Isa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
'Isa
عيسى
Isa (Jesus)1.png
Kaligrafi 'Isa alaihis-salam (keselamatan atasnya)
LahirBetlehem
Tempat tinggalPalestina
Gelar
Orang tuaMaryam[1] (ibu)
Kerabat
  • 'Imran (kakek)

Isa (bahasa Arab: عيسى, translit. `Īsā‎) adalah tokoh dalam Al-Qur'an dan Alkitab. Tiga agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi) memiliki pandangan yang saling bertolak belakang terkait Isa.

Tradisi Islam meyakini bahwa Isa adalah nabi dan rasul Allah terakhir dari kalangan Bani Israil, juga dipandang sebagai salah satu rasul Ulul Azmi. Dia juga kerap disebut Al-Masih (bahasa Arab: المسيح‎, Mesias) dan ibnu Maryam (bahasa Arab: ٱبْنُ مَرْيَمَ‎, putra Maryam). Penyebutannya dalam Al-Qur'an utamanya menekankan pada dua aspek: kemuliaan dan kemanusiaannya. Isa disebut sebagai sosok yang saleh, nabi, dan utusan Allah, berkebalikan dengan pandangan Yahudi yang merendahkannya, seperti dianggap sebagai murtad sundal dan penyembah berhala. Di sisi lain, Isa juga dijelaskan sebagai manusia biasa dan beberapa kali disebutkan mengenai peringatan keras bagi pihak yang mengultuskannya, sebagai tanggapan atas Kristen arus utama yang mengangkat Isa sampai derajat ketuhanan.

Ayat

Kisah

Al-Qur'an (kitab suci Islam) menyebut nama Isa sebanyak 25 kali, ibnu Maryam 23 kali, dan Al-Masih 11 kali. Kisahnya disebutkan dalam Surah Ali 'Imran (3): 49-55, Al-Ma'idah (5): 110-118, dan Maryam (19): 24-36. Dalam Alkitab (kitab suci Kristen), kisahnya disebutkan dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Latar belakang

Setelah Sulaiman mangkat, Kerajaan Israel terbagi menjadi dua: kerajaan di utara yang juga disebut Kerajaan Israel, tapi kerap disebut Kerajaan Utara atau Kerajaan Samaria untuk membedakan dengan Kerajaan Israel lama; dan Kerajaan Yehuda di selatan.[3] Kerajaan Samaria ditaklukkan Asyur pada 720-an SM.[4] Satu setengah abad kemudian, Kerajaan Yehuda ditaklukkan Babilonia Baru pada tahun 587 SM dan Bait Suci (Baitul Maqdis, Masjid Al-Aqsha) yang menjadi pusat ibadah Bani Israil turut dihancurkan. Banyak Bani Israil kemudian diasingkan ke Babilonia. Masa antara Sulaiman dan sebelum pengasingan Bani Israil ke Babilonia disebut periode Bait Suci pertama. Pada masa-masa selanjutnya, Bani Israil (sebutan untuk keturunan Ya'qub) juga kerap disebut dengan bangsa Yahudi, meski ada juga non-Bani Israil yang menjadi penganut ajaran Yahudi.

Setelah lima puluh tahun di pengasingan, Kekaisaran Persia Akhemeniyah memperkenakan Bani Israil kembali ke Palestina dan Bait Suci kembali dibangun, menandakan dimulainya periode Bait Suci kedua. Antara tahun 332-160 SM, kawasan Palestina dikuasai dinasti-dinasti dari Yunani. Mereka mendorong proses Helenisasi di wilayah bawahannya, menjadikan kebudayaan Yunani sangat dominan di Palestina dan kehidupan sosial-keagamaan Bani Israil. Proses Helenisasi ini memicu umat Yahudi melancarkan Pemberontakan Makabe dan umat Yahudi berhasil berkuasa secara mandiri di bawah kepemimpinan Dinasti Yahudi Hashmonayim. Saat meluaskan wilayahnya, Hashmonayim juga memaksa penduduk taklukan untuk memeluk agama Yahudi, meskipun penduduknya bukanlah Bani Israil. Bangsa Edom kemudian menjadi Yahudi.[5][6] Pada 37 SM, kekuasaan Hashmonayim atas Palestina berakhir, digantikan oleh Herodes yang Agung, raja bawahan Romawi. Herodes adalah keturunan bangsa Edom yang menjadi pemeluk Yahudi pada masa Hashmonayim.[7][8][9][10][11] Setelah Herodes Agung mangkat pada 4 SM, wilayah Palestina dibagi-bagi untuk tiga putranya: Herodes Arkhelaus, Herodes Antipas, dan Herodes Filipus II. Secara resmi, mereka tidak menyandang gelar raja sebagaimana ayah mereka.[12] Arkhelaus menyandang gelar etnark (semacam gubernur), sedangkan Antipas dan Filipus bergelar tetrark (semacam gubernur). Sebagaimana ayah mereka, ketiganya juga penguasa bawahan Kaisar Romawi.

