Lukas 6

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
pasal 5       Lukas 6       pasal 7
Papyrus 4, 150-175 CE

Lukas 6:4-16 pada Papirus 4, yang ditulis sekitar tahun 150-175 M.
Kitab: Injil Lukas
Bagian Alkitab: Perjanjian Baru
Kitab ke- 3
Kategori: Injil

Lukas 6 (disingkat Luk 6) adalah bagian Injil Lukas pada Perjanjian Baru dalam Alkitab Kristen. Disusun oleh Lukas, seorang Kristen yang merupakan teman seperjalanan Rasul Paulus.[1][2]

Teks[sunting | sunting sumber]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Pembagian isi pasal (disertai referensi silang dengan bagian Alkitab lain):

Ayat 3[sunting | sunting sumber]

Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,"[3]

Merujuk kepada 1 Samuel 21:6

Ayat 4[sunting | sunting sumber]

[Yesus menjawab mereka:] "bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?"[4]

Menurut Imamat 24:5-9 roti sajian itu setelah seminggu ditempatkan di dalam Kemah Suci harus diganti dengan yang baru, dan roti yang lama itu dikhususkan untuk menjadi makanan para imam keturunan Harun. Roti itu oleh imam Ahimelekh diberikan kepada Daud dan pengikutnya.[5]

Ayat 5[sunting | sunting sumber]

Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."[6]

Sekalipun orang Farisi menuduh bahwa Yesus telah melanggar hari Sabat, pada kenyataannya Ia hanya melanggar penafsiran ekstrem mereka mengenai Sabat itu. Yesus menyatakan bahwa praktik Sabat tidak boleh merosot menjadi suatu bentuk upacara keagamaan yang harus dipelihara dengan mengorbankan kebutuhan penting manusia.[7]

  • "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat"

Sabat harus digunakan agar orang dapat meninggalkan pekerjaan sehari-hari serta usaha mencari keuntungan material dan berbalik kepada Allah sebagai suatu ikrar bahwa Dialah Tuhan atas segenap kehidupan ini. Tambahan pula, kata-kata dan tindakan Yesus (Lukas 6:6-10) mengajar orang percaya bahwa Hari Tuhan itu harus menjadi suatu kesempatan untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan, baik secara rohani maupun secara jasmani.[7]

Ayat 9[sunting | sunting sumber]

Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"[8]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN:9789794159219.
  2. ^ John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN:9794159050.
  3. ^ Lukas 6:3
  4. ^ Lukas 6:4
  5. ^ 1 Samuel 21:6
  6. ^ Lukas 6:5
  7. ^ a b The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  8. ^ Lukas 6:9

Pranala luar[sunting | sunting sumber]