Kiamat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kiamat di dalam ajaran Islam merupakan suatu kejadian yang niscaya terjadi. Namun, ajaran Islam tidak menyebutkan penanggalan yang pasti mengenai hari kiamat. Ajaran Islam hanya menyebutkan tanda-tanda yang pasti terjadi sebelum terjadinya hari kiamat.[1] Kronologi kiamat diawali dengan kematian seluruh makhluk hidup dan kehancuran seluruh alam semesta. Seluruh manusia kemudian dihidupkan kembali untuk dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya selama menjalani kehidupan di dunia.[2] Di dalam Al-Qur'an terdapat 32 kata yang berkaitan dengan kiamat. Kosakata ini mempunyai dua makna, yaitu tentang proses kehancuran alam atau tentang kondisi manusia setelah terjadinya kebangkitan.[3]

Penyebutan[sunting | sunting sumber]

Kata 'kiamat' secara etimologi berasal dari kosakata bahasa Arab, yaitu qāma – yaqūmu - qiyāman. Masing-masing kata ini berarti berdiri, berhenti, dan berada di tengah. Dari kosakata tersebut, kiamat (al-qiyāmah) dimaknai sebagai kebangkitan dari kematian yang mana manusia dihidupkan kembali setelah mengalami kematian. Sementara hari kiamat (yaumul qiyāmah) diartikan sebagai hari atau saat terjadinya kebangkitan manusia dari kuburannya masing-masing.

Hari kiamat secara tepat disebut sebagai hari akhir. Namun, di dalam Al-Qur'an digunakan banyak kata yang mewakili hari akhir ini termasuk yaumul qiyamah atau hari penegakan. Kata ini disebutkan dalam ayat pertama pada Surah Al-Qiyamah. Sinonim hari akhir juga ditemukan pada Surah Al-An'am ayat 36 (yaumul ba'ats atau hari kebangkitan), Surah Maryam ayat 86 (yaumul hasyr atau hari pengumpulan). Surah Al-Isra' ayat 14 (yaumul hisab atau hari perhitungan), dan Surah Al-Fatihah ayat 4 (yaumuddin atau hari pembalasan).[4]

Makna kiamat di dalam Al-Qur'an secara umum dikelompokkan menjadi tiga makna berdasarkan penamaan. Pertama, nama yang memberikan gambaran tentang karakteristik kiamat. Kedua, julukan yang memberikan gambaran mengenai keadaan manusia pada saat terjadinya kiamat. Ketiga, julukan yang memberikan gambaran mengenai sifat-sifat dari kiamat.[3]

Yaumul qiyamah[sunting | sunting sumber]

Yaumul qiyāmah artinya hari kiamat. Kata Al-Qiyāmah merupakan turunan kata dari kata qāma-yaqūmu-qiyāman. Masing-masing kata dasar ini berarti yang berdiri, bangun, atau bangkit. Penambahan imbuhan awalan -al (alif lam lit- ta'rif) berfungsi menghasilkan makna yang memberikan batasan sesuatu. Sedankan penambahan akhiran -ah berfungsi untuk memberikan makna tentang kehebatan suatu peristiwa. Karenanya, kata 'al-qiyāmah' harus dimaknai sebagai peristiwa kebangkitan yang ada kaitannya dengan makhluk hidup yang telah mati. Kata ini mmemberikan makna bahwa kejadiannya niscaya terjadi. Di dalam Al-Qur'an, kata ini disebutkan sebanyak 71 kali. Salah satunya pada Surah Al-Baqarah ayat 113.[5]

Seluruh ayat yang menggunakan kata 'al-qiyāmah' hanya memiliki tiga informasi. Pertama, pernyataan bahwa kiamat pasti terjadi. Kedua, ketetapan berlangsungnya pengadilan bagi setiap manusia. Ketiga, pemberian ketetapan atas perselisihan antara Yahudi dan Nasrani tentang berita yang dipersoalkan dalam Taurat.[6]

Yaumul akhir[sunting | sunting sumber]

