Kesultanan Sumbawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kesultanan Sumbawa
Kerajaan Samawa
1674–1958
Lambang
Bendera Lambang
Istana Dalam Loka Samawa di Kota Sumbawa Besar
Ibu kota Sumbawa Besar
Bahasa Sumbawa
Agama Islam
Bentuk Pemerintahan Monarki Kesultanan
Sultan
 -  1674–1702 Sultan Harunnurrasyid I
 -  1931-1975 Sultan Muhammad Kaharuddin III
 -  2011-Sekarang Sultan Muhammad Kaharuddin IV
Sejarah
 -  Berdirinya Dinasti Dewa Dalam Bawa Dinasty Dewa Awan Koening Pallacca der Boegis 1674
 -  Bergabung dengan Indonesia 21 Januari 1958.NKRI. 1958
Pendahulu
Pengganti
Kerajaan Majapahit
Kesultanan Gowa
Indonesia
Sastra Lontar ; Kemang nopoka tu Sumping dunungmo katara kerungan.《ref》.

Kesultanan Sumbawa atau juga dikenal dengan Kerajaan Samawa[1] adalah salah satu dari tiga kerajaan Islam besar di Pulau Sumbawa. Keberadaan Tana Samawa atau wilayah Sumbawa, mulai dicatat oleh sejarah sejak zaman Dinasti Dewa Awan Kuning, tetapi tidak banyak sumber tertulis yang bisa dijadikan bahan acuan untuk mengungkapkan situasi dan kondisi pada waktu itu. Sebagaimana masyarakat di daerah lain, sebagian rakyat Sumbawa masih menganut animisme dan sebagian sudah menganut agama Hindu. Baru pada kekuasaan raja terakhir dari Dinasti Awan Kuning, yaitu Dewa Maja Purwa, ditemukan catatan tentang kegiatan pemerintahan kerajaan, antara lain bahwa Dewa Maja Purwa telah menandatangani perjanjian dengan Kerajaan Gowa di Sulawesi. Perjanjian itu baru sebatas perdagangan antara kedua kerajaan kemudian ditingkatkan lagi dengan perjanjian saling menjaga keamanan dan ketertiban. Kerajaan Gowa yang pengaruhnya lebih besar saat itu menjadi pelindung Kerajaan Samawa.

Setelah Dewa Maja Purwa wafat ia digantikan oleh Mas Goa, yang masih menganut agama Hindu. Ia dianggap telah melanggar salah satu perjanjian damai dengan Kerajaan Gowa, maka ia terpaksa disingkirkan bersama pengikut-pengikutnya, kira-kira ke wilayah Kecamatan Utan-Rhee sekarang. Ia diturunkan dari tahtanya karena mangkir dari kesepakatan pendahulunya dengan Kerajaan Gowa. Tidak disebutkan apa pelanggaran yang telah dilakukan Mas Goa, namun campur tangan Raja Gowa di Sulawesi sangat besar. Pemberhentian secara paksa ini terjadi pada tahun 1673 sekaligus mengakhiri pengaruh Dinasti Dewa Awan Kuning di Sumbawa[2]. Dinasty Awal ; Dinasty Dewa Awan Koening leng Sampar Samulan [sekarang kec.Moyo Hulu]☆terkait desa Malili.kec Malili sumbawa besar .》terkait Malili kab.Luwu timur sul-sel》Arung Pallacca der Boegis》terkait Sawerigading+We Cudai [ref=I'Galigo].Smawa Versus Lontara Raja-raja Sapuan/asal pitu/asal telu; banjar melayu,jawa dipa {sekarang surabaya}, bugis+bajo.[ref:situs megalit batu sampar samulan]. Asal pitu: -Pekat di kaki gunung tambora akibat letusan 1816.sekarang pekat kel di sumbawa besar. -Sanggar di kaki gunung tambora Letusan 1816.sekarang kec Empang/plangpang dan Dompu. -Tambora di kaki gunung tambora Letusan gunung 1816.Migrasi ke Bima,Dompu,Empang/plangpang. -Seran utan re. -Taliwang campuran sisa laskar Kerajaan selaparang akibat serbuan Gelgel/kerajaan Buleleng. -Selesek/ropang dan batulante. -Kerajaan Sampar samulan Dinasty Dewa Awan kuning.[Moyo Hulu sekarang]. Catatan: Yang berdekatan menjadi satu.

