Pencobaan Yesus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Pencobaan Yesus, mosaik abad ke-12 di Basilika St Markus, Venesia

Pencobaan Yesus tercantum dalam Injil Matius,[1] Markus,[2] dan Lukas.[3] Menurut teks-teks tersebut, setelah dibaptis, Yesus berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam di Gurun Yudea. Pada waktu itu, Setan menemui Yesus dan mencobainya. Yesus menolak setiap pencobaan, kemudian iblis pergi meninggalkan-Nya dan Yesus kembali ke Galilea untuk memulai pelayanan-Nya.

Pencobaan-pencobaan ini berkaitan dengan hedonisme (lapar / kepuasan), egoisme (loncatan spektakuler / kekuatan) dan materialisme (kerajaan / kekayaan). Penginjil Yohanes dalam surat-suratnya menyebut pencobaan-pencobaan "di dalam dunia" sebagai "keinginan mata" (materialisme), "keinginan daging" (hedonisme) dan "kengkuhan hidup" (egoisme).[4] Pencobaan-pencobaan itu ditujukan untuk menyesatkan dan menyelewengkan tiga ciri utama manusia; untuk berpikir, berkeinginan, dan berperasaan yang berada di dalam pikiran, jiwa dan hati sebagaimana disebutkan oleh Yesus dalam Hukum Terutama. Semua ini terkait dengan transendental atau ideal paling utama dalam tiga area minat manusia; ilmu (kebenaran), seni (keindahan) dan agama (kebaikan). Orang Kristen dipanggil untuk mencari kebajikan-kebajikan ilahi; iman, pengharapan dan kasih yang menghubungkan mereka secara langsung kepada Allah yang Sendirinya adalah Kebenaran, Keindahan, dan Kebaikan.[5]

Penulis Surat Ibrani juga merujuk bahwa Yesus pernah dicobai "dalam segala hal seperti kita [yaitu, orang beriman Kristen]".[6]

Catatan Injil Markus sangat pendek, hanya menyebut adanya peristiwa itu. Injil Matius dan Lukas menggambarkan pencobaan itu dengan memberi detail percakapan Yesus dan Setan. Pencobaan Kristus tidak secara eksplisit diceritakan dalam Injil Yohanes tetapi dalam Injil ini ditulis bahwa Yesus menyebutkan si Iblis, "penguasa dunia ini" (bahasa Inggris: "the prince of this world"), tidak mempunyai kuasa terhadap Dia.[7]

Jenis sastra[sunting | sunting sumber]

Diskusi status kisah[sunting | sunting sumber]

Diskusi jenis sastra mencakup pembahasan apakah kisah ini mencerminkan sejarah, perumpamaan, mitos, atau kombinasi berbagai genre. Ini berkaitan dengan realitas pertemuan.[8] Kadang-kadang kisah pencobaan dianggap sebagai perumpamaan, membaca bahwa Yesus dalam pelayanan-Nya menceritakan kisah ini kepada para pendengar mengenai pengalaman rohani-Nya dalam bentuk perumpamaan.[9] Bisa pula bersifat otobiografi,[10] mengenai jenis Mesias yang menjelma dalam Yesus.[11] Para penulis termasuk William Barclay menunjukkan fakta bahwa "tidak ada guung yang cukup tinggi di dunia untuk melihat seluruh dunia" sebagai indikasi hakikat kisah ini adalah bukan harfiah, melainkan menggambarkan apa yang ada dalam pikiran Yesus.[12] Teologi Dominican Thomas Aquinas menjelaskan, "Dalam hal perkataan, 'ia menunjukkan kepada-Nya seluruh kerajaan di dunia dan kemuliaannya,' kita tidak memahaminya bahwa Ia melihat setiap kerajaan, dengan kota-kota dan penduduk, emas dan peraknya; tetapi iblis menunjukkan arah setiap kerajaan dan kota, dan mengungkapkan dengan kata-kata kemuliaan dan kekayaannya." [13] Pemahaman Katolik tradisional adalah bahwa pencobaan Kristus itu bersifat harfiah dan peristiwa jasmani. "Meskipun diajukan kesulitan-kesulitan, ... terhadap karakter sejarah ketiga pencobaan Yesus, sebagaimana dicatat oleh St. Matius dan St. Lukas, jelas bahwa para penulis kudus itu bermaksud menggambarkan pendekatan aktual dan dapat dilihat oleh Setan, untuk membukukan perpindahan tempat yang aktual, dan lain-lain, dan bahwa pandangan tradisional, yang berpegang pada hakikat objektif pencobaan Kristus, adalah satu-satunya yang memenuhi semua persyaratan kisah Injil."[14]