Yaumul akhir diartikan sebagai hari terakhir. Pemakaian istilah ini untuk menunjukkan bahwa hari kiamat merupakan hari terakhir bagi semua makhluk hidup, utamanya bagi manusia. Ini dimaknai sebagai hari terakhir manusia sebelum memasuki alam keabadian. Hari kiamat juga menjadi akhir dari segala kehidupan dan segala jenis makhluk hidup. Kata 'Yaumul akhir disebut sebanyak 26 kali di dalam Al-Qur'an. Penyebutannya tersebar di beberapa ayat dalam surah yang berbeda. Salah satunya pada Surah Al-Baqarah ayat 8.[6]

Yaumul ba'ats[sunting | sunting sumber]

Yaumul ba'ats diartikan sebagai hari kebangkitan. Salah satu ayat yang menggunakan istilah ini adalah Surah Ar-Rum ayat 56. Istilah ini diartikan sebagai hari berbangkit karena pada hari tersebut seluruh mahkluk hidup yang telah mati secara serentak mengalami kebangkitan. Jasad mereka dibentuk kembali oleh Allah dan roh manusia dikembalikan ke dalam jasadnya masing-masing.[7] Analogi mengenai kebangkitan disebutkan oleh Allah dalam Surah Fatir ayat 9. Perumpamaan yang diberikan seperti munculnya kehidupan di Bumi akibat hujan yang turun melalui pergerakan angin dan awan. Hujan ini terjadi sangat cepat dan menimpa negeri yang mengalami kekeringan yang panjang. Perumpamaan ini menandakan bahwa hari kebangkitan berlangsung sangat cepat seperti tumbuhan yang tumbuh oleh air hujan.[8]

Setiap manusia mengalami kebangkitan dalam keadaan telanjang tanpa pakaian sama sekali. Manusia pada saat ini dibedakan berdasarkan kondisi tubuhnya. Orang-orang beriman akan mengalami kebangkitan roh dan tubuh yang sempurna. Sedangkan orang-orang kafir akan dibangkitkan dalam keadaan cacat pada roh maupun tubuhnya. Adanya perbedaan ini ditentukan oleh tingkat amal perbuatan masing-masing orang. Keterangan ini berasal dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.[8]

Yaumul khuruj[sunting | sunting sumber]

Yaumul khuruj sama diartikan sama dengan hari keluar dari kubur. Keterangan ini disebutkan dalam Surah Al-Qaf ayat 42. Ayat ini menyebutkan kejadian berupa teriakan-teriakan dari kuburan. Kebangkitan ini terjadi bersamaan untuk seluruh makhluk hidup. Awal kebangkitan didahului oleh tiupan kedua dari sangkakala. Perumpamaan kebangkitan dari kubur ini disebutkan dalm Surah Az-Zukhruf ayat 11. Ayat ini menyebutkan bahwa manusia akan dikeluarkan dari kubur seperti tanah kering yang tiba-tiba menerima air hujan.[9]

Pemaknaan[sunting | sunting sumber]

Kiamat dalam Islam memiliki dua pemaknaan. Pertama, kiamat merupakan kebangkitan seluruh manusia dari kematian dari kuburannya masing-masing. Kuburan hanyalah diyakini sebagai tempat peristirahatan sementara setelah kematian manusia. Setelah kebangkitan, seluruh manusia diadili dan diminta pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia. Manusia akan memperoleh kenikmatkan jika kebaikannya lebih banyak dari keburukannya. Sedangkan manusia akan memperoleh hukuman jika keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Ketentuan ini disebutkan dalam Surah Al-Qari'ah ayat 6–9.

Sedangkan pemaknaan yang kedua yaitu bahwa kiamat adalah keadaan akhir zaman. Kiamat diyakini sebagai akhir dari alam semesta dan akhir dari kehidupan semua makhluk hidup. Ketika kiamat terjadi, kehancuran menimpa seluru isi alam semesta hingga tidak tersisa kehidupan sama sekali. Pemaknaan ini memberikan pandangan bahwa kiamat merupakan bencana besar bagi alam raya dan seluruh isinya. Kehancuran dunia ini menyebabkan kehancuran seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Pemaknaan ini disebutkan dalam Surah Al-Infitar ayat 1–4.[10]

