Konflik sektarian Maluku
| Konflik sektarian Maluku | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Era Reformasi | ||||||
Pasukan militer Indonesia mengevakuasi pengungsi dari Ambon selama konflik tahun 1999. | ||||||
| Tanggal | 14 Januari 1999 – 13 Februari 2002 | |||||
| Lokasi | Kepulauan Maluku (dengan gangguan yang sangat serius terutama di Pulau Ambon dan Halmahera) | |||||
| Sebab | Konflik etnis Transmigrasi Jihadisme Separatisme Maluku Selatan | |||||
| Metode | Pengambilalihan wilayah, kerusuhan, pogrom, pengeboman, protes, pengusiran | |||||
| Hasil | Piagam Malino II | |||||
| Pihak terlibat | ||||||
| ||||||
| Tokoh utama | ||||||
| ||||||
| Jumlah | ||||||
| ||||||
| Jumlah korban | ||||||
| Korban jiwa | 5.000 tewas[1] | |||||
Konflik sektarian Kepulauan Maluku adalah konflik etnis-politik yang melibatkan kelompok agama di Kepulauan Maluku, Indonesia, khususnya Pulau Ambon dan Pulau Halmahera. Konflik ini bermula pada era Reformasi awal 1999 hingga penandatanganan Piagam Malino II tanggal 13 Febuari 2002.
Bagian dari seri mengenai |
|---|
| Sejarah Indonesia |
| Garis waktu |
|
|
Penyebab utama konflik ini adalah ketidakstabilan politik dan ekonomi secara umum di Indonesia setelah Soeharto tumbang dan rupiah mengalami devaluasi selama dan seusai krisis ekonomi di Asia Tenggara.[2] Rencana pemekaran provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku Utara semakin memperuncing masalah politik daerah yang sudah ada.[3][4] Karena masalah politik tersebut menyangkut agama, perseteruan terjadi antara umat Kristen dan Islam pada Januari 1999. Perseteruan ini dengan cepat berubah menjadi pertempuran dan tindak kekerasan terhadap warga sipil oleh kedua belah pihak.[5] Dua pihak utama yang terlibat konflik ini adalah kelompok milisi agama dari kedua pihak,[6] termasuk kelompok Islamis bernama Laskar Jihad,[7] kelompok Kristen dari Manado bernama Brigade Manguni dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dari pihak Pemerintah.[8]
Penyebab
[sunting | sunting sumber]Penyebab utama konflik ini adalah ketidakstabilan politik dan ekonomi secara umum di Indonesia setelah Soeharto tumbang dan rupiah mengalami devaluasi selama dan seusai krisis ekonomi di Asia Tenggara.[2] Rencana pemekaran provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku Utara semakin memperuncing masalah politik daerah yang sudah ada.[3][4] Berikut memperburuk situasi: Kecemburuan sosial antariman, tingginya pengangguran, transmigrasi/migrasi lain yang membawa paham agama yang berbeda, pelemahan sistem adat, lemahnya institusi penengah, pembentukan Kecamatan Malifut dan kecenderungan meningkatnya Islamisasi dan Kristenisasi yang membatasi interaksi antariman[9][10]
Pada 1970-an, transmigrasi terjadi di Seram, yang dipilih sebagai kawasan pemukiman bagi para pendatang yang berasal dari pulau-pulau lain. Di Seram Barat, di mana banyak tanah adat diambil alih untuk diberikan kepada para pemukim dari Maluku Tenggara, Sulawesi, dan bahkan dari Jawa. Kerugian besar akibat pengambilalihan lahan menciptakan api kebencian yang berkepanjangan di kalangan masyarakat asli.[10]
Saat transmigrasi baru saja diterapkan, desa-desa di Maluku sangat sepi dan hanya bisa dicapai melalui laut. Di akhir tahun 1990-an, semua desa tersebut telah dihubungkan oleh jalan yang di sekitarnya juga dibangun pusat-pusat bisnis dan pemukiman baru, yang hampir semuanya dimiliki oleh pendatang.[10]
Sejak awalnya, provokator yang sering dikatakan berhubungan dengan Orde Baru, dituduh sebagai biang kerusuhan. Lalu TNI dituduh memainkan peran kunci dalam memicu dan menggerakkan kekerasan dalam rangka menggoncang stabilitas negara Indonesia sebagai alat untuk mengembalikan kepentingan-kepentingan elit politik.[10]
Kerusuhan Ketapang 1998 di Jakarta juga berpengaruh. Polisi Jakarta mengirim lebih dari 100 anggota geng yang ditangkap dalam kerusuhan tersebut menggunakan kapal penumpang dan kapal angkatan laut kembali ke Ambon. Pihak Muslim dan Kristen kebanyakan meyakini bahwa mereka dibebaskan dan diberi dorongan untuk melanjutkan konflik Muslim-Kristen mereka di Ambon dan diberi bayaran untuk merekrut penduduk setempat sebagai 'provokator'.[11]
Konflik di Maluku
[sunting | sunting sumber]

Kerusuhan Ambon I
[sunting | sunting sumber]Dobo, 14 Januari 1999
[sunting | sunting sumber]Pada 13-14 Januari 1999, terjadi sebuah insiden di Dobo, Kepulauan Aru. Kejadian ini bermula dari insiden kecil antar-pemuda yang kemudian berubah menjadi baku hantam antara umat Muslim dan Kristen. Segera saja, ada provokator yang memakai pengeras suara masjid untuk menghasut umat Muslim agar memerangi umat Kristen. Belasan orang tewas dalam kurun waktu empat hari. Namun pengerahan pasukan Brimob dan upaya rekonsiliasi setempat berhasil mengakhiri kekerasan tersebut, sehingga peristiwa serupa tidak terulang di Dobo.[11]
Dimulainya kerusuhan, 19 Januari 1999
[sunting | sunting sumber]Namun, konflik utama baru mulai pada 19 Januari 1999 saat Idulfitri. Tercatat secara luas bahwa yang memicu konflik tersebut adalah insiden yang terjadi terhadap seorang sopir minibus bernama Yopy. Tapi ada dua versi kejadian yang beredar luas. [12]
Versi pertama menyebutkan bahwa sekitar pukul 14.30 pada tanggal 19 Januari, Jacob Leuhery (atau dikenal sebagai Yopy) —seorang Kristen asal Desa Aboru di dekat Batu Merah—baru saja memulai kerjanya sebagai sopir minibus di Terminal Batu Merah. Dua pemuda Bugis bernama Usman dan Salim menghampirinya dan memalaknya sebanyak Rp500, dan Yopy menolak pemalakan itu. Ia kemudian mulai mencari penumpang ke Terminal Mardika. Setelah sekitar setengah jam, ia kembali ke Terminal Batu Merah tanpa mendapat penumpang. Kedua pemuda itu masih berada di sana; salah satu dari mereka kembali memalaknya. Yopy menolak dengan alasan ia tidak memiliki uang karena belum mendapatkan penumpang. Salah satu pemuda mengeluarkan badik dan menempelkan ujungnya ke leher Yopy, namun Yopy berhasil mendorongnya keluar dan kabur ke Mardika dengan harapan kedua pemuda itu telah pergi. Namun, saat ia kembali—masih tanpa penumpang—kedua pemuda itu ternyata masih ada di sana. Salim merogoh sakunya untuk mengeluarkan pisaunya. Yopy segera berlari pulang ke rumahnya di dekat terminal, mengambil senjatanya sendiri, lalu berlari kembali mengejar mereka hingga ke pasar desa. Kedua pemuda itu berhasil meloloskan diri, dan Yopy akhirnya pulang ke rumah. (Salim kemudian ditangkap di Bone pada tanggal 3 Februari dan dibawa kembali ke Ambon untuk dimintai keterangan beberapa hari kemudian. Yopy juga ditangkap dan ditahan pada 15 Febuari atas tuduhan melakukan penyerangan terhadap orang Bugis.)[12]
Versi kedua menyatakan bahwa Yopy adalah sopir sebuah mobil van milik seorang warga Bugis dari Batu Merah. Dia dibantu seorang kernet Muslim dari Batu Merah Bawah. Van tersebut digunakan untuk usaha rental pribadi, dan si kernet, atas nama sang pemilik, menagih uang hasil usaha tersebut kepada Yopy. Yopy menolak membayar dan mulai mengancam dia. Beberapa penumpang yang beragama Kristen kemudian turut membantu Yopy mengeroyok kernet itu, yang berhasil kabur ke Batu Merah Bawah untuk meminta bantuan. Warga Batu Merah Bawah dan Yopy pun terlibat bentrokan dan memicu pecahnya kerusuhan.[12]
