Keselamatan (agama)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Keselamatan (bahasa Inggris: salvation; bahasa Latin: salvatio; bahasa Yunani: 'sōtēria'; bahasa Ibrani: yasha[1]) adalah keadaan diselamatkan atau dilindungi dari bahaya[2] ataupun keadaan diselamatkan atau dilepaskan dari situasi tertentu yang mengerikan.[3] Dalam agama, keselamatan dinyatakan sebagai penyelamatan jiwa dari dosa dan konsekuensinya.[4]

Studi akademis mengenai keselamatan disebut soteriologi.

Makna[sunting | sunting sumber]

Dalam agama, keselamatan adalah diselamatkannya jiwa seseorang dari dosa dan konsekuensi-konsekuensinya.[5] Hal ini juga dapat disebut "pembebasan" atau "penebusan" dari dosa dan akibat-akibatnya.[6] Keselamatan dipandang disebabkan oleh rahmat dari Tuhan, oleh kehendak bebas serta usaha-usaha pribadi melalui doa dan asketisme, ataupun oleh gabungan dari keduanya. Agama-agama seringkali menekankan perlunya usaha-usaha pribadi—misalnya pertobatan dan asketisme—serta tindakan ilahi (yaitu rahmat atau kasih karunia).

Agama Abrahamik[sunting | sunting sumber]

Yudaisme[sunting | sunting sumber]

Dalam Yudaisme kontemporer, penebusan (bahasa Ibrani: ge'ulah) mengacu pada Allah yang menebus bangsa Israel dari berbagai tempat pengasingan atau pembuangan mereka.[7] Ini termasuk penebusan akhir dari pengasingan saat ini.[8]

Yudaisme berpandangan bahwa para penganutnya tidak membutuhkan keselamatan pribadi sebagaimana diyakini umat Kristen. Umat Yahudi tidak menganut ajaran dosa asal.[9] Sebaliknya, mereka memberikan nilai tinggi pada moralitas individu sebagaimana didefinisikan dalam hukum Allah — terkandung dalam apa yang dikenal umat Yahudi sebagai Taurat, diberikan Allah kepada Musa di Gunung Sinai biblika, yang ringkasannya termuat di dalam Sepuluh Perintah Allah.

Dalam Yudaisme, keselamatan berkaitan erat dengan gagasan mengenai penebusan, suatu penyelamatan dari keadaan atau kondisi yang menghancurkan nilai dari eksistensi manusia. Allah sebagai roh universal dan Pencipta Dunia adalah sumber dari segala keselamatan bagi umat manusia, asalkan seseorang menghormati Allah dengan melakukan ajaran-ajaran-Nya. Maka, penebusan atau keselamatan tergantung pada masing-masing orang. Yudaisme menekankan bahwa keselamatan tidak dapat diperoleh melalui orang lain atau dengan hanya berseru kepada Tuhan ataupun meyakini suatu kuasa lainnya.[10]

Konsep Yahudi mengenai Mesias memvisualisasikan kembalinya Nabi Elia sebagai pertanda dari orang yang akan menebus dunia ini dari perang dan penderitaan, memimpin umat manusia menuju persaudaraan universal di bawah kebapaan dari satu Allah. Mesias tidak dipandang sebagai suatu keberadaan supranatural atau ilahi di masa depan tetapi sebagai suatu pengaruh manusia yang mendominasi dalam suatu zaman perdamaian universal, yang dikarakterisasi oleh regenerasi spiritual kemanusiaan.

Dalam Yudaisme, keselamatan terbuka untuk semua orang dan tidak terbatas pada mereka yang beriman Yahudi; satu-satunya pertimbangan penting adalah bahwa orang harus melakukan dan mempraktikkan pola perilaku etis seperti yang terangkum dalam Sepuluh Perintah Allah. Ketika bangsa Yahudi menyebut diri mereka sebagai bangsa pilihan Allah, mereka bukan mengartikan bahwa mereka telah dipilih untuk hak-hak istimewa dan perlakuan-perlakuan khusus, melainkan bahwa mereka telah mengambilnya bagi diri mereka untuk menunjukkan cara hidup etis kepada semua orang melalui ajaran serta teladan.[10]

