Agama Yahudi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Interior gedung Sinagoga Spanyol di Praha, Republik Ceko

Agama Yahudi (dari kata Ibrani יהודה, Yehudah[1][2]) adalah agama asli bangsa Yahudi, agama Abrahamik kuno yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berpedoman kepada Kitab Taurat.[3] Agama ini merangkum seluruh kepercayaan, filsafat, dan kebudayaan bangsa Yahudi.[4] Bagi umat Yahudi yang taat, agama Yahudi merupakan wujud nyata dari perjanjian antara Tuhan dan Bani Israel.[5] Agama ini menyimpan khazanah susastra, amalan, wawasan teologi, dan tatanan organisasi yang kaya. Kitab Taurat adalah bagian dari khazanah susastra rohani yang terdiri atas kumpulan Tanak atau Alkitab Ibrani, dan kumpulan tradisi tutur yang baru dibukukan belakangan, semisal Midras dan Talmud. Dengan jumlah pemeluk sekitar 14,5 sampai 17,4 juta jiwa di seluruh dunia,[6] Agama Yahudi menempati urutan ke-10 dalam daftar agama besar dunia.

Ada bermacam-macam mazhab dalam agama Yahudi. Sebagian besar di antaranya berpangkal pada mazhab Yahudi Rabani, yang meyakini bahwa Tuhan mewahyukan syariat dan titah-titah-Nya kepada Musa di Tur Sina dalam bentuk lisan maupun tulisan.[7] Dari masa ke masa, ada saja golongan yang menyanggah seluruh atau sebagian dari keyakinan semacam ini, misalnya kaum Saduki dan kaum Yahudi Yunani pada zaman Haikal ke-2, kaum Yahudi Karayi dan kaum Yahudi Sabatayi pada awal dan akhir Abad Pertengahan,[8] serta mazhab-mazhab Yahudi non-Ortodoks pada Zaman Modern. Mazhab-mazhab modern, semisal mazhab Yahudi Humanis, dapat saja tidak mementingkan keimanan kepada Tuhan.[9] Mazhab-mazhab terbesar saat ini adalah Yahudi Ortodoks (Yahudi Haredi dan Yahudi Ortodoks Modern), Yahudi Konservatif, dan Yahudi Pembaharuan. Satu mazhab berbeda dengan mazhab lain dalam pendekatan terhadap syariat Yahudi, tradisi Rabani, dan arti penting negara Israel.[10] Mazhab Yahudi Ortodoks berkeyakinan bahwa Taurat maupun syariat Yahudi berasal dari Tuhan, bersifat kekal dan ajek, sehingga wajib dipatuhi. Mazhab Yahudi Konservatif dan Yahudi Pembaharuan berpandangan lebih liberal. Dibanding mazhab Yahudi Pembaharuan, mazhab Yahudi Konservatif pada umumnya mengusung tafsir yang lebih tradisional atas syariat Yahudi. Mazhab Yahudi Pembaharuan lazimnya berpendirian bahwa syariat Yahudi harus dipandang sebagai seperangkat pedoman umum alih-alih sebagai seperangkat larangan dan perintah yang wajib dipatuhi segenap umat Yahudi.[11][12] Di masa lampau ada mahkamah khusus bagi penegakan syariat Yahudi. Sekarang ini pun masih ada mahkamah-mahkamah syariat Yahudi, tetapi pengamalan syariat Yahudi kini lebih banyak bergantung pada kerelaan umat.[13] Wibawa keilmuan di bidang teologi dan syariat tidak ditumpukan pada satu pribadi atau lembaga tertentu, melainkan pada Kitab Suci dan para mufasir, yakni rabi-rabi dan alim-ulama.[14]

Agama Yahudi terlembagakan di Timur Tengah pada Zaman Perunggu,[15] bersumber dari kepercayaan yang dianut Bani Israel sekitar tahun 500 SM,[16] dan dipandang sebagai salah satu kepercayaan paling tua kepada Tuhan Yang Maha Esa.[17][18] Sebutan "orang Ibrani" maupun "Bani Israel" sudah tergantikan dengan istilah "orang Yahudi" dalam kitab-kitab Tanak terkemudian, misalnya Kitab Ester. Di dalam kitab ini, istilah "orang Yahudi" digunakan sebagai ganti istilah "Bani Israel".[19] Susastra, tradisi, dan nilai-nilai agama Yahudi berpengaruh besar terhadap agama-agama Abrahamik terkemudian, yakni agama Kristen, agama Islam, dan agama Baha'i.[20][21] Ada banyak unsur agama Yahudi yang turut mempengaruhi falsafah budi pekerti dan hukum sipil di luar ranah agama di Dunia Barat, baik secara langsung maupun tidak langsung.[22] Sebagaimana Yunanisme, Ibranisme juga merupakan salah satu faktor penting pembentuk peradaban Barat pada Abad Kuno, dan sebagai lingkungan yang melatarbelakangi kemunculan agama Kristen, agama Yahudi cukup banyak berjasa membentuk cita-cita mulia dan budi pekerti Dunia Barat sedari zaman Gereja Perdana.[23]

Umat Yahudi adalah kelompok etnoreligius[24] yang beranggotakan orang-orang Yahudi sejak lahir maupun orang-orang yang baru memeluk agama Yahudi. Pada tahun 2015, jumlah umat Yahudi sedunia diperkirakan mencapai 14,3 juta jiwa, atau kurang lebih 0,2% dari populasi dunia.[25] Dari jumlah keseluruhan ini, kira-kira 43% menetap di Israel, 43% lagi menetap di Amerika Serikat dan Kanada, sebagian besar dari sisanya menetap di Eropa, sementara selebihnya terserak di Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Australia.[25]

Keistimewaan dan rukun iman[sunting | sunting sumber]

Keistimewaan[sunting | sunting sumber]

Alkitab Kennicott, sebuah Tanak buatan Spanyol dari tahun 1476

Berbeda dari ilah-ilah yang dahulu kala disembah masyarakat Timur Dekat, Tuhan orang Ibrani dikatakan maha esa dan tiada duanya, sehingga mustahil menjalin hubungan dengan ilah lain, melainkan dengan makhluk-Nya sendiri, teristimewa manusia.[26] Dengan demikian agama Yahudi bermula dengan monoteisme etis, yakni mengimani bahwa Tuhan itu esa dan peduli pada tindak-tanduk manusia.[27] Menurut Tanak (Alkitab Ibrani), Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan Ia jadikan bangsa yang besar.[28] Setelah anak cucu Abraham beranak pinak menjadi bangsa Israel, Tuhan menurunkan perintah kepada mereka untuk mengasihi dan menyembah-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan perintah bagi umat Yahudi untuk menanggapi kepedulian Tuhan terhadap makhluk-Nya.[29] Tuhan juga menurunkan perintah kepada bangsa Israel untuk saling mengasihi satu sama lain, yang merupakan perintah bagi umat Yahudi untuk meneladani kecintaan Tuhan terhadap umat manusia.[30] Perintah-perintah ini hanyalah dua di antara sekian banyak titah dan syariat, yang merupakan isi perjanjian antara Tuhan dan Abraham beserta keturunannya. Perjanjian istimewa inilah yang menjadi inti sari agama Yahudi.

Oleh karena itu, kendati di dalam agama Yahudi terdapat tradisi suluk (kabalah), pakar susastra Rabani, Max Kadushin, menyifatkan agama Yahudi normatif sebagai "laku kebatinan normal", karena melibatkan penghayatan pribadi akan keberadaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang lumrah bagi semua umat Yahudi,[31] yakni menjalankan syariat (bahasa Ibrani: הֲלָכָה, halakah) dan melisankan doa syukur setiap kali menggenapi satu perintah Tuhan (bahasa Ibrani: ברכת המצוות, birkat ha mitswot).

Hal-hal dan kejadian-kejadian yang lumrah dan akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, merupakan kesempatan-kesempatan untuk menghayati keberadaan Tuhan. Hal-hal semisal rezeki sehari-hari, yang dinikmati pada hari itu juga, dirasakan sebagai wujud nyata kasih sayang Tuhan, sehingga menggugah orang untuk melisankan Berakot. Kedusyah, kekudusan, yang tidak lain dari tindakan meneladani Tuhan, erat kaitannya dengan perilaku sehari-hari, dengan sikap santun dan welas asih, dengan tindakan menghindari kenajisan akibat penyembahan berhala, zina, dan pertumpahan darah. Birkat Ha Mitswot menggugah kesadaran akan kekudusan dalam upacara ibadat Rabani, tetapi benda-benda yang digunakan dalam kebanyakan upacara ibadat ini tidaklah kudus dan sangat biasa, sementara beberapa benda kudus justru bukan sarana ibadat. Malah bukan hanya hal-hal dan kejadian-kejadian lumrah yang mampu menggugah penghayatan akan keberadaan Tuhan, melainkan juga segala sesuatu yang dialami seseorang, baik maupun buruk, karena ada juga Berakah yang dilisankan saat menerima kabar buruk. Oleh karena itu, sekalipun menghayati keberadaan Tuhan adalah pengalaman yang lain daripada yang lain, ada banyak sekali kesempatan untuk menyadari keberadaan-Nya, kendati kita hanya memperhitungkan hal-hal yang menggugah kita untuk melisankan Berakot.[32]

Sekalipun filsuf-filsuf Yahudi kerap berbantah soal Tuhan itu tasybih ataukah tanzih, dan soal manusia itu punya kehendak bebas ataukah sudah disuratkan takdirnya sejak semula, halakah tetap merupakan tatanan yang memungkinkan setiap orang Yahudi bertindak menghadirkan Tuhan ke dalam dunia.

Monoteisme etis menjiwai seluruh susastra suci maupun susastra syariat agama Yahudi. Kendati demikian, monoteisme tidaklah senantiasa diamalkan. Tanak memuat riwayat-riwayat serta kecaman-kecaman yang berulang kali dilontarkan terhadap maraknya penyembahan ilah lain oleh bangsa Israel pada masa lampau.[33] Pada zaman Gerika-Romawi, muncul berbagai macam tafsir atas keesaan Tuhan dalam agama Yahudi, termasuk tafsir-tafsir yang menjadi cikal bakal agama Kristen.[34]

Selain itu, ada pula pihak-pihak yang berpandangan bahwa agama Yahudi adalah agama tak bersyahadat, yang tidak mewajibkan pemeluknya untuk mengimani keberadaan Tuhan.[35][36] Bagi sebagian pihak, menjalankan syariat jauh lebih penting daripada mengimani keberadaan Tuhan itu sendiri.[37] Pada Zaman Modern, sejumlah mazhab agama Yahudi yang berhaluan liberal menolak gagasan tentang adanya ilah berpribadi yang aktif campur tangan dalam sejarah umat manusia.[38][39] Perihal ada tidaknya agama Yahudi asli atau agama Yahudi normatif bukan hanya menjadi pokok perbantahan di kalangan umat Yahudi yang taat beragama, melainkan juga di kalangan sejarawan.[40]

Rukun iman[sunting | sunting sumber]

13 rukun iman Yahudi:

  1. Aku percaya dengan segenap iman bahwa Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, adalah Khalik dan Pandu sekalian makhluk; Ia jua yang sudah, kini, dan kelak mencipta segala-galanya.
  2. Aku percaya dengan segenap iman bahwa Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, adalah Yang Maha Esa, dan tiada keesaan serupa keesaan-Nya; Ia jua yang sudah, kini, dan kelak kita pertuhan.
  3. Aku percaya dengan segenap iman bahwa Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, tidak berjasad, lepas dari segala sifat kebendaan, dan mustahil dibandingkan dengan apa pun jua.
  4. Aku percaya dengan segenap iman bahwa Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, adalah Yang Awal dan Yang Akhir.
  5. Aku percaya dengan segenap iman bahwa kepada Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, dan hanya kepada-Nya jua, sepatutnya kita berdoa, dan tidaklah patut kita berdoa selain kepada-Nya.
  6. Aku percaya dengan segenap iman bahwa benar belaka segala sabda sekalian anbiya.
  7. Aku percaya dengan segenap iman bahwa benar belaka nubuat mualim kita, Musa Alaihissalam, dan bahwa dialah Sayidul Anbiya, baik yang mendahului maupun yang menyusulnya.
  8. Aku percaya dengan segenap iman bahwa seisi Taurat yang ada pada kita sekarang ini, sama belaka dengan Taurat yang diwahyukan kepada mualim kita, Musa Alaihissalam.
  9. Aku percaya dengan segenap iman bahwa Taurat ini tidak akan berubah, dan tidak ada lagi Taurat lain yang akan diwahyukan Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya.
  10. Aku percaya dengan segenap iman bahwa Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, adalah Yang Maha Tahu akan segala amal perbuatan dan isi hati manusia, sebagaimana tertulis, "Dialah yang membentuk hati mereka, yang menilik segala amal perbuatan mereka" (Mazmur 33:15).
  11. Aku percaya dengan segenap iman bahwa Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, memberi pahala kepada orang-orang yang mematuhi titah-titah-Nya, dan menghukum orang-orang yang mengingkari titah-titah-Nya.
  12. Aku percaya dengan segenap iman akan kedatangan Al Masih, dan sekiranya ia bertangguh-tangguh, aku siap sedia menunggu setiap hari.
  13. Aku percaya dengan segenap iman bahwa sekalian ahli kubur akan bangkit pada saat yang berkenan kepada Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, besarlah kemasyhuran-Nya sampai selama-lamanya.
Rabi Musa bin Maimun

Sepanjang sejarah, alim-ulama Yahudi sudah menghasilkan berbagai rumusan pokok-pokok keimanan agama Yahudi, tak satu pun rumusan yang lolos dari kritik.[41] Rumusan terpopuler adalah 13 rukun iman Yahudi yang disusun Rabi Musa bin Maimun (bahasa Ibrani: רבי משה בן מימון, Rabi Mosye ben Maimon) pada abad ke-12. Menurut Rabi Musa bin Maimun, orang Yahudi yang mengingkari salah satu dari rukun-rukun iman ini dapat dianggap sudah murtad dan menyimpang dari iman yang lurus.[42][43] Alim-ulama Yahudi menganut pandangan-pandangan lain yang sedikit banyak menyimpang dari rukun-rukun iman Rabi Musa bin Maimun.[44][45]

Saat Rabi Musa bin Maimun masih hidup pun daftar rukun iman yang disusunnya sudah mendapat kecaman dari Rabi Hasdai Kreskes dan Rabi Yosef Albo. Menurut Rabi Yosef Albo dan Rabi Abraham bin Daud, rukun-rukun iman yang disusun Rabi Musa bin Maimun mengandung terlalu banyak unsur yang tidak bersifat asasi dalam agama Yahudi, kendati benar.

Sejalan dengan pendapat ini, sejarawan Yahudi pada Abad Kuno, Flavius Yosefus, juga lebih mementingkan pengamalan serta kepatuhan pada syariat daripada keimanan. Ia memaknai murtad sebagai kegagalan mematuhi syariat, dan menegaskan bahwa syarat-syarat masuk agama Yahudi harus mencakup khitan dan ketaatan pada adat-istiadat Yahudi. Rukun-rukun iman yang disusun Rabi Musa bin Maimun lebih sering diabaikan selama beberapa abad.[46] Kemudian hari, dua saduran puitis dari rukun-rukun iman ini (Ani Ma'amin dan Yigdal) dimasukkan ke dalam tata ibadat Yahudi,[47] sehingga akhirnya diterima oleh hampir semua umat Yahudi sedunia.[48][49]

Pada Zaman Modern, agama Yahudi tidak memiliki lembaga keulamaan terpusat yang berwenang mengeluarkan fatwa mengenai rukun iman,[14][50] sehingga muncul beragam variasi rumusan rukun iman Yahudi.[44] Sekalipun demikian, semua mazhab agama Yahudi sedikit banyak didasarkan atas asas-asas keimanan yang termaktub dalam Alkitab Ibrani dan kitab-kitab ulasannya, semisal Talmud dan Midras. Semua mazhab agama Yahudi juga mengakui wujudnya perjanjian antara Tuhan dan Abraham Sang Pitarah, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Kitab Suci, serta aspek-aspek dari perjanjian tersebut yang diwariskan turun-temurun, sebagaimana yang diwahyukan kepada Musa, nabi terbesar dalam agama Yahudi.[44][51][52][53][54] Di dalam Misnah, salah satu pustaka utama Yahudi Rabani, pengakuan bahwa perjanjian ini bersumber dari Tuhan dianggap sebagai aspek hakiki agama Yahudi, dan orang-orang yang mengingkari perjanjian ini dianggap telah menyia-nyiakan peluang mereka untuk selamat di akhirat.[55]

Menetapkan rukun-rukun iman Yahudi pada Zaman Modern justru lebih sulit lagi, mengingat sudah sedemikian banyak dan beragamnya mazhab agama Yahudi sekarang ini. Sekalipun ruang lingkupnya dibatasi pada kecenderungan-kecenderungan intelektual yang paling berpengaruh pada abad ke-19 dan ke-20, urusan ini tetap saja ruwet. Sebagai gambaran, tanggapan Rabi Joseph Soloveitchik (dianggap sebagai tokoh mazhab Yahudi Ortodoks Modern) terhadap modernitas didasarkan atas pengidentikan agama Yahudi dengan pelaksanaan syariat, yang tujuan akhirnya adalah menghadirkan kekudusan ke dalam dunia. Rabi Mordecai Kaplan, pendiri mazhab Yahudi Rekonstruksionistis, meninggalkan gagasan agama Yahudi sebagai suatu kepercayaan kepada Tuhan demi mengidentikkannya dengan peradaban, dan melalui pandangan bahwa agama Yahudi adalah suatu peradaban serta melalui penerjemahan gagasan-gagasan pokok agama Yahudi menjadi gagasan-gagasan yang tidak berkaitan dengan agama, ia berusaha merangkul sebanyak mungkin mazhab agama Yahudi. Sebaliknya, mazhab Yahudi Konservatif Rabi Solomon Schechter identik dengan tradisi yang dipahami sebagai tafsir atas Taurat, yang pada hakikatnya merupakan sejarah pemutakhiran dan penyesuaian secara terus-menerus atas hukum Musa melalui tafsir kreatif. Yang terakhir, Rabi David Philipson menetapkan garis-garis besar mazhab Yahudi Pembaharuan dengan mempertentangkan mazhab ini dengan pendekatan mazhab Yahudi Rabani yang tradisional dan ketat, sehingga sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang serupa dengan kesimpulan-kesimpulan mazhab Yahudi Konservatif.[56]

Khazanah susatra[sunting | sunting sumber]

Kodeks Aleppo, Tanak buatan Tiberias pada abad ke-10
Seorang pria mengangkat tinggi-tinggi Sifrut Taurat khas Yahudi Sefardi di dekat Tembok Ratapan, Yerusalem

Berikut ini adalah senarai dasar susastra utama seputar amalan dan gagasan agama Yahudi.

Sejumlah besar susastra Yahudi tradisional tersedia daring di berbagai basis data Taurat (versi elektronik dari khazanah susastra Yahudi tradisional). Banyak yang dilengkapi dengan opsi pencarian lanjutan.

Susastra syariat[sunting | sunting sumber]

Landasan hukum dan adat-istiadat Yahudi (halakah) adalah Taurat (Pancasastra). Menurut tradisi Rabani, Taurat mengandung 613 butir titah. Ada titah-titah yang hanya berlaku bagi kaum lelaki atau kaum perempuan, ada yang hanya berlaku bagi puak-puak imam, yakni Kohanim dan Lewiyim (warga suku Lewi), dan ada pula yang hanya berlaku bagi kaum tani di Tanah Israel. Ada banyak titah yang hanya berlaku selama Haikal Yerusalem masih berdiri, dan hanya 369 butir titah yang masih dapat diberlakukan sekarang ini.[58]

Kendati ada golongan yang hanya berpedoman kepada ayat-ayat tersurat dalam Taurat (misalnya kaum Saduki dan kaum Karayi), sebagian besar umat Yahudi juga berpedoman kepada hukum lisan, yang dilestarikan dalam bentuk tutur dari generasi ke generasi oleh kaum Farisi, dan kelak dibukukan sekaligus dijabarkan lebih lanjut oleh para rabi.

Menurut tradisi Rabani, Tuhan menurunkan hukum-hukum-Nya kepada Musa di Tur Sina dalam bentuk tulisan (Taurat) maupun lisan (hukum lisan). Hukum lisan adalah tradisi tutur yang diturunkan Tuhan kepada Musa, dan dari Musa diturunkan serta diajarkan kepada alim-ulama besar (tokoh-tokoh Yahudi Rabani) dari generasi ke generasi.

Selama berabad-abad, Taurat hanya dipandang sebagai suratan ayat-ayat yang diwariskan turun-temurun bersama-sama tradisi tutur. Lantaran khawatir ajaran-ajaran dalam bentuk tutur akan lekang dari ingatan orang, Rabi Yehudah Ha Nasi pun berusaha menghimpun berbagai macam pendapat ulama dalam satu kitab hukum yang kelak dikenal dengan sebutan Misnah.[59]

Misnah terdiri atas 63 risalah hukum Yahudi, yang merupakan dasar dari kitab Talmud. Menurut Rabi Abraham bin Daud, Misnah dihimpun oleh Rabi Yehudah Ha Nasi sesudah Yerusalem diluluhlantakkan pada tahun 3949 berdasarkan perhitungan tarikh Dunia, atau pada tahun 189 berdasarkan perhitungan tarikh Masehi.[60]

Selama empat abad berikutnya, Misnah dibahas dan diperdebatkan oleh komunitas-komunitas utama umat Yahudi, yakni di Israel dan di Babel. Ulasan-ulasan dari masing-masing komunitas pada akhirnya dibukukan menjadi dua kitab Talmud, yakni Talmud Yerusalem (Talmud Yerusyalmi) dan Talmud Babel (Talmud Babli). Isi kedua kitab Talmud ini selanjutnya dijabarkan lagi dengan ulasan-ulasan alim-ulama Taurat dari abad ke abad.