Mau bagaimanapun penyebabnya, suatu sumber mengatakan kalau kurang dari 15 menit setelah Yopy tiba di rumahnya, ia melihat ratusan pemuda Muslim dari Batu Merah datang untuk menyerang warga Batu Merah Dalam—desa tempat rumah Yopy—yang sebagian besar beragama Kristen. Lempar-lemparan batu terlihat sekitar pukul 3.30 sore. Awalnya warga sekitar tidak terlalu mengkhawatirkannya karena memang situasi semacam ini sudah sering terjadi. Namun yang tidak mereka sadari, para penyerang tidak hanya datang sekali, tetapi jam 4 sore mereka datang lagi dan melancarkan serangan kedua, kali ini dengan jumlah milisi yang jauh lebih besar: antara 600 hingga 700 orang, menurut laporan sebuah gereja. Mereka mendapat rumor kalau ada yang membakar masjid di Batu Merah, padahal masjid itu tidak terkena apa-apa. Mereka membakar banyak rumah. Setelah itu, mereka kembali menyerang untuk ketiga kalinya sebelum berangkat ke Mardika.[12]
Akhirnya bentrok besar terjadi di Plaza Mardika, sekitar pukul 20.00. menewaskan 43 sampai 65 orang, melumpuhkan Kota Ambon dan membuat ~20.000 orang mengungsi.[9][12]
Kelompok-kelompok mulai terorganisasi dan menggunakan simbol ikat kepala merah untuk Kristen dan kain putih untuk Islam. Kerusuhan menyebar dengan sangat cepat.[9]
Silale, Waihaong, dan Kudamati, 19 Januari
[sunting | sunting sumber]Kekerasan menyebar dengan cepat ke wilayah Silale—sebuah kampung yang mayoritas penduduknya Muslim dengan kurang lebih 40 orang Kristen—bermula antara pukul 17.00 hingga 17.45. Rumah keluarga Kristen bernama Nikijuluw dibakar lebih dulu, disusul kemudian oleh rumah pastori Gereja Sumber Kasih. Massa Muslim kemudian membakar dan menjarah dua belas rumah milik warga Kristen di Silale, Waihaong, dan sekitar Jalan Baru. Mereka juga melempari Gereja Bethlehem dengan batu. Para pelaku kerusuhan bukanlah warga asli Silale, karena hubungan antara kedua komunitas selama ini terjalin dengan baik. Bahkan, beberapa warga Muslim setempat sempat memberikan kerudung kepada perempuan-perempuan Kristen untuk dikenakan jika mereka membutuhkan perlindungan. Namun, segelintir orang dari luar wilayah tersebut mulai mengumandangkan takbir. Awalnya, warga Muslim setempat hanya datang untuk melihat-lihat, tetapi para provokator berhasil memancing emosi mereka melalui seruan takbir tersebut hingga mereka mulai mengambil senjata.[12]
Sekitar pukul 20.00, sekelompok massa Muslim yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang mencoba menyerang Gereja Silo, namun mereka berhasil ditahan oleh massa Kristen yang menjaganya. Kemudian, umat Kristen berkumpul di Gereja GPM di Jalan Anthony Rebok sekitar pukul 22.00 dan membakar beberapa kios di tepi jalan sebelum menyasar becak-becak yang sebagian besar dimiliki oleh warga suku Buton dan Bugis. Warga Muslim yang tinggal di sekitar Masjid Al-Fatah kemudian bergabung dengan kelompok Muslim yang sudah berada di jalanan. Kelompok Kristen dan Muslim pun saling berhadapan di sekitar Jalan A.M. Sangaji, salah satu jalan utama di Ambon. Milisi Muslim (Kelompok Putih) mengenakan kain putih dan milisi Kristen (Kelompok Merah) menggunakan kain merah.[12]
Massa Kristen berkumpul di Kudamati untuk membalas serangan Mardika, tapi terhalang karena bentrok dengan massa Muslim di Waringin. [12]
Kampung Paradeys, 19-20 Januari
[sunting | sunting sumber]Serangan pihak Kristen terhadap Kampung Paradeys, bermula sekitar pukul 23.00. Mereka datang dalam regu-regu yang masing-masing terdiri dari sekitar dua puluh orang. Mereka mengklaim bahwa gereja mereka, Gereja Bethlehem, telah dibakar, padahal hal itu tidak benar. Mereka kemudian berusaha merusak rumah-rumah menggunakan pipa besi dan batu, serta menghancurkan segala sesuatu yang ada. Sekitar lima belas menit kemudian, serangan kedua dilancarkan. Gelombang serangan ketiga datang sekitar pukul 23.30. Mereka melempari batu namun tidak masuk ke dalam rumah warga. Mereka sempat mundur tetapi kembali sekitar pukul 01.30 dini hari. Para militan radikal itu membawa pipa-pipa besar, pisau, dan parang. Suara pukulan pada tiang listrik menjadi bahasa isyarat para penyerbu: tiga kali pukulan berarti "Berkumpullah", sedangkan pukulan bertubi-tubi dengan cepat menyampaikan pesan yang berbeda—hanya Tuhan yang tahu. Jelas sekali ada seorang pemimpin yang memberikan isyarat-isyarat tersebut.[12]
Di Batu Gantung, 19-20 Januari
[sunting | sunting sumber]Sekitar pukul 15.30 di Batu Gantung, seorang warga berlari pulang ke rumahnya dan mengatakan ada keributan di terminal; orang-orang berlarian karena ada mengejar mereka. Satu jam kemudian, seorang warga lain melaporkan bahwa milisi Kristen dari Kudamati sedang bergabung dengan milisi Kristen dari Mardika. Sekitar pukul 5 sore, saksi mata melihat sebuah truk dengan sekitar lima puluh pemuda Kristen di dalamnya berhenti di Batu Gantung, semuanya membawa pisau panjang. Setelah itu Batu Gantung diserang dari segala penjuru, tetapi penduduknya tetap bertahan sampai aparat kepolisian datang tanpa ada korban jiwa. Aparat menyuruh semua orang untuk kembali ke rumah masing-masing dan menjamin keamanan mereka.[12]
Warga Batu Gantung pun kembali ke rumah, namun tak lama kemudian, serangan kedua terjadi. Aparat —yang berjumlah sekitar 25 orang—berhasil menghalau serangan itu. Akan tetapi, sebagian besar aparat meninggalkan lokasi antara pukul 22.00 hingga 23.00. Para milisi radikal itu datang lagi sekitar pukul 02.00 dini hari, dengan ratusan orang yang bersenjatakan pisau, kayu, dan batu kembali mendatangi Batu Gantung. Kali ini, hanya ada seorang polisi disana, dan dua polisi lain tiba saat serangan telah berlangsung lebih dari satu jam; salah satu dari mereka sempat melepaskan tembakan peringatan ke udara. Seorang warga Batu Gantung berlari menghampiri polisi tersebut dan berteriak, "Mengapa kalian membiarkan mereka menyerang padahal kalian sudah menyuruh kami untuk bubar?" Polisi hanya memintanya untuk tenang. Dalam serangan ini, dua warga terkena lemparan batu dan sebuah truk dibakar. [12]
Sekitar pukul 04.00 pagi, warga melihat dua kios milik warga Bugis dibakar. Aparat, termasuk kepala polisi Latuhalat, menyaksikan kejadian ini namun tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Juga diketahui ada sekelompok milisi Kristen bergerak dari kantor sekretariat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia menuju Gereja Rehoboth, tempat para milisi Kristen berkumpul. Pada pukul 10.00 pagi tanggal 20 Januari, kelompok Kristen kembali melakukan serangan, kali ini menggunakan anak panah berapi dan bom molotov. Warga Muslim memohon bantuan kepada polisi yang berjaga di depan Jalan Dr. Sitanala, namun polisi menyatakan bahwa mereka hanya ditugaskan di lokasi tersebut dan tidak dapat pergi. Dari arah utara, para milisi mencoba membakar banyak rumah; pada beberapa rumah berhasil dipadamkan. Api dengan cepat merambat ke wilayah Batu Gantung lainnya dan menghanguskan sekitar 120 rumah. Mobil pemadam kebakaran baru tiba pada pukul 18.00, saat api sudah hampir padam.[12]
Sekitar 240 keluarga mengungsi ke kampung-kampung Muslim terdekat, termasuk Talake Atas, Taman Hiburan Rakyat di Waihaong, dan barak polisi di Perigi Lima. Tidak ada korban jiwa, namun empat orang terluka dalam serangan tersebut, dengan satu orang di antaranya mengalami luka serius. Beberapa serangan terjadi di Batu Gantung hingga 22 September. Banyak coretan grafiti bertuliskan "Yesus Menang" dan "Israel" di dinding rumah-rumah yang ditinggalkan. [12]
Kerusuhan meluas ke daerah Hitu, Wakal, dan Mamalang dengan sasaran orang-orang Kristen dimana para penyerang menghancurkan gereja[9]. Lagipula selama 19 Januari, sudah ada sekitar 1000 orang yang mati[11].