Isa dan Yahya hidup pada satu zaman. Mereka berdakwah di Palestina pada masa kekuasaan Kaisar Romawi kedua, Tiberius (berkuasa 14-37 M), saat Pontius Pilatus menjabat prefek (Wali negeri) Provinsi Iudaea (Palestina).[13]

Keagamaan

Saat berada di pengasingan Babilonia dan tidak adanya Bait Suci sebagai pusat peribadahan, rumah-rumah umat Yahudi (beit knesset atau sinagoga) menjadi tempat pertemuan utama untuk beribadah dan beth midrash sebagai tempat pembelajaran Taurat dan tafsirnya. Meski Akhemeniyah kemudian memperbolehkan Bani Israil kembali ke Palestina dan membangun Bait Suci kembali, Bani Israil tidak diizinkan mendirikan kerajaan. Tanpa keberadaan raja, kedudukan imam atau pendeta Yahudi (כֹּהֵן, kohen) menjadi sangat dominan dan kewenangan Bait Suci dalam kehidupan masyarakat semakin kuat. Di waktu inilah muncul aliran Saduki sebagai wadah para imam yang menjadi kelompok elit dalam masyarakat.

Meski imam memegang kendali ritual di Bait Suci, ahli dan guru Taurat (kelak disebut rabi) yang mendominasi pengajaran Taurat. Kelompok Farisi muncul dari kalangan para guru dan ahli Taurat.[14]:159 Mereka populer di kalangan rakyat biasa, berbeda dengan Saduki yang diasosiasikan dengan kelas elit.[15] Farisi sangat dikenal mendetail dalam hukum Taurat, menerapkan hukum Yahudi pada kegiatan-kegiatan duniawi untuk menguduskan dunia setiap hari.

Kelahiran

Al-Qur'an menjelaskan bahwa Maryam mengandung Isa secara mukjizat, yakni dalam keadaan perawan dan tanpa campur tangan laki-laki. Al-Qur'an dan keterangan para ulama menyebutkan bahwa Maryam keluar dari Baitul Maqdis ketika haid atau ada keperluan. Saat Maryam mengasingkan diri dari keluarganya ke sebelah timur, seorang laki-laki mendatanginya. Maryam yang sangat menjaga diri dari lelaki asing kemudian mengatakan, "Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa." Laki-laki yang ternyata adalah jelmaan Malaikat Jibril tersebut mengabarkan bahwa Maryam akan memiliki seorang putra. Maryam terheran-heran lantaran dia belum bersuami, juga menyatakan bahwa dirinya bukan pezina. Malaikat Jibril menyebutkan bahwa hal itu mudah bagi Allah dan sudah menjadi ketetapan-Nya.[16][17]

Alkitab menyebutkan bahwa Malaikat Jibril menyampaikan kabar tersebut saat Maryam ada di Nazaret. Disebutkan pula bahwa Maryam sudah berstatus sebagai tunangan seorang lelaki Bani Israil keturunan Dawud bernama Yusuf, tapi mereka belum hidup sebagai suami istri. Saat itu kerabat Maryam, Elisyeba, sedang mengandung Yahya dan usia kandungannya sudah sekitar enam bulan.[18] Maryam melahirkan putranya, Isa, di Betlehem saat masa kekuasaan Kaisar Romawi Augustus.[19] dan Palestina dipimpin Raja Herodes Agung.[20] Para sarjana berpendapat bahwa Isa lahir antara tahun 6 sampai 4 SM.[21]

