Kehidupan setelah kematian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Templat:Antropologi agama

Kehidupan setelah kematian (terkadang disebut juga akhirat atau alam baka) adalah konsep tentang suatu alam, atau alam itu sendiri (baik bersifat fisik maupun transendental), yang di dalamnya suatu bagian esensial dari kesadaran atau identitas seorang individu berlanjut keberadaannya setelah kematian tubuhnya. Menurut berbagai gagasan tentang kehidupan setelah kematian, aspek penting dari seorang individu yang hidup setelah kematian jasmani kemungkinan adalah beberapa elemen parsial, ataupun keseluruhan jiwa atau roh, dari individu tersebut, yang dibawanya dan memberikan identitas diri. Keyakinan pada kehidupan setelah kematian, yang mungkin bersifat naturalis atau supranatural, kontras dengan keyakinan pada ketiadaan atau keterlupaan kekal.

Dalam beberapa pandangan populer, keberadaan yang berlanjut ini seringkali terjadi dalam alam rohani, dan dalam pandangan populer lainnya, seorang individu kemungkinan dilahirkan kembali ke dalam dunia ini serta memulai kembali siklus hidup yang lain, mungkin tanpa ingatan akan apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Menurut pandangan yang terakhir disebutkan itu, kematian dan kelahiran kembali tersebut dapat terjadi berulang-ulang secara terus menerus sampai sang individu diperkenankan masuk ke suatu Dunia lain atau alam rohani. Pandangan-pandangan utama mengenai kehidupan setelah kematian berasal dari agama, esoterisme, dan metafisika.

Sejumlah sistem kepercayaan, seperti yang terdapat dalam tradisi Abrahamik, berpegang pada pandangan bahwa orang yang telah meninggal dunia pergi menuju suatu alam keberadaan tertentu setelah kematian jasmaninya, sebagaimana ditentukan oleh Tuhan, suatu dewa/dewi, atau penghakiman ilahi lainnya, berdasarkan keyakinan atau tindakan mereka selama hidupnya di dunia ini. Sebaliknya, dalam sistem reinkarnasi, seperti yang terdapat dalam agama-agama India, hakikat dari keberadaan lanjutan tersebut ditentukan langsung oleh tindakan-tindakan sang individu dalam kehidupannya yang terakhir, bukan ditentukan oleh keputusan dari kodrat atau makhluk lainnya.

Dalam model-model metafisik yang berbeda[sunting | sunting sumber]

Dalam model-model metafisik, penganut teisme umumnya meyakini beberapa jenis kehidupan setelah kematian yang menanti orang-orang setelah mereka meninggal dunia. Penganut beberapa agama yang umumnya non-teistik, cenderung meyakini adanya suatu kehidupan setelah kematian, tetapi tanpa merujuk pada suatu dewa/dewi atau Tuhan. Kaum Saduki merupakan salah satu sekte Yahudi kuno yang pada dasarnya percaya bahwa Allah itu ada, tetapi mereka tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian.

Banyak agama, entah meyakini keberadaan jiwa dalam dunia lain seperti Kekristenan, Islam, dan banyak sistem keyakinan pagan, atau reinkarnasi seperti banyak rupa agama Hindu dan Buddha, percaya bahwa status seseorang dalam kehidupan setelah kematian merupakan suatu ganjaran (balas jasa ataupun hukuman) atas perilaku mereka selama hidupnya di dunia ini.

Reinkarnasi[sunting | sunting sumber]

Reinkarnasi mengacu pada suatu konsep kehidupan setelah kematian yang dianut oleh kaum Hindu, Buddhis, Jain, Sikh, Rosikrusian, Teosofis, Spiritis, dan Wiccan. Reinkarnasi juga merupakan suatu keyakinan yang dideskripsikan dalam Yudaisme Kabbalistik sebagai gilgul neshamot (Reinkarnasi Jiwa-Jiwa).[1] Dalam reinkarnasi, perkembangan rohani berlanjut setelah kematian saat orang yang telah wafat memulai kehidupan duniawi lainnya dalam dunia fisik, memperoleh suatu tingkatan superior kesadaran dan altruisme dengan cara reinkarnasi beruntun. Suksesi tersebut mengarah pada suatu pembebasan final.

