Yohanes 18

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
pasal 17       Yohanes 18       pasal 19
John Rylands Library Papyrus P52, recto

Naskah "John Rylands Library Papyrus P52" (sisi recto) yang memuat Injil Yohanes pasal 18:31–33, dibuat pada ~ tahun 125 M.
Kitab: Injil Yohanes
Bagian Alkitab: Perjanjian Baru
Kitab ke- 4
Kategori: Injil

Yohanes 18 (disingkat Yoh 18) adalah bagian Injil Yohanes pada Perjanjian Baru dalam Alkitab Kristen. Disusun menurut kesaksian Yohanes, salah satu dari keduabelas Rasul Yesus Kristus.[1][2]

Teks[sunting | sunting sumber]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Pembagian isi pasal (disertai referensi silang dengan bagian Alkitab lain):

Pengkhianatan dan penangkapan Yesus di Getsemani[sunting | sunting sumber]

Pembukaan pasal 18 ini terkait langsung dengan perkataan pada bagian terakhir pasal 14 (ayat 31):

Bangunlah, marilah kita pergi dari sini[3]

Ayat 1[sunting | sunting sumber]

Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron.
Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.[4]
  • "Setelah Yesus mengatakan semuanya itu": Sejumlah Alkitab bahasa Inggris membuka dengan frasa "Ketika Ia telah selesai berdoa" atau yang serupa.[5]
  • "Suatu taman": tidak disebutkan namanya di sini, tetapi dalam Matius 26:36 dan Markus 14:32 disebutkan nama taman itu adalah "Getsemani". Uskup Anglikan, Charles Ellicott, menyimpulkan bahwa Getsemani mungkin adalah milik "salah satu sahabat atau murid " Yesus.[6]

Ayat 2[sunting | sunting sumber]

Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.[7]
  • "Yudas, yang mengkhianati": diterjemahkan dari bahasa Yunani: ιουδας ο παραδιδους, ioudas ho paradidous, pada ayat 2 dan 5.[8]

Ayat 3[sunting | sunting sumber]

Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.[9]
  • "Sepasukan prajurit": New American Standard Bible memberi catatan bahwa para pasukan itu adalah suatu cohort Romawi (bahasa Yunani: σπεῖρα, speira dalam Yohanes 18:3 merupakan kata teknis untuk "pasukan cohort Romawi"[6]) sementara Richard Francis Weymouth mengidentifikasi mereka sebagai suatu pasukan penjaga Bait Allah,[10] yang merupakan sekelompok garrison dari Benteng Antonia, yang terletak di sudut timur laut Bait Suci.

Petrus juga datang dengan membawa senjata (ayat 10-11)

Ayat 10[sunting | sunting sumber]

Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.[11]

Peristiwa penyerangan seorang murid Yesus Kristus terhadap salah satu orang hamba Imam Besar yang menangkap Yesus di taman Getsemani dicatat dalam keempat Injil, dengan catatan yang mirip dalam Matius 26:51 dan Markus 14:47, meskipun hanya dalam Injil Lukas dan Injil Yohanes dicatat bahwa yang terputus itu "telinga kanan" (Lukas 22:50, Yohanes 18:10) tetapi Injil Yohanes satu-satunya yang menyebut secara rinci siapa pelaku dan korban tindakan tersebut: Simon Petrus yang melakukan pemotongan telinga, dan Malkhus yang dipotong telinga kanannya (Yohanes 18:10), sedangkan Injil Lukas satu-satunya yang mencatat bahwa Yesus memulihkan telinga itu (Lukas 22:51).[12]

Ayat 11[sunting | sunting sumber]

Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"[13]

Yesus di hadapan Pontius Pilatus[sunting | sunting sumber]

Ayat 36[sunting | sunting sumber]

Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (TB)[14]
  • "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini": Mengenai sifat sesungguhnya Kerajaan Kristus dan maksud penebusannya, tiga hal perlu diperhatikan:[15]
    • 1) Yang bukan Kerajaan Kristus. Kerajaan Kristus "bukan dari dunia ini". Kerajaan tersebut tidak berasal dari dunia ini, dan juga tidak berusaha untuk mengambil alih sistem dunia ini. Yesus tidak datang untuk mendirikan suatu pemerintahan teokratis yang politis-religius atau bercita-cita untuk menjadi penguasa dunia. Yesus menyatakan bahwa seandainya itu yang dimaksudkan oleh-Nya maka hamba-hamba-Nya akan melawan. Karena memang kerajaan-Nya tidak demikian sifatnya, mereka tidak mengangkat senjata untuk memberikan peluang bagi Yesus untuk memajukan maksud-Nya di dunia (bandingkan Matius 26:51-52). Mereka tidak bersekutu dengan partai politik atau golongan sosial atau organisasi sekular untuk mendirikan Kerajaan Allah. Hamba-hamba-Nya menolak untuk mengubah salib menjadi usaha yang sombong untuk memerintah "masyarakat". Daripada menggunakan senjata duniawi (2 Korintus 10:4), para pengikut Yesus dipersenjatai hanya dengan perlengkapan perang rohani (Efesus 6:10-18). Hal ini tidak berarti bahwa para murid Yesus acuh tak acuh saja terhadap tuntutan Allah mengenai pemerintahan yang adil, keadilan, kedamaian atau pembatasan pelanggaran hukum. Orang Kristen harus mengumandangkan "pesan nubuat" kepada pemerintah mengenai tanggung jawab moralnya kepada Allah.
    • 2) Yang merupakan Kerajaan Kristus. Kerajaan Kristus, yaitu Kerajaan Allah, meliputi kepemimpinan, ke-Tuhanan, kuasa, dan kegiatan rohani Kristus di dalam kehidupan semua orang yang menerima Dia dan menaati Firman kebenaran-Nya (Yohanes 18:37). Kerajaan Allah adalah "kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus" (Roma 14:17). Kerajaan Allah melawan kekuatan-kekuatan Iblis dengan perlengkapan rohani (lihat Matius 12:28; Lukas 11:20; Kisah 26:18; Efesus 6:12). Peranan gereja ialah sebagai hamba Yesus Kristus dan bukan penguasa dunia dewasa ini. Kekuatannya bukanlah kuasa duniawi, melainkan salib; penderitaan dan penolakannya oleh dunia merupakan kemuliaannya (2 Korintus 3:7-18). Hanya dengan menyangkal kuasa dunia gereja PB menemukan kuasa Allah. Gereja dewasa ini berhadapan dengan pilihan yang sama; hanya dengan kehilangan nyawanya di dunia ini gereja akan menemukan dirinya di dalam Allah
    • 3) Yang akan merupakan Kerajaan Kristus. Di masa depan, kerajaan dan pemerintahan Kristus akan di langit baru dan bumi baru; hal ini akan terjadi setelah Dia datang ke bumi untuk menghakimi bangsa-bangsa, membinasakan antikristus, memerintah di dunia ini selama seribu tahun dan kemudian melemparkan Iblis dalam lautan api untuk selama-lamanya (Wahyu 19:11-20:15).[15]

Ayat 37[sunting | sunting sumber]

Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?"
Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." (TB)[16]
  • "Aku memberi kesaksian tentang kebenaran": Bagian yang hakiki dari misi Yesus adalah bersaksi tentang kebenaran serta mengarahkan orang kepadanya, yaitu kesaksian-Nya dalam penjelmaan tentang Bapa dan kesaksian tentang kebenaran Injil-Nya yang dinyatakan sekarang dalam Alkitab. Betapa anehnya bahwa ada hamba-hamba Tuhan dewasa ini yang merusak kebenaran dan ajaran sehat, mengaburkan arti yang jelas dari Firman Allah, dan memajukan kesatuan dengan merugikan iman alkitabiah. Hamba-hamba Tuhan semacam itu tampaknya melupakan garis pembatas di antara ajaran yang benar dengan ajaran yang salah. Atas nama kasih dan wawasan yang luas, mereka menyangkal dan menolak tujuan dari kedatangan Kristus. Kebenaran merupakan sesuatu yang tidak pernah boleh dikorbankan oleh semua gereja (bandingkan Yohanes 17:8,17; 2 Tesalonika 2:10).[15]