Ayat-ayat Taurat mengandung banyak kata yang dibiarkan tak terpahami artinya, dan banyak prosedur yang tidak disertai penjelasan maupun petunjuk. Fenomena semacam ini adakalanya digunakan untuk membenarkan pandangan yang mengatakan bahwa hukum tertulis sejak semula diwariskan berbarengan dengan tradisi tutur yang berkaitan dengannya. Menurut pandangan ini, pembaca Taurat mampu memahami ayat-ayat yang dibaca karena sudah mengetahui penjabarannya dari sumber lain, yakni sumber-sumber lisan.[61]

Dengan demikian, Halakah, syariat warisan para rabi, berlandaskan perpaduan pembacaan Taurat dan tradisi tutur, yakni Misnah, Midras Halakah, dan Talmud beserta ulasan-ulasannya. Halakah berkembang perlahan-lahan, melalui suatu sistem berbasis preseden. Susastra yang memuat pertanyaan-pertanyaan kepada para rabi berikut jawaban-jawabannya disebut Soal Jawab (bahasa Ibrani: שאלות ותשובות, sye'elot u'tesyubot). Seiring perjalanan waktu dan perkembangan amalan ini, hukum-hukum agama Yahudi pun dirumuskan dan dibukukan dengan berpedoman kepada Soal Jawab. Kitab hukum yang paling utama, yakni Syulhan Aruk, sangat mempengaruhi amalan Yahudi Ortodoks sekarang ini.

Filsafat Yahudi[sunting | sunting sumber]

Patung Musa bin Maimun di Kordoba, Spanyol

Filsafat Yahudi mengacu pada pertembungan ilmu filsafat dengan ilmu teologi Yahudi. Filsuf-filsuf besar Yahudi antara lain adalah Sulaiman bin Jabirul, Said bin Yusuf Al Fayumi, Yahuda Al Lawi, Musa bin Maimun, dan Lewi bin Jarsun. Perubahan-perubahan besar yang muncul sebagai tanggapan terhadap gerakan Pencerahan (akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19) melahirkan filsuf-filsuf Yahudi pasca-Pencerahan. Filsafat Yahudi modern terdiri atas filfasat-filsafat yang berhaluan Ortodoks maupun non-Ortodoks. Filsuf-filsuf Yahudi Ortodoks terkemuka antara lain adalah Eliyahu Eliezer Dessler, Joseph B. Soloveitchik, dan Yitzchok Hutner. Filsuf-filsuf Yahudi non-Ortodoks terkemuka antara lain adalah Martin Buber, Franz Rosenzweig, Mordecai Kaplan, Abraham Joshua Heschel, Will Herberg, dan Emmanuel Lévinas.

Ilmu tafsir Rabani[sunting | sunting sumber]

13 asas ilmu tafsir:

  1. Hukum yang berlaku dengan persyaratan-persyaratan tertentu, niscaya berlaku pula pada keadaan-keadaan lain yang memenuhi persyaratan-persyaratan serupa dalam bentuk yang lebih genting.
  2. Hukum yang berlaku pada satu keadaan, dapat pula berlaku pada keadaan lain, jika ayat hukum menyifatkan kedua keadaan tersebut dengan ketentuan-ketentuan yang sama.
  3. Hukum yang jelas-jelas mengungkapkan maksud yang hendak dicapai dengan pemberlakuannya, dapat pula berlaku pada keadaan-keadaan lain yang memungkinkan tercapainya maksud yang sama.
  4. Jika suatu aturan umum diikuti oleh aturan-aturan penjelasan khusus, maka hanya aturan-aturan khusus itu saja yang dicakupinya.
  5. Hukum yang diawali pemerincian perkara-perkara khusus, dan diakhiri penyamarataan yang mencakup banyak perkara, dapat pula berlaku atas perkara-perkara khusus yang tidak diperinci di dalamnya, tetapi secara logis tercakup dalam penyamarataannya.
  6. Hukum yang diawali penyamarataan terkait maksud yang hendak dicapai dengan pemberlakuannya, dan diakhiri pemerincian perkara-perkara khusus, hanya dapat berlaku atas perkara-perkara khusus yang diperincinya.
  7. Aturan-aturan yang berkenaan dengan suatu penyamarataan, yang diikuti atau didahului oleh perincian-perincian khusus (asas ke-4 dan ke-5), tidak dapat berlaku jika ternyata perkara-perkara khusus atau pernyataan penyamarataannya semata-mata bermaksud membuat kalimat-kalimatnya lebih mudah dipahami.
  8. Perkara khusus yang sudah tercakup dalam suatu penyamarataan, tetapi diperlakukan secara terpisah, menyiratkan bahwa perlakuan terpisah yang sama dapat pula diterapkan atas semua perkara lain yang tercakup dalam penyamarataan tersebut.
  9. Hukuman yang diperinci untuk suatu kategori pelanggaran umum tidak serta-merta dapat diberlakukan atas suatu perkara khusus yang dikeluarkan dari pelanggaran umum tersebut untuk dilarang secara khusus, tetapi tidak disertai keterangan mengenai hukuman atas pelanggarannya.
  10. Larangan umum yang diikuti suatu perincian hukuman dapat diberlakukan atas suatu perkara khusus, yang lazimnya tercakup dalam penyamarataan, dengan penyesuaian terhadap hukumannya, baik penyesuaian yang memperingan maupun penyesuaian yang memperberat.
  11. Perkara yang secara logis tercakup dalam suatu hukum umum, tetapi diperlakukan secara terpisah, tetap berada di luar cakupan hukum umum tersebut, kecuali pada kesempatan-kesempatan tertentu di mana perkara yang dimaksud secara khusus tercakup di dalam hukum umum tersebut.
  12. Ketidakjelasan ayat-ayat Alkitab dapat dijernihkan oleh konteks langsungnya atau oleh ayat-ayat susulannya.
  13. Pertentangan antarayat Alkitab dapat ditiadakan dengan perantaraan ayat-ayat lain.
Rabi Ismael[62]

Umat Yahudi yang bermazhab Yahudi Ortodoks dan sejumlah besar umat Yahudi dari berbagai mazhab lain percaya bahwa wahyu Taurat tidaklah semata-mata terdiri atas huruf-huruf tersurat, melainkan terdiri pula atas tafsir-tafsirnya. Dalam agama Yahudi, mengkaji Taurat (dalam makna yang paling luas, mencakup puisi, narasi, dan hukum, serta Alkitab Ibrani dan Talmud) adalah seni suci yang mahapenting. Oleh karena itu, bagi para ulama besar Misnah dan Talmud, serta para penerus mereka sekarang ini, mengkaji Taurat bukanlah semata-mata suatu sarana untuk memahami wahyu Tuhan, melainkan justru suatu tujuan akhir yang hendak dicapai. Menurut Talmud,

Perkara-perkara yang mendatangkan bunga pahala untuk dinikmati di dunia dan pokok pahala untuk dinikmati di akhirat adalah menghormati kedua orang tua, mencintai perbuatan-perbuatan baik, dan mendamaikan satu orang dengan orang lain. Akan tetapi mengkaji Taurat setara dengan ketiga-tiganya. (Talmud Sabat 127a).

Dalam agama Yahudi, "mengkaji Taurat dapat menjadi sarana untuk menghayati keberadaan Tuhan".[63] Sehubungan dengan sumbangsih para Amoraim dan Tanaim (alim-ulama terdahulu) bagi agama Yahudi masa kini, Profesor Jacob Neusner mengemukakan bahwa:

Telaah logis dan rasional rabi bukanlah pemubaziran logika belaka, melainkan usaha yang teramat bersungguh-sungguh dan substantif untuk mengubek-ubek hal-hal kurang penting demi menemukan asas-asas hakiki dari kehendak Tuhan yang terwahyukan guna mengarahkan dan menguduskan tindakan-tindakan yang paling tertentu dan konkret dalam kehidupan sehari-hari di duniawi ini .... Berikut ini adalah misteri ajaran Yahudi Talmud, yaitu keyakinan teguh yang asing dan jauh bahwa nalar bukanlah perkakas ketidakyakinan dan penghilangan kesakralan, melainkan perkakas pengudusan."[64]

Dengan demikian, mengkaji Taurat Tersurat dengan bantuan Taurat Tutur serta mengkaji Taurat Tutur dengan bantuan Taurat Tersurat adalah juga mengkaji cara mengkaji firman Tuhan.

Dalam mengkaji Taurat, alim-ulama besar merumuskan dan mengikuti berbagai asas logika dan ilmu tafsir. Menurut David Stern, seluruh ilmu tafsir Rabani dilandaskan pada dua aksioma asasi, yakni:

Yang pertama, kepercayaan akan kemahapentingan Kitab Suci, akan kebermaknaan tiap-tiap kata, aksara, bahkan juga (menurut salah satu laporan terkenal) tanda-tanda tambahan yang dibubuhkan juru tulis; yang kedua, klaim tentang kesatuan hakiki Kitab Suci sebagai wujud nyata kehendak ilahi yang tunggal.[65]

Dua asas ini memungkinkan munculnya beraneka ragam tafsir. Menurut Talmud,

Satu ayat mengandung beberapa makna, tetapi tidak ada dua ayat yang bermakna sama. Di perguruan Rabi Ismael diajarkan bahwa, 'bukankah firman-Ku laksana api, demikian firman Tuhan, dan laksana godam yang meremukkan cadas?' (Yeremia 23:29). Sebagaimana godam mencetuskan sekaligus beberapa percik bunga api tatkala menghantam cadas, demikian pula satu ayat mengandung beberapa makna sekaligus." (Talmud Sanhedrin 34a).

Oleh karena itu umat Yahudi yang taat beragama menganggap Taurat bersifat dinamis, karena mengandung begitu banyak tafsiran di dalamnya.[66]

Menurut tradisi Rabani, semua tafsiran Taurat Tersurat telah diwahyukan kepada Musa di Tur Sina dalam bentuk lisan, dan diwariskan turun-temurun dari guru kepada murid, oleh karena itu wahyu lisan sama tuanya dengan Talmud itu sendiri. Bilamana mewariskan tafsir yang bertentangan dengan tafsir rabi lain, para rabi adakalanya merujuk kepada asas-asas ilmu tafsir guna melegitimasi dalil-dalil mereka; sejumlah rabi mengklaim bahwa asas-asas ini pun diwahyukan Tuhan kepada Musa di Tur Sina.[67]

Oleh karena itu, Rabi Hillel mengemukakan tujuh asas ilmu tafsir yang lazim digunakan dalam penafsiran hukum-hukum (baraita pada permulaan Sifra), dan Rabi Ismael mengemukakan tiga belas asas (baraita pada permulaan Sifra, asas-asas Rabi Ismael sebagian besar merupakan pengayaan asas-asas Rabi Hilel),[68] sementara Rabi Eliezer ben Yose Ha Gelili mengemukakan 32 asas, yang lebih banyak dipakai dalam tafsir penjabaran unsur-unsur naratif dari Taurat. Semua aturan ilmu tafsir yang tersebar di berbagai bagian Talmud-Talmud dan Midras-midras telah dihimpun oleh Rabi Malbim dalam Ayelet Ha Syahar (Bintang Kejora), pengantar kepada ulasannya atas Sifra. Bagaimanapun juga, 13 asas Rabi Ismael mungkin merupakan asas-asas yang paling terkenal. Asas-asas Rabi Ismael merupakan sumbangsih penting sekaligus salah satu sumbangsih terawal dari agama Yahudi bagi ilmu logika, ilmu tafsir, dan ilmu teori hukum.[69] Yehudah Hadasi memasukkan asas-asas Rabi Ismael ke dalam ajaran mazhab Yahudi Karayi pada abad ke-12.[70] Ketiga belas asas Rabi Ismael kini dimasukkan ke dalam buku sembahyang Yahudi agar dapat dibaca setiap hari oleh umat Yahudi yang taat beragama.[71][72][73][74]

Jati diri[sunting | sunting sumber]

Asal usul istilah "agama Yahudi"[sunting | sunting sumber]

Kaum Makabe karya Wojciech Stattler (1842)

Istilah "Yahudi" dalam bahasa Indonesia diturunkan dari kata Arab اليهودي, Al Yahudi, yang juga berasal dari kata Ibrani יְהוּדִי, Yehudi, artinya "orang Yehuda". Frasa "agama Yahudi" adalah padanan untuk kata Iudaismus, bentuk Latin dari kata Yunani Ἰουδαϊσμός, Ioudaismos (dibentuk dari kata kerja ἰουδαΐζειν, ioudaizein, yang berarti "memihak atau menyerupai orang Yudea").[75] Cikal bakal kata ini adalah kata Ibrani יהודה, Yehudah,[1][76] yang juga adalah cikal bakal dari kata Ibrani untuk agama Yahudi, yakni יַהֲדוּת, Yahadut. Istilah Ioudaismos pertama kali muncul dalam Kitab 2 Makabe, yang ditulis pada abad ke-2 SM. Sesuai dengan konteks zamannya, istilah ini menyiratkan usaha "mencari atau membentuk jati diri budaya" bangsa,[77] sebagaimana kebalikannya, Helenismos (Ἑλληνισμός), menyiratkan ketertundukan bangsa kepada adat-istiadat Yunani. Konflik antara Iudaismos dan Helenismos melatarbelakangi Pemberontakan Makabe, dan oleh karena itu juga melatarbelakangi kemunculan istilah Iudaismos.[77]

Dalam bukunya yang berjudul The Beginnings of Jewishness, Shaye J. D. Cohen mengemukakan bahwa:

Tentu saja kita tergoda untuk menerjemahkan Ioudaïsmós menjadi "agama Yahudi," tetapi terjemahan ini terlalu sempit, karena ketika pertama kali muncul, istilah Ioudaïsmós belum digunakan sebagai sebutan bagi suatu agama. Istilah ini justru berarti "himpunan seluruh karakteristik yang membuat orang-orang Yudea layak disebut orang Yudea (atau membuat orang-orang Yahudi layak disebut orang Yahudi)." Himpunan karakteristik ini tentu saja mencakup pula amalan-amalan dan keyakinan-keyakinan yang sekarang ini kita sebut "agama," tetapi amalan-amalan dan keyakinan-keyakinan bukanlah satu-satunya cakupan istilah ini. Jadi, Ioudaïsmós seharusnya bukan diterjemahkan menjadi "Agama Yahudi" melainkan Keyudeaan.[78]

Beda antara Yahudi selaku bangsa dan Yahudi selaku agama[sunting | sunting sumber]

Menurut Daniel Boyarin, perbedaan hakiki antara kebangsaan dan agama tidaklah dikenal dalam agama Yahudi, malah merupakan salah satu wujud nyata paham dualisme jasmani-rohani dari ajaran filsafat Plato yang berhasil menyusup masuk ke dalam ajaran-ajaran Yahudi Yunani.[79] Oleh karena itu, ia berpandangan bahwa agama Yahudi tidaklah mudah dimasukkan ke dalam kategori-kategori yang sudah lumrah di Dunia Barat, semisal agama, suku bangsa, maupun kebudayaan. Menurut Daniel Boyarin, hal ini antara lain mencerminkan kenyataan bahwa sebagian besar dari sejarah agama Yahudi, yang sudah berumur lebih dari 3000 tahun itu, terjadi sebelum kebangkitan budaya Barat, dan berlangsung di luar Dunia Barat (Eropa, khususnya Eropa pada Abad Pertengahan dan Zaman Modern). Sepanjang perjalanan sejarahnya, bangsa Yahudi mengalami sendiri bagaimana rasanya diperbudak, membentuk pemerintahan sendiri yang bersifat anarkis dan teokratis, melancarkan aksi penaklukan, dijajah, dan menjadi orang buangan. Di luar tanah leluhur, mereka mengenal dan terpapar budaya Mesir, Babel, Persia, serta Yunani, maupun gerakan-gerakan Zaman Modern semisal gerakan Pencerahan (baca artikel Haskalah) dan gerakan Kebangkitan Nasional, yang kelak membuahkan pendirian negara bangsa Yahudi di tanah leluhur mereka, Tanah Israel. Bangsa Yahudi juga menyaksikan bagaimana agama mereka diterima dan dipeluk oleh suatu bangsa yang besar dan terkemuka (bangsa Kazar), tetapi kemudian sirna begitu saja setelah negeri bangsa besar ini jatuh ke tangan bangsa Rus, kemudian ke tangan bangsa Mongol. Oleh karena itu, Daniel Boyarin berpandangan bahwa "keyahudian mendobrak batasan kategori-kategori jati diri, karena Yahudi bukan sekadar bangsa, bukan sekadar nasab, dan bukan sekadar agama, melainkan semua-muanya, dalam ketegangan dialektis."[80]

Bertolak belakang dengan pandangan ini, mazhab-mazhab semisal Yahudi Humanis justru menolak aspek religi dari keyahudian, dan hanya mempertahankan tradisi-tradisi budaya tertentu.

Siapa itu orang Yahudi[sunting | sunting sumber]

Menurut pandangan Yahudi Rabani, orang Yahudi adalah siapa saja yang beribu kandung seorang Yahudi, dan siapa saja yang masuk Yahudi seturut syariat agama Yahudi. Menurut pandangan Yahudi Rekonstruksionistis dan Yahudi Pembaharuan, orang Yahudi adalah siapa saja yang beribu atau berayah kandung seorang Yahudi, dan dibesarkan sebagai orang Yahudi oleh orang tuanya. Semua mazhab utama agama Yahudi kini membuka pintunya bagi siapa saja yang berniat memeluk agama Yahudi, kendati umat Yahudi sudah turun-temurun diimbau sejak zaman Talmud untuk tidak menerima pemeluk baru. Proses yang dilakoni seseorang untuk berpindah keyakinan ke agama Yahudi dengan cermat ditelaah oleh pihak yang berwenang, demikian pula ketulusan niat serta pengetahuan yang bersangkutan tentang agama Yahudi.[81] Seorang Yahudi pemula disebut ben Abraham (Abrahamputra) atau bat Abraham (Abrahamputri). Adakalanya perpindahan agama malah dimentahkan kembali oleh pihak berwenang. Pada tahun 2008, pengadilan tinggi agama di Israel membatalkan perpindahan 40.000 orang ke dalam agama Yahudi, sekalipun sudah dinyatakan sahih oleh seorang rabi Yahudi Ortodoks. Sebagian besar dari mereka adalah keluarga-keluarga imigran dari Rusia.[82]

Menurut pandangan Yahudi Rabani, begitu seseorang menjadi Yahudi, baik karena terlahir Yahudi maupun karena masuk Yahudi, sampai mati ia tetap Yahudi. Dengan demikian, orang Yahudi yang mengaku ateis atau sudah berganti agama tetap saja diakui sebagai orang Yahudi menurut pandangan tradisional dalam agama Yahudi. Menurut beberapa sumber, mazhab Yahudi Pembaharuan berpendirian bahwa orang Yahudi yang pindah ke agama lain sudah bukan lagi orang Yahudi.[83] Pendirian yang sama juga dijadikan pedoman oleh pemerintah Israel dalam penuntasan perkara dan statuta di Mahkamah Agung.[84] Sekalipun demikian, mazhab Yahudi Pembaharuan menjelaskan bahwa pendirian semacam ini tidak boleh diamalkan secara kaku, karena situasi-situasi yang berbeda memerlukan penanganan yang berbeda pula. Sebagai contoh, orang-orang Yahudi yang murtad di bawah paksaan dapat diizinkan kembali memeluk agama Yahudi "tanpa syarat selain niat yang tulus untuk bersatu kembali dengan komunitas Yahudi", dan "orang yang pernah masuk Yahudi lalu murtad tetap saja terhitung Yahudi".[85]

Umat Yahudi Karayi percaya bahwa jati diri keyahudian hanya dapat diwarisi seseorang dari ayah kandungnya, kendati sekarang ini banyak yang percaya bahwa jati diri keyahudian diwarisi seseorang dari kedua orang tua kandungnya, bukan ayah saja. Menurut umat Yahudi Karayi, jati diri keyahudian hanya dapat diwariskan dari ayah kepada putra kandung karena semua alur silsilah yang dijabarkan di dalam kitab Taurat adalah alur silsilah laki-laki.[86]

Persoalan tentang hal-hal yang menentukan Yahudi tidaknya seseorang di Negara Israel kembali ramai dibahas tatkala David Ben-Gurion meminta fatwa perihal mihu Yehudi ("siapa itu orang Yahudi") dari para pemuka agama dan alim-ulama Yahudi sedunia pada era 1950-an dalam rangka menuntaskan masalah-masalah kewarganegaraan. Persoalan ini tak kunjung tuntas, dan sesekali mencuat kembali di tengah pusaran politik Israel.

Pemahaman tentang identitas Yahudi secara turun-temurun berpedoman kepada ketentuan syariat bahwa orang Yahudi adalah setiap orang yang beribu kandung seorang Yahudi atau menjadi pemeluk agama Yahudi menurut aturan syariat. Definisi-definisi terkait "siapa itu orang Yahudi" sudah dirumuskan semenjak Taurat Tutur dituangkan secara tertulis ke dalam Talmud Babel sekitar tahun 200 tarikh Masehi. Tafsir-tarsif atas bagian-bagian tertentu dari Tanak, semisal Keluaran 7:1–5, oleh alim-ulama Yahudi terkemuka, digunakan sebagai peringatan kepada umat Yahudi untuk menghindari amalan kawin campur dengan orang Kanaan, karena suami non-Yahudi "akan membuat anak-anakmu berpaling dari Aku dan memuja ilah bangsa-bangsa lain." Imamat 24:10 menetapkan bahwa anak laki-laki yang lahir dari perkawinan seorang perempuan Ibrani dengan seorang laki-laki Mesir "terhitung sebagai orang Israel." Dalil ini dikuatkan oleh ayat-ayat Ezra 10:2–3, yang meriwayatkan ikrar orang Israel untuk meninggalkan istri-istri dari bangsa lain berikut anak-anak yang mereka lahirkan.[87][88] Ada teori populer bahwa pemerkosaan terhadap kaum perempuan Yahudi semasa hidup di tanah pembuangan adalah cikal bakal dari ketentuan bahwa orang Yahudi adalah orang yang beribu kandung seorang Yahudi, tetapi teori ini ditentang oleh para ulama dengan dalil bahwa hukum ini sudah ditetapkan di dalam Talmud sebelum zaman pembuangan.[89][90] Tafsir-tafsir identitas keyahudian berdasarkan syariat mulai disanggah semenjak munculnya gerakan Haskalah yang bersifat antiagama pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19.[91]

Demografi Yahudi[sunting | sunting sumber]

Jumlah umat Yahudi sedunia sukar untuk dipastikan lantaran adanya kesimpangsiuran dalam penentuan "siapa itu orang Yahudi". Tidak semua orang Yahudi mengaku Yahudi, dan sebagian pihak yang mengaku Yahudi justru tidak dianggap Yahudi oleh sesama orang Yahudi. Menurut Buku Tahunan Yahudi edisi 1901, populasi umat Yahudi sedunia pada tahun 1900 mencapai sekitar 11 juta jiwa. Data termutakhir disajikan oleh Survei Populasi Yahudi Sedunia tahun 2002 dan Kalender Yahudi tahun 2005. Menurut Survei Populasi Yahudi Sedunia, jumlah keseluruhan umat Yahudi pada tahun 2002 mencapai 13,3 juta Jiwa. Menurut Kalender Yahudi, jumlah umat Yahudi sedunia pada tahun 2005 mencapai 14,6 juta jiwa. Angka pertumbuhan populasi Yahudi sekarang ini hampir mendekati nol persen, yakni 0,3% dari tahun 2000 sampai 2001.