Salah satu konsekuensi keyakinan-keyakinan reinkarnasi adalah bahwa kehidupan orang saat ini merupakan suatu kehidupan setelah kematian sekaligus kehidupan sebelum kematian. Menurut keyakinan-keyakinan ini, peristiwa-peristiwa dalam kehidupan orang pada saat ini merupakan akibat dari tindakan-tindakan yang diambil dalam kehidupan sebelumnya, atau Karma.

Kaum Rosikrusian,[2] sebagaimana mereka yang pernah memiliki pengalaman di ambang kematian, berbicara tentang suatu periode tinjauan hidup yang terjadi seketika setelah kematian dan sebelum memasuki alam keberadaan (sebelum rantai perak diputuskan)—yang diikuti oleh suatu penghakiman—dalam kehidupan setelah kematian, yang lebih seperti sebuah Tinjauan Final atau Laporan Akhir atas kehidupan seseorang.[3]

Surga dan neraka[sunting | sunting sumber]

Agama-agama Abrahamik pada umumnya berpandangan bahwa setelah kehidupannya di dunia ini berakhir orang akan pergi menuju neraka ataupun surga tergantung pada perbuatan atau iman seseorang di Bumi, atau predestinasi dan pemilihan tanpa syarat, atau juga menuju suatu keadaan peralihan untuk menantikan Kebangkitan orang mati.[butuh rujukan] Dalam kebanyakan denominasi,[butuh rujukan] surga merupakan suatu kondisi balas jasa atau penghargaan bagi orang-orang yang dibenarkan setelah mereka meningggal dunia, yang menurut tradisi didefinisikan sebagai persatuan abadi dengan Allah.

Berbeda dengan surga, neraka merupakan suatu kondisi hukuman dan siksaan bagi orang-orang jahat, yang menurut tradisi didefinisikan sebagai keterpisahan abadi dari Allah serta keterpenjaraan dengan para malaikat yang jatuh dan jiwa lainnya yang tidak dibenarkan.

Limbo[sunting | sunting sumber]

Terlepas dari pandangan populer, Limbo, yang dielaborasi oleh para teolog pada Abad Pertengahan, tidak pernah diakui sebagai suatu dogma Gereja Katolik Roma, namun kadang-kadang menjadi suatu konsep teologis yang sangat populer di dalam Gereja. Limbo adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa jiwa-jiwa yang dipandang tidak bersalah dan tidak dibaptis, misalnya para bayi, para individu luhur yang hidup sebelum Yesus Kristus lahir di bumi, atau mereka yang meninggal dunia sebelum baptisan, tidak secara tepat berada dalam Surga atau Neraka. Oleh karena itu, jiwa-jiwa tersebut tidak mengalami visiun beatifis, namun juga tidak dikenakan hukuman, karena mereka tidak dipersalahkan atas dosa pribadi apapun kendati mereka belum menerima baptisan, sehingga masih menanggung beban dosa asal. Maka mereka umumnya dipandang berada dalam suatu kondisi kebahagiaan alami/natural, bukan supranatural, hingga akhir zaman.

Dalam beberapa denominasi Kristen lainnya, Limbo dideskripsikan sebagai suatu tempat peralihan atau keadaan penahanan dalam keterlupaan dan terabaikan.[4]

Purgatorium[sunting | sunting sumber]

Gagasan tentang purgatorium terutama dikaitkan dengan Gereja Katolik. Dalam Gereja Katolik, semua orang yang meninggal dunia dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, namun masih belum dimurnikan secara sempurna, memang terjamin keselamatan kekal mereka; tetapi wafatnya mereka menjalani pemurnian, untuk mencapai kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kebahagiaan surga ataupun pemurnian akhir orang-orang yang dipilih, yang sama sekali berbeda dengan hukuman bagi orang-orang yang terkutuk. Tradisi Gereja, dengan merujuk pada teks-teks tertentu dalam kitab suci, berbicara tentang suatu "api penyucian" meski tidak selalu disebut 'purgatorium' (kata Latin yang secara harfiah berarti pembersihan, pemurnian, penyucian).

