Murid yang Yesus kasihi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Frase murid yang Yesus kasihi (bahasa Yunani: ὁ μαθητὴς ὃν ἠγάπα ὁ Ἰησοῦς, ho mathētēs hon ēgapā ho Iēsous) atau, dalam Yohanes 20:2, murid yang dikasihi Yesus (bahasa Yunani: ὃν ἐφίλει ὁ Ἰησοῦς, hon efilei ho Iēsous) disebutkan enam kali dalam Injil Yohanes,[1] namun tidak dalam kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Yohanes 21:24 menyatakan bahwa Injil Yohanes mendasarkan pada pernyataan tertulis dari murid ini.

Sejak akhir abad ke-1, murid yang dikasihi umum diidentifikasikan dengan Yohanes Penginjil.[2] Para cendekiawan mendebatkan kepengarangan dari Sastra Yohanes (Injil Yohanes, Surat-surat Yohanes Pertama, Kedua dan Ketiga dan Kitab Wahyu) sejak sekitar abad ketiga, namun secara khusus sejak Zaman Pencerahan, para cendekiawan modern cenderung menolak identifikasi ini meskipun tidak bisa memberikan identitas pasti.[3]

Catatan Alkitab[sunting | sunting sumber]

"Murid yang dikasihi" (Santo Yohanes) sampai di kubur Yesus mendahului Santo Petrus; lukisan James Tissot ca. 1886–94

"Murid yang Yesus kasihi" secara khusus disebutkan enam kali dalam Injil Yohanes:

  • Yohanes 13:23-25: Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya (yaitu pada Perjamuan Malam Terakhir) Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!" Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?"[4]
  • Yohanes 19:26-27: pada waktu Yesus di atas kayu salib, Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya*[5]: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.[6]
  • Yohanes 20:1-10: Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.[7]
  • Yohanes 21:1-25: Dalam Yohanes 21, pasal terakhir Injil Yohanes, "murid yang dikasihi adalah salah satu dari tujuh penangkap ikan yang menyaksikan mukjizat penangkapan 153 ekor ikan (Yohanes 21:1-25).[8]
  • Yohanes 21:20-23: Juga dalam pasal terakhir ini, setelah Yesus menyiratkan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah, Petrus berpaling dan melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?" Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku." Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu."[9]
  • Yohanes 21:24: Sekali lagi dalam pasal terakhir, terkait dengan pernyataan pada ayat sebelumnya, dinyatakan bahwa "dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar."[10]

Kitab-kitab Injil yang lain tidak menyebutkan siapapun dalam catatan paralel yang dapat dikaitkan dengan "murid yang dikasihi". Misalnya, dalam Lukas 24:12, dicatat bahwa Petrus lari ke kubur, tapi tidak ada catatan apakah ditemani oleh murid lain. Matius, Markus, dan Lukas tidak menyebutkan siapa di antara kedua belas murid itu yang menyaksikan penyaliban dari dekat.

Dalam Injil Yohanes, yang tidak sekalipun menyebut nama rasul Yohanes (nama "Yohanes" dalam Injil ini secara khusus hanya untuk Yohanes Pembaptis) tercantum dua rujukan kepada seorang "murid lain" yang tidak disebutkan namanya, yaitu pada Yohanes 1:35-40 dan Yohanes 18:15-16, yang kemungkinan besar adalah rasul Yohanes, berdasarkan perkataan pada Yohanes 20:2.[11]

Identitas[sunting | sunting sumber]

Rasul Yohanes[sunting | sunting sumber]

Dalam kata-kata penutup Injil Yohanes secara eksplisit mengenai "murid yang dikasihi" tertulis: "Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar."Yohanes 21:24 Ini memberikan dasar kuat bahwa "murid yang dikasihi" itu adalah rasul Yohanes putra Zebedeus.[12]

Irenaeus pada tahun 180 menulis dalam karyanya "Melawan Ajaran Sesat":

Sesudahnya, Yohanes, murid Tuhan, yang bersandar dekat dada Tuhan, sendiri menerbitkan suatu Injil ketika ia hidup di Efesus di Asia[13]

Eusebius pada abad ke-4 mencatat dalam karyanya Church History isi sebuah surat yang diyakininya ditulis oleh Polikrates dari Efesus (sekitar 130–196) pada abad ke-2. Polycrates percaya Yohanes adalah "yang bersandar dekat dada Tuhan"; menunjukkan identifikasi "murid yang dikasihi" itu.

Yohanes, yang adalah seorang saksi dan sekaligus guru, "yang bersandar dekat dada Tuhan", dan, sebagai seorang imam, mengenakan plat kudus. Ia jatuh tidur (=meninggal) di Efesus.[14]

Augustinus dari Hippo (354 – 430 M) Juga percaya bahwa Yohanes adalah "murid yang dikasihi", dalam tulisannya Tractates on the Gospel of John.