Mazhab-mazhab[sunting | sunting sumber]

Yahudi Rabani[sunting | sunting sumber]

Dua pasang suami-istri Yahudi Haredi menanti bis di sebuah halte di Yerusalem
Seorang perempuan Yahudi Pembaharuan berdoa dengan mengenakan talit dan tefilin yang menurut tradisi hanya boleh dikenakan oleh kaum lelaki

Yahudi Rabani (bahasa Ibrani: יהדות רבנית, Yahadut Rabanit) adalah mazhab utama agama Yahudi semenjak abad ke-6 tarikh masehi, sesudah penyusunan kitab Talmud. Ciri khas mazhab ini adalah keyakinan bahwa Taurat Tersurat (hukum tertulis) tidak dapat ditafsirkan dengan benar tanpa merujuk kepada Taurat Tutur dan berjilid-jilid tebal susastra agama yang memerinci segala macam perilaku yang benar menurut hukum syariat.

Munculnya gerakan Pencerahan Yahudi pada akhir abad ke-18 mengakibatkan umat Yahudi Askenasi (umat Yahudi Dunia Barat) terpecah belah menjadi sejumlah mazhab, khususnya di Amerika Utara dan negara-negara penutur bahasa Inggris. Mazhab-mazhab besar di luar Israel sekarang ini adalah Yahudi Ortodoks, Yahudi Konservatif, dan Yahudi Pembaharuan.

  • Mazhab Yahudi Ortodoks berpendirian bahwa baik Taurat Tersurat maupun Taurat Tutur adalah wahyu Tuhan kepada Musa, dan segala hukum yang terkandung di dalamnya bersifat mengikat serta ajek. Jemaat-jemaat Yahudi Ortodoks pada umumnya menganggap ulasan-ulasan yang termaktub di dalam Syulhan Aruk (kitab rangkuman syariat yang menjadi pegangan umat Yahudi Sefardi) sebagai kitab hukum agama Yahudi yang bersifat definitif. Mazhab Yahudi Ortodoks menjunjung tinggi ke-13 rukun iman Rabi Musa bin Maimun sebagai definisi iman Yahudi.
  • Mazhab Yahudi Ortodoks lazimnya dibedakan menjadi mazhab Yahudi Ortodoks Modern dan mazhab Yahudi Haredi. Mazhab Yahudi Haredi kurang terbuka terhadap kemajuan zaman dan kurang meminati hal-hal non-Yahudi. Mazhab ini dapat dibedakan dari mazhab Yahudi Ortodoks Modern dengan menilik gaya berbusana jemaatnya serta amalan-amalannya yang lebih saksama. Cabang-cabang mazhab Yahudi Haredi adalah mazhab Yahudi Hasidi, yang berakar di dalam kabalah serta sangat bergantung pada seorang rebe (ulama besar), dan mazhab Yahudi Haredi Sefardi, yang tumbuh di kalangan umat Yahudi Sefardi (umat Yahudi Asia dan Afrika Utara) di Israel.
  • Mazhab Yahudi Konservatif terbedakan dari mazhab-mazhab lain oleh kesungguhan mereka menjalankan syariat, yang meliputi hukum hari Sabat dan hukum kasrut, mengusung ajaran tentang rukun iman yang sengaja dibuat tidak bersifat asasi, bersikap positif terhadap budaya modern, dan menerima pandangan-pandangan Rabani maupun ulama modern sehubungan dengan khazanah susastra agama Yahudi. Mazhab Yahudi Konservatif mengajarkan bahwa syariat tidak bersifat ajek, melainkan senantiasa tumbuh dan berkembang seturut perubahan zaman. Mazhab ini meyakini bahwa kitab Taurat adalah susastra suci yang ditulis para nabi berdasarkan ilham dari Tuhan serta mencerminkan kehendak Tuhan, tetapi menolak pendirian Yahudi Orthodoks bahwasanya ayat-ayat Taurat didiktekan Tuhan kepada Musa.[92][93] Mazhab Yahudi Konservatif percaya bahwa Hukum Lisan itu suci dan normatif, tetapi percaya pula bahwa Hukum Tertulis maupun Hukum Lisan boleh saja ditafsir para rabi sedemikian rupa sehingga mencerminkan kepekaan terhadap kemajuan zaman serta cocok dengan kondisi-kondisi Zaman Modern.
  • Mazhab Yahudi Pembaharuan, yang disebut pula mazhab Yahudi Liberal atau Yahudi Progresif di banyak negara, menonjolkan unsur-unsur yang bersifat universal dari agama Yahudi, menolak sebagian besar tata upacara dan hukum seremonial Taurat sembari menaati hukum-hukum budi pekerti, dan mengutamakan seruan nabi-nabi untuk menegakkan akhlakul karimah. Mazhab Yahudi Pembaharuan mengembangkan ragam ibadat berjemaah yang dijiwai semangat kesetaraan antarsesama insan dalam bahasa tutur masyarakat di sekitarnya (seringkali bersama-sama dengan bahasa Ibrani), dan mementingkan hubungan yang bersifat pribadi dengan tradisi Yahudi.
  • Mazhab Yahudi Rekonstruksionistis, sebagaimana mazhab Yahudi Pembaharuan, tidak menganggap syariat sebagai himpunan perintah dan larangan yang wajib ditaati, tetapi berbeda dari mazhab Yahudi Pembaharuan, mazhab ini menonjolkan peran komunitas dalam pengambilan keputusan mengenai perintah dan larangan mana yang patut dituruti.
  • Mazhab Yahudi Pemulihan adalah mazhab baru di Amerika Utara yang berfokus pada kerohanian dan keadilan sosial, tetapi tidak masuk ke ranah syariat. Laki-laki maupun perempuan dilibatkan dalam sembahyang berjemaah selaku insan-insan yang sederajat.
  • Mazhab Yahudi Humanis adalah mazhab nonteisme yang berpusat di Amerika Utara dan Israel. Mazhab ini menonjolkan kebudayaan dan sejarah bangsa Yahudi sebagai sumber jati diri keyahudian.

Sefardi dan Mizrahi[sunting | sunting sumber]

Sinagoga Al Griba di pulau Jirbah, Tunisia

Kendati adat-istiadat memang berbeda-beda dari satu komunitas Yahudi ke komunitas Yahudi lainnya, umat Yahudi Sefardi dan umat Yahudi Mizrahi pada umumnya boleh dikata tidak mengikuti tatanan mazhab sebagaimana umat Yahudi Askenasi.[94] Umat Sefardi dan Mizrahi mengesampingkan mazhab-mazhab karena lebih suka menerapkan pendekatan "kemah besar" yang mengayomi semua orang.[95] Kebijakan inilah yang kini berlaku di Israel, tempat tinggal komunitas umat Sefardi dan Mizrahi yang terbesar di dunia. Meskipun demikian, seorang Yahudi Sefardi atau Mizrahi dapat saja menjadi warga jemaat atau mengikuti sembahyang berjemaah di sinagoga milik jemaat salah satu mazhab.

Amalan-amalan umat Sefardi dan Mizrahi cenderung konservatif, tercermin pada teks upacara-upacara sembahyang mereka yang nyaris tidak berubah sejak pertama kali tersurat. Umat Sefardi yang taat boleh saja menganut ajaran mazhab tertentu atau ulama tertentu, misalnya Ketua Rabi Israel dari kalangan Sefardi.

Mazhab-mazhab di Israel[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan warga Yahudi Israel menyebut diri dengan istilah "sekuler" (hiloni), jika bukan "tradisional" (masorti), "agamawi" (dati), atau haredi. Istilah "sekuler" lebih banyak digunakan oleh keluarga-keluarga Israel asal Eropa Barat, yang mungkin saja sangat bangga menjadi orang Yahudi, tetapi tidak menganggap keyahudian dirinya bergantung penuh pada iman dan amalan warisan leluhur. Warga Yahudi "duniawi" nyaris tidak mempedulikan tata kehidupan beragama, baik dari jawatan resmi alim-ulama Israel (Yahudi Ortodoks) maupun dari mazhab-mazhab berhaluan liberal yang lazim dianut di luar Israel (mazhab Yahudi Pembaharuan, dan mazhab Yahudi Konservatif).

Istilah "tradisional" (masorti) lebih lumrah digunakan oleh keluarga-keluarga Israel asal Dunia Timur (Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika Utara). Istilah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mazhab Yahudi Konservatif, yang juga menyebut diri "masorti" di luar Amerika Utara. Makna istilah "sekuler" dan "tradisional" di Israel sangatlah taksa, seringkali saling tumpang tindih, dan sangat luas cakupannya sehubungan dengan wawasan dunia dan pengamalan agama. Istilah "ortodoks" tidak populer digunakan dalam wacara di Israel, sekalipun persentase umat Yahudi yang berhaluan ortodoks jauh lebih besar di Israel daripada di luar Israel. Apa yang disebut "ortodoks" di luar Israel bisanya disebut dati (agamawi) atau haredi (ultra-Ortodoks) di Israel. Sebutan dati mencakup kalangan yang disebut komunitas "Sionisme Religius" atau "Nasional Religius", maupun kalangan yang kurang lebih sedasawarsa lalu disebut haredi-leumi (haredi nasionalis) atau "Hardal", yang memadukan cara hidup ala haredi dengan ideologi kebangsaan. Dalam bahasa Yidi, umat Yahudi Ortodoks yang taat beragama disebut frum, kebalikan dari frei, yakni umat Yahudi yang lebih liberal.

Istilah haredi digunakan untuk menyebut populasi umat Yahudi yang kurang lebih dapat dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan suku bangsa dan ideologi. Ketiga golongan tersebut adalah "umat Lituania" alias umat Haredim Askenasi non-Hasidi, umat Haredim Askenasi Hasidi, dan umat Haredim Sefardi.

Karayi dan Samiri[sunting | sunting sumber]

Umat Yahudi Karayi mengaku sebagai sisa-sisa dari jemaat-jemaat Yahudi non-Rabani pada zaman Haikal ke-2, semisal kaum Saduki. Umat Karayi, alias umat Qari'un atau umat Kitabi, hanya berpegang pada Alkitab Ibrani dan apa yang mereka anggap sebagai pesyat (makna yang "bersahaja" dari ayat-ayat Kitab Suci). Mereka tidak memedomani susastra selain Kitab Suci. Sejumlah umat Karayi Eropa malah menganggap diri mereka bukan bagian dari umat Yahudi, kendati sebagian besar umat Karayi tidak berpandangan demikian.

Umat Yahudi Samiri adalah komunitas kecil umat Yahudi yang seluruh anggotanya bermukim di sekitar Gunung Gerizim di Tepi Barat, dan di Holon, kota tetangga Tel Aviv, di Israel. Umat Samiri mengaku sebagai keturunan rakyat Kerajaan Israel. Amalan-amalan mereka didasarkan pada makna harfiah dari ayat-ayat Taurat (Pancasastra Musa), yang mereka pedomani sebagai satu-satunya Kitab Suci.

Haymanot[sunting | sunting sumber]

Kahen (imam) Beta Israeli

Haymanot (artinya "keimanan" atau "agama" dalam bahasa Ge'ez dan bahasa Amara) adalah sebutan bagi ragam agama Yahudi yang dipeluk bangsa Etiopia. Ragam Yahudi Etiopia ini pada hakikatnya berbeda dari ragam Yahudi Rabani, Karayi, maupun Samiri. Umat Yahudi Etiopia sudah sejak semula menempuh jalan yang berbeda dari rekan-rekan mereka sesama umat Yahudi. Kitab Suci mereka, Orit (Astasastra), ditulis dalam bahasa dan aksara Ge'ez, alih-alih dalam bahasa dan aksara Ibrani, sementara hukum kasrut mereka semata-mata didasarkan atas ayat-ayat Orit, tanpa dibantu ulasan-ulasan penjelas. Hari-hari raya mereka pun berbeda. Sejumlah hari raya khas Yahudi Rabani tidak dirayakan oleh umat Yahudi Etiopia, dan sebaliknya ada hari-hari raya Yahudi Etiopia yang tidak dirayakan oleh umat Yahudi selebihnya, semisal hari raya Sigid (sujud).

Amalan[sunting | sunting sumber]

Budi pekerti[sunting | sunting sumber]

Budi pekerti Yahudi berpedoman kepada syariat, asas-asas kesusilaan, maupun kebajikan-kebajikan utama menurut agama Yahudi. Amalan-amalan budi pekerti Yahudi lazimnya dipahami sebagai amalan-amalan yang mengandung nilai-nilai luhur seperti keadilan, kebenaran, kerukunan, kasih sayang (hesed), welas asih, kerendahan hati, dan harga diri. Amalan-amalan budi pekerti Yahudi yang bersifat khusus mencakup tindakan bederma (ber-tsedakah) dan memelihara tutur kata (pantang ber-lasyon hara). Amalan-amalan budi pekerti seputar urusan syahwat dan berbagai macam urusan lain merupakan pokok perbantahan di kalangan umat Yahudi.

Sembahyang[sunting | sunting sumber]

Seorang Yahudi Yamani ber-kipah (kopiah), ber-talit (tudung sembahyang), dan ber-tefilin (tali sembahyang) selagi menunaikan sembahyang pagi

Menurut tradisi, umat Yahudi bersembahyang tiga kali sehari, yakni menunaikan Syaharit (sembahyang pagi), Minha (sembahyang siang), dan Ma'rib (sembahyang malam), ditambah lagi dengan Musaf (sembahyang tambahan) setiap hari Sabat dan hari-hari raya. Inti dari setiap sembahyang Yahudi adalah Amidah (doa sambil berdiri) atau Syemoneh Esreh (delapan belas doa). Doa penting lain dalam sembahyang Yahudi adalah pemakluman iman, yakni Syema Yisrael (dengarlah ya Israel) atau Syema (dengarlah). Syema adalah pelantunan ayat Ulangan 6:4 dalam kitab Taurat, yang berbunyi syema Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai Ehad (dengarlah ya Israel, Sang Rabb itu Tuhan kita, Sang Rabb itu esa).

Sebagian besar doa Yahudi tradisional dapat didaraskan dalam sembahyang pribadi, kendati orang lebih suka bersembahyang secara berjemaah. Sembahyang berjemaah hanya mungkin terlaksana jika jumlah hadirin mencukupi kuorum sepuluh orang Yahudi akil balig, yang disebut minyan. Sehubungan dengan penentuan tercapai tidaknya minyan ini, hampir semua jemaat Yahudi Ortodoks dan segelintir jemaat Yahudi Konservatif hanya memperhitungkan jumlah hadirin laki-laki, sementara sebagian besar jemaat Yahudi Konservatif dan jemaat-jemaat Yahudi dari mazhab-mazhab lain memperhitungkan pula jumlah hadirin perempuan.

Selain bersembahyang, umat Yahudi yang masih berpegang teguh pada amalan warisan leluhur juga mendaraskan doa dan restu setiap kali mengerjakan sesuatu. Umat Yahudi mendaraskan doa setiap kali bangun pagi, sebelum menyantap berbagai jenis hidangan, seusai bersantap, dan seterusnya.

Pendekatan terhadap urusan sembahyang berbeda-beda dari satu mazhab ke mazhab lain. Perbedaan-perbedaan antarmazhab dalam urusan sembahyang mencakup perbedaan kalimat-kalimat doa, kekerapan bersembahyang, banyaknya doa yang didaraskan dalam berbagai acara keagamaan, pemanfaatan alat musik dan paduan suara, serta bahasa yang dipakai saat mendaraskan doa. Pada umumnya jemaat-jemaat Yahudi Ortodoks dan Yahudi Konservatif lebih taat mengikuti amalan warisan leluhur, sementara jemaat-jemaat Yahudi Pembaharuan dan Yahudi Rekonstruksionistis lebih suka menggunakan terjemahan dan karya-karya tulis mutakhir dalam persembahyangan. Dalam kebanyakan jemaat Yahudi Konservatif, seluruh jemaat Yahudi Pembaharuan, dan seluruh jemaat Yahudi Rekonstruksionistis, kaum perempuan ikut terlibat dalam persembahyangan selaku insan yang setara dengan kaum lelaki, termasuk dalam pelaksanaan tugas-tugas yang menurut tradisi hanya dilaksanakan kaum lelaki, misalnya melantunkan ayat-ayat Taurat. Selain itu, banyak rumah ibadat Yahudi Pembaharuan juga menggunakan musik pengiring persembahyangan, seperti iringan organ dan paduan suara campuran.

Pakaian khusus[sunting | sunting sumber]

Kanak-kanak Yahudi mengenakan tsitsit (jurai) dan kipah (kopiah) selagi bermain sepak bola di Yerusalem
Kaum lelaki mengenakan talit (tudung sembahyang) selagi berdoa di depan Tembok Ratapan

Kipah (bahasa Ibrani: כִּפָּה, jamak: kipot; bahasa Yidi: יאַרמלקע, yarmulke) adalah kopiah bundar yang dikenakan banyak orang Yahudi saat berdoa, bersantap, mendaraskan restu, serta mengkaji susastra agama, dan dikenakan sepanjang waktu oleh sebagian kaum lelaki Yahudi. Di lingkungan Yahudi Ortodoks, hanya kaum lelaki yang mengenakan kipah, sementara di kalangan Yahudi non-Ortodoks, ada juga kaum perempuan yang mengenakannya. Ada bermacam-macam ukuran kipah, mulai dari kopiah bundar setelapak tangan yang hanya menyungkupi puncak batok kepala, sampai sebesar kupluk yang menyelubungi seluruh batok kepala.

Tsitsit (bahasa Ibrani: צִיציִת, jamak: tsitsiyot) adalah jumbai atau jurai bersimpul khusus pada keempat ujung talit (bahasa Ibrani: טַלִּית, jamak: talitot) alias tudung sembahyang. Talit dikenakan oleh kaum lelaki dan segelintir kaum perempuan Yahudi saat bersembahyang. Komunitas-komunitas umat Yahudi memelihara amalan yang berbeda-beda perihal kapan seorang Yahudi boleh mulai mengenakan talit. Dalam komunitas Yahudi Sefardi, kaum lelaki mulai mengenakan talit sejak usia bar mitswah. Di sejumlah komunitas Yahudi Askenasi, kaum lelaki baru mulai bertalit sesudah kawin. Talit katan (talit kecil) adalah baju berjurai yang dikenakan sepanjang hari sebagai baju dalam. Di sejumlah komunitas Yahudi Ortodoks, jurainya sengaja dibiarkan terjulur bebas dari tepi bawah baju luar.

Tefilin (bahasa Ibrani: תְפִלִּין) atau tali sembahyang, adalah dua kotak kecil dari kulit, diisi secarik kertas bertuliskan ayat-ayat Alkitab, dan dipasang pada sabuk kulit. Tefilin dililitkan ke sekeliling dahi dan lengan kanan selama menunaikan sembahyang pagi pada hari-hari biasa oleh kaum lelaki dan segelintir kaum perempuan Yahudi yang taat beragama.[96]

Kitel (bahasa Yidi: קיטל) adalah jubah luar putih selutut yang dikenakan oleh pemimpin persembahyangan dan oleh sejumlah orang Yahudi yang masih memegang teguh adat lama pada hari-hari dahsyat. Di sejumlah komunitas Yahudi, sudah diadatkan bagi keluarga untuk mengenakan kitel selama berlangsungnya Seder Paskah, dan adakalanya dikenakan pula oleh mempelai pria saat berdiri di bawah naungan teratak pengantin. Sebelum dikubur, jenazah laki-laki diselubungi talit, dan kadang-kadang juga dipakaikan kitel, sebagai bagian dari takrikim (kafan).

Hari raya[sunting | sunting sumber]

Hari-hari raya Yahudi adalah hari-hari istimewa dalam penanggalan Ibrani. Hari-hari besar ini merupakan kesempatan khusus untuk memperingati peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah bangsa Yahudi dan tema-tema utama dalam hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya, semisal penciptaan, pewahyuan, dan penyelamatan.

Hari Sabat[sunting | sunting sumber]

Dua ketul halah bersungkup sehelai tudung halah di atas meja menjelang perjamuan Sabat

Sabat adalah hari istirahat mingguan, terhitung sejak terbenamnya matahari pada hari Jumat sampai dengan terbenamnya matahari pada hari Sabtu. Sabat dirayakan untuk memperingati hari istirahat Tuhan selepas enam hari penciptaan.[97] Sabat berperan penting dalam pengamalan agama Yahudi, dan diatur dengan banyak hukum agama. Selagi matahari terbenam pada hari Jumat, ibu-ibu rumah tangga menyambut datangnya Sabat dengan menyalakan dua atau lebih pelita seraya melisankan restu. Santap malam diawali dengan Kidus, restu yang dilisankan atas secawan anggung, dan Mohtsi, restu yang dilisankan atas roti. Lazimnya orang menyajikan halah, dua ketul roti kepang, di atas meja. Selama hari Sabat, umat Yahudi tidak dibenarkan melakukan kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam 39 kategori melakah, yang secara harfiah berarti "kerja". Kegiatan-kegiatan yang dilarang pada hari Sabat sesungguhnya bukanlah "kerja" dalam arti sehari-hari, melainkan tindakan-tindakan tertentu seperti menyalakan api, menulis, membelanjakan uang, dan mengangkut barang di ruang publik. Pada Zaman Modern, pantangan menyalakan api diperluas sehingga mencakup pula tindakan mengemudi mobil, yang berkaitan dengan pembakaran bahan bakar, dan pemanfaatan tenaga listrik.