Al-Qur'an menjelaskan bahwa saat merasa sakit karena melahirkan, Maryam bersandar pada pohon kurma dan berujar, "Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan." Kemudian ada yang menyeru Maryam dari tempat yang rendah, mengatakan agar dia tidak bersedih dan Allah telah menjadikan anak sungai mengalir di bawahnya. Maryam juga diminta menggoyang-goyangkan pangkal pohon kurma supaya buah kurma akan jatuh pada Maryam. Maryam juga diperintahkan untuk tidak berbicara pada siapapun pada hari ini.[22] Terkait sosok yang menyeru Maryam, sebagian penafsir menyebutkan bahwa dia adalah Jibril, sedangkan tafsiran lain menyebutkan bahwa dia adalah Isa.[23]

Dalam riwayat hadits disebutkan bahwa setiap bayi yang dilahirkan pasti akan menangis karena disentuh setan, kecuali Maryam dan putranya.[24][25][26][27][28]

Diterangkan dalam Al-Qur'an bahwa saat Maryam kembali dengan menggendong Isa, kaumnya mencelanya, menyatakan bahwa dia telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Mereka juga menyatakan, "Hai saudari Harun! Ayahmu bukanlah seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang pezina!" Namun Maryam tidak menjawab cercaan mereka dan memberi isyarat pada bayinya. Kaumnya terheran-heran karena diminta bicara dengan seorang bayi. Namun Isa yang masih bayi berbicara pada mereka, menjelaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang diangkat sebagai nabi, dianugerahi kitab, dan diberkahi oleh Allah.[29] Alkitab tidak menyebutkan mukjizat Isa yang bisa berbicara saat masih bayi.

Hijrah

Alkitab menyebutkan bahwa demi menghindari kelahiran seorang mesias, Raja Herodes Agung menitahkan agar membunuh semua bayi laki-laki di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Isa, Maryam, dan Yusuf sendiri hijrah ke Mesir dan tinggal di sana.[30] Peristiwa hijrahnya Isa dan Maryam ke Mesir tidak tercantum dalam Al-Qur'an, tetapi ayat yang menyatakan bahwa Allah melindungi Maryam dan putranya "di sebuah dataran tinggi dengan mata air yang mengalir"[31] ditafsirkan sebagai isyarat akan hal tersebut.[32][33]

Tradisi Kristen Ortodoks menyebutkan bahwa Zakariyya dibunuh saat pembantaian anak-anak di Betlehem karena menyembunyikan keberadaan putranya, Yahya, yang lahir sekitar enam bulan sebelum Isa. Namun sebagian besar penulis biografi modern dari Herodes Agung menampik kisah pembantaian itu sebagai kenyataan sejarah dan memandangnya sebagai kisah buatan.[34]

Alkitab menyebutkan bahwa Isa, Maryam, dan Yusuf kembali lagi ke Palestina setelah Herodes Agung mangkat. Namun mereka tidak kembali ke Betlehem karena kawasan tersebut sekarang masuk dalam wilayah kekuasaan Herodes Arkhelaus. Akhirnya mereka tinggal di kawasan Galilea (Palestina utara) di kota Nazaret.[35] Galilea masuk dalam wilayah kekuasaan Herodes Antipas. Herodes Agung diperkirakan mangkat pada 4 SM.[36]

Dakwah

Isa diutus untuk berdakwah pada Bani Israil.[37] Selain penyembahan pada Allah, seruan Isa yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur'an adalah bahwa dia datang untuk membenarkan kitab Taurat.[38][39][40] Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa Isa "menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu." Terkait ayat ini, sebagian ulama menafsirkan bahwa ajaran Isa tidak memperbarui Taurat sama sekali, tetapi hanya menjelaskan perkara yang disalahpahami dan diperselisihkan Bani Israil. Ulama lain berpendapat bahwa memang ajaran Isa mengubah dan memperbarui sebagian syariat Taurat. Meski demikian, Taurat tetap menjadi dasar utama dari ajaran Isa.[41] Alkitab menjelaskan bahwa Isa tidak datang untuk menghapus syariat Taurat, tapi menggenapinya.[42]

