Maria Magdalena

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Maria Magdalena
TINTORETTO - Magdalena penitente (Musei Capitolini, Roma, 1598-1602) - copia.jpg
Maria Magdalena Bertobat (ca. 1598)
karya Domenico Tintoretto
Rasul para rasul
Dihormati diGereja Ortodoks Timur
Gereja Katolik
persekutuan gereja-gereja Anglikan
gereja-gereja Protestan bermazhab Lutheran
gereja-gereja Protestan dari sejumlah mazhab lain
agama Baha'i
DikanonisasiPrakongregasi
Pesta22 Juli
AtributGereja Barat: buli-buli pualam berisi minyak wangi
Gereja Timur: wadah minyak wangi (selaku seorang pembawa mur), atau sebutir telur merah (lambang kebangkitan); merengkuh kaki Kristus yang sudah bangkit
PelindungAhli farmasi; ahli obat; Komune Atrani, Italia; Komune Casamicciola Terme, Pulau Ischia, Italia; Kotapraja Amadeo, Provinsi Cavite, Filipina; Kotapraja Kawit, Provinsi Cavite, Filipina; Kotapraja Magdalena, Provinsi Laguna, Filipina; Kotapraja Pililla, Provinsi Rizal, Filipina; Kotapraja Arahal, Komunitas Otonom Sevilla, Spanyol; rahib dan rubiah; penyamak; peracik parfum; pengrajin sarung tangan; penata rambut; pendosa yang bertobat; orang yang baru memeluk agama Kristen; orang yang diolok-olok karena saleh; orang yang sedang berusaha melawan godaan hawa nafsu; kaum perempuan

Menurut keempat Injil kanonik, Maria Magdalena (bahasa Ibrani: מרים המגדלית, Miryám Ha-Magdalit; bahasa Yunani: Μαρία ἡ Μαγδαληνή, María hē Magdalēnē; harfiah: "Maria asal Magdala")[1] adalah seorang perempuan Yahudi pengikut Yesus yang ikut serta dalam perjalanan-perjalanan dakwahnya, dan di kemudian hari menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus.[2] Namanya disebut sebanyak dua belas kali dalam Injil-Injil kanonik, lebih banyak dibanding sebagian besar dari para rasul. Mungkin sekali ia dijuluki "Magdalena" karena berasal dari kota Magdala, sebuah kota nelayan di pesisir barat Danau Galilea.

Lukas 8:2–3 menerangkan bahwa Maria Magdalena adalah salah seorang dari perempuan-perempuan yang ikut serta dalam perjalanan-perjalanan dakwah Yesus dan menyokong kegiatan dakwah Yesus "dengan kekayaan mereka". Riwayat ini menyiratkan bahwa mungkin sekali Maria Magdalena adalah seorang perempuan yang relatif kaya. Nas yang sama juga menerangkan bahwa Yesus mengusir tujuh roh jahat keluar dari dalam diri Maria Magdalena. Keterangan ini diulangi dalam Markus 16. Menurut keempat Injil kanonik, Maria Magdalena adalah salah seorang saksi mata peristiwa penyaliban Yesus. Menurut ketiga Injil sinoptik, ia juga hadir ketika Yesus dikuburkan. Keempat Injil kanonik menyebutnya, baik seorang sendiri maupun bersama sejumlah perempuan lain, sebagai orang yang pertama kali mendapati kubur Yesus sudah kosong,[2] dan orang yang pertama kali bersaksi tentang kebangkitan Yesus.[3] Karena hal-hal inilah, banyak Gereja dari berbagai mazhab menghormatinya sebagai "rasul para rasul". Maria Magdalena dijadikan tokoh utama dalam karya-karya tulis Kristen Gnostik yang apokrif, antara lain Percakapan Sang Juru Selamat, Pistis Sofia, Injil Tomas, Injil Filipus, dan Injil Maria. Dalam karya-karya tulis yang dianggap tidak mengandung informasi sejarah yang akurat oleh para ahli ini, ia digambarkan sebagai murid yang paling dekat dengan Yesus, sekaligus sebagai orang yang paling memahami ajaran-ajaran Yesus. Menurut injil-injil Gnostik, kedekatan Maria Magdalena dengan Yesus menimbulkan ketegangan antara dirinya dengan murid-murid Yesus selebihnya, terutama dengan Simon Petrus.