Waktu kejadian[sunting | sunting sumber]

Dalil Al-Qur'an[sunting | sunting sumber]

Waktu kejadian kiamat tidak disebutkan dengan pasti di dalam A-Qur'an. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 63 dinyatakan bahwa waktu kejadian hari kiamat hanya diketahui oleh Allah. Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa kiamat dapat terjadi kapan saja dan dalam waktu yang dekat.[11] Kiamat tidak akan terjadi selama masih ada orang yang mengucapkan kalimat tauhid kepada Allah. Keterangan ini diperoleh dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Imam Muslim dari Anas bin Malik. Pada hadis periwayatan Imam Muslim disebutkan bahwa kiamat tidak akan terjadi selama masih ada orang yang menyebut nama Allah. Sedangkan pada periwayatan Ibnu Hibban, kiamat tidak akan terjadi selama masih ada orang yang mengucapkan kalimat pertama dalam syahadat.[12]

Hal yang pasti adalah kiamat akan terjadi karena ini merupakan janji dan ketetapan dari Allah. Pemikiran ini masuk akal karena Allah merupakan pencipta alam semesta beserta dengan segala isinya. Karenanya, Allah berhak untuk menghancurkan alam semesta yang diciptakanNya. Allah juga berhak mengakhiri seluruh kehidupan yang telah diciptakannNya dan mengantinya dengan kehidupan lain yang sifatnya abadi. Kemampuan Allah untuk menciptakan dan menghancurkan sesuatu disebutkan dalam Surah Al-Mu'min ayat 68. Ayat ini menyatakan bahwa Allah hanya perlu mengatakan 'jadilah' maka jadilah sesuatu itu.[13] Dalam Al-Qur'an kepastian mengenai terjadinya hari kiamat antara lain disebutkan pada Surah Al-An'am ayat 134 dan Surah Al-Hajj ayat 7.[14]

Dalil hadis[sunting | sunting sumber]

Waktu kejadian mengenai hari kiamat hanya menjadi pengetahuan Allah semata. Pengetahuaan ini tidak diberikan oleh Allah kepada malaikat maupun para nabi dan rasul. Keterangan ini diperoleh dari hadis yang menceritakan mengenai diskusi antara Nabi Muhammad dan malaikat Jibril tentang hari kiamat. Dalam hadis tersebut, nabi menyebutkan Surah Luqman ayat 34 yang menyatakan pada bagian awal bahwa hanya Allah yang mengetahui tentang hari kiamat. Hadis in diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.[15]

Dalil akal[sunting | sunting sumber]

Hari kehancuran merupakan suatu gagasan yang diterima oleh akal. Penerimaan konsep ini berasal dari konsep penciptaan dari yang tidak ada menjadi ada. Sesuatu yang telah ada akan mengalami kerusakan hingga akhirnya menjadi tidak ada kembali. Konsep penciptaan ini berlaku juga pada manusia dan alam semesta. Semua hal yang diciptakan akan melalui proses keberadaan hingga akhirnya mengalami proses ketidakberadaan atau kembali menjadi sesuatu yang tidak ada melalui proses kerusakan dan kehancuran.[14] Analogi ini disebutkan pula dalam Surah Al-Jasiyah ayat 26.[16]

Tanda-tanda manusia[sunting | sunting sumber]

Peperangan kaum Muslim dengan bangsa Turki[sunting | sunting sumber]

Peperangan kaum Muslim dengan bangsa Turki sebagai tanda akan terjadinya hari kiamat disebutkan dalam hadis tunggal dari Imam Bukhari. Jalur periwayatannya dari Abu Hurairah. Dalam hadis ini disebutkan bahwa kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslim memerangi dua kaum. Pertama kaum yang menggunakan sandal berbulu. Kedua, peperangan dengan bangsa Turki. Nabi Muhammad menyebutkan ciri-ciri fisik dari kaum yang akan diperangi oleh kaum Muslim. Wajahnya berwarna merah, hidunya pesek dan matanya sipit. Dalam periwayatan lain dari Abu Hurairah melalui Imam Bukhari, disebutkan bahwa nama kaum tersebut adalah Haura dan Karman. Kedua kaum ini tidak termasuk bangsa Arab. Ciri fisik dan pakaian yang dikenakan sama dengan hadis sebelumnya, yaitu berwajah merah, berhidung pesek dan mengenakan sandal berbulu.[17] Sufyan bin Uyanah menjelaskan bahwa kaum tersebut adalah penduduk di al-Bariz. Menurutnya, al-Bariz merupakan sebuah pasar yang khusus untuk berbuat mesum.[17]