Sungai Yordan tempat dimana Isa bin Maryam pernah bertemu dengan Yahya bin Zakariyya. menurut beberapa kisah.[43]

Mukjizat

Dalam menjelaskan seruan Isa, Al-Qur'an biasanya juga menyebutkan mukjizat-mukjizat Isa. Ada enam mukjizat Isa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan sebagian besarnya disebutkan sekilas tanpa penjelasan terperinci. Berbagai literatur Muslim menuliskan dan merincikan mukjizat-mukjizat Isa dengan mengambil sumber di luar Al-Qur'an, seperti Alkitab, sumber non-kanon, dan cerita rakyat.[44][45]

Para ulama menyatakan bahwa Allah membekali nabi dengan mukjizat yang sesuai dengan keadaan zamannya. Pada masa Isa, sedang terkenal ilmu kesehatan dan biologi. Maka Isa dibekali mukjizat yang berkaitan dengan penyembuhan dan mengungguli ilmu kesehatan manusia pada masa itu, seperti menyembuhkan kebutaan dan membangkitkan orang mati.[46][41]

Bicara saat bayi

Al-Qur'an menyebutkan bahwa Isa dapat berbicara saat masih bayi.[47] Dia berbicara saat Maryam dituduh berzina, menjelaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang diangkat sebagai nabi, dianugerahi kitab, dan diberkahi oleh Allah.[48]

Burung dari tanah

Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa Isa membuat burung dari tanah liat, kemudian meniupnya, sehingga menjadi burung yang hidup.[49][47] Injil Kanak-Kanak Tomas menyebutkan bahwa Isa melakukan mukjizat itu saat masih kanak-kanak.

Penyembuhan

Mukjizat lain yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah menyembuhkan al-akmah dan kusta.[49][47] Terkait makna al-akmah, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah orang yang dapat melihat di siang hari, tapi tidak bisa saat malam hari. Pendapat lain menyatakan sebaliknya. Ulama lain berpendapat bahwa maknanya adalah orang yang rabun. Pendapat lain menyebutkan bahwa makna al-akmah adalah orang yang buta sejak lahir.[41] Alkitab mengisahkan bahwa Isa menyembuhkan dua orang buta yang mengikutinya. Namun meski Isa memperingatkan untuk jangan mengatakan kepada orang lain terkait masalah ini, dua orang itu justru menyebarkan kabar mukjizat Isa pada khalayak.[50]

Alkitab menerangkan bahwa Isa juga menyembuhkan orang yang lumpuh,[51] bisu,[52] tuli,[53] dan lainnya. Tidak hanya penyakit fisik, Isa juga disebutkan mengusir setan yang merasuki manusia.[54][55]

Menghidupkan

Isa juga dapat menghidupkan kembali orang yang mati.[49][47] Dalam sebuah riwayat sahabat Nabi disebutkan bahwa Isa pernah membangkitkan Ham bin Nuh. Isa dan Ham kemudian bertanya jawab soal bahtera Nuh.[56] Alkitab menjelaskan bahwa Isa menghidupkan seorang lelaki bernama Lazarus yang telah mati empat hari. Kejadian itu disaksikan keluarga Lazarus dan orang-orang yang datang melayat.[57]

Hal ghaib

Isa juga mampu mengetahui makanan yang telah disantap orang atau yang disimpan di rumah.[49] Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa mukjizat ini terjadi saat Isa masih kanak-kanak. Isa memberi tahu anak-anak sebayanya bahwa orang tua mereka memiliki makanan yang disembunyikan dan anak-anak itu kemudian meminta makanan tersebut pada orang tua mereka. Orang tua mereka menjadi tidak suka dengan Isa dan menganggapnya telah merusak anak mereka. Saat hendak menemui teman-teman bermainnya, Isa tidak menemui mereka karena orang tua mereka mengunci mereka di suatu rumah. Saat Isa mendengar suara gaduh dari rumah tersebut, orang tua mereka mengatakan kalau itu suara kera dan babi. Akhirnya anak-anak tersebut benar-benar berubah menjadi kera dan babi.[58]