Pada Abad Pertengahan, Maria Magdalena secara keliru disamakan dengan Maria dari Betani dan "perempuan berdosa" tanpa nama yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi (Lukas 7:36–50). Akibatnya, muncul keyakinan keliru yang menyebar luas di kalangan umat Kristen bahwa ia adalah seorang pelacur atau pezina yang bertobat.[4][2] Legenda-legenda Eropa Barat dari Abad Pertengahan menceritakan kisah-kisah yang muluk-muluk tentang kekayaan dan kecantikan Maria Magdalena serta kisah hijrahnya ke kawasan selatan Perancis. Anggapan yang menyamakan Maria Magdalena dengan Maria dari Betani dan "perempuan berdosa" tanpa nama merupakan salah satu kontroversi utama yang mencuat pada tahun-tahun menjelang Reformasi Protestan, dan ditolak oleh sejumlah pemimpin kaum Protestan. Pada kurun waktu Kontra Reformasi, Gereja Katolik mengedepankan sosok Maria Magdalena sebagai lambang penitensi.

Pada tahun 1969, anggapan yang menyamakan Maria Magdalena dengan Maria dari Betani dan "perempuan berdosa" tanpa nama ini dihilangkan dari Kalender Gereja Roma, tetapi anggapan bahwa Maia Magdalena adalah seorang mantan oelacur tetap bertahan dalam budaya populer. Maria Magdalena dihormati sebagai orang kudus oleh Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, persekutuan gereja-gereja Anglikan, dan gereja-gereja Protestan bermazhab Lutheran. Hari peringatannya jatuh pada tanggal 22 Juli. Gereja-gereja Protestan dari mazhab selain Lutheran menghormatinya sebagai seorang pahlawan iman. Gereja-Gereja Ortodoks Timur juga memperingati Maria Magdalena pada hari Minggu Para Pembawa Mur, padanan Ortodoks untuk tradisi Tiga Maria Gereja Barat. Spekulasi-spekulasi bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus atau bahwa ia pernah berhubungan badan dengan Yesus dianggap sebagian besar sejarawan sebagai pendapat-pendapat yang sangat diragukan kebenarannya.

Nama[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, nama "Maria Magdalena" ditulis:

Identitas[sunting | sunting sumber]

Perdebatan mengenai identitas Maria Magdalena telah berlangsung sejak masa Gereja perdana. Dalam sejarah gereja pada abad-abad kemudian, namanya dikaitkan dengan kisah perempuan yang kedapatan berbuat zina di Injil Yohanes pasal 8 dan perempuan berdosa tanpa disebut namanya yang membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian menciumnya dan meminyakinya dengan minyak wangi di Injil Lukas 7:36-50. Ada pula yang menganggapnya sama dengan Maria dari Betania, saudari Marta dan juga Lazarus.[5] Di gereja Ritus Barat, terutama sejak masa Paus St. Gregorius Agung, ketiga tokoh tersebut selalu diidentifikasikan sebagai St. Maria Magdalena. Namun, di gereja Ritus Timur, ketiga tokoh itu tetap merupakan tokoh yang berbeda, dengan perayaan terpisah untuk St. Maria Magdalena dan St. Maria dari Betania. St. Ambrosius, St. Hieronimus, St. Agustinus, St. Albertus Agung dan St. Thomas Aquinas, semuanya tidak memberi pendapat yang tegas.

Referensi dari kitab suci[sunting | sunting sumber]

Perempuan bernama "Maria Magdalena" seperti yang dicatat dalam Injil adalah salah seorang dari perempuan-perempuan yang menyertai Yesus dan para rasul sejak dalam perjalanan pengabaran Injil di Galilea:

"Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka."[6]

Injil Markus membenarkan bahwa Kristus telah mengusir tujuh setan dari Maria Magdalena.[7].

