Lompat ke isi

Lamongan, Lamongan

Lamongan
Dari atas ke bawah: Masjid Agung Lamongan; Gedung KORPRI; Monumen Bandeng Lele
Koordinat: 7°07′21″S 112°22′58″E / 7.1225°S 112.3828°E / -7.1225; 112.3828
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenLamongan
Pemerintahan
  CamatAgus Hendrawan, S.STP., M.A.P.
Populasi
 (2025)
  Total71.083 jiwa
Kode pos
62211 - 62219
Kode Kemendagri35.24.22 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3524130 Suntingan nilai di Wikidata
Luas40,38 km²
Desa/kelurahan8 kelurahan
12 desa
Peta interaktif
Peta

Lamongan (Aksara Jawa: ꦭꦩꦺꦴꦔꦤ꧀) atau juga sering disebut Lamongan Kota, adalah kecamatan di Kabupaten Lamongan yang berperan sebagai ibu kota kabupaten. Kecamatan Lamongan dilintasi Jalan Pantura yang menghubungkan Surabaya dan Gresik di timur dengan Bojonegoro dan Tuban di barat.[1] Kecamatan ini memiliki fasilitas lengkap seperti alun-alun, masjid agung, fasilitas olahraga dan pendidikan, rumah sakit, beserta berbagai kantor pemerintahan. Dari segi transportasi umum, Kecamatan Lamongan memiliki Stasiun Lamongan dan Terminal Lamongan.[2] Selain itu, Lamongan juga memiliki pusat perbelanjaan baik tradisional maupun modern seperti Pasar Lamongan Baru, Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan, dan Lamongan Plaza.[3][4]

Kecamatan Lamongan sebagai ibu kota kabupaten memiliki sejarah yang panjang. Wilayah ini didirikan oleh Rangga Hadi atau Mbah Lamong yang merupakan santri Sunan Giri dari Gresik. Beliau mendapatkan kepercayaan untuk mendirikan pemukiman sekaligus menyebarkan Agama Islam. Pemukiman ini mengalami perkembangan yang pesat dan mencapai puncaknya dengan diresmikannya Kadipaten Lamongan. Mbah Lamong diangkat sebagai adipati Lamongan pertama dan bergelar Tumenggung Surajaya. Pengangkatan ini terjadi pada tanggal 26 Mei 1569 M yang sekarang diakui sebagai HUT Kabupaten Lamongan.[5]

Peta administrasi Lamongan

Lamongan adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lamongan bagian timur. Geografinya berupa dataran rendah dan mengalami urbanisasi yang cukup pesat karena perannya sebagai ibu kota kabupaten. Walaupun begitu, kecamatan ini masih memiliki areal persawahan yang luas terutama di sebelah barat dan selatan.

Batas wilayah Kecamatan Lamongan adalah sebagai berikut:[6]

Utara Kecamatan Turi
Timur Kecamatan Deket
Selatan Kecamatan Tikung dan Kecamatan Kembangbahu
Barat Kecamatan Sukodadi
Kantor pos di Lamongan (1930-an)

Nama Lamongan tidak bisa dilepaskan dari sosok Mbah Lamong atau Rangga Hadi. Rangga Hadi mendapatkan perintah dari Sunan Giri untuk menyebarkan Agama Islam di barat Kesunanan Giri (Giri Kedaton), sebuah kerajaan besar di Gresik. Hadi mengawali perjalanannya dengan menyusuri sungai yang saat ini dikenal dengan sebutan Kali Lamong. Pada awalnya, Hadi berdakwah di Babat sebelum berpindah ke timur di wilayah Kecamatan Lamongan sekarang. Oleh masyarakat setempat, Rangga Hadi dijuluki Mbah Lamong yang berasal dari kata Bahasa Jawa kuno 'La/Ra' yang artinya baik dan 'Mong' yang artinya momong. Pada masa Sunan Prapen (Sunan Giri IV), Lamongan mengalami perkembangan yang pesat dan statusnya diangkat menjadi kadipaten. Rangga Hadi juga resmi diangkat sebagai adipati pertama bergelar Tumenggung Surajaya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 26 Mei 1569 M yang sekarang diakui sebagai HUT Kabupaten Lamongan.[5] Sekarang Mbah Lamong dimakamkan di Musholla Mbah Lamong Kelurahan Tumenggungan, sebuah musholla kecil di tengah pemukiman padat penduduk.[7]

Daftar kelurahan, desa, dan dusun

[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Lamongan terdiri dari 12 desa dan 8 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT), yakni sebagai berikut:[8]

