Kesultanan Bima

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Kesultanan Bima Mbojo
1620–1958
Bima Sultanate palace
Ibu kota Bima
Bahasa Bima
Agama Islam
Bentuk pemerintahan Kesultanan
Sultan Sultan Abdul Kahir
Sejarah
 -  Kerajaan Bima berkonversi menjadi Kesultanan Bima 1620
 -  Status kesultanan dihapus oleh Republik Indonesia 1958
Pendahulu
Pengganti
Kerajaan Bima
Hindia Belanda
Sekarang bagian dari  Indonesia
Warning: Value specified for "continent" does not comply
Istana Sultan Bima pada tahun 1949
Sultan Muhammad Salahuddin (bertahta 1920-1943)
Sultan Muhammad Salahuddin bersama tamu tentara Belanda (tahun 1949)

Kesultanan Bima Mbojo atau Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima Nusa Tenggara Barat. Para ahli memperkirakan Kerajaan Bima Hindu berdiri sejak abad ke-13 M, dengan raja pertamanya bergelar Sang Bima I. Raja berkuasa selama kurang lebih dua dekade, yang kemudian digantikan oleh putranya, Indra Zamrud. Wilayah kekuasaan Kerajaan Bima mencakup Pulau Sumbawa, Sawu, Solor, Sumba, Larantuka, Ende, Manggarai, dan Komodo. Pada masa Hindu ini kerajaan Bima dipimpin oleh 26 raja.[1]

Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu/Syiwa. Pada masa Pemerintahan Raja XXVII,yang bergelar “Ruma Ta Ma Bata Wadu”. Menurut BO (catatan lama Istana Bima), menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang. Ia menerima/memeluk agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M, kemudian raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan “Sultan” yaitu Sultan Bima I, beliau inilah dengan nama Islam “Sultan Abdul Kahir”.

Menurut dokumen-dokumen tua mengenai kesultanan ini, Kesultanan Bima belumlah diketahui secara pasti kapan ia mula-mula dibentuk. Tapi ia diketahui muncul sejak masuk Islamnya Sultan pertama, yang diduga oleh J. Noorduyn terjadi pasca serangan militer oleh Makassar pada 1618 dan 1619. Adapun tanggal Sultan masuk agama Islam didapati dalam sebuah dokumen Bima, ialah pada 7 Februari 1621.[1]

Setelah Sultan Bima I mangkat, maka digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II. Pada saat itu, sistem pemerintahan Kesultanan Bima berubah dengan berdasarkan “Hadat dan Hukum Islam”. Hal ini berlaku sampai dengan masa pemerintahan Sultan Bima XIII (Sultan Ibrahim). Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putera dari Sultan Abdul Kahir. Dilahirkan bulan + April 1627 (Ramadan 1038 H), bergelar Ruma Mantau Uma Jati. Ia juga bernama La Mbila, orang Makassar menyebut “I Ambela”. Wafat tanggal + 22 Juli 1682 (17 Rajab 1099 H), dimakamkan di Tolobali. Menikah dengan saudara Sultan Hasanuddin, bernama Karaeng Bonto Je’ne, pada tanggal 13 September 1646 (22 Rajab 1066 H), di Makassar. Abdul Khair Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Bima II, pada tahun 1640 (1050 H).

Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah adalah putera dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Dilahirkan pada tanggal 5 Desember 1651 (29 Zulhijah 1061 H). Orang Makassar diberi gelar “Mappara bung Nuruddin Daeng Matali Karaeng Panaragang”. Naik tahta pada tahun 1682 (Zulhijah 1093 H). Menikah dengan Daeng Tamemang, saudara Karaeng Langkese puteri Raja Tallo pada tanggal  7 Mei 1684 (22 Jumadilawal 1095 H). Setelah meninggal, diberi gelar “Ruma Ma Wa’a Paju”, karena yang mula-mula memakai payung jabatan yang berwarna kuning yang terkenal dengan “Paju Monca”.