Hidangan

Al-Qur'an menjelaskan bahwa para pengikut Isa meminta hidangan dari langit. Isa kemudian berdoa agar Allah menurunkan hidangan dari langit dan hari turunnya akan menjadi hari raya bagi mereka.[59] Beberapa ulama menafsirkan bahwa hidangan tersebut turun dari langit secara harfiah dan ditutupi dua awan. Pengikut Isa tidak mau makan sebelum Isa makan, tetapi Isa menyatakan bahwa pengikutnyalah yang harus memakannya karena mereka yang meminta. Setelahnya, Isa mengundang orang-orang miskin, papa, dan sakit untuk makan bersama hidangan tersebut. Mereka yang menderita penyakit menjadi sembuh setelah menyantapnya.[60]

Alkitab tidak menerangkan mengenai hidangan yang turun dari langit, tetapi disebutkan bahwa Isa memberkahi makanan yang jumlahnya sedikit hingga dapat disantap banyak orang. Disebutkan bahwa setelah mendengar Yahya dibunuh, Isa pergi mengasingkan diri. Namun banyak orang kemudian mengikutinya. Saat sudah mulai malam, Isa mengambil lima roti dan dua ikan, kemudian memecah-mecah dan membagikannya pada orang-orang. Disebutkan bahwa lima ribu laki-laki menyantap makanan tersebut sampai kenyang.[61][62][63]

Mukjizat lain

Ada juga mukjizat Isa yang tidak disebutkan dalam Al-Qur'an, seperti berjalan di atas air.[64][65]

Nabi Isa as. tidak dibunuh ataupun disalib

Al-Qur'an menerangkan bahwa Nabi Isa as. tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah seperti Isa.[a]

Isa diangkat ke langit

Al-Qur'an menerangkan Yahudi mencari dan berusaha membunuh Nabi Isa as., tetapi mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibkannya. Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah yang tahu tentang hal ini. Al Qur'an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini.

Nabi Isa as. di akhir zaman

Turun kembali ke bumi

Dalam hadist Nabi Muhammad ﷺ diceritakan bahwa menjelang hari kiamat/akhir zaman Nabi Isa as. akan diturunkan oleh Allah ﷻ dari langit ke bumi.[b] Peristiwa itu tergambar dari hadist berikut:

Hal pertama yang dilakukan Nabi Isa as. setelah turun dari langit adalah menunaikan shalat sebagaimana yang dijelaskan oleh hadist-hadist di atas. Isa akan menjadi makmum dalam salat yang diimami oleh Imam Mahdi.

Adapun lokasi turunnya Nabi Isa as. dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sebuah hadist berikut,

Kedatangan Nabi Isa as. akan didahului oleh kondisi dunia yang dipenuhi kedzaliman, kesengsaraan & peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia, setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi, setelah dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Nabi Isa as. akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal.

Membunuh Dajjal

Turunnya Nabi Isa as. ke bumi bertugas untuk menyelamatkan manusia dari fitnah Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama, ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah ﷻ.

Dikisahkan setelah Nabi Isa as. selesai menunaikan shalat, ia berkata, "Keluarlah kamu semua (pasukan kaum muslimin) bersama kami untuk menghadapi musuh Allah, yaitu dajjal." Lalu mereka pun keluar, kemudian dajjal yang baru saja mendakwa kepada manusia (bahwa ia adalah raja yang mendapat petunjuk dan pemimpin yang jenius serta bijaksana, bahkan mengaku sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi) melihat Nabi Isa as. Dajjal pun meleleh seperti garam yang meleleh di dalam air dan melarikan diri, akan tetapi ia dihadang oleh Nabi Isa as. di pintu kota Lud di Palestina.
Sekiranya Nabi Isa as. membiarkan saja hal ini, maka dajjal akan hancur seperti garam dalam air. Namun, Nabi Isa as. berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku berhak untuk menghajar kamu dengan satu pukulan." Lalu Nabi Isa as. menombak dan membunuhnya dan memperlihatkan kepada semua orang darah dajjal di tombaknya. Maka tahu dan sadarlah para pengikut dajjal dari kalangan Yahudi, bahwa dajjal bukanlah Allah. Jika benar apa yang didakwakan dajjal (dajjal mengaku sebagai tuhan) tentulah dajjal tidak akan dapat dibunuh oleh Nabi Isa as.

Menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj

Salah satu tugas besar Nabi Isa as. setelah membunuh dajjal adalah menyelamatkan ummat manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj.[c]

Maka saat mereka telah keluar (dari dinding tembaga yang mengurung mereka sejak zaman raja Dzulkarnain), maka Allah berkata kepada Isa ibnu Maryam, ”Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba (Ya’juj dan Ma’juj) yang tidak mampu diperangi oleh siapapun, maka hendaklah kamu mengasingkan hamba-hamba-Ku ke Thur (Thursina).”

Dahsyatnya fitnah Ya’juj dan Ma’juj digambarkan dalam sebuah hadist Rasulullah ﷺ sebagai berikut:

Menjadi pemimpin yang adil

Menurut suatu riwayat, setelah Nabi Isa as. turun dari langit, ia akan menetap dibumi sampai wafatnya selama 40 tahun. Ia akan memimpin dengan penuh keadilan, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist berikut,

Menunaikan ibadah haji

Diceritakan dalam sebuah hadist bahwa Nabi Isa as. akan melaksanakan haji.

Nabi Isa as. akan wafat

Setelah Nabi Isa as. menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman, Allah ﷻ akan mewafatkan dia. Hanya Allah ﷻ saja yang tahu kapan dan dimana Nabi Isa as. akan diwafatkan. Setelah wafatnya Isa Al-Masih kemudian dunia akan mengalami kiamat.

Wujud

Dalam buku dikatakan bawa wujud fisik Isa digambarkan oleh Muhammad yaitu, rambutnya terbelah dua, wajahnya tampan, kulitnya putih agak kemerah-merahan. Muhammad bertemu dengan Isa, ketika ia sedang dalam Isra Mi'raj ke Sidrat al-Muntahā, dilangit kedua yang disebut sebagai Al-Maa'uun.[69]

Al-Hawâriyyûn (Pengikut)

Dalam berdakwah, Isa didampingi para pengikutnya yang disebut al-Hawâriyyûn, yang jumlahnya 12 orang, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing hawari ini ditugaskan untuk menyampaikan risalah Injil bagi masing-masing suku Bani Israil. Namun nama-nama hawari tersebut tidaklah disebutkan di dalam Al-Quran. Kisah para sahabat Isa ini terdapat dalam surat Al-Mâ'idah: 111-115 dan surat Ãli-'Imrân: 52. Dalam surat tsb diceritakan bahwa al-Hawâriyyûn meminta Isa untuk menurunkan makanan dari langit. Nama surat Al-Maidah yang berarti makanan diambil karena mengandung kisah ini. Kejadian turunnya makanan dari langit ini makin menambah ketebalan iman para pengikut Isa