                Yang hancur akibat bencana dan perang di jadikan satu.

Propinsi NTB termasuk pulau sumba dan separuh bagian barat pulau flores merupakan jalinan tiga (3) ras -banjar melayu (kutai).

                                -Jawa dipa pra Majapahit.
                                -Bugis + bajo.

Aliran kepercayaan saat itu adalah kepada leluhur/kaharingan. sebelum datangnya hindu,budha, islam,kristen.[ref=Genetik/lontar/batu megalit].

Sejarah Kesultanan Sumbawa[sunting | sunting sumber]

Kedatangan Islam[sunting | sunting sumber]

Diperkirakan agama Hindu-Budha telah berkembang pesat di kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Sumbawa sekitar 200 tahun sebelum invasi Kerajaan Majapahit ke wilayah ini. Beberapa kerajaan itu antara lain Kerajaan Dewa Mas Kuning di Selesek (Ropang), Kerajaan Airenung (Moyo Hulu), Kerajaan Awan Kuning di Sampar Semulan (Moyo Hulu), Kerajaan Gunung Setia (Sumbawa), Kerajaan Dewa Maja Paruwa (Utan), Kerajaan Seran (Seteluk), Kerajaan Taliwang, dan Kerajaan Jereweh.

Menurut Zolinger, agama Islam masuk ke Pulau Sumbawa lebih dahulu daripada Pulau Lombok antara tahun 14501540 yang dibawa oleh para pedagang Islam dari Jawa dan Sumatera, khususnya Palembang. Selanjutnya runtuhnya Kerajaan Majapahit telah mengakibatkan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Sumbawa menjadi kerajaan-kerajaan yang merdeka. Kondisi ini justru memudahkan bagi proses pengenalan ajaran Islam oleh para mubaligh tersebut, kemudian pada tahun-tahun awal pada abad ke-16, Sunan Prapen yang merupakan keturunan Sunan Giri dari Jawa datang untuk menyebarkan Islam pada kerajaan-kerajaan Hindu di Sumbawa, dan terakhir penaklukan Karaeng Moroangang dari Kerajaan Gowa tahun 1618 atas Kerajaan Dewa Maja Paruwa (Utan) sebagai kerajaan terakhir yang bersedia masuk Islam sehingga menghasilkan sumpah: “Adat dan rapang Samawa (contoh-contoh kebaikan) tidak akan diganggu gugat sepanjang raja dan rakyatnya menjalankan syariat Islam”.

Dinasti Dewa Dalam Bawa[sunting | sunting sumber]

Prosesi Nginring atau perpindahan Sultan Sumbawa ke-16, Sultan Muhammad Kaharuddin III, dari Istana Dalam Loka Samawa ke Istana Bala Puti pada tahun 1934.
Istana Bala Puti di Kota Sumbawa Besar yang dibangun pada tahun 1932-1934. Sekarang bangunan ini menjadi Wisma Praja Kabupaten Sumbawa.

Pemberhentian Mas Goa secara paksa pada tahun 1673 mengakhiri pengaruh Dinasti Dewa Awan Kuning di Sumbawa. Satu tahun berikutnya, pada 1674 Dinasti baru terbentuk dan diberi nama Dinasti Dewa Dalam Bawa. Saat itu rakyat Sumbawa sudah mulai memeluk agama Islam. Dinasti Dewa Dalam Bawa ini berkuasa hingga tahun 1958, saat Kesultanan Sumbawa bergabung dengan Republik Indonesia.

Sultan Sumbawa yang berkuasa adalah Amas Cini (Dewa Mas Pamayam), setelah itu Amas Gowa (saudara Amas Cini), yang ketiga Amas Penghulu (saudari Amas Gowa) kemudian menikah dengan Raden Subangsa (nama lahir: Raden Marabut) dari Kesultanan Banjar.[3] Amas Penghulu menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin adalah puteri Raja Selaparang (dengan permaisuri Sumbawa/Seran ?) yang menetap di Sumbawa. Sebelumnya Raden Subangsa juga telah menikahi puteri Raja Selaparang lainnya yang menetap di Taliwang yaitu Mas Surabaya yang kemudian meninggal dunia, dan pasangan ini juga telah memiliki putera bernama Raden Mataram.

