Lompat ke isi

Bahasa Jawa Mataraman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Jawa Mataraman
ꦧꦱꦗꦮꦩꦠꦫꦩꦤ꧀
Basa Jawa Mataraman
Dituturkan di Indonesia
Wilayah

Jawa Timur


Penutur
± 15 juta
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Posisi bahasa Jawa Mataraman dalam dialek-dialek bahasa Jawa Sunting klasifikasi ini

Catatan:

Simbol "" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
Kode bahasa
ISO 639-3
Glottologmadi1264[1]
 Portal Bahasa
L B PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat

Bahasa Jawa Madiun-Kediri atau Bahasa Jawa Mataraman (bahasa Jawa: ꦧꦱꦗꦮꦩꦠꦫꦩꦤ꧀ translit. Basa Jawa Mataraman) adalah dialek bahasa Jawa modern yang dituturkan di daerah Kebudayaan Mataraman Jawa Timur, meliputi bekas wilayah keresidenan Madiun dan keresidenan Kediri di Jawa Timur.[2][3] Istilah "Mataraman" merujuk pada suatu wilayah kebudayaan di Jawa Timur bagian barat daya dan masih kental dengan Kebudayaan Jawa Tengahan, karena wilayah tersebut menjadi wilayah provinsi Jawa Timur modern yang paling akhir diserahkan ke pemerintah kolonial Hindia Belanda sampai berakhirnya Perang diponegoro oleh Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta yang merupakan 2 entitas kerajaan pecahan Kesultanan Mataram.[4]

Dialek Mataraman juga dituturkan diluar wilayah Mataraman seperti sebagian selatan-barat Kabupaten Malang, sebagian kecil Jombang, sebagian selatan Jember, dan seluruh kecamatan di Banyuwangi selatan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020, jumlah persentase penutur bahasa Jawa dialek Mataraman mencapai 34,62% dari jumlah penduduk Jawa Timur secara keseluruhan.[5][6] Dengan demikian, dialek Mataraman menjadi dialek dengan jumlah penutur terbesar di Jawa Timur.[6]

Hal yang paling terlihat dari bahasa Jawa dialek ini adalah penggunaan bahasa yang masih terkesan halus, meskipun tidak sehalus dialek Surakarta.[7] Selain itu, bahasa Jawa dialek Mataraman terdapat perbedaan pada intonasi dengan bahasa Jawa standar karena sering memberi tekanan pada suku kata pertama, sebagai contoh "Byuh-byuh, uayuné cah iki" ("Waduh, cantiknya anak ini").[8]

Penyebaran wilayah kebudayaan

[sunting | sunting sumber]

Menurut budayawan dan dosen Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, dalam penelitian mengenai Jawa Mataraman, wilayah kebudayaan Mataraman terbagi menjadi dua, yaitu Mataraman Kulon (meliputi wilayah Ngawi, Madiun, Magetan, Pacitan, dan Ponorogo), Mataraman Wétan (meliputi wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk, Trenggalek, dan Tulungagung) di Jawa Timur.[9][10][11] Kepekatan kebudayaan sosial Mataraman lebih mudah dijumpai di Mataraman Kulon daripada Mataraman Wétan.[3][12][9][11]

Bahasa Jawa Mataraman juga dituturkan oleh sebagian kecil masyarakat di Kabupaten Jombang maupun sebagian selatan-barat Kabupaten Malang walaupun juga terdapat pengaruh dari dialek Arekan.[13][14]

Beberapa kecamatan di Jombang bagian barat dan selatan , seperti Bandarkedungmulyo, sebagian barat Perak, sebagian Gudo dan sebagian Ngoro, memiliki pengaruh kebudayaan campuran Mataraman dan Arekan.[15][16] Sementara itu, penutur Mataraman di Kabupaten Malang tersebar di wilayah bagian barat, barat-selatan antara lain wilayah Kasembon, sebagian Ngantang, Donomulyo, Sebagian Bantur, sebagian Gedangan, sebagian selatan Sumbermanjing Wetan, sebagian Pagak, sebagian Sumberpucung dan sebagian Kalipare.[17]

Fonologi dan Pengaruh Dialek Lain

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Jawa dialek Mataraman dari segi kosakata dan pengucapan memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Jawa dialek Surakarta/Yogyakarta daripada bahasa Jawa Surabaya/Malang yang berlogat Arekan

Pengaruh dialek Arekan lebih terkonsentrasi di perbatasan antar kabupaten penutur dialek Mataraman dengan Arekan (Jombang/Malang), seperti beberapa kecamatan di Kabupaten Nganjuk bagian timur, Kabupaten Kediri bagian timur laut, Kabupaten Blitar bagian timur, Sebagian besar kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Kediri, Nganjuk, dan Blitar menggunakan dialek Mataraman dengan sedikit / minim pengaruh Arekan, terutama kecamatan yang jauh dengan perbatasan Jombang maupun Malang.[18]

Sementara wilayah Tulungagung dan Trenggalek terdapat beberapa ciri khas, seperti penyisipan konsonan [i] atau [y] pada sebagian kecil kata semisal kiabur (beterbangan), madhyang (makan).