20-24 Januari
[sunting | sunting sumber]20 Januari 1999 dimulai dengan bentrok di Lapangan Merdeka jam 3 subuh. Paginya, milisi Kristen membakar area perbelanjaan Pelita, pasar Gambus, Pasar Mardika, Pasar Buah Mardika, dan pasar makanan Cakar Bongkar, hampir semuanya habis terbakar. Sebuah pemukiman Buton juga ikut terbakar. Sekolah dasar dan taman kanak-kanak Muslim al-Hilal juga dibakar, dan terjadi pembakaran selektif terhadap properti milik Muslim di sepanjang jalan utama Ambon. Pemukiman Gunung Nona juga diserbu. Perlu diketahui kalau banyak kematian pada Kerusuhan Ambon I terjadi pada hari ini.[9][12]
Benteng Karang
[sunting | sunting sumber]Benteng Karang adalah desa Kristen yang berada didekat Kota Passo. Sebagian besar penduduk desa berasal dari Maluku Tenggara. [12][13]
Dalang serangan di Benteng Karang, menurut versi Muslim, adalah: penduduk Hitu dan Mamala, dua desa Muslim lainnya, mendapat kabar pagi-pagi bahwa Masjid Al-Fatah di Ambon telah dibakar, dan banyak Muslim dibantai. (Menurut sumber lain, Abang, calon kepala desa di Hitu, bertanggung jawab atas informasi palsu tersebut. Ia kemudian ditangkap atas tuduhan penghasutan, pula mobilnya dibalik dan dibakar di depan kampus Universitas Pattimura). Setelah mendengar hal itu, umat Muslim Hitu memutuskan untuk berunjuk rasa ke Ambon. Mereka harus melewati Benteng Karang dalam perjalanan. Penduduk Kristen yang telah diberitahu tentang unjuk rasa Muslim tersebut, keluar dan menyerang mereka dengan pisau dan semua yang meninggal disana adalah penduduk Kristen.Versi Kristen menunjukkan adanya serangan tanpa provokasi oleh Muslim Hitu ke Benteng Karang. Sekitar pukul 9:00 pagi dini hari, seorang polisi menghubungi seorang warga Benteng Karang dan mengatakan bahwa banyak massa dari Mamala, Morela, Hulana, Hitu-Missin, dan Wakal akan menyerang. Sebuah kendaraan patroli polisi kemudian datang dengan pesan yang sama dan mengatakan bahwa massa sudah di Telagakodok, di mana mereka menyerang secara selektif sebelum serangan ke Benteng Karang. [12]
Bagaimanapun, saat hari memasuki siang, Desa Benteng Karang diserang. Warga Benteng Karang berkumpul di depan gereja mereka, tetapi kurang dari 20 menit massa Hitu sudah memasuki Benteng Karang. Mereka menggunakan bom ikan untuk mengebom gereja mereka, kemudian mereka menuangkan bensin ke tiga gereja lainnya dan membakarnya, tindakan ini menewaskan 16 orang. Sekelompok orang Hitu juga menyerang Passo, namun mereka pulang setelah didamaikan oleh tokoh masyarakat setempat. [12]
Lebih dari 150 pengungsi Benteng Karang ditempatkan di Detasemen Zeni Tempur 5 di Wainitu. Kuburan massal, yang konon berisi dua belas mayat, terlihat dari jalan saat memasuki Benteng Karang. Sumber desa mengatakan enam belas orang tewas secara keseluruhan. Banyak warga Benteng Karang saat itu mengatakan mereka tidak ingin membangun kembali Benteng Karang dan mereka lebih memilih transmigrasi, terutama jika itu berarti bermukim di pulau Seram seperti yang dijanjikan oleh gubernur.[12][13]
Serangan di Hila
[sunting | sunting sumber]Pada tanggal 20 Januari, enam orang Kristen tewas di Hila, tampaknya oleh warga dari desa Muslim di dekatnya, Wakal. Mereka termasuk di antara 120 orang yang mengikuti perkemahan Alkitab yang diselenggarakan oleh Gereja Kristus Perjanjian Baru di lapangan fakultas perikanan Universitas Pattimura. Menurut keterangan, peserta perkemahan telah tiba di lokasi tersebut pada tanggal 17 Januari untuk kegiatan retret selama tiga hari dan sedang bersiap untuk kembali ke Ambon pada pagi hari 20 Januari. Karena kapasitas van tidak cukup untuk menampung semua orang yang ingin pulang, Hendrik, Mecky dan Mataheru memutuskan untuk pergi ke Wakal guna mencari kendaraan lain. Setibanya di Wakal, begitu Mecky dan Mataheru turun dari mobil van, mereka langsung dibunuh oleh warga setempat dan mobil van tersebut dibakar. Hendrik, yang dikenal oleh warga Wakal sebagai seorang polisi yang pernah bertugas di sana, tidak mengalami cedera. Sementara itu, peserta perkemahan Alkitab yang sedang menunggu mereka mendengar suara truk yang mendekat, disertai teriakan "Allahu Akbar" dari orang-orang di dalamnya. [12]
Pembina perkemahan Alkitab tersebut menyuruh para peserta untuk masuk ke kamar masing-masing demi keselamatan mereka, namun saat para penyerang tiba, mereka berteriak menyuruh semua orang keluar dan mengancam akan membunuh siapa pun yang menolak. Ketika mereka keluar, empat orang tewas dibunuh. Sisanya diperintahkan kembali ke aula utama dan dikepung oleh para penyerang, yang kemudian merampas uang serta barang berharga dari tas mereka. Para penyerang pergi sekitar pukul 15.00, seraya mengatakan bahwa mereka hendak menuju Benteng Karang, desa yang telah dihancurkan sebelumnya pada hari itu. Para peserta perkemahan Alkitab kemudian membagi diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan berhasil kembali ke Ambon dengan bantuan sejumlah warga Muslim setempat, termasuk beberapa orang dari suku Buton.[12]
Passo
[sunting | sunting sumber]Menjelang tengah hari, penduduk Passo mendapat kabar bahwa Benteng Karang telah diluluhlantakan. Pukul 12.30, seorang warga memberi tahu bahwa ada ribuan orang yang sedang bergerak ke arah mereka. Mereka melihat asap hitam yang tampaknya berasal dari desa tetangga, Nania dan Negeri Lama. Sekitar waktu itu, seorang petugas militer di Passo datang bersama kepala desa Passo. Keduanya meminta warga untuk tetap berada di dalam rumah dan meyakinkan bahwa segalanya akan aman; pihak Muslim datang dengan niat damai. Sejumlah pria Passo pergi ke Air Besar, dekat pintu masuk pos Brimob dan di pinggiran Passo. Di sebuah jembatan di Air Besar itulah kelompok pria dari Passo berhadapan dengan massa dari Hitu. Barisan massa Hitu membentang lebih dari satu kilometer, bertakbir, menggunakan kain putih, dan dipimpin oleh seorang pemimpin perang adat. Setiap rumah milik warga Muslim di Negeri Lama dan Nania memasang kain putih di pintu depan untuk keamanan. Para remaja berada di barisan paling depan, dipersenjatai dengan bom ikan, tombak, anak panah, dan parang. Sedangkan pria-pria dari Passo membawa pisau, dan dua di antaranya memiliki anak panah. Ada tujuh tentara disana; empat orang berusaha mencegah massa Hitu untuk maju, sementara tiga lainnya berusaha menahan pria-pria Passo. Massa Hitu berusaha menunjukkan keberanian mereka; salah seorang dari mereka membuka bajunya dan memperlihatkan bekas luka tusukan pisau di sekujur tubuhnya, seolah ingin membuktikan bahwa ia kebal senjata. Salah satu pria Passo menerima tantangan itu dan maju ke depan. Salah satu tentara melepaskan tembakan ke udara. Seseorang dari kerumunan massa melemparkan batu ke arahnya dan mengenai kepalanya. Para tentara mengatakan mereka harus mengambil bantuan logistik lalu pergi. Tentara lainnya mengendarai truk ke tengah-tengah kedua kelompok untuk memisahkan mereka. Massa Hitu mencoba maju ke arah Ambon sebanyak tiga kali, dan tiga kali pula mereka berhasil dipukul mundur. Awalnya hanya ada sekitar tiga puluh orang dari Passo, namun seiring berlanjutnya konfrontasi, sekitar seratus orang lagi turut bergabung. [12]
Pada satu titik, seorang tokoh masyarakat datang untuk mencoba melerai mereka. Ia berbicara dengan pemimpin kelompok massa dari Hitu serta pihak tentara. Hasilnya, warga Hitu mau bubar dan pulang ke Hitu. Para prajurit dari Batalion Infanteri 733 mengawasi mereka namun tidak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan mereka. Menurut Marcus, dalam perjalanan kembali itulah—mungkin karena rasa frustrasi—kelompok Muslim membakar rumah-rumah warga Kristen di Negeri Lama dan Nania sekitar pukul 18.00 atau 19.00. Di Nania, mereka juga membunuh seorang pendeta Protestan. Tidak ada seorang pun di Passo yang tidur pada malam itu. Sekitar pukul 05.00 pagi, sekelompok pria dari Passo kembali ke Nania dan Negeri Lama dengan niat memukul mundur warga Hitu. Namun, ketika mendapati warga Hitu sudah pergi, mereka melampiaskan kemarahan kepada warga Muslim setempat dan membakar rumah-rumah yang memasang kain putih di pintunya. Mereka juga merusak masjid. Saat itu jugalah tidak ada seorang pun di Passo memercayai perkataan militer.[12]
Hative Besar
[sunting | sunting sumber]Di area Hative Besar, yang mencakup Kamiri dan Wailete, ketegangan antara Kristen dan Muslim makin menjadi. Ketegangan dimulai dari Desember tahun lalu saat seorang pemuda Kristen membunuh seorang polisi saat mabuk. Sosialisasi dan negosiasi sempat dilakukan untuk mencegah konflik. Suatu sumber menyebutkan bahwa antara pukul 04.00 dan 10.30 pagi, beberapa perahu motor cepat merapat di lepas pantai Kamiri, membawa warga Muslim yang mengungsi akibat kerusuhan sehari sebelumnya. Kepala Desa Hative Besar, didampingi oleh Kapolsek, berupaya membujuk mereka untuk meninggalkan Kamiri. Namun, mereka mengabaikan imbauan tersebut dan, sekitar pukul 12.00, mengadakan pertemuan dengan warga Kamiri. Warga Kristen di Hative Besar memandang pertemuan itu sebagai ancaman dan meminta bantuan dari dusun Souhuru serta Waalia untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan serangan dari Kamiri. Setelah negosiasi ataupun sosialisasi tidak jalan, pukul 17.30 kedua belah pihak mulai saling melempar batu dan kemudian saling menyerang menggunakan senjata tajam. pada jam 18.00 mulailah 100 milisi Kristen Wailete merusuhi Kamiri dan membakar sebuah toko. Pertempuran terjadi di suatu masjid di mana Muslim Kamiri mempertahankan masjidnya. Mereka saling membakar rumah yang lain. [12]