Kalangan Anglikan dengan tradisi Anglo-Katolik umumnya juga memegang keyakinan ini. John Wesley, pendiri Metodisme, percaya pada adanya suatu keadaan peralihan antara kematian jasmani dan kebangkitan orang mati serta pada kemungkinan "terus bertumbuh dalam kekudusan di sana", namun Metodisme tidak secara resmi menegaskan keyakinan ini dan sejumlah kalangan Metodis menolak kemungkinan diperlukannya bantuan melalui doa bagi mereka yang mungkin berada dalam keadaan tersebut.[5]

Agama Abrahamik[sunting | sunting sumber]

Yudaisme[sunting | sunting sumber]

She'ol[sunting | sunting sumber]

Tulisan yang kemudian digabungkan ke dalam Alkitab Ibrani menyebut Sheol ("dunia orang mati") sebagai kediaman orang yang telah meninggal dunia.[6] Secara tradisi, interpretasi ulang penulis Kristen adalah bahwa kata Ibrani Sheol dapat berarti banyak hal, termasuk "kubur", "tempat yang dimaksudkan untuk hal tertentu", "tempat penantian", dan "tempat penyembuhan". Kata tersebut juga dapat berarti "jauh di dalam",[butuh rujukan] sebagaimana digunakan ketika bumi terbuka dan membinasakan Korah, Datan, dan Abiram yang memberontak beserta 250 pengikut mereka (Bilangan 16:31-33). Orang mungkin memandang hal ini secara harfiah sebagai implikasi bahwa Sheol merupakan dunia bawah tanah, meski dengan mudah dapat dibaca secara harfiah untuk menandakan suatu gempa bumi atau terbelahnya bumi.

1 Samuel 29:3-19: "Adapun Samuel sudah mati. ... Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: 'Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; ... Jawabnya: 'Panggillah Samuel supaya muncul kepadaku.' ... Perempuan itu menjawab Saul: 'Aku melihat sesuatu yang ilahi muncul dari dalam bumi.' Maka tahulah Saul, bahwa itulah Samuel. ... Sesudah itu berbicaralah Samuel kepada Saul: 'Mengapa engkau mengganggu aku dengan memanggil aku muncul?' Kata Saul: 'Aku sangat dalam keadaan terjepit ...' Lalu berbicaralah Samuel: 'Mengapa engkau bertanya kepadaku, padahal TUHAN telah undur dari padamu dan telah menjadi musuhmu? ... dan besok engkau serta anak-anakmu sudah ada bersama-sama dengan daku. ..."

Pengkhotbah 3:19-21: "Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia. Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu. Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi."

Pengkhotbah 9:3-6: "Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati. Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari."

Demikian pula Mazmur 146:3-4 menyatakan: "Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya."

Dalam Ayub 14:10,12,14a disebutkan: "Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? ... demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya. ... Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?"

Olam Haba[sunting | sunting sumber]

Talmud menyajikan sejumlah pemikiran yang berhubungan dengan kehidupan setelah kematian. Para otoritas Talmudik bersepakat bahwa setiap orang bukan Yahudi yang luhur dan saleh akan mendapat bagian dalam dunia yang akan datang. Setelah kematian jasmani, jiwa menghadapi penghakiman. Mereka yang telah menjalani kehidupan murni segera masuk ke dalam "Olam Haba" atau Dunia Akan Datang. Kebanyakan jiwa tidak segera memasuki Dunia Akan Datang, tetapi mengalami suatu periode peninjauan atas tindakan-tindakan duniawi mereka dan mereka disadarkan akan apa yang telah mereka lakukan dengan salah. Beberapa kalangan memandang periode ini sebagai suatu "persekolahan kembali", dengan diperolehnya kebijaksanaan oleh jiwa saat kesalahan-kesalahannya ditinjau. Kalangan lainnya memandang periode ini mencakup ketidaknyamanan secara rohani atas kesalahan-kesalahan di masa lalu. Pada akhir periode ini, tidak lebih dari 1 tahun, jiwa kemudian mendiami Dunia Akan Datang. Walaupun ketidaknyamanan-ketidaknyamanan tercakup dalam konsepsi-konsepsi Yahudi tertentu mengenai kehidupan setelah kematian, konsep "hukuman kekal", yang umum dalam agama-agama lainnya, bukan merupakan prinsip keyakinan dalam kehidupan setelah kematian Yahudi. Menurut Talmud, kemusnahan jiwa dikhususkan bagi suatu kelompok yang jauh lebih kecil yang terdiri dari para pemimpin jahat dan durjana, baik yang perbuatan-perbuatannya sangat jahat dan jauh di luar norma, ataupun mereka yang memimpin kelompok besar massa penjahat ekstrem.[7][8]

