Barzakh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Eskatologi Islam
Portal Islam

Barzakh (bahasa Arab برزخ) adalah alam kubur yang membatasi antara dunia dan akhirat. Barzakh menjadi tempat persinggahan sementara jasad makhluk sampai dibangkitkannya pada hari kiamat. Penghuni barzakh berada di tepi dunia (masa lalu) dan akhirat (masa depan). Menurut syariat Islam di alam Barzakh ini, sang mayat akan bertemu dengan para Malaikat Munkar dan Nakir, sedangkan ada pendapat lain ada yang mengatakan jika yang mereka datangi adalah orang mukmin yang diberi taufik, maka yang akan datang adalah para malaikat yang bernama Mubassyar dan Basyir.[1]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Secara harfiah Barzakh berarti jarak waktu atau penghalang antara 2 hal dan tidak ada yang sanggup melewatinya.[2] Menurut syariat Islam barzakh berarti tempat yang berada di antara maut dan kebangkitan, menurut firman Allah dalam Al-Quran Surah Al Mu'minuun: 100,

Dengan kata lain tempat yang disebut barzakh adalah mulai dari waktu kematian sampai dibangkitkan hidup kembali.

Keadaan mayat[sunting | sunting sumber]

Seseorang yang telah mati tidak akan mengetahui kehidupan dari orang yang masih hidup karena ia tinggal di dalam dunia yang benar-benar beda. Bagaimanapun, dikisahkan bahwa seseorang yang mati dapat merasakan langkah kaki dari orang berjalan.

Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad melihat seseorang yang berada di dalam sumur, yang mana tubuh dari engkau menemukan kebenaran tentang Tuhan yang dijanjikan kepadamu?" Umar bertanya, "Engkau menyapa orang mati." Muhammad menjawab, "Mereka mendengar lebih baik daripada kamu, tetapi mereka tidak bisa membalasnya."[3]

Manusia sudah akan mengetahui nasibnya ketika mereka berada di barzakh. Apakah termasuk penghuni surga atau neraka. Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan baginya pintu surga, hawa sejuk surga akan mereka rasakan setiap pagi dan sore. Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka, pintu neraka pun akan dibukakan untuknya dan dia akan merasakan hawa panas neraka setiap pagi dan sore.

Al-Barra bin ’Azib menceritakan hadits yang panjang yang diriwayat Imam Ahmad tentang perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang mukmin yang akan meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat dengan membawa kain kafan dari surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas kepalanya dan memerintahkan roh yang baik untuk keluar dari jasadnya.

Selanjutnya disambut oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit. Penduduk langit dari kalangan malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah, kemudian Allah memerintahkan pada malaikat untuk mencatat kitab hamba-Nya ke dalam ’illiyiin dan dikembalikan rohnya ke Barzakh. Setelah dikembalikan lagi roh itu ke jasadnya dan datanglah dua malaikat, Munkar dan Nakir yang akan bertanya kepada sang mayat. Pertanyaan itu adalah;

  • "Siapa Tuhanmu?"
  • "Apa agamamu?"
  • "Siapa lelaki yang diutus kepadamu?"
  • "Siapa yang mengajarimu?"

Menurut syariat Islam, hanya orang yang beriman saja yang dapat menjawabnya dengan baik. Maka kemudian akan diberi alas dari surga, mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu dibukakan baginya pintu surga, dilapangkan dan diterangkan kuburnya. Sang mayat akan mendapat teman yang baik dengan wajah yang baik, pakaian yang baik dan aroma yang baik. Lelaki itu adalah gambaran dari amal perbuatannya selama hidup di dunia. Keadaan berubah sebaliknya jika si mayat adalah orang yang tidak beriman.

