Definisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Definisi merupakan suatu batasan atau arti, bisa juga dimaknai kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.[2]

Definisi juga diartikan sebagai uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.[1] Definisi merupakan usaha para ilmuwan untuk membatasi fakta dan konsep.[3]

Ciri-ciri definisi[sunting | sunting sumber]

Suatu arti/makna kata tidak bisa langsung disebut sebagai definisi, karena definisi mempunyai ciri-ciri khusus.[1] Adapun arti/makna kata bisa diartikan sebagai definisi jika terdapat unsur kata atau istilah yang didefinisikan, atau lazim disebut definiendum.[1] Selanjutnya, di dalam arti tersebut harus terdapat unsur kata, frasa, atau kalimat yang berfungsi menguraikan pengertian, lazim disebut definiens, dan tentunya juga harus ada pilihan katanya.[1]

Pilihan kata tersebut ialah di mana definiens dimulai dengan kata benda, didahului kata ada-lah.[1] Misalnya kalimat Cinta adalah perasaan setia, bangga, dan prihatin dan kalimat Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.[1]

Yang kedua, definiens dimulai dengan selain kata benda umpamanya kata kerja atau didahului kata yaitu.[1] Sebagai contoh Setia yaitu merasa terdorong untuk mengakui, memahami, menerima, menghargai, menghormati, mematuhi, dan melestarikan.[1] Kemudian, definiens juga diharuskan memberi pengertian rupa atau wujud diawali kata merupakan, seperti kalimat Mencintai merupakan tindakan terpuji untuk mengakhiri konflik.[1]

Adapun yang terakhir ialah bahwa definiens merupakan sebuah sinonim yang didahului kata ialah.[1] Misalnya Pria ialah laki-laki.[1]

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Definisi nominal[sunting | sunting sumber]

Definisi nominal berupa pengertian singkat. Definiens pada definisi jenis ini terbagi menjadi ada tiga macam.[1] Pertama, sinonim atau padanan, seperti kata manusia yang bersinonim dengan kata orang, maka jika ditulis hasilnya adalah Manusia]] ialah orang.[1] Selanjutnya terkait dengan terjemahan dari bahasa lain, contohnya Kinerja ialah performance.[1] Asal usul sebuah kata dalam definisi nominal juga merupakan hal yang penting, contoh: Psikologi berasal dari kata "psyche" berarti jiwa, dan "logos" berarti ilmu, psikologi ialah ilmu jiwa.[1]

Definisi formal[sunting | sunting sumber]

Definisi formal disebut juga definisi [[terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur.[1] Struktur definisi ini berupa "kelas", "genus", "pembeda" (deferensiasi).[1] Ketiga unsur tersebut harus tampak dalam definiens.[1] Struktur formal diawali dengan klarifikasi, diikuti dengan menentukan kata yang akan dijadikan definiendium, dilanjutkan dengan menyebut genus, dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda.[1] Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukkan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari kelas yang lain.[1] Contoh kalimat yang merupakan definisi formal adalah Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.[1]

Definisi formal mempunyai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar sesuai dengan aturan yang ada.[1] Di antaranya, fefiniendium dan definiens bersifat koterminus, mempunyai makna yang sama.[1] Kemudian, definiendium dan definiens bersifat konvertabel, dapat ditukarkan tempatnya dan definiens tidak berupa sinonim, padanan, terjemahan, etimologi, bentuk populer, atau pengulangan definiendium.[1] Perbandingannya:

  • Manusia adalah orang yang berakal budi (salah)
  • Manusia adalah insan yang berakal budi (salah)
  • Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna (benar)

Selanjutnya definiens bukanlah kiasan, perumpamaan, atau pengandaian.[1] Contonya kalimat Manusia adalah bagaikan hewan yang tidak pernah merasa puas (salah), kata bagaikan dalam kalimat ini merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan dalam definisi formal.[1] Contoh yang benar berada dalam kalimat Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya.[1]

