Sunat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sunat
Circumcision central Asia2.jpg
Sebuah penyunatan yang diselenggarakan di Asia Tengah, kr. 1865-1872.
ICD-10-PCS 0VBT
ICD-9-CM V50.2
MeSH D002944
MedlinePlus 002998
eMedicine 1015820
Gambar gua dari Mesir Purba tentang sunat, pada dinding dalam Temple of Khonspekhrod, sekitar 1360 SM.

Sunat atau khitan atau sirkumsisi (Inggris: circumcision) adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Frenulum dari penis dapat juga dipotong secara bersamaan dalam prosedur yang dinamakan frenektomi. Kata sirkumsisi berasal dari bahasa Latin circum (berarti "memutar") dan caedere (berarti "memotong").

Sunat telah dilakukan sejak zaman prasejarah, diamati dari gambar-gambar di gua yang berasal dari Zaman Batu dan makam Mesir purba.[1] Alasan tindakan ini masih belum jelas pada masa itu tetapi teori-teori memperkirakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau persembahan, tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, langkah menuju kedewasaan, tanda kekalahan atau perbudakan, atau upaya untuk mengubah estetika atau seksualitas.[2] Sunat pada laki-laki diwajibkan pada agama Islam dan Yahudi.[3][4] Praktik ini juga terdapat di kalangan mayoritas penduduk Korea Selatan,[5] Amerika, dan Filipina[6]

Sunat pada bayi telah didiskusikan pada beberapa dekade terakhir. American Medical Association atau Asoiasi Dokter Amerika menyatakan bahwa perhimpunan kesehatan di Amerika Serikat, Australia, Kanada, serta negara-negara di Eropa sangat tidak merekomendasikan sunat pada bayi laki-laki.[7]

Menurut literatur AMA tahun 1999, orang tua di AS memilih untuk melakukan sunat pada anaknya terutama disebabkan alasan sosial atau budaya dibandingkan karena alasan kesehatan.[7] Akan tetapi, survey tahun 2001 menunjukkan bahwa 23,5% orang tua melakukannya dengan alasan kesehatan.[8]

Para pendukung integritas genital mengecam semua tindakan sunat pada bayi karena menurut mereka itu adalah bentuk mutilasi genital pria yang dapat disamakan dengan sunat pada wanita yang dilarang di AS.[9]

Beberapa ahli berargumen bahwa sunat bermanfaat bagi kesehatan, namun hal ini hanya berlaku jika pasien terbukti secara klinis mengidap penyakit yang berhubungan dengan kelamin. Beberapa penyakit yang kemungkinan besar memerlukan sunat untuk mempercepat penyembuhan seperti pendarahan dan kanker penis, namun, kedua hal ini jarang terjadi.[7][10] Penyakit fimosis juga bisa diatasi dengan sunat, walaupun sekarang juga telah berkembang tekhnik yang lainnya.[11]

Khitan dalam Islam[sunting | sunting sumber]

Khitan dalam Islam tidak hanya dilakukan pada laki-laki, tetapi juga kepada wanita. Khitan bagi laki-laki adalah memotong kulup (kulit) yang menutupi ujung zakar atau kepala penis, sedangkan bagi wanita adalah memotong bagian kulit yang menonjol atau yang menutupi vaginanya saja.

Manfaat khitan [12][sunting | sunting sumber]

Bagi laki-Laki[sunting | sunting sumber]

Manfaat khitan atau sirkumsis bagi laki-laki adalah menghilangkan kotoran beserta tempat kotoran itu berada yang biasanya terletak dibagian dalam dari kulit terluar penis. Serta untuk menandakan bahwa seorang muslim telah memasuki kondisi dewasa.