Baik versi Kristen maupun Muslim sepakat bahwa selama beberapa jam, mulai tengah malam hingga sekitar pukul 03.00 dini hari, situasi terasa tegang namun tenang. Kemudian, menurut versi pihak Kristen, warga Hative Besar mendapat informasi bahwa orang-orang Buton, Bugis, dan Makassar hendak melakukan serangan sekitar pukul 04.00 pagi. "Perang" pun kembali pecah: anggota kelompok-kelompok etnis tersebut membakar lebih dari belasan rumah lagi, sehingga pihak Kristen membalas dengan membakar setiap bangunan di Kamiri, termasuk masjid. Pihak Muslim menyatakan bahwa terdapat seorang polisi di lokasi saat konfrontasi berlangsung, namun ia tidak mengambil tindakan apa pun, dan seluruh penduduk Kamiri terpaksa mengungsi ke markas Kompi C Batalyon Infanteri 733.[12]
Serangan lainnya pada 20 Januari
[sunting | sunting sumber]
Hila juga diserang hari itu, tetapi penduduk desa mendapat bantuan dari orang-orang Muslim Kaitetu. Lebih dari 60 rumah hancur, 1 orang tewas dan 8 lain hilang. Gereja Imanuel di Hila, gereja Belanda dari tahun 1780 pun dihancurkan. [9][13][14]
22-24 Januari
[sunting | sunting sumber]Menjelang tengah hari pada tanggal 22 Januari, lima orang Muslim yang bersembunyi di dalam sebuah truk pikap yang dikemudikan oleh aparat keamanan diseret keluar dari kendaraan tersebut di Mangga Dua, Ambon, lalu disiram bensin dan dibakar oleh warga Kristen setempat.[12]
Dalam versi Kristen, kelima orang Bugis tersebut ditemukan di dalam truk pikap, bersembunyi di bawah karung-karung beras, saat mencoba menyelundupkan sekitar tiga puluh granat dan delapan bom ke desa mereka, serta uang tunai sebesar Rp3 juta. Tidak jelas ke mana tujuan truk tersebut. Menurut keterangan, truk itu juga memuat delapan belas karton Jamu Madura, yang konon dapat meningkatkan vitalitas pria. Truk tersebut dikawal oleh tiga petugas keamanan. Seseorang dari desa Mangga Dua yang sedang berada di dalam rumah dan melihat ke arah jalan raya mendapati ada kaki yang menyembul keluar, lalu ia berteriak. Pengemudi panik dan berbalik arah, namun saat mencoba kembali, sebuah mobil Toyota datang dari arah berlawanan. Pengemudi terpaksa berhenti, dan warga Kristen menyeret keluar para penumpang di dalamnya. [12]
Sebuah keterangan yang sangat berbeda, yang berasal dari sumber-sumber Muslim, muncul dalam majalah Tempo. Laporan tersebut menyebutkan bahwa polisi sedang berupaya mengevakuasi kelima orang Bugis itu dari sebuah kampung yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, yang sedang marah akibat kabar tewasnya seorang pendeta Protestan di Nania. Truk tersebut dihentikan oleh massa Kristen yang tidak memercayai penjelasan polisi bahwa mereka hanya membawa beras. Massa menemukan kelima orang tersebut di bagian belakang truk di bawah tumpukan karung beras, menyeret mereka keluar, lalu membakarnya. Orang-orang itu adalah orang Buton, buka Bugis. Mereka berasal dari keluarga Haji Lasano di Waihaong. Selain itu, meskipun ditemukan sejumlah uang tunai di dalam truk, tidak ada granat ataupun bom yang ditemukan.[12]
23 Januari, bentrokan pecah antara massa dan aparat, di mana aparat diizinkan menembak. Ini memicu pelanggaran HAM dan dugaan keberpihakan aparat.[9] Hari itu juga, seorang perwira Kostrad, I Gusti Ngurah Hartawan, mati saat menjaga Desa Benteng yang sebagian besar Kristen. Menurut warga, saat sekelompok milisi Bugis sedang menyerang desa itu, Kostrad membantu para penyerang dengan menembaki warga desa, membunuh satu orang dan melukai 5. Jadi sekelompok pemuda mencoba merebut senjata Hartawan, tetapi Hartawan dan seorang pemuda mati dalam perkelahian itu. 11 pemuda diadili karena ini.[12]
Setelah pasukan tambahan datang, konflik secara keseluruhan sempat mereda, tapi ini belum selesai. Kelompok-kelompok radikal memblokade wilayah mereka masing-masing. Kota Ambon terbagi menjadi zona Kristen (60%) dan zona Muslim (40%). Masjid dan gereja Protestan terbesar di Ambon menjadi pusat komando bagi perang bernuansa keagamaan, yang mengerahkan bala bantuan ke desa-desa yang memiliki risiko diserang. [9][11]
Februari-Maret 1999
[sunting | sunting sumber]Di Seram, Kerusuhan kembali terjadi pada tanggal 3 Februari. Umat Kristen dari Rumberu, Rambatu, dan Kairatu mengajak umat Muslim Kairatu untuk ikut serta. Tetapi ketika umat Muslim datang, mereka disambut oleh umat Kristen yang bersenjata panah dan tombak. Empat Muslim dari Kailolo menjadi korban pertama, tiga terkena panah, dan seorang imam, Jalil Useinahu, terluka oleh tombak. Dua belas rumah di dekat masjid dibakar, kemudian pasar, yang didominasi oleh pedagang Muslim, dibakar. Desa-desa Muslim Kailolo, Pelauw, dan Ori semuanya mengirimkan bantuan kepada Muslim Kairatu. Pertempuran berlanjut pada tanggal 4 Februari dan meluas ke Dusun Waitasi dan Waimitai. [12]
Di Pulau Saparua, pada 3 Februari jugalah orang Kristen membakar pesantren orang-orang Kulur. Saparua memiliki enam belas desa, tiga di antaranya Muslim: Sirisori, Iha, dan yang paling militan, Kulur. Sementara itu, pada tanggal 3 Februari massa dari desa Kristen Haria berkumpul di gereja dan bersiap untuk menyerbu kota Saparua. Milisi Kristen dari Ouw dan Ulat, yang secara tradisional bermusuhan, ikut menyerang Saparua setelah 8 orang desa diduga dibunuh orang Muslim di Hila. Untungnya kerusuhan berhasil dihindari setelah intervensi dari pemerintah setempat.[12]
Ambon terbagi menjadi bagian yang dikuasai milisi Kristen (60%) dan zona-zona yang dikuasai milisi Muslim (40%). Masjid pusat dan gereja Protestan pusat di Ambon menjadi pusat komando untuk saling bunuh antaragama, mengirimkan bala bantuan ke desa-desa yang berisiko diserang.[11]
Kerusuhan 23 Februari di Ambon
[sunting | sunting sumber]
Pertempuran kembali meletus di kota Ambon pada tanggal 23 Februari. Menurut sumber-sumber Kristen, massa Muslim dari kawasan Galunggung menyerang sekelompok orang Kristen di jalanan, lalu melanjutkan aksi mereka ke Waihaong di mana mereka menyerang mobil milik seorang warga Kristen dan memecahkan kacanya. Massa Muslim mengeroyok seorang siswa SMA Kristen di depan Masjid Al-Fatah, kemudian menyerang desa Batu Merah dan membakar 10 rumah warga Kristen di sana. Menurut pihak Muslim, kekerasan pecah ketika umat Muslim marah besar setelah orang-orang Kristen memaksa seorang wanita hamil untuk melepas jilbabnya dan kemudian menginjak-injak jilbab tersebut. Tak lama kemudian, sejumlah bom meledak, dan segera setelah itu sekitar 20 rumah terbakar. Satu orang tewas setelah ditembak oleh aparat. Menjelang tengah hari, menurut pihak Muslim, sebuah mobil angkutan umum dihentikan oleh milisi Kristen di dekat Institut Agama Islam Negeri Ambon; kesebelas penumpangnya yang beragama Muslim dipaksa keluar dan diserang dengan parang, lima orang Buton tewas. Sekitar pukul 16.00, pihak Muslim melaporkan bahwa orang-orang Kristen membakar sebuah masjid di kawasan Karang Panjang, beserta empat rumah di dekatnya. Empat orang Muslim tewas. Kemudian, dalam bentrokan yang terjadi tak lama setelah itu di Kramat Jaya, 3 orang Kristen dan seorang Muslim dilaporkan tewas. Pada tanggal 24 Februari, sumber-sumber Muslim melaporkan adanya dua puluh tiga korban tewas, empat belas di antaranya akibat tindakan aparat; 12 dari korban tewas tersebut, menurut mereka, adalah orang Kristen. Sumber-sumber Kristen melaporkan 7 korban tewas. Sumber-sumber Muslim secara konsisten melaporkan jumlah orang Kristen yang dibunuh oleh tentara lebih tinggi dibandingkan laporan pihak Kristen; implikasinya adalah bahwa siapapun yang ditembak oleh tentara pastilah yang sedang melakukan serangan.[12]
Haruku
[sunting | sunting sumber]Di Pulau Haruku, kerusuhan dimulai tanggal 13 Februari, ketika seorang Kristen dari Kariu, membakar sebuah rumah tepat di perbatasan Kariu dengan desa Muslim Pelauw dengan tujuan membuat kerusuhan. Penduduk Aboru dan Kariu menuduh penduduk Muslim Pelauw sebagai pelakunya. Sekitar pukul 5:00 pagi keesokan harinya, rumah lainnya dibakar. Baik Kariu maupun Pelauw tegang. Di Pelauw, orang-orang bersiap untuk jihad.[12]
Tiba-tiba Kariu dikepung oleh militan dari Pelauw, Ori, Kailolo, dan Kulor & Tulehu dari Saparua. Ketika kedua pihak saling bunuh, aparat melepaskan tembakan ke arah milisi Pelauw. Milisi Kristen menembak pihak Muslim, dan kemudian milisi Muslim membakar Kariu. Lima belas milisi Muslim tewas akibat luka tembak. Selain itu, di Kariu empat orang lansia meninggal saat melarikan diri. Orang-orang dari Hulaliu mencoba membantu Kariu, tetapi mereka bentrok dengan tentara di dekat Ori membunuh antara 12 sampai 15 pemuda. Sore 16 Februari, semua penduduk Kariu telah mengungsi ke hutan atau ke desa Aboru. Mereka meninggalkan gereja mereka, yang dibakar habis walau dijaga tentara, dan yang tersisa hanyalah menara dengan bendera putih berkibar di atasnya.[12]