Ketika mengamati sumber-sumber intelektual Yahudi sepanjang sejarah, tampak jelas adanya keragaman pendapat mengenai kematian versus kehidupan setelah kematian. Kendati mungkin saja suatu penyederhanaan yang berlebihan, satu sumber mengatakan bahwa keselamatan dapat dicapai dengan cara sebagai berikut: Jalani suatu kehidupan yang suci dan benar yang ditujukan kepada Yahwe, Allah Pencipta. Berpuasa, beribadah, dan merayakannya selama hari-hari raya yang sesuai.[11] Berdasarkan asal usul dan hakikatnya, Yudaisme merupakan suatu agama etnis. Oleh karena itu, keselamatan utamanya dipahami dari segi takdir Israel sebagai bangsa pilihan Yahwe (seringkali disebut sebagai "Tuhan"), Allah Israel.[8] Dalam teks-teks biblis Mazmur, terdapat suatu deskripsi tentang kematian, yaitu ketika orang masuk ke dalam bumi atau "dunia orang mati" dan tidak dapat memuji Allah. Referensi pertama tentang kebangkitan bersama terlihat dalam penglihatan Yehezkiel mengenai tulang-tulang kering, ketika semua orang Israel dalam pembuangan dibangkitkan kelak. Terdapat suatu referensi tentang kebangkitan individual dalam Kitab Daniel (165 SM), kitab terakhir dalam beberapa Alkitab Ibrani.[12] Dikatakan bahwa baru pada abad ke-2 SM muncul keyakinan akan suatu kehidupan setelah kematian, di mana orang mati akan dibangkitkan dan menjalani penghakiman ilahi. Sebelum saat itu, orang harus puas melihat keturunannya berlanjut di dalam bangsa yang kudus.[8]

Keselamatan orang Yahudi secara individual dihubungkan dengan keselamatan seluruh bangsanya. Keyakinan ini bersumber langsung dari ajaran-ajaran yang tercantum dalam Taurat. Dalam Taurat, Allah mengajarkan pengudusan atau penyucian individu kepada bangsanya. Namun, Ia juga mengharapkan mereka untuk mengusahakannya bersama-sama (secara rohani) dan saling bertanggung jawab kepada individu lainnya. Konsep keselamatan dikaitkan dengan pemulihan bagi Israel.[13]

Selama Periode Bait Kedua, orang-orang Saduki, para Imam Besar, membantah adanya keberadaan khusus individu-individu setelah kematian karena hal tersebut tidak tertulis dalam Taurat, sementara orang-orang Farisi, nenek moyang para rabi, menegaskan kebangkitan tubuh maupun kekekalan jiwa, kemungkinan besar didasarkan pada gagasan-gagasan Helenistik tentang tubuh dan jiwa serta keyakinan Farisi akan Taurat Lisan. Orang-orang Farisi menyatakan bahwa, setelah kematian, jiwa terhubung dengan Allah sampai datangnya era mesianis ketika jiwa bergabung kembali dengan tubuh di tanah Israel pada waktu kebangkitan.[12]

Kekristenan[sunting | sunting sumber]

Alegori tentang Keselamatan karya Antonius Heusler (kr. 1555), Museum Nasional di Warsawa.

Premis utama Kekristenan adalah bahwa penjelmaan dan wafat Yesus Kristus merupakan puncak dari suatu rencana ilahi bagi keselamatan umat manusia. Rencana tersebut disusun oleh Allah sebagai akibat dari Kejatuhan Adam, leluhur umat manusia, dan akan terselesaikan saat Pengadilan Terakhir, ketika Kedatangan Kedua Yesus Kristus kelak menandai akhir dunia yang dipenuhi bencana.[14]

Dalam Kekristenan, keselamatan hanya dimungkinkan melalui Yesus Kristus. Umat Kristen percaya bahwa wafat Yesus di kayu salib merupakan kurban yang hanya berlangsung sekali, yang mendamaikan bagi dosa umat manusia.[14]

Kendati bukan pemilik ekslusif dari gagasan tentang penebusan, Kekristenan dipandang berkontribusi memberinya suatu kepastian khusus dan suatu posisi dominan. Jika diambil artinya secara luas, sebagai pembebasan dari segala bahaya dan kesulitan, kebanyakan agama mengajarkan beberapa bentuk dari penebusan. Namun, penebusan dianggap memiliki suatu posisi penting hanya apabila kesulitan yang dimaksud merupakan bagian dari suatu sistem luar biasa yang manusia tidak berdaya untuk mengatasinya.[15]

Alegori tentang Keselamatan karya Wolf Huber (kr. 1543), Kunsthistorisches Museum di Wina.

Menurut keyakinan Kristen, dosa sebagai situasi manusia yang menyulitkan dianggap bersifat universal.[16] Misalnya dalam Roma 1:18-3:20, Rasul Paulus menyatakan bahwa setiap orang telah berdosa—baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Keselamatan dimungkinkan melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, yang dalam konteks keselamatan disebut sebagai "pendamaian".[17] Soteriologi Kristen berkisar dari konsep keselamatan eksklusif[18]:123 hingga rekonsiliasi universal.[19] Kendati terdapat beberapa perbedaan pandangan dalam Kekristenan, sebagian besar kalangan setuju bahwa keselamatan dimungkinkan melalui tindakan Yesus Kristus, Putra Allah, wafat di kayu salib.