Ayat 38[sunting | sunting sumber]

Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" (TB)[17]

Naskah bersejarah[sunting | sunting sumber]

Rylands Papyrus mungkin adalah fragmen naskah Perjanjian Baru tertua; berdasarkan gaya tulisan tangan diperkirakan ditulis tahun 125 M. Bagian verso ini memuat Yohanes 18:37-38.

Salah satu naskah Perjanjian Baru tertua yang pernah ditemukan adalah Rylands Library Papyrus P52 yang berupa fragmen papirus bertulisan bahasa Yunani gaya Koine. Potongan ini ditemukan di Mesir pada tahun 1920 dan sekarang disimpan di John Rylands Library, Manchester. P52 hanya memuat tidak lebih dari 114 huruf yang bisa dibaca, ditulis rapi di kedua sisi dari bagian halaman suatu buku. Fragmen ini memuat Yohanes 18:31–33 di satu sisi dan Yohanes 18:37–38 di sisi baliknya; sama dengan yang dikenal sampai sekarang.

ayat 31-33: Kata Pilatus kepada mereka: "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Kata orang-orang Yahudi itu: "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang." Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati. Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?"[18]
ayat 37-38: Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?"[19]

Metzger dan Aland menulis dalam daftar perkiraan tanggal penulisannya "c." ("sekitar" tahun) 125 M,[20][21] tetapi sukar untuk memperkirakan waktu pembuatan naskah hanya dari gaya tulisan tangan (paleografi) karena bentuk tulisan itu sudah dipakai sejak jauh sebelum tahun 100 M sampai pertengahan abad ke-2 Masehi. P52 tergolong potongan kecil, dan hanya memuat relatif sedikit huruf-huruf dalam keseluruhan 14 baris, sehingga jarang disebut dalam diskusi naskah.[22][23]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN:9789794159219.
  2. ^ John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN:9794159050.
  3. ^ Yohanes 14:31
  4. ^ Yohanes 18:1
  5. ^ Misalnya: New International Version, International Children's Bible dan Weymouth New Testament.
  6. ^ a b Ellicott's Commentary for English Readers on John 18, accessed 16 July 2016
  7. ^ Yohanes 18:2
  8. ^ Vincent's Word Studies on John 18, accessed 12 July 2016
  9. ^ Yohanes 18:2
  10. ^ Weymouth New Testament, John 18:3
  11. ^ Yohanes 18:10
  12. ^ Cambridge Bible for Schools and Colleges. John 18. Diakses 28 April 2018.
  13. ^ Yohanes 18:11
  14. ^ Yohanes 18:36 - Sabda.org
  15. ^ a b c The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  16. ^ Yohanes 18:37 - Sabda.org
  17. ^ Yohanes 18:38 - Sabda.org
  18. ^ Yohanes 18:31-33
  19. ^ Yohanes 18:37-38
  20. ^ Bruce M. Metzger. The text of the New Testament: its transmission, corruption, and restoration. Oxford University Press, 1992. ISBN 0-19-507297-9. p.56
  21. ^ Kurt Aland, Barbara Aland. The Text of the New Testament: an Introduction to the Critical Editions and to the Theory and Practice of Modern Textual Criticism. Wm. B. Eerdmans, 1995. ISBN 0-8028-4098-1/978-0802840981. p.99
  22. ^ Tuckett p. 544. Skypoint.com
  23. ^ Historian.net

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]