Hari-hari ziarah[sunting | sunting sumber]

Hagadah dalam bahasa Arab, digunakan umat Yahudi Kairo
Contoh sebuah sukah
Umat Yahudi Mumbai berbuka puasa Yom Kipur dengan menyantap roti dan samosa

Hari-hari raya (hagim) Yahudi merupakan peringatan peristiwa-peristiwa yang menjadi tonggak sejarah Yahudi, semisal peristiwa hijrah besar-besaran dari Mesir atau peristiwa nuzulut Taurat, dan adakalanya merupakan peringatan peralihan musim dan masa pancaroba yang erat kaitannya dengan daur bercocok tanam. Tiga hari raya utama Yahudi, yakni Sukot, Paskah, dan Syabuot, disebut "regalim" (dari kata Ibrani "regel", yang berarti "kaki"). Pada ketiga regalim ini, lazimnya bangsa Israel berziarah ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Haikal.

  • Pesah (Paskah) adalah perayaan sepekan penuh mulai dari petang hari tanggal 14 bulan Nisan (bulan pertama menurut penanggalan Ibrani). Pesah diselenggarakan untuk memperingati peristiwa hijrah besar-besaran dari Mesir. Di luar negara Israel, Pesah dirayakan selama delapan hari. Pada masa lampau, Pesah bertepatan dengan masa panen jelai. Pesah adalah satu-satunya perayaan yang dilaksanakan dengan upacara khusus di rumah tinggal masing-masing. Upacara khusus di rumah ini disebut Seder (tatanan). Menjelang perayaan Pesah, bahan-bahan pangan beragi (hamets) disingkirkan dari dalam rumah, dan tidak dikonsumsi seminggu penuh. Rumah dibersihkan secara menyeluruh guna memastikan tidak ada lagi roti maupun olahan sampingan dari roti yang masih tertinggal di dalamnya, dan sisa-sisa hamets dibakar secara simbolis pada pagi hari menjelang Seder. Sebagai ganti roti, orang menyantap matsah (roti tidak beragi).
  • Syabuot (Pentakosta) adalah peringatan nuzulut Taurat di Tur Sina kepada Bani Israel, yang juga dikenal sebagai hari raya Bikurim (tuaian perdana). Pada masa lampau, Syabuot bertepatan dengan masa panen gandum. Syabuot dirayakan dengan amalan tikun leil syabuot (tadarus semalam suntuk), menyantap penganan berbahan dasar susu (kue bolu keju dan kue dadar isi keju sangat digemari orang), membaca Kitab Rut, menghias rumah dan sinagoga dengan dedaunan hijau, dan berpakaian putih, lambang kemurnian.
  • Sukot (Pondok Daun) adalah peringatan pengembaraan empat puluh tahun Bani Israel di padang gurun dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji. Sukot dirayakan dengan membangun pondok-pondok sementara yang disebut sukah (jamak: sukot), lambang dari kemah-kemah tempat bernaung Bani Israel selama mengembara di padang gurun. Sukot bertepatan dengan masa panen buah, dan menandai berakhirnya satu daur bercocok tanam. Umat Yahudi sedunia bersantap di dalam sukah selama tujuh hari tujuh malam. Sukot ditutup dengan Syemini Atseret (sembahyang minta hujan) dan Simhat Torah (bersukacita atas Taurat), yakni perayaan yang menandai berakhirnya satu daur pembacaan Taurat dan bermulanya daur baru. Simhat Torah dirayakan dengan menyanyi dan menari sambil membawa Sifrut Taurat. Syemini Atseret dan Simhat Torah secara teknis dianggap sebagai satu hari raya tersendiri, bukan bagian dari Sukot.

Hari-hari dahsyat[sunting | sunting sumber]

Hari-hari dahsyat (Yamim Noraim) adalah hari-hari peringatan akan hisab dan ampunan Tuhan.

  • Ros Ha Syanah (Tahun Baru), yang juga disebut Yom Ha Zikaron (Hari Zikir) dan Yom Teruah (Hari Peniupan Sangkakala), adalah perayaan Tahun Baru Yahudi, kendati jatuh pada tanggal 1 bulan Tisri, bulan ketujuh menurut penanggalan Ibrani. Perayaan Ros Ha Syanah menandai awal jangka waktu penebusan dosa selama 10 hari menjelang perayaan Yom Kipur. Selama jangka waktu 10 hari tersebut, umat Yahudi diperintahkan untuk mewawas diri dan menebus dosa-dosa yang sudah diperbuat selama setahun, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Ros Ha Syanah dirayakan dengan meniup syofar (sangkakala dari tanduk domba jantan) di dalam sinagoga, menyantap apel dan madu, serta mendaraskan restu atas sejumlah makanan simbolis, semisal buah delima.
  • Yom Kipur (Hari Kifarah) adalah hari tersuci dalam penanggalan Yahudi. Pada hari ini, umat Yahudi berpuasa dan memohon ampunan Tuhan atas dosa-dosa mereka. Umat Yahudi yang taat beragama akan tinggal di sinagoga sepanjang hari, adakalanya diselingi rihat singkat selepas tengah hari, untuk mendaraskan doa-doa yang termaktub di dalam mahzor, buku sembahyang khusus untuk hari raya. Banyak orang Yahudi yang tidak begitu taat beragama juga menyempatkan diri untuk menghadiri sembahyang berjemaah di sinagoga maupun berpuasa pada hari Yom Kipur. Pada malam Yom Kipur, sebelum pelita-pelita dinyalakan, umat Yahudi menyantap hidangan prapuasa yang disebut seudah ha mafseket. Sembahyang berjemaah di sinagoga pada malam Yom Kipur diawali dengan sembahyang kol nidrei (pembatalan nazar, kaul, dan ikrar). Lazimnya orang mengenakan pakaian putih pada hari Yom Kipur, khususnya saat menghadiri sembahyang malam Yom Kipur, serta tidak mengenakan sepatu berbahan kulit. Keesokan harinya, sembahyang berjemaah dilaksanakan sejak pagi hingga petang. Sembahyang penutup, yang disebut ne'ilah, diakhiri dengan tiupan panjang sangkakala.

Purim[sunting | sunting sumber]

Pawai hari raya Purim di jalanan Yerusalem
Pembacaan kitab Taurat, Prancis, 1860 Museum Seni Rupa dan Sejarah Yahudi

Purim (bahasa Ibrani: פורים, pûrîm, "undi") adalah hari raya sukacita untuk memperingati luputnya umat Yahudi Persia dari muslihat jahat Haman, yang hendak membinasakan mereka, sebagaimana diriwayatkan dalam Kitab Ester. Purim dirayakan dengan melantunkan ayat-ayat Kitab Ester di hadapan sidang jemaat, saling bertukar hantaran makanan dan minuman, bederma kepada fakir miskin, dan menggelar perjamuan makan minum (Ester 9:22). Ada pula yang merayakannya dengan menenggak anggur, menyantap kue khusus yang disebut hamantas, mengenakan topeng dan pakaian yang aneh-aneh, serta berpawai dan berpesta.

Purim dirayakan setiap tanggal 14 bulan Adar menurut penanggalan Ibrani, antara bulan Februari dan Maret menurut penanggalan Gregorius.

Hanukah[sunting | sunting sumber]

Hanukah (bahasa Ibrani: חֲנֻכָּה, "penahbisan") juga dikenal sebagai Hari Raya Nur, adalah perayaan selama delapan hari, mulai dari tanggal 25 bulan Kislew menurut penanggalan Ibrani. Perayaan dilaksanakan di rumah tinggal masing-masing dengan cara menyalakan delapan pelita satu demi satu selama delapan malam. Satu pelita dinyalakan pada malam pertama, dua pelita pada malam kedua, dan seterusnya.

Hari raya ini dinamakan Hanukah (penahbisan) karena merupakan peringatan penyucian kembali Haikal Yerusalem, setelah sempat dinajiskan oleh Antiokos Epifanes, Maharaja Syam dari wangsa Seleukos. Dari segi rohani, Hanukah adalah peringatan "Mukjizat Minyak". Diriwayatkan di dalam Talmud bahwa tatkala Haikal disucikan kembali sesudah Makabe bersaudara mengecundangi Kemaharajaan Wangsa Seleukos, persediaan minyak zaitun murni untuk menyalakan nur abadi hanya cukup untuk sehari, sementara kegiatan mengempa biji zaitun dan mengolah minyak perasannya sampai menjadi bahan bakar siap pakai memerlukan waktu delapan hari. Tanpa disangka-sangka nur abadi terus menyala tanpa tambahan minyak selama delapan hari, yakni sampai ada lagi minyak zaitun murni untuk ditambahkan ke dalam pelita-pelita nur abadi pada kandil Haikal.

Hanukah tidak diriwayatkan di dalam Kitab Suci, dan tidak dianggap sebagai hari yang penting untuk dirayakan, tetapi kini dirayakan dengan semakin meriah dan oleh semakin banyak orang karena bertepatan dengan perayaan Natal, dan karena sesuai dengan semangat kebangsaan Yahudi yang terus digembar-gemborkan sejak berdirinya negara Israel.

Hari-hari puasa[sunting | sunting sumber]

Tanggal 9 bulan Ab (bahasa Ibrani: תשעה באב, Tisyah Be Ab) adalah hari berkabung dan berpuasa untuk mengenang peristiwa penghancuran gedung Haikal pertama dan gedung Haikal ke-2, serta peristiwa pengusiran umat Yahudi dari negeri Spanyol.

Ada lagi tiga hari puasa lain untuk memperingati berbagai peristiwa seputar penghancuran Haikal, yakni tanggal 17 bulan Tamuz, tanggal 10 bulan Tebet, dan hari Tsom Gedalyah (saum Gedalyah) yang jatuh tiap tanggal 3 bulan Tisri.

Hari-hari besar nasional Israel[sunting | sunting sumber]

Hari-hari besar nasional Israel yang erat kaitannya dengan agama dan bangsa Yahudi adalah Yom Ha Syoah (Hari Bencana), Yom Ha Zikaron (Hari Pahlawan), dan Yom Ha Atsmaut (Hari Kemerdekaan). Yom Ha Syoah adalah hari untuk mengenang para korban musibah Holokaus, Yom Ha Zikaron adalah hari untuk mengenang para prajurit Israel yang telah gugur serta para korban aksi terorisme, sementara Yom Ha Atsmaut adalah hari peringatan proklamasi kemerdekaan negara Israel.

Ada sebagian pihak yang memilih untuk memperingati musibah Holokaus setiap tanggal 10 bulan Tebet.

Membaca Taurat dengan yad (tuding mengaji)

Pembacaan Taurat[sunting | sunting sumber]

Inti persembahyangan pada hari-hari Sabat dan hari-hari raya adalah pembacaan ayat-ayat kitab Taurat dan pembacaan Haftarah, yakni ayat-ayat kitab lain dalam Tanak yang masih berkaitan dengannya, di hadapan sidang jemaat. Seluruh isi Taurat habis dibacakan dalam jangka waktu setahun, dari satu musim gugur ke musim gugur berikutnya, dimulai pada hari raya Simhat Torah.

Sinagoga dan prasarana keagamaan[sunting | sunting sumber]

Sinagoga atau kanisah (bahasa Ibrani: בית כנסת, Bet Keneset, "balai sidang") adalah rumah ibadat sekaligus tempat pengajian agama Yahudi. Biasanya bangunan sinagoga terdiri atas ruangan-ruangan terpisah untuk keperluan sembahyang berjemaah, sidang pengajian, acara ramah-tamah, dan pendidikan. Tidak ada ketentuan khusus mengenai rancang bangun rumah ibadat Yahudi, sehingga muncul beraneka macam bentuk bangunan dan desain interior gedung sinagoga. Umat Yahudi Pembaharuan lebih suka menyebut rumah ibadat mereka dengan istilah "haikal". Unsur-unsur tradisional dari sebuah sinagoga antara lain adalah:

  • Tabut (disebut aron ha kodes oleh umat Yahudi Askenasi, dan haikal oleh umat Yahudi Sefardi) adalah mihrab atau anjung tempat menyimpan Sifrut Taurat. Pintu tabut seringkali hanya bertutup tirai bersulam (paroket), yang dipasang pada sisi luar atau sisi dalam ambang pintu.
  • Mimbar tilawah (disebut bimah oleh umat Yahudi Askenasi, dan tebah oleh umat Yahudi Sefardi) adalah tempat ayat-ayat kitab Taurat dibacakan. Di sinagoga-sinagoga Yahudi Sefardi, mimbar tilawah juga difungsikan sebagai tempat mengimami sembahyang.
  • Nur abadi (ner tamid) adalah pelita atau lentera yang dijaga agar terus bernyala sebagai pengingat akan pelita-pelita pada kandil yang senantiasa bernyala menerangi Haikal Yerusalem
  • Meja mimbar (amud) di depan tabut, tempat imam atau hazan mengimami sembahyang seraya berdiri menghadap tabut.

Prasarana penting lainnya dalam agama Yahudi adalah yesyibah (madrasah Yahudi), dan mikwah (bak mandi berendam untuk keperluan bersuci).

Kasrut[sunting | sunting sumber]

Kasrut adalah hukum halal-haram santapan dalam agama Yahudi. Santapan yang diolah dan dihidangkan dengan berpedoman kepada hukum kasrut disebut makanan kosyer (laik santap), sementara makanan non-kosyer disebut terefah (cacat). Lazimnya seseorang dikatakan "memelihara kosyer" jika tekun menjalankan hukum kasrut.[98]

Ada banyak pasal hukum kasrut yang mengatur tentang santapan berbahan dasar hewani. Sebagai contoh, satwa menyusui yang boleh diolah menjadi santapan kosyer haruslah berkuku belah sekaligus memamah biak. Babi adalah contoh paling terkenal dari satwa non-kosyer.[99] Kendati berkuku belah, babi tidak memamah biak.[100] Satwa laut yang boleh diolah menjadi boga bahari kosyer haruslah bersirip dan bersisik. Dengan demikian, satwa laut bercangkang serta segala macam udang, kepiting, dan belut merupakan satwa-satwa non-kosyer. Kendati Taurat memuat senarai unggas non-kosyer, beberapa nama di antaranya tidak dapat lagi diketahui artinya maupun dipastikan jenisnya. Meskipun demikian, umat Yahudi masih melestarikan tradisi yang berkaitan dengan status kasrut unggas. Sebagai contoh, kebanyakan komunitas Yahudi menganggap ayam dan kalkun sebagai unggas kosyer. Jenis-jenis satwa selebihnya, yakni satwa dwialam, satwa melata, dan kebanyakan jenis serangga, terlarang untuk disantap.[98]

Selain itu, daging satwa selain ikan harus berasal dari satwa sehat yang disembelih mengikuti syehitah, kaidah penyembelihan. Penyembelihan yang menyimpang dari syehitah akan membuat sembelihan menjadi terefah. Penerapan syehitah dimaksudkan untuk membuat proses penyembelihan berlangsung cepat dan relatif tidak menyakitkan. Darah, lapisan lemak, dan urat daging pangkal paha, terlarang untuk disantap.[98]

Daging satwa menyusui tidak boleh disantap bersama-sama dengan olahan susu. Lama jeda antara menyantap daging dan menyantap olahan susu berbeda-beda berdasarkan urutan penyantapan serta kebiasaan komunitas yang mengamalkannya, dan dapat saja berlangsung sampai enam jam. Pasal ini didasarkan atas larangan Alkitab untuk memasak anak binatang di dalam air susu induknya, dan kebanyakan bersumber dari Taurat Tutur, Talmud, serta hukum Rabani.[98] Daging unggas kosyer dianggap sama dengan daging satwa menyusui, tetapi larangan menyantap daging unggas bersama-sama dengan olahan susu bukanlah larangan Alkitabiah, melainkan larangan Rabani.[101]

Kecerobohan dalam pemanfaatan wadah, alat makan, dan panggangan akan membuat makanan kosyer menjadi terefah. Peralatan dapur yang pernah dipakai untuk mengolah santapan non-kosyer, atau wadah saji yang pernah dipakai untuk menghidangkan daging, kemudian dipakai lagi untuk menghidangkan olahan susu, akan membuat makanan kosyer menjadi terefah berdasarkan syarat-syarat tertentu.[98]

Selain itu, para ulama Yahudi Ortodoks dan beberapa ulama Yahudi Konservatif melarang konsumsi olahan buah anggur yang dihasilkan orang-orang non-Yahudi, lantaran adanya amalan pagan yang memanfaatkan minuman anggur dalam upacara peribadatannya.[98] Sejumlah ulama Yahudi Konservatif memperbolehkan konsumsi minuman anggur dan sari buah anggur yang diproduksi tanpa pengawasan para rabi.[102]

Sebagian besar dari aturan kasrut termaktub di dalam kitab Taurat tanpa disertai keterangan mengenai alasan-alasan khusus yang melatarbelakanginya.[98] Meskipun demikian, alim-ulama telah mengedepankan sejumlah penjelasan, antara lain adalah untuk memelihara ketahiran diri, melatih pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan ketakwaan, meningkatkan kesehatan, mengurangi perilaku kejam terhadap binatang, dan demi lestarinya keistimewaan yang membedakan umat Yahudi dari umat manusia selebihnya.[103] Berbagai macam pasal hukum makan minum mungkin dirumuskan karena ada alasan khusus, dan beberapa pasal mungkin pula wujud lantaran lebih dari satu alasan. Sebagai contoh, larangan mengonsumsi darah ungggas dan satwa menyusui didasarkan atas pernyataan Taurat bahwa nyawa binatang terkandung di dalam darahnya.[104] Di lain pihak, Taurat sendiri melarang Bani Israel menyantap satwa-satwa non-kosyer hanya lantaran satwa-satwa itu "keji".[105] Kabalah memaparkan tentang pijar-pijar kekudusan yang terpancar lepas berkat tindakan menyantap makanan kosyer, tetapi pijar-pijar ini terlampau erat terbelenggu di dalam makanan-makanan non-kosyer sehingga sukar dilepaskan melalui penyantapan.[106]

Selain mengatasi sebagian besar isi syariat, keselamatan nyawa manusia juga mengatasi seluruh pasal hukum kasrut.[107][108]

Ketahiran diri[sunting | sunting sumber]

Tanak menjabarkan hal-hal yang dapat mengubah keadaan diri seseorang dari taharah (tahir) menjadi tumah (cemar), antara lain bersentuhan dengan jenazah atau kubur, cairan kemaluan laki-laki, cairan kemaluan perempuan, haid, dan bersentuhan dengan orang yang sudah cemar akibat salah satu dari hal-hal tersebut.[109][110] Di lingkungan Yahudi Rabani, para kohanim, yakni puak-puak imam dari zaman Haikal, dilarang menginjakkan kaki di tanah pekuburan maupun menyentuh jenazah.[111] Pada zaman Haikal, para kohanim hanya dibenarkan menyantap roti sesaji (terumah) dalam keadaan tahir. Hukum khusus bagi para imam ini akhirnya memunculkan hukum-hukum yang lebih kaku sifatnya, semisal hukum membasuh tangan, yang diwajibkan bagi semua orang Yahudi setiap kali hendak menyantap roti biasa.

Ketahiran rumah tangga[sunting | sunting sumber]

Kursi khitanan dari abad ke-18, Museum Seni Rupa dan Sejarah Yahudi

Salah satu bagian penting dari hukum ketahiran diri adalah pemencilan perempuan yang sedang haid. Pasal-pasal yang berkaitan dengan urusan ini disebut nidah (pemencilan) atau ketahiran rumah tangga. Meskipun merupakan unsur penting dari halakah, nidah lazimnya tidak diamalkan oleh umat Yahudi dari mazhab-mazhab yang berhaluan liberal.[112]

Hukum-hukum Alkitabiah diperluas lagi dengan ketetapan-ketetapan para rabi, teristimewa di kalangan Yahudi Ortodoks. Sebagai contoh, Taurat mewajibkan kaum perempuan untuk berpantang sanggama selama tujuh hari selepas haid. Perempuan yang haidnya masih berlanjut harus berpantang sanggama tujuh hari lagi sesudah pendarahan berhenti.[109] Para rabi menggabungkan nidah biasa dengan perpanjangan masa haid, yang disebut zabah dalam Taurat, dan menetapkan bahwa seorang perempuan tidak boleh bersanggama dengan suaminya sejak mulai haid sampai tujuh hari selepas haid. Selain itu, hukum Rabani melarang suami untuk bersentuhan maupun tidur seranjang dengan istrinya selama masa pantang sanggama. Selepas masa pantang, pentahiran dapat dilaksanakan di kolam khusus untuk mandi berendam yang disebut mikwah.[112]

Umat Yahudi Etiopia, yang masih memelihara amalan leluhur mereka, memencilkan perempuan yang sedang haid ke pondok yang terpisah dari rumah tinggal keluarga. Sama seperti umat Yahudi Karayi, mereka juga melarang perempuan yang sedang haid untuk memasuki rumah ibadat demi memelihara kesucian tempat istimewa itu. Sesudah hijrah ke Israel, orang-orang Yahudi Etiopia dipengaruhi oleh ajaran mazhab-mazhab Yahudi lainnya sehingga akhirnya menerima amalan-amalan nidah yang lebih normatif.[113][114]

Dua orang remaja putra bertudung talit menghadap Sifrut Taurat dalam upacara bar mitswah

Upacara daur hidup[sunting | sunting sumber]

Umat Yahudi melestarikan sejumlah upacara daur hidup yang dilaksanakan pada saat-saat tertentu dalam kehidupan seorang Yahudi. Upacara-upacara ini bertujuan mengukuhkan keyahudian seseorang, dan menciptakan ikatan erat yang mempersatukannya dengan segenap umat Yahudi.