Azab Kubur[sunting | sunting sumber]

Azab Kubur menurut Ibnu Taimiyah menyelaraskan dengan para ulama lainnya, bahwa roh-roh orang beriman berada di surga, walaupun bersamaan dengan itu rohnya dikembalikan ke jasad, sama halnya dengan roh berada di jasad, tetapi rohnya naik ke langit seperti pada saat tidur. Adapun bahwa rohnya berada di surga itu berdasarkan hadits-hadits umum. Hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad dan ulama lainnya. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang umum dan hadits yang khusus mengenai tidur dan lain-lainnya. Mengenai azab kubur Mahzab Ahlusunah berpendapat bahwa azab kubur mengenai roh itu baik terpisah dari jasad atau berhubungan dengan jasad, sedangkan Ibnu Taimiyah berkata azab dan kenikmatan menimpa jasad dan jiwa sekaligus.

Hadits tentang azab kubur[sunting | sunting sumber]

Ada hadits yang menceritakan tentang siksa kubur, di antaranya adalah dari Ibnu Abbas. Ia berkata, Nabi Muhammad melewati salah satu dinding dari dinding-dinding Madinah atau Makkah, lalu dia mendengar suara dua orang manusia yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda, "Dua orang sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar." Kemudian dia bersabda, "Yang seorang tidak bertirai dalam berkencing dan yang lain berjalan dengan mencaci maki." Kemudian dia minta diambilkan pelepah kurma yang basah, lalu dibelah menjadi dua dan dia letakkan pada masing-masing kuburan itu satu belahan. Lalu dikatakan, "Wahai rasulullah, kenapakah engkau perbuat ini??" Dia bersabda, "Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belah ini belum kering?"[4]

Tiga kelompok di Barzakh[sunting | sunting sumber]

Pertanyaan tentang kenikmatan dan siksaan di Barzakh sangat rumit. Allah memutuskan segalanya menurut rencana-Nya sendiri, yang tentu saja didasarkan pada belas kasihan dan keadilan - keadilan untuk semua dan rahmat bagi orang-orang beriman. Jelas, setiap kasus ditangani dengan manfaatnya sendiri. Oleh karena itu, sangat sulit untuk menetapkan aturan yang tegas dan cepat. Namun, apa yang muncul dari tradisi Masumeen (as) dapat diringkas sebagai berikut: Jenis orang yang berbeda mendapatkan jenis perlakuan yang berbeda setelah kematian dan sebelum Hari Kebangkitan.

  • Pertama:

Ada orang-orang yang benar-benar beriman, sempurna dalam iman mereka, berbudi luhur dalam perbuatan mereka. Mereka menjalani kehidupan tanpa cela, dan jika ada kesalahan atau dosa (karena 'berbuat salah adalah manusia') masalah duniawi mereka (penyakit, kemiskinan, kematian orang terdekat dan terkasih, tetangga bermasalah atau pasangan yang bertindak dengan sewenang-wenang, dll.) dan / atau penderitaan pada saat kematian sudah cukup untuk dihitung sebagai pembalasan dan penebusannya.

Allah tahu bahwa mereka berhak mendapatkan kenikmatan. Namun, Hari Penghakiman belum tiba, dan mereka tidak bisa langsung dikirim ke surga. Menurut aturan Hukum, mereka harus dibiarkan tanpa kenikmatan apa pun sampai mereka dibangkitkan; tetapi Rahmat Allah menyatakan bahwa mereka tidak boleh dibiarkan dalam penundaan. Oleh karena itu, mereka ditanyai tentang keyakinan mereka, dan saat memberikan jawaban yang benar, mereka memasuki keadaan bahagia, yang memberi mereka kepuasan karena mengetahui bahwa masa depan mereka terjamin: Mereka menemukan kesenangan dan kebahagiaan di kuburan mereka, dan menunggu dengan penuh semangat untuk Hari Penghakiman.

  • Kedua:

Orang-orang kafir dan munafik yang dikonfirmasi, yang hidupnya tanpa perbuatan baik: Atau jika ada perbuatan baik, berkah duniawi (kesehatan, kekayaan, keluarga dan teman yang baik, prestise dan kekuasaan, dll.) dan / atau kemudahan di saat kematian adalah ganjaran yang cukup.

Allah tahu bahwa tempat mereka adalah Jahannam (Neraka): tetapi Dia tidak akan mengirim mereka ke sana sebelum Hari Penghakiman. Jadi, untuk memberi mereka gambaran sebelumnya tentang hukuman mereka, mereka ditanyai tentang keyakinan mereka, dan ketika mereka tidak memberikan jawaban yang benar, kuburan mereka diubah menjadi sel tahanan. Dan mereka berharap Kiamat tidak akan datang sama sekali.

