Kabupaten Nganjuk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Nganjuk
NganjukLogoNew.png
Lambang Kabupaten Nganjuk


Moto: Baswara Yudhia Karana (cemerlang karena perjuangan)



Locator kabupaten nganjuk.png
Peta lokasi Kabupaten Nganjuk di Jawa Timur
Koordinat: terletak antara 11105' sampai dengan 112013' BT dan 7020' sampai dengan 7059' LS
Provinsi Jawa Timur
Dasar hukum Undang-Undang RI nomor 13 tahun 1950
Peraturan Pemerintah RI nomor 31 tahun 1988
Tanggal peresmian 9 April 937
Ibu kota Nganjuk
Pemerintahan
- Bupati H. Novi Rahman Hidayat, S.Sos., M.M.
- Wakil Bupati DR. Drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.BA.
APBD
- DAU Rp. 1.102.764.455 (2019)[1]
Luas 1.182,64 km2
Populasi
- Total 1.017.030 (2015)
- Kepadatan 7.88
Demografi
- Agama Islam 99,14%, Katolik 0,554%, Protestan 0,204%, Hindu 0,039%, Buddha 0,034%, Khong Hu Cu 0,001%, Lainnya 0,063%. (2012)
- Bahasa Indonesia, Jawa, Dialek Jawa Jombang
- Kode area telepon 0358
Pembagian administratif
- Kecamatan 20
- Kelurahan 284
Simbol khas daerah
Situs web http://www.nganjukkab.go.id/

Kabupaten Nganjuk (Hanacaraka: bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦔꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ Pegon: ڠانجوك, translit. Nganjuk) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Madiun di barat. Pada zaman Kerajaan Medang, Nganjuk dikenal dengan nama Anjuk Ladang yaitu Tanah kemenangan. Nganjuk juga dikenal dengan julukan Kota Angin.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Nganjuk terletak antara 111o5' sampai dengan 112o13' BT dan 7o20' sampai dengan 7o59' LS. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar 122.433 km2 atau setara dengan 122.433 Ha yang terdiri dari atas:

  • Tanah sawah 43.052 Ha
  • Tanah kering 32.373 Ha
  • Tanah hutan 47.007 Ha

Dengan wilayah yang terletak di dataran rendah dan pegunungan, Kabupaten Nganjuk memiliki kondisi dan struktur tanah yang cukup produktif untuk berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan sehingga sangat menunjang pertumbuhan ekonomi dibidang pertanian. Kondisi dan struktur tanah yang produktif ini sekaligus ditunjang adanya sungai Widas yang mengalir sepanjang 69,332 km dan mengairi daerah seluas 3.236 Ha, dan sungai Brantas yang mampu mengairi sawah seluas 12.705 Ha.

Jumlah curah hujan per bulan selama 2002 terbesar terjadi pada bulan Januari yaitu 7.416 mm dengan rata-rata 436 mm. Sedangkan terkecil terjadi pada bulan November dengan jumlah curah hujan 600 mm dengan rata-rata 50mm. Pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober tidak terjadi hujan sama sekali.

Menurut Kementerian Pertanian (Kementan), Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu daerah fokus pemerintah untuk menyerap bawang merah dan menjadi stok pemerintah tiap tahunnya. Daerah-daerah di Indonesia yang menjadi fokus penyerapan bawang merah adalah, Nganjuk, Brebes, Bima dan Solok.


Sebagai sentra penghasil bawang merah di Jawa Timur dan salah satu fokus penyerapan bawang merah oleh pemerintah, bukan hal yang mengherankan bagi warga Kabupaten Nganjuk bila di mana-mana terlihat banyak orang menanam, memanen, menjemur, atau memperjualbelikan bawang merah.Namun, bagi pendatang atau mereka yang baru mengetahui fakta ini, menganggap Nganjuk ibarat sekumpulan surga bawang merah, tidaklah keliru.

