Frasa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Frasa atau frase adalah salah satu istilah yang sering dibicarakan dalam kajian linguistik. Frasa merupakan satuan linguistik yang lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa dan kalimat.

Frasa adalah gabungan kata yang bersifat nonpredikatif[1]. Berupa gabungan kata berarti frasa setidaknya terdiri atas dua kata. Bersifat nonpredikatif berarti bahwa salah satu kata yang terdapat dalam gabungan kata tersebut bukan berfungsi sebagai predikat. Sifat nonpredikatif pada gabungan kata ini yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat. '

Beberapa contoh frasa yaitu sebagai berikut:

  • ayam hitam saya
  • ayam hitam
  • ayam saya
  • rumah besar itu
  • rumah besar putih itu
  • rumah besar di atas puncak gunung itu

Dalam konstruksi frasa-frasa di atas, tidak ada predikat. Lihat perbedaannya dengan beberapa klausa di bawah ini:

  • ayam saya hitam
  • rumah itu besar
  • rumah besar itu putih
  • rumah putih itu besar
  • rumah besar itu di atas puncak gunung

Dalam konstruksi-konstruksi klausa di atas, hitam, besar, putih, besar, dan di atas puncak gunung adalah predikat.

Frasa dan kata majemuk[sunting | sunting sumber]

Frasa kerap ditumpangtindihkann dengan kata majemuk. Hal paling mudah untuk membedakan frasa dan kata majemuk adalah dengan melihat makna yang muncul setelah penggabungan kata.

Makna frasa tidak berbeda dengan makna kata yang menjadi kepala/ inti frasa. Frasa tidak memiliki makna baru. Jadi, makna dalam frasa tidak akan jauh dari makna kata pembentuknya. Misalnya: Meja hitam tetaplah bermakna meja, tetapi ditambahkan pewatas sifat hitam. Meja kayu juga tetap meja, tetapi ditambahkan makna pewatas kayu.

Hal tersebut tidak berlaku pada kata majemuk. Makna yang dihasilkan oleh kata majemuk umumnya jauh dari makna kata pembentuknya, bahkan bisa menimbulkan makna baru. Oleh karena itu, sering disebut mengandung makna idiomatis. Kata majemuk sering disebut pula kata kiasan.

Misalnya: Meja hijau dalam bahasa Indonesia lebih bermakna 'sidang atau pengadilan', bukan semata-mata meja yang berwarna hijau. Tangan besi lebih bermakna kepemimpinan yang keras alih-alih tangan yang terbuat dari besi.

Jenis[sunting | sunting sumber]

Frasa eksosentris[sunting | sunting sumber]

Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat (UP).Frasa ini mempunya dua komponen.

  • Perangkai, berupa preposisi/ partikel
  • Sumbu

Frasa yang memiliki perangkai preposisi dinamakan frasa eksosentris direktif atau biasa disebut frasa preposional, sementara yang memiliki perangkai selain preposisi dinamakan frasa eksosentris nondirektif.

Frasa eksosentris direktif[sunting | sunting sumber]

Ciri frase ini adalah salah satu komponennya adalah preposisi dan menempati fungsi keterangan di dalam kalimat.

Contoh

  • di pasar
  • dari rumah
  • ke warung
  • dengan ayah

Frasa eksosentris nondirektif[sunting | sunting sumber]

Ciri frasa ini adalah komponen pertamanya adalah artikulus, seperti si dan sang atau kata lain seperti yang, para, dan kaum.[1]

Frasa endosentris[sunting | sunting sumber]

Frasa endosentris adalah frasa yang salah satu kompenan atau unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponen dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Misal, frase sedang membaca pada kalimat Ani sedang membaca buku. Komponen membaca dapat mengganti frase sedang membaca tanpa mengubah makna frasa tersebut.[1]

Frasa endosentris berinduk tunggal[sunting | sunting sumber]

Frasa endoesentris berinduk tunggal adalah frasa yang memiliki induk frasa yang menjadi penanda kategori frasa.

Frasa verbal[sunting | sunting sumber]

Frasa Verbal, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata ‘sedang’ untuk verba aktif, dan kata ‘sudah’ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata ‘sangat’, dan biasanya menduduki fungsi predikat.

Contoh:

  1. bekerja keras
  2. sedang berlari

Secara morfologis, pada kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata ‘sedang’ yang menunjukkan verba aktif.

Frasa nominal[sunting | sunting sumber]

Nominal adalah lawan dari verbal. Jika frasa verbal adalah frasa yang berfungsi sebagai kata kerja, maka frasa nominal berfungsi sebagai kata benda.

Contoh

  1. meja batu
  2. gerabah buatan Bantu
Frasa pronominal[sunting | sunting sumber]

Frasa pronominal adalah frasa yang induknya berkategori nomina.

Contoh

  1. kami berdua
  2. bukan cuma dia
Frasa numeral[sunting | sunting sumber]

Frasa Numeral adalah frasa yang induknya berkategori numeral.

Contoh

  1. cetakan pertama
  2. dua pucuk surat
Frasa adjektival[sunting | sunting sumber]

Frasa adjektival adalah frasa yang induknya berkategori adjektiv.

Contoh

  1. agak pusing
  2. hitam kelam


Frasa endosentris berinduk jamak[sunting | sunting sumber]

Frasa endoesentris berinduk jamak adalah frase yang komponen-komponennya memiliki fungsi dan kategori yang sederajat atau sama.

Frasa koordinatif[sunting | sunting sumber]

Frasa koordinatif adalah frasa yang komponennya sederajat dan ditandai atau secara potensial dapat diberi konjungsi koordinatif tunggal seperti dan, atau, tetapi maupun konjungsi koordinatif terbagi, seperti baik ... atau, makin ... makin, baik ... maupun.

Contoh

  1. baik kaya atau miskin
  2. makin dikejar makin jauh
Frasa apositif[sunting | sunting sumber]

Frasa apositif adalah frasa yang komponennya merujuk pada hal yang sama. Cirinya adalah salah satu komponennya menerangkan komponen lainnya.

Contoh

  1. Andi, anak sulungku,
  2. Ia tidak cantik -- walaupun tidak jelek


Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c 1942-, Chaer, Abdul, (1994). Linguistik umum (edisi ke-Cet. 1). Jakarta: Rineka Cipta. ISBN 979518587X. OCLC 69141366. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]