Buah pernikahan Amas Penghulu dengan Raden Subangsa alias Raden Marabut yang mendapat julukan sebagai Pangeran Taliwang melahirkan Raden Amas Bantan (keponakan Amas Gowa). Silsilahnya menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin sebagai berikut; Raden Amas Bantan bin Raden Subangsa bin Pangeran Marta Sari bin Pangeran Mangkunagara bin Sultan Hidayatullah 1 (Raja Banjar III) bin Sultan Rahmatullah (Raja Banjar II) bin Sultan Suryanullah/Suriansyah (Raja Banjar I). Raden Subangsa dan Raden Subantaka (paman Raden Subangsa) pernah membantu Kerajaan Selaparang dalam peperangan. Raden Subangsa saudara sebapak dengan Pangeran Singamarta yang pernah diutus sebagai duta besar Kesultanan Banjar untuk Kesultanan Bima. Keduanya adalah putera dari Pangeran Marta Sari (bahasa Belanda: pangoran Kiai Adepatty Marta Sahary). Di Pulau Sumbawa, Pangeran Singamarta menikah dengan wanita bangsawan setempat. Pada masa itu Kesultanan Banjar juga menjadi sekutu Kerajaan Sidenreng.

Amas Bantan Datu Loka menikah dengan salah satu puetri dari Raja Kerajaan Gowa Tallo bernama I Mappaijo Daeng Manjauru Sultan Harun Alrasyid (Halimah Karaeng Tanisanga), melahirkan salah satu putera terbaik yang pernah berperang ke Selaparang adalah Amas Madina.

Amas Madina adalah Datu Taliwang Sultan Sumbawa dan salah satu putera terbaiknya adalah Datu Jereweh bernama Dewa Maja Jareweh.

Amas Madina ini menikah dengan I Rakia Karaeng Agangjene (Addatuwang Sidenreng), melahirkan salah satu putra terbaik I Makkasupa Sultan Safiuddin menjadi Raja Tallo. Juga melahirkan puteri yang menjadi Sultanah (sultan Wanita pertama) bernama I Masugi Ratu Karaeng Bonto Parang.

Penguasa pertama dari Dinasti Dalam Bawa ini adalah Sultan Harunnurrasyid I (16741702). Ia kemudian digantikan oleh puteranya, Pangeran Mas Madina, bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin I yang menikah dengan putri Raja Sidenreng dari Sulawesi Selatan yang bernama I Rakia Karaeng Agang Jene. Setelah wafat, Jalaluddin I digantikan oleh Dewa Loka Lengit Ling Sampar, kemudian oleh Dewa Ling Gunung Setia. Tidak banyak bukti sejarah yang dapat mengungkapkan berapa lama keduanya memerintah, tapi diperkirakan mereka memerintah Sumbawa pada tahun 1723-1732.

Pada tahun 1732 kekuasaan atas Kesultanan Sumbawa kembali dipegang oleh keponakan Sultan Muhammad Jalaluddin I, bergelar Sultan Muhammad Kaharuddin I (1732-1758). Ketika ia wafat, kekuasaan diambil alih istrinya, I Sugiratu Karaeng Bontoparang, yang bergelar Sultanah Siti Aisyah. Raja wanita ini dikenal sering berselisih paham dengan pembantu-pembantu sultan, sehingga pada tahun 1761 ia diturunkan dari tahta. I Sugiratu Karaeng Bontoparang sejatinya akan digantikan oleh Lalu Mustanderman Datu Bajing, namun ia menolak. Lalu Mustanderman Datu Bajing kemudian menyarankan untuk mengangkat adiknya yaitu Lalu Onye Datu Ungkap Sermin (1761-1762). Setelah masuknya VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) Belanda, Kesultanan Sumbawa berhasil ditaklukkan dan menjadi bagian wilayah Gubernemen Celebes, dan sesuai dengan pembagian wilayah afdeeling maka Sumbawa masuk wilayah Karesidenan Timor (Timor en Onderhoorigheden) dengan ibukota di Sumbawa Besar.