Catechism of the Catholic Church menyatakan:

Kitab-kitab Injil berbicara mengenai waktu menyendiri bagi Yesus di padang gurun segera setelah baptisannya oleh Yohanes. Dibawa ke padang gurun oleh Roh, Yesus tinggal di sana empat puluh hari tanpa makan; Ia hidup di antara binatang-binatang liar, dan malaikat-malaikat melayani Dia. Pada akhir waktu itu Setan mencobai-Nya tiga kali, berupaya untuk menyelewengkan sikap kepatuhan-Nya terhadap Allah. Yesus menangkis serangan-serangan itu, yang membalas pencobaan Adam di Firdaus dan (bangsa) Israel di padang gurun, dan iblis meninggalkan-Nya "sampai waktu yang tpat".[15] Pencobaan di padang gurun menunjujkkan Yesus, Mesias yang rendah hati, menang terhadap Setan dengan pengikatan kuat-Nya akan rencana keselamatan yang dikehendaki oleh Sang Bapa.[16]

Penggunaan rujukan Perjanjian Lama[sunting | sunting sumber]

Catatan dalam Injil Matius menggunakan bahasa Perjanjian Lama. Penggambaran ini akan lebih mudah dipahami oleh para pembaca pada masa hidup Matius. Dalam versi bahasa Yunani Septuaginta untuk Zakharia 3, istilah-istilah Iesous (Yesus) dan diabolos (iblis) tepat sama dengan istilah bahasa Yunani dalam Matius 4.[17] Matius menyajikan tiga nas Alkitab yang dikutip oleh Yesus (Ulangan 8:3, Ulangan 6:13, dan Ulangan 6:16) bukan dalam urutan munculnya pada Kitab Ulangan, melainkan dalam urutan pencobaan bangsa Israel ketika mereka menggembara di padang gurun, sebagaimana dicatat dalam Kitab Keluaran.[18][19] Kisah dalam Injil Lukas sangat mirip, meskipun pembalikan urutan pencobaan kedua dan ketiga "menggambarkan suatu perpindahan geografis yang lebih alamiah, dari padang gurun ke Bait Suci".[20] Pernyataan penutup pada Injil Lukas bahwa iblis "mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik"[21] memberikan kaitan naratif kepada upaya di Nazaret untuk menjatuhkan Yesus dari tempat tinggi,[22] atau mengantipasi peran Setan dalam Kesengsaraan Yesus (bandingkan Lukas 22:3).[23][24]

Catatan Alkitab[sunting | sunting sumber]

Yesus dicobai di padang gurun
Matius 4:1-11 Markus 1:12-13 Lukas 4:1-13
4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun 1:12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. 4:1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.
(4:1) untuk dicobai Iblis. 4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, 1:13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. 4:2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis.
(1:13) Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar
(4:2) akhirnya laparlah Yesus. (4:2) Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." 4:3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti."
4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." 4:4 Jawab Yesus kepadanya: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja."
4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, 4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis : Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." 4:7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"




4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, 4:9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

4:5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. 4:6 Kata Iblis kepada-Nya: "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. 4:7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu." 4:8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