Bila mengunjungi Nganjuk atau bermaksud membeli bawang merah langsung ke pusatnya, pasar Sukomoro dapat dipilih sebagai surga bawang merah. Pasar yang terletak di Jalan Surabaya-Madiun, Kecamatan Sukomoro ini dikenal sebagai pasar yang mengkhususkan diri pada transaksi jual-beli bawang merah. Di setiap sudut pasar ini hanya akan ditemui penjual dan pembeli bawang merah. Beberapa kecamatan yang menjadi penyuplai stok bawang merah di sentra bawang merah Sukomoro adalah Kecamatan Rejoso dan Kecamatan Bagor.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kediaman bupati Nganjuk antara tahun 1860 dan 1900
Pabrik gula Nganjuk tahun 1920

Nganjuk dahulunya bernama Anjuk Ladang yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti Tanah Kemenangan. Dibangun pada tahun 859 Caka atau 937 Masehi.[2]

Berdasarkan peta Jawa Tengah dan Jawa Timur pada permulaan tahun 1811 yang terdapat dalam buku tulisan Peter Carey yang berjudul: ”Orang Jawa dan masyarakat Cina (1755-1825)”, penerbit Pustaka Azet, Jakarta, 1986; diperoleh gambaran yang agak jelas tentang daerah Nganjuk. Apabila dicermati peta tersebut ternyata daerah Nganjuk terbagi dalam 4 daerah yaitu Berbek, Godean, Nganjuk dan Kertosono merupakan daerah yang dikuasai Belanda dan kasultanan Yogyakarta, sedangkan daerah Nganjuk merupakan mancanegara kasunanan Surakarta.

Sejak adanya Perjanjian Sepreh 1830, atau tepatnya tanggal 4 Juli 1830, maka semua kabupaten di Nganjuk (Berbek, Kertosono dan Nganjuk ) tunduk di bawah kekuasaan dan pengawasan Nederlandsch Gouverment. Alur sejarah Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan kabupaten Berbek di bawah kepemimpinan Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo 1. Di mana tahun 1880 adalah tahun suatu kejadian yang diperingati yaitu mulainya kedudukan ibu kota Kabupaten Berbek pindah ke Kabupaten Nganjuk.

Dalam Statsblad van Nederlansch Indie No.107, dikeluarkan tanggal 4 Juni 1885, memuat SK Gubernur Jendral dari Nederlandsch Indie tanggal 30 Mei 1885 No 4/C tentang batas-batas Ibu kota Toeloeng Ahoeng, Trenggalek, Ngandjoek dan Kertosono, antara lain disebutkan: III tot hoafdplaats Ngandjoek, afdeling Berbek, de navalgende Wijken en kampongs: de Chineeshe Wijk de kampong Mangoendikaran de kampong Pajaman de kampong Kaoeman. Dengan ditetapkannya Kota Nganjuk yang meliputi kampung dan desa tersebut di atas menjadi ibu kota Kabupaten Nganjuk, maka secara resmi pusat pemerintahan Kabupaten Berbek berkedudukan di Nganjuk.

Peninggalan Bersejarah[sunting | sunting sumber]

Gapura masuk wilayah Nganjuk pada tahun 1935

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai Jabatan Akhir Jabatan Wakil Bupati Keterangan
1. K. R. T. Sosrokoesoemo I (Kanjeng Jimat) 1760
2. K. R. T. Sosrodirjo 1760
3. K. R. T. Sosrokoesoemo II 1831 1852
4. R. Ng. Pringgodigdo 1852 1866
5. K. R. T. Soemowilojo 1866 1878
6. K. R. T. Sosrokoesoemo III 1878 1901
7. R. M. A. A. Sosrohadikoesoemo 1901 1936
8. R. T. A. Prawirowidjojo 1936 1943
9. R. Mochtar Praboe Mangkoenegoro 1943 1947
10. Mr. R. Iskandar Gondowardojo 1947 1949
11. R. M. Djojokoesoemo 1949 1951
12. K. I. Soeroso Atmohadiredjo 1951 1955
13 M. Abdoel Sjoekoer Djojodiprodjo 1955 1958
14 M. Poegoeh Tjokrosoemarto 1958 1960
15. Soendoro Hardjoamidjojo, SH 1960 1968
16 Soeprapto, BA 1968 1978
17 Drs. Soemari 1978 1983
18. Drs. Ibnu Salam 1983 1993
19. Drs. Soetrisno Rachmadi 1993 2003
20. Ir. Siti Nurhayati 2003 2008 Djaelani Iskak
21 Drs. H. Taufiqurrahman 2008 2018 K. H. Abdul Wahid Badrus, M.Pd.I
22. Novi Rahman Hidayat, S.Sos., M.M. 2018 Sekarang Dr. drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.H., MBA.

