Sidoarjo, Sidoarjo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sidoarjo
Kantor-camat-sidoarjo-sidoarjo.JPG
Kantor Camat Sidoarjo
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenSidoarjo
Pemerintahan
 • CamatDrs. Agus Maulidy, MSi
Luas62,56 sunting
Jumlah penduduk194.051 (2010), 223.231 (2017) Sunting ini di Wikidata
Kepadatan3.655,90 jiwa/km²
Desa/kelurahan12 Desa/12 Kelurahan

Sidoarjo (Sidoarjo Kota) adalah sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan (ibu kota) Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini memiliki 12 Desa dan 12 Kelurahan dengan kepadatan penduduk 4.018,64 jiwa/km² (2017).[1]

Sejarah Sidoarjo[sunting | sunting sumber]

SEIRING memasuki usia 157 tahun pada tahun 2018 ini, perjalanan sejarah Sidoarjo, memang begitu panjang dan penuh dinamika. Bahkan sejarah terbentuknya Kabupaten melewati tiga fase dengan berganti-ganti penguasa, -- yakni masa kerajaan, masa pemerintahan kolonial (Belanda-Jepang) lalu masa sekarang Pemerintahan RI.

Fase pertama adalah berawal legenda pada tahun 1019 – 1042,--Kerajaan Jawa Timur diperintah Airlangga, lalu membagi daerah kekuasaan menjadi dua kerajaan untuk diberikan ke dua putranya, yakni Kerajaan Daha (Kediri) dan Kerajaan Jenggala. Kerajaan Jenggala yang berdiri tahun 1024 ini kekuasaanya meliputi daerah Delta Brantas dengan ibu kota berada di daerah,--sekarang sekitar wilayah Kecamatan Gedangan. Lalu karena perebuatan kekuasaan, Kerajaan Daha dan Kerajaan Jenggala mengobarkan perang saudara yang berakhir dengan kekalahan Jenggala pada 1045.,--namun ada sumber lain menyebutkan kerajaan Jenggala pada 1060 masih ada, dan baru hilang kira-kira tahun 1902.

Selanjutnya memasuki fase pemerintahan kolonial Belanda, diawali tahun 1851. Pemerintah kolonial Belanda telah menandai daerah Sidoarjo bernama Sidokare yang bagian dari kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom. Lalu tahun 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda no. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare.

Dengan demikian Kabupaten Sidokare telah berpisah dengan Kabupaten Surabaya, lalu diangkat bupati pertama, yaitu R. Notopuro (R.T.P Tjokronegoro) yang bertempat tinggal di kampung Pandean. Seiring perjalanan waktu pada tahun 1859 itu,-- berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 10/1859 tanggal 28 Mei 1859 Staatsblad. 1859 nama Kabupaten Sidokare berubah menjadi Kabupaten Sidoarjo. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa secara resmi terbentuknya Daerah Kabupaten Sidoarjo adalah tangal 28 Mei 1859 dan sebagai Bupati I adalah R.Notopuro atau bergelar R.T.P Tjokronegoro I.

Selama berkuasa, Bupati mendirikan masjid di Pekauman atau sekarang bernama Masjid Abror dan Masjid Jamik atau sekarang Masjid Agung sebagai peninggalan bupati yang wafat pada tahun 1862. Sebagai gantinya pada tahun 1863 diangkat kakak alnarhum sebagai Bupati Sidoarjo, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro II (Kanjeng Djimat Djokomono). Pada masa pemerintahan Tjokronegoro II telah memberikan perhatian besar atas pembangunan, di antaranya meneruskan pembangunan Masjid Jamik perbaikan terhadap Pesarean Pendem.

Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro II telah pensiun dan wafat, lalu digantikan R.P Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung, tetapi hanya berjalan 3 bulan karena wafat. Selanjutnya, digantikan R.A.A.T. Tjondronegoro I hingga berganti-ganti namun tetap seputar keluarga R.A.A.T Tjondronegoro hingga berakhir seiring perubahan pemerintahan dari kolonial Belanda ke pemerintahan kolonial Jepang pada 1942 hingga 1945. Nah, masa pedudukan Jepang, Kabupaten Sidoarjo telah dipimpin Bupati R.A.A. Sujadi. Ketika Jepang menyerah dari sekutu pada 1945, lalu Indonesia Merdeka, tetapi Belanda kembali mencoba mendudukinya. Bahkan mengusai daerah Sidoarjo dibawah pemerintah Recomba,--kepanjangan tangan atau boneka pemerintah Balanda yang mengangkat K. Ng. Soebekti Poespanoto. R. Soeharto, sebagai bupatinya. Baru tahun 1949, daerah Sidoarjo dikembalikan ke Pemerintah Indonesia, telah diangkat R. Soeriadi Kertosoeprojo sebagai Bupati/Kepala Daerah di Kabupaten Sidoarjo. Di sini, boleh dibilang masa yang penuh dinamika seiring terjadinya kekecauan keamanan,--bahkan segala macam infiltrasi, terutama dari pihak yang tidak menyukai adanya Republik Indonesia. Namun semua itu akhirnya bisa teratasi, hingga seiring perjalanan waktu kepala daerah Kabupaten Sidoarjo terus silih berganti.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk Sidoarjo berjumlah 225.044 jiwa (2017) dan bertambah menjadi 228.713 jiwa ditahun 2019, dan mayoritas penduduknya merupakan etnis Jawa.[2]

Agama[sunting | sunting sumber]

Masyarakat kecamatan Sidoarjo hidup dalam perdamaian meskipun masyarakatnya memiliki beragam keyakinan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Sidoarjo tahun 2019 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Kecamatan Sidoarjo memeluk agama Islam yakni 89,66% dari 228.713 jiwa penduduk. Kemudian penganut agama Kristen Protestan berjumlah 6,54%, Katolik 2,70%, Budha 0,75%, Hindu 0,32% dan Konghucu 0,02%.[1]

Kode Pos di Kecamatan Sidoarjo[sunting | sunting sumber]

KODE POS KECAMATAN SIDOARJO
No. DESA/KELURAHAN KODE POS No. DESA/KELURAHAN KODE POS
1 MAGERSARI 61211 13 CEMENG BAKALAN 61222
2 SIDOKUMPUL 61212 14 LEBO 61223
3 LEMAH PUTRO 61213 15 SUKO 61224
4 PEKAUMAN 61213 16 BANJARBENDO 61225
5 SIDOKARE 61214 17 JATI 61226
6 CELEP 61215 18 CEMENG KALANG 61227
7 SEKARDANGAN 61215 19 SUMPUT 61228
8 BULU SIDOKARE 61216 20 SARIROGO 61229
9 PUCANGANOM 61217 21 GEBANG 61231
10 SIDOKLUMPUK 61218 22 RANGKAH KIDUL 61232
11 PUCANG 61219 23 BLURU KIDUL 61233
12 URANGAGUNG 61221 24 KEMIRI 61234

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Kabupaten Sidoarjo Dalam Angka 2020". BPS Kabupaten Sidoarjo. Diakses tanggal 8 Juni 2020. 
  2. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama sidoarjo