Modo, Lamongan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Modo
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenLamongan
Pemerintahan
 • CamatAbdul Khowi,S.Sos.,MM.
Populasi
 • Total46,368 jiwa jiwa
Kode Kemendagri35.24.03 Edit the value on Wikidata
Desa/kelurahan17 desa

Modo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

Kecamatan Modo terletak lebih kurang 40 Km dari ibu kota kabupaten Lamongan dan 93 km dari Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur. Kecamatan ini terdiri dari 17 desa, 78 dusun, 275 Rukun Tetangga (RT) dan 137 Rukun Warga (RW).

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Modo memiliki wilayah seluas 77,58 Km2 dengan batas-bats wilayah sebagai berikut:

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk kecamatan Modo sejumlah 46.368 jiwa yang terdiri atas 22.643 jiwa penduduk laki-laki dan sisanya, 23.725 jiwa berjenis kelamin perempuan. Penduduk kecamatan ini terkumpul dalam 13.058 Kepala Keluarga (KK).

Desa di Kecamatan Modo[sunting | sunting sumber]

  • Jatipayak
  • Jegreg
  • Kacangan
  • Kedunglerep
  • Kedungpengaron
  • Kedungrejo
  • Kedungwaras
  • Medalem
  • Mojorejo
  • Nguwok
  • Pule
  • Sambangrejo
  • Sambungrejo
  • Sidodowo
  • Sidomulyo
  • Sumberagung
  • Yungyang

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Modo termasuk wilayah paling barat Kabupaten Lamongan, berbatas dengan wilayah kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro yang dikenal sebagai sentra tanaman tembakau virginia terbaik di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Tidak aneh jika usai musim rendeng atau panen padi, sekitar bulan Juni - Juli sebagian petani di wilayah tadah hujan ini ikut menanam tembakau. Dulu, sekitar tahun 1970-an komoditas tembakau harganya sempat booming sehingga banyak petani hidup makmur. Tepatnya ketika berlangsung era pasar bebas tembakau, sebelum kehadiran sistem proyek budidaya tembakau yang melibatkan langsung para produsen rokok. Seiring berjalannya waktu, harga daun tembakau kering pun kerapkali anjlok ketika berlangsung panen raya, sehingga sebagian petani enggan membudidayakan tanaman bahan utama rokok ini. Adapun wilayah selatan Modo diapit oleh kawasan hutan jati milik Perum Perhutani yang masuk dalam pengelolaan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto, kendati sebagian besar areal hutan jati ini sekarang sudah beralih fungsi menjadi perladangan (tegalan) tanaman jagung yang digarap oleh warga lokal. Sementara itu jika menilik ke masa lalunya, sejumlah sejarawan menyebutkan, wilayah Modo kekinian dulunya merupakan sebuah Wanua atau wilayah permukiman bagian dari Sima (tanah perdikan), yaitu Biluluk, yang diberi hak otonomi untuk mengelola sendiri pajak tanpa perlu menyetorkan kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kerajaan Majapahit. Masa itu diduga berlangsung ketika Majapahit dipimpin Raja Hayam Wuruk (1350 - 1389 m) dan Wikramawardhana (1389 - 1429 m). Cerita ini mengacu pada Prasasti Biluluk yang dikeluarkan tahun 1366- 1397 m). Penetapan Sima ini dikaitkan dengan status Biluluk sebagai wilayah penghasil garam yang berasal dari hasil timbaan air asin (Acibukana banyu asin). Tentu saja hal itu menarik jadi objek kajian sejarah, mengingat wilayah selatan Lamongan yang memang banyak tinggalan sejarah era Majapahit maupun era sebelumnya (Raja Airlangga) berupa perbukitan kapur (karst) pegunungan Kendeng tengah, bukan wilayah pantai Laut Jawa.

Wilayah kecamatan Modo utara juga diberkahi alam berupa kandungan minyak bumi, terbukti dengan ditemukan beberapa titik sumber minyak bumi di kawasan desa Sumberagung oleh PT Pertamina. Hanya saja hingga tahun 2022 belum ada tanda-tanda kapan sumur-sumur minyak bumi tersebut akan mulai diproduksi. Wilayah utara kecamatan Modo dikenal sebagai bagian dari Blok Nona di Kabupaten Lamongan (wilayah tengah), mencakup kecamatan Tikung lalu memanjang ke arah barat ke kecamatan Kembangbahu, Kedungpring, Sambeng, Ngimbang, dan Modo.