"Di jantung iman Kristen terdapat realitas dan harapan akan keselamatan dalam Yesus Kristus. Iman Kristen adalah iman di dalam Allah dari keselamatan yang dinyatakan dalam Yesus dari Nazaret. Tradisi Kristen senantiasa menyamakan keselamatan ini dengan pemenuhan eskatologis dan transenden dari eksistensi manusia dalam suatu kehidupan yang terbebas dari dosa, keterbatasan, dan mortalitas serta dipersatukan dengan Allah Tritunggal. Hal ini mungkin adalah butir iman Kristen yang tidak dapat ditawar. Apa yang menjadi suatu bahan perdebatan adalah hubungan antara keselamatan dengan aktivitas kita di dunia ini."

— Anselm Kyongsuk Min[20]:79

"Alkitab menyajikan keselamatan dalam bentuk cerita yang mendeskripsikan pelaksanaan rencana kekal Allah untuk menghadapi masalah dosa manusia. Cerita tersebut disajikan berlawanan dengan latar belakang sejarah umat Allah dan mencapai puncaknya dalam pribadi dan karya Kristus. Bagian Perjanjian Lama dari cerita tersebut memperlihatkan bahwa orang-orang adalah para pendosa pada hakikatnya, dan mendeskripsikan serangkaian perjanjian di mana Allah membebaskan orang-orang dan membuat janji-janji dengan mereka. Rencana-Nya mencakup janji memberkati semua bangsa melalui Abraham dan penebusan Israel dari segala bentuk belenggu. Allah memperlihatkan kuasa-Nya yang menyelamatkan sepanjang sejarah Israel, tetapi Ia juga berbicara tentang seorang figur Mesias yang akan menyelamatkan semua orang dari kuasa, kebersalahan, dan hukuman dosa. Peran tersebut terpenuhi oleh Yesus, yang pada akhirnya akan menghancurkan semua pekerjaan setan, termasuk penderitaan, kesakitan, dan kematian."

— Macmillan Dictionary of the Bible.

Keragaman pandangan tentang keselamatan merupakan salah satu garis pemisah utama yang membagi berbagai denominasi Kristen, baik antara Katolisisme Roma dan Protestanisme maupun di dalam Protestanisme sendiri, terutama dalam perdebatan Calvinis–Arminian, dan garis pemisah tersebut meliputi definisi yang saling bertentangan mengenai kerusakan moral, predestinasi, pendamaian, dan yang paling jelas terlihat dalam hal pembenaran.

Sebuah stiker pada bumper mobil yang menanyakan apakah pembacanya telah menemukan keselamatan.

Diyakini bahwa keselamatan merupakan suatu proses yang dimulai ketika seseorang pertama kali menjadi seorang penganut Kristen, berlanjut dalam kehidupan orang tersebut, dan selesai ketika ia berhadapan dengan Kristus dalam penghakiman. Oleh karena itu menurut seorang apolog Katolik bernama James Akin, umat beriman Kristiani dapat mengatakan dalam iman dan harapan bahwa, "Saya telah diselamatkan; saya sedang diselamatkan; dan saya akan diselamatkan."[21]

Konsep keselamatan Kristen bervariasi dan dirumitkan oleh sejumlah konsep teologis, kepercayaan tradisional, dan dogma. Kitab Suci tunduk pada penafsiran gerejawi dan individual. Tujuan keselamatan diperdebatkan, tetapi pada umumnya kebanyakan teolog Kristen sepakat bahwa Allah merancang dan melaksanakan rencana keselamatan-Nya karena Ia mengasihi mereka dan memandang umat manusia sebagai anak-anak-Nya. Karena keberadaan manusia di Bumi dikatakan telah jatuh ke dalam kuasa dosa, keselamatan juga memiliki konotasi yang berhubungan dengan pembebasan[22] umat manusia dari kuasa dosa, dan penderitaan yang dihubungkan dengan hukuman atas dosa—sebab "upah dosa adalah maut".Rom. 6:23

Umat Kristen percaya bahwa keselamatan tergantung pada rahmat Allah. Frank Stagg menulis bahwa suatu kenyataan diasumsikan di dalam seluruh bagian Alkitab kalau umat manusia berada dalam "masalah serius dari mana kita membutuhkan pembebasan. ... Kenyataan akan dosa sebagai situasi manusia yang menyulitkan diimplikasikan dalam misi Yesus, dan ditegaskan secara eksplisit dalam hubungan tersebut". Berdasarkan hakikatnya, keselamatan harus menjawab keadaan sulit umat manusia sebagaimana adanya. Keadaan buruk seseorang sebagai orang berdosa adalah hasil dari suatu pilihan yang sangat merugikan yang menyebabkan keseluruhan pribadinya berada dalam belenggu, kebersalahan, keterpisahan, dan kematian. Karenanya, keselamatan harus dikaitkan dengan pribadinya secara keseluruhan. "[Keselamatan] harus menawarkan penebusan dari belenggu, pengampunan atas kesalahan, rekonsiliasi atas keterpisahan, pembaruan atas citra Allah yang telah rusak".[23]

