Perjamuan Malam Terakhir

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Bagian dari seri tentang
Yesus Kristus

Title jesus.jpg

Nama dan gelar
YesusKristusMesiasIsa AlmasihJuruselamat

Yesus Kristus dan Kekristenan
NubuatKronologiKelahiranSilsilahPembaptisanPelayananMukjizatPerumpamaanPenangkapanPengadilanPenyalibanKematianPenguburanKebangkitanKenaikanKedatangan yang keduaPenghakiman

Ajaran utama Yesus Kristus
MesiasKotbah di Bukit
Doa Bapa KamiHukum Kasih
Perjamuan MalamAmanat Agung

Pandangan terhadap Yesus
Pandangan Kristen
Pandangan Islam
Pandangan Yahudi
Yesus dalam sejarah
Yesus dalam karya seni

Perjamuan Malam Terakhir (sering disingkat Perjamuan Terakhir atau Perjamuan Malam; bahasa Inggris: The Last Supper) adalah makan malam terakhir Yesus bersama keduabelas rasul sebelum kematian-Nya. Bagian ini diberi tajuk Yesus makan Paskah dengan murid-murid-Nya dalam Alkitab Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Peristiwa tersebut dituliskan di Matius 26:17-29, Markus 14:12-25, Lukas 22:7-38, dan Yohanes 13:1-38 (yang menuliskan tentang Yesus membasuh kaki murid-muridNya). Perjamuan terakhir telah menjadi subyek dari banyak lukisan, di antaranya yang paling terkenal oleh Leonardo da Vinci.

Tanggal Perjamuan Terakhir[sunting | sunting sumber]

Perhitungan hari orang Yahudi dimulai dari matahari terbenam, jadi malam dulu baru berakhir pada sore hari berikutnya. Jadi sore hari tanggal 14 Nisan berarti besok sorenya untuk penanggalan Masehi, dan tanggal 15 Nisan malam dimulai beberapa jam kemudian setelah matahari terbenam pada hari yang sama menurut penanggalan Masehi.

  • Pada sore hari tanggal 14 Nisan, maka orang harus menyembelih domba Paskah (Lukas 22:7), untuk dimakan pada malam hari tanggal 15 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi (Yohanes 13:1), sesuai peraturan hukum Taurat dalam Keluaran 12:6,8: "Lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya (domba itu) pada waktu senja... Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit." Pada sore hari tanggal 14 Nisan, bersamaan dengan penyembelihan domba Paskah, Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib, sebagai domba Allah, bagi tebusan dosa seluruh umat manusia.

Persiapan untuk makan Paskah[sunting | sunting sumber]

  • Pada hari itu (13 Nisan siang hari) murid-murid Yesus datang kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
  • Injil Matius mencatat bahwa Yesus berkata: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku."[1]
  • Injil Markus (yang bersumber dari kesaksian Petrus) dan Lukas mencatat lebih detail bahwa Yesus menyuruh 2 orang murid-Nya, Petrus dan Yohanes, dengan pesan: "Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!" Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka.[2]
  • Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.
  • Persiapan ini bersifat rahasia, karena para murid telah mengetahui bahwa imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi sudah bersepakat untuk membunuh Yesus dan sedang berusaha mengatur waktu penangkapan-Nya.[3]
  • Setelah hari malam (14 Nisan malam), datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan itu.[4]

Yesus membasuh kaki murid-muridNya[sunting | sunting sumber]

  • Ketika mereka sedang makan, bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
  • Semua murid dibasuh kakinya, termasuk Yudas Iskariot, yang mengkhianatiNya.
  • Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."[5]
  • Sesudah Yesus membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Selanjutnya Ia menjelaskan makna pembasuhan kaki tersebut.

Makan malam dan Penetapan Perjamuan Kudus[sunting | sunting sumber]

Pada Perjamuan Malam Terakhir, Yesus menetapkan Sakramen Perjamuan Kudus atau disebut juga "institusi", yang hingga saat ini menjadi bagian sentral dalam banyak liturgi gereja-gereja Kristen. Kata-kata institusi didasarkan pada 1 Korintus 11:23-26, Lukas 22:15-20, Markus 14:22-25, Matius 26:26-29.[6]

  • Matius dan Markus mencatat: Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku."[7]
  • Lukas mencatat: Yesus berkata kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah." Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang." Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu."[8]
  • Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menetapkan aturan Perjamuan Kudus berdasarkan kesaksian yang diterimanya sebagai berikut: Yesus mengambil roti lalu mengucap syukur atasnya, sesudah itu Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Lalu ia mengambil cawan anggur dan berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" [9]

Yesus memberitahukan mengenai pengkhianat[sunting | sunting sumber]

  • Dan ketika mereka sedang makan, Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." [10] yaitu kepada para pemuka agama yang membenci Yesus. Ditambah juga "Lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini."[11]
  • Yesus memberi peringatan kepada pengkhianat tanpa membuka identitasnya: "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."[12]
  • Murid-murid Yesus yang tidak tahu siapa orang yang dimaksudkan merasa sedih mendengar hal tersebut. Mereka memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?" termasuk Yudas Iskariot yang bertanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya.".[13]
  • Akhirnya Simon Petrus memberi isyarat kepada Yohanes, yang bersandar dekat kepada Yesus, di sebelah kanan-Nya dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!" Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?" [14]
  • Yesus menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku."[15] atau menurut catatan Yohanes: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.[16]