  • Brit milah – Upacara menerima bayi laki-laki ke dalam ikatan perjanjian antara Tuhan dan Abraham dengan cara memotong kulup si bayi saat genap berumur delapan hari. Dalam upacara ini, bayi yang dikhitan juga diberi nama khas Ibrani. Kendati tidak begitu populer, ada pula upacara penyambutan bayi perempuan dalam bentuk pemberian nama Ibrani, yakni upacara zebed ha bat atau brit bat.
  • Bar mitswah dan bat mitswah – Upacara peralihan dari masa kanak-kanak ke masa akil balig. Di kalangan Yahudi Ortodoks dan beberapa jemaat Yahudi Konservatif, upacara ini dilaksanakan pada saat anak perempuan genap berumur dua belas tahun dan anak laki-laki genap berumur tiga belas tahun, sementara di kalangan Yahudi Pembaharuan, dilaksanakan pada saat si anak, baik laki-laki maupun perempuan, genap berumur tiga belas tahun. Upacara dilaksanakan dengan cara mempersilahkan si anak, yang baru saja mencapai umur akil balig itu, untuk memimpin doa berjemaah, dan selanjutnya melantunkan satu dua ayat Taurat disaksikan sidang jemaat.
  • Perkawinan – Perkawinan adalah peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan seorang Yahudi. Upacara perkawinan dilaksanakan di bawah naungan hupah, atau teratak pengantin, yang melambangkan rumah tangga bahagia. Pada akhir upacara, mempelai pria memijak sebuah gelas hingga pecah, lambang dari perkabungan berkesinambungan atas hancurnya Haikal Yerusalem dan terpencarnya bangsa Yahudi dari tanah leluhur.
  • Perkabungan – Umat Yahudi mengamalkan perkabungan berlapis. Lapis pertama disebut syibah (tujuh), yakni masa berkabung sepekan penuh sesudah si mati dikubur. Selama masa syibah, pihak yang berkabung duduk di rumah sambil dihibur sanak saudara dan handai tolan. Lapis kedua disebut syelosyim (tiga puluh), yakni masa berkabung sebulan penuh sesudah si mati dikubur. Khusus bagi pihak yang berkabung lantaran ditinggal mati ayah atau ibunya, masih ada lagi lapis ketiga, yang disebut yud bet kodes (dua belas bulan), yakni masa berkabung setahun penuh sesudah si mati dikubur.

Pemuka agama[sunting | sunting sumber]

Imam Haikal[sunting | sunting sumber]

Seorang guru mengaji Yahudi bersama murid-muridnya di Samarkand, Uzbekistan ca. 1910

Peranan imam dalam agama Yahudi sudah sangat mengecil semenjak Haikal ke-2 diluluhlantakkan pada tahun 70 M. Sebelum itu, para imam adalah orang-orang yang berwenang mengurusi Haikal dan persembahan. Imam adalah jabatan pusaka yang diwariskan turun-temurun, dan kendati tidak ada lagi Haikal dan kurban persembahan untuk diurusi, para imam masih dimuliakan oleh banyak komunitas Yahudi. Banyak komunitas Yahudi Ortodoks percaya bahwa tenaga para imam akan dibutuhkan kembali jika kelak Haikal ke-3 berhasil didirikan, sehingga harus bersiap sedia mulai sekarang untuk menjalankan tugasnya di kemudian hari.

  • Kohen (imam) – semua laki-laki dari nasab Harun, abang Musa. Di Haikal, para kohanim bertanggung jawab mempersembahkan kurban. Kini kohen adalah orang pertama yang akan diundang naik ke mimbar tilawah untuk membacakan Taurat, memberi restu keimaman, serta melaksanakan hukum dan upacara-upacara unik lainnya, termasuk upacara ruwatan anak sulung.
  • Lewi (orang Lewi) – semua laki-laki dari nasab Lewi bin Yakub. Di Haikal, para lewiyim bertugas mengidungkan ayat-ayat Mazmur, merawat dan mengamankan bangunan Haikal, membantu para imam menunaikan tugas, dan adakalanya menjabarkan tafsir hukum serta makna upacara-upacara Haikal kepada sidang jemaat. Kini lewi adalah orang kedua yang diundang naik ke mimbar tilawah untuk membacakan Taurat.

Imam sembahyang[sunting | sunting sumber]

Sedari zaman Misnah dan Talmud sampai sekarang ini, agama Yahudi mewajibkan adanya tenaga ahli atau orang yang berwenang melaksanakan sejumlah laku upacara. Sebagian besar laku sembahyang Yahudi dapat dilaksanakan seorang diri, tetapi sejumlah laku sembahyang hanya sah dilaksanakan dalam sembahyang berjemaah, yang sekurang-kurangnya dihadiri oleh satu minyan (sepuluh orang Yahudi akil balig), yakni membacakan Taurat dan haftarah (bacaan pelengkap dari Nebi'im atau Ketubim), mendaraskan doa perkabungan, mendaraskan restu ke atas pasangan pengantin, serta mendaraskan doa syukur lengkap sehabis bersantap.

Rohaniwan profesional yang paling lazim dijumpai di sinagoga adalah:

  • Rabi jemaat – ulama yang bertugas menjawab pertanyaan-pertanyaan warga jemaat seputar syariat agama Yahudi. Untuk menduduki jabatan ini, seseorang harus terlebih dahulu dikukuhkan oleh ulama besar yang dimuliakan jemaat, yakni seorang rabi Yahudi Ortodoks yang disegani, atau dikukuhkan oleh lembaga pendidikan ulama Yahudi, jika jemaat yang bersangkutan bermazhab Yahudi Konservatif atau Yahudi Pembaharuan. Jemaat dapat saja berdiri tanpa rabi, dan ada jemaat-jemaat yang memiliki rabi tetapi mengizinkan warganya menjadi syats (imam sembahyang) maupun ba'al keriyah (qari).
  • Hazan (penembang) – juru tembang terlatih yang menjadi syats dalam sembahyang berjemaah. Dipilih karena bersuara merdu, menguasai cara menembang tradisional, memahami makna doa-doa, dan mampu melantunkan doa-doa tersebut dengan penuh ketulusan. Hazan bukan unsur yang wajib ada dalam suatu jemaat.

Sembahyang berjemaah dalam agama Yahudi memang melibatkan dua peranan khusus, yang dalam banyak jemaat adakalanya dilaksanakan sekaligus oleh seorang rabi atau seorang hazan. Dalam jemaat-jemaat lain, kedua peranan ini dijalankan oleh warga jemaat secara bergiliran:

  • Syaliah tsibur atau syats (harfiah: "wali" jemaat) – mengimami sembahyang dan kadang-kadang mendaraskan doa-doa atas nama sidang jemaat. Saat mendaraskan doa atas nama sidang jemaat, syats bukan bertindak selaku perantara, melainkan fasilitator. Sidang jemaat juga ikut serta dalam pendarasan doa dengan cara mengaminkannya, sehingga doa yang didaraskan syats juga menjadi doa seluruh hadirin. Jelas semua orang dewasa yang mampu mendaraskan doa dapat mengimami sembahyang. Dalam jemaat-jemaat Yahudi Ortodoks dan beberapa jemaat Yahudi Konservatif, hanya kaum lelaki yang boleh mengimami sembahyang, tetapi semua jemaat yang berhaluan progresif kini mengizinkan kaum perempuan untuk menjalankan peranan ini.
  • Ba'al keriyah atau ba'al koreh (tuan qari) – membacakan bagian kitab Taurat yang dijadwalkan untuk pekan yang bersangkutan. Syarat-syarat menjadi ba'al keriyah sama dengan syarat-syarat menjadi syats. Seorang ba'al keriyah boleh saja mengimami sembahyang andaikata mampu, demikian pula seorang syats boleh membacakan isi Taurat jikalau mampu.

Banyak jemaat, terutama jemaat-jemat besar, juga mengandalkan seorang:

  • Gabai (lebai) – mengundang orang untuk naik ke mimbar tilawah, menunjuk imam sembahyang jika jemaat tidak memiliki syats tetap, serta memelihara kebersihan dan mengurusi segala keperluan sinagoga.

Ketiga peranan di atas biasanya bersifat sukarela dan dianggap sebagai suatu kehormatan bagi orang yang ditunjuk untuk menjalankannya. Sejak Abad Pencerahan, sinagoga-sinagoga besar mulai menggaji rabi dan hazan untuk menjadi syats dan ba'al keriyah. Kebiasaan ini sekarang sudah menjadi amalan lumrah bagi banyak jemaat Yahudi Konservatif dan Yahudi Pembaharuan. Meskipun demikian, di sebagian besar sinagoga Yahudi Ortodoks, peranan-peranan ini dijalankan secara bergilir oleh warga jemaat biasa. Kendati sebagian besar jemaat biasanya menggaji satu dua orang rabi, pemanfaatan tenaga hazan profesional pada umumnya mengalami penurunan di Amerika, dan pemanfaatan tenaga profesional untuk peranan-peranan lainnya juga tetap lebih rendah.

Jabatan-jabatan khusus[sunting | sunting sumber]

Seorang sofer Yamani sedang menyalin ayat-ayat Taurat, foto dari era 1930-an
  • Dayan (hakim) – Rabi spesialis hukum di bet din (pengadilan agama). Di Israel, pengadilan agama menangani perkara-perkara perkawinan dan perceraian, perpindahan agama, serta sengketa keuangan yang timbul dalam komunitas Yahudi.
  • Mohel (mantri khitan) – Pakar hukum khitan hasil didikan seorang mohel terkemuka, yang bertugas melaksanakan upacara brit milah (khitanan).
  • Syohet (mantri jagal) – Pakar hukum kasrut hasil didikan seorang syohet senior, yang bertugas menyembelih hewan sesuai syariat agar terjamin kosyer.
  • Sofer (katib) – Ahli seni kaligrafi Ibrani, yang berwenang membuat salinan kitab Taurat, menuliskan ayat-ayat suci pada carikan perkamen yang akan dimasukkan ke dalam kotak tefilin dan mezuzah, serta membuat gitin (surat talak).
  • Ros Yesyibah (rais madrasah) – Pakar Taurat yang mengasuh sebuah madrasah Yahudi.
  • Masgiah ruhani (penilik rohani) – Rabi madrasah yang bertugas mengawasi tingkat kehadiran, adab, kematangan emosi, dan pertumbuhan rohani para siswa, serta mengajarkan mata kuliah musar (ilmu budi pekerti Yahudi), tergantung pada kebijakan madrasah.
  • Masgiah (penilik) – Pakar hukum kasrut hasil didikan seorang rabi, atau seorang rabi yang bertanggung jawab mengawasi industri manufaktur makanan kosyer, usaha impor pangan, usaha makanan siap saji, dan rumah-rumah makan, agar makanan dan bahan pangan yang disalurkan kepada umat Yahudi terjamin kosyer.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal mula[sunting | sunting sumber]

Lukisan sosok Musa buatan tahun 244 M menghiasi dinding Sinagoga Dura Eropos

Pada hakikatnya Tanak adalah catatan riwayat pasang surut hubungan antara bangsa Israel dan Tuhan sedari permulaan sejarah sampai dengan pembangunan Haikal ke-2 (ca. 535 SM). Abraham dimuliakan sebagai orang Ibrani utama dan pitarah bangsa Yahudi. Sebagai pahala atas pembuktian keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia dianugerahi janji Tuhan bahwa Ishak, putra keduanya, akan mewarisi Tanah Israel (kala itu masih disebut Tanah Kanaan). Kemudian hari, keturunan dari Yakub bin Ishak diperbudak di Tanah Mesir, dan Tuhan mengutus Musa untuk memimpin mereka hijrah meninggalkan Mesir. Di Tur Sina, mereka menerima Torah (Sifrut Taurat), lima pustaka Musa. Sifrut Taurat beserta Nebi'im (Sifrul Anbiya) dan Ketubim (Sifrul Kitabat), disebut Torah Syebiktab (Taurat Tersurat), kebalikan dari Torah Syebe'alpeh (Taurat Tutur), yakni Misnah dan Talmud. Pada akhirnya, bangsa Israel dituntun Tuhan memasuki Tanah Israel, dan mendirikan Kemah Suci di kota Silo, yang tegak selama lebih dari 300 tahun sebagai pengobar semangat melawan musuh. Seiring berlalunya waktu, ketakwaan bangsa Israel merosot sampai-sampai Tuhan mengizinkan bangsa Filistin merebut Kemah Suci. Bangsa Israel kemudian menyampaikan kepada Nabi Samuel bahwa mereka perlu dipimpin seorang raja tetap, sehingga Nabi Samuel menobatkan Saul dari suku Benyamin menjadi raja atas mereka. Ketika Raja Saul menuruti desakan rakyatnya untuk melanggar arahan Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Samuel, Tuhan pun memerintahkan Nabi Samuel untuk menobatkan Daud dari suku Yehuda menjadi raja pengganti Saul.

Tembok Ratapan di Yerusalem adalah sisa-sisa dari tembok yang dulu memagari gedung beserta pelataran Haikal ke-2. Bukit Haikal adalah tempat tersuci dalam agama Yahudi.

Setelah berjaya menduduki singgasana, Raja Daud mengutarakan niatnya kepada Nabi Natan untuk mendirikan sebuah bangunan peribadatan yang permanen. Sebagai pahala atas pengungkapan niat suci ini, Tuhan berjanji akan mengizinkan putra Daud, Salomo, untuk mendirikan tempat ibadat yang dikehendaki Daud, serta berjanji akan mengizinkan anak cucu Daud untuk mewarisi singgasana.

Menurut tradisi Rabani, penjabaran dan tafsir hukum agama Yahudi, yang disebut Taurat Tutur atau Hukum Lisan, mulanya adalah tradisi tak tertulis yang didasarkan pada firman Tuhan kepada Musa di Tur Sina. Lantaran persekusi terhadap umat Yahudi semakin marak terjadi, dan banyak perincian yang terancam lekang dari ingatan orang, hukum-hukum lisan ini akhirnya dibukukan oleh Rabi Yehudah Ha Nasi (Yehudah Sang Penghulu) menjadi Misnah sekitar tahun 200 M. Talmud adalah kumpulan Misnah beserta Gemara, ulasan-ulasan Rabani yang dikumpulkan selam tiga abad berikutnya. Gemara berasal dari dua pusat keilmuan Yahudi, yakni Palestina dan Babel.[115] Dua pusat keilmuan ini mengkaji Misnah sendiri-sendiri, sehingga memunculkan dua kitab Talmud. Talmud yang lebih tua disebut Talmud Yerusalem,[115] dan yang lebih muda disebut Talmud Babel. Talmud Yerusalem disusun pada abad ke-4 M di Palestina, sementara Talmud Babel adalah hasil diskusi di balai-balai perguruan yang dibukukan oleh tiga ulama besar Yahudi, yakni Rabina I, Rabina II, dan Rab Asyi pada tahun 500 M, kendati masih terus disunting sepeninggal mereka.

Menurut para ahli telaah teks, Taurat terdiri atas ayat-ayat tak konsisten yang disunting bersama-sama sedemikian rupa sehingga menarik perhatian orang pada riwayat-riwayat yang saling bertolak belakang.[116][117][118] Beberapa dari ahli-ahli ini, misalnya Profesor Martin Rose dan John Bright, menduga bahwa pada zaman Haikal pertama, bangsa Israel meyakini bahwa tiap-tiap bangsa memiliki ilahnya masing-masing, tetapi Ilah mereka mengatasi semua ilah lain.[119][120] Sebagian pihak menduga bahwa keimanan murni akan keesaan Tuhan berkembang saat bangsa Israel hidup dalam pembuangan di Babel, mungkin sebagai tanggapan terhadap paham dualisme agama Majusi.[121] Menurut pandangan ini, sebagian besar umat Yahudi baru percaya bahwa Tuhan mereka adalah satu-satunya Tuhan pada zaman Yunani, dan pada zaman Yunani pula bangsa Yahudi dengan jati diri yang jelas dan keterkaitan yang erat dengan agama Yahudi terbentuk.[122] John Day berpendapat bahwa Yahweh, El, Asyera, dan Ba'al dalam Alkitab mungkin saja berasal dari agama asli orang Kanaan, yakni pemujaan terhadap dewa-dewi dengan kadar kekuasaan berjenjang, mirip dengan jenjang kadar kekuasaan dewa-dewi Yunani.[123]

Abad Kuno[sunting | sunting sumber]

Alkitab Ibrani meriwayatkan bahwa negara kesatuan Kerajaan Israel, dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya, terbentuk di bawah kepemimpinan Saul, dan bertahan sampai ke masa pemerintahan Daud maupun Salomo. Sepeninggal Salomo, negara kesatuan ini pecah menjadi dua kerajaan, yakni Kerajaan Israel yang beribu kota Samaria di utara, dan Kerajaan Yehuda yang beribu kota Yerusalem di selatan. Kerajaan Israel ditaklukkan pada penghujung abad ke-8 SM oleh Sargon II, Raja Asyur. Sejumlah besar warga Samaria ditawan dan dibuang ke Media dan daerah lembah Sungai Kebar. Kerajaan Yehuda tetap merdeka sampai akhirnya ditaklukkan pada permulaan abad ke-6 SM oleh bala tentara Babel. Bangunan Hailkal yang pertama diluluhlantakkan, dan kalangan elit Kerajaan Yehuda dibuang ke Babel. Pembuangan warga Yehuda ke Babel dianggap sebagai Diaspora Yahudi yang pertama. Banyak dari mereka akhirnya pulang ke tanah leluhur sesudah Babel ditaklukkan bangsa Persia tujuh puluh tahun kemudian. Kurun waktu tujuh puluh tahun ini disebut zaman Pembuangan Babel. Di tanah leluhur, mereka membangun Haikal yang kedua dan menggelar lagi upacara-upacara ibadat seperti sediakala.

Pada tahun-tahun permulaan berdirinya Haikal ke-2, kewenangan tertinggi di bidang agama dipangku oleh Majelis Akbar yang diketuai Ezra, penulis Kitab Ezra. Majelis Akbar banyak berjasa bagi perkembangan agama Yahudi karena di bawah pengawasan lembaga inilah kitab-kitab terakhir dalam Alkitab ditulis, dan kanon Alkitab ditetapkan.

Sejak abad ke-3 SM, ajaran Yahudi Yunani menyebar sampai ke Mesir. Seusai pemberontakan besar-besaran bangsa Yahudi (66–73 M), bangsa Romawi menghancurkan Haikal. Kaisar Hadrian menegakkan sebuah patung berhala di pelataran Haikal dan mengharamkan khitan. Kebijakan etnosida ini memicu Pemberontakan Bar Kokba (132–136 M), yang berkobar setelah bangsa Romawi melarang kajian Taurat dan perayaan hari-hari besar bangsa Yahudi, serta memindahkan hampir semua orang Yahudi dari Yudea secara paksa. Meskipun demikian, pada tahun 200 M, bangsa Yahudi dianugerahi kewarganegaraan Romawi, dan agama Yahudi diakui sebagai salah satu religio licita (agama yang sah) di wilayah Kekaisaran Romawi sampai dengan munculnya Gnostisisme dan Gereja Perdana pada abad ke-4.

Seusai penghancuran Yerusalem dan pengusiran bangsa Yahudi, kegiatan ibadat Yahudi tidak lagi berkisar di seputar Haikal. Sembahyang menggantikan upacara kurban, ibadat berjemaah ditegakkan kembali di dalam komunitas-komunitas umat Yahudi (diwakili oleh sekurang-kurangnya sepuluh orang laki-laki dewasa), dan kewenangan rabi selaku guru sekaligus kepala komunitas Yahudi pun terlembagakan (baca artikel Diaspora Yahudi).

Sifrut Taurat khas Yahudi Sefardi
Sifrut Taurat khas Yahudi Askenasi

Mazhab-mazhab masa lampau (sampai tahun 1700)[sunting | sunting sumber]

Sekitar abad pertama tarikh Masehi, sudah ada beberapa mazhab dalam agama Yahudi, yakni Perusim (kaum Farisi), Seduqim (kaum Saduki), Kana'im (kaum Zelot), Isiyim (kaum Eseni), dan Notsri'im (kaum Nasrani). Mazhab-mazhab ini menghilang sesudah Haikal ke-2 dihancurkan pada tahun 70 M.[124] Kaum Nasrani memang sintas, tetapi pecah dari agama Yahudi dan menjadi agama baru. Kaum Farisi juga sintas, tetapi bersalin rupa menjadi mazhab Yahudi Rabani. Mazhab Saduki menolak Sifrul Anbiya maupun Sifrul Kitabat sebagai susastra yang ditulis berdasarkan ilham ilahi, dan hanya berpegang pada Taurat sebagai satu-satunya Kitab Suci, sehingga beberapa akidah mazhab Farisi (yang menjadi landasan agama Yahudi modern) juga ditolak oleh mazhab Saduki. Kaum Samiri juga menganut keyakinan serupa, tetapi tidak dianggap sebagai bagian dari agama Yahudi.

Seperti kaum Saduki yang hanya berpegang pada Taurat, sejumlah komunitas Yahudi pada abad ke-8 dan ke-9 menolak Hukum Lisan (yang kelak dibukukan menjadi Misnah dan dikembangkan oleh para rabi menjadi dua Talmud) sebagai susastra bertuah yang diilhamkan Tuhan, dan hanya berpegang pada Tanak (Sifrut Taurat, Sifrul Anbiya, dan Sifrul Kitabat). Komunitas-komunitas yang menolak Hukum Lisan ini adalah umat Isuni, umat Yudgani, umat Maliki, dan lain-lain. Mereka kemudian mengembangkan tradisi-tradisi tutur sendiri, yang berbeda dari tradisi-tradisi Rabani, dan akhirnya membentuk mazhab Yahudi Karayi. Umat Yahudi Karayi kini tinggal sedikit jumlahnya, sebagian besar menetap di Israel. Umat Rabani menganggap umat Karayi sebagai umat Yahudi yang keliru keimanannya, demikian pula sebaliknya.

