Filsafat kuno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Artikel ini berisi beberapa pranala ke filsafat kuno. Dalam filsafat Barat, penyebaran Kekristenan di Kekaisaran Romawi menandai akhir dari filsafat Helenistik dan awal dari filsafat abad pertengahan, sementara dalam filsafat Timur, penyebaran Islam melalui Kekhalifahan Arab menandai akhir dari Filsafat Persia tua dan awal dari filsafat Islam awal.

Pengenalan[sunting | sunting sumber]

Pemikiran filosofis secara murni bergantung pada wawasan awal individu, tumbuh dalam banyak budaya secara bersamaan. Karl Jaspers menyebutkan bahwa periode intens pengembangan filosofis dimulai sejak abad ke-7.

Filsafat Tionghoa kuno[sunting | sunting sumber]

Filsafat Tionghoa adalah filosofi dominan di Tiongkok dan negara-negara lain di lapisan kebudayaan Asia Timur yang berbagi bahasa yang sama, termasuk Jepang, Korea, dan Vietnam.

Aliran pemikiran[sunting | sunting sumber]

Seratus Aliran Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Seratus Aliran Pemikiran adalah filsuf-filsuf dan aliran-aliran pemikiran dari abad ke-6 SM hingga tahun 221 SM,[1] suatu era perkembangan kebudayaan dan intelektual besar-besaran di Tiongkok. Walaupun periode ini, yang meliputi periode-periode yang dikenal sebagai periode Musim Semi dan Musim Gugur serta periode Negara Perang, yaitu periode kekacauan dan peperangan berdarah, periode ini juga dikenal sebagai masa keemasan filsafat Tionghoa karena berbagai pemikiran dan ide berkembang dan didiskusikan secara bebas. Pemikiran-pemikiran ini sangat memengaruhi gaya hidup dan kesadaran sosial di negara-negara Asia Timur hingga saat ini. Masyarakat intelektual pada era ini ditandai dengan orang terpelajara pengelana, yang sering dipekerjakan oleh berbagai penguasa negara sebagai penasihat mengenai metode pemerintahan, perang, dan diplomasi. Periode ini berakhir dengan bangkitnya dinasti Qin dan diikuti dengan penyingkiran perbedaan pendapat. Buku Han menyebutkan ada sepuluh aliran besar, yaitu:

  • Konfusianisme, yang mengajarkan bahwa manusia dapat diajar, diperbaiki, dan disempurnakan melalui usaha keras pribadi dan komunal, khususnya meliputi pengembangan dan penciptaan diri. Pemikiran utama Konfusianisme adalah pembudayaan kebajikan dan pengembangan kesempurnaan moral. Konfusianisme berpendapat bahwa seseorang harus mengorbankan hidupnya, apabila diperlukan, baik secara pasif maupun aktif, demi mempertahankan nilai-nilai moral keyakinan berupa ren dan yi.[2]
  • Legalisme, yang menyatakan bahwa sifat manusia yang tidak dapat diperbaiki adalah egois. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mempertahankan tatanan sosial adalah menerapkan disiplin dari atas dan mengupayakan penegakan hukum yang tegas. Para pendukung Legalisme (Legalis) menjunjung tinggi kepentingan negara di atas semua hal.
  • Taoisme, suatu filsafat yang menekankan Tiga Permata Tao, yaitu: welas asih, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Pemikiran pengantu Tao umumnya berfokus pada alam, hubungan antara manusia dan jagat raya; kesehatan and umur panjang; serta wu wei (melakukan melalui tidak melakukan). Keharmonisan dengan alam semesta, sumber dari Tao, adalah hasil yang diinginkan dari banyaknya aturan dan penerapan aliran Tao.
  • Mohisme, yang menyokong gagasan cinta universal. Pendukung Mohisme meyakini bahwa "semua orang sama di hadapan surga" dan bahwa manusia seharusnya mencoba menirukan surga dengan terlibat dalam penerapan cinta bersama. Epistemologinya dapat dianggap sebagai empirisme materialis primitif karena meyakini bahwa kognisi manusia harus didasarkan pada persepsi seseorang, yaitu pengalaman sensorik seseorang, seperti penglihatan dan pendengaran, bukan pada imajinasi atau logika mendalam, yang merupakan unsur-unsur dasar dari kapasitas manusia untuk abstraksi. Penganut Mohisme menyarankan kesederhanaan, mengecam penekanan Konfusian pada ritual dan musik, yang disebutnya sebagai hal yang berlebihan.
  • Naturalisme, aliran naturalis atau aliran Yin-yang, yang memadukan konsep yin-yang dan Lima Unsur. Zou Yan dianggap sebagai pendiri aliran ini.[3]
  • Agrarianisme, atau Aliran Agrarianisme, yang menyokong komunalisme dan egalitarianisme bersifat utopia.[4] Pendukung aliran ini meyakini bahwa masyarakat Tionghoa seharusnya meneladani raja yang bijaksana Shennong, seorang tokoh pahlawan rakyat yang digambarkan dalam sastra Tionghoa sebagai berikut "bekerja di sawah atau ladang bersama yang lainnya dan berkonsultasi pada yang lainnya saat akan mengambil keputusan."[4]
  • Logika atau Aliran Nama, yang berfokus pada definisi dan logika. Aliran ini disebutkan sejajar dengan aliran sofisme atau dialektik dari Yunani Kuno. Pendukung aliran Logika yang paling terkenal adalah Gongsun Long.
  • Aliran Diplomasi atau Aliran Persekutuan Vertikal dan Horizontal, yang terfokus pada hal-hal praktis, bukan prinsip moral, sehingga aliran ini menekankan pada hal-hal taktik-taktik politis dan diplomatis, serta keahlian berdebat dan melobi. Orang-orang terpelajar dari aliran ini adalah ahli pidato, debat, dan taktik.
  • Aliran beraneka ragam, aliran yang mengintegrasikan pengajaran-pengajaran dari beberapa aliran. Lu Buwei pernah mengajak orang terpelajar dari aliran yang berbeda untuk bersama-sama menulis sebuah buku berjudul Lüshi Chunqiu. Aliran ini mencoba untuk menyatukan manfaat dari berbagai aliran dan menghindari kekurangan-kekurangan yang mereka rasakan.
  • Aliran "pembicaraan minor", yang bukan merupakan aliran pemikiran unik, tetapi seorang filsuf membangun semua pemikiran dari hal-hal yang dibicarakan dan berasal dari orang-orang umum di jalanan.
  • Kelompok lainnya adalah Aliran Militer yang mempelajari strategi dan filsafat perang. Sun Zi dan Sun Bin adalah pemimpin-pemimpin aliran ini yang berpengaruh. Tetapi, aliran ini tidak termasuk dari "Sepuluh Aliran" yang disebutkan oleh Hanshu.

Filsuf[sunting | sunting sumber]

Filsafat Yunani dan Romawi Kuno[sunting | sunting sumber]

Filsuf[sunting | sunting sumber]

Filsuf Yunani klasik[sunting | sunting sumber]

Socrates, salah satu filsuf kuno terkenal.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Chinese philosophy". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 04-06-2014. 
  2. ^ Lo, Ping-cheung (1999), Confucian Ethic of Death with Dignity and Its Contemporary Relevance (PDF), Society of Christian Ethics 
  3. ^ "Zou Yan". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 01-03-2011. 
  4. ^ a b Deutsch, Eliot; Ronald Bontekoei (1999). A companion to world philosophies. Wiley Blackwell. p. 183. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]