Abad Pencerahan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Zaman Pencerahan)

Abad Pencerahan atau Zaman Pencerahan atau Masa Pencerahan (bahasa Inggris: Age of Enlightenment ; bahasa Jerman: Aufklärung) adalah gerakan intelektual dan filosofis yang mendominasi Eropa pada abad ke-17 dan ke-18.[1] Abad Pencerahan ditandai dengan kemunculan serangkaian gagasan yang berfokus pada nilai kebahagiaan manusia, pencarian pengetahuan yang diperoleh melalui penalaran akal dan observasi dengan panca indra, dan cita-cita ideal seperti kebebasan, kemajuan, toleransi, persaudaraan, pemerintahan konstitusional, dan pemisahan gereja dengan negara.[2][3]

Masa Pencerahan berakar pada gerakan intelektual dan ilmiah Eropa yang dikenal sebagai humanisme renaisans yang didahului oleh Revolusi Ilmiah dan karya-karya ilmiah seperti dihasilkan oleh Francis Bacon. Dimulainya Abad Pencerahan juga dikaitkan dengan waktu penerbitan karya René Descartes yang berjudul Discourse on the Method pada tahun 1637, yang di dalamnya menampilkan diktumnya yang terkenal, Cogito, ergo sum ("Saya berpikir, maka saya ada"). Sebagian juga mengutip publikasi Isaac Newton Principia Mathematica (1687) sebagai puncak dari Revolusi Ilmiah dan awal Abad Pencerahan. Sejarawan Eropa secara tradisional mencatat permulaannya dengan kematian Louis XIV dari Perancis pada tahun 1715 dan berakhir dengan pecahnya Revolusi Perancis pada tahun 1789. Banyak juga sejarawan yang menetapkan akhir Abad Pencerahan pada awal abad ke-19, dengan tahun terakhir yang diusulkan adalah kematian Immanuel Kant pada tahun 1804.

Para filsuf dan ilmuwan pada masa itu menyebarkan gagasan mereka secara luas melalui pertemuan di akademi-akademi ilmiah, pondok-pondok Masonik, salon-salon sastra, kedai kopi dan juga dalam bentuk buku cetak, jurnal, dan pamflet. Ide-ide Pencerahan mengikis otoritas absolut monarki dan Gereja Katolik dan membuka jalan bagi revolusi politik yang terjadi di abad ke-18 dan ke-19. Berbagai gerakan abad ke-19, termasuk liberalisme, komunisme, dan neoklasikisme, mempunyai warisan intelektual mereka hingga Masa Pencerahan.[4]

Di Prancis, doktrin utama para filsuf Abad Pencerahan adalah kebebasan individu dan toleransi beragama, konsep-konsep yang bertentangan dengan monarki absolut dan dogma-dogma Gereja. Abad Pencerahan ditandai dengan pengakuan pada metode ilmiah dan reduksionisme, seiring dengan meningkatnya skeptisisme terhadap ortodoksi agama—suatu fenomena yang dibahas dalam esai Immanuel Kant Menjawab Pertanyaan: Apa Itu Pencerahan, esai yang memuat frasa Sapere aude (Beranilah untuk tahu atau beranilah untuk menjadi bijaksana).[5][6]

Intelektual Abad Pencerahan[sunting | sunting sumber]

Karya paling terkenal Nicholas de Condorcet, Esquisse d'un tableau historique des progres de l'esprit humain, 1795.[7] Dengan diterbitkannya buku ini, perkembangan Zaman Pencerahan secara umum dianggap telah berakhir.[8]

Zaman Pencerahan didahului dan terkait erat dengan Revolusi Ilmiah.[9] Filsuf sebelumnya yang karyanya mempengaruhi Zaman Pencerahan termasuk Francis Bacon dan René Descartes.[10] Beberapa tokoh utama Pencerahan termasuk Cesare Beccaria, Denis Diderot, David Hume, Immanuel Kant, Gottfried Wilhelm Leibniz, John Locke, Montesquieu, Jean-Jacques Rousseau, Adam Smith, Hugo Grotius, Baruch Spinoza, dan Voltaire.[11]

Salah satu publikasi yang sangat berpengaruh pada Masa Pencerahan adalah Encyclopédie (Ensiklopedia). Diterbitkan di antara tahun 1751 dan 1772 dalam tiga puluh lima volume, Encyclopédie disusun oleh Denis Diderot, Jean le Rond d'Alembert, dan tim yang terdiri dari 150 intelektual lainnya. Encyclopédie membantu menyebarkan ide-ide Pencerahan ke seluruh Eropa dan luar Eropa.[12] Publikasi penting lainnya antara lain karya Voltaire Letters on the English (1733) dan Dictionnaire philosophique (Kamus Filsafat ; 1764); karya Hume A Treatise of Human Nature (1740); The Spirit of the Laws karya Montesquieu (1748); karya-karya Rousseau seperti Discourse on Inequality (1754) dan The Sosial Contract (1762); The Theory of Moral Sentiments karya Adam Smith (1759) dan The Wealth of Nations (1776); dan karya Kant The Critique of Pure Reason (1781).

Ide-ide pencerahan sangat berpengaruh dalam ranah politik. Penguasa Eropa seperti Catherine II dari Rusia, Joseph II dari Austria dan Frederick II dari Prusia mencoba menerapkan gagasan Pencerahan tentang toleransi beragama dan politik, yang kemudian dikenal sebagai absolutisme tercerahkan.[13] Banyak tokoh politik dan intelektual utama di balik Revolusi Amerika yang terlibat dalam diskursus di Masa Pencerahan: Benjamin Franklin mengunjungi Eropa berulang kali dan berkontribusi secara aktif pada debat ilmiah dan politik di sana dan membawa ide-ide terbaru ke Philadelphia; Thomas Jefferson dengan cermat mengikuti gagasan-gagasan Pencerahan di Eropa dan kemudian memasukkan beberapa cita-cita Pencerahan ke dalam Deklarasi Kemerdekaan; James Madison memasukkan cita-cita ini ke dalam Konstitusi Amerika Serikat selama penyusunannya pada tahun 1787.[14] Ide-ide Pencerahan juga memainkan peran penting dalam menginspirasi Revolusi Prancis, yang dimulai pada 1789.

Filsafat[sunting | sunting sumber]

Filsuf rasionalis René Descartes merupakan salah satu intelektual yang meletakkan dasar bagi pemikiran pencerahan. Upayanya untuk membangun ilmu pengetahuan di atas landasan metafisika yang kuat tidak sesukses metode keraguannya yang diterapkan di bidang filsafat yang mengarah pada doktrin dualistik tentang pikiran dan tubuh. Skeptisismenya kemudian disempurnakan oleh Essay Concerning Human Understanding karya John Locke (1690) dan tulisan David Hume pada tahun 1740-an. Konsep dualismenya ditentang oleh Spinoza yang tanpa kompromi menegaskan kesatuan materi dalam Tractatus (1670) dan Ethics (1677).

Menurut Jonathan Israel, pemikiran-pemikiran filsafat ini meletakkan dua garis pemikiran Pencerahan yang berbeda: pertama, variasi moderat, mengikuti Descartes, Locke dan Christian Wolff, yang mencari akomodasi antara reformasi dan sistem kekuasaan dan iman tradisional, dan kedua, pencerahan radikal, diilhami oleh filosofi Spinoza, yang menganjurkan demokrasi, kebebasan individu, kebebasan berekspresi, dan penghapusan otoritas agama di ranah publik.[15][16] Ragam moderat cenderung deistik, sedangkan ragam radikal memisahkan dasar moralitas sepenuhnya dari teologi. Kedua garis pemikiran itu akhirnya ditentang oleh Kontra-Pencerahan konservatif, yang berusaha untuk kembali menguatkan otoritas keagamaan.[17]

Filsuf Jerman Immanuel Kant

Pada pertengahan abad ke-18, Paris menjadi pusat kegiatan filosofis dan ilmiah yang menentang berbagai doktrin dan dogma tradisional. Gerakan filosofis ini dipimpin oleh Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau, yang berpendapat bahwa masyarakat kontemporer harus didasarkan pada akal budi seperti di masa Yunani kuno,[18] tidak didasarkan pada iman dan doktrin Katolik. Bentuk tatanan sipil baru ini didasarkan pada hukum alam, sedangkan untuk ilmu pengetahuan didasarkan pada eskperimen dan observasi. Filsuf politik Montesquieu memperkenalkan gagasan pemisahan kekuasaan dalam pemerintahan, sebuah konsep yang diadopsi secara antusias oleh para penulis Konstitusi Amerika Serikat. Meskipun para intelektual Pencerahan Prancis tidak terlalu revolusioner dan banyak yang berasal dari kalangan bangsawan, ide-ide mereka berperan penting dalam mengikis legitimasi Rezim Lama dan mendorong terjadinya Revolusi Prancis.[19]

Francis Hutcheson, seorang filsuf moral, memajukan prinsip utilitarian dan konsekuensialis dengan menyatakan bahwa kebajikan adalah sesuatu yang memberikan, dalam kata-katanya, "kebahagiaan terbesar untuk sebanyak-banyaknya orang". Banyak dari apa yang sekarang menjadi metode ilmiah (sifat pengetahuan, bukti, pengalaman dan sebab-akibat) dan beberapa sikap modern terhadap hubungan antara sains dan agama dikembangkan oleh anak didiknya seperti David Hume dan Adam Smith.[20] Hume menjadi tokoh utama dalam tradisi filsafat skeptisisme dan empirisme.

Immanuel Kant (1724–1804) mencoba mendamaikan rasionalisme dan keyakinan agama, kebebasan individu dan otoritas politik, serta memetakan pandangan ruang publik yang terdiri dari nalar privat dan nalar publik.[21] Karya Kant terus membentuk pemikiran Jerman dan bahkan seluruh filsafat Eropa, hingga abad ke-20.[22]

Mary Wollstonecraft adalah salah satu filsuf feminis paling awal di Inggris.[23] Dia berpendapat bahwa masyarakat harus didasarkan pada akal budi dan bahwa perempuan dan laki-laki harus sama-sama diperlakukan sebagai makhluk rasional. Dia terkenal karena karyanya A Vindication of the Rights of Woman (1791).[24]

Sains[sunting | sunting sumber]

Sains juga berperan penting dalam diskursus dan pemikiran Pencerahan. Banyak penulis dan pemikir Pencerahan memiliki latar belakang dalam bidang sains. Mereka mengasosiasikan kemajuan ilmiah dengan penggulingan dogma dan otoritas tradisional demi pengembangan kebebasan berbicara dan berpikir. Kemajuan ilmiah selama Pencerahan antara lain penemuan karbon dioksida (udara tetap) oleh ahli kimia Joseph Black, argumen untuk waktu yang dalam oleh ahli geologi James Hutton dan penemuan mesin uap kondensasi oleh James Watt.[25] Eksperimen Lavoisier digunakan untuk membuat pabrik kimia modern pertama di Paris dan eksperimen Montgolfier Brothers memungkinkan mereka meluncurkan penerbangan berawak pertama dengan balon udara pada 21 November 1783 dari Château de la Muette, dekat Bois de Boulogne.[26]

Kontribusi besar untuk matematika Leonhard Euler (1707-1783) termasuk hasil utama dalam analisis, teori bilangan, topologi, kombinatorik, teori grafik, aljabar, dan geometri (di antara bidang lainnya). Dalam matematika terapan, ia memberikan kontribusi mendasar untuk mekanika, hidrolika, akustik, optik, dan astronomi. Ia berbasis di Imperial Academy of Sciences di St. Petersburg (1727–1741), kemudian di Berlin di Royal Prussian Academy of Sciences and Belles Lettres (1741–1766), dan akhirnya kembali ke St. Petersburg di Imperial Academy (1766-1783).[27]

Secara garis besar, ilmu sains Abad Pencerahan sangat menghargai empirisme dan pemikiran rasional yang tertanam dalam cita-cita Pencerahan yang ideal tentang kemajuan dan progres. Studi ilmu pengetahuan, dalam kategori filsafat alam, dibagi menjadi fisika dan pengelompokan kimia dan sejarah alam, yang meliputi anatomi, biologi, geologi, mineralogi dan zoologi.[28] Seperti kebanyakan pandangan di Masa Pencerahan, manfaat sains tidak dianggap berlaku secara universal: Rousseau mengkritik ilmu sains karena menjauhkan manusia dari alam bebas dan ilmu sains tidak beroperasi untuk membuat orang lebih bahagia.[29] Imu sains selama Masa Pencerahan didominasi oleh perkumpulan-perkumpulan dan akademi-akademi ilmiah, yang sebagian besar telah menggantikan peran universitas sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmiah. Banyak perkumpulan dan akademi ilmiah juga menjadi tulang punggung pematangan profesi-profesi ilmiah. Perkembangan penting lainnya adalah kegiatan mempopulerkan sains di antara populasi yang semakin terpelajar. Para intelektual Abad Pencerahan memperkenalkan banyak teori ilmiah kepada publik, terutama melalui Encyclopédie. Konsep-konsep Newton juga dipopulerkan oleh Voltaire dan Émilie du Châtelet. Beberapa sejarawan menandai abad ke-18 sebagai periode yang menjemukan dalam sejarah sains.[30] Namun, pada abad ini terjadi kemajuan signifikan dalam praktik kedokteran, matematika dan fisika; pengembangan taksonomi biologi; pemahaman baru tentang magnet dan listrik; dan pematangan kimia sebagai disiplin ilmu, yang membentuk dasar-dasar kimia modern.

Banyak akademi dan perkumpulan ilmiah yang tumbuh dari Revolusi Ilmiah sebagai kelompok intelektual yang memajukan pengetahuan ilmiah. Peran ini berbeda dengan universitas di masa itu yang lebih skolastik.[31] Selama Masa Pencerahan, beberapa perkumpulan ilmiah juga menjalin atau mempertahankan hubungan baik dengan universitas. Sumber-sumber kontemporer menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara universitas dan perkumpulan ilmiah. Esensi universitas pada masa itu adalah melakukan transmisi pengetahuan, sementara perkumpulan ilmiah berfungsi untuk menciptakan dan mengembangkan pengetahuan.[32] Ketika peran universitas dalam ilmu pengetahuan yang dilembagakan mulai berkurang, perkumpulan-perkumpulan ilmiah menjadi benteng ilmu pengetahuan yang terorganisir. Beberapa perkumpulan ilmiah pada waktu itu juga dikontrak oleh negara untuk menyediakan keahlian teknis tertentu.[33] Sebagian besar perkumpulan ilmiah juga diberikan izin untuk mengawasi publikasi mereka sendiri, mengontrol pemilihan anggota baru dan administrasi perkumpulan ilmiahnya.[34] Setelah tahun 1700, sejumlah besar akademi dan perkumpulan ilmiah resmi didirikan di Eropa dan pada tahun 1789 terdapat lebih dari tujuh puluh perkumpulan ilmiah resmi. Mengacu pada pertumbuhan ini, Bernard de Fontenelle menciptakan istilah "Zaman Akademi" untuk menggambarkan abad ke-18.[35]

Pengaruh ilmu sains juga mulai muncul lebih banyak dalam puisi dan sastra selama Masa Pencerahan. Beberapa puisi diresapi dengan metafora dan citra ilmiah, sementara puisi lainnya ditulis langsung dengan topik ilmiah. Sir Richard Blackmore memasukkan sistem Newton ke dalam syair Creation, a Philosophical Poem in Seven Books (1712). Setelah kematian Newton pada 1727, banyak puisi yang dibuat untuk menghormatinya selama beberapa dekade.[36] James Thomson (1700-1748) menulis "Puisi untuk Memori Newton", yang mengungkap rasa berduka atas meninggalnya Newton, tetapi juga memuji ilmu pengetahuan dan warisannya.[37]

Sosiologi, ekonomi dan hukum[sunting | sunting sumber]

Cesare Beccaria, bapak teori kriminal klasik (1738-1794)

David Hume dan para intelektual Abad Pencerahan Skotlandia lainnya mengembangkan "ilmu tentang manusia",[38] yang dituliskan secara historis dalam karya-karya penulis termasuk James Burnett, Adam Ferguson, John Millar dan William Robertson. Semua penulis ini menggabungkan studi ilmiah tentang bagaimana manusia berperilaku di zaman kuno dan primitif dengan tujuan untuk melakukan modernitas. Ilmu sosiologi modern sebagian besar berasal dari gerakan ini.[39] Konsep filosofis Hume yang secara langsung mempengaruhi James Madison (melalui Konstitusi AS) dan seperti yang dipopulerkan oleh Dugald Stewart, menjadi dasar liberalisme klasik.[40]

Pada tahun 1776, Adam Smith menerbitkan The Wealth of Nations, yang sering dianggap sebagai karya pertama tentang ilmu ekonomi modern karena memiliki dampak langsung pada kebijakan ekonomi Inggris yang terus berlanjut hingga abad ke-21.[41] Karya ini didahului dan dipengaruhi oleh draf Anne-Robert-Jacques Turgot, Baron de Laune, Reflection on the Formation and Distribution of Wealth (Paris, 1766). Smith mengaku berhutang budi kepada mereka dan kemungkinan juga merupakan penerjemah bahasa Inggris pertama dari draf tersebut.[42]

Cesare Beccaria, seorang ahli hukum, kriminolog, filsuf dan politikus merupakan salah satu intelektual besar di Masa Pencerahan. Ia menjadi terkenal karena karyanya On Crimes and Punishments (1764), yang kemudian diterjemahkan ke dalam 22 bahasa.[43] Dalam karyanya itu, Beccaria menyatakan tidak setuju dengan penyiksaan dan hukuman mati yang dianggapnya terlalu kejam dan tidak efektif dalam mencegah terjadinya kejahatan. On Crimes and Punishments juga merupakan karya yang kemudian menjadi fondasi di bidang penologi dan Pemikiran Kriminologi Klasik dengan mempromosikan sistem peradilan pidana. Intelektual terkemuka lainnya adalah Francesco Mario Pagano, yang menulis studi penting seperti Saggi Politici (Esai Politik, 1783), salah satu karya utama Masa Pencerahan di Naples; dan Considezioni sul processocriminale (Considerations on the criminal trial, 1787), yang menjadikannya sebagai otoritas internasional di bidang hukum pidana pada waktu itu.[44]

Politik[sunting | sunting sumber]

Masa Pencerahan telah lama dipuji dan dirujuk sebagai fondasi budaya politik dan intelektual Barat modern.[45] Masa Pencerahan membawa modernisasi politik ke Barat dengan memperkenalkan nilai-nilai dan institusi demokrasi, dan penciptaan demokrasi liberal modern. Tesis ini telah diterima secara luas oleh para sarjana di negara-negara berbahasa Inggris dan telah diperkuat oleh sebuah studi skala besar yang dilakukan oleh Robert Darnton, Roy Porter dan yang terbaru oleh Jonathan Israel.[46][47]

Teori pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Filsuf Inggris John Locke berpendapat bahwa otoritas pemerintah berasal dari kontrak sosial berdasarkan hak kodrat. Menurut Locke, otoritas pemerintah bersifat terbatas dan memerlukan persetujuan dari yang diperintah.

John Locke, salah satu pemikir Abad Pencerahan yang paling berpengaruh,[48] mendasarkan filosofi pemerintahannya pada teori kontrak sosial. Filsuf Inggris Thomas Hobbes sebelumnya terlibat dalam diskursus ini dengan karya monumentalnya Leviathan pada tahun 1651. Hobbes juga mengembangkan beberapa dasar pemikiran liberal Eropa: hak individu; kesetaraan natural semua orang; karakter artifisial dari tatanan politik (yang kemudian menyebabkan perbedaan antara masyarakat sipil dan negara); pandangan bahwa semua kekuatan politik yang sah harus "merupakan perwujudan perwakilan" dan berdasarkan persetujuan rakyat; dan interpretasi hukum liberal yang membiarkan orang bebas melakukan apa pun yang tidak dilarang oleh hukum secara eksplisit.[49]

Baik Locke dan Rousseau masing-masing mengembangkan teori kontrak sosial dalam Two Treatises of Government dan Discourse on Inequality. Meskipun memiliki karya-karya yang sangat berbeda, Locke, Hobbes dan Rousseau sepakat bahwa kontrak sosial bermakna bahwa otoritas pemerintah terletak pada persetujuan dari yang diperintah.[50] Hal ini diperlukan bagi manusia untuk hidup dalam suatu masyarakat sipil. Locke mendefinisikan keadaan alamiah sebagai suatu kondisi bahwa semua manusia adalah rasional dan mengikuti hukum alam. Semua manusia dilahirkan sederajat dan dengan hak untuk hidup, kebebasan dan hak untuk memiliki properti. Namun, ketika satu warga negara melanggar Hukum Alam baik pelanggar maupun korban masuk ke dalam keadaan perang yang menyebabkannya hampir tidak mungkin untuk melepaskan diri. Oleh karena itu, Locke mengatakan bahwa setiap individu setuju untuk masuk ke dalam masyarakat sipil untuk melindungi hak alamiah mereka. Perlindungan ini dilakukan oleh "hakim yang tidak memihak" atau otoritas umum, seperti pengadilan untuk mengajukan banding. Sebaliknya, konsepsi Rousseau bergantung pada anggapan bahwa "manusia sipil" itu korup, sementara "manusia alamiah" tidak memiliki keinginan yang tidak dapat dia penuhi. Manusia alamiah berasal dari keadaan alamiahnya ketika ketidaksetaraan berkaitan dengan kepemilikan pribadi ditetapkan.[51] Rousseau mengatakan bahwa orang-orang bergabung ke dalam masyarakat sipil melalui kontrak sosial untuk mencapai kesatuan sambil mempertahankan kebebasan individu. Hal ini diwujudkan dalam kedaulatan kehendak umum yang tercermin dalam suatu badan legislatif moral dan kolektif yang dibentuk oleh warga negara.

Locke juga dikenal karena pernyataannya bahwa individu memiliki hak atas "Hidup, Kebebasan, dan Memiliki Properti" dan keyakinannya bahwa hak alamiah atas properti berasal dari hasil kerja individu itu. Teori Locke tentang hak natural atau alamiah telah mempengaruhi banyak dokumen politik, termasuk Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat dan Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara Prancis.

Para filsuf berpendapat bahwa pembentukan dasar kontraktual hak akan mengarah pada mekanisme pasar dan kapitalisme, metode ilmiah, toleransi beragama. Dasar kontrak sosial juga mengorganisasikan negara menjadi republik yang menjalankan pemerintahan sendiri melalui cara-cara yang demokratis. Dalam hal ini, kecenderungan para filsuf untuk menerapkan rasionalitas pada setiap masalah dianggap sebagai perubahan yang esensial.[52]

Meskipun banyak pemikiran politik Masa Pencerahan yang didominasi oleh ahli teori kontrak sosial, David Hume maupun Adam Ferguson mengkritik kubu ini. Esai Hume, Of the Original Contract, mengemukakan bahwa pemerintah yang berasal dari persetujuan jarang adanya dan pemerintahan sipil nyatanya didasarkan pada kekuatan dan kebiasaan penguasa. Justru karena otoritas penguasa terhadap subjek, subjek diam-diam menyetujuinya dan Hume mengatakan bahwa subjek "tidak akan pernah membayangkan bahwa persetujuan mereka membuatnya berdaulat".[53] Sejalan dengan itu, Ferguson tidak percaya bahwa para individu yang membentuk negara. Menurutnya, politik tumbuh dari pembangunan sosial. Dalam bukunya An Essay on the History of Civil Society tahun 1767, Ferguson menggunakan empat tahap kemajuan, sebuah teori yang sangat populer di Skotlandia pada saat itu. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia bergerak maju dari masyarakat pemburu dan pengumpul menjadi masyarakat komersial dan sipil tanpa "menandatangani" kontrak sosial.

Baik teori kontrak sosial Rousseau maupun Locke bertumpu pada pengandaian hak-hak kodrati, yang bukan merupakan produk dari hukum atau kebiasaan, tetapi merupakan sesuatu yang dimiliki semua orang dalam masyarakat pra-politik. Oleh karena itu, hak-hak alamiah ini bersifat universal dan tidak dapat dicabut. Formulasi hak alamiah yang paling terkenal berasal dari John Locke dalam Second Treatise-nya, yang di dalamnya juga memperkenalkan keadaan alamiah. Bagi Locke, hukum alam didasarkan pada keamanan bersama atau gagasan bahwa seseorang tidak dapat melanggar hak-hak alamiah orang lain, karena setiap orang adalah setara dan memiliki hak yang sama yang tidak dapat dicabut. Hak-hak kodrati ini mencakup persamaan dan kebebasan, serta hak untuk memelihara kehidupan dan hak untuk memiliki harta benda. Locke juga menentang perbudakan atas dasar bahwa memperbudak diri sendiri bertentangan dengan hukum alam karena seseorang tidak dapat menyerahkan haknya sendiri: kemerdekaan seseorang adalah mutlak dan tidak ada yang dapat mengambilnya. Selain itu, Locke berpendapat bahwa satu orang tidak dapat memperbudak orang lain karena secara moral merupakan hal yang tercela. Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa perbudakan tawanan yang sah pada saat perang tidak akan bertentangan dengan hak alamiah seseorang.

Sebagai lanjutan dari pemikiran Masa Pencerahan, kepercayaan nonsekuler yang pertama kali diungkapkan oleh kelompok Quaker dan kemudian oleh evangelis Protestan yang muncul di Inggris dan Amerika Serikat. Bagi kelompok-kelompok ini, perbudakan adalah hal yang "menjijikkan bagi agama" dan "kejahatan di mata Tuhan".[54] Ide-ide ini ditambahkan ke ide-ide yang diungkapkan oleh para pemikir Pencerahan dan membuat banyak orang di Inggris percaya bahwa perbudakan "tidak hanya salah secara moral dan tidak efisien secara ekonomi, tetapi juga tidak bijaksana secara politik." Ide-ide ini akhirnya berujung pada penghapusan perbudakan di Inggris dan Amerika Serikat.[55]

Absolutisme yang tercerahkan[sunting | sunting sumber]

Marquis of Pombal, seorang kepala pemerintahan Portugal, menerapkan reformasi sosial-ekonomi (menghapuskan perbudakan, secara signifikan melemahkan Inkuisisi, menciptakan dasar untuk sekolah publik yang sekuler dan merestrukturisasi sistem pajak)

Para pemikir Abad Pencerahan tidak selalu demokratis karena anggapan bahwa raja yang absolut adalah kunci untuk melakukan reformasi yang dirancang oleh para intelektual. Voltaire membenci demokrasi dan mengatakan bahwa raja yang absolut harus tercerahkan dan harus bertindak sesuai dengan akal budi dan keadilan - dengan kata lain, menjadi "raja filsuf".[56]

Menteri Denmark Johann Struensee, seorang reformis sosial, dieksekusi di depan umum pada tahun 1772 karena merebut otoritas kerajaan

Di beberapa negara, para penguasa menyambut baik ide-ide para intelektual Abad Pencerahan dan meminta mereka untuk membantu merancang undang-undang dan program untuk mereformasi sistem. Reformasi ini biasanya dilakukan untuk membangun negara yang lebih kuat. Oleh sejarawan, para penguasa ini disebut "despot yang tercerahkan".[57] Mereka termasuk Frederick Agung dari Prusia, Catherine Agung dari Rusia, Leopold II dari Tuscany dan Joseph II dari Austria. Pada masa itu, Joseph terlalu antusias dengan melakukan banyak reformasi yang memiliki sedikit dukungan sehingga terjadi banyak pemberontakan pecah dan hampir semua program reformasinya dibatalkan.[58] Menteri senior Pombal di Portugal dan Johann Friedrich Struensee di Denmark juga memerintah berdasarkan cita-cita Pencerahan. Di Polandia, model konstitusi tahun 1791 mengungkapkan cita-cita Pencerahan, tetapi hanya berlaku satu tahun karena terjadinya pemecahan negara itu. Yang lebih bertahan lama hanya dari segi budaya yang memperkuat semangat nasionalis di Polandia.[59]

Frederick Agung, raja Prusia 1740-1786, menganggap dirinya sebagai pemimpin Abad Pencerahan yang didukung oleh para filsuf dan ilmuwan di istananya di Berlin. Voltaire, yang telah dipenjara dan dianiaya oleh pemerintah Prancis, sangat ingin menerima undangan Frederick untuk tinggal di istananya. Frederick menjelaskan: "Pekerjaan utama saya adalah memerangi ketidaktahuan dan prasangka ... untuk mencerahkan pikiran, memupuk moralitas, dan untuk membuat orang bahagia sesuai dengan sifat manusia, sebagai upaya yang saya izinkan".[60]

Revolusi Amerika dan Prancis[sunting | sunting sumber]

Abad Pencerahan juga sering dikaitkan dengan Revolusi Amerika tahun 1776[61] dan Revolusi Prancis tahun 1789—keduanya dipengaruh secara intelektual oleh Thomas Jefferson secara langsung.[62][63] Salah satu pandangan tentang perubahan politik yang terjadi pada masa Pencerahan adalah munculnya konsep "persetujuan dari yang diperintah" sebagaimana dideskripsikan oleh Locke dalam Two Treatises of Government (1689). Persetujuan dari yang diperintah merupakan pergeseran paradigma dari paradigma pemerintahan lama di bawah feodalisme yang dikenal sebagai "hak ilahi raja-raja". Revolusi pada akhir 1700-an dan awal 1800-an yang disebabkan oleh pergeseran paradigma pemerintahan ini seringkali tidak dapat diselesaikan secara damai. Oleh karena itu, revolusi dengan kekerasan pun dilakukan. Paradigma lama bahwa raja tidak pernah salah jelas bertentangan dengan filosofi bahwa warga negara menurut hukum alam perlu menyetujui tindakan dan keputusan pemerintah mereka.

Alexis de Tocqueville berpendapat bahwa Revolusi Prancis merupakan hal yang tak terelakkan dari oposisi radikal sejak abad ke-18 antara monarki dan intelektual Pencerahan. Para intelektual ini membentuk semacam "pengganti aristokrasi yang sangat berkuasa tanpa kekuasaan". "Politik sastra" ini mempromosikan diskursus kesetaraan manusia yang secara fundamental bertentangan dengan rezim monarki.[64]

Agama[sunting | sunting sumber]

Filsuf Prancis Voltaire mendukung toleransi beragama, dan mengatakan bahwa "Tidak memerlukan suatu karya seni yang hebat, atau kefasihan yang luar biasa, untuk membuktikan bahwa orang Kristen harus saling bertoleransi satu sama lain. Namun, saya melangkah lebih jauh: Saya mengatakan bahwa kita harus menganggap semua orang sebagai saudara kita. Apa? Orang Turki itu saudaraku? Orang Cina itu saudaraku? Orang Yahudi? Siam? Ya, tanpa keraguan; bukankah kita semua makhluk dari Tuhan yang sama?"[65]

Tafsir agama era Pencerahan merupakan respon terhadap konflik agama abad sebelumnya di Eropa yang dikenal sebagai Perang Tiga Puluh Tahun.[66] Para teolog Pencerahan ingin mereformasi penafsiran agama mereka yang umumnya non-konfrontatif, dogmatis dan memasuki ranah politik dan peperangan. Bagi orang Kristen moderat, ini berarti kembali ke Kitab Suci yang sederhana. John Locke meninggalkan kumpulan komentar teologis dan hanya merujuk kepada Firman Allah saja. Dia menyatakan esensi agama Kristen adalah untuk mempunyai kepercayaan kepada Kristus Sang Penebus dan merekomendasikan untuk menghindari perdebatan yang lebih rinci.[67] Dalam Jefferson Bible, Thomas Jefferson melangkah lebih jauh dan meninggalkan bagian yang berhubungan dengan mukjizat, kunjungan malaikat dan kebangkitan Yesus setelah kematiannya. Ia mencoba mengekstrak kode moral praktis Kristen dari Perjanjian Baru.[68]

Para cendekiawan Masa Pencerahan juga berusaha untuk membatasi kekuatan politik agama yang terorganisir untuk mencegah terjadinya perang agama dan intoleransi.[69] Spinoza bertekad untuk menghapus teologi kontemporer dalam politik (misalnya dengan mengabaikan hukum Yahudi).[70] Moses Mendelssohn menyarankan agar tidak memberikan otoritas politik kepada agama terorganisir mana pun, tetapi sebaliknya merekomendasikan agar setiap orang mengikuti apa yang mereka sangat yakini.[71] Para cendekiawan ini percaya bahwa agama yang baik yang didasarkan pada moral yang baik dan kepercayaan pada Tuhan seharusnya tidak memerlukan pemaksaan kepada pemeluknya. Mendelssohn dan Spinoza juga menilai agama berdasarkan nilai moralnya, bukan logika teologinya.[72]

Sejumlah ide baru tentang agama berkembang di Masa Pencerahan, termasuk deisme dan pembicaraan tentang ateisme. Menurut Thomas Paine, deisme adalah kepercayaan semata-mata kepada Tuhan Sang Pencipta, tanpa mengacu pada Alkitab atau sumber lainnya. Sebaliknya, seorang deis hanya mengandalkan alasan pribadi untuk memandu keyakinannya.[73] Kepercayaan deisme banyak dianut oleh para pemikir saat itu.[74] Ateisme juga banyak dibahas, tetapi hanya sedikit pendukungnya. Beberapa mengikuti Pierre Bayle dan berpendapat bahwa ateis memang bisa menjadi orang yang bermoral.[75] Banyak orang yang berrpendapat seperti Voltaire yang mengatakan bahwa tanpa kepercayaan pada Tuhan yang menghukum kejahatan, tatanan moral masyarakat akan rusak. Bayle (1647–1706) mengamati pada zamannya bahwa, "orang yang bijaksana akan selalu mempertahankan penampilan [agama]," dan dia percaya bahwa ateis pun dapat memegang konsep kehormatan dan bertindak melampaui kepentingan diri mereka sendiri untuk berkreasi dan berinteraksi dalam masyarakat.[76] Locke mengatakan bahwa jika tidak ada Tuhan dan tidak ada hukum ilahi, hasilnya akan terjadi anarki moral: setiap individu "tidak dapat memiliki hukum kecuali kehendaknya sendiri, tidak ada tujuan selain dirinya sendiri. Dia akan menjadi dewa bagi dirinya sendiri, dan kepuasan keinginannya sendiri adalah satu-satunya tujuan dan akhir dari semua tindakannya."[77]

Pemisahan negara dan gereja[sunting | sunting sumber]

"Pencerahan Radikal"[78][79] mempromosikan konsep yang memisahkan gereja dan negara,[80] sebuah ide yang sering dikreditkan ke filsuf Inggris John Locke (1632-1704).[81] Menurut prinsip kontrak sosialnya, Locke mengatakan bahwa pemerintah tidak memiliki otoritas dalam ranah hati nurani individu. Karena ranah hati nurani individu adalah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah atau orang lain. Bagi Locke, hal ini menghasilkan hak alamiah dalam kebebasan hati nurani, yang menurutnya harus tetap dilindungi dari otoritas pemerintah mana pun.

Pandangan tentang toleransi beragama, pentingnya hati nurani individu dan teori kontrak sosial menjadi sangat berpengaruh di koloni-koloni Amerika dan pada saat penyusunan Konstitusi Amerika Serikat[82] Thomas Jefferson menyerukan perlunya "dinding pemisah antara gereja dan negara" di tingkat federal. Dia sebelumnya telah mendukung upaya yang berhasil untuk membubarkan Gereja Inggris di Virginia[83] dan menulis Statuta Virginia untuk Kebebasan Beragama.[84] Cita-cita politik Jefferson sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan John Locke, Francis Bacon, dan Isaac Newton,[85] yang dianggapnya sebagai tiga orang terbesar yang pernah hidup.[86]

Variasi di berbagai negara[sunting | sunting sumber]

Britania raya[sunting | sunting sumber]

Inggris[sunting | sunting sumber]

Masa Pencerahan Inggris telah diperdebatkan dengan antusias oleh para sarjana. Mayoritas buku teks tentang sejarah Inggris jarang menyebutkan tentang Masa Pencerahan di Inggris. Terdapat beberapa survei tentang Masa Pencerahan yang memasukkan Inggris. Terdapat pula survei-survei yang tidak memasukkan Inggris, meskipun beberapa survei ini juga mencakup ulasan tentang intelektual besar seperti Joseph Addison, Edward Gibbon, John Locke, Isaac Newton, Alexander Pope, Joshua Reynolds dan Jonathan Swift.[87] Berpikir bebas, sebuah istilah yang menggambarkan mereka yang menentang institusi Gereja dan kepercayaan literal pada Alkitab, dapat dikatakan telah dimulai di Inggris sejak tahun 1713, waktu ketika Anthony Collins menulis "Discourse of Free-thinking"-nya, yang menjadi sangat populer. Esai ini menyerang pendeta dari semua gereja dan memberikan pembelaan untuk deisme. Roy Porter berpendapat bahwa alasan pengabaian ini adalah asumsi bahwa gerakan Pencerahan utamanya diilhami dari Prancis, bahwa gerakan itu sebagian besar merupakan a-religius atau anti-pendeta, dan bahwa gerakan itu secara terang-terangan menentang tatanan yang mapan.[88] Porter mengakui bahwa, setelah tahun 1720-an, Inggris juga mempunyai para pemikir yang menyamai Diderot, Voltaire atau Rousseau. Namun, para intelektual terkemuka seperti Edward Gibbon,[89] Edmund Burke dan Samuel Johnson semuanya cukup konservatif dan mendukung tatanan sosial yang sudah mapan. Porter mengatakan alasannya adalah bahwa Masa Pencerahan telah datang lebih awal di Inggris dan berhasil. Sehingga budaya tersebut menerima liberalisme politik, empirisme filosofis, dan toleransi beragama yang harus diperjuangkan oleh para intelektual di Eropa melawan resistensi yang kuat. Selanjutnya, Inggris menolak kolektivisme komunitas Eropa dan menekankan kemajuan individu sebagai tujuan utama pencerahan.[90]

Skotlandia[sunting | sunting sumber]

Salah satu pemimpin Masa Pencerahan Skotlandia adalah Adam Smith, bapak ilmu ekonomi modern

Pada Pencerahan Skotlandia, kota-kota besar Skotlandia menciptakan infrastruktur intelektual yang membuat lembaga-lembaga ilmiah dapat saling mendukung seperti universitas, perkumpulan membaca, perpustakaan, majalah, museum, dan pondok-pondok masonik.[91] Jaringan Skotlandia utamanya didominasi "Calvinis liberal, Newtonian, dan berorientasi 'desain' dalam karakter yang memainkan peran utama dalam pengembangan lebih jauh tentang Pencerahan transatlantik".[92] Di Prancis, Voltaire mengatakan bahwa "kami melihat ke Skotlandia untuk semua gagasan kami tentang peradaban".[93] Fokus Pencerahan Skotlandia melingkupi masalah intelektual dan ekonomi hingga ilmu sains spesifik seperti dalam karya William Cullen, seorang dokter dan ahli kimia; James Anderson, seorang ahli agronomi; Joseph Black, fisikawan dan kimiawan; dan James Hutton, ahli geologi modern pertama.[94][95]

Koloni Anglo-Amerika[sunting | sunting sumber]

Deklarasi Kemerdekaan John Trumbull yang menunjukkan komite perancang mempresentasikan hasil kerjanya ke Kongres

Beberapa orang Amerika, seperti Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson, mempunyai peran yang sangat penting dalam membawa ide-ide Pencerahan ke Dunia Baru dan dalam mempengaruhi para pemikir Inggris dan Prancis.[96] Franklin berpengaruh untuk aktivisme politiknya dan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang fisika.[97][98] Pertukaran budaya selama Zaman Pencerahan berlangsung di kedua arah melintasi Samudra Atlantik. Para intelektual seperti Paine, Locke dan Rousseau semua mengambil praktik budaya penduduk asli Amerika sebagai contoh kebebasan alami.[99] Orang Amerika dengan cermat mengikuti ide-ide politik Inggris dan Skotlandia, serta beberapa pemikir Prancis seperti Montesquieu.[100] Sebagai deis, mereka dipengaruhi oleh gagasan John Toland (1670-1722) dan Matthew Tindal (1656-1733). Masa Pencerahan di koloni-koloni Amerika menekankan pada kebebasan, republikanisme dan toleransi beragama. Tidak ada rasa hormat terhadap monarki atau kekuasaan politik dinasti yang turun temurun. Pemikir-pemikir Deisme berusaha mendamaikan sains dan agama dengan menolak nubuat, mukjizat, dan teologi dalam Al-Kitab secara literal. Deis terkemuka termasuk Thomas Paine yang menulis The Age of Reason dan Thomas Jefferson yang menulis Jefferson Bible pendeknya. Dalam tulisan-tulisan ini, semua aspek supernatural dihilangkan.[101]

Negara-negara bagian Jerman[sunting | sunting sumber]

Prusia merupakan negara utama di antara negara-negara Jerman yang mensponsori reformasi politik atas desakan para pemikir Abad Pencerahan untuk diadopsi. Ada gerakan penting juga di negara bagian Bavaria, Saxony, Hanover dan Palatinate yang lebih kecil. Di negara-negara bagian ini, nilai-nilai Pencerahan diterima dan menghasilkan reformasi politik dan administrasi yang signifikan dengan meletakkan dasar bagi pembentukan negara modern.[102] Para pangeran Saxony, misalnya, melakukan serangkaian reformasi fiskal, administrasi, peradilan, pendidikan, budaya, dan ekonomi umum yang impresif. Reformasi-reformasi ini didukung oleh struktur perkotaan yang kuat di negara itu dan kelompok komersial berpengaruh serta Saxony pra-1789 yang telah dimodernisasi di sesuai dengan prinsip-prinsip Pencerahan klasik.[103][104]

Weimar's Courtyard of the Muses oleh Theobald von Oer, sebuah penghargaan untuk Masa Pencerahan dan Klasisisme Weimar yang menggambarkan penyair Jerman Schiller, Wieland, Herder dan Goethe

Sebelum 1750, kelas sosial atas Jerman melihat ke Prancis sebagai model intelektual, budaya dan arsitektur, karena bahasa Prancis adalah bahasa masyarakat kelas atas. Pada pertengahan abad ke-18, Aufklärung ( Pencerahan) telah mengubah budaya tinggi Jerman dalam bidang musik, filsafat, ilmu pengetahuan dan sastra. Christian Wolff (1679–1754) adalah penulis yang menjelaskan Masa Pencerahan kepada pembaca Jerman dan melegitimasi bahasa Jerman sebagai bahasa filosofis.[105]

Johann Gottfried von Herder (1744–1803) membuat terobosan baru dalam filsafat dan puisi dengan menjadi pemimpin gerakan proto-Romantisisme Sturm und Drang. Weimar Klassikisme (Weimarer Klassik) adalah gerakan budaya dan sastra yang berbasis di Weimar yang berusaha membangun humanisme baru dengan mensintesis ide-ide Romantis, klasik, dan Pencerahan. Gerakan tersebut (dari 1772 hingga 1805) melibatkan Herder serta polymath Johann Wolfgang von Goethe (1749–1832) dan Friedrich Schiller (1759–1805), seorang penyair dan sejarawan. Herder berargumen bahwa setiap rakyat memiliki identitas khusus sendiri, yang diekspresikan dalam bahasa dan budayanya. Ini melegitimasi promosi bahasa dan budaya Jerman dan membantu membentuk perkembangan nasionalisme Jerman. Drama Schiller mendemonstrasikan semangat gelisah generasinya dan menggambarkan perjuangan pahlawan melawan tekanan sosial dan kekuatan takdir.[106]

Musik Jerman, yang disponsori oleh kelompok sosial kelas atas, menjadi sangat dihargai di bawah komposer Johann Sebastian Bach (1685-1750), Joseph Haydn (1732-1809) dan Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791).[107]

Di Königsberg yang terpencil, filsuf Immanuel Kant (1724–1804) mencoba mendamaikan rasionalisme dan keyakinan agama, kebebasan individu dan otoritas politik. Karya Kant termasuk dasar-dasar metafisika yang terus membentuk pemikiran Jerman – dan bahkan seluruh filsafat Eropa – hingga abad ke-20.[108]

Gerakan Pencerahan Jerman mendapat dukungan dari pangeran, bangsawan dan kelas menengah dan secara permanen mengubah budaya Jerman.[109] Namun, terdapat pula konservatisme di kalangan elit yang memperingatkan agar tidak bertindak terlalu jauh.[110]

Pada tahun 1780-an, pendeta Lutheran Johann Heinrich Schulz dan Karl Wilhelm Brumbey merasa kesal karena khotbah mereka karena mereka diserang oleh Immanuel Kant, Wilhelm Abraham Teller dan lain-lain. Pada tahun 1788, Prusia mengeluarkan "Dekrit tentang Agama" yang melarang khotbah apa pun yang merusak kepercayaan populer akan Tritunggal Mahakudus dan Alkitab. Tujuannya adalah untuk menghindari skeptisisme, deisme, dan perselisihan teologis yang mungkin mengganggu ketenangan warga. Orang-orang yang meragukan nilai Pencerahan menyukai dekrit itu. Universitas-universitas Jerman kemudian menciptakan kelompok elit tertutup yang dapat memperdebatkan isu-isu kontroversial di antara mereka sendiri, tetapi tidak menyebarkannya ke publik karena dipandang terlalu berisiko. Kelompok elit intelektual ini disukai oleh negara.[111]

Italia[sunting | sunting sumber]

Abad Pencerahan mempunyai pengaruh yang unik meskipun kecil dalam sejarah Italia.[112][113] Meskipun sebagian besar Italia dikendalikan oleh Habsburg konservatif atau Paus, Tuscany terlibat dalam melakukan reformasi. Leopold II dari Tuscany menghapus hukuman mati di Tuscany dan mengurangi penyensoran. Di Naples, Antonio Genovesi (1713-1769) mempengaruhi generasi intelektual Italia selatan dan mahasiswa. Buku teksnya "Diceosina, o Sia della Filosofia del Giusto e dell'Onesto" (1766) adalah upaya untuk menengahi antara sejarah filsafat moral di satu sisi dan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat komersial abad ke-18. Karya itu berisi sebagian besar pemikiran politik, filosofis dan ekonomi Genovesi – buku panduan untuk pembangunan ekonomi dan sosial Neapolitan.[114] Ilmu pengetahuan juga berkembang ketika Alessandro Volta dan Luigi Galvani membuat terobosan penemuan listrik. Pietro Verri adalah seorang ekonom terkemuka di Lombardy. Sejarawan Joseph Schumpeter menyatakan dia adalah "otoritas pra-Smith yang paling penting tentang efisiensi".[115] Cendekiawan yang paling berpengaruh di Masa Pencerahan Italia adalah Franco Venturi.[116][117] Italia juga menghasilkan beberapa ahli teori hukum terbesar Abad Pencerahan, termasuk Cesare Beccaria, Giambattista Vico dan Francesco Mario Pagano. Beccaria sekarang dianggap sebagai salah satu bapak teori kriminal klasik serta penologi modern.[118] Beccaria terkenal dengan mahakaryanya On Crimes and Punishments (1764), sebuah risalah (kemudian diterjemahkan ke dalam 22 bahasa) yang menjadi salah satu kritik pertama atas penyiksaan dan hukuman mati. Karya Beccaria ini menjadi salah satu karya terpenting dalam filosofi anti hukuman mati.[119]

Spanyol dan Amerika Latin[sunting | sunting sumber]

Ketika raja Charles II dari Hapsburg Spanyol terakhir meninggal pada 1700, terjadi konflik besar Eropa tentang suksesi dan nasib Spanyol dan Kekaisaran Spanyol. Perang Penerus Spanyol (1700-1715) membawa pangeran Bourbon Philip, Adipati Anjou ke takhta Spanyol sebagai Philip V. Di bawah Perjanjian Utrecht tahun 1715, Bourbon Prancis dan Spanyol tidak dapat bersatu dan Philip kemudian melepaskan hak atas takhta Prancis. Pembatasan politik tidak menghalangi pengaruh Prancis yang besar pada Zaman Pencerahan di Spanyol, raja-raja Spanyol, Kekaisaran Spanyol.[120][121] Philip baru berkuasa secara efektif sampai tahun 1715 dan mulai menerapkan reformasi administrasi untuk mencoba menghentikan kejatuhan Kekaisaran Spanyol. Di bawah Charles III, kekaisaran mulai menerapkan perubahan struktural yang serius yang dikenal sebagai Reformasi Bourbon. Kekaisaran juga membatasi kekuasaan Gereja Katolik dan pendeta, mendirikan militer tetap di Amerika Spanyol, mendirikan raja muda baru dan mengatur ulang distrik administratif menjadi daerah-daerah intensi . Perdagangan yang lebih bebas dipromosikan di bawah comercio libre yang memungkinkan daerah dapat berdagang dengan perusahaan yang berlayar dari pelabuhan Spanyol lainnya. Kekaisaran Spanyol juga mengirimkan ekspedisi ilmiah untuk menegaskan kedaulatan Spanyol atas wilayah yang diklaimnya tetapi tidak dapat dikendalikan. Ekspedisi botani mencari tanaman yang bisa berguna bagi kekaisaran.[122] Salah satu tindakan terbaik Charles IV, seorang raja yang tidak terkenal karena penilaiannya yang baik, adalah memberikan kebebasan kepada ilmuwan Prusia, Baron Alexander von Humboldt untuk bepergian dan mengumpulkan informasi tentang kekaisaran Spanyol selama lima tahun, ekspedisi yang didanai sendirinya. Pejabat mahkota harus membantu Humboldt agar dia bisa mendapatkan akses informasi. Mengingat kerajaan Spanyol tertutup bagi orang asing, akses tak terbatas Humboldt cukup luar biasa. Observasinya tentang Spanyol Baru, yang diterbitkan sebagai Political Essay on the Kingdom of New Spain tetap menjadi teks ilmiah dan sejarah yang penting.[123] Ketika Napoleon menginvasi Spanyol pada tahun 1808, Ferdinand VII turun tahta dan Napoleon menempatkan saudaranya Joseph Bonaparte di atas takhta itu. Untuk menambah legitimasi langkah, Konstitusi Bayonne diumumkan, yang memasukkan perwakilan dari luar negeri Spanyol. Tetapi sebagian besar orang Spanyol menolak seluruh proyek Napoleon.

Perang Kemerdekaan Spanyol kemudian terjadi. Cortes de Cádiz (parlemen) dibentuk untuk tanpa kehadiran raja Spanyol yang sah, Ferdinand. Parlemen ini kemudian membuat dokumen pemerintahan baru, Konstitusi 1812, yang meletakkan tiga cabang pemerintahan: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Konstitusi ini membatasi kekuasaan raja dengan menciptakan monarki konstitusional dan mendefinisikan warga negara sebagai orang-orang yang tinggal di bawah Kekaisaran Spanyol yang bukan keturunan Afrika. Konstitusi ini juga menetapkan hak pilih universal dan mendirikan pendidikan umum mulai dari sekolah dasar hingga universitas serta menjamin kebebasan berekspresi. Konstitusi Spanyol hanya berlaku dari tahun 1812 hingga 1814 karena Napoleon dikalahkan dan Ferdinand dikembalikan ke tahta Spanyol. Sekembalinya, Ferdinand menolak konstitusi itu dan menegakkan kembali aturan absolut.[124] Invasi Perancis ke Spanyol juga memicu krisis legitimasi kekuasaan di Spanyol Amerika, dengan banyak daerah mendirikan junta untuk memerintah atas nama Ferdinand VII. Sebagian besar tanah Amerika yang dikuasai Spanyol berjuang untuk kemerdekaan dan hanya menyisakan Kuba dan Puerto Riko, serta Filipina sebagai komponen luar negeri dari Kekaisaran Spanyol. Semua negara yang baru merdeka dan berdaulat menjadi republik pada tahun 1824, dengan konstitusi tertulis. Pemerintahan Monarki yang singkat pascakemerdekaan Meksiko digulingkan dan digantikan oleh republik federal di bawah Konstitusi tahun 1824, yang diilhami oleh konstitusi AS dan Spanyol.

Portugal[sunting | sunting sumber]

Masa Pencerahan di Portugal (Iluminismo) ditandai oleh pemerintahan Perdana Menteri Marquis dari Pombal di bawah Raja Joseph I dari Portugal dari tahun 1756 hingga 1777. Setelah gempa bumi Lisbon 1755 yang menghancurkan sebagian besar kota Lisbon, Marquis of Pombal menerapkan kebijakan ekonomi penting untuk mengatur kegiatan komersial (khususnya dengan Brasil dan Inggris), dan untuk menstandarisasi kualitas di seluruh negeri (misalnya dengan memperkenalkan industri terintegrasi pertama di Portugal). Rekonstruksi distrik tepi sungai Lisbon yang disusun secara sistematis dilakukan untuk memfasilitasi perdagangan dapat dilihat sebagai penerapan langsung dari Ide-ide pencerahan untuk pemerintahan dan urbanisme. Ide urbanistiknya, juga menjadi contoh pertama dalam skala besar dari teknik gempa yang secara kolektif dikenal sebagai gaya Pombaline. Ide ini telah diterapkan di seluruh kerajaan selama masa jabatan Pombal.

Dalam literatur, ide-ide Pencerahan pertama di Portugal dapat ditelusuri kembali ke diplomat, filsuf, dan penulis António Vieira (1608-1697),[125] yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Brasil kolonial. Dia mencela diskriminasi terhadap penganut Kristen Baru dan Masyarakat adat di Brasil. Karya-karyanya dianggap sebagai salah satu karya terbaik sastra Portugis. Selama abad ke-18, gerakan sastra yang tercerahkan seperti Arcádia Lusitana (berlangsung dari tahun 1756 hingga 1776, kemudian digantikan oleh Nova Arcádia pada tahun 1790 hingga 1794) muncul di platform-platform akademis dengan melibatkan mantan mahasiswa Universitas Coimbra. Dokter António Nunes Ribeiro Sanches juga merupakan tokoh Pencerahan yang penting yang berkontribusi pada Encyclopédie dan menjadi bagian dari pengadilan Rusia.

Gagasan-gagasan Pencerahan juga mempengaruhi berbagai ekonom dan intelektual anti-kolonial di seluruh Kekaisaran Portugis, seperti José de Azeredo Coutinho, José da Silva Lisboa, Cláudio Manoel da Costa, dan Tomás de Antônio Gonzaga.

Invasi Napoleon ke Portugal selanjutnya mempunyai konsekuensi yang besar terhadap monarki Portugis. Dengan bantuan angkatan laut Inggris, keluarga kerajaan Portugis dievakuasi ke Brasil, koloni terpentingnya. Meskipun Napoleon telah dikalahkan, istana kerajaan tetap berada di Brasil. Revolusi Liberal yang terjadi pada tahun 1820 memaksa kembalinya keluarga kerajaan ke Portugal. Istilah yang digunakan raja yang kembali memerintah ini adalah monarki konstitusional di bawah Konstitusi Portugal. Brasil mendeklarasikan kemerdekaan dari Portugal pada tahun 1822, dan menjadi monarki.

Rusia[sunting | sunting sumber]

Di Rusia, pemerintah mulai aktif mendorong proliferasi seni dan pengembangan ilmu pengetahuan pada pertengahan abad ke-18. Di era ini dibentuk universitas Rusia pertama, perpustakaan, teater, museum umum, dan pers independen. Seperti penguasa lalim lainnya, Catherine yang Agung memainkan peran utama dalam mengembangkan seni, sains, dan pendidikan. Dia menggunakan interpretasinya sendiri tentang cita-cita Pencerahan, dibantu oleh para ahli internasional terkemuka seperti Voltaire (melalui korespondensi) dan ilmuwan kelas dunia seperti Leonhard Euler dan Peter Simon Pallas. Pencerahan nasional di Rusia berbeda dengan di Eropa Barat. Pencerahan di Rusia mempromosikan modernisasi lebih lanjut dari semua aspek kehidupan Rusia. Selain itu muncul pula oposisi terhadap institusi perbudakan di Rusia. Pencerahan Rusia berpusat pada kemajuan individu dan mendorong kehidupan yang tercerahkan.[126][127] Salah satu pengaruh yang kuat adalah prosveshchenie yang menggabungkan agama, ilmu pengetahuan dan komitmen untuk penyebaran pembelajaran. Namun, Pencerahan Rusia tidak memiliki semangat skeptis dan kritis seperti Pencerahan di Eropa Barat.[128]

Polandia[sunting | sunting sumber]

Konstitusi 3 Mei 1791, konstitusi modern pertama di Eropa

Ide-ide pencerahan (oświecenie) muncul belakangan di Polandiaketika kelas menengah Polandia dan tradisi szlachta (bangsawan) bersama dengan sistem politik Persemakmuran Polandia-Lithuania (Golden Liberty) berada dalam krisis yang mendalam. Sistem politik dibangun di atas fondasi republikanisme aristokrat, tetapi tidak dapat mempertahankan diri terhadap agresi negara-negara tetangga yang kuat seperti Rusia, Prusia dan Austria yang berulang kali mencaplok wilayah Polandia sampai tidak ada yang tersisa. Periode Pencerahan Polandia dimulai pada 1730-an-1740-an. Bidang teater dan seni mencapai level puncaknya pada masa pemerintahan Raja Stanisław August Poniatowski (paruh kedua abad ke-18). Warsawa adalah pusat utama gerakan pencerahan setelah 1750, tempat sekolah dan lembaga pendidikan diperluas dan perlindungan seni diadakan di Istana Kerajaan.[129] Para pemimpin Polandia juga mempromosikan toleransi dan lebih banyak pendidikan. Para pemimpin ini antara lain Raja Stanislaw II Poniatowski dan reformis Piotr Switkowski, Antoni Poplawski, Josef Niemcewicz dan Jósef Pawlinkowski, serta Baudouin de Cortenay, seorang dramawan Polonized. Orang-orang yang melawan gerakan Pencerahan antara lain Florian Jaroszewicz, Gracjan Piotrowski, Karol Wyrwicz dan Wojciech Skarszewski.[130]

Gerakan Pencerahan mengalami kemunduran dengan Pemisahan Polandia Ketiga (1795) – sebuah tragedi nasional yang mendorong munculnya periode singkat penulisan sentimental – dan berakhir pada tahun 1822, yang kemudian digantikan oleh Romantisisme.[131]

Historiografi[sunting | sunting sumber]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Istilah "Pencerahan" muncul dalam bahasa Inggris pada akhir abad ke-19[132] dengan referensi kepada filsafat Prancis sebagai padanan istilah Prancis Lumières (digunakan pertama kali oleh Dubos pada tahun 1733 dan sudah mapan pada tahun 1751). Dari esai Immanuel Kant tahun 1784 "Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung?" ("Menjawab Pertanyaan: Apa itu Pencerahan?"), istilah Jerman menjadi Aufklärung ( aufklären = untuk menerangi; sich aufklären = untuk menjernihkan). Namun, para sarjana tidak pernah menyetujui definisi Pencerahan, atau pada tingkat kronologis atau geografisnya. Istilah-istilah seperti les Lumières (Prancis), illuminismo (Italia), ilustración (Spanyol) dan Aufklärung (Jerman) mengacu pada sebagian gerakan yang tumpang tindih. Sebelum akhir abad kesembilan belas para sarjana Inggris setuju bahwa mereka berbicara tentang "Pencerahan".[133][134]

Jika ada sesuatu yang Anda ketahui, komunikasikan. Jika ada sesuatu yang Anda tidak tahu, carilah.
— Sebuah ukiran dari Encyclopédie edisi 1772; Kebenaran, di tengah atas, dikelilingi oleh cahaya dan diungkapkan oleh angka-angka di sebelah kanan, Filsafat dan Akal

Bertrand Russell memandang Pencerahan sebagai fase dalam perkembangan progresif yang dimulai dari zaman kuno. Ia mengemukakan bahwa alasan dan tantangan terhadap tatanan yang mapan adalah cita-cita yang tetap ada sepanjang waktu. [135] Russell mengatakan bahwa Pencerahan pada akhirnya lahir sebagai reaksi Protestan terhadap kontra-reformasi Katolik dan bahwa pandangan filosofis seperti afinitas untuk demokrasi melawan monarki berasal dari kalangan Protestan pada abad ke-16 untuk melepaskan diri dari Gereja Katolik. Meskipun banyak dari cita-cita filosofis ini diambil oleh umat Katolik, Russell berpendapat bahwa pada abad ke-18 Pencerahan adalah manifestasi utama dari perpecahan yang dimulai oleh Martin Luther.[135]

Jonathan Israel menolak upaya para sejarawan postmodern dan Marxian untuk memahami ide-ide revolusioner pada periode itu semata-mata sebagai produk sampingan dari transformasi sosial dan ekonomi.[136] Dia berfokus pada sejarah gagasan pada periode 1650 hingga akhir abad ke-18 dan menyatakan bahwa gagasan itu sendiri yang menyebabkan perubahan yang akhirnya mengarah pada revolusi paruh kedua abad ke-18 dan awal abad ke-19.[137] Israel berpendapat bahwa sampai 1650-an peradaban Barat "didasarkan pada kepercayaan, tradisi, dan otoritas yang sebagian besar dianut bersama".[138]

Rentang waktu[sunting | sunting sumber]

Terdapat sedikit konsensus mengenai waktu dimulainya Zaman Pencerahan itu. Beberapa sejarawan dan filsuf berpendapat bahwa Zaman Pencerahan ditandai oleh filosofi Descartes '1637 dari Cogito, ergo sum ("Saya berpikir, oleh karena itu saya ada"), yang menggeser dasar epistemologis dari otoritas eksternal ke kepastian internal.[139][140][141] Di Prancis, banyak yang mengutip publikasi Isaac Newton, Principia Mathematica (1687),[142] yang dibangun di atas karya ilmuwan sebelumnya dan merumuskan hukum gerak dan gravitasi universal.[143] Sejarawan Prancis umumnya menempatkan Siècle des Lumières ("Abad Pencerahan") antara 1715 dan 1789: dari awal pemerintahan Louis XV hingga Revolusi Prancis.[144] Kebanyakan cendekiawan menggunakan tahun-tahun terakhir abad ini, sering kali memilih Revolusi Prancis tahun 1789 atau awal Perang Napoleon (1804-1815) sebagai titik waktu yang tepat berakhirnya Zaman Pencerahan.[145]

Studi kontemporer[sunting | sunting sumber]

Dalam buku Dialectic of Enlightenment (1947), filsuf Frankfurt School Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno berpendapat:

Pencerahan, dipahami dalam arti luas sebagai kemajuan pemikiran yang selalu bertujuan untuk membebaskan manusia dari rasa takut dan menempatkan mereka sebagai tuan. Namun bumi yang sepenuhnya tercerahkan terpancar di bawah tanda kemenangan bencana.[146]

Memperluas argumen Horkheimer dan Adorno, sejarawan intelektual Jason Josephson-Storm berpendapat bahwa gagasan -gagasan Zaman Pencerahan sebagai periode yang terpisah dari Renaisans awal dan Romantisisme atau Kontra-Pencerahan merupakan sebuah mitos. Josephson-Storm menunjukkan bahwa ada periodisasi Pencerahan yang sangat berbeda dan saling bertentangan tergantung pada bangsa, bidang studi, dan aliran pemikiran; bahwa istilah dan kategori "Pencerahan" yang mengacu pada revolusi ilmiah sebenarnya diterapkan setelah terjadinya fakta; bahwa Pencerahan tidak tumbuhnya kekecewaan atau dominasi pandangan dunia mekanistik; dan bahwa kaburnya gagasan modern awal tentang humaniora dan ilmu alam yang membuat sulit untuk membatasi Revolusi Ilmiah.[147]

Pada 1970-an, studi Pencerahan diperluas dengan memasukkan bagaimana ide-ide Pencerahan menyebar ke koloni-koloni Eropa dan bagaimana mereka berinteraksi dengan budaya asli dan bagaimana Pencerahan terjadi di daerah-daerah yang sebelumnya tidak dipelajari seperti Italia, Yunani, Balkan, Polandia, Hongaria, dan Rusia.[148]

Antropolog David Graeber dan arkeolog David Wengrow berpendapat dalam The Dawn of Everything tahun 2021 bahwa suatu pandangan yang sangat berbeda dari periode tersebut muncul dalam literatur, yaitu, bahwa Eropa adalah penerima ide-ide yang tercerahkan, bukan sumbernya.[149]

Intelektual seperti Robert Darnton dan Jürgen Habermas berfokus pada kondisi sosial Pencerahan. Habermas menggambarkan penciptaan "ruang publik borjuis" di Eropa abad ke-18 yang memberikan tempat dan mode komunikasi baru yang memungkinkan terjadinya diskusi rasional. Habermas mengatakan bahwa ruang publik borjuis, egaliter, rasional dan independen dari negara menjadikannya tempat yang ideal bagi para intelektual untuk secara kritis meneliti politik dan masyarakat kontemporer. Dengan demikian, menereka jauh dari campur tangan otoritas yang mapan. Ruang publik umumnya merupakan komponen integral dari studi sosial Pencerahan, sementara sejarawan juga lain seperti Robert Darnton, Roger Chartier, Brian Cowan, Donna T. Andrew mempertanyakan apakah ruang publik memiliki karakteristik ini.

Masyarakat dan budaya[sunting | sunting sumber]

Sebuah medali yang dicetak pada masa pemerintahan Joseph II, Kaisar Romawi Suci, untuk memperingati pemberian kebebasan beragama kepada orang Yahudi dan Protestan di Hongaria—reformasi penting lainnya dari Joseph II adalah penghapusan perbudakan.

Berbeda dengan pendekatan historiografi intelektual Pencerahan, yang mengkaji berbagai arus atau wacana pemikiran intelektual dalam konteks Eropa selama abad 17 dan 18, pendekatan budaya (atau sosial) mengkaji perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan budaya Eropa. Pendekatan ini mempelajari proses perubahan kehidupan sosial dan praktik budaya selama Zaman Pencerahan.

Salah satu hal yang penting tentang Zaman Pencerahan adalah munculnya ruang publik, "sebuah bentuk komunikasi yang memungkinkan terjadinya diskursus publik urban yang lebih terbuka dan dapat diakses, dan meningkatnya budaya percetakan", pada akhir abad ke-17 dan ke-18.[150] Unsur-unsur ruang publik antara lain bersifat egaliter, membahas isu-isu yang merupakan "kepentingan bersama", dan argumen itu didasarkan pada argumentasi.[151] Habermas menggunakan istilah "kepedulian bersama" untuk menjelaskan bidang-bidang pengetahuan dan diskusi politik/sosial yang sebelumnya merupakan wilayah eksklusif otoritas negara dan agama. Kini bidang-bidang ini terbuka untuk diskusi secara kritis dalam ruang publik. Nilai-nilai ruang publik ini termasuk mengutamakan nalar sebagai hal yang sangat penting, menganggap segala sesuatunya terbuka untuk dikritik (ruang publik itu kritis), dan menentang segala bentuk kerahasiaan dalam isu-isu publik.[152]

Penjelajah Jerman Alexander von Humboldt menunjukkan rasa jijiknya terhadap perbudakan dan sering mengkritik kebijakan kolonial—ia selalu bertindak berdasarkan keyakinan humanistik, yang lahir dari ide-ide Pencerahan. [153]

Penciptaan ruang publik dikaitkan dengan dua tren sejarah jangka panjang: kebangkitan negara bangsa modern dan kebangkitan kapitalisme. Negara bangsa modern, dalam konsolidasi kekuasaan publiknya, dibentuk sebagai tandingan ranah privat masyarakat yang independen dari negara dan memungkinkan adanya ruang publik. Kapitalisme juga meningkatkan otonomi dan kesadaran diri masyarakat, serta meningkatnya kebutuhan akan pertukaran informasi. Ruang publik yang berkembang meliputi berbagai macam institusi dan yang paling sering dikutip adalah kedai kopi dan kafe, salon dan ruang publik sastra, yang diibaratkan dalam the Republic of Letters.[154] Di Prancis, pembentukan ruang publik didukung oleh perpindahan aristokrasi dari istana Raja di Versailles ke Paris pada sekitar tahun 1720. Ini terjadi karena pengeluaran mereka yang besar mendorong terjadinya perdagangan barang-barang mewah dan kreasi artistik, terutama lukisan yang indah.[155]

Konteks kebangkitan ruang publik adalah perubahan ekonomi dan sosial yang umumnya juga diasosiasikan dengan Revolusi Industri: "Ekspansi ekonomi, peningkatan urbanisasi, peningkatan populasi, dan peningkatan komunikasi dibandingkan dengan stagnasi abad sebelumnya".[156] Meningkatnya efisiensi dalam teknik produksi dan komunikasi menurunkan harga barang konsumsi dan meningkatkan jumlah dan variasi barang yang tersedia bagi konsumen (termasuk karya-karya literatur yang penting bagi ruang publik). Sementara itu, pengalaman kolonial (sebagian besar negara-negara Eropa memiliki kerajaan kolonial pada abad ke-18) membuat masyarakat Eropa terpapar pada budaya yang sangat heterogen, yang mengarah pada runtuhnya "penghalang antara sistem budaya, perbedaan agama, perbedaan gender, dan wilayah geografis".[157]

Kata "publik" menyiratkan tingkat inklusivitas yang tinggi – ruang publik berarti harus terbuka untuk semua. Namun, ruang ini hanya bersifat publik sampai derajat tertentu. Pemikir pencerahan sering membandingkan konsepsi mereka tentang "publik" dengan konsep rakyat: Condorcet membandingkan "opini" dengan rakyat, Marmontel membandingkan "opini para sastrawan" dengan "opini orang banyak" dan d'Alembert juga membandingkan opini "publik yang benar-benar tercerahkan" dengan opini "orang banyak yang buta dan berisik".[158] Selain itu, sebagian besar lembaga ruang publik masih mengecualikan perempuan dan orang-orang dari kelas bawah.[159] Diskursus yang mempengaruhi antar kelas terjadi melalui partisipasi kelas bangsawan dan kelas bawah di bidang-bidang seperti kedai kopi dan pondok-pondok Masonik.

Implikasi sosial dan kultural[sunting | sunting sumber]

Karena fokus pada penalaran akal dibandingkan dengan takhayul, bidang seni juga berkembang pada Zaman Pencerahan.[160] Penekanan pada pembelajaran, seni dan musik menjadi populer dengan tumbuhnya kelas menengah. Bidang studi seperti sastra, filsafat, sains, dan seni rupa mengeksplorasi materi pelajaran yang dapat dihubungkan oleh masyarakat umum.[161]

Ketika musisi semakin bergantung pada dukungan publik, konser publik menjadi semakin populer dan membantu menambah pendapatan para musisi dan komposer. Konser juga membantu mereka untuk menjangkau publik yang lebih luas. Handel, misalnya, menunjukkan hal ini dengan aktivitas musiknya yang populer di London. Dia mendapatkan ketenaran yang besar di sana dengan pertunjukan opera dan oratorionya. Musik Haydn dan Mozart, dengan gaya Klasik Wina mereka juga dianggap paling sesuai dengan cita-cita Pencerahan.[162]

Keinginan untuk mengeksplorasi, merekam, dan melakukan sistematisasi pengetahuan memiliki dampak yang besar pada publikasi musik. Dictionnaire de musique karya Jean-Jacques Rousseau (diterbitkan tahun 1767 di Jenewa dan 1768 di Paris) adalah teks utama di akhir abad ke-18.[163] Kamus yang tersedia secara luas di Eropa ini memberikan definisi singkat kata-kata seperti 'jenius' dan 'rasa' dan secara jelas dipengaruhi oleh gerakan Pencerahan. Teks lain yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Pencerahan adalah karya Charles Burney, A General History of Music: From the Earliest Ages to the Present Period (1776), yang merupakan survei sejarah dan upaya untuk merasionalisasi elemen-elemen dalam musik secara sistematis dari waktu ke waktu.[164] Baru-baru ini, beberapa ahli musik juga meneliti gagasan dan konsekuensi Zaman Pencerahan. Misalnya, Deconstructive Variations karya Rose Rosengard Subotnik (dengan subjudul Music and Reason in Western Society ) membahas Die Zauberflöte (1791) karya Mozart dengan menggunakan perspektif Pencerahan dan Romantis dan menyimpulkan bahwa karya tersebut adalah "representasi musik yang ideal dari Pencerahan".[164]