Di sini harus dijelaskan bahwa kenikmatan atau siksaan di Barzakh berbeda dari surga atau neraka. Kenikmatan atau siksaan di Barzakh hanya untuk jiwa. Karena alasan inilah kita tidak melihat siapa pun yang diberi kenikmatan atau siksaan dalam kuburan. Dalam tradisi Masumeen (a.s.), ini disamakan dengan mimpi indah atau mimpi buruk. Orang yang sedang bermimpi melalui semua siksaan di dalam mimpi; tetapi orang yang duduk disampingnya tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Demikian pula, kebahagiaan dalam mimpi tidak diketahui orang lain sama sekali.

Tapi sekali lagi ini bukanlah aturan yang ketat. Beberapa pengecualian telah diamati ketika mayat ditemukan menikmati beberapa kenikmatan, misalnya (mawar surgawi diletakkan di dekat hidung) atau menjalani beberapa penyiksaan (kalajengking yang menyengat di jari kaki, misalnya). Tetapi ini adalah pengecualian yang membuktikan aturannya.

  • Ketiga:

Ini adalah dari mereka yang bukan orang percaya yang sempurna atau bukan orang percaya yang dikonfirmasi. Anak-anak, orang gila, mereka yang karena satu dan lain hal tidak dalam posisi untuk membedakan antara jalan yang benar dan yang salah, mereka yang begitu jauh dari lingkungan Islam sehingga mereka tidak menyadari kebenaran Islam, mereka yang tidak tahu tentang Islam tetapi pada saat yang sama bukanlah musuh Islam, mereka yang keyakinan agamanya tidak didasarkan pada pemahaman logis tetapi mereka hanya mengikuti apa yang diikuti oleh keluarganya; bahkan orang-orang kafir yang mencintai Nabi (s.a.w.) dan Ahlul-Bait (as), tanpa mengetahui bahwa mereka adalah Pembimbing Sejati yang diutus oleh Allah; semua orang seperti itu termasuk dalam kelompok ini.

Orang-orang seperti itu tidak akan ditanyai dan diperas dalam kubur. Mereka akan ditinggalkan dalam kondisi seperti tertidur lelap; dan Allah akan memutuskan tentang mereka pada Hari Penghakiman. Sampai saat itu, tidak ada kenikmatan maupun siksaan bagi mereka.

Setelah ketiga kelompok utama ini, masih tersisa satu kelompok lagi yang harus dijelaskan di sini untuk melengkapi gambarannya. Kelompok ini adalah dari mereka yang telah melakukan begitu banyak dosa yang tidak dapat dihapuskan oleh masalah duniawi dan penderitaan kematian. Nah, jika Allah memutuskan orang beriman seperti itu harus datang pada hari kiamat bersih dari semua noda dan bebas dari segala dosa, maka Dia dapat menempatkan orang itu di bawah siksaan yang telah dirujuk dalam Hadits Imam Ja'far as-Sadiq (as ) yang disebutkan sebelumnya: "Kami akan menjadi perantara anda pada Hari Penghakiman; tetapi, demi Allah, saya khawatir tentang anda saat anda berada di alam Barzakh."

Di sisi lain, jika Allah memutuskan untuk meninggalkan perkara ini dalam kerisauan hingga Kiamat, maka itu termasuk dalam kelompok ketiga. Bagaimanapun, semua ini tergantung pada Keadilan dan Rahmat Allah. Kita belum diberitahu lebih banyak untuk seluruh detail tentang semua kelompok.

Ini tentang kelompok pertama dan kedua (serta orang-orang beriman yang disebutkan terakhir yang akan dihukum di alam Barzakh) yang Nabi (s.a.w.) katakan: "Ketika seseorang meninggal, Kiamatnya dimulai." Dalam pengertian ini, Barzakh disebut "Kiamat Sugra" (Kiamat Kecil).