Lihat pula

Pranala luar

Rujukan

  1. ^ a b c An-Nisa' (4): 171
  2. ^ Az-Zukhruf (43): 63
  3. ^ 1 Raja-raja 12: 1-24
  4. ^ Broshi, Maguen (2001). Bread, Wine, Walls and Scrolls. Bloomsbury Publishing. hlm. 174. ISBN 1841272019. 
  5. ^ Flavius Josephus Antiquities 13.257–258
  6. ^ Josephus, Ant. xiii, 9:1., via
  7. ^ Herod at Encyclopædia Britannica: "...thus, Herod was, although a practicing Jew, of Arab origin on both sides."
  8. ^ "National Geographic Magazine - NGM.com". ngm.nationalgeographic.com. 
  9. ^ Aryeh Kasher dan Eliezer Witztum, King Herod: A Persecuted Persecutor: A Case Study in Psychohistory, hlm. 19-23
  10. ^ Jan Retsö, The Arabs in Antiquity: Their History from the Assyrians to the Umayyads, Routledge (2013), hlm. 374
  11. ^ Richard R. Losch, All the People in the Bible, Wm. B. Eerdmans Publishing (2008), hlm. 155
  12. ^ Jeffers, James S. (2000). The Greco-Roman World of the New Testament Era: Exploring the Background of Early Christianity. Intervarsity-Press. hlm. 125. ISBN 978-0830815890. Diakses tanggal 29 September 2016. 
  13. ^ Lukas 3: 1
  14. ^ Cohen, Shaye J.D. (1987). From the Maccabees to the Mishnah. The Westminster Press. 
  15. ^ Roth, Cecil A History of the Jews: From Earliest Times Through the Six Day War 1970 ISBN 0-8052-0009-6, hlm. 84
  16. ^ Maryam (19): 16-21
  17. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 802-804.
  18. ^ Lukas 1: 26-38
  19. ^ Lukas 2: 1-6
  20. ^ Matius 2: 1
  21. ^ Dunn, James DG (2003). "Jesus Remembered". Eerdmans Publishing: 324. 
  22. ^ Maryam (19): 22-26
  23. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 806-807.
  24. ^ Shahih Bukhari (3248)
  25. ^ Shahih Muslim (2366)
  26. ^ HR. Ahmad (2/274)
  27. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 788.
  28. ^ Hadits terkait Maryam dan putranya
  29. ^ Maryam (19): 27-33
  30. ^ Matius 2: 1-18
  31. ^ Al-Mu'minun (23): 50
  32. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 830-831.
  33. ^ A.J. Wensinck dan Penelope C. Johnstone, “Maryam”, dalam Encyclopaedia of Islam, Second Edition, disunting oleh P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. Konsutasi daring pada 30 September 2018. doi:10.1163/1573-3912_islam_COM_0692, ISBN 9789004161214.
  34. ^ Maier 1998, hlm. 170-171.
  35. ^ Matius 2: 1-23
  36. ^ Knoblet, Jerry. Herod the Great (University Press of America, 2005), hlm. 179.
  37. ^ Ali 'Imran (3): 49
  38. ^ Ali 'Imran (3): 50
  39. ^ Al-Ma'idah (5): 46
  40. ^ Ash-Shaff (61): 6
  41. ^ a b c Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3: Ali 'Imran ayat 48-51
  42. ^ Matius 5: 17
  43. ^ "Yahya b. Zakariyya", Encyclopedia of Islam.
  44. ^ Leirvik, Oddbjørn (2010). Images of Jesus Christ in Islam: 2nd Edition. Bloomsbury Publishing. hlm. 59–60. ISBN 978-1-4411-8662-1. 
  45. ^ Ayoub, Mahmoud (14 May 1992). The Qur'an and Its Interpreters, Volume II: The House of 'Imran. SUNY Press. ISBN 9780791409947 – via Google Books. 
  46. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 844-845.
  47. ^ a b c d Al-Maidah (5): 110
  48. ^ Maryam (19): 29-33
  49. ^ a b c d Ali 'Imran (3): 49
  50. ^ Matius 9: 27-31
  51. ^ Matius 9: 1-8
  52. ^ Matius 9: 32-33
  53. ^ Markus 7: 31-37
  54. ^ Matius 12: 22-37
  55. ^ Markus 1: 21-28
  56. ^ Ath-Thabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm. 357-358.
  57. ^ Yohanes 11: 1-44
  58. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 830.
  59. ^ Al-Maidah (5): 112-115
  60. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 848-850.
  61. ^ Matius 14: 13-21
  62. ^ Lukas 9: 10-17
  63. ^ Yohanes 6: 1-15
  64. ^ Matius 14: 25-27
  65. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 851-852.
  66. ^ An-Nisaa' (04): 157
  67. ^ An-Nisaa' (04): 158
  68. ^ Al-Anbiyaa' (21): 96
  69. ^ "Tempat-2 Bersejarah dlm Kehidupan Rasulullah" oleh Hanafi Muhalawi hal. 27

Daftar pustaka


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tag <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan