejak hari-hari permulaan sejarah Kekristenan dan Gereja Yerusalem.[105] Pernyataan Syahadat Nikea yang berbunyi "untuk kita ... disalibkan" adalah cerminan dari kepercayaan inti ini.[104]

Dua pertanyaan kristologis, yakni bagaimana Yesus dapat menjadi Allah sejati sambil melanggengkan iman akan keberadaan satu Allah, dan bagaimana kemanusiaan dan keilahian dapat manunggal di dalam satu pribadi, adalah pertanyaan-pertanyaan fundamental yang sudah mengemuka sebelum Konsili Nikea I tahun 325.[106] Meskipun demikian, teologi "Allah Putra" pada akhirnya terefleksikan di dalam pernyataan Konsili Nikea pada abad ke-4.[107]

Syahadat Kalsedon tahun 451, yang diterima mayoritas umat Kristen, menandaskan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia dan "Allah sejati sekaligus manusia sejati" (paripurna illahi sekaligus paripurna insani). Karena sepenuhnya menjadi manusia dalam segala hal, Yesus mengalami derita dan cobaan sama seperti manusia lain, hanya saja ia tidak berbuat dosa. Karena sepenuhnya adalah Allah, Yesus mengalahkan kematian dan kembali hidup.[108] Konsili Konstantinopel III tahun 680 menegaskan bahwa baik kehendak ilahi maupun kehendak insani ada di dalam diri Yesus, dan kehendak ilahi yang diutamakan, sehingga memimpin dan menuntun kehendak insani.[109]

Dalam Kekristenan arus utama, Yesus Kristus selaku Allah Putra dimuliakan sebagai Pribadi Kedua Tritunggal Mahakudus karena relasi kekalnya dengan Pribadi Pertama Tritunggal Mahakudus (Allah selaku Sang Bapa).[110] Ia dipandang setara dengan Bapa dan Roh Kudus, dan sepenuhnya Allah sekaligus sepenuhnya manusia. Menurut kodrat ilahinya Yesus adalah Putra Allah, dan menurut kodrat insaninya Yesus berasal dari nasab Daud.[102][110][111][112]

Yang termutakhir, diskusi-diskusi seputar isu-isu teologis terkait Allah Putra serta perannya di dalam Tritunggal mengemuka pada abad ke-20 dalam konteks perspektif wahyu ilahi yang "berbasis Tritunggal".[113][114]

Roh Kudus[sunting | sunting sumber]

Penggambaran Roh Kudus dalam rupa burung merpati pada lukisan kaca patri karya Bernini sekitar tahun 1660

Di dalam Kekristenan arus utama, Roh Kudus dipercaya sebagai salah satu dari tiga pribadi ilahi Tritunggal Mahakudus dari hakikat Allah yang tunggal. Roh Kudus dipercaya bertindak selaras dengan dan sehakikat dengan Allah Bapa dan Allah Putra (Yesus).[115][116] Kitab Suci Perjanjian Baru memuat banyak pernyataan mengenai Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus secara istimewa dirasakan sesudah Yesus naik ke surga, tanpa mengesampingkan kenyataan bahwa kehadiran Roh Kudus juga diriwayatkan di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.[15]:hlm. 39 Teologi Kristen tentang Roh Kudus, atau pneumatologi (dari kata Yunani pneuma, artinya "roh"), adalah bagian terakhir dari teologi Tritunggal yang didalami dan dikembangkan dengan tuntas, dan oleh karena itu pemahaman tentang Roh Kudus di kalangan umat Kristen lebih beragam daripada pemahaman tentang Sang Bapa maupun Sang Putra.[115][116] Di dalam teologi Tritunggal, Roh Kudus biasanya disebut sebagai "Pribadi Ketiga" Allah Tritunggal, sementara Sang Bapa adalah "Pribadi Pertama" dan Sang Putra adalah "Pribadi Kedua".[115]