Keadaan roh dalam Barzakh[sunting | sunting sumber]

  • Roh nabi dan rasul

Roh mereka berada di tempat yang paling baik dan paling tinggi.[5]

  • Roh syuhada

Roh para syuhada berada di tengah-tengah burung hijau dan memiliki lampu yang tergantung di langit, roh itu dapat keluar dari surga sekehendaknya, kemudian bisa kembali ke pelita tersebut, menurut kisah dari Masruq ketika bertanya kepada Abdullah Bin Mas’ud.[6] Firman Allah dalam Ali Imran: 169, “ Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, tetapi mereka itu di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (Ali Imran: 169).

Roh sebagian syuhada dan bukan semua syuhada, sebab di antara meraka ada yang rohnya tertahan karena memiliki hutang yang belum ditunaikan. Dari Abdullah Bin Jahsy diceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Muhammad dan bertanya, ”Ya rasulullah apa yang terjadi padaku jika akau terbunuh dijalan Allah?” Muhammad menjawab, “Syurga,” Ketika orang berpaling, Dia berpaling” kecuali ada hutang, baru saja Jibril memberi tahu aku.”

  • Roh mukmin yang saleh

Roh mereka seperti burung yang begelantungan di pohon surga sampai dikembalikan oleh Allah ke jasadnya pada hari kiamat.[7] Perbedaan antara roh para syuhada dengan roh kaum mukmin adalah bahwa roh syuhada berada di sangkar burung hijau sambil terlepas berjasan ke sana kemari di taman syurga, lalu kembali ke lampu pelita yang tergantung di 'Arasy, sedangkan roh kaum mukmin berada di sangkar burung tergantung di surga tetapi tidak berjalan ke sana-ke sini di surga.

  • Roh orang maksiat

Nash-nash yang menjelaskan azab yang diterima oleh orang yang suka maksiat telah dikemukakan. Orang yang kebohongannya merajalela di azab dengan besi yang ujungnya bengkok yang dimasukan kemulutnya sampai ke tengkuk. Kepala orang yang meninggalkan salat wajib karena tidur, kepalanya akan dihancurkan dengan batu. Bagi para Pezina Laki-laki dan Perempuan akan disiksa di sebuah lubang seperti tungku dari tembikar untuk membakar roti yang bagian atasnya sempit dan di bawahnya luas, sementara api menyala-nyala di bawahnya. Orang yang suka makan Riba berenang di lautan darah dan di tepi lautan darah itu ada orang yang melemparinya dengan batu. Demikian juga dengan orang yang suka mengadu domba di antara manusia dan juga orang yang menyembunyikan harta ghanimah dan lainnya.

  • Roh orang kafir

Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa setelah melukiskan keadaan orang beriman sampai menempati tempatnya di surga, Muhammad menyebut keadaan orang kafir beserta sekarat yang dialaminya. Setelah rohnya dicabut, roh yang keluar dari jasad orang kafir baunya busuk sampai para malaikat yang membawanya ke pintu bumi berteriak, “Alangkah busuknya roh ini.” Kemudian mereka membawanya bertemu dengan roh-roh kafir lainnya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Masalah Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nankir, Azab dan Nikmat Alam Kubur
  2. ^ "Barzakh (Barrier) which they do not transgress - A life in the grave"[pranala nonaktif permanen]
  3. ^ Hadits riwayat Imam Bukhari.
  4. ^ Hadits riwayat Imam Bukhari.
  5. ^ Aisyah mendengar Muhammad ﷺ dalam detik-detik terakhir kehidupannya mengucapkan doa, “Ya Allah tempatkanlah aku di tempat tertinggi (Ar Rafiq al A’la).” (H.R. Bukhari).
  6. ^ Masruq bertanya kapada Abdullah Bin Mas’ud menjawab, roh mereka berada di tengah-tengah burung hijau dan memiliki lampu pelita yang tergantung di langit. Roh itu dapat keluar dari surga sekehendak dirinya, kemudian kembali ke pelita tersebut.”(H.R. Imam Muslim)
  7. ^ Dalam hadits diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, Muhammad bersabda, “Jika roh seorang muslim itu laksana burung yang bergelantungan di pohon surga sampai Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari kiamat.”(H.R. Ahmad).

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]