Lompat ke isi

Paciran, Lamongan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Paciran
Dari atas ke bawah: Bagian depan Wisata Bahari Lamongan; Pantai Putri Klayar
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenLamongan
Pemerintahan
  CamatTeguh Bagio, S.STP., M.M.
Populasi
 (2025)
  Total99.569 jiwa
Kode pos
62264
Kode Kemendagri35.24.14 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3524250 Suntingan nilai di Wikidata
Luas47,89 km²
Desa/kelurahan18
Peta
PetaKoordinat: 6°53′3″S 112°22′17″E / 6.88417°S 112.37139°E / -6.88417; 112.37139

Paciran adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Lamongan. Paciran terletak di pantai utara dan merupakan salah satu pusat ekonomi penting di Lamongan. Kecamatan ini berbatasan dengan Kabupaten Gresik di sebelah timur dan dilintasi Jalan Raya Daendels yang strategis.[1] Paciran dilengkapi infrastruktur penting seperti Terminal Paciran, rumah sakit, dan Pelabuhan Penyeberangan Paciran. Pelabuhan tersebut melayani penyeberangan menuju Pulau Bawean hingga Kalimantan.[2] Pada tahun 1992, Paciran bagian selatan dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Solokuro.[3] Pasca pemekaran, Paciran tetap menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak di Lamongan yaitu sekitar 99 ribu jiwa pada tahun 2025.[4]

Paciran dikenal sebagai pusat pariwisata di Lamongan dengan adanya wisata ikonik seperti Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan Gua Maharani (Mazoola). WBL adalah ikon wisata Lamongan di Pantai Tanjung Kodok yang dilengkapi dengan berbagai wahana permainan. Sedangkan Gua Maharani adalah sebuah gua alami yang indah dan dilengkapi kebun binatang yang besar.[5] Selain itu, juga masih banyak obyek wisata lainnya seperti Pantai Lorena, Pantai Putri Klayar, pemandian air panas Brumbung, dan bukit kapur Tlogo Sadang yang merupakan bekas tambang.[6][7] Tempat-tempat tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan setiap tahunnya, terutama saat hari libur.[8]

Paciran juga merupakan sentra wisata religi dan sejarah yang banyak dikunjungi para peziarah. Hal tersebut karena Paciran dulu adalah salah satu titik penyebaran awal Islam di Pulau Jawa. Beberapa tokoh penting dimakamkan disini seperti Sunan Drajat, Syekh Maulana Ishaq, dan Sunan Sendang Duwur. Sunan Drajat sendiri adalah satu-satunya tokoh islam bergelar Wali Songo yang ada di Lamongan. Kemudian pada masa kolonial Belanda, Paciran kembali menjadi salah satu wilayah penting di Lamongan. Saat itu, Paciran merupakan sebuah kawedanan atau daerah pembantu Lamongan yang membawahi kecamatan-kecamatan di Lamongan utara yaitu Brondong, Laren, dan Solokuro.[9]

Peta administrasi Paciran

Paciran adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lamongan bagian utara. Paciran berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara serta Kabupaten Gresik di sebelah timur. Geografi Paciran berupa dataran rendah tetapi sedikit berbukit karena berada di ujung timur dari Pegunungan Kapur Utara. Wilayahnya cenderung kering sehingga lebih banyak berupa tegalan yang ditanami jagung, jati, dan siwalan.[10] 4 desa di ujung timur Paciran terpisah dari desa lainnya di Lamongan dan hampir dikelilingi Desa Campurejo di Gresik yaitu Desa Paloh, Weru, Sidokumpul, dan Warulor.