Berpangkal dari perenungan akan peristiwa pewartaan malaikat kepada Maria yang diriwayatkan di dalam Injil Lukas (Lukas 1:35), Syahadat Para Rasul menyatakan bahwa Yesus "dikandung dari Roh Kudus".[117] Syahadat Nikea menyebut Roh Kudus sebagai "Tuhan, Yang Menghidupkan", yang bersama Bapa dan Putra "disembah dan dimuliakan".[118] Allah Putra bermanifestasi menjadi Putra Allah lewat tindakan inkarnasi, tetapi tidak demikian halnya dengan Allah Roh Kudus yang tetap tidak tersingkap.[119] Meskipun demikian, sebagaimana yang dinyatakan di dalam surat pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 6:19), Allah Roh Kudus terus-menerus bersemayam di dalam tubuh umat beriman.[119][120]

Di dalam teologi Kristen, Roh Kudus dipercaya menjalankan fungsi-fungsi ilahi di dalam kehidupan umat Kristen atau kehidupan Gereja. Tindakan Roh Kudus dipandang sebagai bagian asasi dari tindakan membimbing orang menuju iman Kristen.[121] Orang yang baru memeluk iman Kristen "dilahirkan kembali dari Roh".[122]

Roh Kudus memungkinkan terselenggaranya kehidupan yang Kristiani dengan bersemayam di dalam diri setiap orang percaya dan memampukan mereka untuk hidup sadik dan beriman.[121] Roh Kudus bertindak sebagai Penghibur atau Parakletus, yang mengantarai, atau menolong, atau bertindak selaku penasihat, khususnya pada masa-masa pencobaan. Roh Kudus bertindak menyadarkan orang-orang yang belum tertebus akan keberdosaan perbuatan maupun pikiran mereka, dan akan kelaikan moral mereka sebagai pendosa di hadapan Allah.[123] Roh Kuduslah yang dulu mengilhami penulisan Kitab Suci dan yang sekarang menafsirkannya bagi orang Kristen dan Gereja.[124]

Perbedaan antarpenganut Trinitarianisme[sunting | sunting sumber]

Menurut teologi Kristen Ortodoks Timur, hakikat Allah melampaui pengertian manusia dan tidak dapat didefinisikan maupun didekati pemahaman manusia.[125] Ajaran-ajaran Kristen Katolik mirip dengan Kristen Ortodoks Timur dalam pandangan bahwa misteri-misteri Tritunggal melampaui daya nalar manusia.[126] Meskipun demikian, ada perbedaan di antara keduanya, karena menurut ajaran dan teologi Katolik, Allah Bapa adalah sumber mahakekal dari Sang Putra ("diperanakkan" Bapa secara kekal) maupun Roh Kudus ("keluar" secara kekal dari Bapa dan Putra) dan menghembuskan Roh Kudus bersama maupun melalui Sang Putra, sementara Kristen Ortodoks Timur berpendirian bahwa Roh Kudus hanya keluar dari Bapa.[127]

Kebanyakan denominasi Kristen Protestan maupun aliran-aliran Kristen lain yang muncul sesudah Reformasi Protestan menganut keyakinan-keyakinan umum tentang Tritunggal dan teologi tentang Allah yang mirip dengan Kristen Katolik. Denominasi-denominasi tersebut mencakup gereja-gereja yang terlahir dari rumpun Anglikan, Baptis, Metodis, Lutheran, dan Presbiterian. Doktrin Tritunggal bahkan disifatkan sebagai "dogma pokok dari teologi Kristen" di dalam The Oxford Dictionary of the Christian Church.[128] Meskipun demikian, pandangan representatif dari teologi Tritunggal Protestan tentang Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus sukar untuk dirumuskan setepat-tepatnya lantaran keberagaman dan kurang tersentralisasinya gereja-gereja Protestan.[128]

Nontrinitarianisme[sunting | sunting sumber]

