Matius 27

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
pasal 26       Matius 27       pasal 28
Papyrus 105 recto, Matius 28

Lembaran Papirus 105 yang memuat Injil Matius pasal 27:62-64 dalam bahasa Yunani dari abad ke-5/6 M.
Kitab: Injil Matius
Bagian Alkitab: Perjanjian Baru
Kitab ke- 1
Kategori: Injil

Matius 27 (disingkat Mat 27) adalah bagian dari Injil Matius pada Perjanjian Baru dalam Alkitab Kristen, yang diyakini disusun menurut catatan Matius, salah seorang dari Keduabelas Rasul Yesus Kristus.[1][2][3][4]

Teks[sunting | sunting sumber]

Struktur isi[sunting | sunting sumber]

Pembagian isi pasal (disertai referensi silang dengan bagian Alkitab lain):

Ayat 2[sunting | sunting sumber]

Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.[5]

Inilah tahap ketiga dari penderitaan Kristus. Pada pagi hari Yesus yang sudah dipukul berulang-ulang dan penat, dibawa ke bagian lain kota Yerusalem untuk diperiksa oleh Pilatus. Barabas dilepaskan (Matius 27:21) dan Yesus disesah dan kemudian diserahkan untuk disalibkan (Matius 27:26). Untuk tahap pertama dari penderitaan Yesus, lihat Matius 26:37, tahap kedua lihat Matius 26:67; tahap keempat lihat Matius 27:26.[6]

Ayat 9-10[sunting | sunting sumber]

Ayat 9[sunting | sunting sumber]

Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,[7]

Ayat 10[sunting | sunting sumber]

dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku."[8]

Di dalam ayat ini Injil Matius memadukan dan meringkaskan unsur-unsur simbolisme nubuat, satu dari Yeremia (Yeremia 32:6-9) dan yang satunya dari Zakharia (Zakharia 11:12-13). Kemudian Injil Matius menyebutkan nama nabi yang lebih tua dan lebih terkenal sebagai sumbernya, suatu kebiasaan yang sering dipakai ketika mengutip ayat-ayat dari kitab para nabi. Hal ini terjadi pula misalnya dalam Injil Markus (Markus 1:2) yang menggabungkan kutipan ayat dari Kitab Yesaya (Yesaya 40:3) dan Kitab Maleakhi (Maleakhi 3:1) tetapi hanya menyebutkan nama Yesaya sebagai nabi yang terdahulu dan lebih utama.[6]

Ayat 26[sunting | sunting sumber]

Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.[9]

Inilah tahap keempat dari penderitaan Yesus Kristus.

  • 1) Penyesahan cara Romawi dilakukan dengan melucuti pakaian korban serta merentangkan tubuhnya pada sebuah tiang atau membungkukkan tubuhnya di atas sebuah tiang yang pendek dengan tangannya diikat. Alat penyesahnya adalah sebuah gagang kayu pendek dengan beberapa tali kulit di ujungnya. Pada ujung tali kulit itu telah diikatkan potongan-potongan kecil besi atau tulang. Dua orang yang berdiri sebelah-menyebelah korban itu akan memukul punggungnya. Sebagai akibatnya, daging punggung korban akan tersayat-sayat demikian rupa sehingga pembuluh-pembuluh darah dan urat nadi, bahkan tidak jarang organ-organ yang ada di dalam tubuh dapat dilihat dari luar. Sering korban sudah mati sementara penyesahan masih dijalankan.
  • 2) Penyesahan merupakan penyiksaan yang mengerikan. Ketidakmampuan Yesus untuk memikul salib-Nya sendiri pastilah disebabkan oleh hukuman yang berat ini (Matius 27:32; Lukas 23:26). "Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:5; 1 Petrus 2:24). Mengenai tahap kelima dari penderitaan Yesus, lihat Matius 27:28.[6]

Ayat 28[sunting | sunting sumber]

Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.[10]

Inilah tahap kelima dari penderitaan Kristus. Tali yang mengikat Yesus dilepaskan dan Ia ditempatkan di tengah-tengah sekelompok tentara Romawi (Matius 27:27). Mereka mengenakan sebuah jubah berwarna ungu kepada-Nya, memberikan sebatang tongkat di tangan-Nya lalu menekankan sebuah mahkota dari ranting-ranting yang berduri di kepala-Nya (Matius 27:29). Para prajurit itu kemudian mengejek Dia, menampar muka-Nya dan memukul kepala-Nya sehingga duri-duri itu lebih dalam terbenam di kepala-Nya (Matius 27:30-31). Lihat Matius 27:31 mengenai tahap keenam dari penderitaan Kristus.[6]

Ayat 29[sunting | sunting sumber]

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!"[11]

Mahkota duri dibuat dari ranting berduri Ziziphus spina-christi (bahasa Ibrani: אטד, atad)[12] yang diikat dengan rerumputan Juncus balticus yang banyak tumbuh di daerah Yerusalem. Durinya sangat tajam, beracun, menyebabkan pegal, serta menimbulkan luka yang sangat sakit. Belum lagi penggunaannya dipaksakan walaupun lebih kecil dari kepala Yesus, sehingga timbul luka dan kesakitan. Pohon berduri (atau "semak duri") ini disebut-sebut dalam perumpamaan yang disampaikan Yotam, anak Gideon, di Kitab Hakim-hakim pasal 9.