"..sang penginjil berkata, 'Dan sejak saat itu murid tersebut menerimanya [Maria, ibu Yesus] dalam rumahnya,' mengatakan mengenai dirinya sendiri. Sesungguhnya, dengan cara ini ia biasanya menyebut dirinya sendiri sebagai "murid yang Yesus kasihi": yang tentunya mengasihi mereka semua, tetapi dia lebih dari yang lain, dan dengan suatu keakraban dekat, sehingga Ia membuatnya bersandar dekat dada-Nya pada waktu makan malam; supaya, aku percaya, dengan cara ini untuk lebih tinggi menghargai keistimewaan ilahi Injil tersebut, di mana Ia kemudian berkata-kata melalui sarananya."[15]

Pengertian bahwa "murid yang dikasihi" adalah salah seorang Kedua Belas Rasul karena jelas ia hadir dalam Perjamuan Malam Terakhir yang dalam Injil Matius dan Markus dinyatakan bahwa Yesus makan dengan kedua belas murid itu.[16] Jadi, identifikasi paling umum adalah dengan rasul Yohanes, yang berarti juga penulis Injil Yohanes.[17] Merril F. Unger mempresentasikan suatu kasus mengenai kesimpulan ini melalui suatu proses eliminasi.[18]

Meskipun sejumlah sarjana modern terus berpegang pada pandangan Augustinus dan Polycrates,[19][20] ada pula yang berpendapat bahwa rasul Yohanes tidak menulis Injil Yohanes atau naskah sastra Yohanes lainnya, sehingga tidak menerima identifikasi ini.[3]

Identifikasi lain[sunting | sunting sumber]

Sejumlah hipotesis telah dikemukakan sebagai alternatif identifikasi "murid yang dikasihi" ini, meskipun tidak ada yang diterima secara umum, antara lain:[21]

Alasan untuk menyembunyikan identitas[sunting | sunting sumber]

"Rasul Yohanes" (Apostel Johannes), karya Pieter Paul Rubens

Teori mengenai identitas biasanya memasukkan upaya untuk menjelaskan mengapa perlu menggunakan istilah "murid yang dikasihi' bukannya menyebutkan nama. Suatu usulan yang umum adalah bahwa pengarang menyembunyikan namanya karena kerendahan hatinya. Ada pula yang mengusulkan penyembunyian nama ini karena alasan politik maupun keselamatan karena adanya ancaman penganiayaan. Martin L. Smith, seorang anggota Society of St. John the Evangelist, menulis bahwa pengarang Injil Yohanes sengaja mengaburkan identitas "murid yang dikasihi" supaya para pembaca Injil dapat lebih mudah mengidentifikasi hubungan para murid dengan Yesus:

Mungkin murid ini tidak pernah disebut namanya, tidak pernah diindividualisasi, supaya kita dapat lebih mudah menerima kesaksian keakraban yang dimaksudkan untuk kita semua. Kedekatan yang dinikmatinya adalah tanda kedekatan yang juga dari saya dan Anda karena kita semua dalam Kristus, dan Kristus di dalam kita.[28]

Seni[sunting | sunting sumber]