Anehnya, seminggu sebelum serangan Kariu, telah diadakan pertemuan di Pelauw, dan kaum pria mulai mencukur kepala mereka seolah-olah sebagai persiapan perang. Selain itu, pos militer antara Pelau dan Kariu dibongkar sebelum serangan dan dipindahkan ke tempat baru antara Ori dan Hulaliu. Jadi ketika Muslim Saparua datang, tidak ada yang menghalangi mereka.[12]
Setelah kerusuhan di Pulau Haruku, aparat mulai suka menembak (Dengan amunisi asli), dan akibatnya jumlah korban tewas meningkat tajam dan memperkuat ketidakpercayaan publik pada negara.[9][12]
Pada 13 Maret, Paus Yohanes Paulus II mengecam konflik ini sebagai yang "menjungkirbalikkan harmoni tradisional untuk hidup berdampingan antara umat Kristen dan Muslim"[15]
Kepulauan Kei, Maret-Mei
[sunting | sunting sumber]Antara tanggal 30 Maret hingga 3 Mei, konflik terjadi di Kepulauan Kei, dimulai dari pertengkaran bernuansa agama. membuat sekitar 200 orang di daerah Tual dan Kei Besar, 37 korban jiwa dari pihak Kristen dan dari pihak Muslim diperkirakan jauh lebih besar. kehilangan nyawa . Karena tentara di Kei sangat sedikit, sekitar 200 tentara dikirim dari Ambon untuk mengamankan situasi. Puluhan ribu warga telah mengungsi. Sejumlah besar desa Muslim dan dua desa Kristen juga dihancurkan di di pantai barat Kei Kecil. Sebuah penelitian menemukan bahwa di seluruh Kepulauan Kei, desa-desa yang mengalami tingkat kekerasan tertinggi adalah desa-desa dengan jumlah pejabat pemerintah dan pegawai negeri sipil terbanyak. Setelah insiden ini, berbagai upaya rekonsiliasi tradisional yang berlandaskan ritual adat tentang "persaudaraan etnis" bersama juga dilakukan disini pada bulan Mei 2005 dan berhasil mewujudkan perdamaian total berdasarkan prinsip adat "sekali suatu masalah telah diselesaikan, kita tidak akan mengungkitnya kembali". Tidak ada seorang pun di Kepulauan Kei yang diadili oleh orang lain dengan alasan bahwa "kita semua bersalah".[9][11][16]
Kerusuhan Ambon II
[sunting | sunting sumber]Kerusuhan ini dimulai dari 16 Mei saat Maluku sedang memperingati mulainya Perang Pattimura melawan Belanda. Biasanya hari ini diperingati dengan upacara obor yang dibawa dari Saparua ke Ambon. Upacara obor tahun ini juga digunakan untuk meresmikan pasukan baru: Komando Daerah Militer XV/Pattimura, yang akan bertugas di provinsi Maluku. Sebelumnya pasukan di Maluku di bawah pasukan yang berpusat dari Irian Jaya. Secara tradisional, penduduk desa Muslim Batu Merah membawa obor dari pulau Saparua ke Ambon. Tahun ini, tampaknya mereka disuruh oleh pihak berwenang untuk menyerahkan obor itu kepada penduduk desa Kristen Mahardika. Perdebatan pun terjadi. Sengketa tersebut meletus hanya beberapa hari setelah kesepakatan damai dibuat oleh para pemimpin kedua agama di hadapan Wiranto dan beberapa hari sebelum kampanye pemilu 1999 dimulai.[11][17] Aparat berada dalam keadaan siaga penuh di pulau Ambon pada hari Minggu, sehari setelah setidaknya tujuh orang tewas tertembak ketika tentara menembak ke arah massa yang beradu.[17]
Kerusuhan Juli-Agustus dari Poka
[sunting | sunting sumber]Warga setempat di Ambon, telah menyatakan kekhawatiran bahwa sebagian pasukan keamanan ditarik selama masa tenang selama dua bulan. Banyak warga setempat masih takut akan serangan dari kedua belah pihak.[18] Hasil dari Pemilu 1999, yang dimenangkan oleh PDI-P, mulai membuat rakyat Maluku was-was karena kemenangan PDI-P dipandang sebagai kemenangan pihak Kristen.
Dari Januari hingga 23 Juli 1999, desa Poka berhasil lolos dari kerusuhan. Kepala Desa (Raja) mengatur pertemuan rutin antara Muslim dan Kristen untuk membahas kebutuhan dan kekhawatiran bersama. Ronda malam gabungan Muslim-Kristen berjumlah 10 orang berpatroli setiap malam untuk mencegah eskalasi dari perselisihan kecil. Ada kerukunan antara Kristen dan Muslim di Poka dan keyakinan bahwa mereka dapat menahan kekerasan yang tidak dapat dihindari oleh banyak desa lain.[11]
Pada pukul 8 malam tanggal 23 Juli 1999, perkelahian terjadi antara pemuda Kristen dan Muslim, beberapa di antaranya tampak mabuk. Lalu, banyak yang terlibat. Dalam waktu 5-7 menit setelah perkelahian dimulai, aparat tiba. Mereka mencoba menghentikan perkelahian dengan menembakkan peluru ke udara. Hal ini menyebabkan kepanikan. Semua orang Kristen melarikan diri ke gereja. Seorang warga Jakarta-Ambon mempereparah situasi dengan menjadi provokator dan perakit bom. Kerusuhan dimulai, Banyak bangunan di Poka dibakar, dan kerusuhan itu mulai menyebar kembali ke kota Ambon. Perusuh membakar mall terbesar di Ambon, dan bisnis Tionghoa mulai ditarget.[11][18] Di Galala, aparat Kostrad memasuki sebuah gereja dan membunuh 24 orang pengungsi.[19]

Kekerasan juga kembali terjadi di Batu Merah, dipicu oleh sebuah mobil milik seorang polisi—yang kebetulan beragama Kristen—menabrak mobil lain di depan Masjid An-Nur karena rem mobilnya blong. Namun, warga kemudian berkumpul di lokasi tersebut dan menuntut agar pimpinan militer serta kepolisian setempat menyelesaikan masalah itu. Kekerasan kembali meletus di Batu Merah dan Mardika sekitar pukul 09.00 pagi pada 10 Agustus. Massa Muslim dan Kristen menuduh aparat keamanan bersikap memihak dalam menangani kekerasan tersebut. Kepala Kepolisian Ambon, Letkol Gufron, mengatakan bahwa 17 orang tewas disini.[20]
Akhirnya dikerahkanlah satu batalion marinir dan dua batalion tentara ke Maluku, yang berhasil membuat situasi yang kondusif pada tanggal 16 Agustus.[21] Pihak kepolisian mengatakan bahwa sejak 23 Juli hingga 9 Agustus, setidaknya 45 orang tewas dalam bentrok di Ambon. Sedangkan KontraS menyatakan bahwa 82 orang tewas dan empat orang hilang di Ambon antara tanggal 15 Juli dan 5 Agustus. 45 orang telah ditangkap karena diduga terlibat dalam kekerasan tersebut. Polisi juga menyebutkan bahwa lebih dari 30.000 orang mengungsi ke masjid, gereja, dan markas militer di sekitar lokasi kejadian karena khawatir akan kerusuhan lebih lanjut. Pihak militer mengatakan setidaknya 14 anggota aparat keamanan terluka dalam kekerasan ini.[20]
Beberapa kerusuhan (Di Rumah Tiga, Sirisori, dll[22]) tetap terjadi sampai September, seperti waktu 8 warga dan 1 tentara dibunuh di sebuah gereja pada 10 September.[22][23]
Juga, pada 5 September 1999, Presiden Abdurrahman Wahid dan wakilnya Megawati Soekarnoputri mengadakan kunjungan ke Ambon. DPR sudah membentuk panitia kerja yang diketuai Nyoman Gunawan. Beberapa usul mereka usulkan ke kepolisian: agar kerusuhan di Ambon ditangani oleh aparat beragama Hindu.[24]
Kerusuhan Ambon III
[sunting | sunting sumber]Pada 26-28 November 1999, kerusuhan pecah lagi di Mardika dan Perigi, membunuh 38 orang. Penyebabnya tdiak pasti. Kota Ambon saat itu dipenuhi dengan barikade dari kayu, bambu, batang pohon, dan kawat berduri. Walau banyak geng radikal di jalanan yang saat itu beradu, kematian banyak disebabkan oleh tembakan aparat. Kantor polisi lokal juga diserang.[25] Akibatnya, militer mengakui kalau ada dari mereka yang memihak dan tiga batalion tentara diganti dengan yang baru, yang dipercaya lebih tidak radikal. Lagipula, selama empat bulan terakhir, hampir semua korban tewasnya akibat tembakan senjata api militer. Massa Kristen dan Muslim juga menyatakan kalau aparat keamanan menembak secara membabi buta ke arah kerumunan warga sipil. Pihak militer juga telah mengumumkan rencana mereka untuk membagi wilayah Ambon berdasarkan agama.[26]
Deklarasi untuk Menahan Diri dari Kekerasan dan Mengakhiri Konflik
[sunting | sunting sumber]Sebenarnya, beberapa pemimpin agama dari kedua belah pihak secara diam-diam telah menjalin komunikasi satu sama lain. Sementara banyak pemimpin agama menyerukan perang, ada pula yang sejak awal menggaungkan pesan rekonsiliasi. Hal ini membutuhkan keberanian, namun pesan kedamaian itulah yang pada akhirnya mengemuka dalam beberapa khotbah di Maluku saat itu. Pada tanggal 4 September 1999, kelompok perempuan Kristen yang tergabung dalam Gerakan Perempuan Peduli menggelar aksi damai di depan kantor gubernur. Aksi ini berhasil menarik perhatian Gubernur Maluku M. Saleh Latuconsina beserta jajaran pemerintah untuk mendengarkan pembacaan "Deklarasi Suara Perempuan". Tak lama kemudian, kelompok perempuan Muslim yang juga tergabung dalam Gerakan Perempuan Peduli mengadakan aksi serupa. Kedua kelompok Gerakan Perempuan Peduli ini takut melakukan demonstrasi bersama secara terbuka, namun mereka diam-diam saling bertemu untuk berbagi informasi terkait upaya perdamaian. Para perempuan ini juga membagikan pita bertuliskan "Hentikan Kekerasan" untuk dikenakan oleh kaum perempuan. Mereka memiliki program untuk membujuk anak-anak yang terlibat dalam pertempuran agar kembali bersekolah. Pada tanggal 7 Desember 1999, Latuconsina akhirnya membacakan "Deklarasi untuk Menahan Diri dari Kekerasan dan Mengakhiri Konflik"; deklarasi ini ditandatangan oleh beberapa pemimpin senior dari berbagai agama. Gusdur bahkan mengajak para pemimpin RMS di Belanda untuk turut menyuarakan seruan perdamaian. Sayangnya, para pemimpin agama lokal Maluku tidak ikut menandatanganinya, sehingga deklarasi ini hampir tidak ada gunanya.[11]
Desember 1999