Pengajaran setelah Perjamuan Terakhir[sunting | sunting sumber]

Sesudah Yudas pergi, Yesus memulai pengajarannya, tetapi tidak terus di tempat itu. Yesus dan murid-murid-Nya menyanyikan nyanyian pujian, kemudian pergi ke Bukit Zaitun, sementara terus memberikan pengajaran.[17]

Perintah baru[sunting | sunting sumber]

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."[18]

Yesus memperingatkan murid-murid dan Petrus akan penyangkalan[sunting | sunting sumber]

  • Yesus berkata: "Malam ini kamu semua (murid-murid) akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.[19]
  • Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok ("dua kali", menurut catatan Markus), engkau (=Petrus) telah menyangkal Aku tiga kali."[20]

Pengajaran lain[sunting | sunting sumber]

  1. Rumah Bapa (Yohanes 14:1-14)
  2. Yesus menjanjikan Penghibur (Yohanes 14:15-31)
  3. Pokok anggur yang benar (Yohanes 15:1-8)
  4. Dunia membenci Yesus dan murid-murid-Nya (Yohanes 15:18-27)
  5. Bertekun (Yohanes 16:1-4)
  6. Pekerjaan Penghibur (Yohanes 16:4-15)
  7. Dukacita yang mendahului kemenangan (Yohanes 16:16-33)
  8. Doa Yesus untuk murid-murid-Nya (Yohanes 17:1-26)

Di taman Getsemani[sunting | sunting sumber]

Kemudian Yesus dan murid-murid-Nya masuk ke taman Getsemani, di daerah bukit Zaitun seberang sungai Kidron, untuk berdoa.

Perjamuan Terakhir sama dengan Perjamuan Paskah?[sunting | sunting sumber]

Pembacaan sepintas dari ketiga Injil Sinoptik memberi kesan bahwa Perjamuan Terakhir itu sama dengan Perjamuan Paskah, yang lazimnya dilaksanakan pada tanggal 15 Nisan malam. Jika ini benar, maka berarti Yesus mati pada tanggal 15 Nisan sore, padahal domba Paskah disembelih pada tanggal 14 Nisan sore. Pembacan lebih teliti dan perbandingkan dengan catatan Injil Yohanes menunjukkan bahwa Perjamuan terakhir ini bukan Perjamuan Paskah yang resmi, karena tidak ditulis dalam ketiga Injil Sinoptik bahwa domba Paskah telah disembelih atau dipanggang untuk perjamuan tersebut.[21] Lagi pula Injil Yohanes menyebutkan bahwa perjamuan perpisahan ini terjadi sebelum penyembelihan domba Paskah (Yohanes 13:1).[22][23][24]

Jaubert mengemukakan pendapat bahwa Perjamuan Terakhir ini adalah Perjamuan Paskah resmi tetapi dilaksanakan menurut perhitungan kalender sektarian yang dianut oleh komunitas Qumran dan yang lain. Menurut teori ini, Perjamuan Terakhir diselenggarakan pada hari Selasa malam, yaitu permulaan hari Rabu dalam kalender Yahudi, yang merupakan hari Paskah bagi kaum sektarian dan sistem ini yang dicatat oleh Injil Sinoptik.[25] Kematian Yesus dalam keempat Injil tetap jatuh pada tanggal 14 Nisan sore, bersamaan dengan penyembelihan domba Paskah yang lazim.[21]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Perjamuan Malam Terakhir
Didahului oleh:
Kotbah di atas Bukit Zaitun
Peristiwa dalam
Perjanjian Baru
Diteruskan oleh:
Penderitaan di Taman Getsemani

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Matius 26:17-19
  2. ^ Markus 14:12-16; Lukas 22:8-13
  3. ^ Matius 26:3-5
  4. ^ Yohanes 13:1-2
  5. ^ Yohanes 13:4-12
  6. ^ E. Martasudjita, Pr. (2005), Ekaristi : Tinjauan Teologis, Liturgi, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 219, ISBN 9789792111880 
  7. ^ Matius 26:26-29; Markus 14:12-16
  8. ^ Lukas 22:15-20
  9. ^ 1 Korintus 11:23-29
  10. ^ Matius 26:21-22; Markus 14:18-19
  11. ^ Lukas 22:15-20
  12. ^ Matius 26:24; Markus 14:21; Lukas 22:22
  13. ^ Matius 26:25
  14. ^ Yohanes 13:21-25
  15. ^ Matius 26:23
  16. ^ Yohanes 13:26-30
  17. ^ Matius 26:30, Markus 14:26, Lukas 22:39
  18. ^ Yohanes 13:34-35
  19. ^ Matius 26:31, Markus 14:27
  20. ^ Matius 26:34, Markus 14:30, Lukas 22:7-38; Yohanes 13:34
  21. ^ a b Colin J. Humphreys and W. Graeme Waddington. 1985. The Date of the Crucifixion. JASA 37 (March 1985): 2-10.
  22. ^ Jeremias, J., The Eucharistic Words of Jesus, translated by N. Perrin. SCM Press: London (1966).
  23. ^ Bruce, F.F., New Testament History. Pickering and Inglis; London and Glasgow (1982).
  24. ^ Whiteley, D.E. H., Aufstieg und Niedergang der Romischen Welt, 25, Part 11, de Gruyter: East Berlin and New York, in Press (1983).
  25. ^ Jaubert, A., La Date de la Cene. Gabalda: Paris (1957).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]