The Last Temptation of Christ (film)
| The Last Temptation of Christ | |
|---|---|
Poster rilis teatrikal | |
| Sutradara | Martin Scorsese |
| Produser | Barbara De Fina Harry Ulfland |
| Skenario | Paul Schrader |
Berdasarkan | The Last Temptation of Christ oleh Nikos Kazantzakis |
| Pemeran | Willem Dafoe Harvey Keitel Barbara Hershey Harry Dean Stanton David Bowie Andre Gregory |
| Penata musik | Peter Gabriel |
| Sinematografer | Michael Ballhaus |
| Penyunting | Thelma Schoonmaker |
Perusahaan produksi | |
| Distributor | Universal Pictures |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 162 menit[1] |
| Negara | Amerika Serikat Kanada |
| Bahasa | Inggris |
| Anggaran | $7 juta[2] |
Pendapatan kotor | $8,861,452[3] |
The Last Temptation of Christ adalah film drama religi epik tahun 1988 yang disutradarai oleh Martin Scorsese. Ditulis oleh Paul Schrader, dengan penulisan ulang tanpa kredit dari Scorsese dan Jay Cocks, film ini merupakan adaptasi dari novel kontroversial tahun 1955 karya Nikos Kazantzakis dengan judul yang sama. Film yang dibintangi Willem Dafoe, Harvey Keitel, Barbara Hershey, Andre Gregory, Harry Dean Stanton, dan David Bowie ini sepenuhnya direkam di Maroko.
Film ini menggambarkan kehidupan Yesus Kristus dan pergumulannya melawan berbagai bentuk godaan, termasuk ketakutan, keraguan, depresi, keengganan, dan hawa nafsu. Buku dan film ini menggambarkan Kristus dicobai dengan membayangkan dirinya terlibat dalam aktivitas seksual, yang memicu kemarahan dari beberapa kelompok Kristen, yang menganggap karya tersebut sebagai penistaan. Film ini juga memuat pernyataan yang menyatakan : "Film ini tidak didasarkan pada Injil, tetapi pada eksplorasi fiksi tentang konflik spiritual abadi."
The Last Temptation of Christ menerima ulasan positif dari para kritikus dan beberapa pemimpin agama, dan Scorsese menerima nominasi Academy Award untuk Sutradara Terbaik. Penampilan Hershey sebagai Maria Magdalena membuatnya mendapatkan nominasi Golden Globe untuk Aktris Pendukung Terbaik. Musik latar Peter Gabriel juga menerima pujian, termasuk nominasi Golden Globe Award untuk Musik Orisinal Terbaik. Penampilan Dafoe sebagai Yesus dipuji. Sebaliknya, penampilan Keitel sebagai Yudas menerima nominasi Aktor Pendukung Terburuk di Golden Raspberry Awards.
Pemeran
[sunting | sunting sumber]- Willem Dafoe sebagai Yesus
- Harvey Keitel sebagai Yudas Iskariot
- Barbara Hershey sebagai Maria Magdalena
- Harry Dean Stanton sebagai Saulus/Paulus dari Tarsus
- David Bowie sebagai Pontius Pilatus
- Steve Shill sebagai Centurion
- Verna Bloom sebagai Maria, ibu Yesus
- Roberts Blossom sebagai Master Berumur
- Barry Miller sebagai Yerobeam
- Gary Basaraba sebagai Andreas
- Irvin Kershner sebagai Zebedeus
- Victor Argo sebagai Petrus
- Paul Herman sebagai Filipus
- John Lurie sebagai Yakobus
- Michael Been sebagai Yohanes
- Leo Burmester sebagai Nataniel
- Andre Gregory sebagai Yohanes Pembaptis
- Alan Rosenberg sebagai Tomas
- Nehemiah Persoff sebagai Rabbi
- Peter Berling sebagai Pengemis
- Leo Marks sebagai Pengisi Suara Setan
- Juliette Caton sebagai Malaikat Perempuan
- Martin Scorsese (tidak disebutkan) sebagai Yesaya
Produksi
[sunting | sunting sumber]Perkembangan
[sunting | sunting sumber]Martin Scorsese ingin membuat versi film dari kehidupan Yesus dan terpesona oleh gambaran Yesus sejak kecil. Ia diberi salinan The Last Temptation of Christ karya Nikos Kazantzakis di tahun 1962 saat kuliah di Universitas New York, tetapi tidak membacanya sampai tahun 1972. Selama pembuatan film Boxcar Bertha ia diberi salinan tambahan oleh Barbara Hershey dan David Carradine. Dari tahun 1975 hingga 1978, ia perlahan membaca buku itu dan memutuskan bahwa ia harus mengadaptasinya. Paul Schrader menulis skenario berdasarkan novel tersebut dari tahun 1981 hingga 1982. Scorsese dan Jay Cocks menyunting naskah Schrader selama delapan bulan di tahun 1983 dan menulis ulang sebagian besar dialognya. Cocks awalnya dikreditkan sebagai penulis bersama Schrader pada poster, tetapi dihapus setelah Schrader mengajukan banding ke Writers Guild of America.