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Nganjuk dalam dua periode terakhir.[3]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
Logo PKB.svg PKB 6 9
Logo Gerindra.svg Gerindra 7 6
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 11 13
GolkarLogo.png Golkar 6 5
Partai NasDem.svg NasDem 4 3
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS 1 2
PartaiPerindo.png Perindo (Baru!) 1
Logo PPP.svg PPP 2 Steady 2
Logo PAN.svg PAN 1 0
Logo Hanura.svg Hanura 3 6
Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 4 3
Jumlah Anggota 45 50
Jumlah Partai 10 Steady 10

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Nganjuk mempunyai 20 kecamatan dan 284 desa/kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

  1. Bagor
  2. Baron
  3. Berbek
  4. Gondang
  5. Jatikalen
  6. Kertosono
  7. Lengkong
  8. Loceret
  9. Nganjuk
  10. Ngetos
  11. Ngluyu
  12. Ngronggot
  13. Pace
  14. Patianrowo
  15. Prambon
  16. Rejoso
  17. Sawahan
  18. Sukomoro
  19. Tanjunganom
  20. Wilangan

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk di Kabupaten Nganjuk sebanyak 1.017.030 dengan kurang lebih 36% penduduk tinggal di perkotaan dan sisanya 64% tinggal di pedesaan.[4]

Agama[sunting | sunting sumber]

Mayoritas penduduk di Kabupaten Nganjuk memeluk agama Islam dan sisanya menganut agama Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Khonghucu.[4]

Etnis dan Bahasa[sunting | sunting sumber]

Penduduk Nganjuk pada umumnya adalah etnis Jawa. Namun, terdapat minoritas etnis Tionghoa dan Arab yang cukup signifikan, Khususnya di kecamatan Nganjuk dan kecamatan Kertosono. Etnis Tionghoa, dan Arab umumnya tinggal di kawasan perkotaan, dan bergerak di sektor perdagangan dan jasa.

Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Namun untuk kawasan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Jombang, seperti Kecamatan Kertosono, Kecamatan Patianrowo, Kecamatan Jatikalen. Masyarakat disana biasa menggunakan Bahasa Jawa Jombang. Bahasa Jawa Jombang yang dituturkan merupakan bahasa jawa yang mendapat pengaruh campuran antara Dialek Surabaya dan Dialek Mataraman. Sedangkan Beberapa kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Madiun maupun Kabupaten Kediri memilki pengaruh Dialek Mataraman yang banyak memiliki kesamaan dengan Bahasa Jawa Tengahan.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Nganjuk dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta dengan kode Jalan Nasional 15, serta menjadi persimpangan dengan jalur menuju Kediri. Terdapat dua stasiun utama di Kabupaten Nganjuk, yakni Stasiun Kertosono dan Stasiun Nganjuk dan beberapa stasiun kecil seperti Stasiun Baron, Stasiun Sukomoro, Stasiun Bagor dan Stasiun Wilangan yang keseluruhan berada di bawah naungan Kereta Api Daerah Operasi 7 Madiun. Stasiun Kertosono merupakan satu-satunya stasiun di kabupaten Nganjuk yang memiliki Kereta Lokal (KRD Kertosono) yang melintas setiap hari menuju Kota Surabaya maupun sebaliknya. Untuk Akses Transportasi Bus, terdapat Terminal Bus Utama yakni Terminal Guyangan yang terletak di Kecamatan Bagor yang dapat diakses sekitar 2 Km dari Alun-Alun Nganjuk, Terminal Guyangan biasa melayani trayek bus jurusan Surabaya - Yogyakarta - Bandung / Jakarta, maupun tujuan Kediri / Blitar - Bojonegoro.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Pariwisata Kabupaten Nganjuk (dari kiri - Grojokan Sumbermiri, Embung Estumulyo, Air Terjun Sedudo)
* Tempat Rekreasi Keluarga (Taman Wisata Anjuk Ladang dan Waterpark Kertosono)