Ketika ekonomi dan kelas menengah berkembang, terdapat peningkatan jumlah musisi amatir. Peningkatan ini melibatkan perempuan yang memungkinkan partisipasi mereka di tingkat sosial. Meningkatnya musisi amatir membuat perempuan dapat berpartisipasi dengan bermain keyboard. Sebelumnya perempuan telah terlibat sebagai penyanyi dalam dunia musik.[165] Penerbit-penerbit musik mulai mencetak musik yang dapat dipahami dan dimainkan oleh para musisi amatir. Sebagian besar karya yang diterbitkan adalah musik keyboard, suara dan keyboard ansambel.[165] Setelah genre awal ini dipopulerkan, kelompok amatir juga mulai menyanyikan musik paduan suara, yang kemudian menjadi tren baru. Meningkatnya studi seni rupa, serta akses ke karya-karya terbitan yang dapat diakses musisi amatir menyebabkan lebih banyak orang menjadi tertarik membaca dan mendiskusikan musik. Majalah musik, ulasan dan karya kritis yang sesuai untuk musisi amatir dan penikmat musik mulai muncul dan berkembang.[165]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "The Age of Enlightenment: A History From Beginning to End: Chapter 3". publishinghau5.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 March 2017. Diakses tanggal 3 April 2017. 
  2. ^ Outram, Dorinda (2006), Panorama of the Enlightenment, Getty Publications, hlm. 29, ISBN 978-0892368617 
  3. ^ Zafirovski, Milan (2010), The Enlightenment and Its Effects on Modern Society, hlm. 144 
  4. ^ Eugen Weber, Movements, Currents, Trends: Aspects of European Thought in the Nineteenth and Twentieth Centuries (1992).
  5. ^ Gay, Peter (1996), The Enlightenment: An Interpretation, W.W. Norton & Company, ISBN 0-393-00870-3 
  6. ^ Kant, Immanuel (2006). Kleingeld, Pauline, ed. "Toward Perpetual Peace and Other Writings on Politics, Peace, and History (Rethinking the Western Tradition)" (PDF). David L. Colclasure (translator). Yale University Press. Diakses tanggal 31 Januari 2022. 
  7. ^ Vottari, Giuseppe (2003). L'illuminismo. Un percorso alfabetico nell'età delle riforme. Alpha Test. hlm. 54. ISBN 978-88-483-0456-6. 
  8. ^ Maddaloni, Domenico (17 November 2011). Visioni in movimento. Teorie dell'evoluzione e scienze sociali dall'Illuminismo a oggi: Teorie dell'evoluzione e scienze sociali dall'Illuminismo a oggi. FrancoAngeli. hlm. 20. ISBN 978-88-568-7115-9. 
  9. ^ I. Bernard Cohen, "Scientific Revolution and Creativity in the Enlightenment."
  10. ^ Sootin, Harry.
  11. ^ Jeremy Black, "Ancien Regime and Enlightenment.
  12. ^ Robert Darnton, The Business of Enlightenment: a publishing history of the Encyclopédie, 1775–1800 (2009).
  13. ^ Jeremy Black, "Ancien Regime and Enlightenment.
  14. ^ Robert A. Ferguson, The American Enlightenment, 1750–1820 (1994).
  15. ^ Israel 2006, hlm. 15.
  16. ^ Israel 2010, hlm. vii–viii, 19.
  17. ^ Israel 2010, hlm. 11.
  18. ^ "Enlightenment – Definition, History, & Facts". Encyclopedia Britannica. 
  19. ^ Petitfils 2005, hlm. 99–105.
  20. ^ "The Scottish enlightenment and the challenges for Europe in the 21st century; climate change and energy", The New Yorker, 11 October 2004, diarsipkan dari versi asli tanggal 6 June 2011 
  21. ^ "Kant's essay What is Enlightenment?". mnstate.edu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-17. Diakses tanggal 2022-01-30. 
  22. ^ Manfred Kuehn, Kant: A Biography (2001).
  23. ^ Kreis, Steven (13 April 2012). "Mary Wollstonecraft, 1759–1797". Historyguide.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 January 2014. Diakses tanggal 14 January 2014. 
  24. ^ Mary Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman (Renascence Editions, 2000) online
  25. ^ Bruce P. Lenman, Integration and Enlightenment: Scotland, 1746–1832 (1993) excerpt and text search
  26. ^ Sarmant, Thierry, Histoire de Paris, p. 120.
  27. ^ Ronald S. Calinger, Leonhard Euler: Mathematical Genius in the Enlightenment (2016)
  28. ^ Porter (2003), 79–80.
  29. ^ Burns (2003), entry: 7,103.
  30. ^ see Hall (1954), iii; Mason (1956), 223.
  31. ^ Gillispie, (1980), p. xix.
  32. ^ James E. McClellan III, "Learned Societies," in Encyclopedia of the Enlightenment, ed.
  33. ^ Porter, (2003), p. 91.
  34. ^ See Gillispie, (1980), "Conclusion."
  35. ^ Porter, (2003), p. 90.
  36. ^ Burns, (2003), entry: 158.
  37. ^ Thomson, (1786), p. 203.
  38. ^ M. Magnusson (10 November 2003), "Review of James Buchan, Capital of the Mind: how Edinburgh Changed the World", New Statesman, diarsipkan dari versi asli tanggal 6 June 2011, diakses tanggal 27 April 2014 
  39. ^ Swingewood, Alan (1970). "Origins of Sociology: The Case of the Scottish Enlightenment". The British Journal of Sociology. 21 (2): 164–180. doi:10.2307/588406. JSTOR 588406. 
  40. ^ D. Daiches, P. Jones and J. Jones, A Hotbed of Genius: The Scottish Enlightenment, 1730–1790 (1986).
  41. ^ M. Fry, Adam Smith's Legacy: His Place in the Development of Modern Economics (Routledge, 1992).
  42. ^ The Illusion of Free Markets, Bernard E. Harcourt, p. 260, 11–14.
  43. ^ "The Enlightenment throughout Europe". History-world.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 January 2013. Diakses tanggal 25 March 2013. 
  44. ^ Roland Sarti, Italy: A Reference Guide from the Renaissance to the Present, Infobase Publishing, 2009, p. 457
  45. ^ Daniel Brewer, The Enlightenment Past: reconstructing eighteenth-century French thought (2008), p. 1
  46. ^ De Dijn, Annelien (2012). "The Politics of Enlightenment: From Peter Gay to Jonathan Israel". Historical Journal. 55 (3): 785–805. doi:10.1017/s0018246x12000301. 
  47. ^ von Guttner, Darius (2015). The French Revolution. Nelson Cengage. hlm. 34–35. [pranala nonaktif permanen]
  48. ^ "John Locke > The Influence of John Locke's Works (Stanford Encyclopedia of Philosophy)". Plato.stanford.edu. Diakses tanggal 14 January 2014. 
  49. ^ Pierre Manent, An Intellectual History of Liberalism (1994) pp. 20–38
  50. ^ Lessnoff, Michael H. Social Contract Theory.
  51. ^ Discourse on the Origin of Inequality
  52. ^ Lorraine Y. Landry, Marx and the postmodernism debates: an agenda for critical theory (2000) p. 7
  53. ^ Of the Original Contract
  54. ^ Eltis, David; Walvin, James, ed. (1981). The Abolition of the Atlantic Slave Trade. Madison: University of Wisconsin Press. hlm. 76. 
  55. ^ Northrup, David, ed. (2002). The Atlantic Slave Trade. Boston: Houghton Mifflin. hlm. 200. 
  56. ^ David Williams, ed. (1994). Voltaire: Political Writings. hlm. xiv–xv. ISBN 978-0-521-43727-1. 
  57. ^ Stephen J. Lee, Aspects of European history, 1494–1789 (1990) pp. 258–66
  58. ^ Nicholas Henderson, "Joseph II", History Today (March 1991) 41:21–27
  59. ^ John Stanley, "Towards A New Nation: The Enlightenment and National Revival in Poland", Canadian Review of Studies in Nationalism, 1983, Vol. 10 Issue 2, pp. 83–110
  60. ^ Giles MacDonogh, Frederick the Great: A Life in Deed and Letters (2001) p. 341
  61. ^ "Enlightenment ideals of rationalism and intellectual and religious freedom pervaded the American colonial religious landscape, and these values were instrumental in the American Revolution and the creation of a nation without an established religion".
  62. ^ Fremont-Barnes, Gregory (2007). Encyclopedia of the Age of Political Revolutions and New Ideologies, 1760–1815. Greenwood. hlm. 190. ISBN 9780313049514. 
  63. ^ "Recognized in Europe as the author of the Declaration of Independence, Thomas Jefferson quickly became a focal point or lightning rod for revolutionaries in Europe and the Americas.
  64. ^ Chartier, 8.
  65. ^ Voltaire (1763) A Treatise on Toleration
  66. ^ Margaret C. Jacob, ed.
  67. ^ Locke, John (1695). Reasonableness of Christianity. "Preface" The Reasonableness of Christianity, as delivered in the Scriptures. 
  68. ^ R.B. Bernstein (2003). Thomas Jefferson. Oxford University Press. hlm. 179. ISBN 978-0-19-975844-9. 
  69. ^ Ole Peter Grell; Porter, Roy (2000). Toleration in Enlightenment Europe. Cambridge University Press. hlm. 1–68. ISBN 978-0-521-65196-7. 
  70. ^ Baruch Spinoza, Theologico-Political Treatise, "Preface," 1677, gutenberg.com
  71. ^ Mendelssohn, Moses (1783). "Jerusalem: Or on Religious Power and Judaism" (PDF). 
  72. ^ Goetschel, Willi (2004). Spinoza's Modernity: Mendelssohn, Lessing, and Heine. Univ of Wisconsin Press. hlm. 126. ISBN 978-0-299-19083-5. 
  73. ^ Thomas Paine, Of the Religion of Deism Compared with the Christian Religion, 1804, Internet History Sourcebook
  74. ^ Ellen Judy Wilson; Peter Hanns Reill (2004). Encyclopedia Of The Enlightenment. Infobase Publishing. hlm. 148. ISBN 978-1-4381-1021-9. 
  75. ^ Pagden, Anthony (2013). The Enlightenment: And Why it Still Matters. Oxford University Press. hlm. 100. ISBN 978-0-19-966093-3. 
  76. ^ Bayle, Pierre (1741). A general dictionary: historical and critical: in which a new and accurate translation of that of the celebrated Mr. Bayle, with the corrections and observations printed in the late edition at Paris, is included; and interspersed with several thousand lives never before published. The whole containing the history of the most illustrious persons of all ages and nations particularly those of Great Britain and Ireland, distinguished by their rank, actions, learning and other accomplishments. With reflections on such passages of Bayle, as seem to favor scepticism and the Manichee system. hlm. 778. 
  77. ^ ENR // AgencyND // University of Notre Dame (4 May 2003). "God, Locke and Equality: Christian Foundations of Locke's Political Thought". Nd.edu. 
  78. ^ Israel 2011, hlm. 11.
  79. ^ Israel 2010, hlm. 19.
  80. ^ Israel 2010, hlm. vii–viii.
  81. ^ Feldman, Noah (2005).
  82. ^ Feldman, Noah (2005).
  83. ^ Ferling, 2000, p. 158
  84. ^ Mayer, 1994, p. 76
  85. ^ Hayes, 2008, p. 10
  86. ^ Cogliano, 2003, p. 14
  87. ^ Peter Gay, ed.
  88. ^ Roy Porter, "England" in Alan Charles Kors, ed., Encyclopedia of the Enlightenment (2003) 1:409–15.
  89. ^ Karen O'Brien, "English Enlightenment Histories, 1750–c.1815" in José Rabasa, ed. (2012). The Oxford History of Historical Writing: Volume 3: 1400–1800. Oxford, England: OUP. hlm. 518–35. ISBN 978-0-19-921917-9. 
  90. ^ Roy Porter, The creation of the modern world: the untold story of the British Enlightenment (2000), pp. 1–12, 482–84.
  91. ^ Israel 2011, hlm. 248–49.
  92. ^ A. Herman, How the Scots Invented the Modern World (Crown Publishing Group, 2001).
  93. ^ Harrison, Lawrence E. (2012). Jews, Confucians, and Protestants: Cultural Capital and the End of Multiculturalism. Rowman & Littlefield. hlm. 92. ISBN 978-1-4422-1964-9. 
  94. ^ "The Scottish enlightenment and the challenges for Europe in the 21st century; climate change and energy", The New Yorker, 11 October 2004, diarsipkan dari versi asli tanggal 6 June 2011 
  95. ^ J. Repcheck, The Man Who Found Time: James Hutton and the Discovery of the Earth's Antiquity (Basic Books, 2003), pp. 117–43.
  96. ^ Henry F. May, The Enlightenment in America (1978)
  97. ^ Michael Atiyah, "Benjamin Franklin and the Edinburgh Enlightenment," Proceedings of the American Philosophical Society (Dec 2006) 150#4 pp. 591–606.
  98. ^ Jack Fruchtman, Jr., Atlantic Cousins: Benjamin Franklin and His Visionary Friends (2007)
  99. ^ Charles C. Mann, 1491 (2005)
  100. ^ Paul M. Spurlin, Montesquieu in America, 1760–1801 (1941)
  101. ^ Encyclopædia Britannica. 
  102. ^ Charles W. Ingrao, "A Pre-Revolutionary Sonderweg."
  103. ^ Katrin Keller, "Saxony: Rétablissement and Enlightened Absolutism."
  104. ^ "The German Enlightenment", German History (Dec 2017) 35#4 pp 588–602, round table discussion of historiography.
  105. ^ Gagliardo, John G. (1991). Germany under the Old Regime, 1600–1790. hlm. 217–34, 375–95. 
  106. ^ Richter, Simon J., ed. (2005), The Literature of Weimar Classicism 
  107. ^ Owens, Samantha; Reul, Barbara M.; Stockigt, Janice B., ed. (2011). Music at German Courts, 1715–1760: Changing Artistic Priorities. 
  108. ^ Kuehn, Manfred (2001). Kant: A Biography. 
  109. ^ Van Dulmen, Richard; Williams, Anthony, ed. (1992). The Society of the Enlightenment: The Rise of the Middle Class and Enlightenment Culture in Germany. 
  110. ^ Thomas P. Saine, The Problem of Being Modern, or the German Pursuit of Enlightenment from Leibniz to the French Revolution (1997)
  111. ^ Michael J. Sauter, "The Enlightenment on trial: state service and social discipline in eighteenth-century Germany's public sphere."
  112. ^ Dino Carpanetto and Giuseppe Ricuperati, Italy in the Age of Reason, 1685–1789 (1987).
  113. ^ Burr Litchfield, "Italy" in Kors, ed., Encyclopedia of the Enlightenment (2003) 2:270–76
  114. ^ Niccolò Guasti, "Antonio genovesi's Diceosina: Source of the Neapolitan Enlightenment."
  115. ^ Pier Luigi Porta, "Lombard enlightenment and classical political economy."
  116. ^ Franco Venturi, Italy and the Enlightenment: studies in a cosmopolitan century (1972) online
  117. ^ Anna Maria Rao, "Enlightenment and reform: an overview of culture and politics in Enlightenment Italy."
  118. ^ Hostettler, John (2011). Cesare Beccaria: The Genius of 'On Crimes and Punishments'. Hampshire: Waterside Press. hlm. 160. ISBN 978-1904380634. 
  119. ^ "The Enlightenment throughout Europe". History-world.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 January 2013. Diakses tanggal 25 March 2013. 
  120. ^ Aldridge, Alfred Owen.
  121. ^ De Vos, Paula S. "Research, Development, and Empire: State Support of Science in Spain and Spanish America, Sixteenth to Eighteenth Centuries," Colonial Latin America Review 15, no. 1 (June 2006) 55–79.
  122. ^ Bleichmar, Daniela.
  123. ^ Brading, D. A. The First America: The Spanish Monarchy, Creole Patriots, and the Liberal State, 1492–1867 Chapter 23, "Scientific Traveller".
  124. ^ Thiessen, Heather.
  125. ^ Cohen, Thomas M. (2018-11-15). "Six Sermons, written by António Vieira". Journal of Jesuit Studies (dalam bahasa Inggris). 5 (4): 692–695. doi:10.1163/22141332-00504010-11. ISSN 2214-1324. 
  126. ^ Elise Kimerling Wirtschafter, "Thoughts on the Enlightenment and Enlightenment in Russia", Modern Russian History & Historiography, 2009, Vol. 2 Issue 2, pp. 1–26
  127. ^ Israel 2011, hlm. 609–32.
  128. ^ Colum Leckey, "What is Prosveshchenie?
  129. ^ Maciej Janowski, "Warsaw and Its Intelligentsia: Urban Space and Social Change, 1750–1831."
  130. ^ Richard Butterwick, "What is Enlightenment (oświecenie)?
  131. ^ Jerzy Snopek, "The Polish Literature of the Enlightenment." Diarsipkan 5 October 2011 di Wayback Machine. (PDF 122 KB) Poland.pl. Retrieved 7 October 2011.
  132. ^ Oxford English Dictionary, 3rd Edn (revised)
  133. ^ Thomas, 2014
  134. ^ Lough, John (1985). "Reflections on Enlightenment and Lumieres". Journal for Eighteenth-Century Studies. 8#1: 1–15. doi:10.1111/j.1754-0208.1985.tb00093.x. 
  135. ^ a b Russell, Bertrand.
  136. ^ Israel 2010, hlm. 49–50.
  137. ^ Israel 2006, hlm. v–viii.
  138. ^ Israel 2001, hlm. 3.
  139. ^ Martin Heidegger [1938] (2002) The Age of the World Picture quotation:

    For up to Descartes ... a particular sub-iectum ... lies at the foundation of its own fixed qualities and changing circumstances. The superiority of a sub-iectum ... arises out of the claim of man to a ... self-supported, unshakeable foundation of truth, in the sense of certainty. Why and how does this claim acquire its decisive authority? The claim originates in that emancipation of man in which he frees himself from obligation to Christian revelational truth and Church doctrine to a legislating for himself that takes its stand upon itself.