Sultan Muhammad Salahuddin adalah Putera dari Sultan Ibrahim, dilahirkan pada tahun 1888 (jam 12.00, 15 Zulhijah 1306 H). Dilantik menjadi Sultan Bima XIII pada tahun 1917. Meninggal di Jakarta pada hari Kamis 11 Juni 1951, pukul 22.00 (7 Syawal 1370 H) dalam usia 64 tahun. Setelah wafat diberi gelar “Ma Kakidi Agama”, karena menjunjung tinggi agama serta memiliki pengetahuan yang mumpuni dan luas dalam bidang agama. Sejak berumur 9 tahun, memperoleh pendidikan dan pelajaran agama dari ulama terkenal, diantaranya: H. Hasan Batawi dan Syech Abdul Wahab (Imam Masjidil Haram Mekkah). Ia memiliki koleksi buku-buku agama karya ulama-ulama terkenal dari Mesir, Mekkah, Madinah, dan Pakistan. Juga karya oleh Imam Syafi’i. Ia mendalami Ilmu Fiqih dan Qira’ah. Pada era pemerintahannya, tidak mengherankan apabila perkembangan agama mengalami kemajuan pesat terutama di bidang pendidikannya. Wazir Ruma Bicara yang dipegang oleh Abdul Hamid (menggantikan Muhammad Qurais) pada era itu juga mempunyai peran dan menaruh perhatian yang amat besar dalam bidang yang sama.

Daftar Sultan Bima[sunting | sunting sumber]

1) 1640: Sultan Abdul Kahir I (Ma bata wadu) dinobatkan 1640 dan mangkat beberapa bulan setelah menjadi Sultan.

2)[2] 1640-1682: Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (Mantau Uma Jati)

3) 1682-1687: Sultan Nuruddin, kuburannya di Tolobali.

4) 1687-1696: Sultan Jamaluddin (Sangaji Bolo). Tewas di penjara Batavia.

5) 1696-1731: Sultan Hasanuddin. Tewas di Tallo diberi gelar Mambora di Tallo.

6) 1731-1742: Sultan Alauddin, Manuru Daha.

7) 1742-1773: Sultan Abdul Qadim, Ma Waa Taho.

8) 1773-1795: Sultanah Kumalasyah (Kumala Bumi Partiga). Dibuang Inggris Ke Sailon Srilangka hingga mangkat.

9) 1795-1819: Sultan Abdul Hamid, Mantau Asi Saninu.

10) 1819-1854: Sultan Ismail, Ma waa Alu.

11) 1854-1868: Sultan Abdullah, Ma waa Adil.

12) 1868-1881: Sultan Abdul Azis, Ma Waa Sampela, meminggal diusia bujang.

13) 1881-1915: Sultan Ibrahim, Ma Taho Parange.

14) 1915-1951: Sultan Muhammad Salahuddin, Ma Kakidi Agama. Mangkat di Jakarta, pemakaman Karet.

15) 1945-2001: Sultan Abdul Kahir II, Ma Busi Ro Mawo, Jena Teke. Dianugerahi Sultan sebagai penghargaan oleh Majelis Adat saat mangkat 17 Juni 2001. (Catatan Alan Malingi).

Biografi Tokoh[sunting | sunting sumber]

Muhammad Salahuddin[sunting | sunting sumber]

Sultan Muhammad Salahuddin (lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 15 Juli 1889 – meninggal 11 Juni 1951 pada umur 61 tahun) adalah Sultan Bima yang bertahta tahun 1920-1943. Namanya kini diabadikan jadi Bandar Udara Muhammad Salahuddin, Bima.

Sumber[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Chambert-Loir, Henri (2018). Sastra dan Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG bekerjasama dengan École française d‘Extrême-Orient, Institut Français d'Indonésie dan Forum Jakarta-Paris. hlm. 196. ISBN 978-602-481-090-0. 
  2. ^ Yuliadi, Imam; Yuliadi, Imam (Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang, 2011). "Unsur lokal dalam pemerintahan Kesultanan Bima masa Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (1640-1682 M) / Imam Yuliadi". ,Unsur lokal dalam pemerintahan Kesultanan Bima masa Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (1640-1682 M) / Imam Yuliadi. Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang, 2011 (Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang, 2011): 1–99. doi:Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang, 2011 Periksa nilai |doi= (bantuan). 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]