Islam[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) "Yasha: to deliver". Biblehub.com. 
  2. ^ (Inggris) Salvation. Dictionary.com. Dictionary.com Unabridged. Random House, Inc. http://dictionary.reference.com/browse/Salvation (accessed: January 08, 2013).
  3. ^ (Inggris) "salvation - religion". Encyclopedia Britannica. 
  4. ^ (Inggris) "The saving of the soul; the deliverance from sin and its consequences". OED 2nd ed. 1989.
  5. ^ (Inggris) "The saving of the soul; the deliverance from sin and its consequences" OED 2nd ed. 1989.
  6. ^ (Inggris) Wilfred Graves, Jr., In Pursuit of Wholeness: Experiencing God's Salvation for the Total Person (Shippensburg, PA: Destiny Image, 2011), 9, 22, 74-5.
  7. ^ (Inggris) "Reb on the Web". Kolel: The Adult Centre for Liberal Jewish Learning. Diakses tanggal November 1, 2010. 
  8. ^ a b c (Inggris) Salvation, Judaism. [1] Accessed 4 May 2013
  9. ^ (Inggris) "How Does a Jew Attain Salvation?" [2] Accessed: 4 May 2013
  10. ^ a b (Inggris) Malekar, Ezekiel Isaac. "THE SPEAKING TREE: Concept of Salvation In Judaism". The Times of India. [3] Accessed: 4 May 2013
  11. ^ (Inggris) "How do I achieve salvation according to Judaism?"[4] Accessed: 4 May 2013
  12. ^ a b (Inggris) Krell, Marc A. "Afterlife and Salvation". Religion Library: Judaism. [5] Accessed 4 May 2013
  13. ^ (Inggris) "Jewish views of salvation, faith and freedom". 
  14. ^ a b (Inggris) [6] Accessed 4 May 2013
  15. ^ (Inggris) "Redemption." Christian Classics Ethereal Library at Calvin College. July 2, 2009. [7]
  16. ^ Roma 5:12
  17. ^ (Inggris) "Christian Doctrines of Salvation". Religion facts. June 20, 2009. http://www.religionfacts.com/christianity/beliefs/salvation.htm
  18. ^ Newman, Jay. Foundations of religious tolerance. University of Toronto Press, 1982. ISBN 0-8020-5591-5
  19. ^ Parry, Robin A. Universal salvation? The Current Debate. Wm. B. Eerdmans Publishing, 2004. ISBN 0-8028-2764-0
  20. ^ (Inggris) Min, Anselm Kyongsuk. Dialectic of Salvation: Issues in Theology of Liberation. Albany, N.Y.: State University of New York Press, 1989. ISBN 978-0-88706-908-6
  21. ^ (Inggris) Akin, James. "The Salvation Controversy." Catholic Answers, October 2001
  22. ^ (Inggris) "CATHOLIC ENCYCLOPEDIA: Salvation". 
  23. ^ (Inggris) Stagg, Frank. New Testament Theology. Broadman Press, 1962. ISBN 0-8054-1613-7. pp.11-13,80

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • (Inggris) Braden, Charles Samuel (1941). Man's Quest for Salvation: An Historical and Comparative Study of the Idea of Salvation in the World's Great Living Religions. Chicago & New York: Willett, Clark & Company. 
  • (Inggris) Brandon, S. G. F., ed. (1963). The Saviour God: Comparative studies in the concept of salvation presented to Edwin Oliver James by colleagues and friends. New York: Barnes & Noble. 
  • (Inggris) Brueggemann, Walter (30 September 2002). "Salvation". Reverberations of Faith: A Theological Handbook of Old Testament Themes. Louisville: Westminster John Knox Press. pp. 184–6.  (Presentation)
  • (Inggris) Sharpe, Eric J.; Hinnells, John R., ed. (1973). Man and his salvation: Studies in memory of S. G. F. Brandon. Manchester: Manchester University Press. ISBN 0-7190-0537-X. 
  • (Inggris) Sherma, Rita D.; Sarma, Aravinda (2008), Hermeneutics and Hindu Thought: Toward a Fusion of Horizons, Springer 
  • (Inggris) Snelling, John (1987), The Buddhist handbook. A Complete Guide to Buddhist Teaching and Practice, London: Century Paperbacks 
  • (Inggris) Tiwari, K.N. (1983), Comparative Religion, Motilal Banarsidass 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]