Seiring berlalunya waktu, umat Yahudi membentuk kelompok-kelompok etnis yang berlainan di berbagai tempat, misalnya umat Yahudi Askenasi di Eropa Tengah dan Eropa Timur, umat Yahudi Sefardi di Spanyol, Portugal, dan Afrika Utara, umat Beta Israel di Etiopia, serta umat Yahudi Yamani di ujung selatan Jazirah Arab. Kelompok-kelompok etnis ini mengembangkan doa-doa, adat-istiadat, dan kanon Alkitab yang berlainan. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan di antara mereka hanyalah dampak dari jauhnya jarak yang memisahkan mereka dari agama Yahudi normatif (Yahudi Rabani), dan bukan lantaran pertentangan akidah.

Aniaya[sunting | sunting sumber]

Antisemitisme muncul pada Abad Pertengahan dalam bentuk aniaya, kerusuhan anti-Yahudi, murtad paksa, pengusiran, batasan-batasan sosial, dan lokalisasi ke kampung Yahudi.

Antisemitisme berbeda kualitasnya dari penindasan-penindasan terhadap orang Yahudi dahulu kala. Penindasan-penindasan pada masa lampau dilatarbelakangi alasan-alasan politik, dan orang Yahudi diperlakukan sama dengan orang-orang dari suku-suku bangsa lainnya. Seiring bangkitnya Gereja-Gereja, biang keladi utama serangan terhadap orang Yahudi beralih dari alasan-alasan politik ke alasan-alasan agama, karena serangan terhadap orang Yahudi secara khusus berpangkal dari pandangan umat Kristen terhadap bangsa dan agama Yahudi.[125] Pada Abad Pertengahan, bangsa Yahudi yang hidup di bawah daulat Muslim pada umumnya menikmati toleransi dan integrasi,[126] tetapi adakalanya mengalami penganiayaan besar-besaran, semisal aniaya dari Khilafah Muwahidin.[127]

Mazhab Yahudi Hasidi[sunting | sunting sumber]

Pendiri mazhab Yahudi Hasidi adalah Rabi Yisroel ben Eliezer (1700–1760) alias Ba'al Syem Tob (Empunya Nama Baik). Mazhab ini muncul pada masa-masa penganiayaan terhadap orang Yahudi, ketika orang-orang Yahudi Eropa tergerak untuk mendalami Talmud. Banyak yang merasa bahwa penghayatan agama mereka sudah terlampau "akademis", dan bahwasanya mereka tidak lagi menaruh perhatian pada spiritualitas maupun sukacita. Para pengikut mazhab ini lebih suka berhimpun di rumah-rumah ibadat kecil dan informal yang disebut stibel. Tidak seperti sinagoga tradisional, stibel dapat digunakan sebagai tempat sembahyang berjemaah maupun sebagai tempat menggelar acara-acara perayaan yang dimeriahkan dengan menari-nari, makan minum, dan beramah-tamah.[128] Murid-murid Ba'al Syem Tob menarik banyak pengikut baru, dan mendirikan banyak aliran Hasidi di seluruh Eropa. Tidak seperti agama-agama lain yang lazimnya disebarluaskan melalui pemberitaan lisan atau media cetak, mazhab Yahudi Hasidi tersebar luas berkat jasa-jasa para Tsadikim (sadikin), yang menggunakan kewibawaan mereka untuk mendorong orang lain ikut bergabung. Mazhab Yahudi Hasidi disambut baik oleh masyarakat Yahudi Eropa karena mudah dipelajari, tidak serta-merta mewajibkan keterikatan penuh, dan menyajikan tontonan yang memukau.[129] Mazhab Yahudi Hasidi akhirnya menjadi jalan hidup bagi banyak orang Yahudi Eropa Timur. Gelombang imigrasi orang Yahudi pada era 1880-an mendatangkan mazhab ini ke Amerika Serikat. Mazhab ini mengaku bukanlah sesuatu yang baru, melainkan penyegaran agama Yahudi asli. Sebagaimana yang dikatakan sebagian pihak, "mereka hanya mengangkat kembali hal-hal yang sudah hilang dari generasi ke generasi". Meskipun demikian, pada mulanya timbul perpecahan serius di antara umat Yahudi Hasidi dan non-Hasidi. Orang Yahudi Eropa yang menolak mazhab Yahudi Hasidi dijuluki misnagdim (harfiah: lawan). Alasan-alasan yang melatarbelakangi penolakan terhadap mazhab Yahudi Hasidi antara lain adalah semangat meluap-luap yang mewarnai persembahyangannya, dinilai menyimpang dari tradisi lantaran memuliakan pemimpin sebagai susuhunan yang mahabenar dan bermukjizat, serta kekhawatiran bahwa mazhab ini lama-kelamaan akan menjadi mazhab yang memuliakan tokoh tertentu sebagai Al Masih. Seiring berlalunya waktu, perbedaan-perbedaan antara umat Hasidi dan pihak yang berseberangan dengan mereka lambat laun memudar, dan kedua belah pihak kini dianggap sebagai bagian dari mazhab Yahudi Haredi.

Abad Pencerahan dan mazhab-mazhab baru[sunting | sunting sumber]

Menjelang akhir abad ke-18 M, Eropa diriuhkan oleh berbagai gerakan intelektual, sosial, dan politik yang dikenal dengan sebutan Pencerahan. Berkat gerakan ini, sejumlah pasal yang menghalangi interaksi umat Yahudi dengan dunia luar dihapuskan, sehingga umat Yahudi akhirnya berkesempatan mengenyam pendidikan dan pergaulan sekuler. Gerakan serupa juga muncul di kalangan umat Yahudi, yakni Haskalah alias "Pencerahan Yahudi", khususnya umat Yahudi Eropa Tengah dan Eropa Barat, sebagai tanggapan terhadap Pencerahan maupun keleluasaan-keleluasaan yang baru saja mereka nikmati. Haskalah menganjurkan integrasi dengan masyarakat sekuler dan ikhtiar menuntut ilmu pengetahuan nonagamawi dengan nalar. Banyak orang Yahudi terpikat pada cita-cita emansipasi politik yang didengungkan Haskalah sehingga merasa tidak perlu lagi menjalankan syariat, dan jumlah orang Yahudi yang berasimilasi ke dalam masyarakat Kristen Eropa kian hari kian meningkat. Semua mazhab modern dalam agama Yahudi terbentuk sebagai reaksi terhadap kecenderungan semacam ini.

Mazhab Yahudi Pembaharuan atau Yahudi Liberal mula-mula muncul dan berkembang di Eropa Tengah, kemudian juga di Britania Raya dan Amerika Serikat. Mazhab ini melonggarkan amalan-amalan wajib (khususnya yang amalan-amalan yang membatasi pergaulan orang Yahudi dengan orang non-Yahudi), meniru kesantunan Protestan dalam bersembahyang, dan menitikberatkan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam tradisi kenabian Yahudi. Mazhab Yahudi Ortodoks Modern dibentuk sebagai reaksi terhadap Mazhab Yahudi Pembaharuan, oleh para pemuka agama yang berpendapat bahwa orang Yahudi dapat saja melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat selaku warga negara yang setara dengan umat Kristen sambil tetap menjalankan syariat. Sementara itu, di Amerika Serikat, para hartawan Yahudi Pembaharuan membantu para ulama Eropa, yang Ortodoks dalam amalan tetapi bersikap kritis (dan skeptis) dalam mengkaji Alkitab dan Talmud, untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan ulama yang menghasilkan rabi-rabi bagi kaum imigran dari Eropa Timur. Rabi-rabi Yahudi Ortodoks berhaluan kiri ini bergabung dengan rabi-rabi Yahudi Pembaharuan berhaluan kanan yang merasa bahwa tidak semua hukum agama Yahudi boleh dibuang, dan akhirnya membentuk mazhab Yahudi Konservatif. Umat Yahudi Ortodoks yang menentang Haskalah membentuk mazhab Yahudi Ortodoks Haredi. Dengan berpindahnya warga Yahudi Eropa secara besar-besaran selepas Holokaus, dan berdirinya negara Israel, mazhab-mazhab ini pun saling bersaing menarik pengikut baru dari kalangan umat Yahudi tradisional di atau dari negara-negara lain.

Spektrum ketaatan beragama[sunting | sunting sumber]

Sidur dalam bahasa Ibrani dan Marathi, terbit pada tahun 1889 untuk digunakan oleh umat Bene Israel.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, Israel, Kanada, Inggris Raya, Argentina, dan Afrika Selatan memiliki populasi Yahudi yang besar. Ketaatan beragama umat Yahudi sangat beragam. Menurut Survei Populasi Yahudi Nasional edisi tahun 2001, dalam komunitas Yahudi Amerika Serikat, yakni komunitas Yahudi terbesar nomor dua di dunia, 4,3 juta dari 5,1 juta orang Yahudi memiliki satu dua kaitan dengan agama Yahudi.[130] 80% dari populasi Yahudi yang memiliki keterkaitan dengan agama Yahudi turut serta melaksanakan satu dua amalan agama Yahudi, tetapi hanya 48% yang terdaftar sebagai anggota suatu jemaat, dan kurang dari 16% yang mengikuti sembahyang berjemaah secara teratur.[131]

Tingkat kelahiran di kalangan umat Yahudi Amerika mengalami penurunan dari 2,0 menjadi 1,7 (tingkat penggantian adalah 2,1).[132] Tingkat perkawinan berkisar antara 40–50% di Amerika Serikat, dan hanya sekitar sepertiga dari anak-anak pasangan kawin campur yang dibesarkan sebagai pemeluk agama Yahudi. Lantaran kawin campur dan rendahnya tingkat kelahiran, populasi Yahudi Amerika Serikat merosot dari 5,5 juta jiwa pada tahun 1990 ke 5,1 juta jiwa pada tahun 2001. Angka-angka ini mencerminkan kecenderungan-kecenderungan populasi Yahudi diaspora pada umumnya, tetapi pengamatan terhadap total populasi Yahudi memperlihatkan kecenderungan-kecenderungan pertambahan jumlah anggota dalam beberapa mazhab dan komunitas, misalnya komunitas Yahudi Haredi. Gerakan ba'al tesyubah adalah semacam gerakan "hijrah rohani" di kalangan umat Yahudi, yakni perubahan sikap dari acuh tak acuh menjadi lebih taat beragama.

Hubungan dengan agama lain[sunting | sunting sumber]

Yahudi dan Kristen[sunting | sunting sumber]

Sinagoga Santa María la Blanca di Toledo, Spanyol, yang didirikan pada abad ke-12 ini sempat dialihfungsikan menjadi gereja seusai kerusuhan-kerusuhan anti-Yahudi pada tahun 1391

Agama Kristen mula-mula adalah salah satu mazhab agama Yahudi era Haikal ke-2, tetapi kemudian terpisah dari agama Yahudi pada abad pertama tarikh Masehi. Perbedaan-perbedaan antara agama Kristen dan agama Yahudi awalnya berkisar seputar soal benar tidaknya Yesus adalah Al Masih bangsa Yahudi, tetapi perbedaan-perbedaan ini akhirnya mustahil terukunkan. Perbedaan-perbedaan utama adalah perbedaan pandangan tentang fitrah Al Masih, penebusan, dosa, status titah-titah Tuhan kepada bangsa Israel, bahkan hakikat Tuhan itu sendiri. Lantaran perbedaan-perbedaan ini, agama Yahudi secara tradisonal menganggap agama Kristen sebagai syituf (syirik), yakni agama yang menyembah Tuhan bangsa Israel dengan cara dan pemahaman yang tidak mencerminkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, agama Kristen secara tradisional menganggap agama Yahudi tidak lagi diperlukan sesudah wujudnya agama Kristen, dan bahwasanya bangsa Yahudi sudah tergantikan oleh Gereja, kendati keyakinan Kristen mengenai teologi dua perjanjian muncul sebagai fenomena sesudah umat Kristen merenungkan dampak teologi agama mereka terhadap Holokaus Nazi.[133]

Sedari Abad Pertengahan, Gereja Katolik berpegang teguh pada Constitutio pro Judæis (pernyataan resmi mengenai umat Yahudi), yang berbunyi:

Dengan ini kami maklumkan bahwa tak seorang Kristen pun dibenarkan memaksa mereka untuk dibaptis dengan menggunakan kekerasan, jika mereka tidak rela dan menolak dibaptis. ... Tanpa keputusan pejabat politik setempat, tak seorang Kristen pun dibenarkan untuk mencelakai, membunuh, dan merampas uang mereka, maupun mengubah kebiasan-kebiasaan baik yang sudah lumrah diamalkan di tempat mereka bermukim.[134]

Sebelum beremansipasi pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19, orang Yahudi yang berdiam di negeri Kristen harus tunduk pada perintah-perintah dan larangan-larangan hukum yang merendahkan martabat mereka, antara lain perintah mengenakan pakaian tertentu sebagai tanda Yahudi semisal topi Yahudi dan lencana kuning, larangan menetap selain di kota-kota besar dan kota-kota kecil tertentu atau bermukim di luar kawasan-kawasan tertentu (kampung Yahudi) di dalam sebuah kota, dan larangan berkecimpung di bidang-bidang usaha tertentu semisal usaha dagang pakaian baru di Swedia pada Abad Pertengahan. Selain itu, orang Yahudi juga dikenai pajak-pajak khusus, disisihkan dari kehidupan bermasyarakat, dihalang-halangi menunaikan ibadat, dan dilarang berbahasa asing. Ada pula negara-negara yang mengusir umat Yahudi dari wilahnya, seperti Inggris pada tahun 1290 (diizinkan masuk kembali pada tahun 1655), dan Spanyol pada tahun 1492 (diizinkan masuk kembali pada tahun 1868). Pemukim-pemukim Yahudi pertama di Amerika Utara tiba di Nieuw Amsterdam, koloni Belanda, pada tahun 1654. Warga-warga Yahudi pertama ini tidak dibenarkan menjadi pejabat publik, membuka toko pengecer, maupun mendirikan sinagoga. Sesudah Nieuw Amsterdam direbut Inggris pada tahun 1664, hak-hak warga Yahudi tidak mengalami peningkatan, tetapi Asser Levy menjadi orang Yahudi pertama yang duduk sebagai anggota dewan juri pengadilan di Amerika Utara pada tahun 1671.[135] Pada tahun 1791, negara Prancis yang baru saja mengalami revolusi menjadi negara pertama yang menghapus segala macam aturan khusus bagi orang Yahudi, disusul oleh Prusia pada tahun 1848. Emansipasi orang Yahudi Inggris Raya terwujud pada tahun 1858, sesudah hampir 30 tahun lamanya diperjuangkan oleh Isaac Lyon Goldsmid.[136] Orang Yahudi akhirnya diperbolehkan menjadi anggota parlemen dengan disahkannya Undang-Undang Keleluasaan Orang Yahudi tahun 1858. Kekaisaran Jerman menghapus segala macam aturan khusus bagi orang Yahudi di Jerman pada tahun 1871, yang kelak diberlakukan kembali dengan Undang-Undang Nürnberg pada tahun 1935.

Ketenteraman hidup umat Yahudi di negeri-negeri Kristen seringkali dirongrong dengan aksi-aksi fitnah darah, pengusiran, paksaan berpindah agama, bahkan pembantaian. Prasangka buruk terhadap agama Yahudi merupakan biang keladi persekusi terhadap umat Yahudi di Eropa. Retorika dan antipati Kristen terhadap umat Yahudi muncul pada tahun-tahun permulaan sejarah agama Kristen dan disuburkan oleh aksi-aksi anti-Yahudi yang kian lama kian marak pada abad-abad selanjutnya. Perlakuan umat Kristen terhadap umat Yahudi juga mencakup tindak kekerasan bahkan pembunuhan yang berpuncak pada Holokaus.[137]:21[138]:169[139] Perlakuan semacam ini dipicu oleh dakwah Kristen, dalam seni rupa dan ajaran-ajaran yang memasyarakat selama dua milenia, yang mengungkap pandangan hina terhadap orang Yahudi,[140] serta dalam statuta-statuta yang sengaja dirancang untuk mempermalukan dan melekatkan citra buruk pada orang Yahudi. Partai Nazi dikenal gemar menindas komunitas-komunitas umat Kristen; beberapa di antaranya, semisal Gereja Bersaksi, Gereja Katolik,[141] Kaum Quaker, dan Saksi Yehuwa, menolong dan menyelamatkan orang-orang Yahudi yang menjadi incaran rezim antiagama itu.[142]

Sikap umat dan denominasi-denominasi Kristen terhadap bangsa dan agama Yahudi sudah berubah ke arah yang lebih positif semenjak Perang Dunia II. Paus Yohanes Paulus II dan Gereja Katolik "menjunjung tinggi pengakuan Gereja akan status terpilih yang bersifat permanen dan berkesinambungan dari bangsa Yahudi" maupun pengukuhan kembali perjanjian antara Tuhan dan bangsa Yahudi.[143] Pada bulan Desember 2015, Vatikan mengeluarkan antara lain sepucuk dokumen berisi 10.000 kata, yang menegaskan bahwa umat Katolik harus bahu-membahu dengan umat Yahudi dalam memerangi antisemitisme.[144]

Yahudi dan Islam[sunting | sunting sumber]

Perempuan-perempuan Muslim di melah kota Esawira
Bimah Sinagoga Ben Ezra di Kairo, Mesir

Baik agama Yahudi maupun agama Islam mengaku berasal dari Abraham Sang Pitarah, sehingga dianggap sebagai agama-agama Abrahamik. Menurut tradisi Yahudi maupun tradisi Muslim, bangsa Yahudi adalah keturunan Ishak bin Abraham, dan bangsa Arab adalah keturunan Ismael bin Abraham. Kendati sama-sama percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki banyak amalan yang serupa, kedua agama ini berbeda karena umat Yahudi tidak mengakui kenabian Yesus dan Muhammad. Umat Yahudi dan umat Muslim sudah saling kenal sejak abad ke-7 M, yakni sedari awal kemunculan dan penyebaran agama Islam di Jazirah Arab, bahkan kurun waktu mulai tahun 712 sampai tahun 1066 M di bawah daulat Bani Umayah dan Bani Abas dianggap sebagai Zaman Keemasan kebudayaan Yahudi di Spanyol. Umat non-Muslim yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa di wilayah kedaulatan khilafah, termasuk umat Yahudi, disebut dzimmi. Umat dzimmi diizinkan mengamalkan ajaran agamanya dan mengatur diri sendiri, tetapi dibebani aturan-aturan khusus yang tidak diberlakukan atas umat Muslim.[145] Sebagai contoh, umat dzimmi wajib membayar jizya, pajak per kapita yang dibebankan kepada kaum lelaki non-Muslim berstatus merdeka,[145] serta dilarang memanggul senjata dan bersaksi di hadapan mahkamah sehubungan dengan perkara-perkara yang melibatkan umat Muslim.[146] Sejumlah pasal hukum yang berkaitan dengan umat dzimmi pada hakikatnya sangatlah simbolis. Sebagai contoh, umat dzimmi di negeri-negeri tertentu diwajibkan untuk mengenakan pakaian khusus, kendati aturan ini tidak terdapat di dalam Al Quran maupun hadits, malah baru diciptakan di Bagdad pada Awal Abad Pertengahan, dan tidak diterapkan secara konsisten.[147] Umat Yahudi di negara-negara Muslim tidak sepenuhnya bebas dari persekusi. Sebagai contoh, banyak umat Yahudi yang dibunuh, dihukum buang, atau dipaksa masuk Islam pada abad ke-12 di Persia, serta mengalami perlakuan yang sama dari Khilafah Muwahidin di Afrika Utara dan di Al Andalus,[148] maupun dari para imam Zaidiyah di Yaman pada abad ke-17. Adakalanya umat Yahudi juga diwajibkan membentuk perkampungan sendiri. Sebagai contoh, umat Yahudi Maroko diwajibkan sejak abad ke-15 untuk tinggal di dalam kampung-kampung bertembok (melah), yang kian padat penghuni sejak permulaan abad ke-19.[149]

Pada pertengahan abad ke-20, umat Yahudi diusir keluar dari hampir semua negara Arab.[150][151][152] Sebagian besar dari mereka memutuskan untuk menetap di Israel. Sekarang ini, tema-tema antisemit, antara lain penyangkalan Holokaus, sudah lumrah dijumpai dalam propaganda gerakan-gerakan Islam semisal Hizbulah dan Hamas, dalam pernyataan-pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga pemerintah negara Republik Islam Iran, bahkan dalam surat-surat kabar dan terbitan-terbitan lain dari Partai Refah.[153]

Sinkretisme[sunting | sunting sumber]

Ada sejumlah gerakan yang berusaha menggabungkan unsur-unsur agama Yahudi dengan unsur-unsur agama lain. Yang paling terkenal dari gerakan-gerakan semacam ini adalah mazhab Yahudi Masehi, sebuah gerakan keagamaan dari era 1960-an[154][155][156][157] yang menggabungkan unsur-unsur agama Yahudi dengan akidah agama Kristen.[157][158][159][160][161] Secara garis besar, mazhab ini mengajarkan bahwa Yesus adalah Al Masih bangsa Yahudi serta salah satu dari Tiga Pribadi Ilahi,[162][163] dan bahwasanya keselamatan hanya dapat diperoleh dengan cara menerima Yesus sebagai juru selamat pribadi.[164] Beberapa tokoh gerakan ini menyatakan bahwa Yahudi Masehi adalah salah satu mazhab agama Yahudi.[165] Organisasi-organisasi dari semua mazhab agama Yahudi menentang pernyataan ini, dan menegaskan bahwa mazhab Yahudi Masehi sesungguhnya adalah salah satu sempalan Kristen, karena mengajarkan akidah yang identik dengan ajaran Kristen Paulusiyah.[166]

Contoh-contoh lain dari sinkretisme yang melibatkan usur-unsur agama Yahudi adalah Neopaganisme Semit, kelompok penghayat kepercayaan dengan tatanan organisasi longgar yang menggabungkan kepercayaan pagan atau Wicca dengan sejumlah amalan agama Yahudi; Umat Buddha Yahudi, kelompok penghayat kepercayaan dengan tatanan organisasi longgar yang memasukkan unsur-unsur spiritualitas Asia ke dalam kepercayaan mereka; dan sejumlah jemaat Yahudi Pembaharuan yang secara bebas dan terbuka menggabungkan akidah agama Yahudi dengan ajaran-ajaran agama Buddha, Sufi, agama-agama pribumi Amerika, dan agama-agama lain.