Sejumlah golongan Kristen menolak doktrin Tritunggal, sehingga disebut golongan Antitritunggal atau Nontrinitarian.[129] Golongan-golongan ini menganut pandangan-pandangan yang berbeda satu sama lain. Ada yang meyakini Yesus sebagai keberadaan ilahi yang setingkat lebih rendah daripada Allah Bapa, dan ada pula yang meyakininya sebagai Yahweh dari Perjanjian Lama dalam wujud manusia, Allah tetapi tidak selamanya menjadi Allah, nabi, maupun sekadar waliyullah.[129] Menurut beberapa definisi Kristen Protestan dengan cakupan makna yang luas, golongan-golongan Antitritunggal adalah bagian dari rumpun besar Kristen Protestan, tetapi sebagian besar definisi Kristen Protestan meliyankannya.[130]

Nontrinitarianisme sudah muncul sedari awal sejarah Kekristenan, dan dianut sempalan-sempalan Kristen seperti kaum Arian, kaum Ebioni, kaum Gnostis, dan lain-lain.[22] Pandangan-pandangan Antitritunggal ditentang banyak uskup, misalnya Ireneus, dan oleh karena itu ditolak konsili-konsili ekumene. Syahadat Nikea mengangkat isu hubungan antara kodrat ilahi dan kodrat insani Yesus.[22] Sesudah ditolak Konsili Nikea, Nontrinitarianisme memudar sampai berabad-abad lamanya, dan orang-orang yang menolak doktrin Tritunggal dibenci umat Kristen lainnya, tetapi sempalan-sempalan Antitritunggal kembali muncul pada abad ke-19 di Amerika Utara dan tempat-tempat lain.[130]

Menurut teologi Saksi-Saksi Yehuwa, Allah Bapa sajalah satu-satunya Allah yang sejati dan mahakuasa, bahkan mengatasi Putra-Nya, Yesus Kristus. Saksi-Saksi Yehuwa mengakui bahwa Yesus bersifat prawujud, sempurna, memiliki hubungan "anak-beranak" yang unik dengan Allah Bapa, adalah tokoh utama dalam karya penciptaan maupun penebusan, dan adalah Sang Mesias, tetapi mereka percaya bahwa hanya Allah Bapa saja yang tidak berpermulaan.[131]

Di dalam teologi gereja Mormon, konsepsi Allah yang terutama adalah Keallahan, suatu sidang ilahi beranggotakan tiga keberadaan ilahi yang terpisah, yakni Elohim (Sang Bapa), Yehuwa (Sang Putra, atau Yesus), dan Roh Kudus. Sang Bapa dan Sang Putra dipercaya memiliki tubuh jasmani yang sudah disempurnakan, sementara Roh Kudus memiliki tubuh rohani. Gereja Mormon mengakui keilahian Bapa, Putra, dan Roh Kudus, tetapi meyakini bahwa ketiganya adalah keberadaan-keberadaan yang berlainan, esa bukan dalam hakikat melainkan dalam kehendak dan maksud, serta sama-sama mahatahu, mahakuasa, dan maharahim.[132]

Pentakosta Keesaan mengembangkan salah satu bentuk Monarkianisme Modalistis yang menandaskan bahwa hanya ada satu Allah, yakni Roh ilahi mahaesa, yang memanifestasikan diri dengan berbagai cara, antara lain dengan menjadi Bapa, Putra, dan Roh Kudus.[133]

