Ngawi, Ngawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Ngawi
Benteng Van den Bosch
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenNgawi
Pemerintahan
 • CamatDrs. Subandono
Populasi
 • Total84.806 jiwa
 • Kepadatan1.202/km2 (3,110/sq mi)
Kode pos
63211 - 63218
Kode Kemendagri35.21.09 Edit the value on Wikidata
Luas70,56 km²[2]
Desa/kelurahan12 desa
4 kelurahan
Pemandangan jalan di Ngawi pada tahun 1929
Bengawan Solo melintasi Ngawi

Ngawi adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Ngawi, provinsi Jawa Timur, Indonesia.[3] Ngawi ini merupakan ibu kota kabupaten Ngawi.[4] Kecamatan Nagwi juga menjadi ibukota atau pusat pemerintahan dari kabupaten Ngawi.

Makna Kata Ngawi[sunting | sunting sumber]

Ngawi berasal dari kata “AWI” yang artinya bambu yang selanjutnya mendapat tambahan huruf sengau “Ng” menjadi “NGAWI”.[5] Seperti halnya dengan nama-nama di daerah-daerah lain yang banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang di kaitkan dengan nama tumbuh-tumbuhan.[5] Seperti Ngawi menunjukkan suatu tempat yang di sekitar pinggir Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi bambu.[5]

Sejarah Ngawi[sunting | sunting sumber]

Pada zaman dahulu Ngawi berasal dari kata awi/bambu dan sekaligus menunjukkan lokasi Ngawi sebagai desa dipinggir Bengawan Solo.[6] Berdasarkan penelitian benda-benda kuno, menunjukkan bahwa di Ngawi telah berlangsung suatu aktivitas keagamaan sejak pemerintahan Airlangga dan masih tetap bertahan hingga masa akhir Pemerintahan Raja Majapahit.[7]

Hal ini diperkuat dengan beberapa prasasti, antara lain Prasasti Cangu yang merupakan peninggalan Raja Hayamwuruk (Sri Rajasanegara) dari Majapahit yang berangka tahun Saka 1280 (1358) yang menyebutkan bahwa Ngawi merupakan daerah swastantra.[6] Fragmen-fragmen percandian menunjukkan sifat kesiwaan yang erat hubungannya dengan pemujaan Gunung Lawu (Girindra), namun dalam perjalanan selanjutnya terjadi pergeseran oleh pengaruh masuknya Agama Islam serta kebudayaan yang dibawa Bangsa Eropa khususnya Belanda yang cukup lama menguasai pemerintahan di Indonesia.[7]

Peninggalan lain adalah berupa benteng Van den Bosch.[6] Yang sekarang dinamakan benteng Pendem karena benteng tersebut letaknya di bawah tanah yang selanjutnya dipinggiran disekitar benteng ditimbuni tanah sehingga tidak terlihat dari luar.[6] Adapun letaknya di sudut pertemuan di antara 2 sungai Bengawan Solo dan Madiun.[6] Benteng Van Den Bosch dibangun antara tahun 1839-1845 oleh pemerintah Hindia Belanda, dimana pada waktu itu Ngawi mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam bidang transportasi.[6] Dengan peranan yang cukup penting pada masa lalu, sehingga Ngawi dapat bertahan dan berkembang menjadi sebuah kabupaten.[6] Disamping itu, Ngawi sejak zaman prasejarah mempunyai peranan penting dalam lalu lintas (memiliki posisi Geostrategis yang sangat penting.[7]

Prasati Canggu yang merupakan sumber data tertua di Ngawi, digunakan sebagai penetapan hari jadi Ngawi, yaitu pada tahun 1280 Saka atau pada tanggal 8 hari Sabtu Legi Bulan Rajab Tahun 1280 Saka, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1358 Masehi (berdasarkan perhitungan menurut Lc. Damais) dengan status Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira Pradesa.[7] Sesuai dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ngawi dalam Surat Keputusannya Nomor 188.170/34/1986 tanggal 31 Desember 1986 tentang Persetujuan Terhadap Usulan Penetapan Hari Jadi Ngawi maka berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ngawi Nomor 04 Tahun 1987 tanggal 14 Januari 1987, tanggal 7 Juli 1358 Masehi ditetapkan sebagai "Hari Jadi Ngawi".[7]

Wilayah Administrasi[sunting | sunting sumber]

Kelurahan

  1. Kelurahan Margomulyo
  2. Kelurahan Karangtengah
  3. Kelurahan Pelem
  4. Kelurahan Ketanggi
  5. Kelurahan Beran

Desa

  1. Desa Jururejo
  2. Desa Grudo
  3. Desa Watualang
  4. Desa Karangasri
  5. Desa Kartoharjo
  6. Desa Kandangan
  7. Desa mangunharjo
  8. Desa Karangtengah Prandon
  9. Desa Ngawi
  10. Desa Kerek
  11. Desa Banyu Urip
  12. Desa Beran

Demografi[sunting | sunting sumber]

Agama[sunting | sunting sumber]

Tahun 2021, jumlah penduduk kecamatan Ngawi sebanyak 84.806 jiwa, dengan kepadatan 1.202 jiwa/km². Kemudian, persentasi penduduk kecamatan Ngawi berdasarkan agama yang dianut yakni Islam 96,93%, kemudian Kekristenan 2,96% dimana Protestan 2,06% dan Katolik 0,90%. Sebagian lagi menganut agama Buddha 0,06%, Hindu 0,05%.[1]

Objek Wisata Kecamatan Ngawi[sunting | sunting sumber]

Benteng Van den Bosch di Kelurahan Pelem, dekat pusat kota, dibangun pemerintahan Belanda pada 1839–1845 dengan nama Fort Van den Bosch. Benteng ini kerap disebut "Benteng Pendem".[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2021" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 27 Agustus 2021. 
  2. ^ "Jumlah Desa, Luas Wilayah dan Jarak Kecamatan ke Ibukota Kabupaten, hal. 35" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-09-03. Diakses tanggal 2014-08-27. 
  3. ^ "Kecamatan Ngawi". Diakses tanggal 27 Agustus 2014. 
  4. ^ "Kabupaten Ngawi". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-08-18. Diakses tanggal 27 Agustus 2014. 
  5. ^ a b c "Sejarah Ngawi". Diakses tanggal 4 mei 2014. 
  6. ^ a b c d e f g "Profil Kabupaten Ngawi (Sejarah)". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-04. Diakses tanggal 4 mei 2014. 
  7. ^ a b c d e "Sejarah Ngawi (Asal-Usul kota Ngawi)". Diakses tanggal 5 mei 2014. 
  8. ^ "Tempat wisata di Ngawi". Diakses tanggal 5 mei 2014. 

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]