Tidak hanya di Di Wilayah Mataraman Timur saja di Wilayah Mataraman Barat pun juga terdapat sedikit pengaruh dari Dialek Arekan maupun Dialek Bojonegoroan contohnya seperti penggunaan kata luwe/lesu (lapar) dan jedhing (kamar mandi) yang masih umum digunakan berbeda halnya dengan Masyarakat Jawa Tengah yang lebih sering menggunakan kata Ngelih dan Kolah.

Pengaruh Dialek Bojonegoro pada dialek Mataraman lebih kuat lagi di Madiun utara dan Ngawi utara (Mataraman Barat) dan juga di Nganjuk utara (Mataraman Wetan), karena wilayahnya berada di Pegunungan Kendeng dan berbatasan langsung dengan Bojonegoro.

Dialek Madiun-Kediri Dialek Lain
Bahasa Indonesia
aku (umum), kulå, ingsun (jarang digunakan) saya
sampeyan kamu
awak dewe kitå, mami, awak dewe kami
dewean, dewekan dewean sendirian
bocah, cah,

lare (versi halus)

arek (arekan) anak
batur, kåncå kåncå teman
mbaturi, ngancani ngancani menemani
iki, ki iki ini
kuwi, iku kuwi, iku itu
kae (ika+e) kae itu (jauh)
åpå åpå apa
pirå pirå berapa
såpå såpå siapa
ning endi ing endi dimana
kapan kapan kapan
nyapå, nyangåpå, napå ngåpå mengapa / kenapa
awit, kawit, kat, ket awit sejak
ruh/weruh tahu / ngerti
iyå, heeh, hooh iyå iya
ora, ndak, gak ora tidak
meneh, maneng, meneh, engkas lagi
kenek kenå (surakarta) dapat
enek, ånå ånå ada
bar, mari bar, rampung (surakarta) selesai
sedhelut, sedhilut sedhelå (surakarta) sebentar
dhisik, dhikik dulu
biyen

bengen (sebagian nganjuk utara)

biyen dahulu
sesuk besok
suk emben, mbesuk iki besok lusa
masiyå (umum),

senajan (jarang digunakan)

senajan, sanadyan walaupun
manjing (serapan kawi), masuk kerja
mlebu mlebu masuk
panggah, ajeg panced (arekan) tetap
tekå, tekan datang, sampai
sångkå, tekå dari
celuk, nyeluk memanggil
tuwek tuwå (surakarta) sepuh
sawise, sajog'e sesudah / baru saja
lagek baru saja
gek sedang, segera
dewean, dewekan dewean sendirian
ijik, jik, isih/isik masih
tas baru saja
ora enek, gak enek, genek ora ånå tidak ada
nemen, eram sangat
pisan,sisan sekali/sekalian
nek, nak, lek, lak yen (surakarta) kalau
kadung terlanjur
dhong-dhonge, basan ketika
delok, deleng, nyawang melihat
ngangge, gae, gawe, nganggo memakai
gawe buat
ndang, gek, age ayo/segera
wayuh diduakan
mblithuki, ngapusi bujuk/goroh (arekan) berbohong
tog, losne, jarne, umbar biarkan
kademen, katisen katuken (arekan) kedinginan
cegeh, wegah enggan
aras-arasen malas
budhal (umum), mangkat(jarang digunakan) berangkat
ngeloyong, nglayab, mblarah, ngluyur keluyuran
terah, patrah, nyatu pancen memang
mek, mung, gur hanya, cuma
polah, lewo tingkah
girap-girap, keweden ketakutan
njegeg, ndegeg membusungkan dada
nyilih nyelang (arekan) meminjam
genteni, gajuli menggantikan
gumun heran
wirang malu yang keterlaluan
dhelikan singidan (arekan),

umpetan (surakarta)

bersembunyi
kepung, uber, buru, odag kejar
lungguh, dodok, lingguh duduk
dodok jongkok, duduk
mbegegeg diam ditempat dan tidak mau bergerak
ideg pidak (surakarta) injak
kebeg kebak (surakarta) penuh
jogan, mester lantai
latar halaman
ratan, dalan jalan
jedhing kolah (surakarta) kamar mandi
jumbleng, kakus WC Tradisional yang ditutup anyaman bambu
mbale ruang tamu
emper teras
pawon dapur
latar halaman
kalenan sungai kecil
galengan pematang sawah
kedokan cekungan di sawah
iringan samping
ngarep depan
guri, buri belakang
longan bawah kasur
dhimar, ublik lampu minyak
jongkas sisir
sawang sarang laba-laba, melihat
ladhing

pangot/pengot (pengaruh dari dialek Bojonegoro/Aneman)

pisau
gendhul botol
lodhong toples
tewel gori (surakarta) nangka muda
kates pepaya
bothe/tales talas
telå / pohung singkong
cecek kulit sapi
pitik, ayam ayam
kirik anjing
kethek, bedhes, munyuk monyet
demek, demok memegang/meraba
jukuk, jikuk, jupuk mengambil
candhak, cekel menangkap/mengambil
koyah, jagongan mengobrol
klejingan tidak bisa diajak serius
kranjingan, dlogok kurang ajar
kasut kaus kaki
kebeteng terjebak hujan
keblondrok ketipu harga
keblegong jatuh ke dalam kubangan air/lumpur
kedadug terbentur tembok
luwe (umum), kaliren

