Perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
"Penggarap-penggarap kebun anggur", Illustrated New Testament

Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur adalah sebuah perumpamaan Yesus yang tercantum dalam Matius 21:33-44, Markus 12:1-12, dan Lukas 20:9-19. Selain itu juga ditemukan dalam suatu karya tulis non-kanonik yang dikenal sebagai Injil Tomas. Perumpamaan ini melukiskan seorang pemilik lahan yang membuka kebun anggur dan menyewakannya kepada para penggarap, yang oleh sang pemilik dipandang gagal melaksanakan tugas mereka.

Penafsiran Kristen yang umum adalah bahwa perumpamaan ini berbicara tentang para imam kepala dan kaum Farisi, serta disampaikan kepada orang-orang yang hadir di Bait Allah di Yerusalem pada pekan terakhir menjelang Yesus wafat.

Isi perumpamaan[sunting | sunting sumber]

Matius 21:33-44

"Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.
Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.
Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?"
Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."
Kata Yesus kepada mereka:"Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.)"

Markus 12:1-12

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita."
Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

Lukas 20:9-19

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada orang banyak: "Seorang membuka kebun anggur; kemudian ia menyewakannya kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain untuk waktu yang agak lama. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu, supaya mereka menyerahkan sebagian dari hasil kebun anggur itu kepadanya. Tetapi penggarap-penggarap itu memukul hamba itu dan menyuruhnya pulang dengan tangan hampa. Sesudah itu ia menyuruh seorang hamba yang lain, tetapi hamba itu juga dipukul dan dipermalukan oleh mereka, lalu disuruh pulang dengan tangan hampa. Selanjutnya ia menyuruh hamba yang ketiga, tetapi orang itu juga dilukai oleh mereka, lalu dilemparkan ke luar kebun itu. Maka kata tuan kebun anggur itu: Apakah yang harus kuperbuat? Aku akan menyuruh anakku yang kekasih; tentu ia mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berunding, katanya: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisan ini menjadi milik kita. Lalu mereka melemparkan dia ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu dengan mereka? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, dan mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain."
Mendengar itu mereka berkata: "Sekali-kali jangan!"
Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: "Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru? Barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk."
Lalu ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala berusaha menangkap Dia pada saat itu juga, sebab mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu, tetapi mereka takut kepada orang banyak.

Penjelasan[sunting | sunting sumber]

Tuan tanah tersebut melambangkan Allah dan para penggarap kebun anggur adalah orang-orang Israel (lebih tepatnya para pemimpin agama seperti orang-orang Farisi. Lihat Matius 21:45). Allah berulang kali mengirim utusannya, nabi-nabi, kepada orang Israel dengan harapan mereka akan bertobat, namun orang-orang Israel tidak mendengarkan mereka dan bahkan membunuhi nabi-nabi tersebut. Akhirnya Allah mengirimkan sang Anak yang dikasihi, yaitu Yesus, namun ketika orang Israel melihat dan mendengar Yesus, mereka membunuhnya (dalam hal ini perumpamaan Yesus tersebut menubuatkan tentang apa yang akan terjadi pada Yesus)

Allah kemudian akan menghukum Israel dan memberikan keselamatan kepada bangsa-bangsa lain yang belum mengenal Tuhan seperti tertulis pada Matius 21:42-42

Dalam perumpamaan ini, Yesus Kristus menyebut kutipan dari Mazmur 118:22-23:

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.
Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita."

Tafsiran[sunting | sunting sumber]

Sanhedrin, pengadilan tinggi Israel kuno pada Bait Suci di Yerusalem.

Semua versi perumpamaan ini pada ketiga Injil sinoptik menyatakan bahwa para imam-imam kepala yang duduk dalam mahkamah agama Sanhedrin memahami bahwa perumpamaan ini ditujukan kepada mereka, dan bahwa merekalah yang digambarkan sebagai "para penggarap kebun anggur". Istilah penggarap dapat diterjemahkan sebagai "penyewa" atau "petani anggur" yaitu mereka yang menggarap lahan dari para pemilik tanah. Jika pemilik tanah itu tidak mempunyai ahli waris, para penggarap itu mempunyai hak pertama untuk memiliki tanah tersebut.[1] Menara jaga dan tempat memeras anggur berturut-turut ditafsirkan sebagai "tempat kudus" (atau Bait Allah) dan "altar".[2]

Gambaran "kebun anggur" diambil dari Kitab Yesaya pasal 5. Penggunaan "kebun anggur" sebagai kiasan untuk "Israel" merupakan praktik umum para ahli agama pada waktu itu.[1] Dapat juga merupakan perjanjian Allah dengan umat Israel, atau mungkin pula dengan seluruh dunia.[3] Hasil kebun anggur itu dapat dilihat sebagai kiasan akan semua hal baik yang dihasilkan oleh umat, yang atasnya pihak berkuasa tidak mau berbagi dengan Allah, namun berupaya mempertahankannya untuk dinikmati sendiri.[4]

Pemilik kebun anggur adalah Allah dan sang anak adalah Yesus. Penafsiran berdasarkan tradisi tentang pemilik yang berangkat meninggalkan kebun anggurnya diungkapkan oleh Erasmus untuk menyatakan bahwa Allah membiarkan kehendak bebas untuk bertindak di dalam diri manusia, sebagaimana dikatakan oleh Beda Venerabilis: "Ia tampaknya meninggalkan kebun anggur supaya dapat meninggalkan para pemelihara kebun anggur itu pilihan tindakan yang bebas."[5][6]

"Para hamba" umumnya ditafsirkan sebagai para nabi Israel, ataupun juga para utusan Allah sebelumnya.[7] Terdapat perdebatan seputar makna "orang-orang lain" yang kemudian dipercayai untuk menggarap kebun anggur itu. Ada yang menafsirkannya sebagai umat Yahudi lain, ada yang menafsirkannya sebagai umat Kristen, atau bahkan umat Kristen Yahudi.[4] Pada umumnya orang-orang lain tersebut ditafsirkan sebagai komunitas Kristen yang baru terbentuk setelah itu.[8]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Kilgallen 225
  2. ^ Craig A. Evans (1997). "The Life of Jesus". Dalam Stanley E. Porter. A Handbook to the Exegesis of the New Testament. BRILL. hlm. 465. ISBN 90-04-09921-2. 
  3. ^ Irenaeus, Adversus Haereses Buku IV, Bab 36
  4. ^ a b Kilgallen 226
  5. ^ Collected Works of Erasmus: Paraphrase on Mark. Translated and annotated by Erika Rummel. University of Toronto Press. 1988. hlmn. 144,211. ISBN 0-8020-2631-1. 
  6. ^ The New Testament of our Lord and Saviour Jesus Christ; First Published by the English College at Rheims, A.D. 1582. A. Fullarton and Co. 1852. hlm. 539. He went into a far country, not by a change of place, for he is every where, but by leaving the workmen the power of free-will, either to work or not work; in the same manner as a man in a far country cannot oversee his husbandmen at home, but leaves them to themselves. Ven. Bede. 
  7. ^ Brown et al. 621
  8. ^ Brown et al. 665

Pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]