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1999, 9 Desember adalah mulainya bulan Ramadhan, yang artinya Natal dirayakan umat Kristen saat umat Islam sedang berpuasa. Beberapa tokoh Islam terkemuka di Indonesia, seperti Kafrawi Ridwan, menyerukan perdamaian di Maluku menjelang bulan puasa unik ini.[27]
Sayang, kerusuhan masih memanas di Maluku. Tanggal 3-6 Desember, 42 orang tewas di Pulau Seram akibat serangan dari desa Muslim Buano Utara terhadap desa Kristen Allang Asaude; aparat pemerintah pun menuai kritik karena gagal mencegah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar tersebut.[28]
Pulau Buru mengalami masa ketidakpastian karena kelompok-kelompok yang sedang bertikai di sana, merenggut setidaknya 43 nyawa hanya pada 23 Desember.[29] Sebanyak 165 orang diperkirakan tewas dalam kurun waktu beberapa minggu, termasuk 117 orang Kristen,[11] dan sejumlah besar penduduk Buru dilaporkan hilang pada minggu-minggu setelah kekerasan bulan Desember; sebagian besar dari mereka mengungsi ke wilayah hutan pedalaman pulau, sementara pihak militer menyebarkan selebaran yang mendesak mereka untuk kembali ke desa masing-masing.[30] Setelah "kalah", umat Kristen di Buru diberi pilihan: antara melihat keluarga mereka dibantai atau masuk Islam, disunat atau membakar habis gereja mereka sendiri. Hal ini menyebabkan hilangnya populasi Kristen di Buru pada pertengahan tahun 2000, setelah 17 gereja Katolik dan sejumlah gereja Protestan dihancurkan.[11]
Kerusuhan juga dimulai (lagi) pada 26 Desember di Ambon setelah seorang anak laki-laki Muslim berusia 14 tahun tertabrak kendaraan yang dikemudikan oleh seorang Kristen. Konflik meningkat tajam sampai Gereja Silo, gereja terbesar di Ambon saat itu, dibakar sehari sesudah Natal.[31] Sebagai bentuk balasan, milisi Kristen membantai lebih dari 800 orang di Tobelo, Halmahera Utara.[27] Kerusuhan terjadi lagi. Di seluruh kota Ambon, sniper-sniper mengarahkan tembakan mereka kepada kapal-kapal yang membawa pengungsi dari Ambon, sampai mobil lapis baja Alvis Saladin dengan meriam 75mm-nya dikerahkan untuk memburu mereka. Kostrad juga dikerahkan ke Maluku untuk memperkuat aparat.[32]
Pada 29 Desember, militer mengambil kendali atas seluruh aparat pengamanan di Maluku. Beberapa aktivis Kristen juga meminta PBB untuk melakukan intervensi dan membawa perdamaian di Maluku. Pada tanggal yang sama, Gusdur menolak menyatakan darurat sipil di Maluku.[32] Pada 4-7 Januari 2000, puluhan orang tewas akibat tembakan peluru tajam karena polisi merasa terpaksa melepaskan tembakan ke arah massa yang sedang terlibat bentrokan di Masohi, Seram.[27] Protes terjadi di depan kantor Kemenko Polkam agar pemerintah lebih sungguh-sungguh mengatasi krisis di Maluku.[27] Seruan jihad terdengar setiap hari di Jakarta. Sekitar 13 Januari, 300 orang Muslim protes juga terjadi di Istana Wakil Presiden untuk meminta Megawati menyelesaikan konflik ini secepatnya, yang Gusdur optimis akan selesai dalam 2 bulan.[30]
Amien Rais juga menggelar demonstrasi berjudul "Aksi Sejuta Umat" di Monas pada 7 Januari, yang dihadiri 22 ormas seperti FPI, Gerakan Pemuda Ka'bah, Laskar Jihad, dan lainnya. Aksi tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Ahmad Sumargono, dan Hamzah Haz. Ia mengimbau umat Islam untuk berjihad menjalankan perang suci di Maluku, yang ditanggapi sebagai aksi provokatif oleh pemerintah.[33]
Selama setahun konflik ini telah berlangsung, sekitar 1.134 orang telah mati dan 2.300 orang telah terluka. Sekitar 8.500 bangunan, termasuk 112 rumah ibadah telah hancur dalam konflik ini.[27]
Datangnya Laskar Jihad
[sunting | sunting sumber]Laskar Jihad bukanlah milisi luar pertama yang datang ke Maluku. Sebelumnya antara 100–200 orang dari milisi Muslim lain bernama Laskar Mujahidin telah tiba lebih dulu pada Desember 1999. Milisi ini dibentuk oleh Jemaah Islamiyah (JI). Mereka diketahui mengenakan penutup wajah dan sering dijuluki sebagai "ninja". Mereka juga menerima bantuan dari Osama bin Laden (Yang ditolak oleh Laskar JIhad) dan memiliki beberapa anggota dari Pakistan dan Afganistan.[11]
Asal Usul Laskar Jihad
[sunting | sunting sumber]Sekitar pertengahan tahun 1980-an, komunitas Islam Salafi Indonesia terbentuk dari mahasisiwa-mahasiswa lokal dan mulai berkembang di kota-kota besar di Indonesia seperti Makassar, Semarang, Solo, Yogyakarta, Jakarta, Bogor dan Bandung. [34] Saat itulah Ja'far Umar Thalib kembali dari Yaman dan ikut dalam komunitas Salafi. Jafar diketahui berpengetahuan luas tentang ajaran Wahhabisme, fasih berbahasa Arab, dan pidatonya sangat menarik. Karena itu, ia dengan cepat menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di kalangan Salafi.[35]
Abu Nida yang lebih senior (Telah berdakwah tentang Salafi di Yogyakarta sejak 1986) merasa perannya sebagai tokoh utama Salafi mulai diambil alih oleh Jafar. Ketegangan terjadi antara kedua tokoh ini, sampai akhirnya Abu Nida mengundurkan diri dan mendirikan Majelis At-Turots Al-Islamy di Bantul. Dari sanalah komunitas Salafi Indonesia terpecah dua, dimana komunitas pimpinan Jafar disebut Salafi Yamani, dan komunitas pimpinan Abu Nida dinamai Salafi Haraki. Jafar kemudian mendirikan Ikatan Taklim Salafi, cikal bakal dari FKAWJ. [35]
Pada 12 Februari 1998, Ja’far Umar Thalib membuat ormas Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (FKAWJ), yang memiliki tujuan “meningkatkan kualitas iman, keilmuan dan peran muslimin Indonesia dalam pembangunan nasional menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang diridhoi Allah”.[35] Tetapi FKAWJ mengirimkan tim investigasi ke Maluku pada akhir tahun 1999 untuk mengumpulkan data mengenai konflik disana. Tim ini menemukan bukti bahwa kelompok separatis Republik Maluku Selatan yang berbasis di Belanda terlibat dalam konflik ini. FKAWJ mengirimkan surat kepada Presiden Habibie yang mendesak pemerintah untuk menghentikan konflik itu. Namun demikian, jumlah korban di kedua belah pihak terus bertambah seiring dengan eskalasi konflik, khususnya di Tobelo dan Galela di Pulau Halmahera.[36]
Singkat cerita, kabar tentang kejahatan milisi Kristen sampai di Jakarta, memicu gelombang kemarahan publik.[27][30] Akibat kabar ini, Jafar memproklamasikan pembentukan Laskar Jihad pada 30 Januari 1999 di depan lebih dari 10.000 orang yang berkumpul di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Laskar Jihad adalah sayap paramiliter dari FKAWJ yang dibentuk sebagai respon terhadap ketidakmampuan pemerintah untuk menyelesaikan konflik di Ambon. Laskar Jihad kemudian mengatur pelatihan militer kepada para sukarelawan di sebuah kamp di Bogor, yang akan dikirimkan ke maluku untuk membela umat Islam Maluku.[37] Diketahui Laskar Jihad juga menggelar protes di Monas pada bulan Maret, bertemu dengan Presiden Gusdur, dan diusir setelah Gusdur tidak merestui rencana mereka untuk jihad ke Maluku.[38][37]
Pada tanggal 6 April, Laskar Jihad melakukan tablig akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Tablig akbar ini dihadiri oleh kurang lebih 10.000 orang yang sebagian besar kaum pemuda. Dalam tabligh ini, dibeberkan pembantaian-pembantaian massal yang dilakukan milisi Kristen kepada umat Muslim di Maluku. Ja’far Umar Thalib juga menyerukan jihad ke Maluku. Untuk melegitimasi seruan jihad ini mereka meminta fatwa kepada sejumlah tokoh Timur Tengah, seperti Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (Yang terjun langsung ke Maluku saat mempertimbangkan fatwanya), Muqbil bin hadi al-Wadi’I, Rabi’ bi Hadi al-Madkhali, Syaikh Dr. Shalih bin Sa'ad as-Suhaimi, Ahmad Yahnya, Ahmad bin Yahya an-Najmi, dan Wahid al-Jabiri, semuanya tokoh Salafi ataupun Wahhabi. Mereka mengeluarkan fatwa bahwa jihad ke Maluku hukumnya wajib.[35][39]
Kendati demikian, mereka memperingatkan Laskar Jihad untuk mencoba cara diplomasi terlebih dahulu, dengan cara memilih seorang perwakilan untuk memberikan nasihat kepada presiden Gusdur. Jika Gusdur mempertimbangkan nasihat mereka, Laskar Jihad harus membatalkan jihadnya. Namun, jika Gusdur menolak nasihat itu, Laskar Jihad diperbolehkan untuk melakukan jihad asalkan mampu melakukannya, supaya tanah Maluku tidak menjadi kuburan mereka.[36]
Singkat cerita, sehari setelah mengadakan tablig itu Laskar JIhad berangkat untuk protes ke Stadion Senayan,[40] Gedung DPR,[38] dan Istana Presiden untuk berunjuk rasa.[41] Beberapa politikus ternama seperti Amien Rais, Hamzah Haz, dan Yusril Ihza Mahendra mendukung aksi itu. Gusdur saat itu baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia menerima 6 wakil Laskar Jihad di Istana. Namun, setelah keluar dari istana, salah seorang panglima Laskar Jihad berteriak mengecam keras sikap Gusdur tentang kerusuhan di Maluku saat itu. Tetapi Gusdur balik memarahi para pemimpin Laskar Jihad.[40][42][41] Kepolisian Bogor meminta Laskar Jihad untuk meninggalkan Bogor dalam 1x24 jam. Walau demikian, segala halangan itu tidak efektif sehingga Laskar Jihad tetap berangkat ke Maluku.[43]
Mobilisasi ke Maluku
[sunting | sunting sumber]"Apakah itu jihad atau jahit yang ingin mereka lakukan, Muslim atau Kristen, tangkap mereka semua!!" -Abdurrahman Wahid[44]
