Kabupaten Sidoarjo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kabupaten Sidoarjo
Transkripsi bahasa daerah
 • Hanacarakaꦱꦶꦢꦲꦂꦗ
 • Pegonسيداهرجا
Alun-Alun Sidoarjo
Alun-Alun Sidoarjo
Lambang resmi Kabupaten Sidoarjo
Julukan: 
  • Kota Udang
Peta
Kabupaten Sidoarjo di Jawa
Kabupaten Sidoarjo
Kabupaten Sidoarjo
Peta
Kabupaten Sidoarjo di Indonesia
Kabupaten Sidoarjo
Kabupaten Sidoarjo
Kabupaten Sidoarjo (Indonesia)
Koordinat: 7°27′11″S 112°43′02″E / 7.45303°S 112.71733°E / -7.45303; 112.71733
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
Tanggal berdiri31 Januari 1859 (umur 163)
Ibu kotaSidoarjo
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 18
  • Kelurahan: 353
Pemerintahan
 • BupatiAhmad Muhdlor Ali
 • Wakil BupatiSubandi
 • Sekretaris DaerahAchmad Zaini
Luas
 • Total714,24 km2 (275,77 sq mi)
Populasi
 • Total2.033.764
 • Kepadatan2.847/km2 (7,370/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 94,07%
Kristen 5,34%
- Protestan 3,73%
- Katolik 1,61%
Buddha 0,31%
Hindu 0,23%
Konghucu 0,03%
Kepercayaan 0,02%[2]
 • BahasaIndonesia, Jawa, Jawa Arekan
 • IPMKenaikan 80,65 (2021)
sangat tinggi[3]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode pos
Kode area telepon+6231
Pelat kendaraanW – N**/O*/P*/Q*/R*/S*/T*/U*/V*/W*/X*/Y*/Z*
Kode Kemendagri35.15 Edit the value on Wikidata
DAURp 1.104.580.340.000,00(2013)[4]
Semboyan daerahPermai Bersih Hatinya (Pertanian maju, andalan industri, bersih, rapi, serasi, hijau, sehat, indah, dan nyaman)
Flora resmiKetapang
Fauna resmiTrenggiling
Situs webwww.sidoarjokab.go.id

Sidoarjo (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦱꦶꦢꦲꦂꦗ Pegon: سيداهرجا, translit. Sidaharja) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Sidoarjo Kota. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, Selat Madura di timur, Kabupaten Pasuruan di selatan, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Bersama dengan Gresik, Sidoarjo merupakan salah satu penyangga utama Kota Surabaya, dan termasuk dalam kawasan Gerbangkertosusila. Penduduk kabupaten ini berjumlah 2.033.764 jiwa pada tahun 2021.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P. Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare yang memiliki konotasi kurang bagus diubah namanya menjadi Kabupaten Sidoarjo.[butuh rujukan]

Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum pada tahun 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A. Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan saja menjabat sebagai Bupati karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.

Pada masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942–15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946, Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang.

Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu. Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949.

Pada 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia Serikat, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu penyangga Ibu kota Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang mengalami perkembangan pesat. Keberhasilan ini dicapai karena berbagai potensi yang ada di wilayahnya seperti industri dan perdagangan, pariwisata, serta usaha kecil dan menengah dapat dikemas dengan baik dan terarah. Dengan adanya berbagai potensi daerah serta dukungan sumber daya manusia yang memadai, maka dalam perkembangannya Kabupaten Sidoarjo mampu menjadi salah satu daerah strategis bagi pengembangan perekonomian regional. Kabupaten Sidoarjo terletak antara 112o5’ dan 112o9’ Bujur Timur dan antara 7o3’ dan 7o5’ Lintang Selatan.[1]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik
Timur Selat Madura
Selatan Kabupaten Pasuruan
Barat Kabupaten Mojokerto

Topografi[sunting | sunting sumber]

Dataran Delta dengan ketinggian antara 0 s/d 25 meter, ketinggian 0-3 meter dengan luas 19.006 Ha, meliputi 29,99%, merupakan daerah pertambakkan yang berada di wilayah bagian timur. Wilayah bagian tengah yang berair tawar dengan ketinggian 3-10 meter dari permukaan laut merupakan daerah pemukiman, perdagangan dan pemerintahan. Meliputi 40,81 %. Wilayah Bagian Barat dengan ketinggian 10-25 meter dari permukaan laut merupakan daerah pertanian. Meliputi 29,20%

Hidrogeologi[sunting | sunting sumber]

Daerah air tanah, payau, dan air asin mencapai luas 16.312.69 Ha. Kedalaman air tanah rata-rata 0–5 m dari permukaan tanah.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sidoarjo terletak di antara dua aliran sungai yaitu Kali Mas dan Kali Porong yang merupakan cabang dari Kali Brantas yang berhulu di Kabupaten Malang.