Usia khitan yang disarankan[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya, masyarakat mengkhitankan anaknya pada usia antara 8-12 tahun. Namun, banyak dokter yang setuju bahwa khitan dilakukan terbaik pada pertengahan umur 15 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan waktu kepada jaringan penis yang masih lunak dan berbahaya jika rusak untuk menyatu dan menguat. Mengkhitan pada usia dibawah yang dianjurkan memang boleh dilaksanakan, namun, hasil akhir yang didapat bisa sama sekali berbeda, bahkan mendapatkan hasil yang tidak diinginkan walaupun dokter telah berupaya sebaik mungkin. Berkhitan di usia muda biasanya dipengaruhi oleh lingkungan yang membuat anak merasa malu jika belum melakukan khitan, sehingga ingin segera melakukannya. Hal inilah yang harus ditekan dalam keputusan untuk melakukan sirkumsisi. Karena pada dasarnya, sirkumsisi karena pengaruh lingkungan dan sirkumsisi karena telah mencapai usia yang disarankan, menghasilkan hasil yang sama sekali berbeda.

Sunat laki-laki.
Penis yang telah di sirkumsisi.


Metode-metode[sunting | sunting sumber]

Khitan atau sunat bisa dilakukan menggunakan berbagai metode yang berbeda. Banyaknya metode ini disebabkan oleh kemampuan ahli sunat yang terlibat pada masa itu. Metode yang akan dijelaskan disini mencakup 7 metode yang umum

Klasik atau Dorsumsisi[sunting | sunting sumber]

Penis disunat dewasa mengconvert.

Metode ini sebenarnya sudah lama ditinggalkan, namun prakteknya masih dapat dilihat di sekitar pedesaan. Alat yang umumnya digunakan dalam metode ini adalah bambu yang telah ditajamkan, skalpel atau pisau bedah, dan silet. Peralatan yang akan dipakai ini sebelumnya disterilkan dengan alkohol tepat sebelum penggunaan. Tata cara yang umunya dilakukan oleh para ahli sunat dengan metode ini adalah:

  1. Membersihkan peralatan yang akan dipakai
  2. Mengukur atau memperkirakan panjang kulit yang akan dipotong, relatif terhadap ukuran penis
  3. Menarik bagian depan dari kulit dan meregangkannya dengan semacam penjepit
  4. Memotong kulit yang sudah diregangkan dengan sekali iris
  5. Mengaplikasikan obat anti-infeksi atau betadine

Bekas luka yang ditinggalkan dari metode ini tidak dijahit dan langsung dibalut (secara agak longgar tergantung kenyamanan) dengan kain kassa. Dengan cara sekali iris, metode ini memang menjadi metode tercepat dari semua metode yang ada. Namun, metode ini memberikan dampak yang sangat luas. Dampak tersebut adalah:

  • Terpotongnya pembuluh darah yang berperan mengalirkan darah ke sebagian kepala penis
  • Terpotongnya susunan syaraf yang diduga memengaruhi kenikmatan saat hubungan seksual
  • Pendarahan yang hebat jika pasien mengalami hemofilia yang belum terdeteksi
  • Lecet yang disebabkan karena masih adanya perlengketan kulit dengan kepala penis saat pemotongan
  • Rasa sakit yang amat sangat bisa menyebabkan pasien bergerak dan menyebabkan alur pemotongan tidak rata

Metode ini kemudian disempurnakan seiring dengan perkembangan medis di dunia internasional menggunakan obat bius lokal dan sedikit jahitan untuk memperbagus hasil yang didapat dan mengurangi rasa sakit, yang umumnya membuat pasien menjadi trauma.

Kovensional atau umum[sunting | sunting sumber]

Metode ini telah berevolusi dari metode sebelumnya, yaitu metode klasik. Pada metode ini, semua prosedur telah mengacu kepada aturan atau standar medis, sehingga meningkatkan keberhasilan sirkumsisi. Hal yang umumnya ada atau dilakukan saat melaksanakan metode ini adalah:

  • Pembiusan lokal
  • Penggunaan pisau bedah yang lebih akurat
  • Tenaga medis yang professional
  • Teknologi benang jahit yang bisa menyatu dengan jaringan disekitarnya, sehingga meniadakan keperluan untuk melepas benang jahit

Dengan adanya kelengkapan ini, kemungkinan terjadinya infeksi pasca operasi dapat diminimalkan sampai tidak ada infeksi.