Diakui oleh Jafar sendiri, keberhasilan Laskar Jihad di Maluku sangat dibantu oleh pihak militer. Diketahui ribuan milisi Laskar Jihad, yang sudah dilatih di Bogor, pergi ke Maluku melalui kapal-kapal milik negara. Dibiarkannya ribuan milisi Laskar Jihad dan senjatanya pergi ke Maluku oleh aparat negara kembali memberikan kesan buruk pada citra aparat. Jafar sendiri telah melakukan serangkaian pembicaraan dengan sejumlah elit militer. Bahkan dalam sebuah wawancara pada bulan April 2000, dia bahkan mengakui bahwa ada orang yang mengatur pertemuan antara dirinya dengan panglima TNI saat itu Widodo Adi Sucipto. Pada tanggal 2 Mei 2000, dengan bangga Jafar mengatakan bahwa telah membahas pengiriman Laskar Jihad ke Maluku dengan Panglima Angkatan Darat, Tyaso Sodarto, yang dihadiri pula oleh Panglima Kodam Diponegoro, Bibit Waluyo dan Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto serta Kepala Staf TNI, Agus Widjojo.[35] Juga Komandan Militer Wilayah Surabaya diketahui tidak menghentikan ribuan laskar Laskar Jihad yang berangkat ke Maluku, akan tetapi mereka disambut oleh aparat saat kedatangan mereka di pelabuhan, sembari memberikan senjata-senjata kepada mereka.[44]
Struktur Organisasi Laskar Jihad
[sunting | sunting sumber]Laskar Jihad dipimpin oleh seorang panglima tertinggi (Ja'far Umar Thalib[40]) yang membawahi panglima-panglima, komandan-komandan batalion dan komandan brigade infantri. Struktur organisasi Laskar Jihad terkesan tertutup, karena di lapangan masing-masing anggota saling tidak mengenal identitas kawannya. Bahkan beberapa orang yang dianggap pemimpin oleh sebagian anggota laskar kadang pula tidak dikenal oleh sebagian anggota lainnya. Karena ketertutupan mereka sangat sulit untuk dikonfirmasi atau diwawancarai. Bagaimana mungkin bisa mengetahui identitas berupa asal atau jati diri mereka untuk diajak berbicara saja sulit, tidak ada sanda gurau diantara mereka, pembicaraan hanya sebatas topik-topik yang umum saja. Karena dilatih untuk mampu menyimpan rahasia, dan dibekali dengan perjuangan antara hidup atau mati maka segala sesuatu menurut mereka hanya Allah yang tahu. Sebetulnya, semua pemimpin Laskar Jihad diseleksi secara istimewa karena harus memiliiki keahlian untuk menjadi pemimpin, kepala artileri, pelopor, strategi dan sebagainya. Mereka juga memiliki ketrampilan dari militer dan mendapat pendidikan militer . Sedangkan untuk laskar-laskar yang nanti terjun di medan perang, mereka juga dipilih, karena dia harus memiliki kemampuan dan kecekatan untuk berperang, terutama secara fisik dan keberaniannya. Meskipun demikian, sebelum dilakukan proses ini, bila telah mendapat rekomendasi dari dua anggota komunitas Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, anggota baru menjalani latihan fisik agar mendapat izin untuk masuk kelompok Laskar Jihad. Adik Ustadz Jafar Umar Thalib menyatakan bahwa syarat-syarat untuk diterima masuk Laskar Jihad harus seorang muslim, militan, umurnya lebih dari 17 tahun sehat dan lulus tes fisik.[35]
Pelatihan di dalam Kamp, para pelatih Laskar berasal dari sebuah kelompok menwa, mantan polisi, mantan tentara dan beberapa dari pimpinan Laskar Jihad sendiri yang pernah berpengalaman terlibat dalam berbagai peperangan, misalnya di Moro, Kashmir dan Afghanistan. Sementara pelatihan berlangsung, terdapat juga dukungan moral dari beberapa pimpinan salafy, yang sering datang mengunjungi para laskar di Kamp pelatihan. Para laskar juga pernah mendapat suport oleh beberapa kalangan tokoh islam melalui kunjungan mereka diantaranya para tokoh tersebut yakni Eggy Surjana, Front Pembela Islam, Achmad Sumargono dan Tasrif Tuasikal dari Partai Persatuan Pembangunan, dalam kunjungan tersebut disamping memberikan motivasi secara ideologis juga memberikan bantuan konsumsi. Klaim dari forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahwa mempunyai anggota sebanyak 80.000 hingga 90.000 orang, sehingga jumlah tersebut yang aktif mengikuti Laskar Jihad sebanyak 10.000 orang dan diperkirakan kurang lebih 3000 berada di Maluku dan kurang dari 1000 berada di Poso. Keanggotaan Laskar Jihad kebanyakan berasal dari anakanak muda rata-rata berusia antara 20 – 25 tahun dan kebanyakan mereka adalah kaum terpelajar yakni para mahasiswa dan kaum intelektual lain seperi para Dokter dan petugas kesehatan lainnya. Sedangkan rekrutmen anggota laskar dilakukan hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali di daerah Papu, Nusa Tengga Timur dan Aceh.[35]
Kesuksesan di Maluku
[sunting | sunting sumber]Setelah 3000 milisi Laskar Jihad datang ke Ambon pada Mei. Laskar Jihad mengubah jalannya konflik sebagai akibat dari mereka mendapatkan senjata militer dari Jawa. Pada 16–17 Mei 2000 di daerah Batumerah-Mardika, di Jalan A.M. Sangaji, 13 orang tewas dan 50 orang luka-luka. Dan pada 16 -18 Mei, konflik juga meluas kembali ke Ahuru dan Karang Panjang, menewaskan 17 orang. Pada 20 Mei, 13 orang tewas di Laha. Sebagian besar korban adalah umat Kristen. Menjelang akhir Mei 2000, Gereja Maranatha di Ambon mengajukan permohonan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Maluku. Kekerasan terus berlanjut sepanjang Juni 2000, dimana pada 15 Juni milisi Kristen juga membuat milisi bernama Front Kedaulatan Maluku (FKM). Disisi lain, pada 21 Juni Laskar Jihad terlibat dalam sebuah pertempuran besar yang berlangsung selama beberapa hari, yang membuat Laskar Jihad (Dengan bantuan militer) berhasil merebut sebuah markas Brimob, yang membuat presiden Gusdur akhirnya mengumumkan keadaan darurat sipil di Maluku pada 27 Juni.[11][40]
Meskipun sejak Laskar Jihad datang pada Mei telah terjadi beberapa insiden mengerikan, tingkat kematian sejak Mei 2000 ternyata menurun. Hal ini disebabkan karena Laskar Jihad memiliki alusista modern seperti senapan mesin, mortir, serta granat berpeluncur roket. Akibatnya, milisi-milisi Kristen sering kali mengevakuasi total desa-desa Kristen sebelum kedatangan mereka. Laskar Jihad dietahui juga pandai mengintegrasikan milisi-milisi Muslim lokal ke dalam kendalinya.[11]
Tahun 2001-2004
[sunting | sunting sumber]Tahun 2001–2003 jauh lebih damai daripada dua tahun sebelumnya seiring dengan adanya pergantian kepemimpinan aparat setempat dan semakin berkurangnya keterlibatan aparat dalam bentrok. Lagipula, dimulai dari tahun 2001, aparat akhirnya mulai menekan Laskar Jihad untuk pergi dari Maluku. Namun, periode 2001–2003 juga diwarnai oleh berbagai bentrok dimana-mana, karena anggota-anggota paling radikal dalam Laskar Jihad berupaya membuat konflik kembali menyala. Terdapat pula sejumlah peristiwa yang signifikan pada dua tahun ini, seperti pembunuhan panglima Laskar Kristus, Agus Wattimena. Kepala Kepolisian Maluku, Firman Gani, mengungkapkan bahwa selama dua tahun ini, sejumlah aparat korup merasa "kecewa" akibat berkurangnya pendapatan mereka dari mengawal kapal cepat dan membiarkan milisi-milisi melewati pos-pos pemeriksaan.[11]
Pada bulan April 2004, kerusuhan kembali pecah. Walaupun hanya membuat kurang dari 40 orang kehilangan nyawa, kerusuhan ini menyebabkan kerusakan harta benda yang sangat parah di kedua belah pihak. Sebagian besar warga Poka kehilangan rumah mereka untuk kedua kalinya, dan diperkirakan sebanyak 200.000 orang terpaksa mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Sasaran kerusuhan meliputi empat kendaraan PBB serta gedung PBB setempat yang menjadi kantor bagi UNDP, UNICEF, dan Save the Children Fund. Diketahui Laskar Jihad sendiri memandang PBB—berdasarkan pengalaman dari Referendum Timor Timur—sebagai bagian dari konspirasi Kristen untuk memecah belah Indonesia. Mereka juga menganggap LSM internasional sebagai jaringan mata-mata Kristen yang merangkap sebagai intelijen.[11]
Konflik di Maluku Utara
[sunting | sunting sumber]Konflik di Maluku dan Maluku Utara sering kali dipandang sebagai bagian dari konflik sektarian yang sama. Kedua konflik ini juga saling memengaruhi satu sama lain; kemungkinan besar konflik di Maluku memberi lampu hijau kepada para provokator di Maluku Utara. Namun, kedua konflik ini cukup berbeda. Diketahui Maluku adalah provinsi di mana populasi Muslim dan Kristen hampir sama, sedangkan 85% penduduk Maluku Utara memeluk agama Islam. Akibatnya, konflik antara kelompok Kristen dan Muslim di Maluku Utara menjadi sangat tak terelakkan. Karena kelompok Kristen kalah jumlah, Laskar Jihad tidak pernah menjadi kekuatan yang signifikan di Maluku Utara; kehadiran mereka memang tidak diperlukan. Juga walau pihak Kristen sempat dituduh telah melakukan gerakan separatis bawah tanah pada suatu waktu, hal itu tidak terlalu memicu kemarahan publik seperti yang terjadi di Maluku. Pemberontakan RMS tahun 1950 tidak pernah menarik dukungan berarti ataupun memicu konflik yang signifikan di Maluku Utara; bagaimanapun juga, RMS merupakan organisasi yang bertujuan memerdekakan daerah Maluku Selatan.[11]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Piagam Malino II
- Republik Maluku Selatan
- Konflik serupa: Kerusuhan Poso, Konflik Sampit, Kerusuhan Tarakan, dan Kerusuhan Banjarmasin
Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Saling bunuh, saling bakar sampai... 'sayang kamu semua': Mantan tentara anak Islam dan Kristen Ambon". BBC. 27 February 2018. Diakses tanggal 31 January 2022.