Maimonides mendeskripsikan Olam Haba ("Dunia yang Akan Datang") dalam hal-hal rohani, menurunkan status kebangkitan fisik yang dinubuatkan menjadi suatu keajaiban masa mendatang, tidak berkaitan dengan kehidupan setelah kematian atau era Mesianik. Menurut Maimonides, suatu kehidupan setelah kematian terus berlanjut bagi jiwa setiap manusia, saat jiwa terpisah dari tubuhnya yang di dalamnya jiwa "ditempatkan" selama keberadaan duniawinya.

Zohar mendeskripsikan Gehenna bukan sebagai suatu tempat hukuman bagi orang fasik, tetapi sebagai suatu tempat penyucian rohani bagi jiwa-jiwa.[9]

Reinkarnasi dalam tradisi Yahudi[sunting | sunting sumber]

Meskipun tidak terdapat rujukan mengenai reinkarnasi di dalam Talmud atau tulisan-tulisan sebelumnya,[10] menurut para rabi seperti Avraham Arieh Trugman, reinkarnasi dikenal sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam tradisi Yahudi. Trugman menjelaskan bahwa, melalui tradisi lisan, makna dari Taurat, semua kisah dan perintah yang terdapat dikandungnya, dikenal dan dipahami. Karya klasik mistisisme Yahudi,[11] Zohar, dikutip secara bebas dalam semua pembelajaran Yahudi; gagasan tentang reinkarnasi disebutkan berulang kali dalam Zohar. Trugman menyatakan bahwa, selama lima abad terakhir, konsep reinkarnasi, yang hingga saat itu merupakan suatu tradisi tersembunyi di dalam Yudaisme, dipaparkan secara terbuka.[11]

Shraga Simmons berkomentar bahwa dalam Alkitab sendiri, gagasan tentang reinkarnasi tersirat dalam Ul. 25:5-10, Ul. 33:6, dan Yes. 22:14, 65:6.[12]

Yirmiyahu Ullman menuliskan bahwa reinkarnasi merupakan suatu "keyakinan kuno, [termasuk] arus utama dalam Yudaisme". Zohar secara panjang lebar dan sering menyebutkan reinkarnasi. Onkelos, seorang komentator otoritatif dan konver yang dibenarkan dari periode yang sama, menjelaskan kalau ayat "Biarlah Ruben hidup dan jangan mati ..." (Ulangan 33:6) berarti bahwa Ruben seharusnya secara langsung layak untuk Dunia Akan Datang, dan tidak perlu wafat lagi sebagai akibat dari reinkarnasi. Seorang Kabbalis, komentator, dan akademisi Taurat yang bernama Nahmanides (Ramban, 1195–1270) menghubungkan penderitaan Ayub dengan reinkarnasi, sebagaimana diisyaratkan dalam Ayub 33:29-30: "Sesungguhnya, semuanya ini dilakukan Allah dua, tiga kali terhadap manusia: mengembalikan nyawanya dari liang kubur, sehingga ia diterangi oleh cahaya hidup."[13]