Lonceng atau ikat[sunting | sunting sumber]

Metode ini pada dasarnya unik. Pada metode ini, tidak ada sama sekali pemotongan atau operasi, sehingga dimungkinkan sirkumsisi tanpa operasi dan tanpa rasa sakit. Namun, metode ini memerlukan waktu yang relatif lama, maksimal selama 2 minggu. Banyak kontroversi terjadi atas metode ini, karena kemungkinan terjadi infeksi tinggi sekali. Dibawah ini adalah proses sirkumsisi dengan metode lonceng:

  1. Seluruh bagian penis dibersihkan
  2. Bagian kulit yang akan dihilangkan diukur
  3. Kulit yang telah diukur kemudian diikat menggunakan seutas benang operasi
  4. Ikatan dibiarkan hingga menjadi nekrosis
  5. Nekrosis kemudian menjadi lunak sehingga mudah dilepaskan
  6. Proses sirkumsisi selesai dengan mengaplikasikan obat anti-infeksi

Dapat dilihat bahwa pada metode ini terdapat langkah nekrosis, dimana kulit menjadi mati karena tidak mendapat aliran darah sama sekali. Hal ini sangat dikecam dan dilarang di dunia kedokteran karena nekrosis mengandung bakteri yang mematikan, yaitu Clostridium perfringens.

Clamp atau Klamp[sunting | sunting sumber]

Metode ini memiliki banyak merek dagang terdaftar, namun, pada prinsipnya adalah kulit yang akan dihilangkan dijepit kemudia dipotong saat itu juga. Secara sekilas, proses penjepitan terlihat seperti metode lonceng, namun, sangat berbeda di tahap selanjutnya, yaitu pemotongan. Pada metode ini, penjepitan hanya dilakukan sebentar saja selama operasi berlangsung dan segera dilepas lalu penjepit kemudian langsung dibuang (sekali pakai) sehingga tidak terjadi nekrosis. Merek dagang yang umumnya dipromosikan adalah:

  • Gomco
  • Ismail Clamp
  • Q-Tan
  • Sunathrone Clamp
  • Ali’s Clamp
  • Tara Clamp
  • Smart Clamp

Di Indonesia, 2 metode yang terkenal adalah Tara Clamp dan Smart Clamp.

Tara Clamp[sunting | sunting sumber]

Ditemukan dan dipatenkan oleh seorang professor, dr. Tara Gurcharan Singh pada awal tahun 1990, alat ini hampir seluruhnya terbuat dari plastik dan digunakan hanya sekali saja.

Pada metode ini, kulit yang akan dihilangkan dilebarkan, kemudian ditahan dengan Tara Clamp itu sendiri. Setelah 3-5 menit, kulit akan terlepas dengan sendirinya dikarenakan tekanan.

Walaupun metode ini menggunakan tekanan, nyatanya metode ini tidak menimbulkan rasa sakit, tanpa pendarahan, tanpa jahitan, dan bisa langsung melakukan aktivitas yang relatif ringan.

Electrocautery[sunting | sunting sumber]

Metode ini menggunakan tekhnik yang berbeda sekali dengan metode yang lainnya, dimana umumnya menggunakan pemotongan dengan pisau bedah atau alat lain, sementara metode ini menggunakan panas yang tinggi tetapi dalam waktu yang sangat singkat.

Metode ini memiliki kelebihan dalam hal mengatur pendarahan, dimana umum terjadi pada anak berumur dibawah 8 tahun, yang dimana memiliki pembuluh darah yang kecil dan halus.

Flash Cutter[sunting | sunting sumber]

Metode ini merupakan pengembangan secara tidak langsung dari metode electrocautery yang dimana perbedaan mendasarnya adalah menggunakan sebilah logam yang sangat tipis dan diregangkan sehingga terlihat seperti benang logam. Logam tersebut kemudian dipanaskan sedikit menggunakan battery. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh bakteri yang kemungkinan masih ada, dan juga untuk mempercepat pemotongan. Karena alat ini menggunakan battery, alat ini cenderung lebih mudah dibawa sehingga beberapa dokter yang memiliki alat ini bisa melakukan proses sirkumsisi dirumah pasien sampai selesai.