Batas wilayah Kecamatan Paciran adalah sebagai berikut:[4]

UtaraLaut Jawa
Timur Kabupaten Gresik (Kecamatan Panceng)
SelatanKecamatan Solokuro
BaratKecamatan Brondong
Masjid Sendangduwur zaman kolonial

Wilayah pesisir utara merupakan pintu masuk penyebaran Islam ke Pulau Jawa, tidak terkecuali Paciran. Banyak tokoh penting yang menyebarkan Islam di wilayah ini seperti Sunan Drajat, Syekh Maulana Ishaq, dan Sunan Sendang Duwur. Sunan Drajat sendiri adalah satu-satunya tokoh islam bergelar Wali Songo (sembilan wali) yang ada di Lamongan. Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel dan awalnya bernama Raden Qasim. Beliau kemudian menyebarkan ajaran Islam ke Desa Drajat dan sekitarnya sehingga bergelar Sunan Drajat.[11] Pondok Pesantren Sunan Drajat yang didirikan oleh Sunan Drajat merupakan satu-satunya pondok pesantren peninggalan Walisongo yang masih eksis.[12] Pada suatu ketika, Sunan Drajat juga menemui tokoh lain yaitu Raden Noer Rochmat. Sunan Drajat mengakui kelebihan Raden Noer Rochmat dan memberinya gelar Sunan Sendang Duwur dan memintanya untuk melanjutkan dakwah di daerah Sendang Duwur. Kompleks makam dan masjid peninggalan Sunan Sendang Duwur menggabungkan unsur Islam dengan arsitektur Hindu seperti Gapura Bentar dan Paduraksa.[13]

Daftar kelurahan, desa, dan dusun

[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Paciran terdiri dari 16 desa dan 1 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT), yakni sebagai berikut:

No. Nama Wilayah Tipe Nama Dusun
1 Banjarwati Desa Banjaranyar, Sukowati
2 Blimbing Kelurahan Gowah, Padek, Semangu, Sidorejo
3 Drajat Desa Drajat
4 Kandangsemangkon Desa Dengok, Kandang
5 Kemantren Desa Kemantren
6 Kranji Desa Kranji, Sidodadi, Tepanas
7 Paciran Desa Paciran, Jetak, Penanjan
8 Paloh Desa Paloh
9 Sendangagung Desa Sendangagung, Jambon, Mejero, Sekanor, Semerek
10 Sendangduwur Desa Sendangduwur
11 Sidokelar Desa Klayar, Perdoto, Sentul
12 Sidokumpul Desa Sidokumpul
13 Sumurgayam Desa Gayam, Padek, Sumuran
14 Tlogosadang Desa Tlogosadang, Tlogoringin
15 Tunggul Desa Tunggul, Genting, Ngebrak, Sekrikil
16 Warulor Desa Warulor
17 Weru Desa Weru

Tempat terkenal

[sunting | sunting sumber]
Bukit Tlogo Sadang

Wisata alam dan permainan

[sunting | sunting sumber]
  • Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan Pantai Tanjung Kodok
  • Gua Maharani atau Maharani Zoo & Cave (Mazoola)
  • Pantai Lorena - singkatan dari "Lor e Penanjan" atau "utara Dusun Penanjan"
  • Pantai Putri Klayar
  • Pantai Maldives Kemantren
  • Bukit kapur Tlogo Sadang
  • Pemandian air panas Brumbung
Makam Sunan Drajat

Wisata religi

[sunting | sunting sumber]

Fasilitas kesehatan

[sunting | sunting sumber]
  • RS KH. Abdurrahman Syamsuri (ARSY)
  • RS Umum dr. Suyudi
  • Puskesmas Paciran
  • Puskesmas Tlogosadang
Bagian depan Terminal Paciran
  • Terminal Paciran
  • Pelabuhan Penyeberangan Paciran
  • Pasar Blimbing
  • Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Weru
  • Lamongan Shorebase - perusahaan logistik maritim untuk sektor Migas
  • Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tuban milik Pemprov Jatim

Kebudayaan dan kuliner

[sunting | sunting sumber]
Perahu ijon-ijon

Perahu ijon-ijon

[sunting | sunting sumber]