Reinkarnasi, disebut gilgul, menjadi populer dalam kepercayaan rakyat, dan ditemukan dalam banyak literatur Yiddi di kalangan Yahudi Ashkenazi. Di antara beberapa kaum kabbalis, dikemukakan bahwa sejumlah jiwa manusia dapat berakhir dalam kondisi reinkarnasi ke tubuh non-manusia. Gagasan-gagasan tersebut ditemukan di sejumlah karya Kabbalistik dari abad ke-13, dan juga di antara banyak mistikus pada akhir abad ke-16. Koleksi awal kisah kehidupan Baal Shem Tov yang disusun oleh Martin Buber memuat beberapa rujukan tentang orang-orang yang menjelma kembali (reinkarnasi) dalam sejumlah kehidupan secara berturutan.[14]

Di antara para rabi terkenal (umumnya non-kabbalis atau anti-kabbalis) yang menolak gagasan tentang reinkarnasi misalnya Saadia Gaon, David Kimhi, Hasdai Crescas, Yedayah Bedershi (awal abad ke-14), Joseph Albo, Abraham ibn Daud, Asher ben Jehiel, dan Leone dari Modena. Saadia Gaon, dalam Emunot ve-Deot (bahasa Ibrani: "keyakinan-keyakinan dan pendapat-pendapat"), mengakhiri Bagian VI dengan sanggahan terhadap doktrin metempsikosis (reinkarnasi). Saat menyangkal konsep reinkarnasi, Saadia Gaon lebih lanjut menyatakan bahwa kaum Yahudi yang memegang keyakinan akan reinkarnasi telah mengadopsi keyakinan-keyakinan non-Yahudi. Kendati tidak semua kaum Yahudi saat ini percaya pada reinkarnasi, namun keyakinan akan reinkarnasi bukannya tidak lazim di antara banyak kaum Yahudi, termasuk Yahudi Ortodoks.[butuh rujukan]

Rabi terkenal lainnya yang merupakan reinkarnasionis misalnya Yonassan Gershom, Abraham Isaac Kook, akademisi Talmud Adin Steinsaltz, DovBer Pinson, David M. Wexelman, dan Zalman Schachter.[15] Reinkarnasi dikutip oleh para komentator otoritatif biblika seperti Ramban (Nahmanides), Menachem Recanti, dan Rabbenu Bachya.[butuh rujukan]

Di antara banyak volume Isaac Luria, yang kebanyakan diturunkan dari pena murid utamanya, Hayyim ben Joseph Vital, terdapat tinjauan yang menjelaskan isu-isu terkait reinkarnasi. Karyanya yang berjudul Shaar HaGilgulim, "Pintu-Pintu Gerbang Reinkarnasi", merupakan sebuah buku yang ditujukan secara khusus untuk subjek reinkarnasi dalam agama Yahudi.

Rabi Naftali Silberberg dari Institut Pembelajaran Yahudi Rohr mencatat bahwa, "Banyak gagasan yang berasal dari sistem-sistem keyakinan dan agama lain yang telah dipopulerkan dalam media dan diambil begitu saja oleh orang-orang Yahudi yang bersahaja."[16]

Kekristenan[sunting | sunting sumber]

Kekristenan arus utama mengakukan keyakinan dalam Pengakuan Iman Nicea, dan mengandung frasa: "Aku menantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan pada zaman yang akan datang (versi Katolik: hidup di akhirat)." Eskatologi Kristen berhubungan dengan kematian, suatu keadaan antara, Surga, Neraka, Kedatangan Kedua Yesus Kristus, kebangkitan orang mati, suatu pengangkatan, suatu kesusahan, Milenium, akhir dunia, penghakiman terakhir, suatu langit yang baru dan suatu bumi yang baru, serta penggenapan akhir dari semua rencana Allah. Ayat-ayat eskatologis ditemukan dalam banyak bagian Alkitab, terutama Kitab Yesaya, Daniel, Matius 24, Matius 25, dan Wahyu. Meskipun hukuman-hukuman menjadi bagian dari sejumlah konsepsi Kristen mengenai kehidupan setelah kematian, konsep umum "hukuman kekal" merupakan keyakinan prinsip Kristen dalam kehidupan setelah kematian.