Produksi dimulai di Paramount Pictures di tahun 1983 dengan anggaran $15–20 juta. Aidan Quinn sebagai Yesus dan Sting sebagai Pontius Pilatus merupakan anggota pemeran asli. Jason Miller sempat dipertimbangkan untuk memerankan Yohanes Pembaptis, tetapi ia mengundurkan diri dari produksi. Manajemen di Paramount dan perusahaan induknya saat itu, Gulf+Western, merasa tidak nyaman karena anggaran film yang membengkak dan surat protes yang diterima dari kelompok-kelompok agama. Proyek tersebut mengalami perubahan haluan, dan akhirnya dibatalkan di bulan Desember 1983. Scorsese kemudian membuat After Hours, kecewa dengan pembatalan proyek tersebut oleh Paramount.
Scorsese dan agennya Harry J. Ufland berusaha menghidupkan kembali film tersebut dan mempertimbangkan untuk syuting di Yugoslavia, Spanyol, atau Afrika Utara. Di tahun 1986, Universal Studios tertarik dengan proyek tersebut. Scorsese menawarkan untuk syuting film tersebut dalam 58 hari dengan biaya $7 juta, dan Universal akhirnya memberikan lampu hijau untuk produksi tersebut, karena Scorsese setuju untuk menyutradarai film yang lebih umum untuk studio tersebut di masa mendatang ( yang akhirnya menghasilkan Cape Fear ).
Scorsese berjuang untuk menemukan aktor yang bisa memerankan Yesus. Dia pertama kali memperhatikan Willem Dafoe di To Live and Die in L.A. dan penampilan Dafoe di Platoon menegaskan keyakinannya tentang kemampuan akting Dafoe. Dafoe, yang mengajar di Massachusetts di saat itu, segera menerima peran tersebut. Sting digantikan oleh David Bowie.
Dalam sebuah episode The Joe Rogan Experience di Januari 2025, Mel Gibson mengungkapkan bahwa Scorsese memintanya untuk memerankan Yesus dalam film tersebut. Gibson mengatakan bahwa ia berkata kepada Scorsese saat itu, "Wow. Saya tidak akan melakukan itu."
Dalam memoarnya, Eric Roberts membahas tawaran peran Yesus, tetapi menolaknya setelah menerima saran dari manajernya. Roberts menuduh Scorsese kesal dengan keputusannya dan menyimpan dendam terhadapnya.
Syuting
[sunting | sunting sumber]John Beard ditunjuk sebagai desainer produksi atas saran Terry Gilliam. Scorsese menyatakan bahwa ia tidak ingin filmnya terlalu mewah dan menghindari "kemegahan, kesungguhan, atau penghormatan yang berlebihan". Jean-Pierre Delifer merancang kostum untuk film tersebut. Di hari pertama syuting, Scorsese mengkritik kebersihan para prajurit Romawi dan menyuruh para figuran berguling-guling di tanah.