lesu (sebagian Nganjuk dan sebagian Madiun Utara, pengaruh dari dialek Bojonegoro)

lapar
gelis cepat
magak, nanggung tanggung
kagok canggung
tonjok(an), ater-ater menghantar makanan dengan maksud mengundang ke hajatan
mbecek, buwuh jagong (surakarta) pergi ke kondangan
lempoh, kesel capek
pegel capek, muak
mangkel, kacel kecewa, muak
arang kadhing jarang
ora gedug tidak sampai (karena ketinggian)
bakul ethek penjual sayur
jangan sayur
kelan masak sayur
blendrang sayur sisa kemarin yang dihangatkan
sejinah sepuluh biji (benda)
ritèk (Kediri, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung)

ritak (Ponorogo, Madiun)

berarti "saja"; bisa diartikan sebagai ungkapan penekanan.
Ora ritèk/ritak: "tidak usah"
dilokne dipoyoki (surakarta) dijelek-jelekan
nginggati silik menghindari
wira-wiri, uyar-uyur, sludar-sludur kesana kemari
plarak-plorok, plirak-plirik tatapan tajam kemana-mana
plonga-plongo, dlongap-dlongop bengong
peh, biyuh, yungalah ungkapan wah
ualon mên alon banget (surakarta) pelan sekali
guedi pol, guede gede banget (surakarta) besar sekali
ngrungokne ngrungokake (surakarta) mendengarkan
jukukne jupukake (surakarta) mengambilkan
jukuken, jikuken, jupuken ambilah
gawakne, gawaknå bawakan
gåwånen, gåwåen bawalah
krungon-krungonen mendengar suara tanpa tahu asalnya

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Jawa Mataraman". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
  2. E.M., Uhlenbeck (1964). A Critical Survey of Studies on the Languages of Java Madura. The Hague: Martinus Nijhoff. OCLC 469418172. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  3. 1 2 Ignatius Kristanto; Yohan Wahyu, ed. (21 Juli 2008). "Kuali Peleburan di Tlatah Jawa Timur". Kompas.com. Diakses tanggal 11 Maret 2021.
  4. Basuki, Ribut. (2010). "Negosiasi Identitas dan Kekuasaan dalam Wayang Kulit Jawa Timuran". Disertasi. Depok: Universitas Indonesia
  5. Kota Madiun Dalam Angka. Madiun: Badan Pusat Statistik Kota Madiun. 2021. hlm. 241–242. ISSN 0215-5966. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. 1 2 "Kelompok Mataraman Mendominasi Jumlah Penduduk di Jawa Timur". Times Indonesia. 25 Januari 2021
  7. Budi, Arifina (27 Desember 2016). "Ini Keunikan yang Hanya Dimiliki Masyarakat Jawa Timur". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 28 Januari 2020.
  8. Paryono, Yani (2014). Sistem Kata Ulang Bahasa Jawa Subdialek Madiun. doi:10.31503/madah.v5i2.515.
  9. 1 2 Satrya, I Dewa Gde (16 Agustus 2016). "Belajar Nilai dari Keluarga Jawa Mataraman". Universitas Ciputra. Diakses tanggal 28 Januari 2020.
  10. "Kuasai Dua Wilayah Ini, Paslon Menangi Pilgub Jatim". PublikSatu. 19 Maret 2018
    "Peta demografi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur 2018 dibagi menjadi 5 sub-kultural wilayah, meliputi Arek, Mataraman, Mataraman Pesisir, Madura dan Tapal Kuda."
  11. 1 2 Fuad, A. Jauhar. (2019). Tlatah dan Tradisi Keagamaan Islam Mataraman. Kediri: Institut Agama Islam Tribakti
  12. "Ditentukan di Mataraman". Kompas.com. 24 Juli 2008. Diakses tanggal 11 Maret 2021.
  13. "Bahasa di Jombang Beragam, Ada Matraman dan Arek". Kabar Jombang. 2020-08-11. Diakses tanggal 2020-10-05.
  14. "Kisah Kota Malang, Calon Ibu Kota Negara". Terakota. 2018-01-02. Diakses tanggal 2020-02-27.
  15. "Kebudayaan Masyarakat Jombang". Pusaka Jawatimuran. Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. 28 Juli 2012
  16. Cahyono, Heru. 2008. Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang: Pemerintah Kabupaten Jombang, Hal: 1-3
  17. Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten Malang 2011-2015: Gambaran Umum dan Kondisi Wilayah Kabupaten Malang (PDF). Malang: Pemerintah Kabupaten Malang. hlm. 2–28. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-01-11. Diakses tanggal 2020-10-05.
  18. Ningsih, Faridha Sadik Purwita (2013). "Pemetaan Bahasa Jawa Dialek Mataraman di Kecamatan Puncu (ex Kawedanan Pare), Kabupaten Kediri, Jawa Timur". Universitas Muhammadiyah Malang: hlm. 3.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]