Ketika ditanya oleh kaum Saduki tentang kebangkitan orang mati (dalam konteks terkait siapa yang menjadi suami dari seorang perempuan yang telah menikah beberapa kali dalam hidupnya), Yesus menjelaskan mengenai tidak relevannya pernikahan setelah kebangkitan karena orang yang dibangkitkan akan (setidaknya dalam hal ini) hidup seperti para malaikat dalam surga.[17]

Yesus juga menyatakan bahwa waktunya akan tiba ketika orang yang telah meninggal dunia akan mendengar suara Putra Allah, dan semua orang dalam kubur akan keluar, mereka yang telah melakukan perbuatan-perbuatan baik dibangkitkan kembali dalam kehidupan, tetapi mereka yang telah melakukan perbuatan-perbuatan jahat dibangkitkan kembali untuk dihukum.[18] Menurut Injil Matius, saat Yesus wafat kuburan-kuburan terbuka, dan saat Yesus bangkit kembali banyak orang kudus yang telah wafat muncul dari kuburan mereka dan pergi ke "kota kudus" (mungkin Yerusalem Baru).[19] Tidak ada laporan Perjanjian Baru lainnya yang mengisahkan peristiwa tersebut.

Hari Terakhir: Yesus membandingkan kerajaan surga, di mana Ia memerintah, dengan jala yang dilemparkan ke laut dan menghimpun segala jenis ikan. Setelah penuh, jala itu ditarik orang ke pantai, lalu ikan yang baik disortir dan ditaruh dalam tempayan, namun ikan yang buruk dibuang. Tertulis bahwa hal serupa akan terjadi pada akhir zaman, yang dikenal sebagai Hari Terakhir. Para malaikat akan memisahkan orang jahat dari orang yang dibenarkan dan menempatkan mereka di dalam "dapur api". Kemudian orang-orang yang dibenarkan akan bercahaya seperti matahari di dalam kerajaan Bapa mereka.

Kitab Henokh mendeskripsikan bahwa Sheol terbagi menjadi empat kompartemen untuk 4 jenis arwah: orang kudus yang taat yang menanti kebangkitan di dalam Firdaus, orang yang sekadar saleh yang menanti pahala mereka, orang fasik yang menunggu hukuman, serta orang fasik yang telah dihukum dan tidak akan dibangkitkan pada Hari Penghakiman.[20] Perlu dicatat bahwa Kitab Henokh dipandang apokrif oleh kebanyakan denominasi Kristen dan semua denominasi Yudaisme.

Kitab 2 Makabe menyajikan suatu laporan yang jelas mengenai arwah yang menantikan penghakiman dan kebangkitan di masa mendatang, beserta persembahan dan doa bagi arwah untuk menghapus beban yang diakibatkan oleh dosa.

Inferno karya Domenico Beccafumi, suatu visiun Kristen tentang neraka.

Penulis Injil Lukas menceritakan kisah Lazarus dan orang kaya, yang memperlihatkan orang-orang dalam Hades yang sedang menantikan kebangkitan baik dalam keadaan yang nyaman ataupun tersiksa. Penulis Kitab Wahyu menggambarkan tentang Allah dan para malaikat melawan Setan dan roh-roh jahat dalam suatu pertempuran epik pada akhir zaman saat semua jiwa dihakimi. Ada disebutkan tubuh-tubuh para nabi terdahulu yang seperti hantu, dan Transfigurasi.

Kisah Paulus dan Tekla, yang dipandang non-kanonik, berbicara tentang keampuhan doa bagi orang yang telah meninggal dunia, sehingga mereka dapat "dipindahkan ke suatu keadaan kebahagiaan".[21]

Hippolitus dari Roma menggambarkan "dunia bawah" (Hades) sebagai suatu tempat kediaman arwah yang dibenarkan, menantikan kebangkitan mereka dalam pangkuan Abraham, bergembira karena prospek masa depan mereka, sementara orang-orang yang tidak dibenarkan tersiksa memandang "lautan api yang tak terpadamkan" yang ke dalamnya mereka akan dicampakkan.