Kekuasaan Belanda pun semakin merajalela. Belanda ikut mengatur keadaan politik di dalam istana, dan ikut menentukan jalannya pemerintahan. Pulau Sumbawa dan Pulau Sumba dijadikan satu dalam bentuk afdeling dengan ibukota di Sumbawa Besar. Asisten Resident yang pertama adalah Janson van Ray. Kesultanan Sumbawa dibagi dalam dua onderafdeeling, yaitu Sumbawa Barat dan Sumbawa Timur.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III (1833-1931), dibangun Istana Dalam Loka Samawa. Hal ini sangat dimungkinkan karena Sultan Muhammad Jalaluddin III menjalankan roda pemerintahan selama 48 tahun. Setelah ia meninggal pada tahun 1931, tahta sultan turun kepada putra mahkota, yang mendapat gelar Sultan Muhammad Kaharruddin III, yang pada masa pemerintahannya dibangun Istana Bala Puti yang sekarang menjadi Wisma Praja Kabupaten Sumbawa[4]. Pada zaman pemerintahannya pula menjadi masa peralihan kolonialisme Belanda kepada Jepang. Tepat pada bulan Mei 1942, delapan kapal perang Jepang mendarat di Labuhan Mapin di bawah pimpinan Kolonel Haraichi. Ketika Perjanjian Kalijati ditandatangani tanggal 9 Maret 1942, organisasi-organisasi Islam di Sumbawa seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad, mulai mengatur siasat. Sementara itu, tiga kerajaan di Pulau Sumbawa mengambil sikap tegas menyatakan diri lepas dari kekuasaan Belanda. Kekuasaan Jepang tidak berlangsung lama, karena setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom, Jepang menyerah kepada Sekutu. Peraktis kekuasaannya berakhir. Sebelum Belanda kembali masuk, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah Kemerdekaan dan Bergabung dengan Republik Indonesia[sunting | sunting sumber]

Foto bersama Sultan Muhammad Kaharuddin III beserta Dewa Bini, pembesar-pembesar Kesultanan Sumbawa, dan para petinggi Belanda di Istana Bala Puti.

Agresi Militer Belanda di Indonesia mengakibatkan Sultan Sumbawa, Sultan Muhammad Kaharuddin III menandatangani sebuah perjanjian politik baru dengan Belanda pada tanggal 14 Desember 1948. Isinya antara lain menjelaskan tentang sisa-sisa kekuasaan yang masih dikuasai oleh Belanda di Sumbawa. Kekuasaan tersebut ada tiga, yaitu bidang pertahanan, hubungan luar negeri, dan monopoli atas candu dan garam. Setahun kemudian, pemerintah Negara Indonesia Timur dengan berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 tahun 1949 membentuk pemerintahan Federasi Pulau Sumbawa, yang ditetapkan oleh Dewan Raja-Raja pada tanggal 6 September 1949.

Selanjutnya pemerintahan di Sumbawa berubah menjadi Daerah Swapraja Sumbawa yang bernaung dibawah Provinsi Sunda Kecil. Sejak saat itu pemerintahan terus mengalami perubahan mencari bentuk yang sesuai dengan perkembangan yang ada, sampai dilikuidasinya wilayah-wilayah di Pulau Sumbawa pada tangal 22 Januari 1959. Peristiwa ini juga tidak terlepas dari pembentukan Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 dan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958. Sesuai dengan ketentuan Pasal 7 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958, penjabat Kepala Daerah Swantantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat menetapkan likuidasi daerah Pulau Sumbawa pada tanggal 22 Januari 1959, dilanjutkan dengan pengangkatan dan pelantikan penjabat Kepala Daerah Swantantra Tingkat II Sumbawa, Sultan Muhammad Kaharuddin III. Oleh karena itu, tanggal 22 Januari 1959 ditetapkan sebagai hari lahir Kabupaten Sumbawa, yang disahkan dengan Keputusan DPRD Kabupaten Sumbawa Nomor 06/KPTS/DPRD, tanggal 29 Mei 1990.