4:9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, 4:10 sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, 4:11 dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu. " 4:12 Yesus menjawabnya, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, 4:13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.
(4:11) dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. (1:13) dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Perbandingan catatan kitab-kitab Injil[sunting | sunting sumber]

Dalam catatan Injil Lukas (Lukas 4:1–13) dan Injil Matius (Matius 4:1–11), ada perbedaan urutan ketiga pencobaan dan waktunya (termasuk atau setelah 40 hari). Tidak ada penjelasan yang diterima secara umum mengenai perbedaan ini. Injil Matius, Lukas dan Markus jelas menulis bahwa Roh membawa Yesus ke padang gurun.

Secara tradisional puasa mendahlui suatu pergumulan rohani besar.[25] Elia dan Musa dalam Perjanjian Lama berpuasa 40 hari dan 40 malam, sehingga Yesus melakukan hal yang sama mengundang perbandingan dengan peristiwa-peristiwa tersebut. Dalam Yudaisme, "praktik berpuasa dihubungkan dengan tubuh dan kebutuhan jasmani dengan nilai yang kurang dapat diamati, seperti penyangkalan diri dan pertobatan."[26] Pada waktu itu, 40 dapat berupa angka yang tidak spesifik dan lebih merupakan ekspresi umum angka yang besar.[27] Puasa dapat berarti bukannya sama sekali tidak makan; jadi, Yesus dapat pula memakan apa adanya makanan yang dapat ditemukan di padang gurun.[28][29] Meskipun Injil Markus, Matius, dan Lukas mengkombinasikan puasa Yesus selama 40 hari dengan pencobaan-Nya, bagian-bagian Alkitab lain menyiratkan bahwa puasa Yesus merupakan ujian yang harus dilengkapi sebelum perjumpaan-Nya dengan Setan.

Injil Markus tidak memberikan detail, tetapi dalam Injil Matius dan Lukas "si pencoba" (bahasa Yunani: ὁ πειραζων, ho peirazōn; bahasa Inggris: "the tempter")[30] atau "Iblis" (bahasa Yunani: ὁ διαβολος, ho diabolos; bahasa Inggris: "the devil" ) mencobai Yesus untuk:

  • Menjadikan roti dari batu untuk mengatasi rasa lapar-Nya
  • Melompat ke bawah dari bubungan suatu bangunan (Bait Allah) dan bergantung kepada para malaikat untuk menahan jatuh-Nya. Kisah dalam Injil Lukas dan Matius keduanya mencatat iblis mengutip Mazmur 91:11–12 untuk menunjukkan bahwa Allah telah menjanjikan pertolongan ini, meskipun iblis menyiratkan bahwa ayat ini dapat digunakan untuk membenarkan tindakan yang lancang, padahal Mazmur itu hanya menjanjikan bahwa Allah akan menolong mereka yang mempercayai dan tinggal di dalam Dia.
  • Menyembah Iblis untuk mendapatkan semua kerajaan di dunia.

Karena unsur-unsur yang ada pada Injil Matius dan Lukas yang tidak ada dalam Injil Markus kebanyakan adalah pasangan kutipan bukan narasi detail, banyak sarjana berpendapat bahwa detail tambahan ini berasal dari Document Q.

Pencobaan Kristus dalam Injil Markus[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan catatan Injil Markus (Markus 1:12–13) yang singkat itu terdapat juga dalam versi Injil Matius dan Lukas, kecuali pernyataan bahwa Yesus "berada di antara binatang-binatang liar." Meskipun tidak ada teks aktual sama yang terdapat dalam ketiga versi, bahasa dan penafsiran Injil Markus digunakan untuk membandingkan ketiganya. Kata kerja bahasa Yunani yang digunakan dalam Injil Markus sinonim dengan "mengusir roh-roh jahat", dan padang gurun kadangkala menggambarkan tempat pergumulan.[31] Dua ayat yang terdapat dalam Injil Markus untuk mencatat Pencobaan Yesus segera bersambung ke catatan karier-Nya sebagai pengkhotbah.