Maria Magdalena juga berdiri di kaki salib pada saat penyaliban (dicatat dalam Markus 15:40, Matius 27:56, dan Yohanes 19:25). Ia juga menjadi saksi pada pemakaman Kristus, dan pada hari Minggu Paskah merupakan orang pertama yang mendapati makam kosong dan kemudian orang pertama yang melihat Kristus yang Bangkit (Yoh. 20:1-18).

Perempuan berdosa[sunting | sunting sumber]

Maria Magdalena di bawah kayu salib. Lukisan karya Luca Signorelli.

Ada anggapan bahwa Maria Magdalena adalah "perempuan berdosa" yang diceritakan dalam Injil Lukas (Luk 7:36-50). Perempuan berdosa itu masuk ke rumah Simon orang Farisi. Ia menangis dan air matanya membasahi kaki Yesus. Ia mengurapi kaki-Nya dengan minyak wangi serta mengeringkannya dengan rambutnya. Simon orang Farisi berkata kepada dirinya sendiri, "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa," suatu keterangan yang jelas bahwa perempuan ini adalah orang tersingkir karena dosa yang amat serius seperti zina atau hubungan di luar pernikahan. Pada akhir kisah, Yesus mengampuni perempuan berdosa itu. Peristiwa ini merupakan bagian dari pewartaan Yesus di daerah Danau Galilea. Juga, segera sesudah pernyataan pengampunannya dalam Lukas 7:50, Maria Magdalena disebut dengan namanya sebagai pengikut Yesus dan diidentifikasikan sebagai "yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat" (Lukas 8:1-3). "Magdalena" berasal dari kata Magdala, yaitu kota yang terletak di pesisir Danau Galilea dekat Tiberias, merupakan kota makmur yang terkenal akan hasil perikanannya yang melimpah. Orang Romawi menghancurkan kota ini karena kebejatan moral masyarakatnya dan karena peran sertanya dalam pemberontakan bangsa Yahudi.

Dalam Talmud (= ikhtisar undang-undang dan ajaran Yahudi), dari kata Magdalena terbentuklah istilah "rambut keriting wanita," yang berarti seorang "pezina". Meskipun perempuan berdosa dalam Lukas 7 tidak secara khusus diidentifikasikan sebagai Maria Magdalena "yang darinya diusir tujuh setan" seperti dinyatakan dalam Lukas 8, Paus St. Gregorius menarik kesimpulan bahwa kedua orang ini sama, di samping juga ada tradisi gereja perdana yang menguatkan hubungan ini.

Maria dari Betania[sunting | sunting sumber]

Lukisan Maria Magdalena karya A.F.A. Sandys.

Ada pula anggapan bahwa Maria Magdalena adalah sama dengan Maria dari Betania. Dari keterangan di Injil Lukas pasal 8, di pasal 10 dikisahkan bahwa Kristus melanjutkan perjalanan ke "sebuah kampung" (yaitu Betania, meskipun tidak disebutkan oleh Lukas) ke rumah Marta, yang "mempunyai seorang saudara yang bernama Maria".[5] Di sana Marta mempersiapkan jamuan bagi Yesus.

Injil Lukas tidak mengidentifikasikan Maria Magdalena sebagai Maria dari Betania. Namun dalam Injil Yohanes pasal 12:1-11 dicatat bahwa Yesus tiba di Betania "tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati." Marta melayani dalam perjamuan. Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi dan menyeka kaki-Nya dengan rambutnya. Peristiwa ini berbeda dengan peristiwa perempuan berdosa yang mengurapi kaki-Nya di rumah Simon orang Farisi dalam Lukas 7; namun demikian, tindakan yang sama dalam kedua peistiwa tersebut mendorong orang untuk menarik kesimpulan akan pelaku yang sama, yaitu Maria Magdalena.