Baca juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Basic Christian Doctrine, John H. Leith (1 Januari 1992) ISBN 0664251927 hlmn. 55-56
  2. ^ a b c Introducing Christian Doctrine (edisi ke-2), Millard J. Erickson (1 April 2001) ISBN 0801022509 hlmn. 87-88
  3. ^ a b Berkhof, L. Systematic Theology, Penerbit Banner of Truth:1963, hlm.61
  4. ^ a b c d One God, One Lord, Larry W. Hurtado (25 Oktober 2003) ISBN 0567089878 hlmn. 1-2
  5. ^ a b The Blackwell Companion to The New Testament, David E. Aune (23 Maret 2010) ISBN 1405108258 hlm. 424
  6. ^ a b Apostle Paul: His Life and Theology, Udo Schnelle (1 November 2005) ISBN 0801027969 hlm. 396
  7. ^ ("Khotbah-Khotbah Klemens," xvi. 15)
  8. ^ "TRINITY". Jewish Encyclopedia. JewishEncyclopedia.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2013. 
  9. ^ a b c Irenaeus of Lyons, Eric Francis Osborn, 26 November 2001 ISBN 0521800064 halaman 27-29
  10. ^ a b c d e Global Dictionary of Theology, William A. Dyrness, Veli-Matti Kärkkäinen, Juan F. Martinez, & Simon Chan, 10 Oktober 2008, ISBN 0830824545 halaman 352-353
  11. ^ a b Christian Doctrine, Shirley C. Guthrie, 1 Juli 1994 ISBN 0664253687 halaman 111 & 100
  12. ^ a b Hirschberger, Johannes. Historia de la Filosofía I, Barcelona: Herder 1977, hlm. 403
  13. ^ a b c d Dictionary of Biblical Imagery, Leland Ryken, James C. Wilhoit, & Tremper Longman III, 11 November 1998 ISBN 0830814515 Halaman 478-479
  14. ^ a b c d e Divine Government: God's Kingship in the Gospel of Mark, R. T. France, 10 Maret 2003 ISBN 1573832448 Halaman 1-3
  15. ^ a b Stagg, Frank. New Testament Theology. Broadman Press, 1962. ISBN 0-8054-1613-7
  16. ^ Prestige G.L. Fathers and Heretics SPCK:1963, hlm. 29
  17. ^ Kelly, J.N.D. Early Christian Doctrines A & C Black:1965, hlm. 280
  18. ^ a b c The Nicene Faith: Formation Of Christian Theology, 30 Juni 2004 ISBN 088141266X Halaman 3-4
  19. ^ a b c d Life in the Trinity: An Introduction to Theology with the Help of the Church Fathers, Donald Fairbairn, 28 September 2009 ISBN 0830838732 Halaman 48-50
  20. ^ a b c d Mercer Dictionary of the Bible disunting Watson E. Mills, Roger Aubrey Bullard 2001 ISBN 0865543739 halaman 935
  21. ^ a b Kelly, J.N.D. Early Christian Doctrines A & C Black, 1965, Halaman 115
  22. ^ a b c Theology: The Basics, Alister E. McGrath, 21 September 2011 ISBN 0470656751 halaman 117-120
  23. ^ Christian Julien Robin (2012). Arabia and Ethiopia. In The Oxford Handbook of Late Antiquity. OUP USA. hlm. 304–305. ISBN 9780195336931. 
  24. ^ a b Columbia Encyclopedia, Allah
  25. ^ Lewis, Bernard; Holt, P. M.; Holt, Peter R.; Lambton, Ann Katherine Swynford (1977). The Cambridge history of Islam. Cambridge, Eng: University Press. hlm. 32. ISBN 978-0-521-29135-4. 
  26. ^ Merriam-Webster. "Allah". Merriam-Webster. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 April 2014. Diakses tanggal 25 Februari 2012. 
  27. ^ "Allah." Encyclopædia Britannica. 2007. Encyclopædia Britannica
  28. ^ Encyclopedia of the Modern Middle East and North Africa, Allah
  29. ^ Willis Barnstone, Marvin Meyer The Gnostic Bible: Revised and Expanded Edition Penerbit Shambhala 2009 ISBN 978-0-834-82414-0 halaman 531
  30. ^ Sikhs target of 'Allah' attack, Julia Zappei, 14 Januari 2010, The New Zealand Herald. Diakses daring tanggal 15 Januari 2014.
  31. ^ Malaysia court rules non-Muslims can't use 'Allah', 14 Oktober 2013, The New Zealand Herald. Diakses daring tanggal 15 Januari 2014.
  32. ^ Malaysia's Islamic authorities seize Bibles as Allah row deepens, Niluksi Koswanage, 2 Januari 2014, Reuters. Diakses daring tanggal 15 Januari 2014. [1]
  33. ^ a b Idris Jala (24 Februari 2014). "The 'Allah'/Bible issue, 10-point solution is key to managing the polarity". The Star. Diakses tanggal 25 Juni 2014. 
  34. ^ Contoh: Pemakaian kata "Allah" pada nas Matius 22:32 dalam berbagai versi Alkitab bahasa Indonesia sejak tahun 1733 Diarsipkan 19 Oktober 2013 di Wayback Machine.
  35. ^ The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society Sneddon, James M.; University of New South Wales Press; 2004
  36. ^ The History of Christianity in India from the Commencement of the Christian Era: Hough, James; Adamant Media Corporation; 2001
  37. ^ Wiltens, Caspar; Heurnius, Justus (1650). Justus Heurnius, Albert Ruyl, Caspar Wiltens. "Vocabularium ofte Woordenboeck nae ordre van den alphabeth, in 't Duytsch en Maleys". 1650:65. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 Oktober 2013. Diakses tanggal 14 Januari 2014. 
  38. ^ Bdk. Milkias, Paulos (2011). "Ge'ez Literature (Religious)". Ethiopia. Africa in Focus. Santa Barbara, California: ABC-CLIO. hlm. 299. ISBN 9781598842579. Diakses tanggal 15 Februari 2018. Monastisisme memainkan peran utama di dalam gerakan kesastraan Etiopia. Alkitab diterjemahkan pada zaman Sembilan Santo, permulaan abad keenam [...]. 
  39. ^ Barton, John (2002–12). The Biblical World, Oxford, Inggris: Routledge. ISBN 978-0-415-27574-3.
  40. ^ North, Eric McCoy; Eugene Albert Nida (Edisi ke-2, 1972). The Book of a Thousand Tongues, London: United Bible Societies.
  41. ^ "Sejarah Alkitab Indonesia / Albert Conelisz Ruyl". sejarah.sabda.org. 
  42. ^ "Encyclopædia Britannica: Albert Cornelius Ruyl". Britannica.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Oktober 2013. Diakses tanggal 14 Januari 2014. 
  43. ^ Roughneen, Simon (14 Oktober 2013). "No more 'Allah' for Christians, Malaysian court says". The Christian Science Monitor. Diakses tanggal 14 Oktober 2013. 
  44. ^ "BBC News - More than 300 Bibles are confiscated in Malaysia". BBC. 2 Januari 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 Januari 2014. Diakses tanggal 14 Januari 2014. 
  45. ^ a b "Catholic priest should respect court: Mahathir". Daily Express. 9 Januari 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Januari 2014. Diakses tanggal 10 Januari 2014. 
  46. ^ Jane Moh; Peter Sibon (29 Maret 2014). "Worship without hindrance". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Maret 2014. Diakses tanggal 29 Maret 2014. 
  47. ^ "Bahasa Malaysia Bibles: The Cabinet's 10-point solution". 25 Januari 2014. 
  48. ^ "Najib: 10-point resolution on Allah issue subject to Federal, state laws". The Star. 24 Januari 2014. Diakses tanggal 25 Juni 2014. 
  49. ^ Silverstein, Adam J.; Stroumsa, Guy G.; Blidstein, Moshe (2015). "The Oxford Handbook of the Abrahamic Religions" (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 3–4. Diakses tanggal 20 April 2021. 
  50. ^ Theology of the New Testament, Udo Schnelle, 1 November 2009 ISBN 0801036046 halaman 477
  51. ^ Theology of Paul the Apostle, James D. G. Dunn 2003 ISBN 0-567-08958-4 halaman 418-420