Pencobaan Kristus dalam Injil Yohanes[sunting | sunting sumber]

Pencobaan Kristus tidak secara eksplisit diceritakan dalam Injil Yohanes tetapi dalam Injil ini ditulis bahwa Yesus menyebutkan si Iblis, "penguasa dunia ini" (bahasa Inggris: "the prince of this world"), tidak mempunyai kuasa terhadap Dia.[7] Ini merupakan salah satu ketiadaan yang sangat mencolok dalam Injil Yohanes. Namun, sejumlah pembaca mengidentifikasi paralel di dalam Injil Yohanes yang mengindikasikan penulisnya mengetahui kisah Pencobaan ini dalam bentuk tertentu.[32]

  • Batu menjadi roti → Yohanes 6:26,31 dengan pembuatan roti di padang gurun.
  • Melompat dari atas bait → Yohanes 2:18 untuk melakukan tanda Mesias di Bait Allah.
  • Kerajaan dunia → Yohanes 6:15 untuk merebut kerajaan dengan kekerasan.

Pencobaan yang dialami Yesus di padang gurun[sunting | sunting sumber]

1. Batu menjadi roti[sunting | sunting sumber]

"Yesus dicobai di padang gurun" (Jesus Tempted in the Wilderness; Jésus tenté dans le désert), James Tissot, Brooklyn Museum

Pencobaan untuk menjadikan roti dari batu terjadi pada lokasi padang gurun di mana Yesus telah berpuasa. Alexander Jones [33] melaporkan bahwa padang gurun yang disebutkan di sini sejak abad ke-5 telah diyakini adalah daerah berbatu-batu tanpa penghuni antara Yerusalem dan Yerikho, di mana satu tempat di Mount Quarantania secara tradisional dianggap lokasi tepatnya. Padang gurun di sini dilihat sebagai batas terluar masyarakat dan sebagai pemukiman roh-roh jahat (demon) seperti Azazel (Imamat 16:10). Gundry menyatakan bahwa padang gurun ini nampaknya mengacu kepada gurun di mana bangsa Israel mengembara setelah keluar dari Mesir, dan secara khusus kepada Musa.[29] Pergumulan Yesus melawan lapar di hadapan Setan menunjuk kepada peranan-Nya mewakili bangsa Israel, tetapi di sini Ia tidak meninggalkan Allah dalam kelaparan-Nya.[34] Pencobaan ini mungkin saja merupakan pukulan terakhir terhadap Yesus, ditujukan pada rasa lapar-Nya.[35]

Sebagai respon terhadap suruhan Setan, Yesus menjawab, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Ini adalah kutipan dari Ulangan 8:3:

[Musa berkata:] Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.[36]

Hanya dalam Injil Matius bagian akhir ayat itu dikutip secara penuh.

2. Bubungan Bait Allah[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan orang Kristen memahami Kota Suci dalam Injil Matius tanpa keraguan sebagai Yerusalem dan bait ("temple) dengan bubungan itu merupakan Bait Allah di Yerusalem. Injil Matius menyebut kata "bait" ("the temple") 17 kali tanpa pernah menambahkan "di Yerusalem". Dalam versi Injil Lukas jelas ditunjukkan bahwa lokasi bait ini adalah di Yerusalem karena ditulis untuk Teofilus yang mungkin kurang mengenal Yudaisme.[37]