Sentra Kabalah, yang mempekerjakan guru-guru dari berbagai macam agama, adalah sebuah gerakan Zaman Baru yang mengaku hendak memasyarakatkan kabalah, salah satu bagian dari tradisi suluk agama Yahudi.

Baca juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Mason, Steve (Agustus 2009). "The Bible and Interpretation". www.bibleinterp.com. Diakses tanggal 19 November 2018. 
  2. ^ "Oxford Dictionaries – Dictionary, Thesaurus, & Grammar". 
  3. ^ Cohen, Shaye J. D. (1999). The beginnings of Jewishness: boundaries, varieties, uncertainties. Berkeley: University of California Press. ISBN 978-0520211414. OCLC 39727721. 
  4. ^ Jacobs, Louis (2007). "Judaism". Dalam Fred Skolnik. Encyclopaedia Judaica. 11 (edisi ke-2). Farmington Hills, MI: Thomson Gale. hlm. 511. ISBN 978-0-02-865928-2. Yudaisme, agama, filsafat, dan jalan hidup orang Yahudi. 
  5. ^ "Knowledge Resources: Judaism". Berkley Center for Religion, Peace, and World Affairs. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Agustus 2011. Diakses tanggal 22 November 2011. 
  6. ^ 14,3 juta jiwa (populasi inti umat Yahudi) sampai 17,4 juta jiwa (termasuk pemeluk agama lain yang berorang tua Yahudi), menurut: 14–14,5 juta jiwa, menurut:
  7. ^ "What is the oral Torah?". Torah.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  8. ^ "Karaite Jewish University". Kjuonline.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 Agustus 2010. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  9. ^ "Society for Humanistic Judaism". Shj.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  10. ^ "Jewish Denominations". Religionfacts.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  11. ^ "Reform Judaism". Religionfacts.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  12. ^ "What is Reform Judaism?". Reformjudaism.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  13. ^ Encyclopædia Britannica. "Britannica Online Encyclopedia: Bet Din". Britannica.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  14. ^ a b "Judaism 101: Rabbis, Priests and Other Religious Functionaries". Jewfaq.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  15. ^ "History of Judaism until 164 BCE". History of Judaism. BBC. 
  16. ^ David P Mindell (30 June 2009). The Evolving World. Harvard University Press. hlm. 224. ISBN 978-0-674-04108-0. 
  17. ^ "Religion & Ethics – Judaism". BBC. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  18. ^ Religion: Three Religions, One God PBS
  19. ^ Settings of silver: an introduction to Judaism hlm. 59 oleh Stephen M. Wylen, Paulist Press, 2000
  20. ^ Heribert Busse (1998). Islam, Judaism, and Christianity: Theological and Historical Affiliations. Markus Wiener Publishers. hlm. 63–112. ISBN 978-1-55876-144-5. 
  21. ^ Irving M. Zeitlin (2007). The Historical Muhammad. Polity. hlm. 92–93. ISBN 978-0-7456-3999-4. 
  22. ^ Jewish Contributions to Civilization: An Estimate (buku)
  23. ^ Cambridge University Historical Series, An Essay on Western Civilization in Its Economic Aspects, hlm.40: Hebraisme, sebagaimana Helenisme, telah menjadi salah satu faktor mahapenting dalam perkembangan peradaban Barat; agama Yahudi, selaku pendahulu agama Kristen, secara tidak langsung banyak berjasa dalam pembentukan cita-cita mulia dan budi pekerti luhur di negara-negara Barat semenjak bermulanya tarikh Masehi.
  24. ^ Sebagai contoh, baca Deborah Dash Moore, American Jewish Identity Politics, University of Michigan Press, 2008, hlm. 303; Ewa Morawska, Insecure Prosperity: Small-Town Jews in Industrial America, 1890–1940, Princeton University Press, 1999. hlm. 217; Peter Y. Medding, Values, interests and identity: Jews and politics in a changing world, Jilid ke-11 dari Studies in contemporary Jewry, Oxford University Press, 1995, hlm. 64; Ezra Mendelsohn, People of the city: Jews and the urban challenge, Jilid 15 dari Studies in contemporary Jewry, Oxford University Press, 1999, hlm. 55; Louis Sandy Maisel, Ira N. Forman, Donald Altschiller, Charles Walker Bassett, Jews in American politics: essays, Rowman & Littlefield, 2004, hlm. 158; Seymour Martin Lipset, American Exceptionalism: A Double-Edged Sword, W.W. Norton & Company, 1997, hlm. 169.
  25. ^ a b "World Jewish Population 2015". Diakses tanggal 8 Agustus 2016. 
  26. ^ Nahum Sarna 1969 Understanding Genesis. New York: Schocken
  27. ^ Neusner, Jacob (2003). "Defining Judaism". Dalam Neusner, Jacob; Avery-Peck, Alan. The Blackwell companion to Judaism. Blackwell. hlm. 3. ISBN 978-1-57718-059-3. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  28. ^ Kejadian 17:3–8: Lalu sujudlah Abram, dan berfirmanlah Tuhan kepadanya, "dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Aku tetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Aku buat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Tuhanmu dan Tuhan keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Aku beri negeri ini, yakni negeri yang engkau diami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Aku berikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Tuhan mereka." Kejadian 22:17–18: Maka Aku akan memberkati engkau, dan memperbanyak keturunanmu laksana bintang di langit, dan laksana pasir di pantai, dan keturunanmu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau sudah taat kepada-Ku."
  29. ^ Keluaran 20:3: "Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku." Ulangan 6:5: Kasihilah Sang Rabb, Tuhanmu, dengan sepenuh hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan sekuat tenagamu."
  30. ^ Imamat 19:18: "Janganlah engkau menuntut balas, janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Sang Rabb."
  31. ^ Kadushin, Max, 1972 The Rabbinic Mind. New York: Bloch Publishing Company. hlm. 194
  32. ^ Kadushin, Max, 1972 The Rabbinic Mind. New York: Bloch Publishing Company. hlm. 203
  33. ^ Kitab Melakim (Raja-Raja) dan Kitab Yesyayahu (Yesaya) di dalam Tanak memuat sejumlah kecil dari sekian banyak riwayat Alkitab tentang penyembahan ilah-ilah lain yang dilakukan oleh raja-raja bangsa Israel dan pihak-pihak tertentu dalam masyarakat Israel kuno. Sebagai contoh, "istri-istri Raja Salomo mengalihkan hatinya kepada ilah-ilah lain... Dan ia melakukan apa yang jahat di mata Sang Rabb, dan tidak sepenuh hati mencari Sang Rabb" (selengkapnya diriwayatkan dalam 1 Raja-Raja 11:4–10); Raja Ahab "berpaling dan berbakti kepada Baal, dan sujud menyembahnya... Dan Ahab membangun sebuah kuil bagi Asyera; dan terus-menerus menyakiti hati Sang Rabb, Tuhan Israel, melebihi semua raja Israel yang mendahuluinya" (1 Raja-Raja 16:31–33); Nabi Yesaya melaknat orang-orang yang "menghaturkan sesaji kepada berhala pesugihan, dan menyuguhkan minuman anggur berempah kepada berhala peruntungan" (Yesaya 65:11–12). Terjemahan: Tanak terbitan JPS (Jewish Publication Society), sejak tahun 1917, tersedia di Mechon Mamre.
  34. ^ Newman, Carey C.; Davila, James R.; Lewis, Gladys S., ed. (1999). The Jewish roots of Christological monotheism: papers from the St. Andrews conference on the historical origins of the worship of Jesus. Brill. ISBN 978-90-04-11361-9. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  35. ^ Maimes, Steven (Jan 2013). "Is There a Jewish Theology or Not?" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 November 2018 – via ResearchGate. 
  36. ^ Septimus, Daniel. "Must a Jew Believe in God?". My Jewish Learning. 70 / Faces Media. Diakses tanggal 19 November 2018. 
  37. ^ Steinberg, Milton 1947 Basic Judaism New York: Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 36
  38. ^ "Judaism 101: Movements of Judaism". Jewfaq.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  39. ^ "Theology on Tap Winter 2014 under way in Mandeville: Keeping the Faith". NOLA.com. 
  40. ^ Langton, Daniel R. (2011). Normative Judaism? Jews, Judaism and Jewish Identity. Gorgias press. ISBN 978-1-60724-161-4. 
  41. ^ Rabbi S. of Montpelier, Yad Rama, Y. Alfacher, Rosh Amanah.
  42. ^ "Maimonides' 13 Foundations of Judaism". Mesora. However if he rejects one of these fundamentals he leaves the nation and is a denier of the fundamentals and is called a heretic, a denier, etc. 
  43. ^ Rabbi Mordechai Blumenfeld. "Maimonides, 13 Principles of Faith". Aish HaTorah. According to the Rambam, their acceptance defines the minimum requirement necessary for one to relate to the Almighty and His Torah as a member of the People of Israel 
  44. ^ a b c Daniel Septimus. "The Thirteen Principles of Faith". MyJewishLearning.com. 
  45. ^ Ronald L. Eisenberg (2004). The JPS guide to Jewish traditions. Jewish Publication Society. hlm. 509. ISBN 978-0-8276-0760-6. The concept of "dogma" is ... not a basic idea in Judaism. 
  46. ^ Dogma in Medieval Jewish Thought, Menachem Kellner.
  47. ^ "The Thirteen Principles of the Jewish Faith". Hebrew4Christians. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  48. ^ "What Do Jews Believe?". Mechon Mamre. Jika ada orang yang ingin menyusun suatu daftar keyakinan Yahudi yang dapat diterima secara luas, maka hasil yang paling mendekati kesempurnaan adalah ke-13 asas Musa bin Maimun. 
  49. ^ The JPS guide to Jewish traditions, hlm. 510, "Yang akhirnya diterima nyaris di mana-mana adalah Tiga Belas Rukun Iman"
  50. ^ "Judaism 101: What Do Jews Believe?". Jewfaq.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  51. ^ "Description of Judaism, Ontario Consultants on Religious Tolerance". Religioustolerance.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  52. ^ "Judaism 101: The Patriarchs and the Origins of Judaism". Jewfaq.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  53. ^ Rietti, Rabbi Jonathan. "How Do You Know the Exodus Really Happened?". Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 September 2004.  Kata "emunah" (iman) telah keliru diterjemahkan ke dalam Alkitab Raja James menjadi sekadar "belief" (kepercayaan) atau "faith" (kepercayaan penuh), padahal sesungguhnya berarti conviction (keyakinan), yakni pengetahuan yang lebih empatik akan Tuhan berdasarkan pengalaman nyata.
  54. ^ "Jewish Sacred Texts". Religionfacts.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  55. ^ M. San 10:1. Terjemahan tersedia di sini [1].
  56. ^ Kosior, Wojciech (2015). Some Remarks on the Self-Images of the Modern Judaism. Textual Analysis. Filozofia kultury. Kraków. hlm. 91–106. 
  57. ^ "Judaism 101: A Glossary of Basic Jewish Terms and Concepts". Union of Orthodox Jewish Congregations in America. 12 April 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Februari 2001. 
  58. ^ Danzinger, Eliezer. "How Many of the Torah's Commandments Still Apply?". Chabad.org. Diakses tanggal 5 Juni 2017. 
  59. ^ Codex Judaica Kantor 2006, hlm. 146" (sebagaimana yang diuraikan mengenai Yehudah Ha Nasi)
  60. ^ Abraham ben David, Seder Ha-Kabbalah Leharavad, Yerusalem 1971, hlm. 16 (bahasa Ibrani) (sebagaimana yang diuraikan mengenai Yehudah Ha Nasi)
  61. ^ Student, Gil. "Proofs for the Oral Law". The AishDas Society. Diakses tanggal 5 Juni 2017. 
  62. ^ The Prayer book: Weekday, Sabbath, and Festival diterjemahkan dan ditata oleh Ben Zion Bokser. New York: Hebrew Publishing Company. hlmn. 9–10
  63. ^ Kadushin, Max 1972 The Rabbinic Mind New York: Bloch Publishing. hlm. 213
  64. ^ Neusner, Jacob 2003 Invitation to the Talmud Stipf and Son, Oregon xvii–xxii
  65. ^ Stern, David "Midrash and Indeterminacy" dalam Critical Inquiry, Jld. 15, No. 1 (Musim Gugur, 1988), hlm. 151.
  66. ^ Neusner, Jacob 2003 Invitation to the Talmud Stipf and Son, Oregon xvii-vix; Steinsaltz, Adin 1976 The Essential Talmud New York: Basic Books. 3–9; Strack, Hermann 1980 Introduction to the Midrash and Talmud New York: Atheneum. 95; Stern, David "Midrash and Indeterminacy" dalam Critical Inquiry, Jld. 15, No. 1 (Musim Gugur, 1988), hlmn. 132–161
  67. ^ Stern, David "Midrash and Indeterminacy" dalam Critical Inquiry, Jld. 15, No. 1 (Musim Gugur, 1988), hlm. 147.
  68. ^ Cohen, Abraham 1949 Everyman's Talmud New York: E.P. Dutton & Co. xxiv; Strack, Hermann 1980 Introduction to the Midrash and Talmud New York: Atheneum. 95
  69. ^ Cohen, Abraham 1949 Everyman's Talmud New York: E.P. Dutton & Co. xxiv; Steinsaltz, Adin 1976 The Essential Talmud New Yorki: Basic Books. 222; Strack, Hermann 1980 Introduction to the Midrash and Talmud New York: Atheneum. 95
  70. ^ Strack, Hermann 1980 Introduction to the Midrash and Talmud New York: Atheneum. hlm. 95
  71. ^ סדור רינת ישראל לבני חוײל Yerusalem: 1974, hlmn. 38–39
  72. ^ Chief Rabbi Sir Jonathan Sacks, 2006 The Koren Sacks Siddur: Hebrew/English Prayer Book: The Authorized Daily Prayer Book of the United Hebrew Congregations of the Commonwealth London: Harper Collins Publishers hlmn. 54–55
  73. ^ Nosson Scherman 2003 The Complete Artscroll Siddur Edisi ke-3, Brooklyn, NY: Mesorah Publications hlmn. 49–53
  74. ^ Rabbi Schneur Zalman of Liadi, Nissen Mangel, 2003 Siddur Tehillat Hashem Kehot Publication Society. hlmn. 24–25
  75. ^ ἰουδαΐζειν. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project
  76. ^ Judaism, AskOxford Diarsipkan 31 May 2008 di Wayback Machine.
  77. ^ a b Skarsaune, Oskar (2002). In the Shadow of the Temple: Jewish Influences on Early Christianity. InterVarsity Press. hlm. 39ff. ISBN 978-0-8308-2670-4. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  78. ^ Shaye J.D. Cohen 1999 The Beginnings of Jewishness: Boundaries, Varieties, Uncertainties University of California Press. 105–106
  79. ^ Boyarin, Daniel (14 Oktober 1994). "Pengantar". A radical Jew: Paul and the politics of identity. Berkeley: University of California Press. hlm. 13–38. ISBN 978-0-520-08592-3. LCCN 93036269. Diakses tanggal 15 Juni 2006. Paulus termotivasi oleh hasrat Yunanistik akan Yang Esa, yang menghasilkan antara lain suatu cita-cita akan esensi manusia yang bersifat universal, melampaui perbedaan dan hierarki. Akan tetapi kemanusiaan universal ini disandangkan (dan masih disandangkan) pada dualisme tubuh dan roh, sehingga kendati tubuh itu bersifat perseorangan, ditandai melalui amalan-amalan selaku orang Yahudi atau orang Gerika, dan melalui anatomi selaku laki-laki atau perempuan, roh itu bersifat universal. Kendati demikian, Paulus tidak menolak tubuh, sebagaimana yang dilakukan pihak lain semisal kaum gnostik, tetapi justru menganjutkan suatu sistem yang memberi tempat bagi tubuh, sekalipun tubuh ditundukkan di bawah roh. Dualisme antropologi Paulus juga selaras dengan dualisme ilmu tafsir. Sebagaimana umat manusia terdiri atas unsur jasmani dan unsur rohani, demikian pula halnya dengan bahasa. Bahasa terdiri atas tanda-tanda jasmaniah dan makna rohaniah yang terkandung di dalamnya. Manakala pandangan ini diterapkan atas sistem religi yang diwarisi Paulus, tanda-tanda jasmaniah Taurat, yang berasal dari agama Yahudi historis, ditafsir ulang menjadi lambang-lambang yang dipahami Paulus sebagai syarat-syarat dan peluang-peluang universal bagi umat manusia. 
  80. ^ Boyarin, Daniel (1994). "Answering the Mail". A radical Jew: Paul and the politics of identity. Berkeley, California: University of California Press. ISBN 978-0-520-08592-3. Keyahudian mendobrak penggolongan-penggolongan jati diri, karena keyahudian bukan kebangsaan, bukan silsilah keturunan, bukan kepercayaan, melainkan ketiga-ketiganya sekaligus, terpadu dalam ketegangan dialektis satu sama lain. 
  81. ^ Weiner, Rebecca (2007). "Who is a Jew?". Jewish Virtual Library. Diakses tanggal 6 Oktober 2007. 
  82. ^ Samuel G. Freedman, "Strains Grow Between Israel and Many Jews in the U.S." The New York Times, 6 Februari 2015
  83. ^ Heschel, Susannah (1998) Abraham Geiger and the Jewish Jesus. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 157. ISBN 0-226-32959-3
  84. ^ "Law of Return 5710-1950". Kementerian Luar Negeri Israel. 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 Oktober 2007. Diakses tanggal 22 Oktober 2007. 
  85. ^ Jacob, Walter (1987). Contemporary American Reform Responsa. Mars, PA: Central Conference of American Rabbis. hlm. 100–106. ISBN 978-0-88123-003-1. Diakses tanggal 28 September 2011. 
  86. ^ "Karaite FAQ: Frequently Asked Questions About Karaism". 
  87. ^ "What is the origin of Matrilineal Descent?". Shamash.org. 4 September 2003. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Oktober 1996. Diakses tanggal 9 Januari 2009. 
  88. ^ "What is the source of the law that a child is Jewish only if its mother is Jewish?". Torah.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Desember 2008. Diakses tanggal 9 Januari 2009. 
  89. ^ Emma Klein (27 Juli 2016). Lost Jews: The Struggle for Identity Today. Springer. hlm. 6–. ISBN 978-1-349-24319-8. 
  90. ^ Robin May Schott (25 Oktober 2010). Birth, Death, and Femininity: Philosophies of Embodiment. Indiana University Press. hlm. 67–. ISBN 978-0-253-00482-6. 
  91. ^ Dosick (2007), hlmn. 56–57.
  92. ^ Robert Gordis. "Torah MiSinai:Conservative Views". A Modern Approach to a Living Halachah. Masorti World. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 July 2007. Taurat adalah pancaran Tuhan... Bagi kita, konsep ini bukanlah berarti bahwa proses pewahyuan adalah tindakan Tuhan mengimlakan sesuatu. 
  93. ^ "Conservative Judaism". Jewlicious. 16 Juni 2005. Oleh karena itu kami pahami istilah ini sebagai suatu kiasan yang berarti bahwa Taurat itu bersifat ilahiah dan mencerminkan kehendak Tuhan. 
  94. ^ Elazar, Daniel. "Can Sephardic Judaism be Reconstructed?". Jerusalem Center for Public Affairs. Diakses tanggal 15 Mei 2018. 
  95. ^ Jager, Elliot. "Sephardi Judaism Straining to Stay Non-Denominational". Jerusalem Post. Diakses tanggal 15 Mei 2018. 
  96. ^ "Tefillin", "The Book of Jewish Knowledge", Nathan Ausubel, Crown Publishers, NY, 1964, hlm. 458
  97. ^ "Shabbat". Judaism 101. 12 April 2006. 
  98. ^ a b c d e f g "Judaism 101: Kashrut". Jewfaq.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  99. ^ Chaya Shuchat. "The Kosher Pig?". It is also the most quintessentially "treif" of animals, with its name being nearly synonymous with non-kosher ... Although far from alone in the litany of non-kosher animals, the pig seems to stand in a class of its own. 
  100. ^ "Tamar Levy, St. Louis, MO – Block Yeshiva High School, Grade 9". OUkosher.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 June 2011. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  101. ^ Syulhan Aruk, Yoreh De'ah, (87:3)
  102. ^ Elliot Dorff, "On the Use of All Wines" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 22 Desember 2009.   (2.19 MB), YD 123:1.1985, hlmn. 11–15.
  103. ^ "Kashrut Facts". Religionfacts.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  104. ^ "Judaism 101: Kashrut: Jewish Dietary Laws". Jewfaq.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  105. ^ Wa Yiqra (Imamat) 11
  106. ^ Rice, Yisrael (10 Juni 2007). "Judaism and the Art of Eating". Chabad. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  107. ^ Jewish life in WWII England: "ada...dispensasi khusus...yang memperbolehkan orang-orang Yahudi yang menjalani masa bakti dalam angkatan bersenjata untuk menyantap makanan "non-kosyer" bilamana makanan Yahudi tidak tersedia; penyimpangan dari halakah tersebut diizinkan demi keselamatan nyawa manusia, termasuk nyawa sendiri.'"
  108. ^ Y. Lichtenshtein M.A. "Weekly Pamphlet #805". Universita Bar-Ilan, Fakultas Kajian Yahudi, Jawatan rabani. ... larangan-larangan tertentu dapat ditiadakan tanpa ragu ketika nyawa terancam maut, misalnya makan makanan yang tidak kosyer 
  109. ^ a b Wa Yiqra (Imamat) 15.
  110. ^ Bamidbar (Bilangan) 19.
  111. ^ Avi Kehat. "Torah tidbits". Ou.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Maret 2007. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  112. ^ a b "Judaism 101: Kosher Sex". Jewfaq.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  113. ^ "Karaites". Encyclopedia.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2010. 
  114. ^ Wasserfall, Rahel (1999). Women and water: menstruation in Jewish life and law. Brandeis University Press. ISBN 978-0-87451-960-0. 
  115. ^ a b Wilhelm Bacher. "Talmud". Jewish Encyclopedia. 
  116. ^ Yehezkal Kauffman, The Religion of Israel
  117. ^ Robert Alter The Art of Biblical Poetry
  118. ^ E. A. Speiser Kejadian (The Anchor Bible)
  119. ^ John Bright A History of Israel
  120. ^ Martin Noth The History of Israel
  121. ^ Ephraim Urbach The Sages
  122. ^ Shaye Cohen The beginnings of Jewishness
  123. ^ John Day Yahweh and the Gods and Goddesses of Canaan, hlm. 68.
  124. ^ Sara E. Karesh; Mitchell M. Hurvitz (2005). Encyclopedia of Judaism. Infobase Publishing. hlm. 444–. ISBN 978-0-8160-6982-8. Mazhab Saduki punah saat Haikal ke-2 dihancurkan pada tahun 70 M, dan Mazhab Farisi menjadi mazhab yang terkemuka. 
  125. ^ Langmuir, Gavin (1993). History, religion, and antisemitism. University of California Press. ISBN 978-0-520-07728-7. 
  126. ^ Cohen, Mark R. "The Neo-Lachrymose Conception of Jewish-Arab History." Tikkun 6.3 (1991)
  127. ^ Amira K. Bennison and María Ángeles Gallego. "Jewish Trading in Fes On The Eve of the Almohad Conquest." MEAH, sección Hebreo 56 (2007), 33–51
  128. ^ Stampfer, Shaul. How and Why Did Hasidism Spread?. The Hebrew University of Jerusalem. hlm. 205–207. 
  129. ^ Stampfer, Shaul. How and Why Did Hasidism Spread?. Universitas Ibrani Yerusalem, Yerusalem, Israel. hlm. 202–204. 
  130. ^ "National Jewish Population Survey (NJPS) 2000–01". 
  131. ^ Taylor, Humphrey (15 October 2003). "While Most Americans Believe in God, Only 36% Attend a Religious Service Once a Month or More Often" (PDF). HarrisInteractive. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 9 Januari 2011. Diakses tanggal 1 Januari 2010. 
  132. ^ This is My Beloved, This is My Friend: A Rabbinic Letter on Intimate relations, hlm. 27, Elliot N. Dorff
  133. ^ R. Kendall Soulen, The God of Israel and Christian Theology, (Minneapolis: Fortress, 1996) ISBN 978-0-8006-2883-3
  134. ^ Baskin, Judith R.; Seeskin, Kenneth (12 July 2010). The Cambridge Guide to Jewish History, Religion, and Culture. Cambridge University Press. hlm. 120. ISBN 9780521869607. 
  135. ^ "New Amsterdam's Jewish Crusader". Jewish Virtual Library. 
  136. ^ "Sir Isaac Lyon Goldsmid, 1st Baronet". Encyclopædia Britannica. 
  137. ^ Richard Harries. After the evil: Christianity and Judaism in the shadow of the Holocaust. Oxford University Press, 2003. ISBN 978-0-19-926313-4
  138. ^ Hans Küng. On Being a Christian. Doubleday, Garden City, N.Y., 1976 ISBN 978-0-385-02712-0
  139. ^ Lucy Dawidowicz The War Against the Jews, 1933–1945. Pertama kali terbit tahun 1975; edisi Bantam Books terbit tahun 1986, hlm. 23. ISBN 0-553-34532-X
  140. ^ Jerusalem Center for Public Affairs. 5 Mei 2009. The Origins of Christian Anti-Semitism: Interview with Pieter van der Horst
  141. ^ Gill, Anton (1994). An Honourable Defeat; A History of the German Resistance to Hitler. Heinemann Mandarin. 1995 paperback ISBN 978-0-434-29276-9; hlm. 57
  142. ^ Gottfried, Ted (2001). Heroes of the Holocaust. Twenty-First Century Books. hlm. 24–25. ISBN 9780761317173. Diakses tanggal 14 Januari 2017. Beberapa kelompok yang diketahui telah menolong orang-orang Yahudi adalah kelompok keagamaan. Salah satunya adalah Gereja Bersaksi, denominasi Protestan yang terbentuk pada bulan Mei 1934, sesudah Hitler menjadi Kanselir Jerman. Salah satu tujuannya adalah untuk memperjuangkan pembatalan hukum Nazi "yang mewajibkan pemurnian jawatan kepamongprajaan dari anasir-anasir Yahudi maupun peranakan Yahudi." Tujuan lainnya adalah untuk menolong orang-orang "yang menderita lantaran hukum-hukum yang represif maupun tindak kekerasan." Sekitar 7.000 dari 17.000 rohaniwan Protestan di Jerman bergabung dengan Gereja Bersaksi. Dari sekian banyak orang Yahudi yang mereka selamatkan, ada dua orang yang tidak dapat melupakan budi baik mereka, yakni Max Krakauer beserta istrinya. Pasangan ini berutang nyawa kepada Gereja Bersaksi lantaran berhasil selamat setelah disembunyikan di enam puluh enam rumah dan ditolong oleh lebih dari delapan puluh orang anggota jemaat Gereja Bersaksi. Gereja Katolik Jerman dengan caranya sendiri berusaha melindungi umat Katolik keturunan Yahudi. Salah satu contoh khusus langkah berani Pemuka agama Katolik, Graf von Galen, Uskup Munster. Secara terang-terangan ia mengecam penjagalan orang Yahudi yang dilakukan Nazi, dan berhasil meredam aksi kekejaman mereka untuk sementara waktu. ... Anggota-anggota Serikat Persahabatan alias kaum Quaker di Jerman, bekerja sama dengan organisasi-organisasi Serikat Persahabatan di negara-negara lain, lumayan berhasil menyelamatkan orang-orang Yahudi. ... saksi-saksi Yehuwa, yang juga diincar untuk dijebloskan ke dalam kamp-kamp konsentrasi, juga memberi pertolongan kepada orang-orang Yahudi. 
  143. ^ Wigoder, Geoffrey (1988). Jewish-Christian Relations Since the Second World War (dalam bahasa English). Manchester University Press. hlm. 87. ISBN 9780719026393. Diakses tanggal 14 Januari 2017. 
  144. ^ "Vatican issues new document on Christian-Jewish dialogue". 
  145. ^ a b Lewis (1984), hlmn. 10, 20
  146. ^ Lewis (1984), hlmn. 9, 27
  147. ^ Lewis (1999), hlm. 131
  148. ^ Lewis (1984), hlmn. 17, 18, 52, 94, 95; Stillman (1979), hlmn. 27, 77
  149. ^ Lewis (1984), hlm. 28
  150. ^ "Why Jews Fled the Arab Countries". Middle East Forum. Diakses pada tanggal 28 Juli 2013.
  151. ^ Shumsky, Dmitry. (12 September 2012) "Recognize Jews as refugees from Arab countries". Haaretz. Diakses pada tanggal 28 Juli 2013.
  152. ^ Meir, Esther. (9 Oktober 2012) "The truth about the expulsion". 'Haaretz. Diakses pada tanggal 28 Juli 2013.
  153. ^ Bernard Lewis (June 1998). "Muslim Anti-Semitism". Middle East Quarterly. 
  154. ^ Feher, Shoshanah. Passing over Easter: Constructing the Boundaries of Messianic Judaism, Rowman Altamira, 1998, ISBN 978-0-7619-8953-0, hlm. 140. "This interest in developing a Jewish ethnic identity may not be surprising when we consider the 1960s, when Messianic Judaism arose."
  155. ^ Ariel, Yaakov (2006). "Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". Dalam Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New and Alternative Religions in America. 2. Westport, CN: Greenwood Publishing Group. hlm. 191. ISBN 978-0-275-98714-5. LCCN 2006022954. OCLC 315689134. Menjelang berakhirnya era 1960-an dan 1970-an, baik umat Yahudi maupun umat Kristen di Amerika Serikat dikejutkan oleh munculnya gerakan berapi-api Kristen Yahudi atau Yahudi Kristen. 
  156. ^ Ariel, Yaakov (2006). "Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". Dalam Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New and Alternative Religions in America. 2. Westport, CN: Greenwood Publishing Group. hlm. 194. ISBN 978-0-275-98714-5. LCCN 2006022954. OCLC 315689134. Kebangkitan Mazhab Yahudi Masehi. Pada tahap pertama kemunculan mazhab ini, yakni pada permulaan dan pertengahan era 1970-an, orang-orang Yahudi yang beralih memeluk agama Kristen membentuk sejumlah jemaat atas prakarsa sendiri. Lain dari komunitas-komunitas Kristen Yahudi sebelumnya, jemaat-jemaat Yahudi Masehi jauh lebih mandiri, lepas dari kendali lembaga-lembaga misionaris maupun denominasi-denominasi Kristen, sekalipun mereka masih berharap keberadaannya dapat diterima oleh komunitas injili yang lebih luas. 
  157. ^ a b Melton, J. Gordon. Encyclopedia of Protestantism. Infobase Publishing, 2005, ISBN 978-0-8160-5456-5, hlm. 373. "Messianic Judaism is a Protestant movement that emerged in the last half of the 20th century among believers who were ethnically Jewish but had adopted an Evangelical Christian faith.... By the 1960s, a new effort to create a culturally Jewish Protestant Christianity emerged among individuals who began to call themselves Messianic Jews."
  158. ^ Ariel, Yaakov (2006). "Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". Dalam Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New and Alternative Religions in America. 2. Westport, CN: Greenwood Publishing Group. hlm. 191. ISBN 978-0-275-98714-5. LCCN 2006022954. OCLC 315689134. While Christianity started in the first century of the Common Era as a Jewish group, it quickly separated from Judaism and claimed to replace it; ever since the relationship between the two traditions has often been strained. But in the twentieth century groups of young Jews claimed that they had overcome the historical differences between the two religions and amalgamated Jewish identity and customs with the Christian faith. 
  159. ^ Ariel, Yaakov (2006). "Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". Dalam Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New and Alternative Religions in America. 2. Westport, CN: Greenwood Publishing Group. hlm. 194–195. ISBN 978-0-275-98714-5. LCCN 2006022954. OCLC 315689134. When the term resurfaced in Israel in the 1940s and 1950s, it designated all Jews who accepted Christianity in its Protestant evangelical form. Missionaries such as the Southern Baptist Robert Lindsey noted that for Israeli Jews, the term nozrim, "Christians" in Hebrew, meant, almost automatically, an alien, hostile religion. Because such a term made it nearly impossible to convince Jews that Christianity was their religion, missionaries sought a more neutral term, one that did not arouse negative feelings. They chose Meshichyim, Messianic, to overcome the suspicion and antagonism of the term nozrim. Meshichyim as a term also had the advantage of emphasizing messianism as a major component of the Christian evangelical belief that the missions and communities of Jewish converts to Christianity propagated. It conveyed the sense of a new, innovative religion rather that [sic] an old, unfavorable one. The term was used in reference to those Jews who accepted Jesus as their personal savior, and did not apply to Jews accepting Roman Catholicism who in Israel have called themselves Hebrew Christians. The term Messianic Judaism was adopted in the United States in the early 1970s by those converts to evangelical Christianity who advocated a more assertive attitude on the part of converts towards their Jewish roots and heritage. 
  160. ^ Cohn-Sherbok, Dan (2000). "Messianic Jewish mission". Messianic Judaism. London: Continuum International Publishing Group. hlm. 179. ISBN 978-0-8264-5458-4. OCLC 42719687. Diakses tanggal 10 Agustus 2010. Evangelism of the Jewish people is thus at the heart of the Messianic movement. 
  161. ^ Ariel, Yaakov S. (2000). "Chapter 20: The Rise of Messianic Judaism". Evangelizing the chosen people: missions to the Jews in America, 1880–2000. Chapel Hill: University of North Carolina Press. hlm. 223. ISBN 978-0-8078-4880-7. OCLC 43708450. Diakses tanggal 10 Agustus 2010. Messianic Judaism, although it advocated the idea of an independent movement of Jewish converts, remained the offspring of the missionary movement, and the ties would never be broken. The rise of Messianic Judaism was, in many ways, a logical outcome of the ideology and rhetoric of the movement to evangelize the Jews as well as its early sponsorship of various forms of Hebrew Christian expressions. The missions have promoted the message that Jews who had embraced Christianity were not betraying their heritage or even their faith but were actually fulfilling their true Jewish selves by becoming Christians. The missions also promoted the dispensationalist idea that the Church equals the body of the true Christian believers and that Christians were defined by their acceptance of Jesus as their personal Savior and not by their affiliations with specific denominations and particular liturgies or modes of prayer. Missions had been using Jewish symbols in their buildings and literature and called their centers by Hebrew names such as Emanuel or Beth Sar Shalom. Similarly, the missions' publications featured Jewish religious symbols and practices such as the lighting of a menorah. Although missionaries to the Jews were alarmed when they first confronted the more assertive and independent movement of Messianic Judaism, it was they who were responsible for its conception and indirectly for its birth. The ideology, rhetoric, and symbols they had promoted for generations provided the background for the rise of a new movement that missionaries at first rejected as going too far but later accepted and even embraced. 
  162. ^ "What are the Standards of the UMJC?". Serikat jemaat-jemaat Yahudi Masehi. June 1998. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 October 2015. Diakses tanggal 3 May 2015. 1. Kami percaya Alkitab adalah Firman Tuhan yang tepercaya, satu-satunya yang tanpa salah, dan yang diilhamkan.
    2. Kami percaya bahwa ada satu Tuhan, kekal maujud dalam tiga pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
    3. Kami percaya akan keilahian Rabb Yesyua, Al Masih, akan kelahiran-Nya dari seorang perawan, akan kehidupan-Nya yang tanpa dosa, akan mukjizat-mukjizat-Nya, akan kematian-Nya demi menebus dan menggantikan umat manusia dengan menumpahkan darah-Nya, akan kebangkitan-Nya secara jasmani, akan kenaikan-Nya ke sebelah kanan Bapa, dan akan kedatangannya kembali secara pribadi dalam kuasa dan kemuliaan.
     