Lagipula, di Yohanes 11, dalam peristiwa sebelumnya di mana Yesus membangkitkan Lazarus dari orang mati, dicatat, "Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya."[8] Disini Maria diidentifikasikan sebagai ia yang meminyaki kaki Kristus. Sementara sebagian orang berpendapat bahwa pengidentifikasian dalam Yohanes 11 merujuk kepada pengurapan berikutnya seperti dicatat dalam Yohanes 12, ada yang mempertanyakan mengapa Yohanes merasa perlu memberikan keterangan demikian jika kisah dalam Yohanes bab 11 langsung bersambung dengan kisah dalam Yohanes 12? Muncul dugaan bahwa pengidentifikasian tersebut menunjuk kepada tindakan sebelumnya, yaitu kisah di rumah Simon orang Farisi yang dicatat dalam Lukas 7.

Jika argumentasi ini benar, maka Maria Magdalena, perempuan berdosa yang bertobat, dan Maria dari Betania adalah orang yang sama. St. Maria Magdalena, perempuan berdosa yang telah bertobat, yang memperoleh pengampunan sekaligus persahabatan dengan Kristus, yang berdiri dengan setia di bawah kaki salib, dan yang melihat Kristus yang bangkit, adalah teladan yang mengagumkan bagi setiap orang beriman.

Maria Magdalena sebagai orang kudus[sunting | sunting sumber]

Lukisan Maria Magdalena di kaki salib, menangisi kematian Kristus.

Gereja menghormati Maria Magdalena sebagai seorang kudus dan menjadikannya teladan bagi setiap orang Kristen yang dengan tulus hati berjuang mengejar kekudusan. Paus St. Gregorius memaklumkan keteladanan St. Maria Magdalena: seorang wanita yang menemukan hidup baru dalam Kristus.

“Ketika Maria Magdalena datang ke makam dan tidak menemukan jenasah Kristus, ia berpikir bahwa jenasahnya telah diambil orang, maka ia pun memberitahukannya kepada para murid. Setelah para murid datang dan melihat makam, mereka juga percaya akan apa yang dikatakan Maria. Kemudian ayat selanjutnya mengatakan; “Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah,” dan selanjutnya: “tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis.” Patutlah kita merenungkan sikap Maria dan cinta kasihnya yang begitu besar kepada Kristus; karena meskipun para murid telah pergi meninggalkan makam, ia tetap tinggal. Ia tetap mencari Dia yang tidak ia jumpai, dan sementara ia mencari, ia menangis; terbakar oleh rasa kasih yang hebat kepada Tuhannya, ia merindukan Dia yang dikiranya telah diambil orang. Dan demikianlah terjadi bahwa perempuan yang tinggal untuk mencari Kristus adalah satu-satunya yang pertama melihat Dia. Karena ketekunan diperlukan dalam setiap perbuatan baik, seperti sang kebenaran mengatakan kepada kita: “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Μαρία η Μαγδαληνή dalam Matius 27:56; Matius 27:61; Matius 28:1; Markus 15:40; Markus 15:47; Markus 16:1; Markus 16:9 mengganti "η" dengan "τη" karena perubahan kasus. Lukas 8:1 menyebutnya "Μαρία ... η Μαγδαληνή" dan Lukas 24:10 menyebutnya "η Μαγδαληνή Μαρία". Yohanes 19:25, Yohanes 20:1, dan Yohanes 20:18 menyebutnya "Μαρία η Μαγδαληνή".
  2. ^ a b c "Mary Magdalene, the clichés". BBC, Religions, 20 Juli 2011.
  3. ^ Thompson, Mary R. Mary of Magdala, Apostle and Leader. New York: Paulist Press, 1995. ISBN 0-8091-3573-6
  4. ^ Meyers, Carol, ed. (2000). "Named Women: Mary 3 (Magdalene)". Women in Scripture. Boston: Houghton Mifflin Co. hlm. 122. ISBN 978-0-395-70936-8. 
  5. ^ a b Lukas 10:38-42
  6. ^ Lukas 8:1-3
  7. ^ Markus 16:9
  8. ^ Yohanes 11:1-2

Pranala luar[sunting | sunting sumber]