  52. ^ The anointed community: the Holy Spirit in the Johannine tradition, Gary M. Burge, 1987 ISBN 0-8028-0193-5 halaman 14-21
  53. ^ a b c The Doctrine of God: A Global Introduction, Veli-Matti Kärkkäinen, 2004 ISBN 0801027527 halaman 70-73
  54. ^ Peter Stockmeier dalam Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi, disunting Karl Rahner ISBN 0860120066 New York: Sea-bury Press, 1975, halaman 375-376, "Pada kurun waktu selanjutnya, kira-kira mulai tahun 180 sampai 313, struktur-struktur tersebut sudah secara esensial menentukan citra dari Gereja yang mengaku mengemban misi universal di Kekaisaran Romawi. Kurun waktu ini memang pantas disebut zaman Gereja Raya, menilik angka pertumbuhannya, perkembangan konstitusionalnya, dan aktivitas teologisnya yang intens."
  55. ^ a b c Kelly, J.N.D. Early Christian Creeds Longmans:1960, hlm. 136; hlm. 139; hlm. 195
  56. ^ "St Augustine and Being", Journal of the History of Philosophy 
  57. ^ "Saint Thomas Aquinas", Stanford Encyclopedia of Philosophy 
  58. ^ Ian T. Ramsey, Religious Language SCM 1967, pp.50ff
  59. ^ David Ray Griffin, God, Power, and Evil: a Process Theodicy, Westminster, 1976/2004, halaman 31.
  60. ^ Systematic Theology, Louis Berkhof, 24 September 1996 ISBN 0802838200 halaman 47-51
  61. ^ Mercer dictionary of the Bible, Watson E. Mills, Roger Aubrey Bullard, 1998 ISBN 0-86554-373-9 halaman 336
  62. ^ The Ten Commandments: Interpretation: Resources for the Use of Scripture in the Church, Patrick D. Miller, 6 Agustus 2009 ISBN 0664230555 halaman 111
  63. ^ Theology of the New Testament, (2000) ISBN 0664223362 halaman 282
  64. ^ a b Ten Commandments, Arthur W. Pink, 30 Desember 2007 ISBN 1589603753 halaman 23-24
  65. ^ John 11-21 (Ancient Christian Commentary on Scripture), Joel C. Elowsky, 23 Mei 2007 ISBN 0830810994 halaman 237
  66. ^ Wiersbe Bible Commentary, Warren W. Wiersbe, 1 November 2007 ISBN 0781445396 halaman 274
  67. ^ a b c Manual Of Christian Doctrine, Louis Berkhof, 1 Agustus 2007 ISBN 1930367902 halaman 19-20
  68. ^ Manual Of Christian Doctrine, Louis Berkhof, 1 Agustus 2007 ISBN 1930367902 Halaman 21-23
  69. ^ Donald Macleod, Behold Your God, Christian Focus Publications, 1995, Halaman 20-21.
  70. ^ a b Berkhof, Louis Systematic Theology, Banner of Truth 1963, hlmn. 57-81, 46
  71. ^ John H. Hick, Philosophy of Religion Prentice-Hall 1973, hlmn. 7-14
  72. ^ The Brill Dictionary of Gregory of Nyssa. (Lucas Francisco Mateo-Seco & Giulio Maspero, penyunting.) 2010. Leiden: Brill, hlm. 424
  73. ^ James Cornwell, 2009 Saints, Signs, and Symbols: The Symbolic Language of Christian Art ISBN 0-8192-2345-X Halaman 2
  74. ^ Hachlili, Rachel. Ancient Jewish Art and Archaeology in the Diaspora, Bagian 1, BRILL, 1998, ISBN 90-04-10878-5, ISBN 978-90-04-10878-3, Halaman 144–145.
  75. ^ Robin Cormack, 1985 Writing in Gold, Byzantine Society and its Icons, ISBN 0-540-01085-5
  76. ^ Mercer Dictionary of the Bible, Watson E. Mills, Edgar V. McKnight, & Roger A. Bullard, 1 Mei 2001 ISBN 0865543739 Halaman 490
  77. ^ Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi, Karl Rahner, 28 Desember 2004 ISBN 0860120066 Halaman 1351
  78. ^ Dictionary for Theological Interpretation of the Bible, Kevin J. Vanhoozer, N. T. Wright, Daniel J. Treier, & Craig Bartholomew, 20 Januari 2006 ISBN 0801026946 Halaman 420
  79. ^ a b c d Familiar Stranger: An Introduction to Jesus of Nazareth, Michael James McClymond, 22 Maret 2004 ISBN 0802826806 Halaman 77-79
  80. ^ a b Studying the Historical Jesus: Evaluations of the State of Current Research, Bruce Chilton dan Craig A. Evans, Juni 1998 ISBN 9004111425 Halaman 255-257
  81. ^ a b An Introduction to the New Testament and the Origins of Christianity, Delbert Royce Burkett, 22 Juli 2002 ISBN 0521007208 Halaman 246
  82. ^ A Theology of the New Testament, George Eldon Ladd, 2 September 1993 ISBN 0802806805 Halaman 55-57
  83. ^ a b c d e Vickers, Jason E. Invocation and Assent: The Making and the Remaking of Trinitarian Theology. Wm. B. Eerdmans Publishing, 2008 ISBN 0-8028-6269-1 Halaman 2-5
  84. ^ a b The Cambridge Companion to the Trinity, Peter C. Phan, 2011 ISBN 0521701139 Halaman 3-4
  85. ^ Elizabeth Lev, "Dimming the Pauline Spotlight; Jubilee Fruits" Zenit 2009-06-25
  86. ^ a b c Richardson, Alan, An Introduction to the Theology of the New Testament, SCM: 1961, Hlmn. 122f,158
  87. ^ a b The Trinity, Roger E. Olson, Christopher Alan Hall, 2002 ISBN 0802848273 Halaman 29-31
  88. ^ Tertullian, First Theologian of the West, Eric Osborn, 4 Desember 2003 ISBN 0521524954 Halaman 116-117
  89. ^ a b Systematic Theology, Louis Berkhof, 24 September 1996 ISBN 0802838200 Halaman 83
  90. ^ a b Oxford Dictionary of the Christian Church (1974), Cross & Livingstone (penyunting), art "Trinity, Doctrine of"
  91. ^ A Short History of Christian Doctrine, Bernhard Lohse, 1978 ISBN 0800613414 Halaman 37
  92. ^ Critical Terms for Religious Studies. Chicago: The University of Chicago Press, 1998. Credo Reference.27 Juli 2009
  93. ^ a b c The Trinity: Global Perspectives, Veli-Matti Kärkkäinen, 17 Januari 2007 ISBN 0664228909 Halaman 10-13
  94. ^ Global Dictionary of Theology, William A. Dyrness, Veli-Matti Kärkkäinen, Juan F. Martinez, dan Simon Chan, 10 Oktober 2008 ISBN 0830824545 Halaman 169-171
  95. ^ The International Standard Bible Encyclopedia, Geoffrey W. Bromiley, 1988 ISBN 0-8028-3785-9 Halaman 571-572
  96. ^ a b c d The Doctrine of God: A Global Introduction, Veli-Matti Kärkkäinen, 2004 ISBN 0801027527 Halaman 37-41
  97. ^ Symbols of Jesus, Robert C. Neville, 4 Februari 2002 (ISBN 0521003539) halaman 26-27
  98. ^ a b The Westminster Dictionary of Christian Theology, Alan Richardson & John Bowden, 1 Januari 1983 ISBN 0664227481 Halaman 101
  99. ^ a b c Historical Theology: An Introduction, Geoffrey W. Bromiley, 2000 ISBN 0567223574 Halaman 128-129
  100. ^ Christology: Biblical And Historical, Mini S. Johnson ISBN 8183240070 Halaman 307
  101. ^ The Ecumenical Councils of the Catholic Church: A History, Joseph F. Kelly, 1 September 2009 ISBN 0814653766 Halaman 19-22
  102. ^ a b Practical Christian Theology, Floyd H. Barackman, 1998 ISBN 0825423740 Halaman 149-151
  103. ^ Matthew, David L. Turner, 2008 ISBN 0-8010-2684-9 Halaman 613
  104. ^ a b Christian Theology, J. Glyndwr Harris, Maret 2002 ISBN 1902210220 Halaman 12-15
  105. ^ Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity, Larry W. Hurtado, 14 September 2005 ISBN 0802831672 Halaman 130-133
  106. ^ Historical Theology: An Introduction, Geoffrey W. Bromiley 2000 ISBN 0567223574 Halaman 50-51