Pengambilan gambar dilakukan di Maroko dan desa-desa Oumnast berperan sebagai Nazareth dan Magdala. Adegan gurun diambil dua puluh menit di luar Oumnast. Meknes digunakan untuk adegan di Yerusalem dan kandang kuda Ismail Ibn Sharif mirip dengan Masjid Al-Aqsa, yang diharapkan Scorsese untuk digunakan dalam pengambilan gambar tahun 1983. Pengambilan gambar selama dua hari dilakukan di pegunungan dekat Azrou dan Itto. Efek khusus dalam film ini sangat sedikit dan Scorsese lebih mengandalkan pencahayaan dan penyuntingan. Kuil pagan yang ditampilkan dalam adegan yang menggambarkan Khotbah di Bukit didasarkan pada desain Babilonia.
Penyaliban itu direkam selama tiga hari menggunakan enam puluh pengaturan kamera yang berbeda. Pembuatan filmnya sulit karena Dafoe hanya bisa bertahan di kayu salib selama dua hingga tiga menit. Pengambilan gambar gerak lambat dari kerumunan yang mencemooh penyaliban itu terinspirasi oleh lukisan penyaliban yang dibuat oleh Hieronymus Bosch.
Fotografi utama dimulai di bulan Oktober 1987, dan selesai di tanggal 25 Desember 1987.
Barbara Hershey menolak penggunaan pemeran pengganti dalam adegan seksnya, dengan mengatakan, “Saya tahu jika saya ada dalam adegan itu, saya akan benar-benar merasa seperti pelacur."
Tema
[sunting | sunting sumber]Scorsese mengatakan Yudas "mewakili kekerasan, tangan yang kuat, tapi itu bukan cara yang benar." dan bahwa film tersebut merupakan konflik antara prinsip-prinsip kekuatan kasar dan cinta.
Scorsese menambahkan bahwa ia merasa "beberapa bagian dari buku itu agak keras terhadap perempuan". Ia mencatat bahwa para Rasul adalah orang-orang pertama yang meninggalkan Yesus sementara para perempuan tetap bersama-Nya. Kalimat malaikat, "Hanya ada satu perempuan di dunia. Satu perempuan dengan banyak wajah." dimaksudkan untuk mengingatkan penonton bahwa malaikat itu adalah tipuan Setan.
Musik
[sunting | sunting sumber]Soundtrack musikal dari film tersebut, yang dikomposisikan oleh Peter Gabriel, meraih nemonasi Penghargaan Globe Emas untuk Skor Asli Terbaik - Gambar Bergerak di 1988 dan dirilis dalam bentuk CD dengan judul Passion: Music for The Last Temptation of Christ, yang memenangkan Grammy di 1990 untuk Album zaman Baru Terbaik. Skor dari film tersebut itu sendiri membantu mempopulerkan musik dunia. Gabriel kemudian mengkompilasikan sebuah album yang disebut Passion - Sources, termasuk material tambahan karya berbagai musisi yang menginspirasikannya dalam mengkomposisikan soundtrack tersebut, atau yang ia sampelkan untuk soundtrack tersebut.