Kata yang secara tradisional diterjemahkan sebagai "bubungan" (bahasa Inggris: pinnacle) tidak benar-benar jelas maknanya karena bentuk diminutif bahasa Yunani pterugion ("sayap kecil"; "little wing") tidak terlestarikan dalam konteks naskah arsitektur lain.[38] Meskipun bentuk pterux ("sayap besar"; "large wing") digunakan untuk ujung suatu bangunan oleh Pollianus,[39] Schweizer merasa "menara kecil" (little tower) atau parapet lebih akurat, dan New Jerusalem Bible memang menggunakan terjemahan "parapet". Satu-satunya paralel Yahudi mengenai pencobaan menggunakan kata baku šbyt ("atap"; "roof") bukan "sayap" ("wing"): "Para rabi kami mengisahkan bahwa pada waktu ketika Mesias dinyatakan Ia akan datang dan berdiri di atap (šbyt) bait (suci)." (Peshiqta Rabbati 62 c–d)[40] Istilah ini dilestarikan sebagai "sayap" dalam terjemahan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Suryani.[41]

Robert H. Gundry (1994) mendaftarkan tiga tempat pada Bait Suci Yerusalem yang cocok dengan deskripsi ini:[29]

  • Di atas menara utama Bait Suci, di antara ruang sanktuari utama, sekitar 180 kaki dari tanah, lokasi yang biasanya dipakai oleh para seniman untuk melukiskan kisah ini berdasarkan terjemahan tradisional.
  • Di atas palang gerbang utama masuk ke dalam Bait Suci, posisi yang paling terlihat di mana kedua individu itu dapat mudah terlihat.[42]
  • Menara di sudut tenggara tembok terluar yang mengarah ke Lembah Kidron. Pada tradisi Kristen di kemudian hari tempat ini adalah di mana Yakobus, adik Yesus, dikatakan oleh Hegesippus, dilemparkan ke bawah sebagai hukuman matinya – kontradiksi dengan catatan Flavius Yosefus bahwa kematiannya akibat dirajam batu.[43]

3. Gunung[sunting | sunting sumber]

Untuk pencobaan terakhir dalam Injil Matius (yang kedua dalam versi Injil Lukas), iblis membawa Yesus ke tempat yang tinggi, di mana Injil Matius secara eksplisit menyebutnya sebagai suatu "gunung yang sangat tinggi", dimana semua kerajaan dunia dapat dilihat. Menurut tradisi, tempat ini adalah puncak gunung "Quarantania", suatu puncak batu kapur pada jalur antara Yerusalem dan Yerikho.[14]

Penafsiran Kristen[sunting | sunting sumber]

Lukisan master illuminator abad ke-16, Simon Bening, Setan mendekati Yesus dengan sebuah batu untuk dijadikan roti

Karena Yesus adalah manusia sejati, ia diuji dengan tiga kemampuan utama yang mendefinisikan manusia; "berpikir, berkeinginan, dan berperasaan", yang seharusnya membawa manusia memahami kebenaran, keindahan dan kebaikan. Korupsi akan kemampuan ini membawa maunisa kepada egoisme (lompatan spektakuler / kekuatan), materialisme (kerajaan / kekayaan) dan hedonisme (lapar / kepuasan). Inilah sesungguhnya pencobaan yang dialami oleh Yesus. Dalam Surat 1 Yohanes ketiganya disebut "keangkuhan hidup", "keinginan mata" dan "keinginan daging".

(Matius 22:37) akal jiwa hati
kebajikan ilahi iman pengharapan kasih
manusia pikiran keinginan perasaan
filsafat logika estetika etika
ideal kebenaran keindahan kebaikan
bidang ilmu seni agama
(1 Yohanes 2:16)[44]
(Matius 4:1–11)[45]
pencobaan
duniawi
dosa
"keangkuhan hidup"
"lompatan spektakuler"
kekuatan
kesuksesan
egoisme
"keinginan mata"
"kerajaan"
kekayaan
uang
materialisme
"keinginan daging"
"lapar"
kepuasan
kenikmatan
hedonisme
sumpah biarawan kepatuhan
kerendahan hati
melayani
kemiskinan
kecukupan
memberi
kesucian
belas kasihan
menderita
kebajikan manusia prudence
kewaspadaan
temperance
penguasaan diri
fortitude
keberanian

Pencobaan Kristus dalam seni, sastra, film dan musik[sunting | sunting sumber]