Laser Carbon Dioxide[sunting | sunting sumber]

Metode inilah yang menggunakan murni laser selama proses sirkumsisi. Metode ini adalah metode tercepat selain menggunakan metode klasik karena didukung oleh tekhnologi medis yang telah maju. Berikut ini adalah urutan proses sirkumsisi pada umumnya menggunakan laser:

  1. Pasien diberikan anethesi lokal disekitar pangkal penis
  2. Kulit yang akan dipotong kemudian diukur dan ditahan dengan menggunakan klem sekali pakai
  3. Laser kemudian disinarkan persis di klem tersebut
  4. Langsung setelah pemotongan selesai, klem dibuka, dan hasil sirkuksisi diberi obat anti-infeksi dan di perban
  5. Tim dokter juga menyarankan untuk diberikan sedikit jahitan agar hasil potongannya tidak terlalu terlihat setelah sembuh, dan juga untuk mencegah luka berpindah posisi.

Semua proses ini memakan waktu maksimal 15 menit jika tanpa hambatan. Pemotongannya sendiri memerlukan waktu kurang dari 1 menit karena laser yang digunakan. Metode ini bisanya disarankan dokter jika yang akan di sirkumsisi masih berusia dibawah 12 tahun. Namun, pada dasarnya, usia berapa saja diperbolehkan untuk menggunakan metode ini.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wrana, P. (1939). "Historical review: Circumcision". Archives of Pediatrics 56: 385–392.  as quoted in: Zoske, Joseph (Winter 1998). "Male Circumcision: A Gender Perspective". Journal of Men’s Studies 6 (2): 189–208. 
  2. ^ Gollaher, David L. (February 2000). Circumcision: a history of the world’s most controversial surgery. New York, NY: Basic Books. hlm. 53–72. ISBN 978-0-465-04397-2. 
  3. ^ "Circumcision". American-Israeli Cooperative Enterprise. Diakses 03-10-2006. 
  4. ^ Beidelman, T. (1987). "CIRCUMCISION". In Mircea Eliade. The Encyclopedia of religion. Volume 3. New York, NY: Macmillan Publishers. hlm. 511–514. ISBN 978-0-02-909480-8. Diakses 03-10-2006. 
  5. ^ Ku, J.H.; M.E. Kim, N.K. Lee, and Y.H. Park (2003). "Circumcision practice patterns in South Korea: community based survey". Sexually Transmitted Infections 79 (1): 65–67. doi:10.1136/sti.79.1.65. PMID 12576619. Diakses 03-10-2006. 
  6. ^ Lee, R.B. (2005). "Circumcision practice in the Philippines: community based study". Sexually Transmitted Infections 81 (1): 91. doi:10.1136/sti.2004.009993. PMID 15681733. 
  7. ^ a b c "Report 10 of the Council on Scientific Affairs (I-99):Neonatal Circumcision". 1999 AMA Interim Meeting: Summaries and Recommendations of Council on Scientific Affairs Reports. American Medical Association. December 1999. hlm. 17. 
  8. ^ Adler, R; Ottaway MS, Gould S (Feb 2001). "Circumcision: we have heard from the experts; now let's hear from the parents". Pediatrics 107 (2): E20. 
  9. ^ Milos, Marilyn F; Macris, Donna (1992). "Circumcision: A Medical or a Human Rights Issue?". Journal of Nurse-Midwifery 37 (2): 87S–96S. 
  10. ^ Schoen, Edgar J. (September 1997). "Benefits of newborn circumcision: is Europe ignoring medical evidence?" (PDF). Archives of Disease in Childhood 77 (3): pp. 258–260. PMID 9370910. Diakses 13-06-2006. 
  11. ^ Dewan, P.A.; Tieu H.C., and Chieng B.S. (August 1996). "Phimosis: Is circumcision necessary?". Journal of Paediatrics and Child Health 32 (4): 285–289. Diakses 14-06-2006. 
  12. ^ "Artikel Berjudul: Sekilas Tentang Khitan (Bagi Pria dan Wanita)". 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]