  163. ^ Israel b. Betzalel (2009). "Trinitarianism". JerusalemCouncil.org. Diakses tanggal 3 July 2009. This then is who Yeshua is: He is not just a man, and as a man, he is not from Adam, but from God. He is the Word of HaShem, the Memra, the Davar, the Righteous One, he didn't become righteous, he is righteous. He is called God's Son, he is the agent of HaShem called HaShem, and he is "HaShem" who we interact with and not die. 
  164. ^ "Do I need to be Circumcised?". JerusalemCouncil.org. 10 Februari 2009. Diakses tanggal 18 Agustus 2010. To convert to the Jewish sect of HaDerech, accepting Yeshua as your King is the first act after one's heart turns toward HaShem and His Torah—as one can not obey a commandment of God if they first do not love God, and we love God by following his Messiah. Without first accepting Yeshua as the King and thus obeying Him, then getting circumcised for the purpose of Jewish conversion only gains you access to the Jewish community. It means nothing when it comes to inheriting a place in the World to Come.... Getting circumcised apart from desiring to be obedient to HaShem, and apart from accepting Yeshua as your King, is nothing but a surgical procedure, or worse, could lead to you believe that Jewish identity grants you a portion in the World to Come—at which point, what good is Messiah Yeshua, the Word of HaShem to you? He would have died for nothing!... As a convert from the nations, part of your obligation in keeping the Covenant, if you are a male, is to get circumcised in fulfillment of the commandment regarding circumcision. Circumcision is not an absolute requirement of being a Covenant member (that is, being made righteous before HaShem, and thus obtaining eternal life), but it is a requirement of obedience to God's commandments, because circumcision is commanded for those who are of the seed of Abraham, whether born into the family, adopted, or converted....If after reading all of this you understand what circumcision is, and that is an act of obedience, rather than an act of gaining favor before HaShem for the purpose of receiving eternal life, then if you are male believer in Yeshua the Messiah for the redemption from death, the consequence of your sin of rebellion against Him, then pursue circumcision, and thus conversion into Judaism, as an act of obedience to the Messiah. 
  165. ^ *"Jewish Conversion – Giyur". JerusalemCouncil.org. JerusalemCouncil.org. 2009. Diakses tanggal 5 February 2009. We recognize the desire of people from the nations to convert to Judaism, through HaDerech (The Way)(Messianic Judaism), a sect of Judaism. 
  166. ^
    Orthodox
    Simmons, Shraga. "Why Jews Don't Believe in Jesus". Aish HaTorah. Diakses tanggal 28 July 2010. Jews do not accept Jesus as the messiah because:
    #Jesus did not fulfill the messianic prophecies. #Jesus did not embody the personal qualifications of the Messiah. #Biblical verses "referring" to Jesus are mistranslations. #Jewish belief is based on national revelation.
     
    Yahudi Konservatif
    Waxman, Jonathan (2006). "Messianic Jews Are Not Jews". United Synagogue of Conservative Judaism. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 June 2006. Diakses tanggal 14 February 2007. Hebrew Christian, Jewish Christian, Jew for Jesus, Messianic Jew, Fulfilled Jew. The name may have changed over the course of time, but all of the names reflect the same phenomenon: one who asserts that s/he is straddling the theological fence between Christianity and Judaism, but in truth is firmly on the Christian side....we must affirm as did the Israeli Supreme Court in the well-known Brother Daniel case that to adopt Christianity is to have crossed the line out of the Jewish community. 
    Reform
    "Missionary Impossible". Hebrew Union College. 9 Agustus 1999. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2006. Diakses tanggal 14 Februari 2007. Missionary Impossible, an imaginative video and curriculum guide for teachers, educators, and rabbis to teach Jewish youth how to recognize and respond to "Jews-for-Jesus," "Messianic Jews," and other Christian proselytizers, has been produced by six rabbinic students at Hebrew Union College-Jewish Institute of Religion's Cincinnati School. The students created the video as a tool for teaching why Jewish college and high school youth and Jews in intermarried couples are primary targets of Christian missionaries. 
    Reconstructionist/Renewal
    "FAQ's About Jewish Renewal". Aleph.org. 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 October 2014. Diakses tanggal 20 December 2007. What is ALEPH's position on so called messianic Judaism? ALEPH has a policy of respect for other spiritual traditions, but objects to deceptive practices and will not collaborate with denominations which actively target Jews for recruitment. Our position on so-called "Messianic Judaism" is that it is Christianity and its proponents would be more honest to call it that. 

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Marc Lee Raphael, Judaism in America (Columbia University Press, 2003)
  • Avery-Peck, Alan, dan Neusner, Jacob (penyunting), The Blackwell reader in Judaism (Blackwell, 2001)
  • Cohn-Sherbok, Dan, Judaism: history, belief, and practice (Routledge, 2003)
  • Avery-Peck, Alan, dan Neusner, Jacob (penyunting), The Blackwell Companion to Judaism (Blackwell, 2003)
  • Boyarin, Daniel (1994). A Radical Jew: Paul and the Politics of Identity. Berkeley: University of California Press.
  • Max Weber, Ancient Judaism, Free Press, 1967, ISBN 0-02-934130-2.
  • Wayne Dosick, Living Judaism: The Complete Guide to Jewish Belief, Tradition and Practice.
  • Neil Gillman, Conservative Judaism: The New Century, Behrman House.
  • Jeffrey S. Gurock, American Jewish Orthodoxy in Historical Perspective. 1996, Ktav.
  • Julius Guttmann, alih bahasa oleh David Silverman, Philosophies of Judaism. JPS. 1964
  • Barry W. Holtz (penyunting), Back to the Sources: Reading the Classic Jewish Texts. Summit Books.
  • Paul Johnson, A History of the Jews. HarperCollins, 1988
  • Jack Wertheime, A People Divided: Judaism in Contemporary America, Brandeis University Press, 1997.
  • Encyclopaedia Judaica, Keter Publishing, edisi CD-ROM, 1997
  • Egon Mayer, Barry Kosmin dan Ariela Keysar, "The American Jewish Identity Survey", bagian dari The American Religious Identity Survey, City University of New York Graduate Center. Sebuah artikel mengenai survei ini dimuat dalam The New York Jewish Week, edisi 2 November 2001.
  • Lewis, Bernard (1984). The Jews of Islam. Princeton: Princeton University Press. ISBN 0-691-00807-8.
  • Lewis, Bernard (1999). Semites and Anti-Semites: An Inquiry into Conflict and Prejudice. W. W. Norton & Co. ISBN 0-393-31839-7.
  • Stillman, Norman (1979). The Jews of Arab Lands: A History and Source Book. Philadelphia: Jewish Publication Society of America. ISBN 0-8276-0198-0.
  • Day, John. Yahweh and the Gods and Goddesses of Canaan. Chippenham: Sheffield Academic Press, 2000.
  • Dever, William G. Did God Have a Wife?. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2005.
  • Walsh, J.P.M. The Mighty from Their Thrones. Eugene: Wipf and Stock Publishers, 1987.
  • Finkelstein, Israel (1996). "Ethnicity and Origin of the Iron I Settlers in the Highlands of Canaan: Can the Real Israel Please Stand Up?" The Biblical Archaeologist, 59(4).

Umat Yahudi di negara-negara Islam:

  • A. Khanbaghi. The Fire, the Star and the Cross: Minority Religions in Medieval and Early Modern Iran (IB Tauris, 2006).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Umum
Orthodoks/Haredi
Tradisional/Konservadoks
Konservatif
Reform/Progresif
Rekonstruksionis
Pembaruan
Humanistik
Mesianik
Karaite
Literatur, dan teks

Lihat pula Torah database for links to more Judaism e-texts.

Wikimedia Torah study projects

Text study projects at Wikisource. In many instances, the Hebrew versions of these projects are more fully developed than the English.