Penyakit hewan menular[sunting | sunting sumber]

Munculnya jenis penyakit hewan menular merupakan salah satu tanda hari kiamat. Tanda ini terjadi ketika penyakit hewan menular kepada manusia. Informasi ini diperoleh dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari 'Auf bin Malik.[18]

Tanda-tanda alam[sunting | sunting sumber]

Peristiwa alam yang terjadi pada hari kiamat di Bumi disebutkan Allah dalam Surah Az-Zalzalah ayat 1–2 dan Surah Al-Insyiqaq ayat 3–4. Surah Al-Zalzalah ayat 1-2 menyebutkan tanda berupa goncangan pada Bumi dan keluarnya isi Bumi yang berat. Sedangkan Surah Al-Insyiqaq ayat 3–4 menyebutkan tanda yaitu perataan Bumi dan pengosongan isinya.[19]

Gumpalan asap[sunting | sunting sumber]

Gumpalan asap yang sangat banyak merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sebuah hadis. Dalam periwayatan ini, terdapat sepuluh tanda hari kiamat. Dalam konteks dunia modern, gumpalan asap ini disebabkan oleh emisi gas rumah kaca. Dalam konteks ini, tanda-tanda kiamat dapat berupa pemanasan global dan perubahan iklim.[20]

Keadaan manusia[sunting | sunting sumber]

Keterangan kondisi orang kafir pada hari kiamat disebutkan dalam Surah Az-Zumar ayat 60. Pada hari kiamat, wajah dari orang-orang kafir akan berwarna pucat dan berwarna hitam legam. Keadaan ini disebabkan oleh rasa takut, kesedihan dan penyesalan yang mereka rasakan. Sementara kondisi orang yang beriman pada hari kiamat akan berwajah cerah dan bersinar. Perasaan orang-orang beriman diliputi dengan keceriaan. Keterangan ini diperoleh dari Surah Ali Imran ayat 107.[21]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Fadil 2019, hlm. 287.
  2. ^ LPMQ dan LIPI 2011, hlm. 9.
  3. ^ a b LPMQ dan LIPI 2011, hlm. 10.
  4. ^ Fadil 2019, hlm. 289-290.
  5. ^ LPMQ dan LIPI 2011, hlm. 10-11.
  6. ^ a b LPMQ dan LIPI 2011, hlm. 11.
  7. ^ Haryanto 2021, hlm. 27.
  8. ^ a b Haryanto 2021, hlm. 28.
  9. ^ Haryanto 2021, hlm. 29.
  10. ^ LPMQ dan LIPI 2011, hlm. 8-9.
  11. ^ Jasmi 2020, hlm. 1.
  12. ^ Jasmi 2020, hlm. 30-31.
  13. ^ Haryanto 2021, hlm. 20.
  14. ^ a b Haryanto 2021, hlm. 21.
  15. ^ Haryanto 2021, hlm. 22-23.
  16. ^ Haryanto 2021, hlm. 21-22.
  17. ^ a b Katsir 2018, hlm. 9.
  18. ^ Jasmi 2020, hlm. 24.
  19. ^ Romlah (2011). Ayat-Ayat Al-Qur'an dan Fisika (PDF). Bandar Lampung: Harakindo Publishing. hlm. 23–24. ISBN 978-602-1689-77-6. 
  20. ^ Karim, Moch. Faisal (2010). The End of Future: Rahasia di Balik Peperangan, Kehancuran dan Kiamat di Masa Depan. Jakarta Selatan: NF Media Center. hlm. 66. ISBN 978-602-95647-1-6. 
  21. ^ Haryanto 2021, hlm. 25.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]