Klimatologi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Sidoarjo beriklim tropis basah dan kering (Aw) dengan dua musim, yaitu musim kemarau pada bulan Juni sampai Bulan Oktober dengan bulan terkering adalah Agustus dan musim hujan pada bulan Desember sampai bulan April dengan bulan terbasah adalah Januari. Curah hujan tahunan di wilayah Sidoarjo berkisar antara 1.300–1.700 mm per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 80–120 hari hujan per tahun. Suhu udara di wilayah ini bervariasi antara 21°–34 °C dengan tingkat kelembapan nisbi ±76%.

Data iklim Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 31.5
(88.7)
30.9
(87.6)
31.1
(88)
31.5
(88.7)
31.6
(88.9)
31.6
(88.9)
31.4
(88.5)
31.5
(88.7)
32.4
(90.3)
33.6
(92.5)
33.5
(92.3)
32.3
(90.1)
31.91
(89.43)
Rata-rata harian °C (°F) 27.6
(81.7)
27.3
(81.1)
27.4
(81.3)
27.6
(81.7)
27.3
(81.1)
27.2
(81)
26.9
(80.4)
27.1
(80.8)
27.7
(81.9)
28.8
(83.8)
28.9
(84)
28.2
(82.8)
27.67
(81.8)
Rata-rata terendah °C (°F) 23.7
(74.7)
23.6
(74.5)
23.7
(74.7)
23.7
(74.7)
23.1
(73.6)
22.9
(73.2)
22.4
(72.3)
22.6
(72.7)
23.1
(73.6)
24.1
(75.4)
24.4
(75.9)
24.1
(75.4)
23.45
(74.22)
Presipitasi mm (inci) 328
(12.91)
312
(12.28)
279
(10.98)
181
(7.13)
87
(3.43)
54
(2.13)
20
(0.79)
5
(0.2)
8
(0.31)
34
(1.34)
110
(4.33)
246
(9.69)
1.664
(65,52)
Rata-rata hari hujan 22 20 19 15 6 4 2 1 1 3 10 18 121
% kelembapan 83 81 80 79 75 71 69 67 65 68 72 77 73.9
Rata-rata sinar matahari bulanan 141 152 177 204 215 236 259 298 300 297 246 183 2.708
Sumber #1: Climate-Data.org [5]
Sumber #2: BMKG[6] & Weatherbase [7]

Struktur Tanah[sunting | sunting sumber]

Alluvial kelabu seluas 6.236,37 Ha Assosiasi Alluvial kelabu dan Alluvial Coklat seluas 4.970,23 Ha Alluvial Hidromart seluas 29.346,95 Ha Gromosal kelabu Tua Seluas 870,70 Ha

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1 Soejadi-1stRegentofSidoarjo.jpg Soejadi 1933 1949 1 Tidak ada
2 SuriadiKerto-2ndRegentofSidoarjo.jpg R. Suriadi Kertosuprojo 1950 1958 2
3 ChudoriAmir-3rdRegentofSidoarjo.jpg H.
A. Chudori Amir
1958 1959 3
4 Samadikoen-4thRegentofSidoarjo.jpg R.H. Samadikoen 1959 1964 4
5 Soedarsono-5thRegentofSidoarjo.jpg Kol. (Pol.) H.
R. Soedarsono
1965 1975 5
6
6 Soewandi-6thRegentofSidoarjo.jpg Kol. (Pol.) H.
Soewandi
1975 1985 7
8
7 Soegondo-7thRegentofSidoarjo.jpg Kol. (Art.)
Soegondo
1985 1990 9
8 EdhiSanyoto-8thRegentofSidoarjo.jpg Kol. (Inf.)
Edhi Sanyoto
1990 1995 10
9 Soedjito-9thRegentofSidoarjo.jpg Kol. (Inf.) H.
Soedjito
1995 2000 11
10 Winhendarso-10thRegentofSidoarjo.jpg Drs.
Win Hendrarso
, M.Si.
2000 2010 12
13 H.
Saiful Ilah
, S.H., M.Hum.
11 Saiful Ilah.jpeg H.
Saiful Ilah
, S.H., M.Hum.
2010 2015 14 H.
MG. Hadi Sutjipto
, S.H., M.M.
Drs.Ec.
Jonathan Judianto
, M.M.T.
(penjabat)
2015 2016
(11) Saiful Ilah.jpeg H.
Saiful Ilah
, S.H., M.Hum.
17 Februari 2016 15 Januari 2020 15 H.
Nur Ahmad Syaifuddin
, S.H.
H.
Nur Ahmad Syaifuddin
, S.H.

(pelaksana tugas)
15 Januari 2020 22 Agustus 2020[8]
Drs.
Achmad Zaini
, M.M.

(pelaksana harian)
22 Agustus 2020 1 Oktober 2020
Dr.
Hudiyono
, M.Si.

(penjabat)
1 Oktober 2020 26 Februari 2021
12 Ahmad Muhdlor Ali.jpg H.
Ahmad Muhdlor Ali
, S.I.P
26 Februari 2021 Petahana 16 H.
Subandi
S.H.


Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo dalam dua periode terakhir.[9]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  PKB 13 Kenaikan 16
  Gerindra 7 Steady 7
  PDI-P 8 Kenaikan 9
  Golkar 5 Penurunan 4
  NasDem 1 Kenaikan 2
  PKS 3 Kenaikan 4
  PPP 1 Steady 1
  PAN 7 Penurunan 5
  Demokrat 4 Penurunan 2
  PBB 1 Penurunan 0
Jumlah Anggota 50 Steady 50
Jumlah Partai 10 Penurunan 9

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sidoarjo terdiri dari 18 kecamatan, 31 kelurahan, dan 322 desa (dari total 666 kecamatan, 777 kelurahan, dan 7.724 desa di Jawa Timur). Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 1.827.064 jiwa dengan luas wilayah 634,38 km² dan sebaran penduduk 2.880 jiwa/km².[10][11]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Sidoarjo, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
35.15.12 Balongbendo 20 Desa
35.15.15 Buduran 15 Desa
35.15.07 Candi 24 Desa
35.15.16 Gedangan 15 Desa
35.15.05 Jabon 15 Desa
35.15.03 Krembung 19 Desa
35.15.11 Krian 3 19 Desa
Kelurahan
35.15.02 Prambon 20 Desa
35.15.04 Porong 6 13 Desa
Kelurahan
35.15.17 Sedati 16 Desa
35.15.08 Sidoarjo 14 10 Desa
Kelurahan
35.15.14 Sukodono 19 Desa
35.15.13 Taman 8 16 Desa
Kelurahan
35.15.06 Tanggulangin 19 Desa
35.15.01 Tarik 20 Desa
35.15.09 Tulangan 22 Desa
35.15.18 Waru 17 Desa
35.15.10 Wonoayu 23 Desa
TOTAL 31 322

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Perikanan, industri, dan jasa merupakan sektor perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah penghasil perikanan, di antaranya ikan, udang, dan kepiting. Logo Kabupaten menunjukkan bahwa udang dan bandeng merupakan komoditas perikanan yang utama kota ini. Sidoarjo dikenal pula dengan sebutan "Kota Petis".

Sektor industri di Sidoarjo berkembang cukup pesat karena lokasi yang berdekatan dengan pusat bisnis Jawa Timur (Surabaya), dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perak maupun Bandara Juanda, memiliki sumber daya manusia yang produktif serta kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif stabil menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo. Sektor industri kecil juga berkembang cukup baik, di antaranya sentra industri kerajinan tas dan koper di Tanggulangin, sentra industri sandal dan sepatu di WedoroWaru dan TebelGedangan, sentra industri kerupuk di TelasihTulangan.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Bandara Internasional Juanda dan Terminal Bus Purabaya yang dianggap sebagai milik Pemerintah Kota Surabaya, berada di wilayah kabupaten ini. Terminal Purabaya merupakan gerbang utama Surabaya dari arah selatan, dan salah satu terminal bus terbesar di Asia Tenggara. Kereta api Komuter Surabaya Kota-Sidoarjo-Pasuruan menghubungkan kawasan Sidoarjo dengan Surabaya. Sidoarjo memiliki sistem transportasi massal BRT (Bus Rapid Transit) yaitu Trans Jatim. Sistem ini menggunakan shelter tetapi tanpa jalur khusus seperti halnya Transjakarta. Rute bus Trans Jatim adalah Terminal Porong-Terminal Purabaya-Terminal Bunder.

Stasiun[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sidoarjo memiliki sebelas stasiun yang masih beroperasi, diantaranya:

Selain itu, Kabupaten Sidoarjo juga memiliki enam stasiun yang berhenti beroperasi, yaitu:

Kuliner Khas[sunting | sunting sumber]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Beberapa tempat wisata di Sidoarjo, yakni:

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Kabupaten Sidoarjo Dalam Angka 2021" (pdf). BPS Kabupaten Sidoarjo. hlm. 51. Diakses tanggal 10 Februari 2022. 
  2. ^ "Jumlah Pemeluk Agama Menurut Agama dan Kecamatan". sidoarjokab.bps.go.id. Diakses tanggal 10 Februari 2022. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2020-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 6 Januari 2022. 
  4. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-02-14. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  5. ^ "Sidoarjo, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 21 Agustus 2020. 
  6. ^ "Buku Prakiraan Musim Kemarau 2022 – Normal Curah Hujan Kabupaten Sidoarjo Zona Musim 162. 163, dan 164 periode 1991-2020" (PDF). BMKG. hlm. 65. Diakses tanggal 21 Mei 2022. 
  7. ^ "Sidoarjo, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 21 Agustus 2020. 
  8. ^ Fitria Madia (22 Agustus 2020). "[BREAKING] Plt Bupati Sidoarjo Meninggal Dunia Akibat COVID-19". IDNTimes.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2020. 
  9. ^ Sidoarjo Melantik 50 Anggota DPRD
  10. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  11. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]