  107. ^ Late Antiquity: A Guide to the Postclassical World, G. W. Bowersock, Peter Brown, dan Oleg Graba, 1999 ISBN 0674511735 Halaman 605
  108. ^ A Short History of Christian Doctrine, Bernhard Lohse, 5 Januari 1978 ISBN 0800613414 Halaman 90-93
  109. ^ The Westminster Dictionary of Christian Theology, Alan Richardson & John Bowden, 1 Januari 1983 ISBN 0664227481 Halaman 169
  110. ^ a b Introducing Christian Doctrine (edisi ke-2), Millard J. Erickson, 1 April 2001 ISBN 0801022509 Halaman 237-238
  111. ^ Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi, Karl Rahner, 28 Desember 2004 ISBN [[Special:BookSources/|]] Invalid ISBN Halaman 692-694
  112. ^ Untuk ayat-ayat Alkitabnya, baca: Roma 1:3, Roma 4, Galatia 4:4, Yohanes 1:1-14, Yohanes 5:18-25, Yohanes 10:30-38
  113. ^ Introduction to the Theology of Karl Barth, Geoffrey William Bromiley, 3 November 2000 ISBN 0567290549 Halaman 19
  114. ^ The Renewal of Trinitarian Theology: Themes, Patterns & Explorations, Roderick T. Leupp, 1 Oktober 2008 ISBN 0830828893 Halaman 31
  115. ^ a b c Kärkkäinen 2002, hlm. 120-121.
  116. ^ a b Systematic Theology Jld. 1, Wolfhart Pannenberg, 11 November 2004 ISBN 0567081788 Halaman 332
  117. ^ Invitation to Theology, Michael Jinkins, 26 Januari 2001 ISBN 0830815627 Halaman 60 & 134-135
  118. ^ Invitation to Theology, Michael Jinkins, 26 Januari 2001 ISBN 0830815627 Halaman 193
  119. ^ a b The mystery of the Triune God, John Joseph O'Donnell, 1988 ISBN 0-7220-5760-1 Halaman 75
  120. ^ The Wiersbe Bible Commentary: The Complete New Testament, Warren W. Wiersbe, 2007 ISBN 978-0-7814-4539-9 Halaman 471
  121. ^ a b Millard J. Erickson (1992). Introducing Christian Doctrine. Baker Book House. hlm. 265–270. 
  122. ^ Meskipun istilah "lahir baru" lebih sering dipakai umat Kristen Injili, sebagian besar denominasi Kristen memang berpandangan bahwa orang yang baru masuk Kristen adalah "ciptaan baru" dan "terlahir baru". Sebagai contoh, lih. Catholic Encyclopedia
  123. ^ The Holy Spirit and His Gifts, J. Oswald Sanders, Inter-Varsity Press, Bab 5
  124. ^ T C Hammond (1968). Wright, David F, ed. In Understanding be Men: A Handbook of Christian Doctrine (edisi ke-sixth). Inter-Varsity Press. hlm. 134. 
  125. ^ The Mystical Theology of the Eastern Orthodox Church, Vladimir Lossky ISBN halaman 77
  126. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama VaticanReason
  127. ^ Systematic Theology, Francis Schussler Fiorenza & John P. Galvin, 1 Mei 2011 ISBN 0800662911 halaman 193-194
  128. ^ a b The Oxford Dictionary of the Christian Church, Oxford University Press, 2005 ISBN 978-0-19-280290-3, artikel Trinity, doctrine of the
  129. ^ a b Trinitarian Soundings in Systematic Theology, Paul Louis Metzger, 2006 ISBN 0567084108 halaman 36 & 43
  130. ^ a b Encyclopedia of Protestantism, J. Gordon Melton, 2008 ISBN 0816077460 halaman 543
  131. ^ Insight on the Scriptures. 2. 1988. hlm. 1019. 
  132. ^ Dahl, Paul E. (1992). "Godhead". Dalam Ludlow, Daniel H. Encyclopedia of Mormonism. New York: Macmillan Publishing. hlm. 552–53. ISBN 0-02-879602-0. OCLC 24502140. .
  133. ^ "Oneness Pentecostalism: Heresy, Not Hairsplitting | Christian Research Institute". www.equip.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal November 18, 2020. Diakses tanggal 2020-11-19. 

Sumber[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]