Pencobaan Kristus telah sering menjadi subjek dalam seni dan sastra kebudayaan Kristen. Terutama dijadikan subjek karya John Milton, epik empat buku Paradise Regained. Karya Fyodor Dostoyevsky, The Grand Inquisitor, bagian dari novel The Brothers Karamazov, menampilkan penggambaran panjang mengenai pencobaan Kristus. Nathan Toulane menulis novel The Ring In The Glass yang menyinggung tempat di mana pencobaan Kristus terjadi. Seniman Perancis, Jean Giroud Moebius, menciptakan buku seni berjudul 40 days dans le desert B menggambarkan tema serupa. Andrew Lloyd Webber menggubah opera Jesus Christ Superstar dengan rujukan singkat bahwa Kristus dicobai oleh kesenangan manusiawi. Stephen Schwartz menyediakan satu adegan mengenai hal itu dalam karyanya Godspell. Sebuah stanza dalam sajak "O Operário em Construção" ("The Building Operary"), karya Vinícius de Moraes, menyinggung mengenai pencobaan ini.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pencobaan Yesus
Didahului oleh:
Pembaptisan Yesus
Peristiwa dalam
Perjanjian Baru
Diteruskan oleh:
Yesus tampil di Galilea

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Matius 4:1-11
  2. ^ Markus 1:12-13
  3. ^ Lukas 4:1-13
  4. ^ 1 Yohanes 2:16
  5. ^ http://www.vatican.va/archive/ENG0015/__PC.HTM Catechism of the Catholic Church references these three at Section 41.
  6. ^ Ibrani 2:18, Ibrani 4:15
  7. ^ a b Yohanes 14:30
  8. ^ Fairbairn, Andrew Martin. "The Temptation Of Christ", Studies in the life of Christ 1876 V. "How is the Temptation of Christ to be understood? ... was its reality actual, a veritable face-to-face, with personalities no less real that they represented universal interests, and, by their conflict, determined universal issues?"
  9. ^ Evans, William. Epochs in the life of Christ 1916 "Sometimes the temptation narrative is looked upon as being parabolic ... that Jesus was simply stating His inner experience in the form of a parable."
  10. ^ Cadbury, Henry Jesus: what manner of man 1947 "... the temptation narrative is often selected as autobiographical."
  11. ^ Mercer, Samuel Alfred Browne and Lewis, Leicester C., Anglican Theological Review, Vol. 12, 1930 " ... looked upon himself as Messiah ; hence the problem of the temptation narrative is "what sort of Messiah did he think himself to be?"
  12. ^ Barclay, William. Discovering Jesus p.22
  13. ^ Thomas Aquinas. "Question 41. Christ's temptation", Summa Theologica, Fathers of the English Dominican Province, 1920
  14. ^ a b Gigot, Francis. "Temptation of Christ." The Catholic Encyclopedia Vol. 14. New York: Robert Appleton Company, 1912. 19 October 2015
  15. ^ Catechism of the Catholic Church, §538
  16. ^ CCC §566.
  17. ^ Hagner, Donald A., "Matthew 1–13", Word Biblical Commentary, Vol. 33a, 1993
  18. ^ Gibson, Jeffrey B., Temptations Of Jesus In Early Christianity 2004
  19. ^ "USCCB – NAB – Matthew 4". Diakses tanggal 2010-01-07. , footnotes 1 through 5
  20. ^ Collins, Raymond F., The Temptation of Jesus, The Anchor Bible Dictionary, Doubleday, 1992
  21. ^ Lukas 4:13
  22. ^ Nolland, John. "Luke 1:1–9:20", Word Biblical Commentary, Vol. 35a, 1989
  23. ^ Conzelmann, Hans. The Theology of St. Luke, (trans. G. Buswell), New York, 1960 p.28
  24. ^ "USCCB – NAB – Luke 4". Diakses tanggal 2010-01-07. , footnote 1 sampai 5
  25. ^ Hill, David. The Gospel of Matthew. Grand Rapids: Eerdmans, 1981