No. Nama Wilayah Tipe Jumlah RW / RT Jumlah Penduduk (2024) Nama Dusun / Lingkungan
1 Banjarmendalan Kelurahan 5 / 12 2.420 Banjarmendalan
2 Jetis Kelurahan 4 / 15 2.855 Jetis, Karangasem
3 Karanglangit Desa 4 / 9 3.046 Karangtapen, Blangit
4 Kebet Desa 2 / 11 1.900 Kebet, Sempu
5 Kramat Desa 3 / 8 2.106 Kramat, Cekel, Ngablak
6 Made Desa 11 / 34 8.590 Made
7 Pangkatrejo Desa 4 / 16 2.853 Bilo, Dureg, Seban, Tuyuh
8 Plosowahyu Desa 3 / 12 2.659 Plosogeneng, Wahyu, Plalangan
9 Rancangkencono Desa 4 / 13 2.605 Bangkal, Banjarsari, Rancang, Sekarputih
10 Sendangrejo Desa 4 / 12 1.842 Blungkan, Jagul
11 Sidoharjo Kelurahan 6 / 21 5.419 Balong Banteng, Demangan, Sidodadi, Sidomulyo, Sidorukun, Trisnomulyo, Tumenggungnoto
12 Sidokumpul Kelurahan 5 / 17 4.288 Dapur, Kenduruan, Kranggan
13 Sidomukti Desa 2 / 10 2.061 Kalikapas, Kucur
14 Sukomulyo Kelurahan 8 / 43 8.802 Bandung, Kalianyar, Karangmulyo, Pagerwojo, Rangge, Sawahan, Sumbermulyo
15 Sukorejo Kelurahan 8 / 24 3.895 Bandaran, Groyok, Mojo, Ngaglik Barat, Ngaglik Timur, Sarirejo
16 Sumberejo Desa 4 / 12 2.794 Dampit, Kaotan, Plandi, Sawu
17 Tanjung Desa 2 / 5 2.405 Tanjung
18 Tlogoanyar Kelurahan 4 / 16 2.903 Tlogoanyar
19 Tumenggungan Kelurahan 8 / 25 5.471 Tumenggungan, Kaliotik, Kauman
20 Wajik Desa 2 / 8 1.889 Wajik, Klitih

Nasi Boranan

[sunting | sunting sumber]

Nasi Boranan atau Sego Boran adalah kuliner khas Kabupaten Lamongan yang berasal dari Dusun Kaotan, Desa Sumberejo. Nama kuliner ini berasal dari "boran" yang berarti wakul atau wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Kuliner ini umumnya dijajakan secara lesehan di sekitar pasar maupun pinggir jalan di wilayah Lamongan. Nasi boranan disajikan dengan berbagai pilihan lauk yang beragam, seperti ikan bandeng, ayam, tahu, tempe, jeroan, telur, dan lainnya.[9][10] Namun, lauk yang paling unik dibanding lainnya adalah ikan sili yang merupakan ikan air tawar lokal dan kian langka.[11]

Tempat terkenal

[sunting | sunting sumber]
Mal Pelayanan Publik
Terminal Lamongan
Perbatasan Lamongan Kota dengan Tikung

Pusat perbelanjaan

[sunting | sunting sumber]
  • Pasar Lamongan Baru / Pasar Tingkat
  • Pasar Sidoharjo
  • Pasar Rakyat Sidomulyo
  • Pasar Ikan
  • Pasar Burung
  • Lamongan Plaza
  • Gading Kuning

Institusi pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Insitusi kesehatan

[sunting | sunting sumber]
  • RSUD dr. Soegiri
  • RS Muhammadiyah Lamongan
  • RS Muhammadiyah Kalikapas
  • RS & Klinik Mata KMU
  • RSI Nashrul Ummah
  • RS Permata Hati
  • RSU Fatimah

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Sapari , A.Malik (2025-04-15). "Jalur Pantura Lamongan Kerap Macet Saat Hujan, DPRD Desak Jalan Lingkar Utara Segera Dibuka". TAGAR JATIM.
  2. Retno Tri Wilujeng (2023). "Kajian Kelayakan dan Kepuasan Penumpang Terminal Lamongan Tipe B". Swara Bhumi. 2 (2). Universitas Negeri Surabaya.
  3. Rika Ratmawati (2025-03-20). "Ditambahi Penenerangan, Pedagang Pasar Tingkat Lamongan Bisa Berjualan hingga Malam". RADAR LAMONGAN.
  4. Eko Sudjarwo (2025-08-06). "Pasar Ikan Lamongan Bakal Direlokasi, Ini Lokasi Barunya". DETIK JATIM.
  5. 1 2 Eko Sudjarwo (2021-10-28). "Dari Mana Lamongan Mendapatkan Namanya, Begini Ceritanya". DETIK.
  6. Kabupaten Lamongan Dalam Angka 2026. BPS Kabupaten Lamongan. 2026-02-27.
  7. Eko Sudjarwo (2019-05-26). "Lamongan Bertambah Usia, Makam Mbah Lamong Jadi Jujugan Pertama Ziarah". DETIK.
  8. Kecamatan Lamongan Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Lamongan. 2025-09-26.
  9. "NASI BORANAN". Balai Bahasa Jawa Timur. Diakses tanggal 2026-07-12.
  10. Adyad Ammy Iffansah (2023-01-19). Rochman Arief (ed.). "Asal-Usul dan Pamor Nasi Boranan Lamongan yang Melegenda". JATIM NOW.
  11. Adyad Ammy Iffansah (2023-01-25). Narendra Bakrie (ed.). "Ikan Sili, Lauk Legendaris Boranan Lamongan yang Kian Langka". JATIM NOW.