Setelah Sultan Muhammad Kaharuddin III wafat pada tahun 1975, sempat terjadi kekosongan tahta Kesultanan Sumbawa selama 36 tahun. Baru pada 5 April 2011 melalui musakara rea Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) putra mahkota Sultan Muhammad Kaharuddin III, Daeng Muhammad Abdurrahman Kaharuddin, dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa ke-17 dengan gelar Sultan Muhammad Kaharuddin IV. Prosesi penobatan dilangsungkan di Istana Dalam Loka Samawa dan Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa Besar, serta dihadiri oleh lebih dari 17 raja dan sultan di seluruh Indonesia[5].

Daftar Raja & Sultan Kesultanan Sumbawa[6][7][sunting | sunting sumber]

Istana Bala Kuning di Kota Sumbawa Besar, kediaman resmi Sultan Muhammad Kaharuddin IV.
Sultan Muhammad Kaharuddin IV, Sultan Sumbawa ke-17.
  • Dewa Maja Paruwa (Dinasti Dewa Awan Kuning) - Sebelum 1618 – 1632
  • Dewa Mas Pamayam (Mas Cini) (1648-1668)
  • Dewa Mas Goa / Raja Utan) (1668-1674) - saudara Dewa Mas Pamayam
  • Amas Penghulu - saudari Dewa Mas Goa
  • Sultan Harunnurrasyid I / Mas Bantan Datu Loka (1674-1702) - anak Amas Penghulu; keponakan Dewa Mas Goa[8]
  • Sultan Muhammad Jalaluddin I Datu Taliwang / Amasa Samawa / Amas Madina / Datu Bala Balong/ Datu Apit Ai (1702-1723) - anak Sultan Harunnurrasyid I[9]
  • Dewa Loka Ling Sampar / Datu Bala Sawo / Datu Seran (1723-1725) - saudara kandung Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I[10]
  • Dewa Ling Gunung Setia / Datu Taliwang (1725-1732) - saudara kandung Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I
  • Sultan Muhammad Kaharuddin I / Datu Poro / I Mappasusung Dewa Sesung Mappadusu / Datu Taliwang (1732-1758) - anak Dewa Maja Jarewe; suami Sultanah Siti Aisyah.
  • Sultanah Siti Aisyah / I Masugiratu Karaeng Bonto Parang (1758-1761) ibunda Karaeng Bonto Masugi / Datu Bonto Raja; neneknda Mahmud Daeng Sila Karaeng Baroanging.[11]
  • Lalu Onye / Datu Ungkap Sermin / Dewa Langit Ling Dima - adik Lalu Mustandarman Datu Bajing
  • Gusti Mesir / Sultan Muhammad Jalaluddin II (1762-1765) - cucu Raja Banjar Sultan Tahmidillah 1[12]; menantu Raja Sumbawa Sultan Muhammad Jalaluddin I
    • Putera Mahkota: Sultan Mahmud - suami Putri Ratu Laiya dari Banjar
  • Dewa Mepaconga Mustafa / Datu Taliwang - Pemangku Sultan (1765-1776) - anak Hasanuddin Datu Jereweh[13]
  • Datu Busing Lalu Komak / Datu Seran / Sultan Harunnurrasyid II (1776-1790)
  • Sultan Shafiyatuddin / Daeng Massiki (1790-1795) - anak Dewa Mepaconga Mustafa[14]
  • Sultan Muhammad Kaharuddin II / Lalu Muhammad (1795-1816) - anak pangeran Mahmud
  • Nene Ranga Mele Manyurang (1816-1825) Pemangku Kerajaan
  • Gusti Mele Abdullah (1825-1836) Pemangku Kerajaan
  • Sultan Amrullah II (1836-1882) - anak Sultan Muhammad Kaharuddin II[15][16]
  • Sultan Muhammad Jalaluddin III (1882-1931) - cucu Sultan Amrullah II
  • Sultan Muhammad Kaharuddin III / Daeng Manurung (1931-1975) - anak Sultan Muhammad Jalaluddin III
  • Sultan Muhammad Kaharuddin IV / Daeng Ewan (2011-Sekarang) - anak Sultan Muhammad Kaharuddin III

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]