Kerajaan Kadiri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Karājāan Paŋjalu
Kaḍiri

1042–1222
Kerajaan Janggala dan Panjalu, kemudian bersatu menjadi Kerajaan Kadiri
Kerajaan Janggala dan Panjalu, kemudian bersatu menjadi Kerajaan Kadiri
Ibu kotaDahanapura
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno
Agama
Hinduisme, Buddhisme, Animisme
PemerintahanMonarki
Sri/Raja 
• 1019-1042
Airlangga
• 1042-1051
Sri Samarawijaya
• 1051-1112
Sri Jitendrakara
• 1112-1135
Sri Bameswara
• 1135-1159
Jayabaya
• 1159-1171
Sri Sarweswara
• 1171-1181
Sri Aryeswara
• 1181-1182
Sri Gandra
• 1182-1194
Kamesywara
• 1194-1222
Kertajaya
Sejarah 
• Airlangga membagi wilayah kerajaannya
1042
• Janggala ditaklukkan
1135
• Kakawin Bhāratayuddha selesai ditulis
1157
• Runtuh oleh Pemberontakan Ken Arok
1222
Mata uangKoin emas dan perak
Didahului oleh
Digantikan oleh
Kerajaan Medang
Kerajaan Tumapel
Sekarang bagian dari Indonesia

Kerajaan Kadiri atau Kediri (bahasa Jawa: (ꦏꦫꦴꦗꦴꦤ꧀ ꦏꦝꦶꦫꦶ), translit. Karajaan Kadiri) disebut juga Panjalu), adalah sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222 M. Dan merupakan salah satu kerajaan hasil pembelahan yang juga didirikan oleh Airlangga. Kerajaan ini dipimpin oleh wangsa Isyana dan berpusat di Dahanapura, disingkat Daha adalah nama kota kuno di masa lalu yang menjadi bagian dari wilayah Kediri saat ini.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Arca Wisnu, berasal dari Kediri, abad ke-12 dan ke-13.

Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum peristiwa pembelahan kerajaan oleh Airlangga. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan telah berpindah ke Daha.

Pembagian wilayah kerajaan Airlangga[sunting | sunting sumber]

Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya saling bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.

Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan oleh Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.

... 1. Nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- (122a) wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu, ...


... 1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Airlangga kepada dua puteranya, ...
— (Kakawin Nagarakretagama, Pupuh 68).

Nama Panjalu[sunting | sunting sumber]

Pada mulanya, nama Paŋjalu pembacaan yang tepat sesuai aksara Pangjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Panjalu. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Tiongkok berjudul Ling wai tai ta (1178).

Terdapat tiga jenis tanah yang akan digunakan oleh masyarakat di masa lalu saat membangun sebuah tempat atau pemukiman, pertama adalah tanah Anupa sebagai tanah subur serta dekat dengan sumber mata air berbagai macam biji bijian jika ditanam akan tumbuh. Kedua adalah tanah Sadarana tanah yang di sebagian wilayahnya subur dan sebagian yang lainnya kurang subur, selanjutnya yang ketiga adalah Janggala yang merupakan tanah yang kurang subur atau hutan belantara.

Pangjalu berasal dari kata Jalu yang memiliki arti Jantan atau Pria selanjutnya diberi unsur kata Pang yang adalah Pe merupakan tambahan sehingga menjadi kalimat Pe-jantan dalam konteks kewilayahan istilah pejantan tersebut bermakna wilayah yang subur serta berdikari atau mandiri.

Istilah Kadiri merupakan sinonim kata atau persamaan dari Pangjalu yang bermakna kemandirian.

kasus tersebut mirip dengan nama Majapahit dengan Wilwatikta dimana wilwa adalah buah maja dan tikta adalah pahit.

Nama Kadiri[sunting | sunting sumber]

Nama "Kadiri" atau "Kediri" juga berasal dari kata bahasa Sansekerta, khadri, yang berarti pacé atau mengkudu (Morinda citrifolia). Batang kulit kayu pohon ini menghasilkan zat perwarna ungu kecokelatan yang digunakan dalam pembuatan batik, sementara buahnya dipercaya memiliki khasiat pengobatan.