Ayat 31[sunting | sunting sumber]

Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu daripada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.[13]

Inilah tahap keenam dari penderitaan Kristus. Balok salib yang berat itu diikatkan pada pundak Kristus. Mulailah Dia berjalan dengan pelan-pelan ke bukit Golgota. Beratnya balok salib tersebut, ditambah lagi kepenatan jasmani yang hebat, membuat Dia terjatuh. Ia mencoba untuk berdiri, namun tidak sanggup. Simon orang Kirene kemudian disuruh memikul salib itu. Mengenai tahap ketujuh, lihat Matius 27:35.[6]

Ayat 34[sunting | sunting sumber]

Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.[14]

Referensi silang: Markus 15:23; Yohanes 19:29

Orang Kristen percaya bahwa ayat ini merupakan penggenapan dari nubuat mesianik yang tertulis pada Mazmur 69:22.[15]

Ayat 35[sunting | sunting sumber]

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.[16]

Inilah tahap ketujuh dari penderitaan Yesus. Di bukit Golgota balok salib yang melintang diletakkan di tanah dan Yesus dibaringkan di atasnya. Kedua lengan-Nya direntangkan di atas balok salib dan paku besi yang persegi dipakukan melalui telapak (atau pergelangan) tangan-Nya sampai jauh ke dalam kayu, pertama tangan yang kanan kemudian tangan yang kiri. Setelah itu Kristus diangkat dengan bantuan tali atau tangga, balok salib yang melintang diikatkan atau dipakukan pada tiang salib dan sebuah penyanggah untuk tubuh-Nya dipasang pada salib itu. Akhirnya, kaki-Nya direntangkan dan dipakukan pada salib itu dengan paku lebih besar. Tahap kedelapan dari penderitaan Kristus diuraikan dalam lihat Matius 27:39.[6]

Ayat 39[sunting | sunting sumber]

Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala[17]

Inilah tahap kedelapan dari penderitaan Kristus. Kini Yesus tergantung dalam keadaan yang menyedihkan, berlumuran darah, penuh dengan luka dan ditonton banyak orang. Berjam-jam lamanya seluruh badan-Nya terasa sakit luar biasa, lengan-Nya terasa lelah, otot-otot-Nya kejang-kejang dan kulit yang tercabik-cabik dari punggung-Nya terasa nyeri. Kemudian muncul penderitaan baru—rasa sakit yang hebat terasa dalam dada-Nya ketika cairan mulai menekan jantung-Nya. Ia merasa sangat haus (Yohanes 19:28) dan sadar akan perkataan makian dan cemoohan orang yang melewati salib itu (Matius 27:39-44). Untuk tahap yang kesembilan, lihat Matius 27:46.[6]

Ayat 45[sunting | sunting sumber]

Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.[18]

Ayat 46[sunting | sunting sumber]

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?[19]

Inilah tahap kesembilan dari penderitaan Kristus. Kata-kata ini merupakan puncak dari segala penderitaan-Nya bagi dunia yang terhilang. Seruan-Nya dalam bahasa Aram, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" menunjukkan bahwa Dia sedang mengalami pemisahan dari Allah sebagai pengganti orang berdosa. Pada tahap ini semua kesedihan, penderitaan, dan rasa sakit mencapai puncaknya. Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita (Yesaya 53:5) dan Ia telah memberikan diri-Nya sebagai "tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28; 1 Timotius 2:6). Dia yang tidak mengenal dosa "telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita" (2 Korintus 5:21); Dia mati sebagai yang ditinggalkan, agar kita tidak akan pernah ditinggalkan oleh-Nya (bandingkan Mazmur 22:1-32). Demikianlah kita ditebus oleh penderitaan Kristus (1 Petrus 1:19). Lihat Matius 27:50 untuk tahap yang kesepuluh dari penderitaan Kristus.[6]

Ayat 49[sunting | sunting sumber]

Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia."[20]

Ayat 50[sunting | sunting sumber]

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.[22]

Inilah tahap kesepuluh dari penderitaan Yesus Kristus. Dengan nyaring Ia mengucapkan kata-kata-Nya yang terakhir, "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Seruan ini menandakan akhir dari segala penderitaan-Nya serta penyelesaian karya penebusan. Hutang dosa kita telah dilunasi, dan rencana keselamatan ditegakkan. Pada saat itulah Dia memanjatkan doa yang terakhir, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Lukas 23:46). Untuk tahap pertama penderitaan Kristus lihat Matius 26:37.[6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
  2. ^ John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 979-415-905-0.
  3. ^ Hill, David. The Gospel of Matthew. Grand Rapids: Eerdmans, 1981
  4. ^ Schweizer, Eduard. The Good News According to Matthew. Atlanta: John Knox Press, 1975
  5. ^ Matius 27:2
  6. ^ a b c d e f g h i The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  7. ^ Matius 27:9
  8. ^ Matius 27:10
  9. ^ Matius 27:26
  10. ^ Matius 27:28
  11. ^ Matius 27:29
  12. ^ * Ranting berduri Ziziphus spina-christi
  13. ^ Matius 27:31
  14. ^ Matius 27:34
  15. ^ James Montgomery Boice and Philip Graham Ryken The Heart of the Cross pg 13 Crossway Books ISBN 1-58134-678-6
  16. ^ Matius 27:35
  17. ^ Matius 27:39
  18. ^ Matius 27:45
  19. ^ Matius 27:46
  20. ^ Matius 27:49
  21. ^ Maleakhi 4:5
  22. ^ Matius 27:50

Pranala luar[sunting | sunting sumber]