Perilisan
[sunting | sunting sumber]Film tersebut dibuka pada 12 Agustus 1988.[4] Film tersebut kemudian ditayangkan sebagai bagian dari Festival Film Internasional Venesia pada 7 September 1988.[5] Sebagai respon dari penampilan film tersebut sebagai bagian dari jalannya festival film tersebut, sutradara Franco Zeffirelli menghapus filmmya Young Toscanini dari program tersebut.[6]
Meskipun The Last Temptation of Christ dirilis dalam format VHS dan Laserdisc, banyak toko penyewaan video, termasuk Blockbuster Video yang saat itu dominan, menolak untuk menyediakannya untuk disewa, sebagai akibat dari penerimaan film yang kontroversial. Di tahun 1997, Criterion Collection menerbitkan edisi khusus The Last Temptation of Christ dalam format Laserdisc, yang kemudian diterbitkan ulang oleh Criterion dalam format DVD di tahun 2000 dan dalam bentuk cakram Blu-ray di Wilayah A di bulan Maret 2012 dan Wilayah B di bulan April 2019.[7]
Serangan di bioskop Saint Michel, Paris
[sunting | sunting sumber]Di 22 Oktober 1988, sekelompok fundamentalis Kristen Prancis meledakkan bom-bom Molotov di bioskop Saint Michel Paris ketika bioskop menayangkan film tersebut. Serangan ini melukai tiga belas orang, empat diantaranya mengalami luka bakar.[8][9]
Penerimaan
[sunting | sunting sumber]Box office
[sunting | sunting sumber]The Last Temptation of Christ ditayangkan di 123 bioskop pada 12 Agustus 1988 dan mendapatkan keuntungan sebesar $401,211 pada minggu pembukannya. Pada akhir penayangannya, film tersebut mendapatkan keuntungan sebesar $8,373,585 secara domestik dan $487,867 di Meksiko dengan total di seluruh dunia sebesar $8,861,452.[3]
Tanggapan kritis
[sunting | sunting sumber]Situs web agregator ulasan Rotten Tomatoes melaporkan bahwa 82% dari 103 kritikus film memberikan ulasan positif untuk film ini, dengan peringkat rata-rata 7,6/10. Konsensus tersebut menyatakan: "Bertentangan dengan tuduhan ketidaksopanan, dosa terbesar The Last Temptation of Christ sebenarnya terletak pada temponya yang lambat dan dialognya yang tipis — tetapi hasrat Martin Scorsese terhadap subjek ini bersinar melalui meditasi transendennya tentang iman." Metacritic, yang memberikan skor rata-rata tertimbang dari 100 untuk ulasan dari kritikus arus utama, memberikan film ini skor 80 berdasarkan 18 ulasan, yang menunjukkan "ulasan yang umumnya positif".
Dalam ulasan bintang empat dari empat untuk Chicago Sun-Times, Roger Ebert, yang kemudian memasukkan film tersebut kedalam daftar "Film-Film Hebat"-nya, menulis bahwa Scorsese dan penulis skenario Paul Schrader "memberikan pujian kepada Kristus karena menganggap serius Dia dan pesan-Nya, dan mereka telah membuat sebuah film yang tidak mengubahnya menjadi garis, gambar yang dikebiri dari kartu pos religius. Di sini Dia adalah daging dan darah, berjuang, mempertanyakan, bertanya kepada dirinya sendiri dan ayahnya mana jalan yang benar, dan akhirnya, setelah penderitaan yang hebat, mendapatkan hak untuk mengatakan, di kayu salib, 'Sudah selesai.'" Gene Siskel dari Chicago Tribune berkata : "Dafoe berhasil menarik kita kedalam misteri, penderitaan dan sukacita kehidupan suci."
Sebuah ulasan yang terkait dengan Catholic News Service menyatakan bahwa The Last Temptation of Christ "gagal karena kekurangan artistik, alih-alih bias anti-agama." Halliwell's Film Guide menganugerahinya satu bintang dari empat bintang yang mungkin, menggambarkannya sebagai "rekaman yang indah dan akting yang memukau, tetapi terlalu panjang dan terlalu panjang". Alan Jones menganugerahinya empat bintang dari lima bintang untuk Radio Times, menyebutnya "sebuah esai yang menantang tentang kehidupan Yesus" dan "tidak menghujat maupun menyinggung", meskipun ia merasa film itu "agak terlalu panjang, dan Scorsese memang menahan beberapa pukulan demi menghormati pokok bahasannya", tetapi ia menggambarkannya sebagai "kritik kecil" dan menyimpulkan bahwa film itu adalah "karya yang tulus".
Scorsese ditugaskan untuk menyutradarai adaptasi film Schindler's Ark dan bekerjasama dengan Steven Zaillian dalam penulisan naskahnya, tetapi mengundurkan diri dari proyek tersebut karena penerimaan yang buruk terhadap The Last Temptation of Christ. Ia juga merasa tidak pantas jika seorang non-Yahudi menyutradarai film tersebut.