Asal-usul kata yang dipandang lebih tepat adalah berasal dari kata "kadiri" dalam Bahasa Jawa Kuno yang berarti bisa berdiri sendiri, mandiri, berdiri tegak, berkepribadian, atau berswasembada.

Perkembangan kerajaan[sunting | sunting sumber]

Arca Buddha Vajrasattva zaman Kadiri, abad X/XI, koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.
Ganesha dan pecahan candi di Karesidenan Kediri tahun 1866-1867

Masa-masa awal Kerajaan Panjalu tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.

Sejarah Kerajaan Kadiri mulai diketahui dengan adanya Prasasti Banjaran dan Prasasti Mataji. Setelah Raja Sri Jitendrakara diketahui terdapat raja bernama Sri Bameswara berdasarkan Prasasti Karanggayam. Selanjutnya dalam Prasasti Hantang raja yang memerintah sudah berganti Sri Jayabhaya. Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu Jayati, yang berarti "Kadiri Menang".

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Kadiri mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kedatuan Sriwijaya di Sumatra. Hal ini diperkuat kronik Tiongkok berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Tiongkok secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Sriwijaya.

Pada Prasasti Talan tahun 1136, raja Jayabhaya menganugerahkan desa Talan sebagai sima karena telah menyimpan prasasti ripta (lontar) dari masa leluhurnya wangsa Isyana yaitu Airlangga lontar tersebut disalin ke prasasti batu dan diberi tambahan anugerah lain oleh Raja Jayabhaya. Prabu Jayabhaya sendiri mengklaim bahwa Raja Airlangga adalah nenek moyangnya.

Penemuan Situs Tondowongso awal tahun 2007 diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Panjalu juga bersama dengan Situs Adan-Adan yang memiliki bermacam temuan benda-benda bersejarah seperti batuan fondasi candi, makara, sistem pertirtaan (pengairan) diduga embung, pecahan keramik dan beberapa arca peninggalan era Kerajaan Panjalu dan Tumapel yang terletak di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut.

Catatan Kronik Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Menurut sumber berita Tiongkok, pekerjaan utama orang Panjalu berkisar pada pertanian (bercocok tanam padi), peternakan (sapi, babi hutan, unggas), dan perdagangan rempah-rempah. Daha, ibu kota Kerajaan Panjalu, terletak di pedalaman, dekat lembah sungai Brantas yang subur. Dari masa pemerintahan raja sebelumnya Airlangga, Panjalu mewarisi sistem irigasi, termasuk bendungan Waringin Sapta. Perekonomian Panjalu sebagian dimonetisasi, dengan koin perak yang dikeluarkan oleh istana.

Pada periode-periode selanjutnya, perekonomian Kadiri tumbuh dengan lebih bertumpu pada perdagangan, khususnya perdagangan rempah-rempah. Hal ini dihasilkan dari pengembangan angkatan laut Panjalu, memberi mereka kesempatan untuk mengontrol jalur perdagangan rempah-rempah ke pulau-pulau timur. Panjalu mengumpulkan rempah-rempah dari anak sungai di Kalimantan bagian selatan dan Kepulauan Maluku. Orang India dan Asia Tenggara kemudian mengangkut rempah-rempah ke pasar Mediterania dan Tiongkok melalui Rute Rempah-rempah yang menghubungkan rantai pelabuhan dari Samudra Hindia ke Cina selatan.

Pertanian, peternakan, dan perdagangan berkembang pesat dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Dia melaporkan bahwa peternakan ulat sutera untuk memproduksi pakaian sutra dan katun telah diadopsi oleh orang Jawa pada waktu itu. Tidak ada hukuman fisik (penjara atau penyiksaan) bagi para penjahat. Sebaliknya, orang yang melakukan perbuatan melawan hukum terpaksa membayar denda berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang dieksekusi mati.