Syarat berikutnya yaitu definiens menggunakan makna pararel dengan definiendium, tidak menggunakan kata dimana, yang mana, jika, misalnya, dan lain-lain, definiens juga harus menggunakan bentuk positif, bukan kalimat negatif; tanpa kata negatif; tidak, bukan.[1] Misalnya bentuk kalimat negatif Pendidikan kewarganegaraan "tidak lain" adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam masyarakat, baik sebagai anggota keluarga, masyarakat, maupun warga negara, sedang yang benar adalah Pendidikan kewarganegaraan adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam keluarga, masyarakat, dan negara.[1]

Lagi, pembeda (deferiansi)pada definiens harus mencukupi sehingga menghasilkan makna yang tidak bisa (samar)dengan kelas yang lain.[1]

Definisi operasional[sunting | sunting sumber]

Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya penelitian.[1] Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi kerja karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu penelitian atau pekerjaan tertentu.[1] Definisi ini disebut juga definisi subjektif karena disusun berdasarkan keinginan orang yang akan melakukan pekerjaan.[1]

Yang merupakan ciri-ciri definisi operasional ialah mengacu pada target pekerjaan yang dicapai, berisi pembatasan konsep, tempat, dan waktu, dan bersifat aksi, tindakan, atau pelaksanaan suatu kegiatan.[1]

Definisi paradigmatis[sunting | sunting sumber]

Definisi paradigmatis/personal bertujuan untuk mempengaruhi pola berpikir oranglain.[1] Definisi jenis ini disusun berdasarkan pendapatan nilai-nilai tertentu.[1]

Ada empat ciri-ciri definisi paradigmatis, yakni; disusun berdasarkan paradigma (pola pikir) nilai-nila tertentu, berfungsi untuk mempengaruhi sikap, perilaku, atau tindakan orang lain, bertujuan agar pembaca mengubah sikap sesuai dengan definisi, berhubungan dengan nilai-nilai tertentu, misalnya: bisnis, etika, budaya, ajaran, falsafah, tradisi, adat istiadat, pandangan hidup.[1]

Adapun fungsi definisi paradigmatis dapat dikategorikan menjadi empat bagian: pertama, untuk mengembangkan pola berpikir; kedua, mempengaruhi sikap pembaca atau pendengar; ketiga, mendukung argumentasi atau pembuktikan dan memberikan efek persuasif.[1]

Definisi luas[sunting | sunting sumber]

Definisi luas adalah batasan pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu paragraf.[1] Definisi ini diperlukan pada konsep yang rumit yang tidak dapat dijelaskan dengan kalimat pendek.[4]

Ciri-cirinya adalah dalam definisi tersebut hanya berisi satu gagasan yang merupakan definiendium, tidak menggunakan kata kias, setiap kata dapat dibuktikan atau diukur kebenarannya, dan menggunakan penalaran yang jelas.[1]

Contohnya dalam kalimat berikut Konsep ketahanan nasional tidak dapat hanya didefinisikan dengan kemampuan dinamik suatu bangsa yang berisikan keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan dari luar maupun dalam, langsung tidak langsung yang membahayakan identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara untuk mencapai tujuan nasional.[4] Karena itu konsep tersebut harus diberi definisi luas agar diketahui perkembangan konsep, unsur-unsurnya, pengembangannya di dalam semua aspek kehidupan bangsa dan negara.[4]

Teknik-Teknik menyusun definisi[sunting | sunting sumber]

Teknik-teknik menyusun definisi bisa dikualifikasikan berdasarkan dua macam arti, yakni arti intensional dan arti ekstensional.[5]

Definisi ekstensional atau denotatif[sunting | sunting sumber]

Dengan menunjukkan kelas yang ditunjukan oleh definiendium, maka suatu definisi ekstensional akan bisa menetapkan arti dari suatu kata. Paling tidak ada tiga cara menunjukkan anggota-anggota dari suatu kelas, yaitu menunjuk pada mereka, menamai mereka secara individual, menamai mereka menurut kelompok. Misalnya kalimat Kursi adalah ini dan ini dan ini- seraya Anda menunjuk ke arah sejumlah kursi satu per satu.[5]

Definisi dengan contoh[sunting | sunting sumber]