Dalam seni, "murid yang dikasihi" sering digambarkan sebagai seorang muda tanpa janggut, biasanya sebagai salah satu Kedua Belas Rasul pada Perjamuan Malam Terakhir atau bersama Maria pada waktu peristiwa penyaliban. Pada sejumlah seni abad pertengahan, "murid yang dikasihi" digambarkan dengan kepalanya pada pangkuan Kristus. Banyak artis memberikan penafsiran berbeda mengenai Yohanes 13:25 di mana murid yang dikasihi Yesus "bersandar dekat Yesus" (ayat 23; lebih harfiah, "pada dada-Nya," en to kolpo).[29]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Yohanes 13:23, Yohanes 19:26, Yohanes 20:2, Yohanes 21:7, Yohanes 21:20
  2. ^ Eusebius dari Kaisarea, Ecclesiastical History Book iii. Chapter xxiii.
  3. ^ a b Harris, Stephen L. (1985). Understanding the Bible: a Reader's Introduction (edisi ke-2nd). Palo Alto: Mayfield. hlm. 355. ISBN 978-0-87484-696-6. Meskipun tradisi kuno meyakini Rasul Yohanes menulis Injil Keempat, Kitab Wahyu dan tiga Surat Yohanes, para sarjana modern meragukan ia menulis semua itu. 
  4. ^ Yohanes 13:23-25
  5. ^ Dalam Terjemahan Baru dimuat "murid-murid-Nya", tetapi kata asli dalam bahasa Yunani berbentuk tunggal.
  6. ^ Yohanes 19:26-27
  7. ^ Yohanes 20:1-10
  8. ^ James D. G. Dunn and John William Rogerson, Eerdmans Commentary on the Bible, Wm. B. Eerdmans Publishing, 2003, p. 1210, ISBN 0-8028-3711-5.
  9. ^ Yohanes 21:20-23
  10. ^ Yohanes 21:24
  11. ^ Brown, Raymond E. 1970. "The Gospel According to John (xiii-xxi)". New York: Doubleday & Co. Pages 922, 955.
  12. ^ [ http://www.academia.edu/10375621/The_Identity_of_the_Beloved_Disciple_in_Johns_Gospel Allen, Joshua L. The Identity of the Beloved Disciple in John's Gospel]. Lipscomb University. 2014.
  13. ^ Irenaeus. Melawan Ajaran Sesat. III.1.1.
  14. ^ "NPNF2-01. Eusebius Pamphilius: Church History, Life of Constantine, Oration in Praise of Constantine – Christian Classics Ethereal Library". ccel.org. 
  15. ^ Tractate 119 (John 19:24-30). Quote: "..the evangelist says, 'And from that hour the disciple took her unto his own,' speaking of himself. In this way, indeed, he usually refers to himself as the disciple whom Jesus loved: who certainly loved them all, but him beyond the others, and with a closer familiarity, so that He even made him lean upon His bosom at supper; in order, I believe, in this way to commend the more highly the divine excellence of this very gospel, which He was thereafter to preach through his instrumentality."
  16. ^ Matius 26:20 dan Markus 14:17
  17. ^ "'beloved disciple.'" Cross, F. L., ed. (2005) The Oxford Dictionary of the Christian Church; 3rd ed., revised by Elizabeth A. Livingstone. New York: Oxford University Press ISBN 0-19-280290-9
  18. ^ Merrill F. Unger, The New Unger's Bible Dictionary, Chicago: Moody, 1988; p. 701
  19. ^ antara lain Hahn, Scott (2003). The Gospel of John: Ignatius Catholic Study Bible. hlm. 13. ISBN 978-0-89870-820-2. 
  20. ^ Morris, Leon (1995). The Gospel according to John. hlm. 12. ISBN 978-0-8028-2504-9. 
  21. ^ Köstenberger, Andreas J.; Stout, Steven O. Stout, “The Disciple Jesus Loved”, Bulletin for Biblical Research 18 (2008), 209. Mengutip sejumlah pengarang yang mengajukan "pendapat yang berani" untuk mengidentifikasi "murid yang dikasihi" dengan Tomas, Maria Magdalena, Lazarus, perempuan Samaria, dan lain-lain.
  22. ^ Ben Witherington III, What Have They Done with Jesus? (San Francisco: Harper, 2006), 141-56.
  23. ^ Joseph A. Grassi, The Secret Identity of the Beloved Disciple. (Mahwah, NJ: Paulist Press, 1992).
  24. ^ Tabor, James D. The Jesus Dynasty: The Hidden History of Jesus, His Royal Family, and the Birth of Christianity, Simon & Schuster (2006) ISBN 978-0-7432-8724-1
  25. ^ James H. Charlesworth, The Beloved Disciple: Whose Witness Validates the Gospel of John? (Valley Forge, PA: Trinity Press International, 1995), 414-21.
  26. ^ James P. Carse, The Gospel of the Beloved Disciple (San Francisco: Harper, 1997).
  27. ^ Bauckham, Richard. Jesus and the Eyewitnesses: The Gospels As Eyewitness Testimony. Grand Rapids: Eerdmans, 2008. ISBN 978-0-8028-3162-0
  28. ^ Smith, Martin L., SSJE (1991). "Lying Close to the Breast of Jesus". A Season for the Spirit (edisi ke-Tenth anniversary). Cambridge, Massachusetts: Cowley Publications. hlm. 190. ISBN 1-56101-026-X. 
  29. ^ Rodney A. Whitacre,"Jesus Predicts His Betrayal." IVP New Testament Commentaries, Intervarsity Press, 1999. ISBN 978-0-8308-1800-6

Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Baltz, Frederick W. The Mystery of the Beloved Disciple: New Evidence, Complete Answer. Infinity Publishing, 2010. ISBN 0-7414-6205-2.
  • Charlesworth, James H. The Beloved Disciple: Whose Witness Validates the Gospel of John?. Trinity Press, 1995. ISBN 1-56338-135-4.
  • Smith, Edward R. The Disciple Whom Jesus Loved: Unveiling the Author of John's Gospel. Steiner Books/Anthroposophic Press, 2000. ISBN 0-88010-486-4.