- 1 2 Bertrand 2004, hlm. 122
- 1 2 Duncan, Christopher R. (October 2005). "The Other Maluku: Chronologies of Conflict in North Maluku". Indonesia. Southeast Asia Program Publications at Cornell University. 80: 53–80. JSTOR 3351319.
- 1 2 Bertrand 2004, hlm. 129–131
- ↑ Hedman 2008, hlm. 50
- ↑ Sidel 2007, hlm. 181
- ↑ Sidel 2007, hlm. 184
- ↑ Bertrand 2004, hlm. 133
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "Memahami Konflik Maluku 1999". Diakses tanggal 2026-06-18.
- 1 2 3 4 "Tuhanmu Bukan Lagi Tuhanku: Perang Saudara Muslim-Kristen di Maluku Tengah (Indonesia) Setelah Hidup Berdampingan dengan Toleransi dan Kesatuan Etnis yang Berlangsung Selama Setengah Milenium". Diakses tanggal 2026-06-18.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Braithwhite, John, dan Lean Dunn. "Anomie and Violence: Non-truth and reconciliation in Indonesian peacebuilding" (PDF). Diakses tanggal 2026-06-22.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 "IV. THE CONFLICT". Diakses tanggal 2026-06-18.
- 1 2 3 "[INDONESIA_L] Ambon Update". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ Head, Jonathan. "World: Asia-Pacific Ambon runs short of food". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ "The Pope calls for peace in Ambon". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ "New Straits Times - Google News Archive Search". news.google.com. Diakses tanggal 2026-07-30.
- 1 2 "Ambon tense after riot deaths". Diakses tanggal 2026-06-22.
- 1 2 "Ambon violence flares again". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ Parry, Richard Llyod. "Troops killed '24' in church". Diakses tanggal 2026-06-22.
- 1 2 "At least 15 killed in Ambon clash | The Jakarta Post". www.thejakartapost.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-08-01.
- ↑ "Indonesia Now Calm". Diakses tanggal 2026-08-01.
- 1 2 Bertrand (2004), hlm. 128
- ↑ "The Deseret News - Google News Archive Search". news.google.com. Diakses tanggal 2026-08-01.
- ↑ "GUS DUR KE AMBON SAAT APARAT MEMIHAK - 1999-12-19 - DATA TEMPO". data.tempo.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-03.
- ↑ "1 Dead, 26 injured as new clashes hit Ambon". news.google.com. Diakses tanggal 2026-08-01.
- ↑ "BBC News | ASIA-PACIFIC | Indonesia withdraws troops from Moluccas". news.bbc.co.uk. Diakses tanggal 2026-08-01.
- 1 2 3 4 5 6 "Death toll in Sect Clashes rises to 600". Diakses tanggal 2026-08-01.
- ↑ "Maluku Clashes Leaves 31 Dead". Diakses tanggal 2026-08-03.
- ↑ "43 killed in Maluku Violence". Diakses tanggal 2026-08-03.
- 1 2 3 "Leaflent drop to coax refugees out of jungles". Diakses tanggal 2026-08-03.
- ↑ "Latar Belakang Konflik Ambon 1999". id.scribd.com. Diakses tanggal 2026-08-01.
- 1 2 "More than 300 killed in Mollucas". news.google.com. Diakses tanggal 2026-08-01.
- ↑ Nugroho, Kukuh Bhimo. "Pasang Surut Aksi Ormas Islam Setelah Reformasi". tirto.id. Diakses tanggal 2026-08-11.
- ↑ Hasan, Noorhaidi (2006). Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order. Cornell University Press. ISBN 978-0-8772-7740-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 4 5 6 7 Hafel, Muhlis. "GERAKAN LASKAR JIHAD DALAM DINAMIKA POLITIK IDONESIA PASCA ORDE BARU" (PDF). Diakses tanggal 2026-08-11.
{{cite web}}: - 1 2 Nurhayati, Sitti Sani (2006). "Laskar Jihad In Maluku 2000-2002: A Collective Obligation". Ulumuna (dalam bahasa Inggris). 10 (1): 81–102. doi:10.20414/ujis.v10i1.433. ISSN 2775-2453.
- 1 2 "BAB 2 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN UPAYA PENANGGULANGAN TERORISME DI INDONESIA" (PDF). Diakses tanggal 2026-08-11.
{{cite web}}: - 1 2 "[INDONEWS] ISTIQLAL (17/5/2000)# KONFLIK GUS DUR-AMIEN RAIS ADALAH". www.mail-archive.com. Diakses tanggal 2026-08-11.
- ↑ Nurhayati, Sitti Sani (2006). "Laskar Jihad In Maluku 2000-2002: A Collective Obligation". Ulumuna (dalam bahasa Inggris). 10 (1): 81–102. doi:10.20414/ujis.v10i1.433. ISSN 2775-2453.
- 1 2 3 4 Tan, Andrew T. H. (2009-01-01). A Handbook of Terrorism and Insurgency in Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). Edward Elgar Publishing. hlm. 146–167. ISBN 978-1-84720-718-0.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 "Gaya Para Presiden Hadapi Unjuk rasa". KOMPAS.com. 2010-02-01. Diakses tanggal 2026-08-12.
- ↑ Umam, Saiful. "Radical Muslims in Indonesia: The Case of Jafar Umar Thalib and Laskar Jihad". Radical Muslims in Indonesia: The Case of Jafar Umar Thalib and Laskar Jihad.
- ↑ "WAWANCARA KHAS / PANJI NO". www.oocities.org. Diakses tanggal 2026-08-12.
- 1 2 HIDAYATULLOH, NANDA SYARIF. "DAGELAN POLITIK GUS DUR TAHUN 1999-2001". Diakses tanggal 2026-08-12.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Bertrand, Jacques (2004). Nationalism and ethnic conflict in Indonesia. Cambridge University Press. ISBN 0-521-52441-5.
- Braithwaite, John; Leah Dunn (2010). "3. Maluku and North Maluku". Anomie and Violence: Non-truth and reconciliation in Indonesian peacebuilding (PDF). The Australian National University. hlm. 147–243. ISBN 978-1-921666-22-3. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-03-29. Diakses tanggal 2016-12-28.
{{cite book}}: - Duncan, Christopher R. (2013). Violence and Vengeance: Religious Conflict and Its Aftermath in Eastern Indonesia. Cornell University Press.
- Goss, Jon (2000). "Understanding the Maluku Wars: Overview of Sources of Communal Conflict and Prospects for Peace" (PDF). Cakalele (dalam bahasa English). 11. Honolulu: University of Hawaii, Center for Southeast Asian Studies: 7–39. ISSN 1053-2285. Diakses tanggal 22 November 2016.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - Hedman, Eva-Lotta E. (2008). Conflict, violence, and displacement in indonesia. Cornell South East Asia Program Publications. hlm. 29–231. ISBN 978-0-87727-775-0.
- Lindsey, Timothy (2008). "Adat law, conflict and reconciliation: the Kei Islands, Southeast Maluku". Indonesia, law and society. Federation Press. hlm. 115–146.
- Sidel, John Thayer (2007). Riots, pogroms, jihad: religious violence in Indonesia. NUS Press. ISBN 9971-69-357-7.
- van Klinken, Geert Arend (2007). Communal violence and democratization in Indonesia: small town wars. Taylor & Francis. hlm. 88–124. ISBN 0-203-96511-6.
- Wilson, Chris (2008). Ethno-religious violence in Indonesia: from soil to God. Routledge. ISBN 0-203-92898-9.
- Hasan, Noorhaidi (2006) Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia. Cornell South East Asia Program Publications. ISBN 978-0-
- Era pasca-Soeharto
- Konflik etnis di Indonesia
- Kekerasan berlandaskan agama di Indonesia
- Indonesia dalam tahun 1999
- Indonesia dalam tahun 2000
- Indonesia dalam tahun 2001
- Indonesia dalam tahun 2002
- Kepulauan Maluku
- Serangan terhadap tempat ibadah
- Kekristenan dan kekerasan
- Islam dan kekerasan
- Penghancuran gereja oleh Muslim
- Kekerasan sektarian