Cara yang paling jelas untuk mendefinisikan suatu kata adalah untuk mengidentifikasi objek yang ditunjukan oleh kata yang didefinisikan. Teknik ini memiliki batas yang sangat banyak. Tidak mungkin untuk menyebutkan seluruh objek yang terkait, maka permasalahannya adalah definisi untuk istilah yang umum menjadi tidak pasti. Teknik denotatif mendefinisikan suatu kata dengan menyebutkan contoh yang diketahui yang dipakai oleh kata tersebut. Misal, burung adalah sesuatu seperti angsa, ayam, dan elang. Biasanya, meskipun contoh yang diberikan tidak lengkap, pembaca dibiarkan menyimpulkan konotasi yang mendasarinya dengan mengabstraksikan konsep sehingga contoh yang sebelumnya tidak dituliskan dapat diklasifikasikan.[6]

Definisi ostensif[sunting | sunting sumber]

Definisi ostensif disebut juga dengan definisi demonstratif.[7] Definisi ostensif dilakukan dengan cara melakukan kontak langsung (menunjuk atau gestur lainnya) terhadap objek dari kata yang didefinisikan. Misal, kata "meja" adalah ini, disertai gerakan menunjuk meja.[8] Definisi ini memiliki batasan lebih awal, gestur memiliki batasan geografis sebab hanya dapat mengindikasikan apa yang terlihat. Kata "laut" tidak dapat didefinisikan di ruang kelas. Hal lainnya, gestur akan selamanya ambigu, untuk menunjuk suatu objek, meja misalnya, seluruh karakter yang dimiliki objek tersebut akan ikut tertunjuk, ukuran, warna, bentuk, dan materi.

Definisi kuasi-ostensif[sunting | sunting sumber]

Definisi ostensif dapat menimbulkan keambiguan terhadap objek yang ditunjuknya, hal ini terkadang dapat diatasi dengan menambahkan penjelasan deskriptif untuk kata yang didefinisikan. Teknik ini disebut dengan kuasi-ostensif.[9] Definisi kuasi-ostensif atau definisi semi denotatif meliputi hal yang lebih dari indikasi non verbal dari kata yang akan didefinisikan.[10]

Definisi intensional[sunting | sunting sumber]

Suatu definisi menentukan arti suatu kata dengan menunjukkan kualitas-kualitas atau ciri-ciri yang terkandung dalam kata itu.[5] Sebagai contoh kalimat Es adalah air yang membeku.[5]

Aturan Membuat Definisi[sunting | sunting sumber]

Membuat definisi yang baik menggunakan genus dan differentia bukanlah hal yang mudah, perlu pembeda spesifik yang paling tepat untuk kata yang didefinisikan. Agar definisi yang dibuat terhindar dari kekeliruan sehingga menjadi definisi yang tepat, maka perlu diperhatikan beberapa aturan-aturan berikut:

  1. Definisi harus menyatakan hal yang esensial dari kata yang didefinisikan. Untuk mendefinisikan suatu kata dengan perbedaannya, beberapa hal mungkin tidak diketahui secara umum meskipun merupakan maksud objektif dari kata tersebut, hal ini akan melanggar peraturan, sebab definisi harus menyatakan maksud konvensional dari kata yang didefinisikan. Maksud konvensional tersebut tidak selalu berupa karakter intrinsik yang terdapat pada maksud kata, tetapi bisa juga merupakan asal-usul dari suatu hal atau hubungan antara kata yang didefinisikan dengan hal lain.[7] Contohnya, Biola Stradivarius tidak didefinisikan secara karakter fisik tetapi lebih didefinisikan kepada asal-usulnya, yaitu biola yang dibuat di ruang kerja Cremona milik Antonio Stradivari. Contoh lain, hal esensial dari "gubernur" bukanlah karakter fisik maupun mentalnya, tetapi relasi khusus yang dimilikinya terhadap masyarakat lain.
  2. Definisi tidak boleh lebih luas atau sempit dari konotasi kata yang didefinisikan. Aturan ini adalah aturan yang mudah tetapi seringkali sulit untuk diterapkan. Contoh definisi yang terlalu luas: Merpati adalah burung yang dapat terbang cepat (Banyak burung yang dapat terbang cepat tetapi bukan merpati). Contoh definisi yang terlalu sempit: Kursi adalah tempat duduk yang dibuat dari kayu dan berkaki empat (Banyak kursi yang tidak dibuat dari kayu dan berkaki empat).
  3. Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan. Jika kata yang didefinisikan terdapat pada definisi, maka hanya dapat menjelaskan untuk orang-orang yang sudah mengerti kata tersebut. Definisi yang melanggar aturan ini disebut definisi sirkuler, berputar, atau tautologi, contohnya: orang adil adalah orang yang adil dalam mengambil keputusan. Terdapat pengulangan kata yang dibolehkan dalam membuat definisi, seperti: ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari upaya manusia dalam mencapai kemakmuran. Pada definisi tersebut kata 'ilmu' sudah diangap diketahui dan yang menjadi fokus adalah kata 'ekonomi'. Penggunaan sinonim dan antonim juga harus dihindari.[11]
  4. Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang membingungkan. Kata yang mengandung arti ganda tidak dapat menjelaskan kata yang didefinisikan, begitu pun dengan kata yang tidak jelas. Definisi yang melanggar aturan ini disebut obscurum per obscurius yang artinya menjelaskan sesuatu dengan keterangan yang lebih tidak jelas. Ketidak jelasan menjadi hal yang lebih biasa, apa yang tidak jelas untuk kalangan umum dimungkinkan menjadi hal yang biasa untuk kalangan ahli. Bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan konotasi dan denotasi sesungguhnya atau menggunakan istilah yang terbatas dimengerti dalam kalangan ahli.[12] Contoh definisi yang menggunakan bahasa plastik, kehidupan adalah sepotong keju. Contoh definisi yang hanya dimengerti ahli, evolusi adalah perubahan terus-menerus dari homogenitas yang tidak menentu dan tidak serasi kepada heterogenitas yang menentu dan serasi dalam susunan dan kegiatan melalui diferensiasi dan integrasi sambung-menyambung.
  5. Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif dengan menggunakan kata tidak atau bukan. Terlalu banyak hal yang tidak dimiliki oleh kata yang didefinisikan daripada yang dimilikinya. Misalnya, miskin adalah keadaan tidak kaya. Terdapat beberapa kata yang pada dasarnya mmerlukan bentuk negatif. Pada kata seperti ini, genus pertama harus disebut secara afirmatif, lalu karakter pembeda digunakan untuk menolak seluruhnya. Misal, anak yatim piatu adalah anak yang tidak memiliki orang tua.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  2. ^ Departemen Pendidikan Nasional(2008);Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 303. Cet Pertama Edisi IV
  3. ^ Parera, J.D.(2004);Teori Semantik.Jakarta:Penerbit Erlangga.Hal 200- Cet. 2
  4. ^ a b c Rahayu, Minto (2009).Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73
  5. ^ a b c d Raga Maran, Rafael(2007).Pengantar Logika.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48
  6. ^ Cregan, Anne M. (2005). "Towards a Science of Definition". Proceedings of the 2005 Australasian Ontology Workshop. 58: 25–32. 
  7. ^ a b Copi, Irving M.; Cohen, Carl; McMahon, Kenneth (2014). Introduction to Logic. Pearson Education Limited. hlm. 115. ISBN 978-1-292-02482-0. 
  8. ^ Goldstein, Irwin (1996-03). "Ontology, Epistemology, and Private Ostensive Definition". Philosophy and Phenomenological Research. 56 (1): 137. doi:10.2307/2108470. ISSN 0031-8205. 
  9. ^ Thomas, Susan (2005). The Importance of Being Earnest About Definitions (dalam bahasa Inggris). Gesellschaft für Informatik e.V. hlm. 560–577. ISBN 978-3-88579-394-6. ISSN 1617-5468. 
  10. ^ Caws, Peter (1959-07-01). "The Functions of Definition in Science". Philosophy of Science. 26 (3): 201–228. doi:10.1086/287675. ISSN 0031-8248. 
  11. ^ Mundiri (Juni 2017). Logika. Depok: Rajawali Pers. hlm. 39. ISBN 978-979-769-938-3. 
  12. ^ Stebbing, L. S. (1942). A Modern Introduction to Logic, Third Edition. London: Methuen & Co. hlm. 425.