Dalam adat perkawinan, keluarga mempelai wanita menerima mas kawin berupa emas dari mempelai pria. Alih-alih mengembangkan pengobatan medis, masyarakat Panjalu mengandalkan doa kepada Buddha. Pada bulan ke-5 tahun ini, festival air dirayakan dengan orang-orang yang bepergian dengan perahu di sepanjang sungai untuk merayakannya. Pada bulan ke-10, festival lain diadakan di pegunungan. Orang-orang akan berkumpul di sana untuk bersenang-senang dan memainkan musik dengan instrumen seperti seruling, gendang, dan gambang kayu (bentuk gamelan kuno).

Hubungan dengan kekuatan regional[sunting | sunting sumber]

Sriwijaya dan Panjalu sekitar abad ke 12 hingga awal abad ke-13

Kerajaan Panjalu yang berkuasa di Jawa bersama dengan Kedatuan Sriwijaya yang berbasis di Sumatera sepanjang abad ke 12 hingga ke-13, tampaknya telah mempertahankan hubungan perdagangan dengan Tiongkok dan sampai batas tertentu dengan India. Catatan Cina mengidentifikasi kerajaan ini sebagai Tsao-wa atau Chao-wa (Jawa), sejumlah catatan Tiongkok menandakan bahwa penjelajah dan pedagang Cina sering mengunjungi kerajaan ini. Hubungan dengan India adalah hubungan budaya, karena sejumlah Rakawi (penyair atau sarjana) Jawa menulis literatur yang diilhami oleh mitologi, kepercayaan, dan epos Hindu seperti Mahabharata dan Ramayana.

Pada abad ke-11, hegemoni Sriwijaya di kepulauan Indonesia mulai menurun, ditandai dengan invasi Rajendra Chola dari Kerajaan Chola ke Semenanjung Malaya dan Sumatera. Melemahnya hegemoni Sriwijaya telah memungkinkan terbentuknya kerajaan-kerajaan regional, seperti Panjalu, yang berbasis pertanian daripada perdagangan. Belakangan Kerajaan Kadiri berhasil menguasai jalur perdagangan rempah-rempah ke Maluku.

Menurut berita Cina, dan kitab Ling-wai-tai-ta diterangkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut. Rambutnya diurai. Rumah-rumah mereka bersih dan teratur, lantainya ubin yang berwarna kuning dan hijau. Raja mengenakan pakaian sutra, sepatu kulit dan perhiasan emas berukir. Rambutnya disanggul tinggi-tinggi di atas kepala. Setiap hari, dia akan menerima pejabat negara, dan menjalankan kerajaannya, di atas takhta persegi. Setelah pertemuan, pejabat negara akan membungkuk tiga kali kepada raja. Jika raja bepergian ke luar istana, raja naik gajah atau kereta yang diiringi oleh 500 sampai 700 tentara dan pejabat, sementara rakyatnya, orang-orang Panjalu, bersujud saat raja lewat. masih menurut Zhou Ku-fei bahwa Kerajaan Panjalu kekuasaannya sangat luas dan kaya raya, menurutnya di dunia saat itu ada 3 kerajaan kaya; Kekhalifahan Abbasiyah yang berkuasa di Arab, Kerajaan Panjalu yang menguasai Bagian Timur Nusantara dan Kedatuan Sriwijaya yang menguasai bagian barat Nusantara.

Chau Ju-Kua, seorang pegawai resmi Dinasti Song menuliskan dalam bukunya Zhu-fan-zhi, menggambarkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara ada dua kerajaan yang kuat dan kaya: Sriwijaya dan Jawa (Panjalu). Di Jawa ia menemukan bahwa orang-orang menganut dua agama: Buddha dan agama Brahmana (Hindu). Orang Jawa adalah pemberani dan pemarah, mereka berani untuk melawan. Waktu luangnya dipergunakan untuk mengadu binatang, hiburan favoritnya adalah sabung ayam dan adu babi. Mata uangnya dibuat dari campuran tembaga, perak, dan timah. Buku Chu-fan-chi menyebut bahwa maharaja jawa mempunyai wilayah jajahan: Pai-hua-yuan (Pacitan), Ma-tung (Medang), Ta-pen (Tumapel, Malang), Hi-ning (Dieng), Jung-ya-lu (Hujung Galuh, sekarang Surabaya), Tung-ki (Jenggi, Papua Barat), Ta-kang (Sumba), Huang-ma-chu (Papua), Ma-li (Bali), Kulun (Gurun, mungkin Gorong atau Sorong di Papua Barat atau Nusa Tenggara), Tan-jung-wu-lo (Tanjungpura di Borneo), Ti-wu (Timor), Pingya-i (Banggai di Sulawesi), dan Wu-nu-ku (Maluku)