Gregorius dari Nyssa membahas kemungkinan yang telah lama dipercaya akan adanya pemurnian jiwa setelah kematian jasmani.[22]

Gregorius Agung mengulangi konsep tersebut, yang diartikulasi lebih dari satu abad sebelumnya oleh Gregorius dari Nyssa, bahwa orang yang diselamatkan mengalami pemurnian setelah ia meninggal dunia, sehubungan dengan yang ia tuliskan tentang "api-api purgatorial".

Kata benda "purgatorium" (kata Latin yang berarti tempat pembersihan[23]) digunakan pertama kali untuk mendeskripsikan suatu keadaan pemurnian yang menyakitkan atas orang-orang yang diselamatkan setelah kehidupan di dunia ini. Kata yang sama dalam bentuk kata sifat (purgatorius -a -um, pembersihan), yang terlihat juga dalam tulisan non-religius,[24] telah digunakan oleh kalangan Kristen seperti Agustinus dari Hippo dan Paus Gregorius I (Gregorius Agung) untuk mengacu pada suatu pembersihan setelah kematian jasmani.

Selama Abad Pencerahan, para teolog dan filsuf menyajikan beragam filosofi dan keyakinan. Salah satu contoh penting yaitu Emanuel Swedenborg yang menulis sekitar 18 karya teologis yang mendeskripsikan secara rinci hakikat kehidupan setelah kematian menurut apa yang ia klaim sebagai pengalaman-pengalaman rohani, di antara karyanya yang terpenting misalnya Surga dan Neraka.[25] Laporannya tentang kehidupan itu mencakup berbagai topik, seperti pernikahan di dalam surga (di mana semua malaikat 'menikah'), anak-anak di dalam surga (di mana mereka 'dibesarkan' oleh orang tua yang adalah malaikat), ruang dan waktu di dalam surga (sama sekali tidak ada), proses kebangunan setelah kematian dalam Dunia Roh (suatu tempat di pertengahan jalan antara Surga dan Neraka serta tempat orang pertama kali bangun setelah kematian), diizinkannya orang memilih seturut kehendak bebasnya antara Surga atau Neraka (bukan dikirimkan ke salah satunya oleh Allah), keabadian Neraka (orang dapat meninggalkannya tetapi tidak akan pernah mau meninggalkannya), dan bahwa para malaikat ataupun roh jahat sebelumnya adalah orang-orang di bumi.[25]