  26. ^ "Practicing Piety in Medieval Ashkenaz: Men, Women, and Everyday Religious Observance on JSTOR". JSTOR j.ctt9qh4ds.5. 
  27. ^ Clarke, Howard W. The Gospel of Matthew and its Readers: A Historical Introduction to the First Gospel. Bloomington: Indiana University Press, 2003.
  28. ^ France, R.T. The Gospel According to Matthew: an Introduction and Commentary. Leicester: Inter-Varsity, 1985.
  29. ^ a b c Gundry, Robert H. Matthew: a Commentary on his Literary and Theological Art. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1982.
  30. ^ Matius 4:3
  31. ^ "Mark on JSTOR". JSTOR j.ctt9m0t6h.8. 
  32. ^ Whittaker H.A., Studies in the Gospels, Biblia, 1996 p319
  33. ^ Jones, Alexander. The Gospel According to St. Matthew. London: Geoffrey Chapman, 1965.
  34. ^ Green, Joel B. (1997-10-02). The Gospel of Luke. Wm. B. Eerdmans Publishing. ISBN 9780802823151. 
  35. ^ Fleming, J. Dick (1908-08-01). "The Threefold Temptation of Christ: Matt. 4:1–11". The Biblical World. 32 (2): 130–137. JSTOR 3141888. 
  36. ^ Ulangan 8:3
  37. ^ Joseph A. Fitzmyer The Gospel According to Luke I-IX: Introduction, Translation, and Notes The Anchor Bible, Vol. 28, Doubleday 1982
  38. ^ Entri LSJ pterugion
  39. ^ # Pollianus Epigrammaticus 7.121, 2C AD in Anthologia Graeca.
  40. ^ Rivka Ulmer, A Synoptic Edition of Pesiqta Rabbati Based upon All Extant. Manuscripts and the Editio Princeps. South Florida Studies in the History of Judaism 155, 1995
  41. ^ Shlomo Pines – "The Jewish Christians of the Early Centuries of Christianity According to a New Source" – Proceedings of the Israel Academy of Sciences and Humanities, Vol. II, No. 13 1966 – Footnote 196 If the last solution were allowed, it would perhaps mean that, as far as this word is concerned, the quotation from the Gospel given in our text was translated from an Aramaic (i.e., most probably but not certainly a Syriac) rendering of the Gospel, which was not translated from the Greek." ...The Peshitta, which seems mindful of the etymology of the Greek Term, renders this by the word kenpa whose first meaning is wing. However, an older Syriac translation (The Four Gospels in Syriac Transcribed from the Sinaitic Palimpsest [penyunting: R.L. Bensley, J. Rendel Harris & F.C. Burkitt], Cambridge 1894) has — while using in Matthew iv : 5 (p. 7) the same word as the Peshitta — in Luke iv:9 (p. 145) the translation qarna, a word whose first meaning is horn, but which also means ‘angle’. There is accordingly a possibility of a second solution, namely, that the Arabic q.r.ya should be read (the emendation would be a very slight one), qurna, which signifies ‘projecting angle’."
  42. ^ Robert H. Gundry A Survey of the New Testament: 1994 4th Edition 2009 "... But Jesus resists these temptations, and the third temptation as well, by citing Scripture. ... the temple courts dropping off into the Kidron Valley, to the lintel atop the temple gate, or to the roof of the temple proper."
  43. ^ Matthew Bunson Encyclopedia of the Roman Empire 2009 – Page 281 "According to him, James was thrown off a tower in the Great Temple of Jerusalem and then beaten to death. The Jewish historian Josephus in the first century wrote that James was stoned."
  44. ^ http://www.biblestudytools.com/1-john/2-16-compare.html
  45. ^ https://www.biblegateway.com/passage/?search=Matthew+4%3A1-11&version=NKJV

Pustaka tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]