Pergundikan
Hubungan (Garis besar) |
|---|

Pergundikan adalah suatu praktik di masyarakat yang berupa ikatan hubungan di luar perkawinan antara seorang perempuan (disebut gundik atau selir) dan seorang laki-laki dengan alasan tertentu. Alasan yang paling umum biasanya adalah karena perbedaan status sosial, ras, dan agama. Selain itu, pergundikan terjadi karena adanya larangan dalam masyarakat untuk memiliki lebih dari satu istri. Praktik memelihara selir atau harem merupakan salah satu bentuk pergundikan.
Pergundikan merupakan praktik yang umum pada zaman kolonial. Hubungan yang terjadi adalah antara tuan tanah dengan perempuan dari kalangan pribumi atau budak yang menjadi bawahannya. Hal ini dimungkinkan karena kurang tersedianya perempuan dari kalangan sosial yang sederajat di tanah jajahan.
Pada masa Hindia Belanda, pergundikan melahirkan kelas masyarakat yang kemudian disebut dengan istilah kaum Indo pada abad ke-19 dan ke-20.
Tiongkok Kuno
[sunting | sunting sumber]Di dalam Tiongkok kuno, seorang laki-laki yang sukses biasanya memiliki beberapa gundik. Salah satu contoh ialah dokumen-dokumen yang sering mencatat bahwa Kaisar Tiongkok menampung ribuan gundik. Perlakuan terhadap gundik-gundik sangat bervariasi, tergantung oleh status sosial dari lelakinya atau dari sikap sang istri. Posisi seorang gundik biasanya lebih rendah dari istri asli dari lelaki. Seorang gundik dapat memiliki anak sebagai ahli waris, tetapi status sosial dari anak itu biasanya lebih rendah daripada anak "aslinya". Menurut beberapa sumber, gundik kadang bisa terpaksa untuk dikubur hidup-hidup jika tuannya meninggal dunia, untuk "menemaninya di kehidupan selanjutnya".
Meskipun para gundik pada masa Tiongkok kuno mendapat banyak batasan-batasan, sejarah dan literatur banyak mencantum cerita para gundik yang mencapai kekuasaan dan pengaruh yang besar. Di dalam salah satu buku dari Empat Karya Sastra Termasyhur Tiongkok, Impian Paviliun Merah, ketiga generasi keluarga Jia disokong oleh gundik favorit kaisar.
Gundik-gundik kaisar yang dipelihara di Kota Terlarang biasa dijaga oleh orang kasim untuk meyakinkan bahwa para gundik tidak dihamili oleh orang lain selain kaisar sendiri.
Thailand
[sunting | sunting sumber]Di Thailand zaman dahulu, seorang laki-laki boleh memiliki beberapa wanita (istri dan gundik), yang di mana gundik dan anak-anaknya boleh diperjual belikan. Namun, istri hanya bisa diceraikan.
Hindia Belanda
[sunting | sunting sumber]Pada abad 19 pada masa pendudukan kolonial Belanda, jamak ditemukan praktik pergundikan di kalangan pejabat Hindia Belanda. Latar belakang perempuan yang dijadikan gundik kebanyakan berasal dari keluarga pribumi miskin di desa yang berharap anak perempuanya akan memperoleh kehidupan yang lebih layak dengan menjadi pembantu di rumah-rumah pejabat Hindia Belanda. Bila tuannya berkehendak untuk mengambil pembantunya sebagai gundik, maka perempuan itu akan "naik pangkat" dan mendapat sebutan "Nyai". Meski derajatnya seakan terangkat, predikat "Nyai" itu sendiri mendapat stigma negatif di masyarakat karena ia menjalani samenleven dan dianggap berdosa karena bergaul dengan kafir.[1]
Pergundikan dan perbudakan
[sunting | sunting sumber]Dalam beberapa konteks, lembaga pergundikan berkembang berbeda dari hubungan hidup bersama yang menyerupai perkawinan antara dua orang bebas, hingga pada tingkat di mana perempuan merdeka dilarang menjadi gundik dan praktik tersebut hanya diperuntukkan bagi budak. Bentuk pergundikan semacam ini dipraktikkan dalam berbagai budaya patriarkal sepanjang sejarah.[2] Banyak masyarakat secara otomatis membebaskan gundik setelah ia melahirkan seorang anak. Di antara masyarakat yang tidak secara hukum mewajibkan pembebasan gundik, hal tersebut umumnya tetap dilakukan. Dalam masyarakat yang memiliki budak, sebagian besar gundik merupakan budak, meskipun tidak semuanya.[3][diragukan ] Ciri pergundikan yang menjadikannya menarik bagi sebagian laki-laki adalah ketergantungan gundik kepada tuannya; ia dapat dijual atau dihukum sesuai kehendak sang tuan.[4] Menurut Orlando Peterson, budak yang dijadikan gundik kemungkinan menikmati tingkat kenyamanan material yang lebih tinggi dibandingkan budak yang dipekerjakan dalam pertanian atau pertambangan.[5]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Baay, Reggie (2010). Nyai & pergundikan di Hindia Belanda. S. Hertini Adiwoso. Jakarta: Komunitas Bambu. ISBN 978-979-3731-78-0. OCLC 683139090.
- ↑ Rodriguez 2011, hlm. 203.
- ↑ Historical Dictionary of Slavery and Abolition 2014, hlm. 122 Not all concubines were slaves, but most were.
- ↑ Historical Dictionary of Slavery and Abolition 2014, hlm. 122.
- ↑ Peterson, Orlando. Slavery and Social Death. Harvard University Press. hlm. 173.
It should be obvious that if slaves were acquired as secondary wives, concubines, or homosexual lovers, their material comfort (if not their peace of mind) generally would have been better than those acquired to perform agricultural or mining jobs.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Grimal, Pierre (1986) [1967]. Love in Ancient Rome. University of Oklahoma Press. ISBN 978-0806120140.
- Kiefer, O. (2012). Sexual Life in Ancient Rome. Routledge. ISBN 978-1136181986.