Tokoh Terkenal[sunting | sunting sumber]

Tokoh-tokoh yang lahir di Nganjuk adalah:

Kesenian Tradisional[sunting | sunting sumber]


Kesenian Tayub Nganjuk



Kuliner[sunting | sunting sumber]

  • Nasi becek, sejenis gulai kambing yang memiliki rasa khas dengan penambahan irisan daun jeruk nipis.
  • Dumbleg, sejenis dodol yang terbuat dari ketan. Makanan ini hanya ada pada hari-hari tertentu di Pasar Gondang (tiap Pasaran Pon) dan Pasar Rejoso (tiap pasaran kliwon).
  • Onde-onde Njeblos, semacam onde-onde tetapi tidak berisi. Berbentuk seperti bola yang ditaburi wijen.
  • Nasi Pecel: menu nasi dengan sayur (kulup) kangkung, toge, kacang panjang, kembang turi dll disiram dengan kuah sambal kacang dengan ciri khas pedas dan disertai tempe, tahu goreng serta rempeyek yang renyah.
  • Nasi Tumpang, seperti halnya nasi pecel namun ada menu tambahan berupa sayur (sambal) tumpang, yg terbuat dari tempe "busuk" (tempe difermentasikan) yang dimasak dengan bumbu lain yang rasanya gurih dan pedas.
  • Kerupuk Upil, adalah kerupuk kecil yang digoreng tanpa minyak tetapi menggunakan pasir
  • Tepo Mbah Umbruk, seperti lontong bungkusnya dari daun pisang bentuknya kerucut dan agak miring dengan sayur kacang panjang tetapi di ambil isinya atau disebut kacang tolo dan bumbu dan bahan bahan lain. Sampai saat ini pun, Tepo Mbah Umbruk bisa dinikmati.
  • Kerupuk pecel adalah kerupuk bakar pasir / Kerupuk Upil yang dicampur dengan sayuran,yang terdiri dari capar (toge), bayam, bung (rebung), kenikir, mbayung (daun kacang) dan kacang panjang yang kemudian di siram dengan bumbu pecel dan minumnya adalah es rujak.

Media Massa[sunting | sunting sumber]

Media yang menyampaikan informasi wilayah Nganjuk antara lain:

  • Media massa cetak: Jawa pos (RadarNganjuk), Surya, Bhirawa, Memo X.
  • Media Online: Wartajatim.com, Tribunnews.com, Kompas.com, Suaraindonesia.com, suarajatimpost.com, Faktualnews.co.
  • Media Eletronik Televisi: TVRI, Bayu TV, SCTV, RCTI, Trans TV, Metro TV, TV-One, NET, Kompas TV.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "RINCIAN ALOKASI DANA ALOKASI UMUM PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DALAM APBN T.A. 2019" (PDF). 2018-10-01. Diakses tanggal 2018-10-01. 
  2. ^ Pemkab Nganjuk, Profil Nganjuk
  3. ^ "KPU Tetapkan 50 Calon Terpilih Anggota DPRD Nganjuk, Ini Daftar Lengkapnya". kabardaerah.com. 2019-07-23. Diakses tanggal 2020-05-14. 
  4. ^ a b Badan Pusat Statistik Hasil sensus penduduk BPS Tahun 2010

Pranala luar[sunting | sunting sumber]