  140. ^ Ingraffia, Brian D. (1995) Postmodern theory and biblical theology: vanquishing God's shadow p. 126
  141. ^ Norman K. Swazo (2002) Crisis theory and world order: Heideggerian reflections pp. 97–99
  142. ^ Shank, J. B. The Newton Wars and the Beginning of the French Enlightenment (2008), "Introduction"[halaman dibutuhkan]
  143. ^ "PHYS 200 – Lecture 3 – Newton's Laws of Motion – Open Yale Courses". oyc.yale.edu. 
  144. ^ Anderson, M. S. Historians and eighteenth-century Europe, 1715–1789 (Oxford UP, 1979); Jean de Viguerie, Histoire et dictionnaire du temps des Lumières (1715–1789) (Paris: Robert Laffont, 1995).
  145. ^ Frost, Martin (2008), The age of Enlightenment, diarsipkan dari versi asli tanggal 10 October 2007, diakses tanggal 18 January 2008 
  146. ^ Theodor W. Adorno; Horkheimer, Max (1947). "Konsep Pencerahan". Dalam GS Noerr. Dialectic of Enlightenment: Philosophical Fragments. Diterjemahkan oleh E. Jephcott. Stanford, CA: Stanford University Press. hlm. 3. ISBN 978 -1-85984-154-9. 
  147. ^ Josephson-Storm, Jason (2017). The Myth of Disenchantment: Magic, Modernity, and the Birth of the Human Sciences. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 58–61. ISBN 978-0-226-40336-6. 
  148. ^ Outram, 6.
  149. ^ David Graeber & David Wengrow (2021). The Dawn of Everything. Farrar, Straus and Giroux. hlm. 28–32. ISBN 978-0-374-15735-7. 
  150. ^ James Van Horn Melton, The Rise of the Public in Enlightenment Europe (2001), p. 4.
  151. ^ Jürgen Habermas, The Structural Transformation of the Public Sphere, (1989), pp. 36, 37.
  152. ^ Melton, 8.
  153. ^ Nicolaas A. Rupke (2008).
  154. ^ Melton, 4, 5.
  155. ^ Daniel Brewer, ed. (2014). The Cambridge Companion to the French Enlightenment. Cambridge UP. hlm. 91ff. ISBN 978-1-316-19432-4. 
  156. ^ Outram, Dorinda.
  157. ^ Outram 2005, p. 13.
  158. ^ Chartier, 27.
  159. ^ Mona Ozouf, "'Public Opinion' at the End of the Old Regime
  160. ^ David Beard and Kenneth Gloag, Musicology, The Key Concepts (New York: Routledge, 2005), 58.
  161. ^ J. Peter Burkholder, Donald J. Grout and Claude V. Palisca, A History of Western Music, Seventh Edition, (New York: W.W. Norton & Company, Inc., 2006), 475.
  162. ^ Beard and Gloag, Musicology, 59.
  163. ^ Beard and Gloag, Musicology, 59.
  164. ^ a b Beard and Gloag, Musicology, 60.
  165. ^ a b c Burkholder, Grout and Palisca, A History of Western Music, 475.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Aldridge, A. Owen (ed.). The Ibero-American Enlightenment (1971).
  • Andrew, Donna T. "Popular Culture and Public Debate: London 1780". The Historical Journal, Vol. 39, No. 2. (June 1996), pp. 405–23. in JSTOR
  • Artz, Frederick B. The Enlightenment in France (1998) online
  • Becker, Carl L. The Heavenly City of the Eighteenth-Century Philosophers. (1932), a famous short classic
  • Brewer, Daniel. The Enlightenment Past: Reconstructing 18th-Century French Thought (2008)
  • Broadie, Alexander, ed. The Scottish Enlightenment: An Anthology (2001) excerpt and text search
  • Broadie, Alexander. The Scottish Enlightenment: The Historical Age of the Historical Nation (2007)
  • Broadie, Alexander. The Cambridge Companion to the Scottish Enlightenment (2003) excerpt and text search
  • Bronner, Stephen. Reclaiming the Enlightenment: Toward a Politics of Radical Engagement, 2004
  • Bronner, Stephen. The Great Divide: The Enlightenment and its Critics (1995)
  • Brown, Stuart, ed. British Philosophy in the Age of Enlightenment (2002)
  • Buchan, James. Crowded with Genius: The Scottish Enlightenment: Edinburgh's Moment of the Mind (2004) excerpt and text search
  • Burns, William. Science in the Enlightenment: An Encyclopædia (2003)
  • Campbell, R.S. and Skinner, A.S., (eds.) The Origins and Nature of the Scottish Enlightenment, Edinburgh, 1982
  • Cassirer, Ernst. The Philosophy of the Enlightenment. 1955. a highly influential study by a neoKantian philosopher excerpt and text search
  • Chartier, Roger. The Cultural Origins of the French Revolution. Translated by Lydia G. Cochrane. Duke University Press, 1991.
  • Europe in the age of enlightenment and revolution. New York: The Metropolitan Museum of Art. 1989. ISBN 978-0-87099-451-7. 
  • Chisick, Harvey. Historical Dictionary of the Enlightenment (2005)
  • Cowan, Brian, The Social Life of Coffee: The Emergence of the British Coffeehouse. New Haven: Yale University Press, 2005
  • Darnton, Robert. The Literary Underground of the Old Regime. (1982).
  • Delon, Michel. Encyclopædia of the Enlightenment (2001) 1480 pp.
  • Diderot, Denis. Rameau's Nephew and other Works (2008) excerpt and text search.
  • Diderot, Denis. "Letter on the Blind" in Tunstall, Kate E. Blindness and Enlightenment. An Essay. With a new translation of Diderot's Letter on the Blind (Continuum, 2011)
  • Diderot, Denis. The Encyclopédie of Diderot and D'Alembert: Selected Articles (1969) excerpt and text search Collaborative Translation Project of the University of Michigan
  • Dupré, Louis. The Enlightenment and the Intellectual Foundations of Modern Culture (2004)
  • Edelstein, Dan. The Enlightenment: A Genealogy (University of Chicago Press; 2010) 209 pp.
  • Fitzpatrick, Martin et al., eds. The Enlightenment World (2004). 714 pp. 39 essays by scholars
  • Gay, Peter. The Enlightenment: The Rise of Modern Paganism (1966, 2nd ed. 1995), 592 pp. excerpt and text search vol 1.
  • Gay, Peter. The Enlightenment: The Science of Freedom (1969, 2nd ed. 1995), a highly influential study excerpt and text search vol 2;
  • Gay, Peter=, ed. (1973). The Enlightenment: A Comprehensive Anthology. ISBN 0671217070. 
  • Greensides F., Hyland P., Gomez O. (ed.). The Enlightenment (2002)
  • Golinski, Jan (2011). "Science in the Enlightenment, Revisited". History of Science. 49 (2): 217–31. Bibcode:2011HisSc..49..217G. doi:10.1177/007327531104900204. 
  • Goodman, Dena. The Republic of Letters: A Cultural History of the French Enlightenment. (1994).
  • Gomez, Olga, et al. eds. The Enlightenment: A Sourcebook and Reader (2001) excerpt and text search
  • Hampson, Norman. The Enlightenment (1981) online
  • Hankins, Thomas L. Science and the Enlightenment (1985).
  • Hazard, Paul. European Thought in the 18th Century: From Montesquieu to Lessing (1965)
  • Hesse, Carla. The Other Enlightenment: How French Women Became Modern. Princeton: Princeton University Press, 2001.
  • Hesmyr, Atle. From Enlightenment to Romanticism in 18th Century Europe (2018)
  • Himmelfarb, Gertrude. The Roads to Modernity: The British, French, and American Enlightenments (2004) excerpt and text search
  • Israel, Jonathan I. (2001). Radical Enlightenment; Philosophy and the Making of Modernity 1650–1750. Oxford University Press. 
  • Israel, Jonathan I. (2006). Enlightenment Contested. Oxford University Press. 
  • Israel, Jonathan I. (2010). A Revolution of the Mind: Radical Enlightenment and the Intellectual Origins of Modern Democracy. Princeton. 
  • Israel, Jonathan I. (2011). Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution, and Human Rights 1750–1790. Oxford University Press. 
  • Jacob, Margaret. Enlightenment: A Brief History with Documents 2000
  • Kors, Alan Charles. Encyclopædia of the Enlightenment (4 vol. 1990; 2nd ed. 2003), 1984 pp. excerpt and text search
  • Kramnick, Issac, ed. The Portable Enlightenment Reader (1995) excerpt and text search
  • Lehner, Ulrich L. The Catholic Enlightenment (2016)
  • Lehner, Ulrich L. Women, Catholicism and Enlightenment (2017)
  • Manuel, Frank Edward, ed. The Enlightenment (1965) online, excerpts
  • May, Henry F. The Enlightenment in America. 1976. 419 pp.
  • Melton, James Van Horn. The Rise of the Public in Enlightenment Europe. (2001).
  • Munck, Thomas. Enlightenment: A Comparative Social History, 1721–1794 (1994)
  • Navarro i Soriano, Ferran (2019). Harca, harca, harca! Músiques per a la recreació històrica de la Guerra de Successió (1794–1715). Editorial DENES. ISBN 978-84-16473-45-8.
  • Outram, Dorinda. The Enlightenment (1995) 157 pp. excerpt and text search; also online
  • Outram, Dorinda. Panorama of the Enlightenment (2006), emphasis on Germany; heavily illustrated
  • Porter, Roy (2001), The Enlightenment (edisi ke-2nd), ISBN 978-0-333-94505-6 
  • Petitfils, Jean-Christian (2005). Louis XVI. Perrin. ISBN 978-2-7441-9130-5. 
  • Porter, Roy. The Creation of the Modern World: The Untold Story of the British Enlightenment. 2000. 608 pp. excerpt and text search
  • Redkop, Benjamin. The Enlightenment and Community, 1999
  • Reid-Maroney, Nina. Philadelphia's Enlightenment, 1740–1800: Kingdom of Christ, Empire of Reason. 2001. 199 pp.
  • Schmidt, James (2003). "Inventing the Enlightenment: Anti-Jacobins, British Hegelians, and the 'Oxford English Dictionary'". Journal of the History of Ideas. 64 (3): 421–43. JSTOR 3654234. 
  • Reill, Peter Hanns, and Wilson, Ellen Judy. Encyclopædia of the Enlightenment. (2nd ed. 2004). 670 pp.
  • Robertson, Ritchie. The Enlightenment: The Pursuit of Happiness, 1680-1790. London: Allen Lane, 2020; New York: HarperCollins, 2021
  • Roche, Daniel. France in the Enlightenment. (1998).
  • Sarmant, Thierry (2012). Histoire de Paris: Politique, urbanisme, civilisation. Editions Jean-Paul Gisserot. ISBN 978-2-7558-0330-3. 
  • Schmidt, James, ed. What is Enlightenment?: Eighteenth-Century Answers and Twentieth-Century Questions (1996) excerpt and text search
  • Sorkin, David. The Religious Enlightenment: Protestants, Jews, and Catholics from London to Vienna (2008)
  • Staloff, Darren. Hamilton, Adams, Jefferson: The Politics of Enlightenment and the American Founding. 2005. 419 pp. excerpt and text search
  • Suitner, Riccarda. The Dialogues of the Dead of the Early German Enlightenment (Leiden-Boston: Brill, 2022)
  • Till, Nicholas. Mozart and the Enlightenment: Truth, Virtue, and Beauty in Mozart's Operas. 1993. 384 pp.
  • Tunstall, Kate E. Blindness and Enlightenment. An Essay. With a new translation of Diderot's Letter on the Blind (Continuum, 2011)
  • Venturi, Franco. Utopia and Reform in the Enlightenment. George Macaulay Trevelyan Lecture, (1971)
  • Venturi, Franco. Italy and the Enlightenment: studies in a cosmopolitan century (1972) online
  • Warman, Caroline; et al. (2016), Warman, Caroline, ed., Tolerance: The Beacon of the Enlightenment, Open Book Publishers, doi:10.11647/OBP.0088alt=Dapat diakses gratis, ISBN 978-1-78374-203-5 
  • Wills, Garry. Cincinnatus: George Washington and the Enlightenment (1984) online
  • Winterer, Caroline. American Enlightenments: Pursuing Happiness in the Age of Reason (New Haven: Yale University Press, 2016)
  • Yolton, John W. et al. The Blackwell Companion to the Enlightenment. (1992). 581 pp.


Pranata luar[sunting | sunting sumber]