Mengenai Sriwijaya, Chou-Ju-Kua melaporkan bahwa Kien-pi (Kampe, di Sumatera bagian utara) dengan pemberontakan bersenjatanya telah membebaskan diri dari pengaruh Sriwijaya, dan menobatkan raja mereka sendiri. Nasib yang sama menimpa beberapa koloni Sriwijaya di Semenanjung Malaya yang membebaskan diri dari dominasi Sriwijaya. Namun Sriwijaya masih negara terkuat dan terkaya di bagian barat Nusantara. Koloni Sriwijaya adalah: Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu), Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka), Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an, Ji-lo-t' ing (Jelutong), Ts'ien-mai (?), Pa-t'a (Paka), Tan-ma-ling (Tambralinga, Ligor atau Nakhon Si Thammarat), Kia-lo-hi (Grahi, bahasa Melayu bagian utara semenanjung), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-t'o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), dan Si-lan. Menurut sumber ini, pada awal abad ke-13 Sriwijaya masih menguasai Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Jawa bagian barat (Sunda).

Mengenai Sunda, buku itu merinci bahwa pelabuhan Sunda (Sunda Kelapa) sangat bagus dan letaknya strategis, dan lada dari Sunda termasuk yang kualitas terbaik. Orang-orang bekerja di pertanian; rumah mereka dibangun di atas tiang kayu (rumah panggung). Namun negara itu penuh dengan perampok dan pencuri.

Keruntuhan[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama.

Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana. Kemudian para Brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.

Puncak peperangan antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat Desa Ganter (Genter), di wilayah timur Kadiri. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian, berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.

Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya, Kadiri menjadi suatu wilayah di bawah kekuasaan Singhasari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Pada tahun 1292, Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.

Daftar raja-raja[sunting | sunting sumber]

  1. Airlangga (Kakawin Nagarakretagama)
  2. Maharaja Sri Samarawijaya
  3. Sri Jitendrakara Parakrama Bakta (Prasasti Mataji 973 Saka)
  4. Maharaja Sri Bameswara (Prasasti Pandlegan I, Prasasti Panumbangan, Prasasti Tangkilan, Prasasti Besole, Prasasti Bameswara, Prasasti Karanggayam, Prasasti Geneng, Prasasti Pagiliran)
  5. Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya (Prasasti Hantang, Prasasti Jepun, dan Prasasti Talan)
  6. Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara (Prasasti Padlegan II dan Prasasti Kahyunan)
  7. Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryeswara (Prasasti Waleri & Prasasti Angin)
  8. Sri Maharaja Kroncaryyadipa Sri Gandra (Prasasti Jaring)
  9. Sri Maharaja Mapanji Kamesywara (Prasasti Semanding dan Prasasti Ceker)
  10. Sri Maharaja Crengga/Kertajaya (gugur tahun 1144 Saka). (Prasasti Sapu Angin, Prasasti Galunggung, Prasasti Kamulan, Prasasti Palah, Prasasti Biri, Prasasti Lawadan).

Karya sastra[sunting | sunting sumber]

Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala. Selain itu Kakawin Lubdhaka dan Kakawin Wrettasañcaya adalah karya Mpu Tanakung, juga Mpu Panuluh yang menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana. Selain karya-karya sastra yang telah disebutkan, zaman Kadiri dirayakan sebagai era sastra yang berkembang, Kadiri menghasilkan kontribusi yang signifikan di bidang sastra klasik Jawa.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
Didahului oleh:
Medang
Kerajaan Hindu-Buddha
1042 - 1222
Diteruskan oleh:
Tumapel