Perahu ijon-ijon adalah perahu tradisional khas pesisir utara Lamongan. Salah satu kampung yang melestarikan tradisi ini adalah Desa Kandangsemangkon di Paciran. Pembuatan kapal dinilai berbeda dari kapal lainnya karena menggunakan pola pembuatan papan lambung terlebih dahulu daripada rangka dalamnya. Ciri lainnya adalah bagian depan atau linggi yang cenderung tumpul atau papak, sedangkan badan atau lambung perahu lebih gemuk. Perahu ini juga dikenal sebagai Perahu Wedok dan sering dihiasi dengan lukisan di badan perahu. Perahu ijon-ijon sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2022.[14]

Jumbrek khas Lamongan

Jumbrek atau Jumbreg adalah makanan khas Lamongan yang banyak ditemukan di sepanjang Jalan Raya Daendels di pesisir utara. Jumbrek terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan dan gula merah atau gula siwalan. Kemudian adonan dikukus dengan daun siwalan atau lontar yang dibentuk dengan cara digulung-gulung hingga menyerupai corong atau terompet. Teksturnya kenyal seperti dodol dengan rasa yang manis, serta memiliki aroma khas dari daun siwalan.[15]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Kholisul Fatikhin (2017-07-11). "Napak Tilas Jalan Daendels Lamongan". KEDIRIPEDIA.
  2. "KMP Drajat Paciran Layani Penyeberangan ke Pulau Bawean: Ini Harga Tiket dan Jadwal Operasi". JURNAS. 2025-08-21.
  3. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 1992 TENTANG PEMBENTUKAN 18 (DELAPAN BELAS) KECAMATAN DI WILAYAH KABUPATEN-KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BLITAR, LUMAJANG, SITUBONDO, LAMONGAN, PROBOLINGGO, MALANG, BOJONEGORO, DAN KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SURABAYA DALAM WILAYAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR.
  4. 1 2 Kabupaten Lamongan Dalam Angka 2026. BPS Kabupaten Lamongan. 2026-02-27.
  5. "Lamongan Fokus Kembangkan Wisata Bahari". KOMPAS. 2008-12-19.
  6. Falahi Mubarok (2020-01-18). "Pantai Lorena, Potensi Wisata Lamongan yang Menunggu Dikelola". MONGABAY.
  7. Aditya Mulawarman (2024-06-22). "Menikmati Keindahan Unik di Tlogo Sadang Lamongan". SUARA INDONESIA.
  8. Sujatmiko (2019-07-16). "Pengunjung di WBL Lamongan Naik 20 Persen". TEMPO.
  9. [Administratieve indeling van Java en Madoera] - sheet 3 (Oost Java). Leiden University Libraries Digital Collections. 1936.
  10. Falahi Mubarok (2019-06-13). "Berkenalan Dengan Siwalan, Tanaman Serbaguna". MONGABAY.
  11. Albi Hamdani (2025-02-19). "Makam Sunan Drajat, Jejak Sejarah dan Warisan Spiritual yang Tak Terlupakan". Ilmu Komunikasi UNESA.
  12. Malik Ibnu Zaman (2023-07-12). "Pesantren Sunan Drajat, Satu-Satunya Pondok Peninggalan Walisongo yang Masih Aktif". NU ONLINE.
  13. Aprilita Faradina Suyatno, Lutfiah Ayundasari (2021). "Sunan Sendang Duwur: Jejak penyebaran Agama Islam di pesisir Kabupaten Lamongan". Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial. 1 (6). Universitas Negeri Malang.
  14. Eko Sudjarwo (2022-09-30). "Perahu Ijon-ijon Lamongan Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda". DETIK JATIM.
  15. Eka Fitria Lusiana (2025-10-01). "Jumbrek Jajanan Khas Lamongan, Asal Usul hingga Cara Membuatnya". DETIK JATIM.