Kontroversi
[sunting | sunting sumber]Ancaman kematian
[sunting | sunting sumber]Dalam buku Roger Ebert, Scorsese by Ebert, kritikus menulis tentang reaksi terhadap The Last Temptation of Christ, "...Scorsese menjadi sasaran ancaman pembunuhan dan jeremiad dari penginjil TV". Ancaman tersebut cukup signifikan sehingga Scorsese harus menggunakan pengawal selama penampilan publik selama beberapa tahun.
Protes
[sunting | sunting sumber]Karena film ini menyimpang dari narasi Injil—terutama adegan singkat dimana Yesus dan Maria Magdalena melahap pernikahan mereka—beberapa kelompok Kristen mengorganisir protes vokal dan boikot film tersebut sebelum dan setelah dirilis. Salah satu protes, yang diselenggarakan oleh sebuah stasiun radio religius di California, mengumpulkan 600 pengunjuk rasa untuk melakukan unjuk rasa di kantor pusat perusahaan induk Universal Studios, MCA. Salah satu pengunjuk rasa berpakaian seperti Ketua MCA, Lew Wasserman, dan berpura-pura memakukan paku ke tangan Yesus ke sebuah salib kayu.
Penginjil Bill Bright menawarkan untuk membeli negatif film tersebut dari Universal untuk menghancurkannya. Protes tersebut efektif meyakinkan beberapa jaringan bioskop untuk tidak menayangkan film tersebut. Salah satu jaringan tersebut, General Cinemas, kemudian meminta maaf kepada Scorsese atas tindakannya tersebut.
Sensor dan larangan
[sunting | sunting sumber]Bunda Angelica, seorang biarawati Katolik dan pendiri Eternal Word Television Network, menggambarkan Last Temptation sebagai "ejekan paling menghujat terhadap Ekaristi yang pernah dilakukan di dunia ini" dan "sebuah film holocaust yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan jiwa selamanya." Di beberapa negara, termasuk Yunani, Afrika Selatan, Turki, Meksiko, Chili, dan Argentina, film tersebut dilarang atau disensor selama beberapa tahun. Hingga Februari 2024, film tersebut masih dilarang di Filipina dan Singapura. Di Februari 2020, Netflix mengungkapkan bahwa film tersebut merupakan salah satu dari lima judul yang telah dihapus dari Netflix versi Singapura atas permintaan Otoritas Pengembangan Media Infocomm milik pemerintah Singapura.
Penghargaan dan nominasi
[sunting | sunting sumber]Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Catatan
[sunting | sunting sumber]a. Terikat dengan Once More.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "THE LAST TEMPTATION OF CHRIST (18)". Badan Klasifikasi Film Britania. 2 September 1988. Diakses tanggal 23 Oktober 2014.
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tag
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaTwenty-Five - 1 2 "The Last Temptation of Christ (1988)". Box Office Mojo. Internet Movie Database. Diakses tanggal 21 Oktober 2014.
- ↑ Kelly, M. (1991). Martin Scorsese: A Journey. New York, Thunder's Mouth Press.
- ↑ "Venice Festival Screens Scorsese's 'Last Temptation'". Los Angeles Times. 9 September 1988. Diakses tanggal 9 Desember 2012.
- ↑ "Zeffirelli Protests 'Temptation of Christ'". The New York Times. 3 Agustus 1988. Diakses tanggal 9 Desember 2012.
- ↑ Abdun Nur, Hadi. (19 Juli 2025.). "Blu-Ray". Blu-Ray. Diakses tanggal 19 Juli 2025..
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tag
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamamarkham - ↑ Steven Greenhouse (1988-10-25). "Police Suspect Arson In Fire at Paris Theater". New York Times.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- The Last Temptation of Christ di IMDb (dalam bahasa Inggris)
- (Inggris) The Last Temptation of Christ di Box Office Mojo
- The Last Temptation of Christ di Rotten Tomatoes (dalam bahasa Inggris)
- (Inggris) The Last Temptation of Christ di Metacritic