Di sisi lain, Abad Pencerahan menghasilkan filosofi-filosofi yang lebih rasionalis seperti deisme. Banyak pemikir bebas deis berpandangan bahwa keyakinan akan adanya suatu kehidupan setelah kematian beserta dengan penghargaan dan hukuman merupakan suatu kebutuhan dari akal dan moral yang baik.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) "Gilgul Neshamot - Reincarnation of Souls". Projectmind.org. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  2. ^ (Inggris) Max Heindel, The Rosicrucian Christianity Lectures (The Riddle of Life and Death), 1908, ISBN 0-911274-84-7
  3. ^ (Inggris) Max Heindel, Death and Life in PurgatoryLife and Activity in Heaven
  4. ^ (Inggris) "limbo - definition of limbo by the Free Online Dictionary, Thesaurus and Encyclopedia". Thefreedictionary.com. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  5. ^ (Inggris) Ted Campbell, Methodist Doctrine: The Essentials (Abingdon 1999), quoted in Feature article by United Methodist Reporter Managing Editor Robin Russell and in FAQ Belief: What happens immediately after a person dies?
  6. ^ (Inggris) Harris, Stephen. Understanding the Bible.
  7. ^ (Inggris) "Tractate Sanhedrin: Interpolated Section: Those Who have no Share in the World to Come". Sacred-texts.com. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  8. ^ (Inggris) "Jehoiakim". Jewishvirtuallibrary.org. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  9. ^ (Inggris) "soc.culture.jewish FAQ: Jewish Thought (6/12)Section - Question 12.8: What do Jews say happens when a person dies? Do Jews believe in reincarnation? In hell or heaven? Purgato". Faqs.org. 2012-08-08. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  10. ^ Saadia Gaon in Emunoth ve-Deoth Section vi
  11. ^ a b Reincarnation in the Jewish Tradition di YouTube
  12. ^ (Inggris) "Ask the Rabbi - Reincarnation". Judaism.about.com. 2009-12-17. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  13. ^ (Inggris) Yirmiyahu, Rabbi (2003-07-12). "Reincarnation « Ask! « Ohr Somayach". Ohr.edu. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  14. ^ (Jerman) Martin Buber, "Legende des Baalschem" dalam Die Chassidischen Bücher, Hellerau 1928, khususnyaDie niedergestiegene Seele
  15. ^ (Inggris) "Reincarnation and the Holocaust FAQ". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-07-16. 
  16. ^ (Inggris) "Where does the soul go? New course explores spiritual existence". Middletown, CT. West Hartford News. October 14, 2015. 
  17. ^ Matius 22:23-33
  18. ^ (Inggris) "The New American Bible - IntraText". Vatican.va. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  19. ^ Matius 27:50-54
  20. ^ (Inggris) Fosdick, Harry Emerson. A guide to understanding the Bible. New York: Harper & Brothers. 1956. page 276.
  21. ^ (Inggris) Acts of Paul and Thecla 8:5
  22. ^ (Inggris) He wrote that a person "may afterward in a quite different manner be very much interested in what is better, when, after his departure out of the body, he gains knowledge of the difference between virtue and vice and finds that he is not able to partake of divinity until he has been purged of the filthy contagion in his soul by the purifying fire" (emphasis added)—Sermon on the Dead, AD 382, quoted in The Roots of Purgatory Diarsipkan Mei 27, 2007 di Wayback Machine
  23. ^ (Inggris) "purgatory". The Columbia Electronic Encyclopedia, Sixth Edition. Columbia University Press., 2003. Answers.com 06 Jun. 2007.
  24. ^ (Inggris) "Charlton T. Lewis, Charles Short, ''A Latin Dictionary''". Perseus.tufts.edu. Diakses tanggal 2014-03-08. 
  25. ^ a b (Inggris) "Swedenborg, E. ''Heaven and its Wonders and Hell. From Things Heard and Seen'' (Swedenborg Foundation, 1946)". Swedenborgdigitallibrary.org. Diakses tanggal 2014-03-08. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • (Inggris) Death and Afterlife: Perspectives of World Religions edited by Hiroshi Obayashi, Praeger, 1991.
  • (Inggris) Beyond Death: Theological and Philosophical Reflections on Life after Death edited by Dan Cohn-Sherbok and Christopher Lewis, Pelgrave-MacMillan, 1995.
  • (Inggris) The Islamic Understanding of Death and Resurrection by Jane Idelman Smith and Yazbeck Haddad, Oxford UP, 2002.
  • (Inggris) Life After Death: A History of the Afterlife in Western Religion by Alan F. Segal, Doubleday, 2004.
  • (Inggris) Brain & Belief: An Exploration of the Human Soul by John J. McGraw, Aegis Press, 2004.
  • (Inggris) Beyond the Threshold: Afterlife Beliefs and Experiences in World Religions by Christopher M. Moreman, Rowman & Littlefield, 2008.
  • (Inggris) Is there an afterlife: a comprehensive overview of the evidence by David Fontana, O Books 2005.
  • (Inggris) Death and the Afterlife, by Robert A. Morey. Minneapolis, Minn.: Bethany House Publishers, 1984. 315 p. ISBN 0-87123-433-5
  • (Inggris) Conceptions of the Afterlife in Early Civilizations: Universalism, Constructivism and Near-Death Experience by Gregory Shushan, New York & London, Continuum, 2009. ISBN 978-0-8264-4073-0.
  • (Inggris) The Myth of an Afterlife: The Case against Life After Death edited by Michael Martin and Keith Augustine, Rowman & Littlefield, 2015. ISBN 978-0-8108-8677-3.
  • (Inggris) A Traveler's Guide to the Afterlife: Traditions and Beliefs on Death, Dying, and What Lies Beyond by Mark Mirabello, Ph.D. Inner Traditions. Release Date : September 26, 2016 ISBN 9781620555972

Pranala luar[sunting | sunting sumber]